(GFD-2020-8348) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Klaim-klaim soal Covid-19 oleh Aliansi Dokter Dunia di Video Ini?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 27/10/2020
Berita
Video yang berisi klaim-klaim seputar Covid-19 yang dilontarkan oleh sekumpulan dokter yang menamakan diri sebagai World Doctors Alliance atau Aliansi Dokter Dunia viral. Menurut para dokter yang berbasis di Eropa itu, Covid-19 adalah flu biasa. Mereka juga mengklaim tidak ada pandemi Covid-19.
Dalam video berdurasi sekitar 9 menit tersebut, salah satu dokter menyatakan bahwa tes polymerase chain reaction (PCR) memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus Covid-19. Ada pula dokter yang mengatakan bahwa penderita Covid-19 bisa dirawat dengan steroid, hydroxychloroquine, dan zinc.
Di Instagram, video itu dibagikan salah satunya oleh akun @pongrekundharma88, tepatnya pada 25 Oktober 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah ditonton lebih dari 16 ribu kali. Selain di Instagram, video ini juga banyak dibagikan di Facebook serta YouTube.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @pongrekundharma88 yang berisi video dari Aliansi Dokter Dunia.
Bagaimana kebenaran klaim-klaim terkait Covid-19 oleh Aliansi Dokter Dunia dalam video tersebut?
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari organisasi cek fakta Amerika Serikat FactCheck, Aliansi Dokter Dunia baru dibentuk pada 10 Oktober 2020. Video asli yang berisi klaim-klaim terkait Covid-19 di atas, sekaligus pembentukan aliansi ini, berdurasi sekitar 18 menit. Video itu sempat diunggah di YouTube. Namun, YouTube telah menghapus video itu karena melanggar aturan platform.
Dikutip dari Detik.com, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menyebut Aliansi Dokter Dunia itu sebagai organisasi jadi-jadian. Sebagai orang yang telah lama malang-melintang di berbagai organisasi kedokteran, ia tidak pernah mengenal organisasi tersebut. "Kalau di dunia itu kan ada misalnya, di bidang penyakit dalam, International Society of Internal Medicine. Kemudian, World Medical Association," katanya.
Ari menyatakan tidak pernah mengetahui para dokter dalam Aliansi Dokter Dunia tersebut tergabung dalam organisasi kedokteran, baik organisasi dokter dunia maupun organisasi dokter penyakit dalam dunia. Selain itu, Ari menegaskan bahwa klaim-klaim yang disampaikan Aliansi Dokter Dunia dalam video yang viral itu tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Untuk memeriksa klaim yang dilontarkan oleh Aliansi Dokter Dunia tersebut, Tim CekFakta Tempo mengutip sejumlah pemberitaan dan hasil pemeriksaan fakta oleh berbagai organisasi cek fakta.
Klaim 1: Tidak ada pandemi Covid-19
Fakta:
Menurut arsip artikel cek fakta Tempo pada 18 Juni 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Penetapan ini didasarkan pada hasil penilaian WHO terhadap tingkat sebaran dan jumlah korban yang kian meningkat sejak kasus pertama diumumkan di Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Saat itu, menurut WHO, terdapat lebih dari 118.000 kasus Covid-19 di 114 negara, dan 4.291 orang di antaranya meninggal.
Secara teori, Covid-19 pun telah memenuhi kriteria sebagai pandemi. Pandemi merujuk pada penyakit yang menyebar ke banyak orang di beberapa negara dalam waktu yang bersamaan. Kasus Covid-19 meningkat secara signifikan secara global. Ciri-ciri pandemi adalah sebagai berikut: merupakan jenis virus baru, dapat menginfeksi banyak orang dengan mudah, dan bisa menyebar antar manusia secara efisien. Covid-19 memiliki tiga karakteristik tersebut.
Sebelum menaikkan status Covid-19 ke pandemi, WHO juga terlebih dulu menetapkan Covid-19 sebagai wabah penyakit pada 5 Januari 2020. Kemudian, pada 30 Januari 2020, WHO memperingatkan bahwa Covid-19 mengancam secara global menyusul laporan bahwa telah ada 7.818 kasus Covid-19, baik di Cina maupun di 18 negara lainnya. Pada 31 Januari 2020, WHO mengumumkan penyebaran Covid-19 sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC).
Klaim 2: Tes PCR memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus Covid-19
Fakta:
Positif palsu terjadi ketika seseorang tidak terinfeksi Covid-19, namun dinyatakan positif. Dilansir dari FactCheck, hingga kini, angka positif palsu tes PCR Covid-19 masih diteliti lebih lanjut. Namun, studi pendahuluan menunjukkan bahwa angka positif palsu tes ini jauh lebih kecil ketimbang klaim di atas.
Menurut sebuah studi yang terbit baru-baru ini di The Lancet Resporatory Medicine, di Inggris, angka positif palsu berada di kisaran 0,8-4 persen. Sementara angka negatif palsu, ketika seseorang terinfeksi Covid-19 tapi dinyatakan negatif, mencapai 33 persen.
Dikutip dari Associated Press (AP), Michael Joseph Mina, dokter dan profesor epidemiologi di sekolah kesehatan masyarakat Harvard, mengatakan tidak benar bahwa sebagian besar tes PCR Covid-19 memberikan hasil positif palsu dan tidak menguji virus Corona penyebab Covid-19.
“Banyak yang terlambat positif, yang berarti RNA masih ada tapi virus yang hidup telah hilang,” kata Mina. “Jadi, orang-orang ini kemungkinan sudah tidak menularkan lagi, tapi hasilnya akurat, PCR dapat mendeteksi RNA SARS-CoV-2 (virus Corona baru penyebab Covid)," ujarnya.
Klaim 3: Covid-19 adalah flu biasa
Fakta:
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS ( CDC ) menyatakan flu dan Covid-19 merupakan penyakit pernapasan yang menular, tapi disebabkan oleh virus yang berbeda. Covid-19 disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2 dan flu disebabkan oleh infeksi virus influenza. Selain itu, sejauh ini, Covid-19 menyebar lebih mudah daripada flu dan menyebabkan penyakit yang lebih serius pada beberapa orang.
Covid-19 juga bisa membutuhkan waktu yang lebih lama sebelum orang yang terinfeksi menunjukkan gejala. Menurut CDC, meskipun sebagian besar penderita Covid-19 memiliki gejala ringan, tapi penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi yang parah bahkan kematian. Perbedaan penting lainnya, terdapat vaksin untuk melindungi diri dari flu. Sementara untuk Covid-19, saat ini, belum ada vaksinnya.
Menurut arsip artikel cek fakta Tempo pada 21 Oktober 2020, berdasarkan data WHO, tingkat kematian Covid-19 lebih tinggi daripada flu, meskipun tingkat kematian Covid-19 yang sebenarnya masih perlu diikuti lebih jauh. Hingga kini, data WHO menunjukkan rasio kematian kasar (jumlah kematian yang dilaporkan dibanding kasus yang dilaporkan) adalah sekitar 3-4 persen. Sedangkan flu musiman, angka kematiannya di bawah 0,1 persen.
Laporan John Hopkins University menyebut kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia mencapai 1.118.635 orang. Sementara di Amerika Serikat, sebanyak 220.133 orang telah meninggal karena Covid-19 sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2020. Sedangkan kematian karena flu di seluruh dunia, menurut WHO, diperkirakan sekitar 290 ribu-650 ribu orang setiap tahun.
Klaim 4: Virus Corona penyebab Covid-19 adalah virus musiman, yang menyebabkan penyakit pada Desember-April. Bagi orang yang memiliki gejala tersebut, terdapat perawatan seperti menghirup steroid, hydroxychloroquine, dan zinc.
Fakta:
Dilansir dari Live Science, Covid-19 bisa menjadi penyakit musiman seperti flu, tapi ketika populasi telah mencapai herd immunity, yang berarti sudah cukup banyak orang yang kebal untuh mencegah penyebaran virus secara konstan. Hingga saat itu tiba, menurut sebuah studi di jurnal Frontiers in Public Health pada 15 September 2020, Covid-19 kemungkinan menyebar sepanjang tahun.
"Covid-19 akan bertahan dan akan terus menyebabkan wabah sepanjang tahun sampai herd immunity tercapai," kata penulis senior studi tersebut, Hassan Zaraket, yang juga merupakan asisten profesor virolofi di American University of Beiru, Lebanon. Karena itu, masyarakat harus terus mempraktikkan tindakan pencegahan terbaik, termasuk memakai masker dan menjaga jarak fisik.
Dikutip dari The Jakarta Post,
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim-klaim terkait Covid-19 oleh Aliansi Dokter Dunia dalam video di atas keliru. Empat klaim, mulai dari "tidak ada pandemi Covid-19", "tes PCR memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus Covid-19", "Covid-19 adalah flu biasa", hingga "virus Corona penyebab Covid-19 adalah virus musiman dan bisa dirawat dengan steroid, hydroxychloroquine, serta zinc", tidak akurat.
SITI AISAH | ANGELINA ANJAR SAWITRI
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://archive.ph/EI4NC
- https://www.factcheck.org/2020/10/doctors-in-video-falsely-equate-covid-19-with-a-normal-flu-virus/
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5230174/samakan-covid-19-dengan-flu-biasa-siapakah-aliansi-dokter-dunia
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/838/fakta-atau-hoaks-benarkah-who-tetapkan-covid-19-sebagai-pandemi-sehari-setelah-terima-sumbangan-bill-gates
- https://www.who.int/director-general/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---11-march-2020
- https://www.factcheck.org/2020/10/doctors-in-video-falsely-equate-covid-19-with-a-normal-flu-virus/
- https://apnews.com/article/fact-checking-afs:Content:9573357676
- https://www.tempo.co/tag/corona
- https://www.cdc.gov/flu/symptoms/flu-vs-covid19.htm
- https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/cdcresponse/about-COVID-19.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1066/fakta-atau-hoaks-benarkah-who-sebut-covid-19-tak-lebih-berbahaya-dari-flu
- https://www.livescience.com/covid-19-seasonal-virus.html
- https://www.thejakartapost.com/news/2020/07/28/no-indication-new-coronavirus-is-seasonal-who.html
- https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/03/170100523/who-rekomendasikan-obat-steroid-untuk-pengobatan-pasien-covid-19-kritis?page=all
- https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-hydroxychloroquine
- https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3645115/tingkatkan-imun-zinc-bermanfaat-bagi-pasien-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/pcr
(GFD-2020-5367) [SALAH] “Ternyata Zombie adalah Pahlawan Islam”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/10/2020
Berita
Akun Ummu Ami (fb.com/100008886815536) mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:
“Selama ini kita telah dikelabui”
Di gambar yang diunggah, terdapat foto zombie yang biasa terlihat di film-film. Ada pula foto patung dengan nama Zumbi dos Palmares, yang di bawahnya terdapat teks “O Lider Negro de Todas as Racas”, Juga terdapat narasi “Ternyata Zombie adalah Pahlawan Islam. Sejarah mencatat, Zombie adalah pahlawan Islam dari Brazil. Pada tahun 1643, dengan gagah berani ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil. Zombie bersama ulama dan rakyatnya berjihad melawan penjajah Portugis. Namun, kini oleh propaganda Barat, namanya dijadikan sebagai mahluk pembunuh,”
“Selama ini kita telah dikelabui”
Di gambar yang diunggah, terdapat foto zombie yang biasa terlihat di film-film. Ada pula foto patung dengan nama Zumbi dos Palmares, yang di bawahnya terdapat teks “O Lider Negro de Todas as Racas”, Juga terdapat narasi “Ternyata Zombie adalah Pahlawan Islam. Sejarah mencatat, Zombie adalah pahlawan Islam dari Brazil. Pada tahun 1643, dengan gagah berani ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil. Zombie bersama ulama dan rakyatnya berjihad melawan penjajah Portugis. Namun, kini oleh propaganda Barat, namanya dijadikan sebagai mahluk pembunuh,”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Cek Fakta Tempo, klaim bahwa Zombie ternyata adalah pahlawan Islam adalah klaim yang salah.
Faktanya, tidak ada bukti yang menyebut nama Zumbi berasal dari kata “zombie”, termasuk bahwa Zumbi seorang muslim. Kisah Zumbi tidak terkait dengan zombie maupun Islam. Ia juga lahir pada 1655, bertolak belakang dengan klaim “pada tahun 1643, dengan gagah berani, ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brasil”.
Dikutip dari BBC Indonesia, terdapat spekulasi bahwa kata “zombie” berasal dari bahasa-bahasa Afrika Barat, yakni “ndzumbi” yang berarti mayat dalam bahasa Mitsogo di Gabon dan “nzambi” yang berarti jiwa dari orang yang telah meninggal dalam bahasa Kongo. Wilayah-wilayah ini adalah asal para budak di Eropa yang dipaksa pindah ke Hindia Barat untuk bekerja di perkebunan tebu.
Orang-orang Afrika tersebut membawa kepercayaannya. Di sisi lain, hukum Prancis ketika itu mengharuskan budak-budak berpindah kepercayaan menjadi Katolik. Akhirnya, muncul serangkaian kepercayaan yang mencampurkan unsur tradisi yang berbeda, seperti Voodoo di Haiti, Obeah di Jamaika, dan Santeria di Kuba.
Dilansir dari History.com, cerita rakyat tentang zombie telah ada selama berabad-abad di Haiti, kemungkinan berasal dari abad ke-17 ketika budak Afrika Barat dibawa ke Haiti untuk bekerja di perkebunan tebu. Banyak pengikut Voodoo percaya bahwa zombie adalah mitos. Namun, beberapa orang meyakini bahwa zombie adalah orang yang dihidupkan kembali oleh praktisi Voodoo atau bokor.
Bokor memiliki tradisi menggunakan tumbuhan, kerang, ikan, tulang, dan benda lain untuk membuat ramuan, termasuk “bubuk zombi”. Bubuk ini mengandung tetrodotoxin, racun saraf mematikan yang ditemukan pada ikan buntal dan beberapa spesies laut lainnya. Kombinasi tetrodotoxin dapat menyebabkan gejala mirip zombie, seperti kesulitan berjalan, kebingungan mental, dan masalah pernapasan.
Menurut laporan berjudul “The Undead Eighteenth Century” karya Linda Troost, zombie muncul dalam literatur setidaknya sejak 1697 dan digambarkan sebagai roh atau hantu, bukan makhluk kanibal. Kisah zombie pun mulai difilmkan pada 1932, yakni dalam “White Zombie”, yang juga memunculkan Frankenstein serta drakula.
Terkait Zumbi dos Palmares
Dilansir dari situs milik organisasi masyarakat sipil Brasil, Geledes, terdapat sebuah komunitas yang dibentuk oleh para budak berkulit hitam yang melarikan diri dari pertanian, penjara, serta kamp budak di Brasil. Komunitas itu bernama Quilombo dos Palmares yang terletak di Alagoas.
Zumbi lahir di tengah komunitas ini pada 1655. Ketika berusia sekitar 6 tahun, ia ditangkap dan diserahkan kepada seorang misionaris Portugis. Diberi nama baptis ‘Francisco’, Zumbi menerima sakramen, belajar bahasa Portugis dan Latin, serta membantu perayaan misa. Zumbi melarikan diri pada 1670, ketika ia berusia 15 tahun, dan kembali ke tempat asalnya di Palmares. Zumbi pun populer karena keahlian dan kecerdikannya dalam pertarungan. Di awal 20-an, dia sudah menjadi ahli strategi militer yang terhormat.
Sekitar 1678, seorang gubernur di Pernambuco, Brasil, yang lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Quilombo, mendekati pemimpin Palmares, Ganga Zumba, dengan tawaran perdamaian. Dia juga menawarkan kebebasan kepada semua budak yang kabur jika Quilombo diserahkan kepada otoritas Kerajaan Portugis.
Zumba menerima proposal itu, namun Zumbi menolaknya dan menentang kepemimpinan Zumba. Menjanjikan akan melanjutkan perlawanan terhadap penindasan Portugis, Zumbi menjadi pemimpin baru Quilombo dos Palmares. Namun, 15 tahun kemudian, penjelajah Sao Paulo, Domingos Jorge Velho, diutus untuk menginvasi Quilombo.
Pada 6 Februari 1694, ibukota Palmeras dihancurkan dan Zumbi terluka. Meskipun selamat, dia dikhianati oleh rekan-rekannya. Pada 20 November 1695, Zumbi dibunuh oleh 20 prajurit. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke gubernur, kemudian diekspos di depan warga untuk menyangkal kepercayaan tentang keabadian Zumbi.
Dikutip dari Face2Face Africa, sejak 1960-an, tanggal 20 November dirayakan di Brasil sebagai Hari Kesadaran Kulit Hitam (“Dia da Consciência Negra” dalam bahasa Portugis). Hal ini dimaksudkan untuk menghormati pemimpin perlawanan Afro-Brasil, Zumbi dos Palmares. Zumbi merupakan pemimpin komunitas Quilombo dos Palmares. Quilombo didirikan oleh orang-orang Afrika-Brasil pada akhir abad ke-16 sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan dan perbudakan Eropa. Selama hampir seabad, orang kulit hitam di Quilombo berperang melawan mereka yang memperbudak mereka, terutama orang Portugis yang berusaha menjajah Brasil.
Faktanya, tidak ada bukti yang menyebut nama Zumbi berasal dari kata “zombie”, termasuk bahwa Zumbi seorang muslim. Kisah Zumbi tidak terkait dengan zombie maupun Islam. Ia juga lahir pada 1655, bertolak belakang dengan klaim “pada tahun 1643, dengan gagah berani, ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brasil”.
Dikutip dari BBC Indonesia, terdapat spekulasi bahwa kata “zombie” berasal dari bahasa-bahasa Afrika Barat, yakni “ndzumbi” yang berarti mayat dalam bahasa Mitsogo di Gabon dan “nzambi” yang berarti jiwa dari orang yang telah meninggal dalam bahasa Kongo. Wilayah-wilayah ini adalah asal para budak di Eropa yang dipaksa pindah ke Hindia Barat untuk bekerja di perkebunan tebu.
Orang-orang Afrika tersebut membawa kepercayaannya. Di sisi lain, hukum Prancis ketika itu mengharuskan budak-budak berpindah kepercayaan menjadi Katolik. Akhirnya, muncul serangkaian kepercayaan yang mencampurkan unsur tradisi yang berbeda, seperti Voodoo di Haiti, Obeah di Jamaika, dan Santeria di Kuba.
Dilansir dari History.com, cerita rakyat tentang zombie telah ada selama berabad-abad di Haiti, kemungkinan berasal dari abad ke-17 ketika budak Afrika Barat dibawa ke Haiti untuk bekerja di perkebunan tebu. Banyak pengikut Voodoo percaya bahwa zombie adalah mitos. Namun, beberapa orang meyakini bahwa zombie adalah orang yang dihidupkan kembali oleh praktisi Voodoo atau bokor.
Bokor memiliki tradisi menggunakan tumbuhan, kerang, ikan, tulang, dan benda lain untuk membuat ramuan, termasuk “bubuk zombi”. Bubuk ini mengandung tetrodotoxin, racun saraf mematikan yang ditemukan pada ikan buntal dan beberapa spesies laut lainnya. Kombinasi tetrodotoxin dapat menyebabkan gejala mirip zombie, seperti kesulitan berjalan, kebingungan mental, dan masalah pernapasan.
Menurut laporan berjudul “The Undead Eighteenth Century” karya Linda Troost, zombie muncul dalam literatur setidaknya sejak 1697 dan digambarkan sebagai roh atau hantu, bukan makhluk kanibal. Kisah zombie pun mulai difilmkan pada 1932, yakni dalam “White Zombie”, yang juga memunculkan Frankenstein serta drakula.
Terkait Zumbi dos Palmares
Dilansir dari situs milik organisasi masyarakat sipil Brasil, Geledes, terdapat sebuah komunitas yang dibentuk oleh para budak berkulit hitam yang melarikan diri dari pertanian, penjara, serta kamp budak di Brasil. Komunitas itu bernama Quilombo dos Palmares yang terletak di Alagoas.
Zumbi lahir di tengah komunitas ini pada 1655. Ketika berusia sekitar 6 tahun, ia ditangkap dan diserahkan kepada seorang misionaris Portugis. Diberi nama baptis ‘Francisco’, Zumbi menerima sakramen, belajar bahasa Portugis dan Latin, serta membantu perayaan misa. Zumbi melarikan diri pada 1670, ketika ia berusia 15 tahun, dan kembali ke tempat asalnya di Palmares. Zumbi pun populer karena keahlian dan kecerdikannya dalam pertarungan. Di awal 20-an, dia sudah menjadi ahli strategi militer yang terhormat.
Sekitar 1678, seorang gubernur di Pernambuco, Brasil, yang lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Quilombo, mendekati pemimpin Palmares, Ganga Zumba, dengan tawaran perdamaian. Dia juga menawarkan kebebasan kepada semua budak yang kabur jika Quilombo diserahkan kepada otoritas Kerajaan Portugis.
Zumba menerima proposal itu, namun Zumbi menolaknya dan menentang kepemimpinan Zumba. Menjanjikan akan melanjutkan perlawanan terhadap penindasan Portugis, Zumbi menjadi pemimpin baru Quilombo dos Palmares. Namun, 15 tahun kemudian, penjelajah Sao Paulo, Domingos Jorge Velho, diutus untuk menginvasi Quilombo.
Pada 6 Februari 1694, ibukota Palmeras dihancurkan dan Zumbi terluka. Meskipun selamat, dia dikhianati oleh rekan-rekannya. Pada 20 November 1695, Zumbi dibunuh oleh 20 prajurit. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke gubernur, kemudian diekspos di depan warga untuk menyangkal kepercayaan tentang keabadian Zumbi.
Dikutip dari Face2Face Africa, sejak 1960-an, tanggal 20 November dirayakan di Brasil sebagai Hari Kesadaran Kulit Hitam (“Dia da Consciência Negra” dalam bahasa Portugis). Hal ini dimaksudkan untuk menghormati pemimpin perlawanan Afro-Brasil, Zumbi dos Palmares. Zumbi merupakan pemimpin komunitas Quilombo dos Palmares. Quilombo didirikan oleh orang-orang Afrika-Brasil pada akhir abad ke-16 sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan dan perbudakan Eropa. Selama hampir seabad, orang kulit hitam di Quilombo berperang melawan mereka yang memperbudak mereka, terutama orang Portugis yang berusaha menjajah Brasil.
Kesimpulan
Tidak ada bukti yang menyebut nama Zumbi berasal dari kata “zombie”, termasuk bahwa Zumbi seorang muslim. Kisah Zumbi tidak terkait dengan zombie maupun Islam. Ia juga lahir pada 1655, bertolak belakang dengan klaim “pada tahun 1643, dengan gagah berani, ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brasil”.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1074/fakta-atau-hoaks-benarkah-zombie-adalah-nama-pahlawan-islam-dari-brasil
- https://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2015/09/150907_vert_cul_zombie
- https://www.history.com/topics/folklore/history-of-zombies
- https://www.geledes.org.br/zumbi-dos-palmares/
- https://face2faceafrica.com/article/zumbi-dos-palmares-brazils-greatest-warrior-figure-who-led-a-massive-slave-resistance-in-the-1600s
(GFD-2020-5368) [SALAH] Kawasan Johor Baru Malaysia Terdampak Ekonomi Pandemi Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/10/2020
Berita
“Kawasan Johor Baru Malaysia merupakan kawasan yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19. Ekonominya lesu dan banyak toko yang mau dijual.
Situasi di Indonesia masih lebih baik”
covid 19 malaysia
Covid 19 malaysia
Situasi di Indonesia masih lebih baik”
covid 19 malaysia
Covid 19 malaysia
Hasil Cek Fakta
Beredar pada grup MANUSIA MERDEKA video yang di posting oleh akun bernama Meita Glen yang mengklaim video tersebut adalah kawasan Johor Baru Malaysia yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19.
Setelah ditelusuri, klaim bahwa video tersebut merupakan kondisi kawasan Johor Baru adalah tidak benar. Faktanya, video penampakan pertokoan yang terdapat pada video bukanlah pertokoan di kawasan Johor Baru melainkan di Kota Kemuning, Selangor. Sementara toko-toko yang terlihat kosong tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan baru, yang memang kebanyakan belum pernah ditempati.
“Sinaria adalah pengembangan yang relatif baru yang selesai pada 2019, dan inilah Google Street View yang diambil pada Agustus 2019,” tulis Techarp.com.
Dengan demikian, klaim video bahwa kawasan Johor Baru Malaysia yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19 adalah tidak benar toko kosong itu berada di kota Kemuning, Selangor. Sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Setelah ditelusuri, klaim bahwa video tersebut merupakan kondisi kawasan Johor Baru adalah tidak benar. Faktanya, video penampakan pertokoan yang terdapat pada video bukanlah pertokoan di kawasan Johor Baru melainkan di Kota Kemuning, Selangor. Sementara toko-toko yang terlihat kosong tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan baru, yang memang kebanyakan belum pernah ditempati.
“Sinaria adalah pengembangan yang relatif baru yang selesai pada 2019, dan inilah Google Street View yang diambil pada Agustus 2019,” tulis Techarp.com.
Dengan demikian, klaim video bahwa kawasan Johor Baru Malaysia yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19 adalah tidak benar toko kosong itu berada di kota Kemuning, Selangor. Sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).
Klaim video bahwa kawasan Johor Baru Malaysia yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19 adalah tidak benar. Faktanya toko kosong dalam video tersebut berada di Kota Kemuning, Selangor.
Klaim video bahwa kawasan Johor Baru Malaysia yang terdampak ekonomi pandemi Covid-19 adalah tidak benar. Faktanya toko kosong dalam video tersebut berada di Kota Kemuning, Selangor.
Rujukan
(GFD-2020-5369) [SALAH] Dua Ekor Cacing Pra-Sejarah Berhasil Dihidupkan Kembali oleh Peneliti Asal Rusia
Sumber: twitter.comTanggal publish: 27/10/2020
Berita
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Sekelompok peneliti asal Rusia telah berhasil mencairkan beberapa cacing pra-sejarah yang terjebak di dalam es dan dua di antaranya berhasil hidup kembali. Setelah beberapa saat, dua ekor cacing pra-sejarah tersebut bergerak dan makan. Satu ekor cacing berusia 32,000 tahun dan satu ekor yang lain berusia 41,700 tahun.”
“Sekelompok peneliti asal Rusia telah berhasil mencairkan beberapa cacing pra-sejarah yang terjebak di dalam es dan dua di antaranya berhasil hidup kembali. Setelah beberapa saat, dua ekor cacing pra-sejarah tersebut bergerak dan makan. Satu ekor cacing berusia 32,000 tahun dan satu ekor yang lain berusia 41,700 tahun.”
Hasil Cek Fakta
Pengguna Twitter StrangeFactoid mengunggah sebuah informasi (24/10) yang menyatakan bahwa dua ekor cacing pra-sejarah telah berhasil dihidupkan kembali oleh sekelompok peneliti asal Rusia. Dua ekor cacing tersebut masing-masing berusia 32,000 tahun dan 41,700 tahun.
Berdasarkan hasil penelusuran, dua ekor cacing pra-sejarah tersebut tidak dihidupkan kembali, melainkan sel-sel dari cacing pra-sejarah tersebut digabungkan dengan sel udang masa kini. Proses penggabungan tersebut kemudian menyebabkan sel dari cacing pra-sejarah kembali aktif. Melansir dari The Siberian Times, proses penggabungan sel tersebut merupakan bagian dari kerjasama riset dengan Universitas Princeton, Amerika Serikat, guna menciptakan sel yang mampu beradaptasi dengan kondisi hidup yang ekstrem.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Twitter StrangeFactoid tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Berdasarkan hasil penelusuran, dua ekor cacing pra-sejarah tersebut tidak dihidupkan kembali, melainkan sel-sel dari cacing pra-sejarah tersebut digabungkan dengan sel udang masa kini. Proses penggabungan tersebut kemudian menyebabkan sel dari cacing pra-sejarah kembali aktif. Melansir dari The Siberian Times, proses penggabungan sel tersebut merupakan bagian dari kerjasama riset dengan Universitas Princeton, Amerika Serikat, guna menciptakan sel yang mampu beradaptasi dengan kondisi hidup yang ekstrem.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Twitter StrangeFactoid tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Informasi yang salah. Faktanya, dua ekor cacing pra-sejarah tidak berhasil dihidupkan kembali, melainkan sel-sel dari cacing pra-sejarah tersebut digabungkan dengan sel udang masa kini dalam rangka riset sel induk guna menciptakan sel yang mampu beradaptasi dengan kondisi hidup yang ekstrem.
Informasi yang salah. Faktanya, dua ekor cacing pra-sejarah tidak berhasil dihidupkan kembali, melainkan sel-sel dari cacing pra-sejarah tersebut digabungkan dengan sel udang masa kini dalam rangka riset sel induk guna menciptakan sel yang mampu beradaptasi dengan kondisi hidup yang ekstrem.
Rujukan
Halaman: 7034/7923



