“Demo di DPRD Pekanbaru..
Mahasiswa riau sudah meninggal 1 karna kebijakan yg mementingkan cukong…
Rezim Jokowi Haus Darah…”
(GFD-2020-5286) [SALAH] Mahasiswa Meninggal saat Demo di DPRD Pekanbaru
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/10/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar postingan dari akun Facebook Tauhid berupa sebuah tangkapan layar dengan keterangan seorang mahasiswa meninggal saat demo di DPRD Pekanbaru. Postingan ini disukai sebanyak 94 kali dan disebarkan kembali sebanyak 198 kali.
Menurut artikel berita liputan6.com, pada artikel tersebut menjelaskan kronologi dari tersebarnya hoaks tersebut. Berita mahasiswa yang diketahui bernama Dody Wahyudi sempat viral karena adanya video yang menayangkan wajahnya yang berdarah setelah mengikuti demo Omnibus Law kemudian ia digotong bersama beberapa mahasiswa lainnya. Pembuat hoaks tersebut menyebarkan berita di media sosial yang menyatakan bahwa Dody telah meninggal pada malam hari sedangkan Dody masih menjalani perawatan di RS Awal Bross Panam, Kota Pekanbaru.
Kondisi Dody yang mulai membaik setelah 5 hari rawat inap dan pada 12 Oktober 2020 lalu mendapat kunjungan oleh Kabid Humas Polda Riau Komisaris Besar Sunarto, Kabid Dokkes Komisaris Besar Priyo Kuncoro, Kapolresta Pekanbaru Komisaris Besar Nandang Mu’min Wijaya dan pejabat Polda Riau lainnya. Humas Awal Bross Pekanbaru dr Rumatha Sihaloho menjelaskan bahwa Dody masih menjalani pemulihan dan ditangani oleh dokter spesialis mata dan THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan).
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim mahasiswa di Riau meninggal saat demo Omnibus Law di DPRD Pekanbaru adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Menurut artikel berita liputan6.com, pada artikel tersebut menjelaskan kronologi dari tersebarnya hoaks tersebut. Berita mahasiswa yang diketahui bernama Dody Wahyudi sempat viral karena adanya video yang menayangkan wajahnya yang berdarah setelah mengikuti demo Omnibus Law kemudian ia digotong bersama beberapa mahasiswa lainnya. Pembuat hoaks tersebut menyebarkan berita di media sosial yang menyatakan bahwa Dody telah meninggal pada malam hari sedangkan Dody masih menjalani perawatan di RS Awal Bross Panam, Kota Pekanbaru.
Kondisi Dody yang mulai membaik setelah 5 hari rawat inap dan pada 12 Oktober 2020 lalu mendapat kunjungan oleh Kabid Humas Polda Riau Komisaris Besar Sunarto, Kabid Dokkes Komisaris Besar Priyo Kuncoro, Kapolresta Pekanbaru Komisaris Besar Nandang Mu’min Wijaya dan pejabat Polda Riau lainnya. Humas Awal Bross Pekanbaru dr Rumatha Sihaloho menjelaskan bahwa Dody masih menjalani pemulihan dan ditangani oleh dokter spesialis mata dan THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan).
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim mahasiswa di Riau meninggal saat demo Omnibus Law di DPRD Pekanbaru adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Klaim tersebut tidak benar. Kondisi mahasiswa tersebut saat ini sudah membaik, dan tengah menjalani masa pemulihan di RS Awal Bross Panam, Kota Pekanbaru.
Klaim tersebut tidak benar. Kondisi mahasiswa tersebut saat ini sudah membaik, dan tengah menjalani masa pemulihan di RS Awal Bross Panam, Kota Pekanbaru.
Rujukan
(GFD-2020-5287) [SALAH] “Hadapi Ancaman STM, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/10/2020
Berita
“Cemen banget sih, masak menghadapi anak-anak STM sampe2 Densus 88 ikut turun dan mengangkat senjata?
Apa karena takut dilempari anak-anak STM pake Tai Sapi lagi?
#HilangnyaAkalSehat”
Pada gambar:
“Hadapi Ancaman STM, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan”
======
Apa karena takut dilempari anak-anak STM pake Tai Sapi lagi?
#HilangnyaAkalSehat”
Pada gambar:
“Hadapi Ancaman STM, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan”
======
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Ayu Septia Ningsih mengunggah tangkapan layar sebuah berita milik rmol.id dengan judul “Hadapi Ancaman STM, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan” pada Jumat (16/10).
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa tangkapan layar tersebut adalah hasil suntingan, pada laman resmi milik rmol.id, berita tersebut berjudul “Hadapi Ancaman CBRN, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan” yang tayang pada 15 Oktober 2020 versi mobile.
Berdasarkan hasil penelusuran, konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau konten yang dimanipulasi.
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa tangkapan layar tersebut adalah hasil suntingan, pada laman resmi milik rmol.id, berita tersebut berjudul “Hadapi Ancaman CBRN, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan” yang tayang pada 15 Oktober 2020 versi mobile.
Berdasarkan hasil penelusuran, konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau konten yang dimanipulasi.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Rizky Maulana (Universitas Bina Sarana Informatika).
Tangkapan layar tersebut merupakan hasil suntingan berita milik rmol.id yang berjudul “Hadapi Ancaman CBRN, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan” yang tayang pada 15 Oktober 2020 versi mobile.
Tangkapan layar tersebut merupakan hasil suntingan berita milik rmol.id yang berjudul “Hadapi Ancaman CBRN, Pakar Intelejen: Densus 88 Harus Segera Tingkatkan Kemampuan Dan Persenjataan” yang tayang pada 15 Oktober 2020 versi mobile.
Rujukan
(GFD-2020-5288) [SALAH] “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden Tapi Takut Tarung di 2024 Maunya Main Serobot”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/10/2020
Berita
“Huhaaasaa god job pk luhut…. 👍👍👍👍”
Narasi dalam gambar:
“Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden Tapi Takut Tarung di 2024 Maunya Main Serobot”
Narasi dalam gambar:
“Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden Tapi Takut Tarung di 2024 Maunya Main Serobot”
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Bunda Villie mengunggah gambar dengan judul “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden Tapi Takut Tarung di 2024 Maunya Main Serobot” di grup Denny Siregar Fans pada tanggal 10 Oktober 2020.
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa gambar tersebut merupakan hasil suntingan/editan dari salah satu artikel galamedia.pikiran-rakyat.com yang berjudul “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden” yang tayang pada Sabtu, 10 Oktober 2020.
Dengan demikian, gambar tersebut termasuk dalam konten yang dimanipulasi, karena telah dilakukan penyuntingan di bagian judul artikel.
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa gambar tersebut merupakan hasil suntingan/editan dari salah satu artikel galamedia.pikiran-rakyat.com yang berjudul “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden” yang tayang pada Sabtu, 10 Oktober 2020.
Dengan demikian, gambar tersebut termasuk dalam konten yang dimanipulasi, karena telah dilakukan penyuntingan di bagian judul artikel.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta).
Gambar tersebut merupakan hasil suntingan/editan dari salah satu artikel galamedia.pikiran-rakyat.com yang berjudul “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden” yang tayang pada Sabtu, 10 Oktober 2020.
Gambar tersebut merupakan hasil suntingan/editan dari salah satu artikel galamedia.pikiran-rakyat.com yang berjudul “Marak Demo Penolakan UU Ciptaker, Luhut: Ada yang Mau Jadi Presiden” yang tayang pada Sabtu, 10 Oktober 2020.
Rujukan
(GFD-2020-5289) [SALAH] Sampul Koran Tempo “Kalau Pemerintah bilang mirip RAMBO Ya mirip RAMBO”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/10/2020
Berita
“Kalau Pemerintah bilang mirip RAMBO Ya mirip RAMBO”
Hasil Cek Fakta
Melalui media sosial Facebook, akun Dian Kurnia membagikan tangkapan layar sampul Koran Tempo berisikan foto Presiden Joko Widodo dengan judul sampul “Kalau Pemerintah bilang mirip RAMBO Ya mirip RAMBO” pada 16 Oktober 2020. Unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 17 kali dan disukai oleh 688 pengguna Facebook lainnya.
Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa sampul Koran Tempo yang diunggah oleh akun Dian Kurnia merupakan hasil manipulasi atau suntingan. Melansir dari Twitter resmi @korantempo, judul asli dari sampul tersebut adalah “Belanja Vaksin, Siapkan Penyuntikan” yang terbit pada 1 Oktober 2020.
Berdasar pada seluruh referensi, unggahan Dian Kurnia tidak sesuai dengan fakta dan masuk ke dalam kategori manipulated content atau konten yang dimanipulasi.
Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa sampul Koran Tempo yang diunggah oleh akun Dian Kurnia merupakan hasil manipulasi atau suntingan. Melansir dari Twitter resmi @korantempo, judul asli dari sampul tersebut adalah “Belanja Vaksin, Siapkan Penyuntikan” yang terbit pada 1 Oktober 2020.
Berdasar pada seluruh referensi, unggahan Dian Kurnia tidak sesuai dengan fakta dan masuk ke dalam kategori manipulated content atau konten yang dimanipulasi.
Kesimpulan
Konten manipulasi. Judul tersebut sudah melalui proses manipulasi atau sunting, dari judul asli sampul Koran Tempo berjudul “Belanja Vaksin, Siapkan Penyuntikan” yang terbit pada 1 Oktober 2020.
Rujukan
- https://twitter.com/korantempo/status/1311498459401252864/photo/1?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1311498459401252864%7Ctwgr%5Eshare_3%2Ccontainerclick_0&ref_url=
- https%3A%2F%2Fturnbackhoax.id%2F2020%2F10%2F17%2Fsalah-sampul-koran-tempo-kalau-pemerintah-bilang-mirip-rambo-ya-mirip-rambo%2F
Halaman: 7061/7923



