(GFD-2020-8431) Keliru, Klaim Ini Video Ratusan Pasien Covid-19 yang Dirawat di Istora Senayan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 28/12/2020
Berita
Video yang diklaim sebagai video ratusan pasien Covid-19 yang dirawat di Istora Senayan, Jakarta, viral. Dalam video berdurasi 26 detik ini, terlihat ratusan orang yang terbaring di atas tikar dan kasur di sebuah gelanggang olahraga (GOR). Di sejumlah titik, tampak beberapa petugas yang mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
Terdapat pula sebuah ruangan terpisah di salah satu bagian GOR itu yang disekat dengan triplek. Sementara GOR tersebut memiliki tribun penonton di keempat sisinya. Pagar tribun penonton itu pun diberi kawat berduri. Sebelumnya, video ini diklaim diambil dari GOR Lembupeteng, Tulungagung, Jawa Timur.
Gambar tangkapan layar video yang beredar di media sosial dan WhatsApp yang disebarkan dengan klaim keliru bahwa video itu diambil di Istora Senayan, Jakarta.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Source dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa video di atas bukan video ratusan pasien Covid-19 di Istora Senayan maupun di GOR Lembupeteng. Video itu diambil di Stadium Sukpa Indera Mahkota, Malaysia.
Video yang identik pernah diunggah ke Facebook oleh akun Kuantan pada 17 Desember 2020. Akun ini menulis narasi, “Stadium Sukpa Kuantan - Indera Mahkota....”
Tempo kemudian menelusuri pemberitaan tentang penempatan pasien Covid-19 di Stadium Sukpa, Kuantan, Malaysia. Hasilnya, ditemukan berita dari situs media Malaysia, Harian Metro, yang memuat foto Stadium Tertutup, Sukpa Indera Mahkota. Interior stadion ini sama dengan yang terlihat dalam video yang beredar, termasuk kawat berduri yang dipasang di pagar tribun. Warna lantai stadion ini pun sama dengan yang terlihat dalam video yang beredar.
Foto itu dimuat oleh Harian Metro pada 16 Desember 2020 dalam beritanya yang berjudul "312 pesakit Covid-19 ditempatkan di PKRC Sukpa, MAEPS". Foto itu pun diberi keterangan "PUSAT Kuarantin dan Rawatan Covid-19 (PKRC) di Stadium Tertutup, SUKPA Indera Mahkota. Foto arkib NTSP."
Menurut laporan Harian Metro, Direktur Dewan Keamanan Negara (MKN) Pahang Mohd Zairasyahli Shah Zakaria mengatakan, PKRC Sukpa bisa menampung 200 pasien Covid-19 risiko rendah. PKRC Sukpa mulai menerima dan merawat pasien Covid-19 risiko rendah sejak 11 Desember 2020.
Berdasarkan arsip berita Tempo, Kepala Unit Istora Senayan Jujuk Bandung Windargo pun telah membantah kabar adanya pasien Covid-19 yang menempati area lapangan indoor Istora GBK (Gelora Bung Karno). "Itu video hoaks," kata Jujuk saat dihubungi pada 28 Desember 2020. Menurut Jujuk, saat ini, tidak ada penghuni di Istora Senayan. "Kosong, tidak ada apa-apa karena belum ada event atau kegiatan," ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia juga menyatakan tak tahu-menahu ihwal video tersebut. Dia berujar, lokasi yang dihuni orang-orang itu bukan tempat isolasi tambahan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pasien Covid-19. "Bukan (tempat isolasi tambahan dari DKI)," ujarnya.
Dilansir dari Jatim Times, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung Galih Nusantoro juga memastikan video itu hoaks. “Hasil penelusurannya enggak di sekitar sini, enggak ada kontruksi itu di sekitar sini (Tulungagung),” ujar Galih pada 23 Desember 2020.
Dari posisi tribun (kursi penonton), tampak berbeda dibandingkan dengan tribun di GOR Lembupeteng. Dalam video itu, terlihat tribun berada di empat sisi GOR. Sementara di GOR Lembupeteng, tribun hanya berada di dua sisi, sisi utara dan sisi selatan.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video ratusan pasien Covid-19 yang dirawat di Istora Senayan, Jakarta, keliru. Video tersebut diambil di Stadium Sukpa Indera Mahkota, Malaysia, yang dijadikan lokasi perawatan dan isolasi pasien Covid-19 sejak pertengahan Desember 2020 lalu.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
(GFD-2020-5912) [SALAH] “Mantan PM Jepang Minta Maaf Karena Pakai Uang Jokowi untuk Pesta Makan Malam”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/12/2020
Berita
Akun Hekel Jahad (fb.com/syahrul.ankker) mengunggah sebuah gambar tangkapan layar postingan akun Facebook CekTKP yang seolah membagikan artikel berjudul “”Mantan PM Jepang Minta Maaf Karena Pakai Uang Jokowi untuk Pesta Makan Malam” dengan narasi sebagai berikut:
“Sungguh durjana Xing Jing Ping ini…. Berani-beraninya mengkorupsi uang Kaisar Zhou Cou Wei hanya demi urusan perutnya sendiri…. Wah wah… Ternya PM Skotlandia ini sudah disusupin paham kardun epebei & atei…. Ayo kita boikot produk Kiribati… Biar ekonomi Siera Leone terpuruk… NKRI HARGA MATI”
“Sungguh durjana Xing Jing Ping ini…. Berani-beraninya mengkorupsi uang Kaisar Zhou Cou Wei hanya demi urusan perutnya sendiri…. Wah wah… Ternya PM Skotlandia ini sudah disusupin paham kardun epebei & atei…. Ayo kita boikot produk Kiribati… Biar ekonomi Siera Leone terpuruk… NKRI HARGA MATI”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya artikel berjudul “Mantan PM Jepang Minta Maaf Karena Pakai Uang Jokowi untuk Pesta Makan Malam” adalah klaim yang keliru.
Faktanya, judul pada gambar itu diedit atau disunting dengan mengganti kata “Rakyat” dengan “Jokowi”. Judul asli artikel tersebut adalah “Mantan PM Jepang Minta Maaf Karena Pakai Uang Rakyat untuk Pesta Makan Malam”
Dilansir dari situs CekTKP tersebut, Mantan Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe meminta maaf ke rakyatnya karena telah menggunakan uang rakyat untuk pesta makan malam.
Saat itu ia diketahui telah menggunakan uang negara secara ilegal dengan menggelar pesta makan malam yang diselenggarakan kantornya untuk para pendukungnya menjelang pesta tahunan menonton bunga sakura.
“Saya menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada rakyat dan semua anggota partai yang berkuasa dan oposisi,” kata Abe sambil menundukkan kepala seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Jumat (25/12/2020).
Jaksa Jepang tidak mendakwa Abe karena kurangnya bukti, tetapi secara resmi mendakwa ajudannya, Hiroyuki Haikawa, 61 tahun yang diduga tak melaporkan biaya dan pembayaran untuk resepsi makam malam dari 2016 hingga 2019.
Skandal itu melibatkan pesta makan malam tahunan pada 2018 di mana para tamu Abe masing-masing membayar biaya sebesar 5.000 yen atau sekitar Rp682.000,00. Anggota parlemen oposisi mengatakan pembayaran itu terlalu rendah untuk pesta di hotel kelas atas Tokyo, dan kantor Abe diduga menutupi kekurangan tersebut tanpa melaporkannya dengan benar.
Abe sendiri mengungkapkan dirinya tak tahu mengenai pembayaran ilegal tersebut. Meski begitu, dia tetap meminta maaf atas masalah ini.
Abe sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan PM Jepang pada Agustus lalu, dengan alasan kesehatan. Namun, banyak pihak yang memperkirakan kasus ini menjadi salah satu penyebab dari keputusannya untuk mundur.
Mantan pemimpin Jepang itu mengatakan ia telah menyerahkan semua tugas operasi kepada orang lain yang bertanggung jawab di kantornya.
Perdana menteri yang menggantikannya, Yoshihide Suga, yang menjabat kepala sekretaris kabinet di pemerintahan Abe, membatalkan pesta menonton bunga sakura pada hari ia menjabat.
Faktanya, judul pada gambar itu diedit atau disunting dengan mengganti kata “Rakyat” dengan “Jokowi”. Judul asli artikel tersebut adalah “Mantan PM Jepang Minta Maaf Karena Pakai Uang Rakyat untuk Pesta Makan Malam”
Dilansir dari situs CekTKP tersebut, Mantan Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe meminta maaf ke rakyatnya karena telah menggunakan uang rakyat untuk pesta makan malam.
Saat itu ia diketahui telah menggunakan uang negara secara ilegal dengan menggelar pesta makan malam yang diselenggarakan kantornya untuk para pendukungnya menjelang pesta tahunan menonton bunga sakura.
“Saya menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada rakyat dan semua anggota partai yang berkuasa dan oposisi,” kata Abe sambil menundukkan kepala seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Jumat (25/12/2020).
Jaksa Jepang tidak mendakwa Abe karena kurangnya bukti, tetapi secara resmi mendakwa ajudannya, Hiroyuki Haikawa, 61 tahun yang diduga tak melaporkan biaya dan pembayaran untuk resepsi makam malam dari 2016 hingga 2019.
Skandal itu melibatkan pesta makan malam tahunan pada 2018 di mana para tamu Abe masing-masing membayar biaya sebesar 5.000 yen atau sekitar Rp682.000,00. Anggota parlemen oposisi mengatakan pembayaran itu terlalu rendah untuk pesta di hotel kelas atas Tokyo, dan kantor Abe diduga menutupi kekurangan tersebut tanpa melaporkannya dengan benar.
Abe sendiri mengungkapkan dirinya tak tahu mengenai pembayaran ilegal tersebut. Meski begitu, dia tetap meminta maaf atas masalah ini.
Abe sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan PM Jepang pada Agustus lalu, dengan alasan kesehatan. Namun, banyak pihak yang memperkirakan kasus ini menjadi salah satu penyebab dari keputusannya untuk mundur.
Mantan pemimpin Jepang itu mengatakan ia telah menyerahkan semua tugas operasi kepada orang lain yang bertanggung jawab di kantornya.
Perdana menteri yang menggantikannya, Yoshihide Suga, yang menjabat kepala sekretaris kabinet di pemerintahan Abe, membatalkan pesta menonton bunga sakura pada hari ia menjabat.
Rujukan
- https://www.facebook.com/cektkp.id/posts/3562441503852443 (Arsip:
- https://archive.vn/32Elx)
- https://www.voaindonesia.com/a/mantan-pm-jepang-abe-minta-maaf-atas-belanja-uang-secara-ilegal-/5712157.html
- https://www.kompas.tv/article/133100/kejaksaan-tak-mendakwa-shinzo-abe-karena-dugaan-korupsi-mantan-pm-jepang-tetap-minta-maaf
(GFD-2020-5913) [SALAH] Foto Tentara Inggris dan Jerman Bermain Sepak Bola saat Gencatan Senjata Natal 1914
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/12/2020
Berita
Beredar foto hitam putih di media sosial memperlihatkan sekelompok tentara bermain sepak bola dengan narasi yang menyebut tentara Inggris dan Jerman melakukan gencatan senjata saat Perang Dunia dengan di malam Natal tahun 1914.
Peristiwa “Gencatan Senjata Natal” terjadi di wilayah tak bertuan (no man’s land), Belgia pada 1914. Pada malam natal 24 Desember 1914, tentra Jerman dan Inggris mendekorasi parit masing-masing dengan pohon Natal dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Suasana bertambah hangat ketika mereka keluar dari parit mereka masing-masing untuk bertegur sapa, bertukar hadiah dan kebahagiaan Natal.
“Para lelaki itu bertukar lencana dan kancing, tembakau dan sosis, sambil saling menunjukkan foto keluarga mereka. Namun mereka tidak diizinkan untuk mengunjungi parit satu sama lain karena itu akan mengungkapkan jumlah senapan mesin dan informasi rahasia lainnya,” dikutip dari news.com.au pada 24 Desember 2014.
Peristiwa “Gencatan Senjata Natal” terjadi di wilayah tak bertuan (no man’s land), Belgia pada 1914. Pada malam natal 24 Desember 1914, tentra Jerman dan Inggris mendekorasi parit masing-masing dengan pohon Natal dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Suasana bertambah hangat ketika mereka keluar dari parit mereka masing-masing untuk bertegur sapa, bertukar hadiah dan kebahagiaan Natal.
“Para lelaki itu bertukar lencana dan kancing, tembakau dan sosis, sambil saling menunjukkan foto keluarga mereka. Namun mereka tidak diizinkan untuk mengunjungi parit satu sama lain karena itu akan mengungkapkan jumlah senapan mesin dan informasi rahasia lainnya,” dikutip dari news.com.au pada 24 Desember 2014.
Hasil Cek Fakta
Kabar tersebut dibenarkan oleh banyaknya surat yang dikirimkan oleh tentara pada keluarganya di rumah. Beberapa pemberitaan menyebutkan para tentara juga bermain sepak bola. Namun fakta tentang pertandingan sepak bola masih banyak dipertanyakan oleh para sejarawan karena bukti sejarahnya yang masih samar.
Foto dalam postingan sebenarnya adalah tentara Inggris yang sedang bertugas di Yunani, diambil pada saat natal tahun 1915 oleh pemilik foto bernama “Vages, Ariel” dan bukan menggambarkan tentara Inggris dan Jerman pada 1914.
“Perwira dan orang-orang dari Kereta Amunisi Divisi 26 (Angkatan Darat Service Corps) bermain sepak bola di Salonika, Yunani” tulis situs iwm.org.uk.
Dari hasil penelusuran, tidak ditemukan foto yang menunjukan tentara Jerman dan Inggris melakukan pertandingan sepak bola pada malam natal 1914. Sehingga status tersebut masuk kategori Konten yang Salah.
Foto dalam postingan sebenarnya adalah tentara Inggris yang sedang bertugas di Yunani, diambil pada saat natal tahun 1915 oleh pemilik foto bernama “Vages, Ariel” dan bukan menggambarkan tentara Inggris dan Jerman pada 1914.
“Perwira dan orang-orang dari Kereta Amunisi Divisi 26 (Angkatan Darat Service Corps) bermain sepak bola di Salonika, Yunani” tulis situs iwm.org.uk.
Dari hasil penelusuran, tidak ditemukan foto yang menunjukan tentara Jerman dan Inggris melakukan pertandingan sepak bola pada malam natal 1914. Sehingga status tersebut masuk kategori Konten yang Salah.
Rujukan
- https://www.iwm.org.uk/collections/item/object/205195297
- https://hoaxoffame.tumblr.com/post/101807820964/fake-no-when-christmas-1915-where
- https://hoaxeye.com/2016/12/26/wwi-christmas-truce/
- https://www.iwm.org.uk/history/the-real-story-of-the-christmas-truce
- https://www.news.com.au/national/the-wwi-christmas-truce-what-really-happened/news-story/dcce417d43e678f624a1d81a212e12e5
- https://historia.id/politik/articles/gencatan-senjata-natal-PGVov/page/1
(GFD-2020-5905) [SALAH] “Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menyatakan penembakan 6 laskar FPI tidak melanggar HAM”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 26/12/2020
Berita
Akun Rizqi Saputra (fb.com/rizqi.saputra.7712826) mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:
“damai Indonesia ku”
Di gambar tersebut, terdapat foto Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara dan narasi “SESUAI PROSEDUR “PENEMBAKAN 6 LASKAR FPI TIDAK MELANGGAR HAM”
“damai Indonesia ku”
Di gambar tersebut, terdapat foto Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara dan narasi “SESUAI PROSEDUR “PENEMBAKAN 6 LASKAR FPI TIDAK MELANGGAR HAM”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya pernyataan Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara bahwa penembakan 6 laskar FPI tidak melanggar HAM adalah klaim yang salah.
Faktanya, melalui akun Twitternya, Beka Ulung Hapsara mengatakan informasi tersebut tidak benar. Dia tidak pernah mengeluarkan statement atau kesimpulan seperti di klaim tersebut.
“Klarifikasi. Saya tidak pernah mengeluarkan statemen/kesimpulan seperti di bawah. Sampai saat ini tim @KomnasHAM masih pada tahap mengumpulkan fakta peristiwa dan keterangan para pihak. Kesimpulan dan rekomendasi baru akan disampaikan ketika semua lengkap dan dianalisa” tulis Beka, Rabu 23 Desember 2020.
Klarifikasi Beka ini juga dire-tweet oleh akun Twitter terverifikasi milik Komnas HAM.
Dikutip dari Kumparan, Komnas HAM memang telah membentuk tim pemantauan dalam menyelidiki insiden baku tembak antara pengawal Habib Rizieq dengan aparat kepolisian yang terjadi pada Senin (7/12/2020) dini hari. Tim itu saat ini sudah bekerja dengan mendalami informasi dari sejumlah pihak terkait penembakan itu.
Faktanya, melalui akun Twitternya, Beka Ulung Hapsara mengatakan informasi tersebut tidak benar. Dia tidak pernah mengeluarkan statement atau kesimpulan seperti di klaim tersebut.
“Klarifikasi. Saya tidak pernah mengeluarkan statemen/kesimpulan seperti di bawah. Sampai saat ini tim @KomnasHAM masih pada tahap mengumpulkan fakta peristiwa dan keterangan para pihak. Kesimpulan dan rekomendasi baru akan disampaikan ketika semua lengkap dan dianalisa” tulis Beka, Rabu 23 Desember 2020.
Klarifikasi Beka ini juga dire-tweet oleh akun Twitter terverifikasi milik Komnas HAM.
Dikutip dari Kumparan, Komnas HAM memang telah membentuk tim pemantauan dalam menyelidiki insiden baku tembak antara pengawal Habib Rizieq dengan aparat kepolisian yang terjadi pada Senin (7/12/2020) dini hari. Tim itu saat ini sudah bekerja dengan mendalami informasi dari sejumlah pihak terkait penembakan itu.
Rujukan
Halaman: 7079/8117



