• (GFD-2021-8503) Keliru, Klaim Pandemi Flu Spanyol Disebabkan Pneumonia Bakteri yang Berasal dari Masker

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 18/02/2021

    Berita


    Sebuah tulisan panjang terkait pandemi flu Spanyol dan pemakaian masker beredar di Facebook. Tulisan itu mengklaim panemi flu Spanyol bukan disebabkan oleh virus, melainkan oleh bakteri yang memicu  pneumonia. Tulisan ini juga menyebut penggunaan masker yang berkepanjangan akan menimbulkan gejala keracunan CO2.
    Menurut tulisan tersebut, pemakaian masker membuat tubuh kekurangan oksigen. "Efek lainnya selain sistem imun menjadi lemah, sel-sel tubuh yang kurang oksigen akan terjadi kelainan pertumbuhan karena lingkungan kimiawi biologis yang tidak sehat sehingga tumbuh menjadi tumor, kanker dst," demikian narasi dalam tulisan itu.
    Tulisan tersebut diunggah oleh akun ini pada 1 Februari 2021. Akun itu melengkapi tulisan tersebut dengan gambar yang memuat teks "I see brainwashed people, they don't know they're brainwashed". Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun itu telah mendapatkan 67 reaksi dan 15 komentar serta dibagikan 11 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait flu Spanyol dan pemakaian masker.

    Hasil Cek Fakta


    Klaim: Pandemi flu Spanyol bukan disebabkan oleh virus, tapi pneumonia bakteri yang berasal dari masker
    Fakta:
    Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ( CDC ), pandemi influenza 1918 atau yang kerap disebut pandemi flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Meskipun tidak ada konsensus universal mengenai dari mana virus itu berasal, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia selama 1918-1919.
    CDC menjelaskan, ketika pandemi flu Spanyol terjadi, memang banyak ahli kesehatan yang mengira penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang disebut "Pfeiffer's bacillus", yang sekarang dikenal sebagai Haemophilus influenzae. Namun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya tes diagnostik ketika itu yang bisa menguji infeksi influenza. Dokter tidak mengetahui adanya virus influenza.
    Dilansir dari AFP, sejarawan Universitas Sydney yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran dan teknologi, Peter Hobbins, mengatakan otopsi yang dilakukan pada pasien yang meninggal karena flu Spanyol menunjukkan penyebab utama kematian adalah terisinya paru-paru oleh cairan, baik karena penyakit atau respons imun tubuh yang terlalu aktif terhadap infeksi.
    Menurut Hobbins, penyebab sebenarnya pandemi flu Spanyol pada 1918 adalah strain baru virus Influenza A (H1N1). Dia menambahkan upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk membuat vaksin. Namun, ketika itu, tidak ditemukan secara jelas apa "agen penyebabnya, karena mikroskop yang digunakan tidak cukup bagus untuk melihat virus".
    Dikutip dari Reuters, pada Oktober 2020, beredar klaim palsu bahwa, selama pandemi flu Spanyol, orang meninggal akibat pneumonia bakteri dari masker. Klaim itu juga menyebut bahwa direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengetahui hal itu dan menuliskannya dalam sebuah penelitian pada 2008.
    Menurut Reuters, klaim tersebut keliru. Pada 2008, Fauci memang menerbitkan riset terkait pandemi flu Spanyol. Namun, pneumonia bakteri yang ia maksud dalam riset itu didahului oleh virus influenza. "Bukti yang kami teliti mendukung skenario di mana kerusakan akibat virus diikuti oleh pneumonia bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian." Penelitian ini pun tidak menyinggung soal masker.
    Klaim: Pemakaian masker membuat tubuh kekurangan oksigen yang akhirnya memicu kanker
    Fakta:
    Berdasarkan arsip berita Tempo, spesialis pengobatan kritis dari Hospital and Clinic University of Iowa, Gregory A. Schmidt, menuturkan bahwa menggunakan masker tidak akan mengganggu sirkulasi udara, baik kadar oksigen maupun kadar CO2, dalam tubuh.
    Schmidt membuktikannya dengan mengukur tingkat saturasi oksigen dan CO2 di dalam tubuh Danica, seorang terapis pernapasan, ketika memakai masker dengan pulse oxymeter. Sebagai informasi, tingkat normal saturasi oksigen dalam darah berada pada level 95-100 persen, sementara CO2 pada level 35-45 persen.
    Hasilnya, saat masker dan pelindung wajah (face shield) digunakan selama dua jam, tingkat saturasi oksigen Danica berada pada level 98 persen dan CO2 pada rentang 33-35 persen. Demikian pula ketika durasi pemakaian masker diperpanjang menjadi 4 jam, tingkat saturasi oksigen Danica mencapai 98 persen dan CO2 berada pada level 34 persen. Pada durasi penggunaan masker 6 jam, tingkat saturasi oksigen mencapai 99 persen dan CO2 sebesar 32 persen.
    Menurut Gregory, oksigen dan CO2 berukuran sangat kecil sehingga mudah melewati celah-celah masker. Sedangkan droplet, atau cipratan air liur (yang menjadi medium penularan virus Corona Covid-19), berukuran lebih besar dibandingkan oksigen dan CO2 sehingga tidak mudah menerobos masker.
    Terkait klaim bahwa sel tubuh yang kekurangan oksigen akan mengalami kelainan sehingga tumbuh menjadi tumor atau kanker, tidak ditemukan bukti yang mendukung klaim tersebut. Dikutip dari situs resmi Cleveland Clinic, jika kadar oksigen dalam darah terlalu rendah, tubuh memang tidak akan bekerja dengan baik. Darah membawa oksigen ke sel-sel di seluruh tubuh untuk menjaganya tetap sehat.
    Namun, terlalu rendahnya kadar oksigen dalam darah, yang kerap disebut hipoksemia, itu biasanya menyebabkan masalah ringan seperti sakit kepala dan sesak napas. Dijumpai pula kasus-kasus yang parah, namun efeknya adalah dapat mengganggu fungsi jantung dan otak.
    Berbagai kondisi bisa mengganggu kemampuan tubuh untuk mengirimkan oksigen ke darah dalam kadar yang normal. Beberapa penyebab paling umum dari hipoksemia adalah kondisi jantung (termasuk kelainan jantung), kondisi paru-paru (asma, emfisema, dan bronkitis), lokasi dataran tinggi (kadar oksigen di udara lebih rendah), obat nyeri yang kuat atau masalah lain yang memperlambat pernapasan, apnea atau gangguan pernapasan saat tidur, dan peradangan atau jaringan parut pada paru-paru (seperti pada fibrosis paru).

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pandemi flu Spanyol disebabkan oleh pneumonia bakteri yang berasal dari masker dan memakai masker membuat tubuh kekurangan oksigen yang akhirnya memicu kanker, keliru. Menurut sejumlah ahli, pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6362) [SALAH] “Semut Bisa Makan Otak Manusia Dengan Cara Masuk Dari Telinga”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/02/2021

    Berita

    Akun Facebook Asgar (fb.com/pujangga.asgar) pada 5 Januari 2021 membagikan informasi sebagai berikut:

    “BAGI YG PUNYA ANAK KECIL
    #Penting sekali #
    Seorang anak kecil meninggal karena ahli bedah yang menemukan semut di otaknya! Rupanya anak ini tertidur dengan beberapa permen di mulutnya atau di samping tempat tidurnya. Semut itu merangkak ke telinganya dan akhirnya berhasil masuk ke otaknya.
    Ketika ia terbangun, ia tidak menyadari bahwa semut telah berada di dalam kepalanya. Setelah itu, ia terus-menerus mengeluh tentang gatal di sekitar wajahnya.. Ibunya membawanya ke dokter, tapi dokter tidak tahu apa yang salah dengan dia.
    Ia mengambil sebuah X-ray dari anak itu dan ngeri, ia menemukan sekelompok semut hidup di tengkoraknya. Karena semut masih hidup, dokter tidak bisa mengoperasi anak tersebut karena semut terus-menerus bergerak.
    Anak itu akhirnya meninggal.
    Jadi harap berhati-hati ketika meninggalkan bahan makanan di dekat tempat tidur Anda atau ketika makan di tempat tidur.
    Ini mungkin menarik semut. Yang terpenting, JANGAN PERNAH Anda atau anak Anda makan permen sebelum tidur. Anda atau anak Anda mungkin tanpa disadari telah menarik semut saat Anda tertidur.
    insiden Dua:
    Kejadian serupa terjadi di sebuah rumah sakit di Taiwan. Orang ini dirawat di rumah sakit dan selalu diperingatkan oleh perawat untuk tidak meninggalkan bahan makanan di dekat tempat tidur karena ada semut. Dia tidak mengindahkan nasihat mereka. Semut akhirnya sampai ke kepalanya.
    Anggota keluarganya mengatakan bahwa orang itu terus-menerus mengeluh sakit kepala. Dia meninggal dan diotopsi. Dokter menemukan sekelompok semut hidup di kepalanya. Ternyata, semut telah makan sebagian kecil dari otaknya.
    Please, mengambil tindakan. Luangkan waktu buat baca sebentar dan bagikan. Penting untuk kita perhatikan hal2 yang paling kecil, sekecil apapun juga. Senangnya berbagi info. Harap di bagi yang punya anak2 kecil.
    Org Dewasa juga Harus berhati2 jangan meninggalkan sisa makanan atau minuman yg ada gulanya didekat tempat tidur Anda juga.Bila Hal ini tidak mau terjadi pada Anda juga… anak2… cucu anda..!!! Semoga Bermanfaat Pujangga Asgar”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa semut bisa masuk dan memakan otak manusia melalui telinga adalah klaim yang menyesatkan.

    Faktanya, klaim ini merupakan hoaks lama yang beredar kembali. Tidak benar jika semut bisa masuk ke otak melalui telinga. Semut dan serangga lainnya umumnya hanya bisa mencapai liang telinga luar. Kelenjar dan rambut-rambut kecil di saluran ini memberikan perlindungan terhadap benda asing, termasuk serangga.

    Dilansir dari Tempo, situs organisasi cek fakta Amerika Serikat, Snopes, pernah memverifikasi narasi serupa yang beredar pada 1998.

    Snopes memberikan label keliru terhadap cerita tersebut. Menurut Snopes, terdapat sejumlah serangga yang mencari makan dengan menjadi parasit di jaringan hidup vertebrata. Meski tidak ada yang mencari manusia sebagai inang normal mereka, manusia kadang-kadang ditumpangi oleh parasit-parasit itu secara tidak sengaja.

    Biasanya, mereka masuk melalui luka atau selaput lendir dari lubang tubuh. Namun, Snopes tidak menemukan referensi tentang serangga parasit di telinga manusia. Hal ini tidak berarti kejadian tersebut tidak akan terjadi, namun infestasi semacam itu akan terbatas pada jaringan lunak di sekitar telinga bagian luar.

    Selain itu, serangga dan arthropoda lainnya memang berkeliaran di telinga manusia, tapi tidak untuk bertelur. Telinga manusia dapat menjadi perangkap yang efektif bagi makhluk kecil, yang akan mencoba mencari jalan keluar.

    Selain itu, dilansir dari artikel periksa fakta berjudul “[SALAH] Semut Bisa Makan Otak Manusia Dengan Cara Masuk Dari Telinga” yang dimuat di situs turnbackhoax.id pada 2 Maret 2019, klaim yang menyatakan bahwa semut dapat masuk ke dalam otak manusia melalui telinga telah lama dipercaya hingga dianggap sebuah kebenaran.

    Tidak mungkin semut dapat memasuki organ otak manusia, prroses yang panjang dan sulit harus dilewati semut untuk dapat masuk ke dalam otak manusia. Semut atau serangga lain tidak akan dapat melewati jalur untuk masuk ke dalam otak manusia dalam keadaan hidup melalui telinga.

    Sistem aural dan otak itu sendiri memilki sejumlah mekanisme pertahanan dan sifat fisik yang tidak dapat memungkinkan mereka melakukan invasi ke dalam otak manusia. Jikapun seandainya mereka bisa masuk, mereka tidak akan mampu untuk bertahan hidup di dalam otak manusia.

    Selain itu, ada hal yang sangat tidak mungkin bahwa semut benar-benar dapat hidup dengan baik setelah melalui semua proses perjalan melalui telinga bagian dalam, dan kemudian melalui saraf pendengaran ke otak, mereka kemudian akan berhadapan dengan sistem perlindungan yang ada dalam otak.

    Pada titik tertentu, semut harus membuat jalan mereka melalui dura mater, membran tangguh yang pertama dari tiga membran (meninges) yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang. Dan lebih lanjut otak dilindungi oleh cairan yang disebut cairan serebrospinal.

    Dikutip dari situs kesehatan Alodokter, tidak benar bahwa serangga bisa masuk ke otak melalui telinga. Struktur telinga terdiri dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar meliputi daun telinga, liang telinga luar, dan bagian luar dari gendang telinga. Serangga umumnya hanya bisa mencapai liang telinga luar.

    Hal ini tidak lepas dari peran kelenjar dan rambut-rambut kecil di liang telinga luar yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi benda asing, termasuk hewan-hewan kecil. Selain itu, antara telinga luar dan tengah dibatasi oleh gendang telinga serta antara telinga tengah dan dalam tertutup oleh koklea.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6363) [SALAH] “Vtube telah dilindungi pemerintah Dan Surat izin sudah keluar”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/02/2021

    Berita

    Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Andi Sry memposting beberapa tangkapan layar berupa surat-surat yang diklaim adalah surat izin Vtube yang sudah keluar dan dilindungi pemerintah. Postingan tersebut disukai 15 kali, dikomentari 3 kali, dan disebarkan kembali 2 kali.

    Aplikasi Vtube legal

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan dari lampiran dari ojk.go.id yang berjudul “Lampiran II Juni Daftar Entitas Yang Dihentikan Satgas Waspada Investasi”, terdapat nama PT Future View Tech (Vtube) dengan keterangan “Investasi uang tanpa izin dengan menawarkan keuntungan Rp200.000-Rp70.000.000 (dua ratus ribu rupiah hingga tujuh puluh juta rupiah) hanya dengan mengklik iklan”. Hal ini membuktikan bahwa Vtube termasuk investasi ilegal karena menerapkan skema ponzi sehingga diblokir oleh Kominfo pada 15 Februari 2021 hingga melakukan normalisasi kepada SWI.

    Surat izin yang diklaim melindungi Vtube sudah dihapus pada website Kominfo tetapi masih terdapat pada aset website Vtube dan terlihat pada surat tersebut bahwa tanda daftar dari surat tersebut tidak berlaku jika pendaftar tidak menyerahkan bukti sertifikat keamanan informasi hingga 10 Maret 2021 dan terlihat tidak ada cap dan tanda tangan resmi dari Kominfo yang membuat surat tersebut menjadi sah. Vtube kemudian dilarang melakukan kegiatan investasi ataupun perekrutan anggota sampai mendapatkan izin resmi dari OJK dan hingga saat ini belum ada pemberitahuan bahwa Vtube telah mengurus perizinan ke OJK.

    Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Vtube dilindungi pemerintah dan surat-surat izinnya sudah keluar adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6364) [SALAH] “TERKUAK, Ternyata Jemaah Haji Indonesia Ditolak Bukan Karena Covid 19”

    Sumber: artikel
    Tanggal publish: 18/02/2021

    Berita

    Beredar sebuah artikel online yang menyebutkan bahwa Ternyata Jemaah Haji Indonesia Ditolak Bukan Karena Covid 19.

    Hasil Cek Fakta

    Hanya menyalin judul yang belakangan direvisi oleh sumber pertama penerbit artikel, isi artikel TIDAK sama dengan artikel sumber. Selain itu, terlihat bahwa sebenarnya sumbernya berasal dari pesan WhatsApp.

    Rujukan