Beredar unggahan video melalui Facebook mengenai seorang pedagang sengaja meludahi makanan yang sedang dia bungkus. Unggahan video menyebutkan aksi tersebut dengan judul “Corona Jihad.” Berikut kutipan narasinya:
“Corona jihad
This guy is spitting into the food he's packing for you.”
Terjemahan:
“Corona jihad
Orang ini meludah ke makanan yang dia bungkus untukmu.”
(GFD-2020-3817) [SALAH] Corona Jihad: Seorang Pedagang Sengaja Meludahi Bungkus Makanan
Sumber: facebook.comTanggal publish: 07/04/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, melalui pencarian reverse image yandex.com, video yang diunggah Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 berjudul “Viral!! MenjijikKan..Cara kedai mamak bungkus papadem” yang diunggah oleh akun “Yusuf Studio”.
Dalam penelusuran lain, melansir dari thequint.com, artikel tersebut merujuk ke laman feedme.com.my dengan artikel yang berjudul “Watch: Mamak Staff Blows Air and Saliva into Papadum Bags, Enrages Netizens” (terjemahan: “Tonton: Staf Mamak Meniupkan Udara dan Air Liur ke dalam bungkusan berisi Papadum, Memicu amarah Netizens”) terbit pada 1 Mei 2019.
Unggahan video Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 dan sudah pernah dibahas pada 1 Mei 2019 dalam artikel laman feedme.com.my, dan membuktikan bahwa video Facebook itu tidak ada kaitannya dengan virus Corona, bahkan pada April 2019 virus Corona belum terjadi.
Dalam penelusuran lain, melansir dari thequint.com, artikel tersebut merujuk ke laman feedme.com.my dengan artikel yang berjudul “Watch: Mamak Staff Blows Air and Saliva into Papadum Bags, Enrages Netizens” (terjemahan: “Tonton: Staf Mamak Meniupkan Udara dan Air Liur ke dalam bungkusan berisi Papadum, Memicu amarah Netizens”) terbit pada 1 Mei 2019.
Unggahan video Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 dan sudah pernah dibahas pada 1 Mei 2019 dalam artikel laman feedme.com.my, dan membuktikan bahwa video Facebook itu tidak ada kaitannya dengan virus Corona, bahkan pada April 2019 virus Corona belum terjadi.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, video Facebook mengenai seorang pedagang yang sengaja meludahi bungkus makanan tidak ada kaitannya dengan virus Corona. Oleh sebab itu, video masuk dalam Misleading Content atau Konten Yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://www.thequint.com/news/webqoof/covid-19-old-video-of-man-spitting-on-food-given-communal-angle
- https://www.altnews.in/old-video-falsely-viral-as-muslim-man-spitting-on-food-at-indian-restaurant-in-the-backdrop-of-coronavirus-pandemic/
- https://www.feedme.com.my/watch-mamak-staff-blows-air-and-saliva-into-papadum-bags-enrages-netizens/
- https://www.youtube.com/watch?v=KpqiFJ68HPQ
(GFD-2020-8030) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Covid-19 Tidak Kuat dengan Cuaca di Wilayah Seperti Indonesia?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/04/2020
Berita
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan baru-baru ini mengatakan bahwa virus Corona Covid-19 diperkirakan tidak kuat dengan kondisi cuaca Indonesia. "Dari hasilmodelling, cuaca Indonesia di ekuator yang panas danhumiditytinggi maka untuk Covid-19 itu enggak kuat," kata dia dalam konferensi video pada Kamis, 2 April 2020.
Dua hari setelah Luhut menyatakan hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta mengeluarkan siaran pers tentang pengaruh antara cuaca dan penyebaran virus Corona Covid-19. Menurut siaran pers itu, kondisi cuaca dan iklim serta geografi kepulauan di Indonesia relatif lebih rendah risikonya untuk perkembangan Covid-19.
"Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95 persen, dari kajian literatur, sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19," demikian penjelasan dalam siaran pers BMKG di laman resminya.
Dengan fakta bahwa tetap tersebar virus Corona Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu, BMKG menduga penyebaran tersebut lebih kuat dipengaruhi oleh faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial ketimbang faktor cuaca.
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim itu, Tempo menggunakan tiga metode, yakni membandingkan kasus Covid-19 di negara tropis lainnya, membandingkan temuan BMKG dengan pernyataan organisasi-organisasi kesehatan, dan memeriksa jurnal yang digunakan oleh BMKG.
1. Belum ada penelitian final
Belum ada penelitian final yang menyimpulkan bahwa suhu yang lebih hangat akan menghambat penularan Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ( CDC ) misalnya, belum bisa memastikan apakah cuaca dan suhu mempengaruhi penyebaran virus Corona Covid-19. Masih banyak yang harus dipelajari tentang transmisibilitas, tingkat keparahan, dan faktor-faktor lain yang terkait dengan Covid-19. Penyelidikan terkait hal itu masih berlangsung.
Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) telah menegaskan bahwa terkena paparan sinar matahari atau suhu di atas 25 derajat Celcius tidak mencegah seseorang dari infeksivirus Corona Covid-19. Menurut WHO, negara-negara yang memiliki cuaca yang panas juga melaporkan adanya kasus Covid-19.
Organisasi pemeriksa fakta AS, Full Fact, melaporkan bahwa saat ini tidak masuk akal untuk berspekulasi bahwa penyebaran virus Corona Covid-19 mengalami puncaknya di bulan-bulan yang lebih dingin, kemudian menghilang saat musim semi atau musim panas. Sesuai dengan pengalaman pada 2003 saat mewabahnya virus Corona SARS, sebagian besar pasien disembuhkan melalui intervensi kesehatan dari masyarakat, dan tidak menjadi virus musiman.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Marc Lipsitch, profesor dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, biasanya virus baru memiliki perilaku yang berbeda dengan virus yang telah ada dalam populasi sejak lama. Virus Corona Covid-19 adalah jenis virus yang sangat baru sehingga sangat sedikit orang yang kebal terhadapnya. Artinya, ada banyak host yang rentan untuk terinfeksi dan, oleh karena itu, virus ini tidak mungkin berperilaku seperti virus musiman mapan lainnya.
2. Kasus Covid-19 di daerah tropis
Sejumlah negara tropis selain Indonesia telah melaporkan kasus Covid-19, antara lain di Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Ekuador. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran virus Corona Covid-19 tetap terjadi di negara-negara tropis yang memiliki temperatur lebih tinggi dibandingkan negara-negara subtropis, seperti Cina dan Eropa.
Di bawah ini, terdapat perbandingan antara jumlah kasus Covid-19 dan suhu saat terjadinya kasus di tiga negara tropis, yakni Singapura, Malaysia, dan Ekuador. Data kasus Covid-19 menggunakan grafik dari Worldometers, sedangkan data suhu diambil dari situs AccuWeather dan Weather.com.
Singapura
Data Worldometers menunjukkan kasus Covid-19 Singapura yang terjadi pada 15 Februari-6 April 2020 pukul 05.22 GMT telah mencapai 1.309 kasus dengan enam pasien meninggal. Rata-rata suhu di negara ini pada tanggal tersebut berada di atas 30 derajat celcius.
Total kasus Covid-19 di Singapura menurut Worldometers.
Data suhu di Singapura pada Maret 2020 menurut AccuWeather.
Malaysia
Malaysia mengindetifikasi kasus Covid-19 pertama pada 25 Januari 2020 dan angkanya melesat pada Maret 2020. Data Worldometers menunjukkan, hingga 6 April 2020 pukul 05.22 GMT, kasus Covid-19 di negara ini mencapai 3.662 kasus dan 61 pasien di antaranya meninggal. Penyebaran virus ini terjadi di Malaysia pada suhu di atas 30 derajat Celcius, sesuai data Weather.com.
Total kasus Covid-19 di Malaysia menurut Worldometers.
Data suhu di Malaysia pada Maret-April 2020 menurut Weather.com.
Ekuador
Ekuador merupakan sebuah negara di Amerika Tengah. Amerika Tengah memang terletak di khatulistiwa sehingga sebagian besar negaranya memiliki iklim tropis yang lembab. Sejak 18 Maret 2020, Ekuador mencatatkan kenaikan jumlah kasus Covid-19. Menurut data Worldometers, jumlah kasus Covid-19 di Ekuador hingga 6 April 2020 pukul 06.04 GMT mencapai 3.646 orang dengan 180 pasien meninggal. Suhu di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador, di AccuWeather selama 18 Maret-5 April 2020 berada di atas 30 derajat celcius, kecuali 29 Maret dan 3 April.
Total kasus Covid-19 di Ekuador menurut Worldometers.
Data suhu Ekuador pada Maret-April 2020 menurut AccuWeather.
3. Jurnal rujukan BMKG
Di situsnya, BMKG memaparkan sejumlah rujukan mengenai adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran virus Corona Covid-19. Beberapa di antaranya adanya penelitian Araujo dan Naimi pada 2020, Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al. (2020), Sajadi et.al. (2020), Tyrrell et. al. (2020), dan Wang et. al. (2020).
Tim CekFakta Tempo pun memeriksa penelitian tersebut dan menemukan bahwa beberapa di antaranya belum melaluipeer reviewatau penilaian sejawat.Peer reviewmerupakan sebuah proses pemeriksaan oleh pakar lain yang memiliki keahlian di bidang penelitian yang diperiksa.Peer reviewbertujuan untuk membuat sebuah penelitian memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan.
Penelitian Miguel B. Araujo dan Babak Naimi pada 2020 berjudul “Spread of SARS-CoV-2 Coronavirus likely to be constrained by climate” yang dipublikasikan di Medrxiv belum melaluipeer review. Laporan tersebut merupakan penelitian medis baru yang belum dievaluasi sehingga tidak boleh digunakan sebagai panduan praktik klinis.
Dua penelitian lainnya yang belum melaluipeer reviewadalah penelitian oleh Luo et. al. (2020) yang berjudul “The role of absolute humidity on transmission rates of the COVID-19 outbreak” dan oleh Tyrrell et. al. (2020) yang berjudul “Preliminary evidence that higher temperatures are associated with lower incidence of COVID-19, for cases reported globally up to 29th February 2020”.
Ahli epidemiologi dan peneliti pandemi. Dicky Gunawan, dalam sebuah wawancara di MetroTV, menjelaskan bahwa sejumlah penelitian pendahuluan yang menyatakan kaitan antara cuaca dan penyebaran virus Corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 belum bisa dibuktikan. Apalagi, banyak fakta yang belum mendukung teori-teori bahwa cuaca panas bisa menghambat penularan virus tersebut.
Dicky mencontohkan kasus Covid-19 yang terjadi Brasil. Di negara tropis yang terletak di Benua Amerika ini, kasus Covid-19 telah mencapai 11 ribu kasus dengan kematian sekitar 500 orang. Dalam sejarah pandemi, kata dia, tidak satu pun yang berkaitan dengan iklim. WHO pun telah mengeluarkan rekomendasi bahwa pencegahan Covid-19 tidak berkaitan dengan iklim atau suhu tertentu. “Ketika di-declare sebagai pandemi, semua negara akan berpotensi terkena,” kata Dicky pada 6 April 2020.
Menurut Dicky, dengan adanya pandemi Covid-19, banyak penelitian pendahuluan yang diterbitkan tanpa melalui peer review. Idealnya, sebuah penelitian selesai membutuhkan waktu hingga satu tahun. Karena itu, penelitian-penelitian pendahuluan tersebut membutuhkan waktu untuk dibuktikan kebenarannya. Ia menyarankan agar setiap negara lebih berfokus melakukan intervensi langsung untuk mengatasi pandemi Covid-19. “Biarlah (teori-teori) ini nanti menjadi bonus apabila benar (ada kaitan antara cuaca panas dengan penyebaran Covid-19),” kata Dicky.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa virus Corona Covid-19 tidak kuat dengan cuaca di wilayah seperti Indonesia belum bisa dibuktikan. Fakta-fakta menunjukkan bahwa kasus Covid-19 juga terjadi di sejumlah negara tropis dengan suhu lebih dari 30 derajat Celcius. Beberapa penelitian pendahuluan yang digunakan oleh BMKG juga belum melaluipeer reviewdan belum bisa dibuktikan hingga artikel ini dimuat.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=pengaruh-cuaca-dan-iklim-terhadap-pandemi-covid-19&tag=press-release&lang=ID
- https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/faq.html
- https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
- https://fullfact.org/health/could-coronavirus-be-stopped-by-warmer-weather/
- https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.02.27.20028530v1
- https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.02.12.20022467v1
- https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.03.18.20036731v1
- https://www.youtube.com/watch?v=kc07JaJt4L8
(GFD-2020-3802) [SALAH] Puncak Persebaran Virus Corona 4 April Hingga 18 April 2020
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 06/04/2020
Berita
Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyebutkan puncak persebaran virus Corona atau wabah COVID-19 ialah pada tanggal 4-18 April 2020. Dalam pesan berantai tersebut juga terdapat sejumlah imbauan. Berikut kutipan narasinya:
“Mulai besok weekend, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai.
????????????
Tanggal inkubasi (14 hari) telah tiba. Dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya.
Banyak orang bersin, batuk, dan orang lain bisa tertular, jadi sangat penting utk tetap di rumah, tidak brhubungan / bertemu dengan orang lain.
Sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 4 April hingga 18 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu.
Biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul.
Kemudian ada dua minggu tenang kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan.
Dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu.
Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan bersama.
Kita Akan Berada di Tingkat Infeksi Maksimum, dan Minim Uji Tes Korona.
JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA REKAN ANDA????”
Baru saja mendapat info ini:
Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
* Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.
*Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *
*"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*
*JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*
Baru saja mendapat info ini:
Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
* Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.
*Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *
*"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*
*JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*
“Mulai besok weekend, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai.
????????????
Tanggal inkubasi (14 hari) telah tiba. Dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya.
Banyak orang bersin, batuk, dan orang lain bisa tertular, jadi sangat penting utk tetap di rumah, tidak brhubungan / bertemu dengan orang lain.
Sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 4 April hingga 18 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu.
Biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul.
Kemudian ada dua minggu tenang kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan.
Dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu.
Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan bersama.
Kita Akan Berada di Tingkat Infeksi Maksimum, dan Minim Uji Tes Korona.
JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA REKAN ANDA????”
Baru saja mendapat info ini:
Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
* Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.
*Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *
*"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*
*JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*
Baru saja mendapat info ini:
Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.
Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.
* Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.
*Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *
*"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*
*JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim puncak COVID-19 pada 4-18 April 2020 keliru. Sebab, sejumlah lembaga dan pakar yang melakukan prediksi tidak menyebutkan bahwa puncak COVID-19 pada kisaran tanggal tersebut.
Pada 13 Maret 2020, Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan puncak persebaran virus corona di Indonesia terjadi pada Mei 2020. Perhitungan tersebut disampaikan Deputi V BIN Afini Noer berdasarkan hasil simulasi permodelan pemerintah terhadap data pasien Covid-19. Ia mengatakan, masa puncak penyebaran virus corona kemungkinan terjadi dalam 60–80 hari setelah kasus pertama terkonfirmasi.
Lalu, pada 19 Maret 2020, ITB melakukan simulasi dan permodelan sederhana yang memprediksi mengenai puncak kasus harian. Puncak tersebut diperkirakan akan berakhir pertengahan April 2020. Namun, prediksi itu direvisi lantaran data masukan yang digunakan sebelumnya terjadi perubahan. Dari revisi yang dilakukan waktu estimasi titik puncak penyebaran yang dilakukan ITB berubah menjadi sekitar akhir Mei atau awal Juni 2020.
Para peneliti dari Pemerintah Daeah Yogyakarta pada 24 Maret 2020 juga merilis perkiraan puncak penyebaran virus corona di Indonesia. Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan referensi pola global dan lokal. Penelitian tersebut memprediksi, puncak penyebaran akan terjadi antara 70 hingga 100 hari. Artinya sekitar 12 Mei hingga 12 Juni 2020.
Kemudian, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada 27 Maret 2020 membuat prediksi jumlah kasus dan titik puncak penyebarannya. Perhitungan tim FKM UI memprediksi, jumlah kasus di kisaran 500.000 hingga 2.500.000 kasus dengan mempertimbangkan tingkat intervensi pemerintah. Adapun masa puncak akan terjadi pada hari ke 77 atau kisaran pertengahan April 2020 dengan patokan hari pertama pada pekan pertama Februari 2020.
Ilmuwan Matematika dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Sutanto Sastraredja juga melakukan prediksinya. Ia memprediksi puncak COVID-19 pada pertengahan Mei 2020. Sementara, akhir pandemi dinilainya bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Berdasarkan perhitungan matematis dinamika populasi Covid-19 menggunakan model SIQR yang dilakukannya, parameter dimasukkan dalam rumus hingga bisa dihitung kecepatan orang yang sudah terinfeksi dan masuk karantina.
Guru Besar Statistika UGM Prof Dr rer nat Dedi Rosadi, alumni MIPA UGM Drs. Herivertus Joko Kristadi, dan alumni PPRA Lemhanas RI Dr Fidelis I. Diponegoro juga membuat perkiraan prediksi puncak penyebaran Covid-19. Para peneliti UGM itu menggunakan model yang mereka sebut dengan model probabilistik yang didasarkan atas data real. Menggunakan model tersebut, penambahan maksimal total penderita per hari adalah sekitar minggu kedua April 2020. Kisarannya, pada 7 April-11 April 2020 dengan penambahan kurang dari 185 pasien per hari.
Lalu, empat alumni Matematika UI juga membuat pemodelan menyebarnya Covid-19 di Indonesia. Basisnya adalah penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan di Wuhan, Tiongkok. Mereka memprediksi tanpa penanganan pemerintah, penyebaran Covid-19 baru usai akhir Agustus atau awal September dengan ratusan ribu kasus. Puncak pandemi diramal terjadi tanggal 4 Juni yakni 11.318 kasus baru.
Berdasarkan penjelasan itu, prediksi puncak persebaran COVID-19 disebutkan bulannya, beberapa menyebutkan tanggalnya. Namun, semua prediksi itu tidak ada yang menyebutkan tanggal puncak persebaran wabah COVID-19 pada 4-18 April 2020.
Selain itu, narasi yang beredar serupa dengan narasi isu sebelumnya mengenai puncak persebaran COVID-19 pada 23 Maret-4 April 2020. Isu tersebut sudah diperiksa faktanya dalam artikel periksa fakta berjudul “[SALAH] Larangan Keluar Rumah Karena Puncak Penyebaran Virus Corona.”
Pada 13 Maret 2020, Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan puncak persebaran virus corona di Indonesia terjadi pada Mei 2020. Perhitungan tersebut disampaikan Deputi V BIN Afini Noer berdasarkan hasil simulasi permodelan pemerintah terhadap data pasien Covid-19. Ia mengatakan, masa puncak penyebaran virus corona kemungkinan terjadi dalam 60–80 hari setelah kasus pertama terkonfirmasi.
Lalu, pada 19 Maret 2020, ITB melakukan simulasi dan permodelan sederhana yang memprediksi mengenai puncak kasus harian. Puncak tersebut diperkirakan akan berakhir pertengahan April 2020. Namun, prediksi itu direvisi lantaran data masukan yang digunakan sebelumnya terjadi perubahan. Dari revisi yang dilakukan waktu estimasi titik puncak penyebaran yang dilakukan ITB berubah menjadi sekitar akhir Mei atau awal Juni 2020.
Para peneliti dari Pemerintah Daeah Yogyakarta pada 24 Maret 2020 juga merilis perkiraan puncak penyebaran virus corona di Indonesia. Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan referensi pola global dan lokal. Penelitian tersebut memprediksi, puncak penyebaran akan terjadi antara 70 hingga 100 hari. Artinya sekitar 12 Mei hingga 12 Juni 2020.
Kemudian, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada 27 Maret 2020 membuat prediksi jumlah kasus dan titik puncak penyebarannya. Perhitungan tim FKM UI memprediksi, jumlah kasus di kisaran 500.000 hingga 2.500.000 kasus dengan mempertimbangkan tingkat intervensi pemerintah. Adapun masa puncak akan terjadi pada hari ke 77 atau kisaran pertengahan April 2020 dengan patokan hari pertama pada pekan pertama Februari 2020.
Ilmuwan Matematika dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Sutanto Sastraredja juga melakukan prediksinya. Ia memprediksi puncak COVID-19 pada pertengahan Mei 2020. Sementara, akhir pandemi dinilainya bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Berdasarkan perhitungan matematis dinamika populasi Covid-19 menggunakan model SIQR yang dilakukannya, parameter dimasukkan dalam rumus hingga bisa dihitung kecepatan orang yang sudah terinfeksi dan masuk karantina.
Guru Besar Statistika UGM Prof Dr rer nat Dedi Rosadi, alumni MIPA UGM Drs. Herivertus Joko Kristadi, dan alumni PPRA Lemhanas RI Dr Fidelis I. Diponegoro juga membuat perkiraan prediksi puncak penyebaran Covid-19. Para peneliti UGM itu menggunakan model yang mereka sebut dengan model probabilistik yang didasarkan atas data real. Menggunakan model tersebut, penambahan maksimal total penderita per hari adalah sekitar minggu kedua April 2020. Kisarannya, pada 7 April-11 April 2020 dengan penambahan kurang dari 185 pasien per hari.
Lalu, empat alumni Matematika UI juga membuat pemodelan menyebarnya Covid-19 di Indonesia. Basisnya adalah penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan di Wuhan, Tiongkok. Mereka memprediksi tanpa penanganan pemerintah, penyebaran Covid-19 baru usai akhir Agustus atau awal September dengan ratusan ribu kasus. Puncak pandemi diramal terjadi tanggal 4 Juni yakni 11.318 kasus baru.
Berdasarkan penjelasan itu, prediksi puncak persebaran COVID-19 disebutkan bulannya, beberapa menyebutkan tanggalnya. Namun, semua prediksi itu tidak ada yang menyebutkan tanggal puncak persebaran wabah COVID-19 pada 4-18 April 2020.
Selain itu, narasi yang beredar serupa dengan narasi isu sebelumnya mengenai puncak persebaran COVID-19 pada 23 Maret-4 April 2020. Isu tersebut sudah diperiksa faktanya dalam artikel periksa fakta berjudul “[SALAH] Larangan Keluar Rumah Karena Puncak Penyebaran Virus Corona.”
Kesimpulan
Atas dasar itu, maka pesan berantai Whatsapp tersebut berisikan informasi yang keliru. Oleh sebab itu, konten informasi dalam pesan berantai itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1153677294964804/
- https://turnbackhoax.id/2020/04/06/salah-puncak-persebaran-virus-corona-4-april-hingga-18-april-2020/
- https://turnbackhoax.id/2020/03/28/salah-larangan-keluar-rumah-karena-puncak-penyebaran-virus-corona/
- https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/03/123616065/prediksi-sejumlah-pakar-soal-puncak-wabah-virus-corona-di-indonesia?page=all#page4
- https://katadata.co.id/berita/2020/04/03/prediksi-5-lembaga-soal-corona-di-indonesia-paling-cepat-mereda-mei
(GFD-2020-3803) [SALAH] Mantan Manajer RAPP dan Istri Terpapar COVID-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/04/2020
Berita
Akun atas nama Tengku Syarif Ahmad menyebarkan informasi yang menyebutkan mantan manajer RAPP terpapar virus Corona atau wabah COVID-19. Dalam postingan tersebut dikatakan pula orang tersebut menularkan kepada istrinya dan RAPP melakukan lockdown. Berikut kutipan narasinya:
“mohon izin share..
moga bermanfaat..
bisa di ambil hikmah..
khususnyo para pejabat.
RAPP gempar sekarang..
JT mantan manager di RAPP dan istrinya BRT pergi Jakarta nengok Pendeta yg sakit sekalian anak anaknya... Pendetanya sakit dan meninggal karena COVID 19.
17 Maret, RAPP lockdown, semua karyawan DILARANG PERGI KE PEKANBARU.
Tanggal 22 Maret, JT dan Istri dan anak anaknya ke Riau, dan tinggal di perumahan Graha Akasia, sempat ke RAPP komplek, sempat kebaktian di gereja GPDI yg banyak umatnya orang RAPP.
25 maret sakit, dan di rawat di Evarina, pas di tanya dokter "Apakah dari perjalanan jauh" dijawab " tidak ". Maka di rawat seperti pasien lainnya. Istri JT makin parah dan di rujuk ke Santa Maria... Di test COVID 19..baru keluar tgl 02 april, dan JT di test Positif Covid tgl 3 April.
Tracking ODP
1. Perawat dan dokter Evarina ODP 36 an orang di Isolasi 14 hari
2. Adik ipar JT yg karyawan RAPP isolasi 14 hari
3. Dua pejabat RAPP yg mengunjungi di RS Efarina saat ini di isolasi ..14 hari
4. Semua warga Perumahan Graha Akasia di Isolasi dan gak boleh pergi kemana mana di jaga TENTARA DAN POLISI selama 14 Hari.
5. Umat di jemaat Gereja nya
6. Lainnya masih proses tracking....bandara, rumah makan, toko kemana ia belanja, dll.. blm tertracking...
Semua menyayangkan KETIDAK JUJURAN bahwa baru pulang dari Jakarta... Dan habis dari jakarta malah kluyuran kemana mana
Protokoler nya..habis pulang dari luar daerah harus isolasi mandiri selama 14 hari..
Warga batak jadi benci sekali akan ketidak jujuran ini dan merepotkan RIAU, RAPP, Pelalawan, Evarina, santa maria, perumahan dll.”
“mohon izin share..
moga bermanfaat..
bisa di ambil hikmah..
khususnyo para pejabat.
RAPP gempar sekarang..
JT mantan manager di RAPP dan istrinya BRT pergi Jakarta nengok Pendeta yg sakit sekalian anak anaknya... Pendetanya sakit dan meninggal karena COVID 19.
17 Maret, RAPP lockdown, semua karyawan DILARANG PERGI KE PEKANBARU.
Tanggal 22 Maret, JT dan Istri dan anak anaknya ke Riau, dan tinggal di perumahan Graha Akasia, sempat ke RAPP komplek, sempat kebaktian di gereja GPDI yg banyak umatnya orang RAPP.
25 maret sakit, dan di rawat di Evarina, pas di tanya dokter "Apakah dari perjalanan jauh" dijawab " tidak ". Maka di rawat seperti pasien lainnya. Istri JT makin parah dan di rujuk ke Santa Maria... Di test COVID 19..baru keluar tgl 02 april, dan JT di test Positif Covid tgl 3 April.
Tracking ODP
1. Perawat dan dokter Evarina ODP 36 an orang di Isolasi 14 hari
2. Adik ipar JT yg karyawan RAPP isolasi 14 hari
3. Dua pejabat RAPP yg mengunjungi di RS Efarina saat ini di isolasi ..14 hari
4. Semua warga Perumahan Graha Akasia di Isolasi dan gak boleh pergi kemana mana di jaga TENTARA DAN POLISI selama 14 Hari.
5. Umat di jemaat Gereja nya
6. Lainnya masih proses tracking....bandara, rumah makan, toko kemana ia belanja, dll.. blm tertracking...
Semua menyayangkan KETIDAK JUJURAN bahwa baru pulang dari Jakarta... Dan habis dari jakarta malah kluyuran kemana mana
Protokoler nya..habis pulang dari luar daerah harus isolasi mandiri selama 14 hari..
Warga batak jadi benci sekali akan ketidak jujuran ini dan merepotkan RIAU, RAPP, Pelalawan, Evarina, santa maria, perumahan dll.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut keliru dan sudah dibantah oleh pihak manajemen PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Communication Manager, PT RAPP, Budhi Firmansyah melalui keterangan resminya menyatakan bahwa orang yang terpapar COVID-19 di Kabupaten Pelalawan bukanlah mantan manajer di perusahan tersebut. Berikut kutipan klarifikasi dari PT RAPP yang disampaikan oleh Budhi:
[…] 1. Sesuai dengan nama yang diumumkan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid19 Kabupaten Pekalawan bahwa Pasien COVID-19 yang terkonfirmasi positif di Kabupaten Pelalawan beberapa hari lalu yakni RBT dan JG, bukan JT.
2. RBT dan JG adalah pasangan suami istri yang bertempat tinggal (domisili) di salah satu komplek perumahan umum di Pangkalan Kerinci dan JG setelah ditelusuri
bukanlah Mantan Manejer atau Karyawan RAPP.
3. RBT dan JG sehari-hari berinteraksi dan kontak langsung dengan warga sekitar rumah, dan warga masyarakat lainnya dengan berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan termasuk karyawan RAPP seperti layaknya warga masyarakat umum yang hidup bersosialisasi dan bermasyarakat.
4. Terkait status RBT dan JG sebagai pasien terkonfirmasi positif, sesuai protokol COVID-19 yang ditetapkan, maka Gugus Tugas Penanggulangan COVID-19. Kabupaten Pelalawan telah melakukan tracking orang-orang yang pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan Pasien. RAPP juga telah melakukan tracing terhadap Karyawan dan Keluarga yang pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan Pasien.
5. Mengikuti protokol yang ada, perusahaan telah melakukan Rapid Test terhadap hasil tracking yang pernah kontak langsung dengan pasien, berdasar hasil pemeriksaan Rapid Test menyatakan semua yang diperiksa negative dari COVID-19. Namun tetap harus menjalani karantina atau observasi selama 14 hari.
6. Tidak benar RAPP melakukan Lock Down seperti yang disebutkan. Hingga saat ini Perusahaan tetap beroperasi, karyawan dan kontraktor masih menjalankan aktifitasnya.
7. RAPP sendiri sejak Januari lalu dalam menghadapi dan waspada akan merebaknya wabah virus corona telah membentuk Task Force dan menyusun protokol internal dan melakukan langkah-langkah perlindungan dari COVID-19, juga menyiapkan perlengkapan pendukung seperti thermal scanner, thermometer, APD dan yang lainnya.
Demikianlah penjelasan ini disampaikan untuk mengklarifikasi isu-isu yang beredar akibat pesan berantai dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. […]
Selain menyampaikan poin-poin klarifikasi resmi tersebu, Budhi mengimbau kepada masyarakat untuk hati-hati dalam menyampaikan informasi. “Kami menghimbau kepada semua pihak untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang belum tentu kebenarannya dan bisa berdampak hukum. Terimakasih,” ujar Budhi.
Perihal pasien COVID-19 yang ada di Kabupaten Pelalawan, setelah ditelusuri, memang berinisial RBT dan JG, bukan JT seperti pada pesan berantai. Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara percepatan penangan Covid-19 Kabupaten Pelalawan H Asril pada Sabtu 4 April 2020.
“Ya memang benar ada tambahan satu warga Pelalawan yang terkonfirmasi Covid-19 berinisial JG. JG ini terpapar virus corona dari istrinya RBT yang terlebih dahulu telah dinyatakan positif,” terang Asril, Sabtu (04/04/2020).
Ia menjelaskan, JG memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta bersama istrinya, RBT, pada 13 Maret lalu untuk mengunjungi dua orang anaknya yang kuliah di sana. Namun setelah dua pekan berada di kediamannya (Perum Griya Akasia Pangkalan Kerinci) tepatnya pada tanggal pada tanggal 22 Maret, istrinya RBT mengalami keluhan sakit demam, batuk dan sesak napas. JG kemudian mendampingi RBT untuk mendapatkan penanganan medis ke RS Efarina Pangkalankerinci.
"Jadi, saat berada di RS Efarina, RBT didiagnosa sementara menderita penyakit tipus atau DBD, sehingga RBT harus dirawat di RS tersebut. Namun karena tak kunjung sembuh, maka pada tanggal 25 Maret, RBT meminta agar dirinya dirujuk ke RS Santa Maria. Manajemen RS Efarina kemudian mengabulkan permintaan RBT untuk dirujuk ke Santa Maria," ujarnya.
Dikatakan Kepala Dinas Kesehatan ini, saat berada di RS Santa Maria Pekanbaru, RBT didiagnosa mengalami gejala Covid-19 sehingga langsung dirawat di ruang isolasi dan ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan. Sedangkan JG yang telah mendampingi RBT, langsung diperiksa karena diduga telah terpapar virus corona.
"Sehingga JG langsung ditetapkan sebagai PDP dan dirawat di ruang isolasi RS Santa Maria. Dan setelah beberapa hari dirawat, JG akhirnya dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 setelah satu hari sebelumnya RBT terlebih dahulu dinyatakan positif," bebernya.
Dikatakannya, atas temuan kasus tersebut, tim gugus tugas langsung melakukan pemeriksaan terhadap tiga anak pasangan suami-istri positif corona yang telah ditetapkan sebagai PDP. Mereka telah dirawat di ruang isolasi RSUD Selasih Pangkalankerinci.
"Saat ini kami masih menunggu hasil swab laboratoriun Kemenkes terhadap ketiga anak pasein positif Covid-19. Hanya saja, karena mereka didiagnosa mengalami PDP ringan, maka mereka telah diperbolehkan pulang setelah membuat pernyataan tidak keluar rumah dan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari dengan pengawasan ketat tim medis gugus tugas," sebut Asril.
[…] 1. Sesuai dengan nama yang diumumkan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid19 Kabupaten Pekalawan bahwa Pasien COVID-19 yang terkonfirmasi positif di Kabupaten Pelalawan beberapa hari lalu yakni RBT dan JG, bukan JT.
2. RBT dan JG adalah pasangan suami istri yang bertempat tinggal (domisili) di salah satu komplek perumahan umum di Pangkalan Kerinci dan JG setelah ditelusuri
bukanlah Mantan Manejer atau Karyawan RAPP.
3. RBT dan JG sehari-hari berinteraksi dan kontak langsung dengan warga sekitar rumah, dan warga masyarakat lainnya dengan berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan termasuk karyawan RAPP seperti layaknya warga masyarakat umum yang hidup bersosialisasi dan bermasyarakat.
4. Terkait status RBT dan JG sebagai pasien terkonfirmasi positif, sesuai protokol COVID-19 yang ditetapkan, maka Gugus Tugas Penanggulangan COVID-19. Kabupaten Pelalawan telah melakukan tracking orang-orang yang pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan Pasien. RAPP juga telah melakukan tracing terhadap Karyawan dan Keluarga yang pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan Pasien.
5. Mengikuti protokol yang ada, perusahaan telah melakukan Rapid Test terhadap hasil tracking yang pernah kontak langsung dengan pasien, berdasar hasil pemeriksaan Rapid Test menyatakan semua yang diperiksa negative dari COVID-19. Namun tetap harus menjalani karantina atau observasi selama 14 hari.
6. Tidak benar RAPP melakukan Lock Down seperti yang disebutkan. Hingga saat ini Perusahaan tetap beroperasi, karyawan dan kontraktor masih menjalankan aktifitasnya.
7. RAPP sendiri sejak Januari lalu dalam menghadapi dan waspada akan merebaknya wabah virus corona telah membentuk Task Force dan menyusun protokol internal dan melakukan langkah-langkah perlindungan dari COVID-19, juga menyiapkan perlengkapan pendukung seperti thermal scanner, thermometer, APD dan yang lainnya.
Demikianlah penjelasan ini disampaikan untuk mengklarifikasi isu-isu yang beredar akibat pesan berantai dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. […]
Selain menyampaikan poin-poin klarifikasi resmi tersebu, Budhi mengimbau kepada masyarakat untuk hati-hati dalam menyampaikan informasi. “Kami menghimbau kepada semua pihak untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang belum tentu kebenarannya dan bisa berdampak hukum. Terimakasih,” ujar Budhi.
Perihal pasien COVID-19 yang ada di Kabupaten Pelalawan, setelah ditelusuri, memang berinisial RBT dan JG, bukan JT seperti pada pesan berantai. Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara percepatan penangan Covid-19 Kabupaten Pelalawan H Asril pada Sabtu 4 April 2020.
“Ya memang benar ada tambahan satu warga Pelalawan yang terkonfirmasi Covid-19 berinisial JG. JG ini terpapar virus corona dari istrinya RBT yang terlebih dahulu telah dinyatakan positif,” terang Asril, Sabtu (04/04/2020).
Ia menjelaskan, JG memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta bersama istrinya, RBT, pada 13 Maret lalu untuk mengunjungi dua orang anaknya yang kuliah di sana. Namun setelah dua pekan berada di kediamannya (Perum Griya Akasia Pangkalan Kerinci) tepatnya pada tanggal pada tanggal 22 Maret, istrinya RBT mengalami keluhan sakit demam, batuk dan sesak napas. JG kemudian mendampingi RBT untuk mendapatkan penanganan medis ke RS Efarina Pangkalankerinci.
"Jadi, saat berada di RS Efarina, RBT didiagnosa sementara menderita penyakit tipus atau DBD, sehingga RBT harus dirawat di RS tersebut. Namun karena tak kunjung sembuh, maka pada tanggal 25 Maret, RBT meminta agar dirinya dirujuk ke RS Santa Maria. Manajemen RS Efarina kemudian mengabulkan permintaan RBT untuk dirujuk ke Santa Maria," ujarnya.
Dikatakan Kepala Dinas Kesehatan ini, saat berada di RS Santa Maria Pekanbaru, RBT didiagnosa mengalami gejala Covid-19 sehingga langsung dirawat di ruang isolasi dan ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan. Sedangkan JG yang telah mendampingi RBT, langsung diperiksa karena diduga telah terpapar virus corona.
"Sehingga JG langsung ditetapkan sebagai PDP dan dirawat di ruang isolasi RS Santa Maria. Dan setelah beberapa hari dirawat, JG akhirnya dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 setelah satu hari sebelumnya RBT terlebih dahulu dinyatakan positif," bebernya.
Dikatakannya, atas temuan kasus tersebut, tim gugus tugas langsung melakukan pemeriksaan terhadap tiga anak pasangan suami-istri positif corona yang telah ditetapkan sebagai PDP. Mereka telah dirawat di ruang isolasi RSUD Selasih Pangkalankerinci.
"Saat ini kami masih menunggu hasil swab laboratoriun Kemenkes terhadap ketiga anak pasein positif Covid-19. Hanya saja, karena mereka didiagnosa mengalami PDP ringan, maka mereka telah diperbolehkan pulang setelah membuat pernyataan tidak keluar rumah dan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari dengan pengawasan ketat tim medis gugus tugas," sebut Asril.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka postingan yang tersebar di media sosial tersebut keliru. Oleh sebab itu, konten postingan itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1153740934958440/
- https://turnbackhoax.id/2020/04/06/salah-mantan-manajer-rapp-dan-istri-terpapar-covid-19/
- https://www.goriau.com/berita/baca/pasien-positif-covid19-di-pelalawan-bukan-mantan-karyawan-pt-rapp.html
- https://www.riaumandiri.id/read/detail/83159/rapp-bantah-hoaks-soal-karyawannya-positif-covid19
- https://monitorriau.com/news/detail/15343/pt-rapp-bantah-berita-hoax-soal-karyawannya-positif-covid19
- https://pontas.id/2020/04/06/viral-eks-karyawan-terpapar-covid-19-ini-penjelasan-rapp/
- https://riau.haluan.co/2020/04/05/gempar-pasutri-positif-corona-disebut-bos-rapp-ini-bantahan-perusahaan/
- https://riaupos.jawapos.com/pelalawan/04/04/2020/228595/di-pelalawan-setelah-istri-kini-suami-positif-corona.html
Halaman: 7345/7817





