• (GFD-2020-5435) [SALAH] “Megawati Minta Sri Mulyani Jangan Pelit Soal Dana Wakaf Untuk Melunasi Utang ke Tiongkok”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita

    “Megawati Minta Sri Mulyani Jangan Pelit Soal Dana Wakaf Untuk Melunasi Utang ke Tiongkok”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui laman media sosial Facebook pemilik akun Mbok Giyem membagikan sebuah kiriman yang menyertakan tangkapan layar portal berita Detikinet dengan judul berita “Megawati Minta Sri Mulyani Jangan Pelit Soal Dana Wakaf Untuk Melunasi Utang ke Tiongkok”. Unggahan tersebut telah di bagikan sebanyak 42 kali, menuai sebanyak 57 komentar dan 85 like dari pengguna Facebook lainnya.

    Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut melalui mesin pencarian gambar milik Google, diketahui foto yang digunakan pada postingan portal berita tersebut pernah dimuat di tempo.co dengan judul berita “Mega : Jangan Ada Keinginan Korupsi di Benak Saudara atau Saya”. Selain itu melansir dari index berita inet.detik.com diketahui hal tersebut tidak pernah termuat dalam pemberitaan inet.detik.com. Postingan tersebut juga merupakan hasil suntingan yang mengatasnamakan portal berita detikinet.

    Berdasarkan seluruh referensi yang ada klaim Megawati Minta Sri Mulyani Jangan Pelit Soal Dana Wakaf Untuk Melunasi Utang ke Tiongkok termasuk hoaks dengan kategori konten yang dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Erviana Hasan (Universitas Halu Oleo).

    Faktanya, Pemberitaan tersebut sudah melalui tahap penyuntingan dan tidak termuat dalam index media inet.detik.com.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5436) [SALAH] Video “Mesjid di paris di serang polisi dan jamaah nya di tangkap, muslim di pukulin dan mobil nya di rusak.”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita

    Akun Alam (fb.com/100035115582953) mengunggah sebuah video dengan narasi sebgai berikut:

    “Mesjid di paris di serang polisi dan jamaah nya di tangkap, muslim di pukulin dan mobil nya di rusak. Sdh salah tdk terima di tegus nih para kafir..hayoo ichwan, mari dukung dan kita demo di kedutaan prancis, jgn beli dan boikot produk perancis.. Demo.. Takbirrr.. Allahuakbar..!!! Hha. Lihat postingan saya videonya di block krna yg mengendalikan FB kita di indonesia ini jg non muslim yg gk senang dgn kita muslim..mari kita buat aksi damai dan sabar dulu. Ya..”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim ada video masjid di Paris yang diserang oleh polisi, umat Muslimnya dipukuli serta mobilnya dirusak adalah klaim yang keliru.

    Faktanya, bukan di Paris dan bukan penyerangan terhadap masjid oleh polisi. Peristiwa di video itu adalah aksi unjuk rasa untuk memprotes penindasan Muslim Uighur Cina di St. Georg, Hamburg, Jerman pada Januari 2020.

    Sebelumnya, video yang juga pernah diklaim sebagai video orang-orang yang sedang bertakbir dan direkam di Italia pada Maret 2020. Klaim ini sudah diperiksa faktanya dan dibuatkan artikel berjudul [SALAH] Video “ITALIA bergema takbir aamiin” yang dimuat di situs turnbackhoax.id pada 5 April 2020.

    Salah satu kanal Youtube, AfD Hamburg mengunggah video yang sama pada 18 Januari 2020 dengan judul “Allahu Akbar -Rufe in Hamburg”.

    Dikutip dari situs dzienniknarodowy.pl, dua hingga tiga ribu orang berdemonstrasi Sabtu lalu di Hamburg melawan penindasan minoritas Muslim Uighur di Cina. Menurut polisi, tidak ada insiden selama protes di jalan di St. Georg. Cabang Hamburg dari Kantor Federal untuk Perlindungan Konstitusi (Bundesamt für Verfassungsschutz, BfV) – dinas intelijen sipil Jerman – mengumumkan pada hari Jumat bahwa kaum Islamis dari Hizb at-Tahrir (Partai Pembebasan) mengorganisir rapat umum.

    Kesimpulan

    BUKAN di Paris dan BUKAN penyerangan terhadap masjid oleh polisi. Peristiwa di video itu adalah aksi unjuk rasa untuk memprotes penindasan Muslim Uighur Cina di St. Georg, Hamburg, Jerman pada Januari 2020.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8354) [Fakta atau Hoaks] Benarkah CDC Sebut Covid-19 Tak Menyebar Lewat Udara sehingga Pakai Masker Tak Berguna?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita


    Klaim bahwa Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut virus, dalam hal ini virus Corona penyebab Covid-19, tidak menyebar lewat udara beredar di Facebook. Karena itu, menurut klaim tersebut, CDC menyatakan bahwa pemakaian masker tidak berguna.
    Salah satu akun yang membagikan klaim tersebut adalah akun Facebook Nellie Niloufar Holden, tepatnya pada 18 Oktober 2020. Dalam unggahannya, akun ini menulis, “Here we go again. CDC says virus was never airborne rendering masks worthless.” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 68 reaksi dan dibagikan sebanyak 94 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Nellie Niloufar Holden.
    Apa benar CDC menyebut virus Corona Covid-19 tidak menyebar lewat udara sehingga pemakaian masker tidak berguna?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “CDC says virus was never airborne rendering masks worthless” di mesin pencarian Google. Namun, tidak ditemukan berita di situs media apa pun yang memuat informasi bahwa CDC menyebut virus Corona Covid-19 tidak menyebar lewat udara sehingga pemakaian masker tidak berguna.
    Tempo kemudian menelusuri informasi tentang penyebaran Covid-19 melalui udara di situs resmi CDC. Menurut penjelasan CDC yang diperbarui pada 28 Oktober 2020, Covid-19 paling sering menyebar melalui kontak fisik yang berdekatan, yaitu sekitar 6 kaki atau 1,8 meter. Saat penderita Covid-19 batuk, bersin, bernapas, berbicara, atau bernyanyi, mereka menghasilkan tetesan atau droplet.
    Droplet menyebabkan infeksi saat terhirup atau terpapar pada selaput lendir yang melapisi bagian dalam hidung dan mulut. Ketika terdapat jarak dengan penderita Covid-19, sehingga droplet bergerak lebih jauh, konsentrasi virus dalam droplet lebih rendah. Droplet dengan ukuran besar jatuh dari udara karena gravitasi. Adapun droplet dengan ukuran kecil bisa menyebar di udara.
    Menurut CDC, droplet berukuran kecil dapat bertahan di udara selama beberapa menit hingga jam. Terdapat bukti bahwa, dalam kondisi tertentu, penderita Covid-19 tampaknya telah menginfeksi orang lain yang jaraknya lebih dari 6 kaki. Transmisi ini terjadi di ruang tertutup yang memiliki ventilasi kurang memadai. Terkadang, orang yang terinfeksi mengalami sesak napas, misalnya saat bernyanyi atau berolahraga.
    Dalam keadaan ini, para ilmuwan percaya bahwa jumlah droplet berukuran kecil yang menular, yang diproduksi oleh penderita Covid-19, menjadi cukup terkonsentrasi untuk menyebarkan virus ke orang lain. “Orang-orang yang terinfeksi berada di ruang yang sama dalam waktu yang sama atau tidak lama setelah penderita Covid-19 pergi,” demikian penjelasan CDC.
    Meskipun begitu, CDC menegaskan bahwa data-data yang tersedia hingga saat ini menunjukkan penyebaran virus Corona Covid-19 lewat kontak dekat jauh lebih umum ketimbang lewat transmisi udara. Penjelasan CDC terkait potensi penularan Covid-19 melalui transmisi udara yang lebih detail dapat diakses di tautan ini, yang diperbarui pada 5 Oktober 2020.
    Selain CDC, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) dalam pernyataannya pada 9 Juli 2020 menyatakan bahwa transmisi virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, melalui udara diakibatkan oleh penyebaran droplet nuclei (aerosol) yang tetap menular saat melayang di udara dan bergerak hingga jarak yang jauh. Namun, belum diketahui berapa banyak jumlah droplet nuclei yang dihembuskan serta dosis SARS-CoV-2 hidup yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi pada orang lain.
    Laporan-laporan klinis terbaru, di mana tenaga kesehatan terpapar Covid-19 pada prosedur-prosedur yang menghasilkan aerosol, tidak menemukan transmisi nosokomial atau transmisi yang terjadi di lingkungan rumah sakit jika diterapkan kewaspadaan kontak atau jarak fisik serta mengenakan masker medis sebagai bagian dari alat pelindung diri (APD).
    Di luar fasilitas medis, beberapa laporan kejadian luar biasa (KLB) di ruangan yang padat dan tidak berventilasi cukup mengindikasikan kemungkinan transmisi aerosol, yang disertai transmisi droplet, misalnya dalam latihan paduan suara, di restoran, atau di kelas kebugaran. Dalam hal ini, kemungkinan terjadinya transmisi aerosol tidak dapat dikesampingkan, terutama jika kebersihan tangan tidak dijaga, masker tidak digunakan, dan jaga jarak fisik tidak dilakukan.
    Dalam Journal of American Medical Association (JAMA), CDC meninjau bukti ilmiah terbaru dan menegaskan bahwa masker kain adalah alat yang penting dalam mengurangi penyebaran Covid-19, terutama ketika digunakan secara universal dalam komunitas. Terdapat semakin banyak bukti bahwa masker kain membantu mencegah orang yang mengidap Covid-19 menyebarkan virus ke orang lain.
    Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan pada 9 Juni 2020, anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan, ''Pemakaian masker hanya dapat efektif apabila kita menerapkan protokol kesehatan lainnya dengan aktif, seperti cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak fisik.''
    Dikutip dari BBC, Fernandez dan Amy Mueller, insinyur di Universitas Northeastern, meneliti efektivitas berbagai masker buatan sendiri. Menurut penelitian mereka, masker yang paling efektif memiliki banyak lapisan, meskipun sedikit kurang efektif jika dibandingkan dengan N95 dan masker bedah. Namun, menambahkan nilon pada lapisan masker dapat meningkatkan efektivitas, hingga mampu menahan 80 persen partikel.
    Dilansir dari Kompas.com, juru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan masker scuba dan buff kurang efektif menangkal virus Corona Covid-19. "Masker scuba atau buff adalah masker dengan satu lapisan saja dan terlalu tipis, sehingga kemungkinan untuk tembus lebih besar," ujar Wiku.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa “CDC menyebut virus Corona Covid-19 tidak menyebar lewat udara sehingga pemakaian masker tidak berguna” keliru. CDC menyatakan bahwa salah satu penyebaran virus Corona Covid-19 adalah melalui transmisi udara, meskipun penyebaran lewat kontak dekat jauh lebih umum ketimbang lewat transmisi udara. Transmisi ini bisa terjadi dalam kondisi tertentu, terutama di ruang tertutup yang memiliki ventilasi kurang memadai. CDC juga menyatakan pemakaian masker kain penting dalam mengurangi penyebaran Covid-19, terutama ketika digunakan secara massal dalam komunitas.
    SITI AISAH
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8355) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Pembakaran Kantor Kedubes Prancis di Sudan?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita


    Video pendek yang diklaim sebagai video pembakaran kantor Kedutaan Besar Prancis di Sudan beredar di media sosial. Video ini menyebar di tengah munculnya berbagai kecaman terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait pernyataannya soal Islam sebagai tanggapan atas pemenggalan terhadap seorang guru Prancis yang bernama Samuel Paty.
    Dalam video itu, terlihat puluhan warga kulit hitam yang berlari ke arah sebuah gedung. Kedatangan mereka ke bangunan tersebut dihadang oleh sejumlah petugas. Kericuhan pun terjadi. Massa melempari gedung tersebut dengan batu. Massa juga membakar sebuah bangunan kecil yang terdapat di halaman gedung itu.
    Salah satu akun di Facebook  membagikan video berdurasi sekitar 2 menit itu pada 27 Oktober 2020. Akun ini kemudian menulis, "Pembakaran kedutaan Perancis di Sudan untuk menolak gambar Nabi yang menghina, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian."
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 31 ribu reaksi dan dikomentari sebanyak 91 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook ????????? ????.
    Apa benar video tersebut adalah video pembakaran kantor Kedubes Prancis di Sudan?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, video tersebut bukanlah video pembakaran kantor Kedubes Prancis di Sudan, melainkan video unjuk rasa yang berakhir ricuh di Kedubes Jerman di Khartoum, ibukota Sudan, pada 14 September 2012.
    Untuk memeriksa klaim di atas, Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Lalu, gambar-gambar tersebut ditelusuri jejak digitalnya dengan reverse image tool Yandex.
    Hasilnya, ditemukan foto yang dipublikasikan oleh situs media Australia, ABC, pada 14 September 2012 yang memperlihatkan seorang demonstran tengah berorasi di depan kobaran api. Momen ini sama dengan yang terlihat dalam video yang beredar, tepatnya pada menit 1:51.
    Gambar tangkapan layar video yang beredar pada menit 1:51 (kiri) dan foto yang diunggah oleh ABC pada 14 September 2012 (kanan).
    ABC menulis bahwa foto tersebut bersumber dari Reuters, dan diberi keterangan “A still image take from video footage shows demonstrators shouting next to the German embassy in Khartoum” atau "Foto yang diambil dari rekaman video yang menunjukkan para demonstran berteriak di sebelah kedutaan Jerman di Khartoum".
    Berbekal informasi ini, Tempo menggunakan kalimat “demonstrators shouting next to the German embassy in Khartoum” sebagai kata kunci pencarian di YouTube. Lewat cara ini, ditemukan video yang dipublikasikan CNN pada 14 September 2012. Cuplikan pada detik ke-8 hingga menit 1:15 video ini sama dengan cuplikan pada awal hingga menit 1:49 video yang beredar.
    Gambar tangkapan layar video yang beredar pada detik ke-2 (kiri) dan video yang diunggah oleh CNN pada detik ke-12 (kanan).
    Sama halnya dengan ABC, CNN memberikan keterangan bahwa, dalam video itu, para pengunjuk rasa mampu menembus pasukan keamanan yang berjaga dan menerobos masuk ke Kedubes Jerman di Khartoum, Sudan.
    Kantor berita Jerman Deutsch Welle melaporkan, pada 14 September 2012, sekitar 5 ribu pengunjuk rasa di ibukota Sudan menyerbu Kedubes Inggris dan Jerman. Mereka marah atas film amatir Amerika Serikat yang berjudul "Innocence of Muslims". Film ini menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang wanita, homoseksual, dan melecehkan anak-anak.
    Serbuan demonstran ini membuat pasukan kepolisian Sudan yang berjaga menggunakan gas air mata untuk menghentikan mereka. Namun, beberapa pengunjuk rasa tetap berhasil melewati gerbang Kedubes Jerman.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video pembakaran Kedubes Prancis di Sudan keliru. Video tersebut adalah video lama pada 14 September 2012, jauh sebelum Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan pernyataan yang kontroversial soal Islam sebagai tanggapan atas pemenggalan terhadap seorang guru Prancis yang bernama Samuel Paty. Video itu memperlihatkan aksi protes warga Sudan di Kedubes Jerman pada 14 September 2012. Ketika itu, sekitar 5 ribu demonstran berunjuk rasa pasca rilisnya sebuah film amatir yang dianggap menghina Islam.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan