(GFD-2021-6974) [SALAH] Video Turki siap serang Israel
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/05/2021
Berita
Akun bernama CHL memposting sebuah video berdurasi 2 menit 13 detik. Dalam video tersebut nampak pasukan yang berseragam yang terdapat bet bendera Turki. Nampak juga beberapa tank yang berjejer. Dalam postingan tersebut mengklaim bahwa video merupakan pasukan dari Turki yang siap menyerang Israel.
Hasil Cek Fakta
Setelah dilakukan penelusuraan ditemukan sebuah artikel berjudul “Kuzeyin Gök Gürültüsü Askeri Tatbikatı ” yang jika diterjemahkan berarti “Latihan Militer Guntur Utara “. Latihan tersebut diikuti lebih dari 20 negara yang berlangsung 13 hari di mulai pada 27 Februari sampai 10 Maret 2016. Brigadir Jendral Ahmet al-Asiri komandan Arab Saudi yang bertanggung jawab atas latihan tersebut menjelaskan latihan tersebut ditujukan untuk melukai ancaman di negara mereka sendiri di masa depan karena tujuan utama dari latihan ini adalah untuk bersatu melawan struktur Syiah di negara-negara Arab.
Dengan demikian klaim bahwa video tersebut adalah Turki yang siap menyerang Israel adalah salah. Video tersebut merupakan video latihan militer yang dilakukan pada 27 Februari sampai 10 Maret 2016 tujuan utama dari latihan ini adalah untuk bersatu melawan struktur Syiah di negara-negara Arab sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten salah.
Dengan demikian klaim bahwa video tersebut adalah Turki yang siap menyerang Israel adalah salah. Video tersebut merupakan video latihan militer yang dilakukan pada 27 Februari sampai 10 Maret 2016 tujuan utama dari latihan ini adalah untuk bersatu melawan struktur Syiah di negara-negara Arab sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).
Klaim pada video tersebut salah. Faktanya video tersebut merupakan video latihan militer yang dilakukan pada 27 Februari sampai 10 Maret 2016 dan mempunyai tujuan utama yaitu untuk bersatu melawan struktur Syiah di negara-negara Arab.
Klaim pada video tersebut salah. Faktanya video tersebut merupakan video latihan militer yang dilakukan pada 27 Februari sampai 10 Maret 2016 dan mempunyai tujuan utama yaitu untuk bersatu melawan struktur Syiah di negara-negara Arab.
Rujukan
(GFD-2021-6976) [SALAH] Gambar Artikel CNN Indonesia: “Selain Suka Makanan Extrem Kelelawar Panggang (Kepang), Jokowi Juga Gemar Makan Bipang Ambawang (Babi Panggang)”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/05/2021
Berita
Akun Facebook Arjuna (fb.com/dedi.wahyudy.125) pada 19 Mei 2021 mengunggah sebuah gambar ke grup Jokowi 3 Periode dengan narasi sebagai berikut:
“Garda terdepan makan bipang”
Di gambar tersebut, terdapat logo CNN Indonesia, foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sedang menyantap sate dan narasi:
“25 Desember 2010 Bukan Presiden Jokowi namanya kalau tidak suka nyeleneh yang aneh-aneh, omongan dan tingkah lakunya. Jauh hari ketika menjadi simpatisan PDI-P Jokowi bersama teman karibnya Basuki Tjahaja Purnama dengan memakai baju kotak-kotak yang identik ciri khas Cina, Jokowi sering bersantap Kepang dan Bipang. di Kalimantan Timur. Jokowi yang dulunya adalah menganut kepercayaan Sekte Kejawen, kini menganut ajaran Islam Nusantara yang penuh toleransi kebudayaan. Makanya Jokowi gemar sekali makan Bipang Ambawang Kaltim sampai sekarang”
“Garda terdepan makan bipang”
Di gambar tersebut, terdapat logo CNN Indonesia, foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sedang menyantap sate dan narasi:
“25 Desember 2010 Bukan Presiden Jokowi namanya kalau tidak suka nyeleneh yang aneh-aneh, omongan dan tingkah lakunya. Jauh hari ketika menjadi simpatisan PDI-P Jokowi bersama teman karibnya Basuki Tjahaja Purnama dengan memakai baju kotak-kotak yang identik ciri khas Cina, Jokowi sering bersantap Kepang dan Bipang. di Kalimantan Timur. Jokowi yang dulunya adalah menganut kepercayaan Sekte Kejawen, kini menganut ajaran Islam Nusantara yang penuh toleransi kebudayaan. Makanya Jokowi gemar sekali makan Bipang Ambawang Kaltim sampai sekarang”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, adanya gambar artikel berjudul “Selain Suka Makanan Extrem Kelelawar Panggang (Kepang), Jokowi Juga Gemar Makan Bipang Ambawang (Babi Panggang)” merupakan konten palsu.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar suntingan atau editan. Selain CNN Indonesia tidak pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut, foto Presiden Jokowi di gambar itu merupakan hoaks lama yang beredar kembali.
Berdasarkan hasil pencarian di situs CNN Indonesia dengan menggunakan kata kunci “Jokowi Juga Gemar Makan Bipang Ambawang”, tidak ditemukan satupun artikel yang sesuai dengan klaim tersebut pada tanggal 25 Desember 2010. Klaim seperti ini juga merupakan gaya pelintiran daur ulang. Di situs turnbackhoax.id, klaim seperti ini sudah berulang kali diperiksa sebelumnya.
Sementara itu, terkait foto Presiden Jokowi yang tampak sedang menyantap sate dan di hadapannya terdapat daging dan kepala babi di gambar tersebut, merupakan foto editan yang juga sudah pernah diperiksa faktanya, salah satunya di artikel berjudul “[SALAH] Foto Jokowi sedang Menyantap Sate Babi” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 17 Mei 2021.
Foto yang asli merupakan foto ketika Jokowi pada tahun 2013 ketika berkunjung ke Ponorogo menjadi juru kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Bambang DH-Said Abdullah, Sabtu (24/8/2013). Dalam foto tersebut tidak ditemukan gambar daging babi seperti foto yang ada di gambar yang diunggah oleh sumber klaim.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar suntingan atau editan. Selain CNN Indonesia tidak pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut, foto Presiden Jokowi di gambar itu merupakan hoaks lama yang beredar kembali.
Berdasarkan hasil pencarian di situs CNN Indonesia dengan menggunakan kata kunci “Jokowi Juga Gemar Makan Bipang Ambawang”, tidak ditemukan satupun artikel yang sesuai dengan klaim tersebut pada tanggal 25 Desember 2010. Klaim seperti ini juga merupakan gaya pelintiran daur ulang. Di situs turnbackhoax.id, klaim seperti ini sudah berulang kali diperiksa sebelumnya.
Sementara itu, terkait foto Presiden Jokowi yang tampak sedang menyantap sate dan di hadapannya terdapat daging dan kepala babi di gambar tersebut, merupakan foto editan yang juga sudah pernah diperiksa faktanya, salah satunya di artikel berjudul “[SALAH] Foto Jokowi sedang Menyantap Sate Babi” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 17 Mei 2021.
Foto yang asli merupakan foto ketika Jokowi pada tahun 2013 ketika berkunjung ke Ponorogo menjadi juru kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Bambang DH-Said Abdullah, Sabtu (24/8/2013). Dalam foto tersebut tidak ditemukan gambar daging babi seperti foto yang ada di gambar yang diunggah oleh sumber klaim.
Kesimpulan
Gambar EDITAN. Selain CNN Indonesia TIDAK pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut, foto Presiden Jokowi di gambar itu merupakan hoaks lama yang beredar kembali.
Rujukan
- https://www.cnnindonesia.com/search/?query=Jokowi+Juga+Gemar+Makan+Bipang+Ambawang
- https://turnbackhoax.id/2021/05/07/salah-gambar-artikel-cnn-indonesia-seorang-anggota-polisi-jual-senjata-serbu-ak-47-dan-pistol-fn-made-in-cina-beserta-amunisi-ke-teroris-kkb-papua/
- https://turnbackhoax.id/2021/05/17/salah-foto-jokowi-sedang-menyantap-sate-babi/
- http://ponorogokomunitasonline.blogspot.com/2013/08/datang-ke-ponorogo-jangan-lupa-makan.html (Arsip:
- https://archive.ph/JpQFv)
- https://www.tribunnews.com/regional/2013/08/18/jokowi-kampanyekan-bambang-said-di-ngawi-dan-ponorogo
(GFD-2021-8634) Keliru, Klaim Vaksin Pfizer Mengandung Chip sehingga Magnet Menempel di Lengan yang Disuntik
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 22/05/2021
Berita
Video yang memperlihatkan seorang wanita bermasker sedang menunjukkan sebuah logam yang diklaim sebagai magnet yang menempel di lengannya beredar di media sosial. Menurut wanita itu, lengannya tersebut adalah lengan yang menerima suntikan vaksin Covid-19 buatan Pfizer. Sementara di lengannya yang tidak menerima suntikan vaksin, ia menunjukkan bahwa magnet tersebut tidak menempel. "We're chipped," kata wanita itu.
Di Instagram, video tersebut dibagikan oleh akun ini pada 10 Mei 2021. Akun itu menulis, "Pfizer jab and a magnet experiment! No words left to describe this," atau jika diterjemahkan berarti: "Suntikan Pfizer dan eksperimen magnet! Tidak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan hal ini." Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 26 ribu kali dan dikomentari lebih dari 280 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi video dengan klaim keliru terkait vaksin Covid-19 buatan Pfizer.
Nano chip dalam vaksin
Di Instagram, video tersebut dibagikan oleh akun ini pada 10 Mei 2021. Akun itu menulis, "Pfizer jab and a magnet experiment! No words left to describe this," atau jika diterjemahkan berarti: "Suntikan Pfizer dan eksperimen magnet! Tidak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan hal ini." Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 26 ribu kali dan dikomentari lebih dari 280 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi video dengan klaim keliru terkait vaksin Covid-19 buatan Pfizer.
Nano chip dalam vaksin
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menghubungi dokter spesialis patologi klinis Tonang Dwi Ardyanto dan ahli bioteknologi Bimo Ario Tejo serta menelusuri pemberitaan terkait klaim itu.
Menurut laporan Factcheck, ada banyak hal yang tidak diketahui tentang video tersebut, termasuk apakah wanita dalam video itu benar-benar divaksinasi, magnet apa yang mungkin digunakan, dan apakah ada zat lain yang dipakai untuk membuat logam tersebut menempel. Selain itu, tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa vaksin mengandung chip atau bahan yang menghasilkan efek magnetis.
Tempo pernah memverifikasi klaim bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip, dan menyatakannya keliru. Kebanyakan microchip RFID (radio frequency identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksinasi. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.
Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa ditangkap oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.
Menurut Tonang, klaim bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan efek magnetis, sehingga magnet menempel di lokasi suntikan, tidak benar. “Komponen dalam produk vaksin Covid-19 tidak mengandung logam yang menimbulkan sifat magnetik. Tidak ada juga semacam 'pin pelacak' semacam itu,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Bimo. Menurut dia, tidak mungkin vaksin Covid-19 dapat menimbulkan efek magnetis. “Tidak mungkin. Sulit untuk tahu alasan mereka mengklaim hal tersebut (dalam video itu). Bagi saya, itu hanya joke tanpa argumen ilmiah apa pun,” ujarnya.
Dilansir dari Factcheck, Lisa Morici, profesor di Tulane University School of Medicine yang mempelajari vaksin, mengatakan bahwa bahan dalam vaksin berbasis mRNA (vaksin Pfizer dan vaksin Moderna) dan adenovirus (vaksin J&J) hanyalah RNA/DNA, lipid, protein, garam, dan gula. "Semua komponen ini ditemukan di berbagai makanan, vaksin, dan obat-obatan," katanya.
Menurut Morici, klaim mengenai microchip yang terkandung di dalam vaksin ini hanyalah mitos. "Mikro mengacu pada ukuran chip, yang berarti ukuran mikron. Sementara vaksin berbasis mRNA dan adenovirus adalah nanopartikel, yang berarti ukuran nanometer. Karena itu, vaksin tersebut seribu kali lebih kecil dari microchip dan microchip tidak bisa dimasukkan ke dalam vaksin," tuturnya.
Ahli kelistrikan pun telah menyatakan bahwa tidak ada bahan dalam vaksin yang akan menyebabkan hasil semacam itu, seperti menempelnya magnet di lokasi suntikan. "Agar magnet biasa menempel pada benda lain secara magnetis, benda itu harus memiliki remanensi magnet yang signifikan (seperti magnet lain), atau permeabilitas magnet relatif yang secara signifikan melebihi satu kesatuan (seperti pintu lemari es)," kata Mark Allen, profesor teknik kelistrikan dan sistem University of Pennsylvania.
“Menurut lembar fakta FDA tentang tiga vaksin resmi yang digunakan di Amerika Serikat (Pfizer, Moderna, dan J&J), tidak ada bahan dalam ketiga vaksin tersebut yang mengandung bahan dengan sifat ini (permeabilitas secara signifikan melebihi kesatuan)," ujar Allen. Intinya, kata dia, "Magnet tidak akan menempel pada Anda hanya karena Anda telah menerima vaksin."
Randall Victora, kepala departemen teknik kelistrikan dan komputer di University of Minnesota, juga berkata, "Meskipun hampir semua material bersifat magnetis dalam arti paramagnetisme, diamagnetisme, dan feromagnetisme, hanya feromagnet yang berpotensi membuat magnet tetap di lenganmu. Tidak ada bahan yang terdaftar dalam vaksin Pfizer, Moderna, atau J&J yang merupakan feromagnet, dan karenanya tidak dapat menyebabkan magnet menempel di lengan Anda. Sebagian besar microchip pun tidak memiliki komponen feromagnet."
Menurut laporan Factcheck, ada banyak hal yang tidak diketahui tentang video tersebut, termasuk apakah wanita dalam video itu benar-benar divaksinasi, magnet apa yang mungkin digunakan, dan apakah ada zat lain yang dipakai untuk membuat logam tersebut menempel. Selain itu, tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa vaksin mengandung chip atau bahan yang menghasilkan efek magnetis.
Tempo pernah memverifikasi klaim bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip, dan menyatakannya keliru. Kebanyakan microchip RFID (radio frequency identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksinasi. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.
Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa ditangkap oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.
Menurut Tonang, klaim bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan efek magnetis, sehingga magnet menempel di lokasi suntikan, tidak benar. “Komponen dalam produk vaksin Covid-19 tidak mengandung logam yang menimbulkan sifat magnetik. Tidak ada juga semacam 'pin pelacak' semacam itu,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Bimo. Menurut dia, tidak mungkin vaksin Covid-19 dapat menimbulkan efek magnetis. “Tidak mungkin. Sulit untuk tahu alasan mereka mengklaim hal tersebut (dalam video itu). Bagi saya, itu hanya joke tanpa argumen ilmiah apa pun,” ujarnya.
Dilansir dari Factcheck, Lisa Morici, profesor di Tulane University School of Medicine yang mempelajari vaksin, mengatakan bahwa bahan dalam vaksin berbasis mRNA (vaksin Pfizer dan vaksin Moderna) dan adenovirus (vaksin J&J) hanyalah RNA/DNA, lipid, protein, garam, dan gula. "Semua komponen ini ditemukan di berbagai makanan, vaksin, dan obat-obatan," katanya.
Menurut Morici, klaim mengenai microchip yang terkandung di dalam vaksin ini hanyalah mitos. "Mikro mengacu pada ukuran chip, yang berarti ukuran mikron. Sementara vaksin berbasis mRNA dan adenovirus adalah nanopartikel, yang berarti ukuran nanometer. Karena itu, vaksin tersebut seribu kali lebih kecil dari microchip dan microchip tidak bisa dimasukkan ke dalam vaksin," tuturnya.
Ahli kelistrikan pun telah menyatakan bahwa tidak ada bahan dalam vaksin yang akan menyebabkan hasil semacam itu, seperti menempelnya magnet di lokasi suntikan. "Agar magnet biasa menempel pada benda lain secara magnetis, benda itu harus memiliki remanensi magnet yang signifikan (seperti magnet lain), atau permeabilitas magnet relatif yang secara signifikan melebihi satu kesatuan (seperti pintu lemari es)," kata Mark Allen, profesor teknik kelistrikan dan sistem University of Pennsylvania.
“Menurut lembar fakta FDA tentang tiga vaksin resmi yang digunakan di Amerika Serikat (Pfizer, Moderna, dan J&J), tidak ada bahan dalam ketiga vaksin tersebut yang mengandung bahan dengan sifat ini (permeabilitas secara signifikan melebihi kesatuan)," ujar Allen. Intinya, kata dia, "Magnet tidak akan menempel pada Anda hanya karena Anda telah menerima vaksin."
Randall Victora, kepala departemen teknik kelistrikan dan komputer di University of Minnesota, juga berkata, "Meskipun hampir semua material bersifat magnetis dalam arti paramagnetisme, diamagnetisme, dan feromagnetisme, hanya feromagnet yang berpotensi membuat magnet tetap di lenganmu. Tidak ada bahan yang terdaftar dalam vaksin Pfizer, Moderna, atau J&J yang merupakan feromagnet, dan karenanya tidak dapat menyebabkan magnet menempel di lengan Anda. Sebagian besar microchip pun tidak memiliki komponen feromagnet."
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 buatan Pfizer mengandung chip sehingga magnet menempel di lengan yang disuntik, keliru. Tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa vaksin mengandung chip atau bahan yang menghasilkan efek magnetis. Vaksin jauh lebih kecil daripada microchip, sehingga microchip tidak bisa dimasukkan ke dalam vaksin. Selain itu, tidak ada bahan yang terdaftar dalam vaksin Pfizer yang merupakan feromagnet, dan karenanya tidak dapat menyebabkan magnet menempel di lengan.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/pfizer
- https://www.instagram.com/p/COrXJ1iFfh6/?igshid=1lm672qz90jdf
- https://www.factcheck.org/2021/05/scicheck-magnet-videos-refuel-bogus-claim-of-vaccine-microchips/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1016/fakta-atau-hoaks-benarkah-vaksin-covid-19-tanamkan-microchip-yang-diprogram-untuk-bantai-75-miliar-nyawa
- https://www.tempo.co/tag/chip
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-pfizer
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
(GFD-2021-6961) [SALAH] Foto “Breaking News, Pria Misterius Bantai Tentara Israel, Israel Menyerah dan Mengakui Kedaulatan Palestina”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/05/2021
Berita
Akun Facebook Maru AG (fb.com/MaruMaru999) pada 20 Mei 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar tampilan video berita ke grup ShitMakar Untuk Kebutuhan Iman.
Di gambar tersebut, terdapat narasi “Breaking News, Pria Misterius Bantai Tentara Israel, Israel Menyerah dan Mengakui Kedaulatan Palestina”
Di gambar tersebut, terdapat narasi “Breaking News, Pria Misterius Bantai Tentara Israel, Israel Menyerah dan Mengakui Kedaulatan Palestina”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, adanya gambar tangkapan layar tampilan video berita dengan narasi “Breaking News, Pria Misterius Bantai Tentara Israel, Israel Menyerah dan Mengakui Kedaulatan Palestina” adalah konten yang dimanipulasi.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar hasil editan atau suntingan dari tampilan video berita Nightly News milik NBC News Exlusive yang tayang pada 10 Februari 2017. Di foto dan video berita asli, foto pria yang ditampilkan di berita tersebut adalah foto Edward Snowden.
Video berita tersebut, dimuat di situs nbcnews.com pada 11 Februari 2017 dengan judul “Nightly News Full Broadcast (February 10th)”.
Di keterangannya, tertulis: “In Friday night’s broadcast: Russia is considering offering Edward Snowden as a “gift” to President Trump, U.S. National Security Advisor Flynn is under fire over ties to Russia and Northern California struggles after a week of rain.” atau yang jika diterjemahkan:
“Dalam siaran Jumat malam: Rusia sedang mempertimbangkan untuk menawarkan Edward Snowden sebagai “hadiah” kepada Presiden Trump, Penasihat Keamanan Nasional AS Flynn dikecam karena hubungan dengan Rusia dan perjuangan California Utara setelah seminggu hujan.”
Faktanya, gambar itu merupakan gambar hasil editan atau suntingan dari tampilan video berita Nightly News milik NBC News Exlusive yang tayang pada 10 Februari 2017. Di foto dan video berita asli, foto pria yang ditampilkan di berita tersebut adalah foto Edward Snowden.
Video berita tersebut, dimuat di situs nbcnews.com pada 11 Februari 2017 dengan judul “Nightly News Full Broadcast (February 10th)”.
Di keterangannya, tertulis: “In Friday night’s broadcast: Russia is considering offering Edward Snowden as a “gift” to President Trump, U.S. National Security Advisor Flynn is under fire over ties to Russia and Northern California struggles after a week of rain.” atau yang jika diterjemahkan:
“Dalam siaran Jumat malam: Rusia sedang mempertimbangkan untuk menawarkan Edward Snowden sebagai “hadiah” kepada Presiden Trump, Penasihat Keamanan Nasional AS Flynn dikecam karena hubungan dengan Rusia dan perjuangan California Utara setelah seminggu hujan.”
Kesimpulan
Gambar EDITAN dari tampilan video berita Nightly News milik NBC News Exlusive yang tayang pada 10 Februari 2017. Di foto dan video berita asli, foto pria yang ditampilkan di berita tersebut adalah foto Edward Snowden.
Rujukan
Halaman: 6615/7954



