(GFD-2020-8238) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Negara-negara Arab Ini yang Paling Awal Akui Kemerdekaan RI?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 21/08/2020
Berita
Klaim bahwa negara-negara Arab adalah negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaan RI beredar di media sosial. Negara-negara Arab yang disebut dalam klaim itu adalah Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi, dan Yaman.
"Jangan lupakan sejarah. Negara-negara yang pernah menjajah Indonesia: 1) Portugis, 2) Spanyol, 3) Belanda, 4) Prancis, 5) Britania Raya (UK), 6) Jepang. Negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaan RI adalah: 1) Mesir, 2) Yordania, 3) Lebanon, 4) Suriah, 5) Irak, 6) Arab Saudi, 7) Yaman. Semuanya negara Arab. Lah kenapa sekarang banyak orang Indonesia yang malah anti-Arab?" demikian klaim yang beredar di media sosial.
Di Twitter, klaim yang terdapat dalam gambar tangkapan layar sebuah cuitan itu diunggah salah satunya oleh akun @ ghanieierfa n, yakni pada 17 Agustus 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah di-retweet lebih dari 700 kali dan disukai lebih dari 1.800 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @ghanieierfan.
Apa benar negara-negara Arab di atas yang paling awal mengakui kemerdekaan RI?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri informasi di berbagai sumber resmi dan situs media kredibel dengan memasukkan kata kunci "negara-negara yang pertama mengakui kemerdekaan RI" di mesin pencarian Google. Tempo juga menghubungi sejarawan Bonnie Triyana untuk memastikan kebenaran dari klaim itu.
Dikutip dari artikel di majalah sejarah online Historia yang berjudul "Persahabatan Indonesia-Afghanistan" pada 30 Januari 2018, Afghanistan termasuk negara yang paling awal mengakui RI, yakni pada 15 September 1947. Menteri Luar Negeri Indonesia pertama, Ahmad Subardjo, menyebut “Mesir adalah negara pertama yang mengakui Republik Indonesia secara de jure. Setelah Mesir adalah Afghanistan.”
Namun, menurut Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia M. Zein Hassan, semua negara Liga Arab yang telah merdeka, kecuali Yordania, telah mengakui RI sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, baik secara de facto maupun secara de jure.
Menurut laporan Historia tersebut, berbagai sumber menyatakan urutan pengakuan dari negara-negara Liga Arab terhadap RI adalah Mesir (1 Juni 1947), kemudian disusul Lebanon (Juni 1947), Suriah dan Irak (Juli 1947), lalu Arab Saudi (November 1947).
Dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Zein menyebut pengakuan Afghanistan dimuat dalam harian Al-Ahram edisi 19 September 1947 yang menyiarkan “Pemerintah Afghanistan telah mengakui Republik Indonesia dan telah mengawatkan kepada dutanya di Washington DC supaya menyampaikan kepada Dr. Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia.”
Pada 4 November 1947, Zein menjadi penerjemah Sjahrir, utusan khusus Presiden Indonesia, dalam pertemuan dengan Sadik El-Mujaddidi, Duta Besar Afghanistan di Kairo, Mesir. “Dalam suasana gembira, Bung Sjahrir menyampaikan terima kasih kepada Afghanistan atas pengakuannya terhadap Republik Indonesia. Dengan demikian, Afghanistan adalah satu-satunya negara di luar negara-negara Liga Arab yang mengakui de facto dan de jure kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia sampai Belanda mengakuinya pada Desember 1949," ujar Zein.
Setelah mengakui RI, Afghanistan mengirimkan perwakilan resmi ke Indonesia dengan menembus blokade Belanda. Pemerintah Afghanistan juga meminta kepada Sjahrir supaya mengirimkan wakil RI ke Afghanistan. Pemerintah Indonesia pun menempatkan Abdul Kadir di Afghanistan, yang berangkat pada 28 Desember 1947 sebelum Perjanjian Renville ditandatangani serta pertempuran antara Indonesia dan Belanda masih terjadi di sana-sini.
Dikutip dari artikel di Republika yang berjudul "Palestina, Kemerdekaan Indonesia, dan Ahmad Soekarno" pada 17 Agustus 2019, tercatat bahwa 10 negara pertama yang menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan RI adalah negara-negara Islam di kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Negara-negara tersebut yaitu Palestina, Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi, dan Yaman, kemudian menyusul Afghanistan, Iran, dan Turki. Di luar itu, ada pula Vatikan sebagai negara kelima yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.
Walaupun baru mengakui kemerdekaan RI secara de jure pada 1947, Mesir telah mengakui eksistensi Indonesia pada 22 Maret 1946, seperti dilansir dari Kompas.com yang mengutip situs resmi Kementerian Luar Negeri. Setelah Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Arab Saudi, dan Afghanistan juga mengakui kemerdekaan RI.
Adapun sejarawan Bonnie Triyana menuturkan bahwa negara-negara yang pertama kali mengakui eksistensi keamanan atau kemerdekaan Indonesia tidak semuanya berasal dari tanah Arab. Ukraina dan India juga menjadi negara yang mendorong Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas eksistensi keamanan Indonesia.
"Memang benar Liga Arab yang terdiri dari beberapa negara mengakui kemerdekaan Indonesia. Tapi bukan berarti negara di luar itu tidak ada. Ada Ukraina dan juga India, di mana saat itu Nehru (Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India pertama), teman Bung Hatta, sudah menjalin hubungan sejak 1920-an," ujar Bonnie saat dihubungi pada 21 Agustus 2020.
Dilansir dari IDN Times, Indonesia sudah mulai menggalang dukungan dari India sejak 1946. Ketika itu, India sedang berusaha lepas dari penjajahan Inggris. Salah satu upaya Indonesia yang digagas Sjahrir adalah mengirimkan 500 ribu ton beras ke India yang saat itu dilanda kemiskinan.
Setahun kemudian, Haji Agus Salim berhasil memimpin delegasi Indonesia di Inter Asian Relations Conference yang berlangsung di New Delhi, India. Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru pun memberikan pengakuan kepada Indonesia sebagai negara merdeka dan mendorong pemerintah lain mengikuti sikap tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa negara-negara Arab di atas, yakni Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi, dan Yaman, yang paling awal mengakui kemerdekaan RI, sebagian benar. Berbagai sumber menyatakan semua negara Liga Arab yang telah merdeka, kecuali Yordania, menjadi negara-negara yang paling awal memberikan pengakuan terhadap RI. Meskipun begitu, negara-negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia tidak semuanya negara-negara Liga Arab. Ada Afghanistan, Iran, Turki, Ukraina, dan India yang juga merupakan negara-negara yang paling awal mengakui kemerdekaan RI.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/kemerdekaan
- https://archive.fo/RYean
- https://archive.fo/RYean
- https://historia.id/politik/articles/persahabatan-indonesia-afghanistan-vxJBd
- https://www.tempo.co/tag/liga-arab
- https://republika.co.id/berita/pwdhfu440/palestina-kemerdekaan-indonesia-dan-ahmad-soekarno
- https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/09/140000169/mesir--negara-pertama-mengakui-kemerdekan-indonesia?page=all
- https://kaltim.idntimes.com/news/indonesia/rosa-folia/ini-5-negara-yang-pertama-mengakui-kemerdekaan-indonesia-regional-kaltim/3
- https://www.tempo.co/tag/arab
(GFD-2020-8239) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pria Berjenggot Ini Injak Bendera Merah Putih?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 21/08/2020
Berita
Foto seorang pria yang diklaim menginjak bendera Indonesia, bendera Merah Putih, beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Pria dalam foto itu berjenggot dan mengenakan serban serta sarung. Pria tersebut juga mengalungkan sebuah senjata laras panjang dan mengangkat jari telunjuknya.
Di Facebook, foto itu diunggah salah satunya oleh akun Danang Loring Djoyo, yakni pada 20 Agustus 2020. Foto tersebut dibagikan ke grup Spiritual Indonesia. Akun itu pun menuliskan narasi sebagai berikut: "B****** ini sudah menginjak merah putih, hukuman apa yang pantas bagi b****** ini."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Danang Loring Djoyo.
Apa benar pria berjenggot dalam foto di atas menginjak bendera Indonesia, bendera Merah Putih?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, pria berjenggot dalam foto tersebut adalah salah satu pemimpin senior kelompok radikal Al-Qaeda, Khaled Batarfi. Dia tidak menginjak bendera Indonesia, bendera Merah Putih, melainkan bendera Yaman yang berwarna merah-putih-hitam.
Foto utuh Batarfi yang sedang menginjak bendera Yaman itu pernah dimuat oleh situs media Inggris, The Telegraph, dalam berita yang berjudul "The al-Qaeda commander at home in a governor's palace" pada 4 April 2015. Dalam foto aslinya, terlihat jelas bahwa warna bendera yang diinjak oleh Batarfi bukan bendera Indonesia.
Foto itu diambil dari Twitter dengan keterangan bahwa Batarfi tidak menghormati bendera Yaman. “Batarfi was also pictured being disrespectful to the Yemeni flag,” demikian keterangan foto tersebut.
Batarfi melakukan tindakan tersebut di kantor gubernur sebuah provinsi di Yaman. Ia bebas setelah para pejuang Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) menyerang penjara tempat Batarfi ditahan yang terletak di kota pelabuhan Mukalla. Dia telah ditahan selama empat tahun, usai ditangkap ketika AQAP menyerang Yaman selatan, merebut Provinsi Abyan.
Gambar tangkapan layar berita di CNN Uni Emirat Arab yang memuat foto pemimpin senior Al-Qaeda, Khaled Batarfi, sedang menginjak bendera Yaman.
Foto yang sama pernah dipublikasikan oleh CNN Uni Emirat Arab pada 4 April 2015 dalam berita yang berjudul "Beredar foto Khaled Batarfi, salah satu pemimpin Al-Qaeda, yang menginjak bendera Yaman di istana presiden di Mukalla".
Dalam berita ini, disebutkan pula bahwa Batarfi ketika itu baru saja bebas dari penjara di Mukalla setelah Al-Qaeda menduduki kota tersebut. Selain Batarfi, penyerangan Al-Qaeda ini juga membebaskan sekitar 200 narapidana lainnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pria dalam foto di atas menginjak bendera Indonesia, bendera Merah Putih, keliru. Foto tersebut telah dipotong dari foto aslinya yang memperlihatkan bendera Yaman yang berwarna merah-putih-hitam. Pria dalam foto itu adalah salah satu pemimpin Al-Qaeda, Khaled Batarfi. Peristiwa dalam foto itu terjadi pada 4 April 2015.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/bendera-merah-putih
- https://archive.fo/VKdNq
- https://www.tempo.co/tag/al-qaeda
- https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/middleeast/yemen/11515401/The-al-Qaeda-commander-at-home-in-a-governors-palace.html
- https://www.tempo.co/tag/yaman
- https://arabic.cnn.com/middleeast/2015/04/04/aqap-leader-inside-presidential-palace-southern-yemen
- https://www.tempo.co/tag/merah-putih
(GFD-2020-4683) [SALAH] Video “Raja Bahrain tiba di Dubai dengan pengawal robotnya”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/08/2020
Berita
Akun Yatie Cassad (fb.com/yatie.zelda) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:
“Raja Bahrain tiba di Dubai dengan pengawal robotnya yang dilengkapi dengan kamera untuk melacak 360 derajat dan dilengkapi pistol. Teknologi bergerak sangat cepat dari sebelumnya dalam sejarah”
“Raja Bahrain tiba di Dubai dengan pengawal robotnya yang dilengkapi dengan kamera untuk melacak 360 derajat dan dilengkapi pistol. Teknologi bergerak sangat cepat dari sebelumnya dalam sejarah”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelurusan, klaim adanya Raja Bahrain tiba di Dubai dengan dikawal robot yang dilengkapi dengan kamera untuk melacak 360 derajat dan dilengkapi pistol adalah klaim yang salah.
Faktanya, pria di video itu bukan Raja Bahrain dan bukan robot pengawal. Robot di video itu adalah robot hiburan bernama Titan yang menyapa para pengunjung di pameran pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi pada tahun 2019.
Video yang sama, diunggah di YouTube pada tanggal 24 Februari 2019, yang menunjukkan adegan yang sama dengan video di unggahan menyesatkan. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul video yang berdurasi 3 menit 28 detik itu adalah: “Robot Titan setinggi 8 kaki menyapa para pengunjung di pameran pertahanan UEA di Abu Dhabi”.
Titan adalah kostum robot yang sebagian dijalankan dengan bantuan mekanis yang dikembangkan oleh Cyberstein Robots yang berbasis di Inggris. Pameran dan Konferensi Pertahanan Internasional, atau IDEX, adalah satu-satunya acara perdagangan pertahanan internasional di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang diadakan dua tahun sekali di Pusat Pameran Nasional Abu Dhabi (ADNEC).
Sementara itu, situs Indiatimes.com mengatakan bahwa pria di depan robot Titan bukanlah Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifah. Situs ini mengunggah foto raja Bahrain sebagai penegasan bantahan terhadap klaim yang kadung beredar. Foto sang Raja juga bisa dilihat di situs web Kementerian Luar Negeri Bahrain.
Faktanya, pria di video itu bukan Raja Bahrain dan bukan robot pengawal. Robot di video itu adalah robot hiburan bernama Titan yang menyapa para pengunjung di pameran pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi pada tahun 2019.
Video yang sama, diunggah di YouTube pada tanggal 24 Februari 2019, yang menunjukkan adegan yang sama dengan video di unggahan menyesatkan. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul video yang berdurasi 3 menit 28 detik itu adalah: “Robot Titan setinggi 8 kaki menyapa para pengunjung di pameran pertahanan UEA di Abu Dhabi”.
Titan adalah kostum robot yang sebagian dijalankan dengan bantuan mekanis yang dikembangkan oleh Cyberstein Robots yang berbasis di Inggris. Pameran dan Konferensi Pertahanan Internasional, atau IDEX, adalah satu-satunya acara perdagangan pertahanan internasional di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang diadakan dua tahun sekali di Pusat Pameran Nasional Abu Dhabi (ADNEC).
Sementara itu, situs Indiatimes.com mengatakan bahwa pria di depan robot Titan bukanlah Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifah. Situs ini mengunggah foto raja Bahrain sebagai penegasan bantahan terhadap klaim yang kadung beredar. Foto sang Raja juga bisa dilihat di situs web Kementerian Luar Negeri Bahrain.
Kesimpulan
Bukan Raja Bahrain dan bukan robot pengawal. Robot di video itu adalah robot hiburan bernama Titan yang menyapa para pengunjung di pameran pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi pada tahun 2019.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/video-ini-menunjukkan-robot-menyapa-pengunjung-pameran-pertahanan-di-abu-dhabi-di-tahun-2019
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/VNx4xAaN-video-penampakan-raja-bahrain-dikawal-robot-bersenjata-ini-faktanya
- https://www.youtube.com/watch?v=L2bzTxny0XM
- https://www.insidermedia.com/news/south-west/dit-supports-robot-firm-secure-chinese-contract
- https://www.indiatimes.com/technology/news/king-of-bahrain-titan-robot-fact-check-520355.html
- https://www.mofa.gov.bh/Default.aspx?tabid=7661&language=en-US
(GFD-2020-4684) [SALAH] “Bendera ISRAEL di Burj Khalifa Dubai, United Arab Emirates (UAE)”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/08/2020
Berita
Beredar 2 foto yang yang diklaim sebagai Burj Khalifa yang diterangi dengan cahaya lampu yang menampilkan gambar bendera Israel oleh 2 akun yang berbeda yaitu akun Indonesian Crusaders (fb.com/105258067743806) dan akun Bakhil Ahmad (fb.com/haji.bakhil.7906).
Akun Indonesian Crusaders mengunggah foto Burj Khalifa dengan narasi “Bendera ISRAEL di Burj Khalifa Dubai, United Arab Emirates (UAE). Era Baru dalam Sejarah Perdamaian Timur Tengah telah dimulai….”.
Sementara itu akun Bakhil Ahmad mengunggah dengan narasi “Sokor alhamdulila… inilah masa yg di-nanti²kan. Bendera Israel membeloti Al Burj Khalifa, Dubai.UAE” ke grup JEMAAH TABLIGH SEDUNIA (fb.com/groups/tablight)
Akun Indonesian Crusaders mengunggah foto Burj Khalifa dengan narasi “Bendera ISRAEL di Burj Khalifa Dubai, United Arab Emirates (UAE). Era Baru dalam Sejarah Perdamaian Timur Tengah telah dimulai….”.
Sementara itu akun Bakhil Ahmad mengunggah dengan narasi “Sokor alhamdulila… inilah masa yg di-nanti²kan. Bendera Israel membeloti Al Burj Khalifa, Dubai.UAE” ke grup JEMAAH TABLIGH SEDUNIA (fb.com/groups/tablight)
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, klaim adanya foto-foto Burj Khalifa yang diterangi dengan cahaya lampu yang menampilkan gambar bendera Israel adalah klaim yang salah.
Faktanya, kedua foto itu hasil editan atau suntingan dengan menambahkan gambar bendera Israel. Foto asli tidak menunjukkan bendera Israel.
Foto yang diunggah akun Indonesian Crusaders, foto asli sebelumnya diunggah di sebuah blog perjalanan pada tanggal 22 Oktober 2019 yaitu situs Juliasalbum.com di artikel berjudul “BEST 12 THINGS TO DO IN DUBAI”.
Foto yang diunggah akun Bakhil Ahmad, foto asli diunggah di akun Twitter Kantor Media Pemerintah Dubai pada tanggal 12 Mei 2020 dengan narasi “The World’s Tallest Donation Box at the Burj Khalifa hits the 1.2 million-light mark, achieving its target of collecting 1.2 million meals to support the #10MillionMeal initiative in a week, thanks to individuals of more than 110 nationalities.”
Faktanya, kedua foto itu hasil editan atau suntingan dengan menambahkan gambar bendera Israel. Foto asli tidak menunjukkan bendera Israel.
Foto yang diunggah akun Indonesian Crusaders, foto asli sebelumnya diunggah di sebuah blog perjalanan pada tanggal 22 Oktober 2019 yaitu situs Juliasalbum.com di artikel berjudul “BEST 12 THINGS TO DO IN DUBAI”.
Foto yang diunggah akun Bakhil Ahmad, foto asli diunggah di akun Twitter Kantor Media Pemerintah Dubai pada tanggal 12 Mei 2020 dengan narasi “The World’s Tallest Donation Box at the Burj Khalifa hits the 1.2 million-light mark, achieving its target of collecting 1.2 million meals to support the #10MillionMeal initiative in a week, thanks to individuals of more than 110 nationalities.”
Kesimpulan
Kedua foto itu hasil editan / suntingan dengan menambahkan gambar bendera Israel. Foto asli tidak menunjukkan bendera Israel.
Rujukan
Halaman: 7175/7906




