• (GFD-2021-8637) Tidak Terbukti, Cina Telah Persiapkan Perang Dunia III dengan Senjata Biologis

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 25/05/2021

    Berita


    Klaim bahwa Cina telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis beredar di Instagram. Menurut unggahan di Instagram tersebut, informasi ini berasal dari sebuah dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Cina. Dokumen itu mengungkap bahwa Cina telah meneliti manipulasi penyakit untuk membuat senjata, termasuk virus Corona penyebab Covid-19, sejak 2015.
    "China dilaporkan telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis selama enam tahun terakhir. Sebuah dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA China) itu mengungkap mereka sudah lama meneliti manipulasi penyakit untuk membuat senjata sejak 2015, termasuk virus corona SARS yang menimbulkan COVID-19," demikian bunyi klaim tersebut.
    Akun ini membagikan klaim itu pada 10 Mei 2021. Akun tersebut menulis, "So, they already started it?" Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 92 ribulikedan 2.600 komentar.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim yang tidak terbukti terkait Cina.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim itu berasal dari sebuah buku yang terbit pada 2015. Namun, buku tersebut mendapatkan banyak kritik karena berisi teori konspirasi dan menyesatkan. Sejauh ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Cina telah mempersiapkan senjata biologis, termasuk virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
    Munculnya klaim itu bermula dari terbitnya artikel oleh situs media yang berbasis di Australia, The Australian, pada 7 Mei 2021 yang berjudul "‘Virus warfare’ in China military documents". Artikel ini kemudian dikutip oleh sejumlah situs media lain.
    Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), artikel itu mengupas buku yang terbit pada 2015 dan masih diperjualbelikan secara online sampai sekarang, berjudul "The Unnatural Origin of Sars dan Species New Species of Man-Made Virus as Genetic Bioweapons". Namun, buku ini membahas apakah virus Corona dapat dipakai oleh teroris sebagai senjata melawan Cina, bukan tentang bagaimana Cina menjadikan virus Corona sebagai senjata biologis.
    Buku itu diterbitkan lebih dari satu dekade setelah munculnyaSevere Acute Respiratory Syndrome( SARS ) yang disebabkan oleh virus Corona bernama SARS-CoV pada 2003. Penulis utama buku itu adalah Xu Dezhong, profesor penyakit menular dari Air Force Medical University di Xian, Shaanxi, Cina. “Berdasarkan berbagai bukti epidemiologi, biologi molekuler, dan biologi evolusioner, buku ini menyimpulkan bahwa SARS-CoV mungkin memiliki asal yang tidak alami, atau buatan manusia,” kata penulis.
    Terdapat satu bab khusus dalam buku itu yang membahas kemungkinan metode untuk membuat senjata biologis. Tapi sebagian besar isi bab ini berasal dari dokumen militer Amerika Serikat yang tidak diklasifikasikan, yang dirancang oleh Michael Ainscough, seorang kolonel di United States Air Force (USAF) Counter Proliferation Center.
    Dalam buku itu, Dezhong menyatakan menerjemahkan makalah Ainscough karena ditulis setahun sebelum munculnya wabah SARS di Cina. Buku ini tidak menuduh secara langsung bahwa AS menciptakan SARS, tapi menunjukkan upaya AS dalam penelitian, pengembangan, dan penyebaran senjata biologis menggunakan metode genetik.
    Penyebab SARS
    Dikutip dari situs resmi Johns Hopkins Medicine, SARS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan nama SARS-associated coronavirus atau SARS-CoV. Umumnya, virus Corona menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas ringan hingga sedang pada manusia, tapi juga dapat menyebabkan penyakit pernapasan, gastrointestinal, hati, dan neurologis pada hewan.
    Ketika bergegas menghentikan penyebaran SARS pada 2003, para peneliti mempelajari lebih banyak karakteristik SARS-CoV, yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Meskipun mereka masih belum memastikan asal penyakit tersebut, banyak yang percaya bahwa SARS-CoV pertama kali muncul pada hewan, kemudian menyebar ke manusia.
    Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa SARS adalah senjata biologis yang juga menyebabkan Covid-19.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Cina telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis, tidak terbukti. Klaim ini bermula dari artikel yang membahas buku berjudul "The Unnatural Origin of Sars dan Species New Species of Man-Made Virus as Genetic Bioweapons" yang terbit 2015. Namun, buku itu menyinggung tentang apakah virus Corona dapat digunakan oleh teroris sebagai senjata melawan Cina, bukan tentang bagaimana Cina menjadikan virus Corona sebagai senjata biologis. Tidak ada pula bukti yang disuguhkan yang mendukung klaim ini.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6982) [SALAH] Giveaway Ulang Tahun Toyota Motor Ke-80

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 24/05/2021

    Berita

    “Giveaway Toyota Motors 80’s Anniversarry”

    Hasil Cek Fakta

    Kabar mengenai giveaway bohong sudah sejak lama beredar di masyarakat. Kabar ini biasanya beredar melalui pesan berantai yang diteruskan melalui media sosial, khususnya Whatsapp. Baru-baru ini kabar giveaway bohong juga kembali beredar. Pesan ini berisi tautan dengan klaim Giveaway Toyota Motor dalam rangka ulang tahun Toyota Motor yang ke-80.

    Namun setelah melakukan penelusuran, kabar giveaway tersebut ternyata hoaks. Melansir dari techarp.com, Toyota tidak sedang mengadakan giveaway hadiah Toyota Corolla dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-80.

    Disebutkan di dalam artikel bahwa pesan tersebut adalah penipuan. Tautan yang terdapat dalam pesan pun bukan tauran resmi dari Toyota. Terlihat domain (.cn) yang merupakan domain registrasi dari negara Cina.

    Toyota adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi kendaraan sejak 27 Agustus 1937. Itu berarti, ulang tahun Toyota yang ke-80 sudah jatuh pada Agustus 2017 lalu. Hal ini pun dibuktikan dari ucapan resmi dari Toyota Motor pada akun Twitter resminya @ToyotaMotorCorp.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa tautan yang mengklaim terkait giveaway dari Toyota Motor dalam rangka ulang tahun ke-80 adalah tautan hoaks kategori fabricated content atau konten palsu.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Faktanya giveaway tersebut adalah hoaks. Ulang tahun Toyota Motor telah berlalu pada 2017 lalu, dan tidak ada giveaway produk Toyota apapun terkait perayaan tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6983) [SALAH] Foto “Penampakan sosok misterius Dibalik tembok china Yg membuat warga china ketakutan”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 24/05/2021

    Berita

    Akun Facebook Moch Ibral (fb.com/moch.ibral) pada 24 Mei 2021 menunggah sebuah foto yang memperlihatkan wajah Presiden Joko Widodo di Tembok Besar Cina ke grup Makar community V2 dengan narasi sebagai berikut:

    “Penampakan sosok misterius Dibalik tembok china Yg membuat warga china ketakutan”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya foto penampakan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Tembok Besar Cina yang membuat warga Cina ketakutan adalah klaim yang dimanipulasi.

    Faktanya, foto itu merupakan foto hasil editan atau suntingan. Pada foto asli, tidak terdapat wajah Presiden Jokowi di Tembok Besar Cina tersebut.

    Foto Tembok Besar Cina yang asli, salah satunya diunggah ke situs Blogspot Cerita Sejarah pada 9 Januari 2015 di artikel berjudul “Sejarah Tembok Raksasa China”.

    Sementara foto wajah Presiden Jokowi yang ditempelkan ke tembok tersebut, salah satunya dimuat di artikel berjudul “Jokowi dampingi Mega apel peringatan Hari Pancasila” yang terbit di situs Merdeka.com pada 1 Juni 2013.

    Kesimpulan

    Foto EDITAN. Pada foto asli, tidak terdapat wajah Presiden Jokowi di Tembok Besar Cina tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8635) Keliru, Klaim Ini Foto Gedung Tertinggi di Israel yang Hancur Dihajar Roket Hamas

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 24/05/2021

    Berita


    Foto yang memperlihatkan sebuah gedung pencakar langit yang hancur dan terbakar serta mengeluarkan asap hitam yang membumbung tinggi beredar di Facebook. Foto ini diklaim sebagai foto salah satu gedung tertinggi di Israel, yang terletak di Tel Aviv, yang hancur akibat dihajar oleh roket Hamas, kelompok milisi Palestina.
    Akun ini membagikan foto denganwatermark"zezodesigns" itu pada 20 Mei 2021 dengan narasi sebagai berikut: "JANJI HAMAS TERPENUHI. Gedung kedua tertinggi di Tel Aviv HANCUR dihajar ROKET HAMAS !!!" Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 3 ribu reaksi dan 600 komentar serta dibagikan lebih dari 300 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi foto editan dari salah satu gedung tertinggi di Israel, Moshe Aviv.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri akun media sosial dengan nama "zezodesigns". Hasilnya, ditemukan sebuah akun Instagram dengan nama @zezodesigns. Setelah ditelusuri lebih lanjut, akun itu pernah mengunggah foto di atas pada 16 Mei 2021. Akun ini hanya menulis keterangan "semoga hari yang dijanjikan".
    Namun, dalam profilnya, akun ini menulis pekerjaannya, yaknigraphic designer. Tempo kemudian menghubungi pemilik akun itu, Khalil Ziad, lewate-mailyang tercantum dalam profil akun tersebut pada 24 Mei 2021. Dalame-mail-nya kepada Tempo, Khalil menjawab, "Foto itu adalah hasil editan dan tidak asli, berjudul 'semoga hari yang dijanjikan'."
    Tempo kemudian menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan sebuah foto yang identik yang diunggah di situs resmi perusahaan konstruksi Israel, Phoenicia Ltd. Dalam foto ini, terlihat bayangan gedung serta bentuk awan yang sama seperti yang tampak dalam foto yang beredar. Gedung itu bernama Moshe Aviv.
    Kesamaan antara foto yang beredar baru-baru ini (kiri) dan foto yang diunggah oleh situs Phoenicia Ltd (kanan).
    Dilansir dari Gezbegen.com, situs perjalanan yang berbasis di Turki, Moshe Aviv adalah salah satu gedung tertinggi di Israel. Bangunan berlantai 29 ini terletak di Ramat Gan, Tel Aviv. Nama gedung ini diambil dari nama pemilik perusahaan konstruksi, Moshe Aviv, yang meninggal dua tahun sebelum menara ini rampung dibangun pada 2003.
    Dikutip dari situs resmi perusahaan pemilik Moshe Aviv, Aviv Group, gedung ini memiliki dua bangunan utama. Pertama, Bachar House, bangunan asli Moshe Aviv, yang dirancang oleh arsitek Yehuda Magidovitch, dan dipugar oleh arsitek Amnon Bar Or. Kedua, The Atrium, menara bisnis dan Bachar House yang digabungkan lewat atrium kaca modern, yang dirancang oleh arsitek Moshe Tzur.
    Meskipun foto tersebut merupakan hasil suntingan, dilansir dari kantor berita Rusia, Sputnik News, Hamas diduga sempat memberikan peringatan agar penghuni Moshe Aviv segera dievakuasi karena gedung itu akan menjadi sasaran roket dari Gaza, sebagai pembalasan atas banyaknya gedung tinggi di wilayah Palestina yang dihancurkan oleh Israel.
    Hal ini juga diberitakan oleh jaringan berita Irak, INP, pada 15 Mei 2021. Menurut laporan INP, Brigade Al-Qassam, organisasi sayap Hamas, memperingatkan agar penghuni Moshe Aviv segera dievakuasi. Kepala Staf Brigade Al-Qassam Muhammad Al-Deif juga memberikan tengat waktu dua jam kepada Israel untuk menghentikan tembakan roket.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut adalah foto salah satu gedung tertinggi di Israel yang hancur akibat dihajar oleh roket Hamas, keliru. Foto itu merupakan hasil editan dari foto profil salah satu gedung tertinggi di Israel, yang terletak di Tel Aviv, Moshe Aviv. Foto tersebut disunting oleh pemilik akun Instagram @zezodesigns, Khalil Ziad, yang telah menyatakan bahwa foto itu tidak asli.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan