• (GFD-2021-8636) Sesat, Klaim Ini Foto Sopir Taksi yang Ditangkap Intelijen AS karena Berwajah Arab dan Dianggap Terlibat 9/11

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 24/05/2021

    Berita


    Foto yang memperlihatkan seorang pria berjenggot tebal yang memakai baju khas tahanan berwarna oranye beredar di Instagram. Foto tersebut diklaim sebagai foto seorang sopir taksi yang ditangkap oleh intelijen Amerika Serikat karena berwajah Arab dan dianggap terlibat teror 9/11. Menurut klaim itu, pasca serangan gedung World Trade Centre pada 9 September 2001, warga AS menganggap semua orang Islam adalah teroris.
    Berikut narasi yang menyertai foto tersebut: "Pasca kejadian 9/11 seluruh Amerika Serikat terjangkit penyakit Islamophobia. Mereka menganggap semua orang muslim adalah teroris yang patut dimusuhi. Setiap orang yang memiliki wajah kearab-araban akan ditangkap dan dianggap sebagai teroris berbahaya. Demikian pula dengan sopir taksi satu ini. Dia ditangkap begitu saja oleh intelijen setempat tanpa mengetahui kesalahannya. Foto tersebut adalah foto terakhir pria ini sebelum akhirnya ia dimasukkan ke ruang introgasi. Dia disiksa sedemikian rupa hingga tewas."
    Akun ini mengunggah foto beserta klaim itu pada 20 Mei 2021. Akun tersebut pun menulis narasi sebagai berikut: "Foto ini menjadi bersejarah yang diambil beberapa detik sebelum disiksa. Mungkin foto ini tampak biasa saja, namun efek yang setelah kejadian dalam foto itu berakibat nyawa yang melayang." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 2.500 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim sesat terkait foto yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri foto tersebut dengan reverse image tool Source, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa pria dalam foto tersebut bernama Dilawar. Ia adalah seorang sopir taksi yang ditangkap oleh milisi Afghanistan saat mengantar penumpang. Mereka kemudian diserahkan kepada tentara AS di Camp Salerno, yang saat itu menjadi sasaran serangan roket. Mereka dinyatakan sebagai tersangka dalam serangan roket tersebut.
    Foto yang identik pernah dimuat oleh situs Ebaumsworld.com pada 5 Juni 2015 dalam artikelnya yang berjudul “19 Final Photos Taken Before Death”. Foto tersebut diberi keterangan: "Sopir taksi Afghanistan berusia 22 tahun, Dilawar, dituduh secara tidak benar dan dikirim ke penjara Bagram oleh tentara AS. Lima hari setelah foto ini diambil, Dilawar meninggal karena luka-luka yang dideritanya selama penyiksaan."
    Foto yang sama juga pernah dimuat oleh situs Clarksvilleonline.com pada 19 Desember 2007 dalam artikelnya yang berjudul “Taxi to the Dark Side details U.S. torture”. Taxi to the Dark Side merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah Dilawar.
    The New York Times mendapatkan salinan hampir 2 ribu halaman dokumen rahasia investigasi kriminal tentara Angkatan Darat AS berisi kisah kematian brutal Dilawar di pusat penahanan Bagram. The New York Times memperoleh salinan tersebut dari seseorang yang terlibat dalam penyelidikan kasus itu, yang mengkritik metode yang digunakan di Bagram.
    Menurut laporan The New York Times, Dilawar tiba di Bagram pada 5 Desember 2002. Empat hari sebelumnya, pada malam hari raya Idul Fitri, Dilawar berangkat dari desa kecilnya di Yakubi, Afghanistan, dengan barang baru yang berharga, sebuah sedan Toyota bekas yang dibelikan oleh keluarganya beberapa minggu sebelumnya untuk dikendarai sebagai taksi.
    Pada hari dia menghilang, ibu Dilawar memintanya menjemput ketiga saudara perempuannya dari desa terdekat untuk pulang. Tapi dia membutuhkan uang bensin dan memutuskan pergi ke ibukota provinsi Khost, Afghanistan, sekitar 45 menit untuk mencari ongkos. Di pangkalan taksi, dia menemukan tiga pria yang ingin ke Yakubi. Dalam perjalanan, mereka melewati pangkalan pasukan AS, Camp Salerno, yang pagi itu menjadi sasaran serangan roket.
    Milisi Afghanistan yang setia kepada komandan gerilyawan yang menjaga pangkalan tersebut, Jan Baz Khan, menghentikan mobil Dilawar di pos pemeriksaan. Mereka menyita walkie-talkie yang rusak dari salah satu penumpang Dilawar. Di bagasi, mereka juga menemukan penstabil listrik yang digunakan untuk mengatur arus dari generator. (Keluarga Dilawar mengatakan penstabil itu bukan milik mereka, karena mereka tidak memiliki listrik).
    Keempat pria tersebut pun ditahan dan diserahkan kepada tentara AS di pangkalan itu sebagai tersangka dalam serangan roket tersebut. Namun, interogator utama Dilawar, Spesialis Glendale C. Walls II, berpendapat bahwa dia terus mengelak. "Beberapa lubang muncul, dan kami ingin dia menjawab dengan jujur," katanya. Interogator lainnya, Sersan Salcedo, mengeluh bahwa narapidana itu tersenyum, tidak menjawab pertanyaan, dan menolak untuk tetap berlutut di tanah atau bersandar di dinding.
    Sementara penerjemah yang hadir saat itu, Ahmad Ahmadzai, memiliki pandangan yang berbeda dengan interogator. Para interogator, kata dia, menuduh Dilawar meluncurkan roket yang menghantam pangkalan AS. Dia membantahnya. Para interogator pun berulang kali mendorongnya ke dinding. "Sekitar 10 menit pertama, saya kira, mereka sebenarnya menanyai dia, setelah itu mendorong, menendang, dan meneriakinya. Tidak ada interogasi yang sedang berlangsung," ujar Ahmadzai.
    Pada Februari 2003, seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa komandan gerilyawan Afghanistan yang anak buahnya telah menangkap Dilawar dan penumpangnya telah ditahan. Komandan itu, Jan Baz Khan, dicurigai menyerang Camp Salerno sendiri dan kemudian menyerahkan "tersangka" yang tidak bersalah kepada AS untuk mendapatkan kepercayaan mereka, kata pejabat militer tersebut.
    Dilansir dari The Guardian, tentara AS telah melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di kamp penjara Bagram yang dikelola di Afghanistan. Tujuh tentara didakwa sehubungan dengan penyiksaan tersebut, di mana The New York Times melaporkan bahwa perlakuan kasar oleh beberapa interogator adalah rutinitas, tahanan dibelenggu dalam posisi tetap yang menyakitkan, dan penjaga dapat menyerang tahanan yang dibelenggu dengan impunitas virtual.
    Dokumen militer rahasia yang diperoleh The New York Times menyoroti kematian dalam penahanan Dilawar, seorang sopir taksi berusia 22 tahun yang diyakini oleh sebagian besar interogator tidak bersalah, serta seorang narapidana lainnya, Habibullah. Kedua pria itu meninggal dalam rentang waktu enam hari pada Desember 2002.
    Juru bicara Pentagon Letnan Kolonel John Skinner mengatakan dokumen militer rahasia tersebut menunjukkan betapa seriusnya militer AS mempertimbangkan tuduhan penyiksaan. "Setiap insiden tidak dapat diterima, dan ketika ada tuduhan, kami menyelidikinya," katanya. Ia juga menambahkan bahwa 28 orang terlibat dalam laporan itu dan tujuh orang didakwa. "Roda keadilan sedang berputar, sebagaimana mestinya."
    Skinner mengatakan, saat ini, ada lebih dari 10 jalur penyelidikan utama yang menginvestigasi seluruh aspek penahanan, di samping peningkatan pengawasan, peningkatan pelatihan, dan peningkatan fasilitas. Terlepas dari perbaikan itu, kebijakannya sejak awal adalah perlakuan yang manusiawi terhadap tahanan. "99,99 persen anggota militer kami menjunjung standar setiap hari dalam situasi yang sulit dan berbahaya," katanya. Jika tidak, ujarnya, akan ada konsekuensi.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut menunjukkan sopir taksi yang ditangkap oleh intelijen AS karena berwajah Arab dan dianggap terlibat teror 9/11, menyesatkan. Pria dalam foto itu bernama Dilawar. Dalam dokumen rahasia yang diungkap oleh The New York Times, Dilawar merupakan korban salah tangkap yang mengalami penyiksaan hingga tewas di kompleks penjara Bagram, Afganistan, pada 2002. Dilawar ditangkap oleh milisi Afganistan bersama ketiga penumpangnya, lalu diserahkan ke pangkalan pasukan AS, Camp Salerno, karena dituduh sebagai pelaku serangan roket terhadap pangkalan tersebut.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6977) [SALAH] Luka Warga Palestina Akibat Serangan Israel Ternyata Hasil Make Up

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 23/05/2021

    Berita

    *video berdurasi 45 detik memperlihatkan sejumlah warga Palestina sedang dirias wajahnya agar terlihat seperti luka berdarah.
    “They make fake blood, and paint wounds that are of course not real.
    All this in order to make the world feel sorry for them, to make Israel look bad

    (terjemahan)
    Mereka membuat darah palsu, membuat luka yang tentu saja palsu.

    Semua ini dilakukan agar seluruh dunia merasa kasihan kepada mereka, dan membuat Israel dipandang buruk.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan berupa video di Twitter oleh akun @Gsiwalette. Video tersebut menampilkan sejumlah warga Palestina yang sedang dirias wajahnya untuk membuat tampilan luka-luka berdarah di area wajah. Beberapa tata rias terlihat mencampurkan bahan make up berwarna merah untuk membuat tampilan berdarah. Dalam videonya juga terdapat narasi bahwa warga Palestina sengaja memalsukan luka di tubuh mereka agar dunia merasa kasihan dan agar Israel dipandang buruk.

    Video tersebut beredar di tengah konflik yang terjadi antara Palestina-Israel yang terjadi sejak 10 Mei lalu saat Israel menyerang Sheikh Jarrah. Cuplikan tersebut ingin membutikan bahwa luka akibat perang yang dialami warga Palestina adalah palsu.

    Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, video yang dibagikan oleh @Gsiwalette adalah cuplikan behind the scene dari sebuah project film Palestina yang dipimpin oleh lembaga amal dari Prancis, Doctors of The Worlds. Project tersebut berlangsung pada tahun 2017, yang melibatkan seorang tata rias dari Palestina bernama Mariam Salah.

    Dilansir dari channel YouTube broadcast berita dari Turki, TRT World, Mariam Salah merupakan seorang tata rias dari Palestina yang menekuni make up untuk efek luka-luka. Dalam video yang diunggah oleh TRT World pada 2 Maret 2017 berjudul “Palestinian film industry | Cinema | Showcase”, Mariam Salah terlihat sedang merias para pemain film.

    Video yang sama persis seperti unggahan akun @Gsiwalette, ditemukan di channel YouTube GazaPost, diupload pada 25 Februari 2017 dengan judul kurang lebih “Trik sinematik adalah sebuah kesenian yang mentransmisikan Gaza ke dunia yang berbeda”.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim akun @Gsiwalette adalah hoaks dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    Klaim menyesatkan. Video yang menampilkan warga Palestina dan anak-anak yang wajahnya sedang dirias adalah cuplikan di balik layar untuk project pembuatan film, dipimpin oleh badan amal Prancis, Doctors of The World. Project tersebut berlangsung di tahun 2017 dan tidak ada kaitannya dengan perseteruan Israel-Palestina yang terjadi baru-baru ini.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6978) [SALAH] Memakan Bawang Merah dan Meneteskan Air Perasan Lemon ke Hidung Dapat Mengobati Covid-19

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 23/05/2021

    Berita

    [diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia]

    “Makanlah bawang merah 3 kali sehari, balurkan garam laut di dekat hidung. Tidur dengan posisi tengkurap selama 2 jam. Teteskan air perasan lemon ke hidung untuk melawan Covid19.”

    Bawang hilangkan corona

    Hasil Cek Fakta

    Pengguna Facebook dengan nama pengguna Pam Vredenburg mengunggah sebuah narasi yang menyatakan bahwa memakan bawang merah dan meneteskan air perasan lemon ke hidung dapat mengobati Covid-19.

    Berdasarkan hasil penelusuran, WHO melalui situs resminya telah menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah bahwa meneteskan air perasan lemon dapat mencegah maupun mengobati Covid-19. Melansir dari Times Now, dokter spesialis onkologi Rumah Sakit Wockhardt – Mira Road, Mumbai, dr. Chandra Veer Singh, menyatakan bahwa meneteskan air perasan lemon ke hidung dapat menyebabkan sinusitis, yaitu penyakit iritasi dan peradangan saluran pernapasan.

    Lebih lanjut, klaim bahwa memakan bawang merah dapat mengobati Covid-19 juga pernah beredar sebelumnya di India. Pemerintah India melalui akun Twitter resminya telah menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah bahwa memakan bawang merah dapat mengobati Covid-19.

    Narasi lemon mampu mencegah maupun mengobati Covid-19 sudah beberapa kali beredar sebelumnya. Artikel dengan topik serupa juga telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id.

    Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh pengguna Facebook dengan nama pengguna Pam Vredenburg tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).

    Tidak ada bukti ilmiah bahwa memakan bawang merah dan meneteskan air perasan lemon ke hidung dapat mencegah maupun mengobati Covid-19.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6979) [SALAH] Berada Di Sekitar Orang yang Baru Divaksin, Dapat Sebabkan Gangguan Menstruasi Pada Wanita

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 23/05/2021

    Berita

    “After reading the effects of side effects for those that or arround people who have been vaccinated as described by pfizer in their study trials and after consulty a doctor as well, we ask that if you’ve been vaccinated, to please order for curbsid pick up or delivery for 28 days after their vaccinated…”

    Hasil Cek Fakta

    Kabar efek samping dari vaksinasi kepada siklus menstruasi wanita telah beredar luas di masyarakat. Informasi ini membuat beberapa orang yakin bahwa wanita yang berada di sekitar orang-orang yang baru mendapatkan vaksin, maka siklus mestruasinya akan terganggu. Salah satu akun di Instagram pun membagikan hal yang sama. Akun bernama ‘brothersbutcers’ ini menyatakan bahwa untuk setiap pelanggannya yang baru saja divaksin, dapat mengambil pesanannya 28 hari setelah usai vaksinasi. Hal ini dilakukannya untuk menjaga pelanggan lain yang mayoritas adalah wanita.

    Namun apakah benar jika berada di sekitar orang-orang yang baru divaksin akan mempengaruhi siklus menstruasi wanita?

    Melansir dari media nbcnews, Dr. Lucy McBride, seorang dokter penyakit dalam yang berpraktik di Washington DC menyatakan bahwa tidak ada mekanisme biologis yang dapat digunakan untuk melepaskan vaksin.

    “Ketika orang terinfeksi virus, apakah mereka memiliki gejala atau tidak, mereka melepaskan virus. Begitulah cara virus menyebar di komunitas. Vaksin, meskipun, tidak tertumpah. Vaksin tidak menular,” jelasnya.

    Seorang ginekolog, Dr. Jennifer Gunter, yang terkenal melalui tulisannya tentang vaksin juga menyatakan hal serupa.

    “Tak satu pun dari tiga vaksin COVID-19 yang disetujui untuk digunakan di AS mungkin dapat memengaruhi orang yang belum divaksinasi, seperti misalnya menstruasi, kesuburan, dan kehamilan. Biar saya perjelas. Vaksin COVID-19 tidak dapat mempengaruhi siapa pun secara proxy.”

    Dalam sebuah pernyataan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menjelaskan proses vaksinasi yang kemudian tidak mungkin dapat mempengaruhi orang di sekitarnya.

    “Vaksin COVID-19 memberikan instruksi untuk mengajari sel manusia cara membuat protein, atau bahkan hanya sepotong protein yang memicu respons kekebalan di dalam tubuh manusia. Setelah potongan protein dibuat, sel memecah instruksi dan menyingkirkannya. Respons kekebalan itu yang kemudian menghasilkan antibodi yang melindungi kita dari infeksi jika virus yang sebenarnya memasuki tubuh kita.”

    “Cara yang sama juga setiap hari digunakan untuk membuat berbagai insulin, hemoglobin, myosin atau salah satu dari ratusan protein di dalam tubuh kita. Jika saya datang dan berdiri di samping seseorang, saya tidak akan mendapatkan insulin mereka,” katanya. “Mereka tidak akan mentransfer insulin dari mereka kepada saya. Seperti itulah mekanisme pemikirannya.”

    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa narasi yang menyatakan bahwa berada disekitar orang yang baru divaksin akan mempengaruhi siklus mentruasi pada wanita merupakan hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Faktanya, tidak ada mekanisme biologis yang menyatakan bahwa vaksin dapat menyebar dari tubuh seseorang ke orang lain.

    Rujukan