• (GFD-2026-31621) Hoaks Foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro Duduk Terborgol

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/01/2026

    Berita

    tirto.id - Akhir-akhir ini, isu penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat memicu gelombang unggahan di media sosial. Banyak foto dan gambar yang beredar diklaim berasal dari peristiwa tersebut, namun tidak semuanya benar atau bisa diverifikasi.

    ADVERTISEMENT

    Salah satu unggahan yang beredar menampilkan gambar seorang pria yang diklaim sebagai Nicolás Maduro tengah duduk di kursi dengan tangan terborgol dan mengenakan seragam militer. Latar gambar menunjukkan ruangan sederhana dengan dinding terang, jendela bertirai putih, dan beberapa kabel serta peralatan di lantai.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    Latar gambar menunjukkan ruangan sederhana dengan dinding terang, jendela bertirai putih, dan beberapa kabel serta peralatan di lantai. Visual ini memberi kesan bahwa sosok tersebut sedang berada dalam kondisi tahanan atau penahanan.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Gambar ini dibagikan oleh akun @Penjolola (arsip) melalui platform Threads pada Minggu (4/1/2026).

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    “Mereka nangkap presiden negara lain gampang banget. Sedangkan kita nangkap Silfester aja susahnya minta ampun…” tulisnya di keterangan unggahan.

    Periksa Fakta Foto Maduros Ditangkap.

    ADVERTISEMENT

    Hingga Senin (12/01/2026), unggahan ini sudah dilihat sekitar 235 ribu kali serta mendapatkan sekitar 2,6 ribu tanda suka, 189 komentar, 124 kali diposting ulang dan sebanyak 39 komentar. Gambar serupa juga ditemukan di unggahan melalui akun dan platform-platform media sosial lain, seperti ini, ini, ini, ini, dan ini.

    Lantas, benarkah foto tersebut merupakan sosok Nicolás Maduro, presiden Venezuela, yang ditangkap Amerika Serikat?

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tirto terlebih dahulu menelaah isi visual foto yang beredar. Pada gambar terlihat seorang pria duduk di kursi dengan tangan terborgol dan mengenakan seragam militer. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, terdapat kejanggalan pada atribut yang dikenakan sosok tersebut.

    Seragam militer yang digunakan menampilkan emblem bendera Ukraina. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius, sebab klaim yang beredar menyebutkan bahwa Nicolás Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat. Secara logis, kecil kemungkinan Presiden Venezuela ditahan dengan mengenakan atribut militer Ukraina, mengingat Ukraina tidak memiliki keterlibatan langsung maupun kewenangan dalam urusan penangkapan kepala negara Venezuela.

    Berdasarkan kejanggalan tersebut, Tirto kemudian melanjutkan penelusuran menggunakan pencarian gambar terbalik (reverse image search) untuk melacak sumber asli foto. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa gambar tersebut identik dengan foto yang pernah diunggah oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy melalui akun Instagram @zelenskyy_official dan kanal Telegram resminya @Zelenskiy / Official, pada 13 April 2022.

    Melalui penelusuran dengan Google Search Engine, ditemukan bahwa sosok dalam foto asli tersebut bukan Nicolás Maduro, melainkan Viktor Medvedchuk, seorang politisi oposisi Ukraina sekaligus oligarki yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Rusia, Vladimir Putin, seperti dilansir dari Kompas. Penangkapan Medvedchuk merupakan bagian dari operasi kilat aparat keamanan Ukraina dan diumumkan langsung oleh Zelenskyy melalui akun Instagram serta kanal Telegram resminya.

    Baca juga:Alasan Rusia Jadikan Pasukan Barat di Ukraina sebagai Target Sah

    Dengan mencocokkan foto asli dan gambar yang beredar di media sosial, ditemukan bahwa bagian wajah pada foto telah dimanipulasi. Wajah Viktor Medvedchuk diganti dengan wajah Nicolás Maduro, sementara elemen lain dalam foto, termasuk seragam militer dan latar ruangan, tetap sama.

    Berdasarkan rangkaian temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa foto yang diklaim menampilkan Nicolás Maduro dalam kondisi ditangkap terindikasi bukan foto asli. Gambar tersebut kemungkinan besar merupakan hasil rekayasa digital yang memanfaatkan foto lama penangkapan Viktor Medvedchuk dan kemudian diedit.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa foto Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang duduk di kursi dengan borgol di tangan adalah keliru dan menyesatkan (false and misleading).

    Foto yang beredar terindikasi merupakan hasil manipulasi, dengan menggunakan foto lama penangkapan Viktor Medvedchuk oleh otoritas Ukraina pada 2022, lalu diedit dengan mengganti wajahnya menjadi Nicolás Maduro.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

  • (GFD-2026-31622) [SALAH] TNI Sebut China Sudah Sangat Berharga untuk Indonesia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 13/01/2026

    Berita

    Akun Facebook "Akbarul Isnandi" pada Senin (29/12/2025) mengunggah foto [arsip] mengklaim bahwa TNI mundur terhadap China karena dianggap telah berjasa bagi negara. Unggahan tersebut juga melampirkan foto Kepala Pusat Penerangan TNI, Freddy Ardianzah. Berikut narasi lengkapnya:

    "WN China menyerang TNI di ketapang, kalimantan barat. TNI: kita memilih mundur bukan takut, tapi China sudah sangat berjasa bagi negara kita."

    Hingga Selasa (13/01/2026) unggahan tersebut mendapat sekitar 7 ribuan tanda suka, 4 ribuan komentar, dan dibagikan ulang 367 kali.

    Hasil Cek Fakta

    TurnBackHoax memeriksa foto Kepala Pusat Penerangan TNI Freddy Ardianzah (bagian bawah) yang disertakan dalam unggahan menggunakan Google Lens. Hasil penelusuran mengarah ke pemberitaan Kompas.com "Kapuspen TNI: Geladi Bersih HUT TNI Hari Ini Berjalan Aman dan Lancar".

    Dari berita yang tayang Rabu (3/10/2025) itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI menyampaikan bahwa geladi bersih peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI yang digelar pada hari tersebut berlangsung aman, tertib, dan lancar. Tidak terdapat pernyataan yang menyebutkan TNI mundur terhadap warga negara China karena dianggap berjasa bagi negara.

    TurnBackHoax kemudian menelusuri foto yang diduga menampilkan rombongan warga negara China (bagian atas) melalui Google Lens. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa foto tersebut merupakan gambar lama yang menampilkan ratusan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang pulang kampung melalui Bandara Sultan Babullah, Akehuda, Ternate Utara, menuju Jakarta pada Mei 2021.

    Kesimpulan

    Tidak ditemukan informasi yang membenarkan klaim. Foto yang digunakan merupakan foto Kapuspen Freddy Ardianzah dalam presscon geladi bersih jelang hari ulang tahun (HUT) ke-80 TNI. Unggahan berisi klaim “TNI sebut China sudah sangat berharga untuk Indonesia” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

  • (GFD-2026-31623) [SALAH] Video "TNI Bangun Jembatan Darurat di Daerah Bencana Sumatera Dalam Semalam"

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 13/01/2026

    Berita

    Akun X “BANGSAygSUJUD” pada Minggu (4/1/2026) mengunggah video [arsip] yang dengan narasi:

    Jika dulu ada legenda membuat candi hanya semalam, membuat bendungan hanya semalam maka baru tahu kalo ternyata buat jembatan juga bisa semalam. Bencana banjir bandang Sumatera membuka mata kita berapa TNI mampu membuka akses yg sebelumnya mustahil. 

    Terima kasih kpd kalian TNI

    Per Selasa (13/1/2026) video itu sudah ditonton 1,2 juta kali, disukai lebih dari  851 kali, dibagikan 162 kali dan menuai 742 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan kata kunci “Video TNI Bangun Jembatan Darurat di Daerah Bencana Sumatera dalam Semalam” ke mesin pencari Google. Tidak ditemukan informasi dari laman berita kredibel atau akun resmi pemerintahan yang membenarkan klaim tersebut.


    TurnBackHoax menelusuri lebih lanjut kebenaran klaim dengan mengunggah video tersebut ke situs pendeteksi Artificial Intelligence (AI) hivemoderation.com.  Hasilnya, video tersebut diketahui hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI) dengan probabilitas 91 persen.

    Kesimpulan

    Faktanya, video tersebut diketahui hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI) dengan probabilitas 91 persen. Jadi unggahan video berisi narasi "TNI bangun jembatan darurat di daerah bencana Sumatera dalam semalam" merupakan konten palsu (fabricated content)

    Rujukan

  • (GFD-2026-31624) Keliru: Tsunami Aceh 2004 Bagian dari Uji Coba Nuklir Amerika Serikat

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/01/2026

    Berita

    NARASI dengan klaim gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 bagian dari operasi uji coba nuklir oleh militer Amerika Serikat, beredar di Threads [arsip], Facebook, dan TikTok pada awal Januari 2026.

    Narasi tersebut mengeklaim informasi itu tertuang dalam dokumen declassified bernomor FOIA CIA F-2013-00698 dan F-2017-00427 mengenai operasi rahasia bernama Operation Tidal Wave. Operasi ini disebut mengungkap uji coba nuklir bawah laut di Samudra Hindia pada 2004-2005 atau underwater nuclear test series Indian Ocean 2004-2005.

    Guna meyakinkan pembaca, konten tersebut menyodorkan bukti berupa kehadiran kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di lokasi bencana. Selain itu, mereka mengaitkan kegiatan eksploitasi minyak dan gas oleh perusahaan Amerika, Exxonmobil, di Aceh pascabencana sebagai dalih kepentingan ekonomi di balik tragedi tersebut.



    Namun, benarkah bencana gempa dan tsunami di Aceh pada 2004 karena uji coba nuklir dari Amerika Serikat?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi konten itu dengan membandingkan narasinya pada informasi-informasi terkonfirmasi dari sumber-sumber kredibel. Hasilnya, klaim-klaim dalam konten itu keliru.

    Berbagai penelitian dan bukti-bukti geologi telah menunjukkan, tsunami 2004 disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 9,2 SR yang berpusat di Samudra Hindia, sekitar 250 km dari pantai barat Aceh. Getaran gempa memicu gelombang laut setinggi 30 meter yang meluluhlantakkan pesisir Aceh, Sumatera Utara, Thailand, Sri Lanka, India, dan bahkan pantai timur Afrika. Jumlah korban jiwa di seluruh dunia diperkirakan mencapai 227 ribu orang dengan Indonesia menyumbang sebagian besar angka tersebut.

    Gempa itu terjadi akibat pergeseran dua lempeng tektonik di Samudra Hindia yang menyebabkan patahan naik (thrust fault). Panjang patahan mencapai 500 kilometer, atau kira-kira jarak dari Jakarta ke Yogyakarta, dengan lebar sekitar 150 kilometer. Pergeseran lempeng di sepanjang patahan ini mencapai lebih dari 20 meter, sehingga menciptakan energi luar biasa yang memicu gelombang tsunami setinggi 35 meter atau setara dengan tinggi gedung 10 lantai.

    Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof. Harkunti P. Rahayu mengatakan gempa dan tsunami Aceh 2004 merupakan bencana alam. Salah satu buktinya yakni bekas sumber gempa membentuk garis di lantai laut (seabed rupture) sepanjang 1.600 kilometer. Gempa tersebut juga meningkatkan wilayah geografis di tempat gelombang diamati, hingga mencapai Meksiko, Chili, dan Arktik. 

    “Rupture terlihat dari satelit maupun pengamatan langsung di laut,” kata Harkunti pada Tempo, Minggu, 11 Januari 2026.

    Sebelum tsunami 2004, para peneliti menemukan jejak pengangkatan terumbu karang di Pulau Simeulue, Aceh, yang menyebabkan tsunami purba pada 1394 dan 1450 M. Lokasi ini berada tepat di atas bagian selatan zona patahan gempa tahun 2004, sekitar seratus kilometer dari pantai Sumatra bagian utara. 

    Titik-titik hitam menunjukkan tiga lokasi yang menyimpan catatan pengangkatan dari masa prasejarah dan kejadian tsunami. (Sumber: Sieh, dkk, 2014).

    Penelitian tersebut menjadi bukti, pergeseran lempeng bumi di wilayah tersebut menjadi penyebab tsunami 2004 termasuk dua tsunami purba.

    Tempo tidak menemukan dokumen declassified berkode F-2013-00698 dan F-2017-00427 terkait Operation Tidal Wave maupun underwater nuclear test series Indian Ocean 2004-2005 dalam situs CIA, National Archives, dan Library of Congress Research. 

    Dokumen declassified artinya arsip rahasia yang status kerahasiaannya telah dicabut atau diturunkan. Saat dokumen dikategorikan declassified maka masyarakat umum dapat mengaksesnya melalui sejumlah situs pemerintah Amerika Serikat. 

    Kode F yang diikuti tahun dan lima nomor di belakangnya adalah format kode untuk mengajukan permohonan informasi ke sejumlah badan publik di Amerika Serikat. Dengan demikian  F-2013-00698 dan F-2017-00427 bukan kode sebuah arsip, melainkan kode tiket permohonan informasi atau permintaan salinan dokumen.

    Namun dalam log permohonan informasi CIA yang dipublikasikan website non-pemerintah Government Attic dan The Black Vault, tak ada permohonan bernomor F-2013-00698 dan F-2017-00427  tentang “Operation Tidal Wave” maupun "underwater nuclear test series Indian Ocean 2004–2005."

    Operation Tidal Wave bukanlah operasi uji coba nuklir di Samudera Hindia. Istilah tersebut adalah nama operasi angkatan udara Amerika Serikat yang menargetkan ladang minyak di Ploesti, Rumania, tahun 1943, menurut laman Museum Angkatan Udara Amerika Serikat.

    Narasi tersebut beredar pertama kali pada 2021, setelah salah satu situs konspirasi mengaitkan tsunami 2004 dipicu oleh ledakan nuklir.

    Terakhir, narasi yang beredar mengatakan kapal induk USS Abraham Lincoln berada di dekat Aceh saat kejadian, dan ExxonMobil masuk ke Aceh setelah tsunami, juga merupakan klaim yang keliru.

    Dilansir Antara, saat tsunami terjadi, kapal induk Nimitz Class milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) itu sedang berlabuh di Hongkong. Kanal Aceh melaporkan salah satu personil USS Abraham Lincoln, Brigadir Jenderal Carla River, bercerita saat kejadian mereka berada di perairan Jepang.

    Tim kapal induk tersebut menerima permintaan melakukan operasi kemanusiaan di Aceh dengan menempuh 36 jam perjalanan. Selain itu, mereka merawat sebagian penyintas di atas kapal.

    Sementara perusahaan Exxon, sesungguhnya telah beroperasi di Aceh sejak tahun 1999 setelah membeli Mobil Oil Indonesia. Mobil Oil Indonesia sebelumnya telah beroperasi di Aceh sejak 1970 setelah menemukan cadangan gas alam di dekat kota Lhoksukon.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 adalah klaim keliru. Poin-poin klaim di dalamnya telah terbantahkan dengan informasi terkonfirmasi dari sumber-sumber kredibel.

    Rujukan