Akun Yayyu Susillawaty (fb.com/cunadhien.cysta) mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:
“Nahhh ini maksud saya…
Setelahh wabah nya berhenti… (alhamdulilahh)… Amin
Nanti kedapannya kita harus bayar beban” yg di diskon sekarang… (hutang) wajib di bayar…”
Dalam gambar yang ia unggah, terdapat poster berlatar warna merah yang memuat foto Sri Mulyani. Dalam poster itu, terdapat logo Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Adapun narasi dalam poster itu berbunyi : “Mohon berhemat listrik. Listrik gratis dan diskon yang diberikan negara dibiayai dengan utang dari Bank Dunia sebesar 5 triliun yang harus dibayar ke depan dengan uang rakyat juga. Karenanya tarif listrik ke depan bisa lebih mahal lagi. Kini kami juga tengah berjuang mencari bantuan dan pinjaman ke negara-negara Islam di Timur Tengah agar kebutuhan pangan rakyat di tengah wabah segera bisa terpenuhi.”
(GFD-2020-4855) [SALAH] “Listrik gratis dan diskon yang diberikan negara dibiayai dengan utang dari Bank Dunia sebesar 5 triliun”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/04/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa listrik gratis dan diskon yang diberikan negara dibiayai dengan utang dari Bank Dunia sebesar 5 triliun adalah klaim yang salah.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Rahayu Puspasari menegaskan jika informasi yang beredar mengenai subsidi tersebut dari pinjaman Bank Dunia sebesar 5 Triliun adalah hoaks.
Beliau menuturkan bahwa listrik dan diskon yang diberikan dalam rangka penanganan dan penanggulangan Covid-19 bersumber dari APBN 2020. Dana tersebut diperoleh dari relokasi dan refocusing anggaran APBN 2020 dan difokuskan untuk penanganan Covid-19 dan sumber sah lainnya.
Anggaran sebesar Rp 3,5 triliun itu menjadi bagian dari tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan dampak Covid-19 yang totalnya sebesar Rp 405,1 triliun. Anggaran itu terdiri atas anggaran di bidang kesehatan Rp 75 triliun, perluasan Jaring Pengaman Sosial Rp 110 triliun, dukungan industri (insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat) Rp 70,1 triliun, dan pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional Rp 150 triliun.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan untuk mengalokasikan dana khusus penanganan virus corona atau covid-19 sebesar Rp405,1 triliun.
“Total tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan Cofid-19 adalah sebesar Rp405,1 triliun,” jelas Presiden.
Dia melanjutkan, anggaran tersebut dialokasikan untuk sejumlah aspek untuk penangangan virus yang tengah mewabah tersebut, antara lain:
– Rp75 triliun untuk bidang kesehatan
– Rp110 Triliun untuk social safety net (jaring pengaman sosial)
– Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR
– Rp150 triliun dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional, termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembiayaan untuk UMKM dan dunia usaha menjaga daya tahan dan pemulihan ekonomi.
Selain itu, tidak ditemukan poster tersebut di akun-akun resmi milik Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, maupun PT PLN. Tidak ditemukan pula pernyataan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani di sumber-sumber yang kredibel bahwa diskon tarif listrik berasal dari utang Bank Dunia sebesar Rp 5 triliun.
Pada pekan ketiga Maret 2020, Bank Dunia memang menyetujui pinjaman kepada Indonesia sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun (kurs Rp 16.480 per dolar Amerika Serikat) yang berbentuk general financing. Namun, utang itu digunakan untuk melaksanakan reformasi pada sektor keuangan. Reformasi ini diharapkan bisa membantu mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mencapai tujuan kesejahteraan bersama.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menuturkan utang dari Bank Dunia tersebut tidak secara spesifik diperuntukkan untuk mendanai kegiatan tertentu, seperti contohnya untuk mitigasi dampak virus Corona Covid-19. “Dengan general financing, justru kita punya fleksibilitas,” kata Luky.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Rahayu Puspasari menegaskan jika informasi yang beredar mengenai subsidi tersebut dari pinjaman Bank Dunia sebesar 5 Triliun adalah hoaks.
Beliau menuturkan bahwa listrik dan diskon yang diberikan dalam rangka penanganan dan penanggulangan Covid-19 bersumber dari APBN 2020. Dana tersebut diperoleh dari relokasi dan refocusing anggaran APBN 2020 dan difokuskan untuk penanganan Covid-19 dan sumber sah lainnya.
Anggaran sebesar Rp 3,5 triliun itu menjadi bagian dari tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan dampak Covid-19 yang totalnya sebesar Rp 405,1 triliun. Anggaran itu terdiri atas anggaran di bidang kesehatan Rp 75 triliun, perluasan Jaring Pengaman Sosial Rp 110 triliun, dukungan industri (insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat) Rp 70,1 triliun, dan pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional Rp 150 triliun.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan untuk mengalokasikan dana khusus penanganan virus corona atau covid-19 sebesar Rp405,1 triliun.
“Total tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan Cofid-19 adalah sebesar Rp405,1 triliun,” jelas Presiden.
Dia melanjutkan, anggaran tersebut dialokasikan untuk sejumlah aspek untuk penangangan virus yang tengah mewabah tersebut, antara lain:
– Rp75 triliun untuk bidang kesehatan
– Rp110 Triliun untuk social safety net (jaring pengaman sosial)
– Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR
– Rp150 triliun dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional, termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembiayaan untuk UMKM dan dunia usaha menjaga daya tahan dan pemulihan ekonomi.
Selain itu, tidak ditemukan poster tersebut di akun-akun resmi milik Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, maupun PT PLN. Tidak ditemukan pula pernyataan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani di sumber-sumber yang kredibel bahwa diskon tarif listrik berasal dari utang Bank Dunia sebesar Rp 5 triliun.
Pada pekan ketiga Maret 2020, Bank Dunia memang menyetujui pinjaman kepada Indonesia sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun (kurs Rp 16.480 per dolar Amerika Serikat) yang berbentuk general financing. Namun, utang itu digunakan untuk melaksanakan reformasi pada sektor keuangan. Reformasi ini diharapkan bisa membantu mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mencapai tujuan kesejahteraan bersama.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menuturkan utang dari Bank Dunia tersebut tidak secara spesifik diperuntukkan untuk mendanai kegiatan tertentu, seperti contohnya untuk mitigasi dampak virus Corona Covid-19. “Dengan general financing, justru kita punya fleksibilitas,” kata Luky.
Kesimpulan
Bukan dari utang Bank Dunia. Anggaran untuk diskon tarif listrik selama tiga bulan tersebut berasal dari penambahan anggaran belanja sebesar Rp 3,5 triliun sebagai bagian dari tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan dampak Covid-19 yang totalnya sebesar Rp 405,1 triliun.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/723/fakta-atau-hoaks-benarkah-narasi-soal-utang-untuk-listrik-gratis-ini-berasal-dari-menteri-keuangan-sri-mulyani
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4221492/cek-fakta-hoaks-diskon-dan-listrik-gratis-dibiayai-dari-utang-bank-dunia
- https://www.kominfo.go.id/content/detail/25622/hoaks-pernyataan-menteri-keuangan-ri-terkait-listrik-gratis-dan-diskon/0/laporan_isu_hoaks
- https://economy.okezone.com/read/2020/04/01/20/2192145/anggaran-penanganan-covid-19-rp405-triliun-ini-rinciannya
- https://www.instagram.com/p/B-g_LWbBEjr/
- https://bisnis.tempo.co/read/1323380/utang-rp-49-t-dari-bank-dunia-tak-hanya-untuk-tangani-corona/full&view=ok
(GFD-2020-4859) [SALAH] “Tidak ada sama sekali Ucapan bela sungkawa Presiden kepada dr dan team medis yg berguguran dimedan Covid-19”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/04/2020
Berita
Akun Mayharti (fb.com/mayharti.mayharti) mengunggah sebuah postingan berisi narasi sebagai berikut:
“Mana Ucapan bela sungkawa Presiden kepada dr dan team medis yg berguguran dimedan Covid-19. Tidak ada sama sekali.”
Hoaks covid medan
Hoax covid medan
“Mana Ucapan bela sungkawa Presiden kepada dr dan team medis yg berguguran dimedan Covid-19. Tidak ada sama sekali.”
Hoaks covid medan
Hoax covid medan
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa tidak ucapan bela sungkawa atau berdukacita dari Presiden Joko Widodo terkait tenaga medis yang gugur karena virus korona COVID-19 adalah klaim yang salah.
Tanggal 23 Maret 2020, Presiden Joko Widodo melalui akun-akun resmi media sosialnya menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya dokter, perawat, dan tenaga medis, setelah berjuang menangani pasien virus korona COVID-19.
Atas nama pemerintah, negara, dan rakyat, Presiden juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja keras, dedikasi, dan perjuangan mereka di garis terdepan penanganan COVID-19.
Selain itu, pada hari yang sama Jokowi juga menyampaikan secara langsung ungkapan duka cita tersebut. Yaitu saat ia berada di Rumah Sakit Darurat Korona, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.
Tidak sekadar ucapan, Jokowi juga memberikan santunan untuk dokter yang meninggal karena korona sebesar Rp300 juta. Presiden juga memberikan uang tambahan untuk seluruh tenaga medis yang menangani korona.
Rinciannya adalah dokter spesialis sebesar Rp15 juta per bulan, dokter umum dan gigi Rp10 juta, bidan dan perawat Rp7,5 juta serta tenaga medis lainnya Rp5 juta per bulan.
“Kita telah rapat dan telah diputuskan telah dihitung oleh Menteri Keuangan (Sri Mulyani) bahwa akan diberikan insentif bulanan kepada tenaga medis,” kata Jokowi seperti dilansir Medcom.id, Senin, 23 Maret 2020.
Selain memberikan insentif kepada tenaga medis, Jokowi juga menyampaikan, pemerintah akan memberikan santunan kepada tenaga medis seperti dokter dan perawat yang meninggal dunia saat merawat pasien COVID-19.
“Diberikan santunan kematian Rp300 juta dan ini hanya berlaku untuk daerah yang menyatakan tanggap darurat,” kata Jokowi melalui siaran langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin (23/3/2020).
Tanggal 23 Maret 2020, Presiden Joko Widodo melalui akun-akun resmi media sosialnya menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya dokter, perawat, dan tenaga medis, setelah berjuang menangani pasien virus korona COVID-19.
Atas nama pemerintah, negara, dan rakyat, Presiden juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja keras, dedikasi, dan perjuangan mereka di garis terdepan penanganan COVID-19.
Selain itu, pada hari yang sama Jokowi juga menyampaikan secara langsung ungkapan duka cita tersebut. Yaitu saat ia berada di Rumah Sakit Darurat Korona, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.
Tidak sekadar ucapan, Jokowi juga memberikan santunan untuk dokter yang meninggal karena korona sebesar Rp300 juta. Presiden juga memberikan uang tambahan untuk seluruh tenaga medis yang menangani korona.
Rinciannya adalah dokter spesialis sebesar Rp15 juta per bulan, dokter umum dan gigi Rp10 juta, bidan dan perawat Rp7,5 juta serta tenaga medis lainnya Rp5 juta per bulan.
“Kita telah rapat dan telah diputuskan telah dihitung oleh Menteri Keuangan (Sri Mulyani) bahwa akan diberikan insentif bulanan kepada tenaga medis,” kata Jokowi seperti dilansir Medcom.id, Senin, 23 Maret 2020.
Selain memberikan insentif kepada tenaga medis, Jokowi juga menyampaikan, pemerintah akan memberikan santunan kepada tenaga medis seperti dokter dan perawat yang meninggal dunia saat merawat pasien COVID-19.
“Diberikan santunan kematian Rp300 juta dan ini hanya berlaku untuk daerah yang menyatakan tanggap darurat,” kata Jokowi melalui siaran langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin (23/3/2020).
Kesimpulan
Tanggal 23 Maret 2020, Presiden Joko Widodo melalui akun-akun resmi media sosialnya menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya dokter, perawat, dan tenaga medis, setelah berjuang menangani pasien virus korona COVID-19.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/8N00M5YN-tenaga-medis-gugur-karena-korona-jokowi-cuek-ini-faktanya
- https://www.facebook.com/Jokowi/photos/a.404578553064333/1455110061344505/
- https://twitter.com/jokowi/status/1242004279176523776
- https://www.instagram.com/p/B-Eb7_Fh29D/
- https://mediaindonesia.com/read/detail/298550-duka-presiden-atas-wafatnya-tenaga-medis
- https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/nN90D8EK-dokter-tangani-korona-dapat-insentif-rp15-juta
- https://www.idntimes.com/news/indonesia/teatrika/jokowi-tenaga-medis-yang-meninggal-dapat-santunan-rp300-juta
(GFD-2020-4860) [SALAH] Foto “Pemerintah jawa timur sdh menyiapkan 52 buah tempat kurantin bagi TKI yg bru pulang dari luar negri.”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/04/2020
Berita
Akun Jaka Donie (fb.com/papa.donie) mengunggah beberapa foto dengan narasi sebagai berikut:
“Pemerintah jawa timur sdh menyiapkan 52 buah tempat kurantin bagi TKI yg bru pulang dari luar negri. Mereka akan Di kuarantin selama likor likor nam belas hari.”
“Pemerintah jawa timur sdh menyiapkan 52 buah tempat kurantin bagi TKI yg bru pulang dari luar negri. Mereka akan Di kuarantin selama likor likor nam belas hari.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa gubuk-gubuk yang ada di foto itu adalah gubuk yang disiapkan oleh Pemerintah Jawa Timur untuk tempat karantina bagi para TKI yang baru pulang dari luar negeri dalah klaim yang keliru.
Puluhan gubuk dalam foto-foto itu memang merupakan lokasi karantina bagi pendatang dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona Covid-19. Namun, gubuk-gubuk tersebut berada di Myanmar, bukan di Jawa Timur.
Untuk memastikan lokasi yang sebenarnya dari foto-foto tersebut, Tempo menggunakan tool Source. Hasilnya, ditemukan bahwa foto-foto itu pernah dimuat di sejumlah situs media Myanmar. Foto-foto tersebut diambil di sebuah lokasi karantina untuk para pendatang di Myanmar.
Dilansir dari artikel di Bamakhit.com yang dimuat pada 1 April 2020, gubuk-gubuk itu dibangun di negara bagian Shan, Myanmar, yang berbatasan dengan Cina, Thailand, dan Laos. Puluhan gubuk tersebut dipakai untuk mengkarantina para pendatang atau imigran selama 14 hari.
Dikutip dari artikel di Democratic Voice of Burma pada 1 April 2020, lokasi karantina itu didirikan dan dikelola oleh Tentara Negara Wa Bersatu (UWSA), pasukan militer di wilayah otonomi Wa, bersama Departemen Kesehatan Myanmar.
Para petugas akan melaporkan hasil pemantauan terhadap para pendatang ke pejabat kesehatan Myanmar. Sejauh ini, terdapat 84 pendatang yang tercatat menempati lokasi karantina di distrik Mong Hsat. Pada 1 April, tersisa 51 pendatang yang masih dikarantina.
Dilansir dari artikel di Myanmarmix.com pada 2 April 2020, kembalinya puluhan ribu pekerja migran dari Thailand memang menjadi keprihatinan utama bagi para pejabat Myanmar. Mereka khawatir para pendatang tersebut bakal menyebarkan virus Corona Covid-19 ketika bepergian di Myanmar.
Pemerintah Myanmar pun meminta para migran untuk melakukan karantina selama dua minggu. Namun, instruksi tersebut diabaikan. Oleh karena itu, beberapa wilayah di Myanmar mengambil inisiatif untuk mendirikan kamp karantina sementara.
Foto-foto yang sama, diunggah oleh akun Twitter Thos Major, pada tanggal 2 April 2020 dengan narasi sebagai berikut:
“Quarantined in your house for 14 days? It could be worse… this is Myanmar.” atau yang jika diterjemahkan: “Dikarantina di rumah Anda selama 14 hari? Bisa jadi lebih buruk … ini adalah Myanmar.”
Puluhan gubuk dalam foto-foto itu memang merupakan lokasi karantina bagi pendatang dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona Covid-19. Namun, gubuk-gubuk tersebut berada di Myanmar, bukan di Jawa Timur.
Untuk memastikan lokasi yang sebenarnya dari foto-foto tersebut, Tempo menggunakan tool Source. Hasilnya, ditemukan bahwa foto-foto itu pernah dimuat di sejumlah situs media Myanmar. Foto-foto tersebut diambil di sebuah lokasi karantina untuk para pendatang di Myanmar.
Dilansir dari artikel di Bamakhit.com yang dimuat pada 1 April 2020, gubuk-gubuk itu dibangun di negara bagian Shan, Myanmar, yang berbatasan dengan Cina, Thailand, dan Laos. Puluhan gubuk tersebut dipakai untuk mengkarantina para pendatang atau imigran selama 14 hari.
Dikutip dari artikel di Democratic Voice of Burma pada 1 April 2020, lokasi karantina itu didirikan dan dikelola oleh Tentara Negara Wa Bersatu (UWSA), pasukan militer di wilayah otonomi Wa, bersama Departemen Kesehatan Myanmar.
Para petugas akan melaporkan hasil pemantauan terhadap para pendatang ke pejabat kesehatan Myanmar. Sejauh ini, terdapat 84 pendatang yang tercatat menempati lokasi karantina di distrik Mong Hsat. Pada 1 April, tersisa 51 pendatang yang masih dikarantina.
Dilansir dari artikel di Myanmarmix.com pada 2 April 2020, kembalinya puluhan ribu pekerja migran dari Thailand memang menjadi keprihatinan utama bagi para pejabat Myanmar. Mereka khawatir para pendatang tersebut bakal menyebarkan virus Corona Covid-19 ketika bepergian di Myanmar.
Pemerintah Myanmar pun meminta para migran untuk melakukan karantina selama dua minggu. Namun, instruksi tersebut diabaikan. Oleh karena itu, beberapa wilayah di Myanmar mengambil inisiatif untuk mendirikan kamp karantina sementara.
Foto-foto yang sama, diunggah oleh akun Twitter Thos Major, pada tanggal 2 April 2020 dengan narasi sebagai berikut:
“Quarantined in your house for 14 days? It could be worse… this is Myanmar.” atau yang jika diterjemahkan: “Dikarantina di rumah Anda selama 14 hari? Bisa jadi lebih buruk … ini adalah Myanmar.”
Kesimpulan
BUKAN di Jawa Timur. Gubuk-gubuk itu berada di Myanmar. Puluhan gubuk dalam foto itu memang merupakan lokasi karantina bagi pendatang di Myanmar.dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona Covid-19.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/724/fakta-atau-hoaks-benarkah-ini-lokasi-karantina-corona-untuk-tki-dari-luar-negeri-yang-pulang-ke-jawa-timur
- https://bamakhit.com/2020/04/01/uwsa-ထိန်းချုပ်နယ်မြေတွင်-လ/
- http://burmese.dvb.no/archives/379693
- https://myanmarmix.com/en/articles/coronavirus-update-buddhist-monks-bless-myanmar-from-sky-migrants-move-into-quarantine-huts
- https://twitter.com/mattyrwalsh/status/1245517231611465729
- https://twitter.com/ThosMajor/status/1245604206301474829
(GFD-2020-8033) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto-foto Peti Jenazah Pasien Corona di Italia?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 08/04/2020
Berita
Sejumlah foto yang memperlihatkan puluhan peti jenazah yang berjejer di sebuah lokasi beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertainya, foto-foto tersebut merupakan foto peti jenazah pasien yang terinfeksi virus Corona Covid-19.
Di Facebook, salah satu akun yang membagikan foto-foto itu adalah akun Lyn Tanjung, tepatnya pada 3 April 2020. Ia mengunggah foto-foto tersebut dengan narasi sebagai berikut:
"Kalau sudah begini harta dan jabatan tak ada guna
Italia Sudah Menyerah
Perdana Menteri Italia berkata : Penjagaan kami sudah tiada. Penyakit ini terus membunuh kami. Segala Penyembuhan di Dunia, Sudah Tamat.
• Semalam 427 Meninggal.• Hari Ini 627 Meninggal.• 1529 orang Meninggal Dalam Waktu 3 Hari.• 5986 Kasus Baru Dalam Satu Hari!!
Italia telah Gagal Sepenuhnya..Presiden Italia Menangis. Italia merupakan negara yang Memiliki Pertahanan Kesehatan #Terbaik di Dunia. Tapi Mereka Telah Gagal Mencegah COVID-19 Masuk ke Negaranya. Karena pada Awalnya Mereka Menganggap COVID-19 Hanyalah Gurauan belaka.
Kini Presiden mereka kembali menangis. Karena Sudah Tidak Ada Tempat Pemakaman lagi untuk mereka yg meninggal karena COVID-19.700++ Orang Mati per harinya."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lyn Tanjung.
Apa benar foto-foto peti jenazah dalam unggahan di atas merupakan peti jenazah pasien Corona di Italia?
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari Kompas.com, pada pekan ketiga Maret 2020, jumlah korban meninggal dalam sehari di Italia karena virus Corona Covid-19 sempat menyentuh angka 793 orang. Dengan jumlah kematian yang tinggi ini, pemerintah Italia sempat kewalahan dalam menangani banyaknya jenazah.
Dikutip dari Media Indonesia, pemerintah Bergamo, kota yang menjadi pusat wabah Covid-19 di Italia, sampai harus mengirimkan jenazah ke kota tetangga untuk dikremasi. "Banyaknya korban tewas menyebabkan krematorium Bergamo tidak sanggup mengatasinya sendiri," kata Wali Kota Bergamo Giorgio Gori.
Meskipun begitu, dikutip dari artikel cek fakta Rappler, tidak ada pernyataan resmi atau laporan dari media-media kredibel yang memuat kutipan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte seperti yang tertulis dalam unggahan akun Lyn Tanjung di atas.
Malah, kutipan dalam unggahan tersebut bertentangan dengan pernyataan terbaru Conte pada 16 dan 21 Maret 2020. Pernyataan itu dipublikasikan di situs resmi pemerintah Italia. "Kami meninggalkan kebiasaan yang paling mahal. Kami melakukannya karena kami mencintai Italia. Tapi kami tidak menyerah. Bersatu, kami akan melakukannya," kata Conte pada 21 Maret.
Selain itu, tidak ada laporan yang menyatakan bahwa Presiden Italia Sergio Mattarella menangis. Narasi bahwa Presiden Italia menangis sebelumnya beredar sebagai informasi yang salah yang telah banyak dibantah oleh sejumlah organisasi pemeriksa fakta, satu di antaranya AFP.
Foto-foto yang diklaim sebagai foto peti jenazah pasien Corona di Italia pun salah. Tempo menggunakanreverse image toolGoogle dan Yandex untuk menelusuri foto-foto dalam unggahan akun Lyn Tanjung di atas, dan menemukan bahwa foto-foto tersebut tidak berkaitan dengan wabah Corona di Italia.
Berikut ini fakta terkait foto-foto itu:
Fakta: Peti-peti ini berisi lebih dari 300 jenazah korban kecelakaan kapal migran dari Afrika di lepas pantai Lampedusa, Italia, pada 3 Oktober 2013. Mereka tewas karena sebuah kapal yang disesaki oleh 500 migran asal Pantai Libya tersebut terbakar dan tenggelam sekitar setengah mil dari Italia. Foto ini diambil oleh fotografer AFP saat kedatangan Presiden Uni Eropa di hanggar bandara yang menjadi tempat sementara untuk menyimpan peti jenazah korban.
Sumber: The Guardian
Fakta: Foto ini juga terkait dengan tragedi tenggelamnya kapal migran dari Afrika di Lampedusa, Italia, pada 2003. Foto tersebut diambil oleh fotografer Reuters pada 5 Oktober 2013 dengan keterangan "peti jenazah korban dari karamnya Kapal Sisilia di hanggar bandara Lampedusa".
Sumber: Straitstimes
Fakta: Foto ini dijepret oleh fotografer Reuters dan dimuat oleh The Star pada 5 Oktober 2013. Foto tersebut diberi keterangan: "Peti jenazah korban dari kapal karam Sisilia yang memenuhi hanggar bandara Lampedusa pada Sabtu. Beberapa orang yang selamat dari tragedi itu datang untuk memberi penghormatan."
Sumber: The Star
Fakta: Tempo menemukan foto ini dalam kolase foto bergerak yang diunggah kanal Davolese90 di Youtube pada 10 April 2009, jauh sebelum virus Corona Covid-19 muncul pada Desember 2019. Kanal itu pun memberikan keterangan dalam bahasa Italia, "Untuk mengenang para korban gempa yang melanda Abruzzo." Pada 6 April 2009, memang terjadi gempa berkekuatan 6,3 skala Richter di daerah pegunungan Abruzzo di timur Roma yang menyebabkan 308 orang meninggal.
Sumber: YouTube dan The New York Times
Fakta: Foto ini diambil di Venezuela, kemungkinan pada 11 Maret 2019 dan menunjukkan hasil penjarahan di sebuah bank di Kota Merida. Media lokal di kota itu, Maduradas.com, pernah memuat beberapa foto lain dari insiden tersebut dan melaporkan bahwa para pelaku menebar uang-uang lama di jalanan dan membakarnya.
Sumber: Tempo CekFakta
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, unggahan akun Lyn Tanjung di atas menyesatkan. Tidak ada rilis resmi atau laporan dari media-media kredibel bahwa Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menyatakan menyerah karena virus Corona Covid-19. Tidak ada pula laporan yang menyebut Presiden Italia Sergio Mattarella menangis. Selain itu, foto-foto yang digunakan oleh akun Lyn Tanjung tidak terkait dengan wabah virus Corona Covid-19 di Italia.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://web.archive.org/save/
- https://www.facebook.com/photo.php?fbid=124868955794676&set=pcb.124869032461335&type=3&theater
- https://www.kompas.com/global/read/2020/03/23/083544270/sempat-catatkan-793-kematian-harian-covid-19-jumlah-korban-di-italia?page=all
- https://mediaindonesia.com/read/detail/299220-italia-kewalahan-tangani-jenazah-korban-covid-19
- https://www.rappler.com/newsbreak/fact-check/255947-italian-prime-minister-conte-says-they-have-lost-control-coronavirus
- https://factcheck.afp.com/photo-shows-brazils-president-getting-emotional-during-2019-speech
- https://www.theguardian.com/world/2013/oct/10/lampedusa-victims-mother-baby-umbilical-cord
- https://www.straitstimes.com/world/survivors-mourn-dead-in-italy-shipwreck-tragedy
- https://www.thestar.com/news/world/2013/10/05/italian_migrant_ship_tragedy_coffins_fill_lampedusa_hangar.html
- https://www.youtube.com/watch?v=fstGvJ4rRZE
- https://www.nytimes.com/2009/04/07/world/europe/07italy.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/716/fakta-atau-hoaks-benarkah-ini-foto-uang-yang-dibuang-oleh-warga-italia-di-tengah-pandemi-corona
Halaman: 7342/7817




