• (GFD-2022-10283) [SALAH] Mike Tyson Harus Menggunakan Kursi Roda setelah Menerima Vaksin

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 04/09/2022

    Berita

    “Mike Tyson harus menggunakan kursi roda setelah ia terpaksa menerima 💉 V4x51n COPET-9elas, yang sebelumnya ia khawatir akan efek v💉, tapi ia harus menerima 💉 V4x51n itu lantaran ia sering bepergian ke luar negeri dan membutuhkan sertifikat V4x51n

    https://prepareforchange[dot]net/…/fully-vaccinated-mike…/”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook dengan nama pengguna “Anto Kampleng” (https://www.facebook.com/profile.php?id=100085041547584) mengunggah sebuah foto Mike Tyson yang tengah duduk di kursi roda. Foto tersebut disertai narasi yang menyatakan bahwa Mike Tyson harus menggunakan kursi roda setelah menerima vaksin dan sebuah tautan dari situs prepareforchange[dot]net terkait informasi tersebut.

    Berdasarkan hasil penelusuran, Mike Tyson harus menggunakan kursi roda bukan karena vaksin. Dalam wawancara dengan Greta Van Susteren, Tyson menjelaskan bahwa dirinya harus menggunakan kursi roda di Bandara Miami karena penyakit skiatika yang dideritanya sejak lama kambuh. Penyakit tersebut merupakan rasa sakit yang menyerang jalur saraf skiatik dari bagian bawah punggung hingga kaki. Tyson telah menderita penyakit skiatika sejak masih aktif berkarir sebagai atlet tinju profesional.

    Lebih lanjut, situs prepareforchange[dot]net juga bukan merupakan situs arus utama yang kredibel. Situs tersebut seringkali mengunggah artikel konspirasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

    Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Anto Kampleng” (https://www.facebook.com/profile.php?id=100085041547584) tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa A.

    Bukan karena vaksin. Faktanya, Mike Tyson harus menggunakan kursi roda karena penyakit skiatika yang dideritanya sejak lama kambuh.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10280) [SALAH] Anak Balita Ditinggal Sendiri di Pinggir Jalan Karena Bapaknya Tenggelam di Jembatan Suramadu

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 03/09/2022

    Berita

    Beredar sebuah video berdurasi 16 detik di media sosial yang memperlihatkan seorang anak kecil duduk sendirian di atas sepeda motor yang berlokasi sebelum masuk Jembatan Suramadu arah Surabaya-Madura.

    Dalam video tersebut terdapat klaim bahwa ayah dari anak tersebut meninggal tenggelam setelah melompat dari Jembatan Suramadu dan meninggalkan anaknya sendirian di pinggir jalan.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, AKP Farida Aryani, Kanit PJR VIII Jatim mengatakan video yang diduga bunuh diri tersebut tidak benar atau hoax.

    “ Orang tua dari anak ini bukan bunuh diri tapi anaknya ditinggal di pinggir jalan karena mengambil barang yang tertinggal. Melihat ada anak kecil sendirian di tinggal di sepeda motor banyak warga yang berhenti untuk sekedar bertanya kepada anak tersebut,’’ Katanya saat On Air di Dinamika Madura Radio Karimata pada Rabu (31/08/2022) malam.

    Dalam video terlihat para pengendara yang berhenti menanyakan keberadaan orang tuanya karena sendirian di pinggir jalan. Namun anak tersebut terdiam dan kebingungan. Sementara, nama dan alamat masih dalam pencarian karena saat petugas ke lokasi sudah tidak ada di tempat.

    “ Menurut salah satu pedagang yang ada di sekitar lokasi, anak ini ditinggal karena ada barang yang tertinggal. Tetapi beberapa saat kemudian bapak dari anak ini datang dan mereka langsung pergi lagi dengan motornya,’’ Pungkasnya.

    Kesimpulan

    Informasi yang menyesatkan. AKP Farida Aryani, Kanit PJR VIII Jatim mengatakan video yang diduga bunuh diri tersebut tidak benar atau hoax. Orang tua dari anak ini bukan bunuh diri tapi anaknya ditinggal di pinggir jalan karena mengambil barang yang tertinggal, tetapi beberapa saat kemudian bapak dari anak ini datang dan mereka langsung pergi lagi dengan motornya.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10513) Keliru, Foto Pengunjung Grand Indonesia Mall Berdesakan hingga Pingsan

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/09/2022

    Berita


    Sebuah akun Facebook membagikan tiga foto yang menunjukkan suasana tempat perbelanjaan yang diklaim sebagai Grand Indonesia Mall, seorang perempuan yang sedang dipapah, dan sebuah produk pendingin ruangan.
    Akun ini juga menuliskan narasi sebagai berikut : 
    “Mengerikan, orang-orang berdesak-desakan dan saling dorong menyebabkan beberapa orang pingsan di Grand Indonesia Mall. Ribuan orang mengantri panjang di Grand Indonesia Mall untuk membeli AC Jepang karena sedang promo diskon 40%....”
    Narasi dan foto ini diunggah 22 Agustus 2022. Sampai tulisan ini dibuat, unggahan tersebut telah mendapat 929 komentar dan dibagikan 86 kali oleh para pengguna Facebook.
    Tangkapan layar unggahan di Facebook dengan klaim orang berdesak-desakan dan saling dorong menyebabkan beberapa orang pingsan di Grand Indonesia Mall demi membeli AC Jepang
    Apakah gambar ini terjadi di Grand Indonesia Mall? Berikut hasil pemeriksaan fakta.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta oleh Tim Cek Fakta Tempo, dua foto yang diunggah tersebut tidak terkait dengan peristiwa di Grand Indonesia Mall. Foto tersebut diambil pada dua lokasi dan waktu yang berbeda. Unggahan ini menggunakan cerita keliru untuk menjual produk AC Jepang, sebagaimana narasi dan foto produk yang ditampilkan.
    Untuk verifikasi narasi dan foto tersebut, Tempo menelusuri foto asli dengan Yandex, Fake News Debunker by InVid, dan Google Images, serta pemberitaan dari media kredibel.
    Foto 1
    Foto tempat perbelanjaan dalam narasi ini disebut sebagai Grand Indonesia Mall. Grand Indonesia berlokasi di Jalan M.H. Thamrin nomor 1, Jakarta Pusat. 
    Pemeriksaan foto 1
    Hasil penelusuran Tempo menunjukkan bahwa foto tersebut dipakai sebagai ilustrasi tulisan Claudia Patricolo berjudul “The shopping mall strikes back” pada situs Emerging Europe. Tempo kemudian menggunakan petunjuk nama gerai yang terlihat pada foto yakni gerai Media Expert dan Grycan.  
    Media Expert merupakan jejaring toko perlengkapan elektronik dan rumah tangga di Warsaw, Polandia. Foto ini identik dengan foto pada situs jual-beli foto Alamy.com. Foto Gerai Media Expert ini berada diambil tanggal  25 Maret 2009, saat pembukaan Galeria Malta, Poznan, Polandia. Keterangan foto menuliskan, ‘Warga Polandia bergegas ke Gerai Media Expert karena ada diskon besar pada hari pembukaan pusat perbelanjaan GALERIA MALTA’. 
    Detail kedua yaitu Grycan. Hasil penelusuran menemukan “Grycan, Lody od pokole?” merupakan produse makanan penutup, es krim bebas gluten, serta es tradisional Polandia dengan nama brand Grycan. 
    Laman resmi Galeria Malta juga menyebutkan Grycan membuka gerai di pusat perbelanjaan ini. Galeria Malta merupakan pusat perbelanjaan terkemuka di kota Poznan, Polandia.
    Foto 2
    Foto kedua menunjukkan seorang perempuan berbaju hijau dipapah oleh seorang pria dan wanita. Terlihat pada latar belakang foto ada tulisan iStudio.
    Pemeriksaan foto 2
    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa foto tersebut identik dengan berita yang dirilis Bangkok Post tanggal 15 Februari 2016. Dilansir Bangkok Post, seorang pria paruh baya menembak mati kekasihnya pada Hari Valentine di Central Plaza Rattanathibet, Nonthaburi.
    Penembakan tersebut  terjadi pada Minggu, 14 Februari 2016 di depan toko iStudio lantai dua Central Plaza Rattanathibet sekitar pukul 11 ??pagi. Kejadian ini menyebabkan kepanikan di antara para pembeli yang sedang berkumpul merayakan Hari Valentine.
    Dilansir Thairath, pelaku bernama Suchart Pueapradit menembak diri sendiri setelah menembak kekasihnya dan melukai seorang anak perempuan berusia sembilan tahun.

    Kesimpulan


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan foto dan narasi yang menyebutkan “Mengerikan, orang-orang berdesak-desakan dan saling dorong menyebabkan beberapa orang pingsan di Grand Indonesia Mall” adalah keliru.
    Foto pertama menunjukan antrian pembeli di Media Expert Galeria Malta, Kota Poznan, Polandia pada 2009. Foto kedua, terjadi di depan toko iStudio lantai dua Central Plaza Rattanathibet, Bangkok.  

    Rujukan

  • (GFD-2022-10514) Sebagian Benar, Aplikasi Cek Penerima Bantuan Sosial Kemensos

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/09/2022

    Berita


    Sebuah artikel yang mengklaim ada empat aplikasi untuk mengecek daftar penerima bantuan sosial dari Kemensos, dimuat oleh sebuah situs pada Maret 2022. 
    Keempat aplikasi tersebut yakni Cek Bansos, Aplikasi Cek Daftar Bansos PKH Online, Aplikasi Cek Bansos DTKS PKH Kemensos dan Aplikasi SIKS-Dataku.
    Tangkapan layar sebuah situs yang disebarkan di media sosial Facebook tentang daftar aplikasi untuk mengecek bantuan sosial (bansos)
    Benarkah keempat aplikasi tersebut adalah platform resmi untuk mengecek daftar penerima bansos?

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, dari empat aplikasi tersebut hanya dua platform yang resmi. Dua sisanya bukan platform resmi milik Pemerintah RI. 
    Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim di atas dengan menelusuri link yang dibagikan. Berikut ini hasilnya:
    1. Aplikasi Cek Bansos
    Pemeriksaan foto aplikasi 1
    Aplikasi ini benar diterbitkan oleh Kementerian Sosial. Dikutip dari laman Kemensos, aplikasi Cek Bansos adalah aplikasi resmi yang dikembangkan Kementerian Sosial. Masyarakat dapat mengakses dengan menggunakan ID pengguna yang telah diverifikasi dan diaktivasi oleh admin Kemensos. 
    Pemilik ID dapat memberikan tanggapan kelayakan pada penerima manfaat yang dinilai tidak layak mendapatkan bantuan sosial dengan cara memilih ikon, mengisi alasan, pernyataan, lalu mengirim tanggapan. 
    "Pemilik ID juga bisa mendaftarkan dirinya, keluarga, masyarakat lain, fakir miskin yang berada dalam satu desa atau kelurahan secara langsung pada tombol tambah usulan," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Agus Zainal Arifin, belum lama ini.
    2. Cek Daftar Bansos PKH Online
    Pemeriksaan foto aplikasi 2
    Aplikasi ini bukan dikembangkan oleh Pemerintah RI, melainkan dibuat oleh Channel99 Developer. Tidak ada jaminan bahwa aplikasi ini aman digunakan oleh publik.
    3. Cek Bansos DTKS PKH BPNT
    Pemeriksaan foto aplikasi 3
    Aplikasi ini juga dikembangkan oleh Channel99 Developer, bukan oleh Kemensos. 
    4. Aplikasi SIKS-Dataku
    Pemeriksaan foto aplikasi 4
    Aplikasi ini dibuat oleh Kementerian Sosial untuk menyusun Data Terpadu Kesejahteraan Sosal (DTKS). Data ini berisi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial, penerima bantuan dan pemberdayaan sosial, serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial.
    DTKS dikelola oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin Kesos) dengan perbaikan data oleh pemerintah daerah melalui Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial - Next Generation (SIKS-NG) sejak tahun 2017.
    Informasi serupa bisa diakses melalui kanal YouTube Kemensos RI.
    Bahaya di balik aplikasi tak resmi
    Warga harus berhati-hati jika mengunduh atau menggunakan aplikasi di internet. Aplikasi yang tidak resmi, dapat berisi virus atau celah yang bisa mengakses data pribadi pengguna. 
    Dikutip dari Tempo, perusahaan keamanan seluler, Zimperium, menerbitkan laporan analisis terbaru tentang ancaman yang datang terhadap Android selama paruh pertama 2022. Disebutkan, terdapat 10 virus trojan paling produktif yang telah mengincar 639 aplikasi keuangan atau perbankan yang tersedia di Google Play Store.
    Situs yang menerbitkan artikel cek bansos tersebut juga tergolong bukan media kredibel karena memuat konten tanpa ada narasumber dan keterangan waktu pemuatan. Selain itu, situs tersebut tidak mencantumkan penanggung jawab media, susunan redaksi, nomor kontak, dan alamat perusahaan.
    Padahal, ketentuan terkait ini diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berbunyi "Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan."

    Kesimpulan


    Dari hasil pemeriksaan fakta, narasi pada artikel berjudul Aplikasi Cek Penerima Bantuan Sosial adalah Sebagian Benar.
    Dari empat aplikasi yang disebutkan, dua di antaranya bukan aplikasi yang dibuat oleh oleh Kementerian Sosial RI.

    Rujukan