(GFD-2022-10730) Keliru, Video Rudal Nuklir Rusia Tiba di Indonesia, Bikin Australia Ketakutan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 17/10/2022
Berita
Sebuah akun Facebook membagikan video dengan narasi kedatangan rudal nuklir Rusia di Indonesia membuat Australia ketakutan. Video tersebut diberi judul “Tiba di Indonesia, Rudal Nuklir Rusia Bikin Australia Ketakutan || Konflik Indo-Pasifik”.
Di dalam video terdapat potongan video beberapa pemimpin dunia di berbagai pertemuan, seperti Perdana Menteri Australia, Scott Morrison Presiden Rusia, Vladimir Putin, Presiden Tajikistan, Emomali Rakhmon, dan Presiden RI, Joko Widodo.
Video berdurasi 8 menit 6 detik tersebut dibuka dengan pernyataan Presiden RI, Joko Widodo tentang jaminan keamanan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin. Kemudian tampak potongan video sebuah roket yang berhasil diluncurkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Sejak diunggah pada Selasa, 11 Oktober 2022, video ini telah mendapat 6,2 ribu like dan 231 ribu kali tayang.
Tangkapan layar video yang beredar di Facebook dengan narasi Rusia mengirimkan rudal nuklir ke Indonesia, sehingga membuat Australia ketakutan
Namun, benarkah Rusia mengirim rudal nuklir ke Indonesia dan membuat Australia ketakutan dalam konflik Indo-Pasifik?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan bahwa potongan video tersebut merupakan gabungan video aktivitas para kepala negara dan tidak terkait dengan Rusia memasok rudal nuklir ke Indonesia. Para pemimpin negara tersebut membahas isu-isu kerjasama di bidang ekonomi.
Untuk memverifikasi kebenaran klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo memfragmentasi video menjadi gambar dan kemudian menelusurinya dengan menggunakan Yandex Image Search, Google Lens, mesin pencarian Google, dan Youtube.
Berikut fakta-faktanya:
Video 1
Fragmen video 1
Fakta: Potongan gambar ini mengawali video di atas dan muncul beberapa kali dalam video kompilasi tersebut. Peristiwa ini adalah saat Presiden Joko Widodo memberikan pernyataan pers usai pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia di Gedung Parlemen, Canberra, Australia, pada Senin, 10 Februari 2020 lalu.
Proses ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) telah selesai dilakukan kedua negara. Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison menyambut baik kemitraan strategis yang telah disepakati tersebut.
Video ini sebelumnya pernah diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden.
Video 2
Fragmen video 2
Fakta: Video pada detik ke-3 ini juga muncul beberapa kali. Ini adalah momen Ketika Presiden Rusia Vladimir Putin turun dari pesawat kenegaraan saat berkunjung ke Tajikistan.
Potongan video ini sudah dirilis oleh akun YouTube AFP News Agency pada 28 Juni 2022 berjudul Russian President Putin begins visit to Tajikistan.
Video 3
Fragmen video 3
Fakta: Potongan video pada detik ke-57 menampilkan Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Australia menyaksikan penandatanganan kerjasama bilateral kedua negara oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan Australia pada 10 Februari 2020 lalu.
Potongan video 3 ini bersumber dari video yang sama dengan potongan video pertama. Beberapa potongan video yang diunggah kanal Sekretariat Presiden ini muncul lebih dari satu kali pada video di atas.
Video 4
Fragmen video 4
Fakta: Video menit ke-1:45 ini pernah diunggah kanal YouTube LAPAN RI pada 2 Desember 2020. Video ini peristiwa saat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melalui satuan kerja Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) berhasil meluncurkan roket eksperimen, RX450-5.
Roket RX450 merupakan roket eksperimen sonda dengan diameter 450 mm. Acara yang dilaksanakan di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Garut (BUTPAAG) LAPAN ini dilaksanakan pada Rabu, 2 Desember 2020. Sejumlah pejabar terkait turut hadir, di antaranya Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa, Dr. Rika Andiarti dan Kepala Pustekroket, Lilis Mariani.
Video 5
Fragmen video 5
Fakta: Potongan video ini adalah momen pertemuan bilateral antara Presiden RI, Joko Widodo dan Presiden Rusia, Vladimir Putin bertemu di Singapura, 15 November 2018 lalu. Pertemuan yang diliput oleh iNews ini membahas peningkatan kerjasama ekonomi antar negara.
Presiden Jokowi mendorong pemerintahan Rusia untuk meningkatkan volume impor produk perikanan dan ekspor buah tropis asal tanah air.
Narasi Video
Video dibuka dengan pernyataan Presiden Jokowi yang sangat menghargai Presiden Putin yang memberikan jaminan keamanan, terutama melalui jalur laut. Potongan video tersebut diambil sepotong dari pernyataan Jokowi tentang jaminan keamanan pasokan pangan dan pupuk dari Rusia maupun dari Ukraina saat bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Juli 2022 lalu.
Pernyataan utuh pemimpin kedua negara diunggah akun Presiden Joko Widodo pada 1 Juli 2022 lalu dengan judul "Jaminan dari Presiden Putin".
Selanjutnya narator membacakan cuplikan beberapa artikel di situs berita, diantaranya situs Harianjogja.com dan Rmol.id. Pada artikel Harianjogja.com berjudul "Rusia Siap Bantu Indonesia Kembangkan Nuklir", sebelum masuk ke paragraf keempat, narator menambahkan narasi sebagai berikut:
Putin berkata, ia akan membawa senjata nuklir ke Indonesia sebagai tujuan memberi contoh yang maksimal bagi Indonesia untuk memproduksi senjata nuklir.
Sedangkan pada artikel Rmol.id berjudul "Rusia Siap Bela Indonesia Bila Perang Terbuka dengan Singapura dan Sekutunya", narator mengubah nama negara Singapura menjadi Australia.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta, narasi dan video unggahan berjudul "Tiba di Indonesia, Rudal Nuklir Rusia Bikin Australia Ketakutan || Konflik Indo-Pasifik" adalah keliru.
Kompilasi video dan narasi yang dibacakan narator video tersebut tidak menunjukan adanya rudal nuklir yang dikirim Rusia ke Indonesia yang kemudian membuat takut Australia. Judul, video, dan narasi tidak sesuai fakta yang ada.
Rujukan
- https://www.facebook.com/watch/?v=3293867094190903&_rdc=1&_rdr
- https://www.youtube.com/watch?v=krmJ-jlLBfk
- https://www.youtube.com/watch?v=6bs_EYht4WA
- https://www.youtube.com/watch?v=KgxihBomR20
- https://www.youtube.com/watch?app=desktop&v=tnoTA5UZa60
- https://www.youtube.com/watch?v=fEBm_AdUseY
- https://news.harianjogja.com/read/2022/07/01/500/1104946/rusia-siap-bantu-indonesia-kembangkan-nuklir
- https://dunia.rmol.id/read/2014/02/13/143707/rusia-siap-bela-indonesia-bila-perang-terbuka-dengan-singapura-dan-sekutunya
- https://news.harianjogja.com/read/2022/07/01/500/1104946/rusia-siap-bantu-indonesia-kembangkan-nuklir
- https://dunia.rmol.id/read/2014/02/13/143707/rusia-siap-bela-indonesia-bila-perang-terbuka-dengan-singapura-dan-sekutunya
- https://wa.me/6281315777057 mailto:cekfakta@tempo.co.id
(GFD-2022-10731) Keliru, Biden Makin Keterlaluan, Amerika Serikat Tuduh Indonesia Bekingi Rusia di Medan Perang
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 17/10/2022
Berita
Sebuah laman Facebook mengunggah video berjudul “Biden Makin Keterlaluan, Amerika Serikat Tuduh Indonesia Bekingi Rusia di Medan Perang Perang dengan Ini”.
Video ini menarasikan, Indonesia tuding Amerika Serikat makin sembrono menyebarkan teori konspirasi lantaran dituduh media barat bantu kirim senjata ke Rusia. Narasi dalam video juga menyebutkan Kementerian Pertahanan Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi untuk membantah tudingan tersebut.
Kementerian Pertahanan mengatakan Indonesia tidak pernah mengekspor senjata dan dan amunisi ke Rusia di masa lalu, dan tidak punya rencana mengekspor amunisi dan senjata ke Rusia di masa datang.
Video ini diunggah pada tanggal 10 Oktober 2022 dengan durasi 8.06 menit. Sampai tulisan ini dibuat, telah ditonton 13 ribu kali, disukai 379 dan 43 komentar dari pengguna Facebook.
Tangkapan layar video dengan narasi Biden dan Amerika Serikat tuduh Indonesia bekingi Rusia.
Benarkah narasi tersebut? Berikut hasil pemeriksaan faktanya.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, Pemerintah Indonesia, baik melalui Presiden Joko Widodo maupun Kementerian Pertahanan, tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi terkait tudingan media asing terkait klaim pengiriman senjata dan amunisi ke Rusia.
Tidak ditemukan pula pemberitaan media asing yang kredibel terkait tudingan ini. Indonesia, melalui Presiden Joko Widodo, justru mengadakan lawatan ke Ukraina dan Rusia untuk misi perdamaian.
Tempo juga tidak menemukan pemberitaan media asing dan nasional yang kredibel terkait klaim, yang mengatakan Amerika Serikat menuduh Indonesia membantu Rusia dalam invasi ke Ukraina.
Tim Cek Fakta Tempo melakukan verifikasi video ini dengan menelusuri sumber asli video dan menelusuri berita media nasional dan internasional yang kredibel. Tempo menggunakan Yandex Search Images dan Fake News Debunker by InVid untuk menganalisis fragmen gambar pada video ini.
Berdasarkan penelusuran Tempo, video ini identik dengan unggahan akun YouTube Berita Dunia pada tanggal 3 Oktober 2022. Kedua video ini mengulang-ulang fragmen gambar yang identik hingga akhir video. Fragmen dalam video ini dari peristiwa yang berbeda-beda dan tidak saling berkait.
Video 1
Gambar kiri berasal dari gambar kanan (sumber: Kantor Sekretariat Kepresidenan)
Pada menit ke-1:47 video ini menampilkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat sedang berbicara di sebuah ruangan besar berlatar bendera Rusia dan Indonesia.
Hasil penelusuran Tempo menunjukkan bahwa fragmen ini identik dengan video yang diunggah akun YouTube Sekretariat Presiden RI tanggal 30 Juni 2022. Sekretariat Presiden menuliskan, kegiatan ini merupakan pernyataan pers Presiden Jokowi dan Presiden Putin di Moskow, 30 Juni 2022.
Kantor Kepresidenan Rusia juga merilis pertemuan ini. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan hubungan Rusia-Indonesia bersifat konstruktif dan saling menguntungkan dan terus berkembang. Hal ini didasarkan atas tradisi persahabatan dan bantuan timbal balik yang telah berlangsung lama.
Pertemuan Jokowi dan Putin ini berlangsung setelah pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Lawatan Jokowi ke Rusia dan Ukraina ini, disebut sebagai misi perdamaian.
Video 2
Gambar kiri berasal dari gambar kanan (sumber: Kantor Kepresidenan Amerika Serikat/The White House)
Pada menit ke-2:40, fragmen video menampilkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden sedang berbicara dengan sekelompok orang. Pada latar belakang terdapat logo Gedung Putih, bendera Amerika Serikat, dan tulisan Building on the Small Business Boom.
Hasil pencarian Tempo menunjukkan bahwa fragmen video ini identik dengan unggahan kanal YouTube The White House. Akun YouTube ini merupakan kanal resmi Kantor Kepresidenan Amerika Serikat.
The White House menuliskan, Presiden Joe Biden bertemu dengan pemilik usaha kecil untuk membahas pertumbuhan bisnis kecil selama pemerintahannya.
Dilansir The Hill, Biden mengatakan bahwa usaha kecil menyumbang lebih dari 40 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS. Usaha kecil juga menciptakan dua pertiga dari pekerjaan baru dan mempekerjakan hampir setengah pekerja sektor swasta.
Pertemuan ini dihadiri oleh Jennifer Arniella dari Unique Crafts by Jenn, Jeff Yerxa, dan Nicolas Cabrera pendiri Lost Sock Roasters, sebuah kafe di Washington, DC, serta Edward Garcia III dan Daniel Trevino, pendiri restoran The Box Street Social di San Antonio.
Foto pertemuan ini diunggah Presiden Joe Biden melalui akun Twitter-nya. Biden menulis “Minggu lalu, saya mengadakan meja bundar dengan pemilik usaha kecil untuk mendengar cerita mereka dan mendiskusikan rencana kami untuk membuka pintu bagi lebih banyak pengusaha. Sayangnya, Partai Republik Kongres memiliki pendekatan yang berbeda. Rencana mereka akan menaikkan pajak pada 6,1 juta pemilik usaha kecil”.
Video 3
Gambar kiri berasal dari gambar kanan (sumber: YouTube AFP News Agency)
Pada menit ke-7:39, fragmen video ini menampilkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden sedang berbincang dengan beberapa orang.
Berdasarkan penelusuran Tempo, fragmen video ini identik dengan unggahan YouTube AFP News Agency tanggal 25 Maret 2022.
Dilansir AFP, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, bertemu para pemimpin Eropa pada KTT darurat NATO, kelompok G7 dan Uni Eropa. Pertemuan ini diselenggarakan sebagai tanggapan atas invasi Rusia yang atas Ukraina.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan Tim Cek Fakta Tempo, video dan narasi Biden makin keterlaluan, Amerika Serikat tuduh Indonesia bekingi Rusia berperang adalah keliru.
Narasi dalam video ini tidak ditemukan dalam pemberitaan media massa yang kredibel, baik nasional maupun internasional. Fragmen dalam video ini diambil dari peristiwa yang berbeda-beda. Beberapa fragmen tidak saling terkait.
Rujukan
- https://fb.watch/gcwasNnOW4/
- https://www.youtube.com/watch?v=GU8gpekvqSI
- https://www.youtube.com/watch?v=-T7QDAwdjyw
- http://en.kremlin.ru/events/president/news/68789
- https://www.youtube.com/watch?v=kk9hHe0Q_bw
- https://thehill.com/news/administration/3470632-biden-touts-small-business-boom-at-white-house-meeting/
- https://twitter.com/POTUS/status/1521148693793099776
- https://www.youtube.com/watch?v=675yX-Xdrjc
- https://wa.me/6281315777057 mailto:cekfakta@tempo.co.id
(GFD-2022-10732) [SALAH] Vaksin Pfizer Mengandung Logam Berat Graphene Oxide
Sumber: FacebookTanggal publish: 17/10/2022
Berita
Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim vaksin Pfizer mengandung logam berat graphene oxide. Kabar tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 7 Oktober 2022.
Klaim vaksin Pfizer mengandung logam berat graphene oxide berupa video yang menampilkan dokumen.
Diberi keterangan sebagai berikut:
"Dokumen internal dari laboratorium Pfizer menjelaskan tentang;
đź’‰ Pfizer dengan ukuran berat 30 mg mengandung material logam berat graphene oxide dengan 15 milyar nanopartikel atau serbuk partikel pembawa lemak"
Klaim vaksin Pfizer mengandung logam berat graphene oxide berupa video yang menampilkan dokumen.
Diberi keterangan sebagai berikut:
"Dokumen internal dari laboratorium Pfizer menjelaskan tentang;
đź’‰ Pfizer dengan ukuran berat 30 mg mengandung material logam berat graphene oxide dengan 15 milyar nanopartikel atau serbuk partikel pembawa lemak"
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim vaksin Pfizer mengandung logam berat graphene oxide, menggunakan Google Search dengan kata kunci 'pfizer contains the heavy metal material graphene oxide'.
Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Pfizer vaccine does not contain graphene oxide" yang dimuat situs apnews.com, pada 9 Juli 2021.
Dalam situs apnews.com, seorang profesor teknik kimia di Massachusetts Institute of Technology Allen Myerson mengatakan tidak mungkin oksida graphene ditemukan dalam vaksin.
"Itu tidak ada dalam daftar bahan dan tidak mungkin ada," kata Allen Myerson.
"Sama sekali tidak masuk akal," kata Dr. Paul Offit, ahli vaksin di Rumah Sakit Anak Philadelphia.
Menurut spesialis penyakit menular Johns Hopkins Dr. Amesh Adalja, ada penelitian tentang potensi penggunaan graphene oxide dalam vaksin lain, tetapi jumlahnya tidak akan menjadi racun bagi sel manusia.
Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "Fact Check-COVID-19 vaccines do not contain graphene oxide" yang dimuat situs reuters.com, dalam artikel tersebut Senior Associate of Global Media Relations Pfizer mengatakan “Grafena oksida tidak digunakan dalam pembuatan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech,”.
Menurut lembar fakta di situs web Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, bahan vaksin Pfizer meliputi: mRNA, lipid, kalium klorida, kalium fosfat monobasa, natrium klorida, natrium fosfat dihidrat dibasa, dan sukrosa. Itu tidak mencantumkan graphene oxide.
Tidak ada vaksin COVID-19 lain yang tersedia di seluruh dunia, diproduksi oleh Moderna , Janssen, AstraZeneca, CanSino, Sinovac dan Sputnik V, mengandung graphene oxide.
Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Pfizer vaccine does not contain graphene oxide" yang dimuat situs apnews.com, pada 9 Juli 2021.
Dalam situs apnews.com, seorang profesor teknik kimia di Massachusetts Institute of Technology Allen Myerson mengatakan tidak mungkin oksida graphene ditemukan dalam vaksin.
"Itu tidak ada dalam daftar bahan dan tidak mungkin ada," kata Allen Myerson.
"Sama sekali tidak masuk akal," kata Dr. Paul Offit, ahli vaksin di Rumah Sakit Anak Philadelphia.
Menurut spesialis penyakit menular Johns Hopkins Dr. Amesh Adalja, ada penelitian tentang potensi penggunaan graphene oxide dalam vaksin lain, tetapi jumlahnya tidak akan menjadi racun bagi sel manusia.
Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "Fact Check-COVID-19 vaccines do not contain graphene oxide" yang dimuat situs reuters.com, dalam artikel tersebut Senior Associate of Global Media Relations Pfizer mengatakan “Grafena oksida tidak digunakan dalam pembuatan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech,”.
Menurut lembar fakta di situs web Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, bahan vaksin Pfizer meliputi: mRNA, lipid, kalium klorida, kalium fosfat monobasa, natrium klorida, natrium fosfat dihidrat dibasa, dan sukrosa. Itu tidak mencantumkan graphene oxide.
Tidak ada vaksin COVID-19 lain yang tersedia di seluruh dunia, diproduksi oleh Moderna , Janssen, AstraZeneca, CanSino, Sinovac dan Sputnik V, mengandung graphene oxide.
Kesimpulan
Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim vaksin Pfizer mengandung logam berat graphene oxide ternyata tidak benar. Graphene oxide tidak digunakan dalam pembuatan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.
Rujukan
(GFD-2022-10744) [SALAH] Video “️joe Biden Ancam Indonesia Akan Hadapi Konsekuensi Mengerikan Ini, Jika Danai Rusia Di Ukraina”
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 17/10/2022
Berita
“Panik‼️joe Biden Ancam Indonesia Akan Hadapi Konsekuensi Mengerikan Ini, Jika Danai Rusia Di Ukraina.”
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan konten yang TIDAK sesuai dengan fakta, sehingga menyebabkan kesimpulan yang MENYESATKAN. Video yang dibagikan TIDAK berkaitan dengan Indonesia. FAKTA: video berisi pembacaan artikel tentang peringatan Amerika ke Tiongkok dengan mengganti “China” menjadi “Indonesia”, “Beijing” menjadi “Jakarta”, dan seterusnya.
Artikel yang dibacakan di video dengan mengganti bagian tertentu, VOA: “Gedung Putih, pada Senin (14/3), memperingatkan bahwa China akan menghadapi “konsekuensi signifikan” jika memutuskan untuk membantu Rusia secara ekonomi atau militer dalam perang yang dilakukannya terhadap Ukraina.”
Salah satu sumber yang digunakan di video, C-SPAN: “President Joe Biden touted his administration’s achievements during a Cabinet meeting marking his first six months in office. He highlighted the coronavirus pandemic response, the economic recovery, and bipartisan infrastructure discussions. The president also pointed to more work that needed to get done on voting rights, immigration, and police reform and crime reduction.”
Artikel yang dibacakan di video dengan mengganti bagian tertentu, VOA: “Gedung Putih, pada Senin (14/3), memperingatkan bahwa China akan menghadapi “konsekuensi signifikan” jika memutuskan untuk membantu Rusia secara ekonomi atau militer dalam perang yang dilakukannya terhadap Ukraina.”
Salah satu sumber yang digunakan di video, C-SPAN: “President Joe Biden touted his administration’s achievements during a Cabinet meeting marking his first six months in office. He highlighted the coronavirus pandemic response, the economic recovery, and bipartisan infrastructure discussions. The president also pointed to more work that needed to get done on voting rights, immigration, and police reform and crime reduction.”
Kesimpulan
MENYESATKAN, TIDAK berkaitan dengan Indonesia. FAKTA: video berisi pembacaan artikel tentang peringatan Amerika ke Tiongkok dengan mengganti “China” menjadi “Indonesia”, “Beijing” menjadi “Jakarta”, dan seterusnya.
Rujukan
- http[1] firstdraftnews.org: “Memahami gangguan informasi” (Google Translate),
- https://bit.ly/3wHx0lO /
- https://archive.md/nb52W (arsip cadangan dengan bahasa asli, English). [2] voaindonesia.com: “Gedung Putih: Jika Bantu Danai Rusia, China akan Hadapi Konsekuensi”,
- https://bit.ly/3CEx60Q /
- https://bit.ly/3gaYSdE (arsip cadangan). [3] c-span.org: “President Biden Cabinet Meeting”,
- https://bit.ly/3ELxk99 /
- https://bit.ly/3TrMTGS (arsip cadangan).
Halaman: 6004/8123




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4190554/original/080670900_1665649656-Pfizer_mengandung_15_miliar_nanopartikel.jpg)
