• (GFD-2024-19343) [SALAH] Uang 10 Juta Via Dompet Digital dari Jusuf Hamka

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 26/04/2024

    Berita

    Khusus yg ga punya rekening sini kumpul 🤗 aku mau bagi bagi uang 10jt/org utk pengguna DANA, OVO, GOPAY, semoga rezeki kamu hari

    Hasil Cek Fakta

    Pada tanggal 23 April 2024 yang lalu ditemukan sebuah unggahan di Facebook yang mengatasnamakan Jusuf Hamka, membagikan sebuah unggahan bahwa ia akan memberikan uang 10 juta via dompet digital seperti Dana, Ovo, dan Gopay.

    Namun, hal ini bukan merupakan klaim yang benar adanya. Beberapa kali turnbackhoax.id juga menemukan unggahan serupa, seperti pada artikel berjudul [SALAH] “Jusuf Hamka berbagi hadiah melalui akun Facebook Jusuf Hamka” dan [SALAH] Jusuf Hamka Bagikan THR Lebaran 2024 di Tiktok.

    Melalui akun Instagram resmi Jusuf Hamka (@jusufhamka), ia membuat sebuah unggahan pada 31 Maret 2023, di unggahan ini ia menjelaskan bahwa akun media sosial Jusuf Hamka hanya ada dua yakni @jusufhamka di Instagram dan @mohjusufhamka_official di Tiktok.

    Melalui penjelasan di akun Instagram Jusuf Hamka tersebut, maka dapat dipastikan jika segala unggahan yang berasal dari akun tiruan yang mengatasnamakan dirinya adalah modus penipuan.

    Kesimpulan

    Tidak benar bahwa Jusuf Hamka membagikan uang melalui dompet digital di Facebook, akun yang mengatasnamakan Jusuf Hamka tersebut dapat diwaspadai sebagai modus penipuan.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19344) Keliru, Narasi bahwa Mendidihkan Air dengan Panci Tertutup Menyebabkan Bahaya Klorin yang Memicu Kanker

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/04/2024

    Berita



    Sebuah narasi beredar di WhatsApp dan akun Facebook ini, ini, dan ini, yang mengatakan mengukus makanan dengan cara mendidihkan air dalam kondisi panci tertutup bisa menimbulkan bahaya, yakni kandungan klorin dalam air tidak keluar yang bisa menyebabkan kanker.

    Air keran diklaim mengandung klorin Tri Hallow Metan (THM) yang bersifat karsinogenik alias bisa menyebabkan kanker. Narasi yang beredar menyatakan klaim itu dari Profesor Qi yang bekerja di rumah sakit Xuanwu, Beijing, Cina. Disebutkan juga bahwa cara mengukus makanan yang aman, harus dilakukan dengan mendidihkan air terlebih dahulu beberapa saat, sambil tutup panci dibuka agar klorin keluar. Setelah itu baru makanan dimasukkan.



    Tempo menerima permintaan pembaca untuk memeriksa kebenaran narasi tersebut. Benarkah mengukus harus mendidihkan air terlebih dahulu dengan tutup panci dibuka, baru memasukkan makanan, agar terhindar dari klorin yang menyebabkan kanker?

    Hasil Cek Fakta



    Dilansir Detik.com, narasi yang sama beredar tahun 2019. Dikatakan bahwa cara mengukus dengan selalu menutup panci bisa menyebabkan klorin terperangkap di dalam dan mencemari makanan.

    Namun, sesungguhnya peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang BRIN, Dr Agus Haryono, MSc, telah menyatakan bahwa narasi tersebut keliru. 

    Ia menuturkan air keran dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) telah melalui serangkaian tahap dan diwajibkan memenuhi standar kesehatan atau keamanan untuk dikonsumsi.

    "Termasuk kandungan klorin atau total senyawa kloridanya tidak boleh melampaui baku mutu batas maksimum. Oleh karena itu tidak perlu menunggu air mendidih sebelum merebus atau mengukus makanan," kata Agus, Rabu, 14 Agustus 2019.

    Narasi yang sama sebelumnya juga sudah beredar pada tahun 2017, sebagaimana diberitakan Jawa Pos. Saat itu, Agus sebagai Plt Kepala LIPI, juga telah membantah klaim tersebut.

    Risiko Klorin

    Kekhawatiran atas bahaya klorin sesungguhnya telah lama beredar di negara-negara barat, sebagaimana dinyatakan Analis Cancerresearchuk.org, Henry Scowcroft, pada 17 Maret 2011. Di sana, narasi beredar dari peneliti yang mengatakan klorin yang terkandung dalam air kolam renang dan air ledeng bisa meningkatkan risiko kanker.

    Namun, menurut Scowcroft, narasi tersebut beredar karena media di sana keliru dalam memberitakan penelitian. Penelitian yang dimaksud ialah yang dilakukan sebuah tim di Spanyol, yang dipimpin Dr Gemma Castaño-Vinyals.

    Mereka menganalisa data dari penelitian sebelumnya, terkait penderita kanker kandung kemih di Spanyol, yang dikumpulkan tahun 1998 sampai 2001. Mereka juga mewawancarai lebih dari seribu orang yang tidak menderita penyakit tersebut, untuk dijadikan data pembanding.

    Termasuk data yang dikumpulkan ialah, air jenis apa yang biasa mereka minum dan bagaimana kebiasaan aktivitas mandi mereka. Informasi latar belakang sosial dan lingkungan tempat tinggal mereka pun dikumpulkan.

    Tim peneliti juga mengumpulkan data dari perusahaan air ledeng Spanyol serta memeriksa kandungan kimia air ledeng mereka. Data-data itu kemudian mereka olah, hingga memunculkan sejumlah kesimpulan.

    Kesimpulan itu di antaranya orang-orang Spanyol yang berpendidikan tinggi tidak terpapar air dan klorin saat minum, melainkan saat mereka mandi. Artinya mereka terpapar klorin melalui kulit saat mandi. Peneliti tidak mengaitkannya secara langsung pada risiko kanker.

    Penyebab Kanker Kandung Kemih

    Klorin merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menjernihkan air ledeng, serta berfungsi sebagai disinfektan untuk mematikan bakteri seperti E. coli atau Giardia yang bisa mengganggu pencernaan. Saat klorin bertemu air, akan memunculkan zat kimia bernama Trihalomethanes (THM).

    Scowcroft menjelaskan kekhawatiran THM turut masuk ke dalam tubuh dan mengganggu kesehatan bisa dipahami. Namun, belum ada bukti kuat yang mendukung klaim THM berbahaya bagi manusia. Jikapun berdampak, efeknya masih sangat kecil.

    Sementara penyebab sakit kanker kandung kemih, dua per tiga di antaranya adalah karena penggunaan tembakau. Konsumsi pewarna makanan dalam jangka waktu lama juga dikatakan bisa menyebabkan timbulnya penyakit tersebut.

    Kesimpulan



    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang beredar yang mengatakan klorin dalam air keran PDAM bisa menyebabkan kanker, sehingga harus dididihkan dulu dengan panci terbuka agar klorinnya menguap sebelum digunakan memasak, adalah klaim keliru.

    Sesungguhnya belum ada bukti kuat pada kekhawatiran penggunaan klorin pada air keran berdampak bahaya pada manusia. Desinfeksi air ledeng menggunakan klorin, dianggap lebih penting untuk mengurangi risiko penyakit pada masyarakat.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19348) [SALAH]: “Pijat jari tangan dan kaki Bisa Atasi Rabun Pada Mata”

    Sumber: FACEBOOK.COM
    Tanggal publish: 26/04/2024

    Berita

    Titik pijat mata ini bermanfaat mengatasi permasalahan pada mata kita, salam sehat.#sehat #kesehatan #mata #rabun

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah unggahan video di media sosial Facebook dengan nama akun “Pesona Alam” dengan narasi pijat jari tangan dan kaki bisa atasi rabun pada mata.

    Setelah melakukan penelusuran, melansir dari Tempo.co pijat pada mata hanya membuat mata yang tadinya capek menjadi ikut segar. Tetapi tidak akan menjadikan mata yang buram bisa melihat jelas lagi.

    Dikutip dari ciputrasmgeyeclinic.com mengenai “Apakah mata minus bisa sembuh dengan cara alami?” ada sejumlah bahan-bahan alami yang dipercaya sebagai obat mata minus herbal. Nyatanya, bahan alami tersebut hanya untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan mata saja. Artinya, tidak serta-merta menyembuhkannya.

    Berdasarkan penjelasan di atas klam tentang pijat jari tangan dan kaki bisa atasi rabun pada mata adalah keliru dan masuk kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Yudho Ardi

    Faktanya, pijat pada mata hanya membuat mata yang tadinya capek menjadi ikut segar. Tetapi tidak akan menjadikan mata yang buram bisa melihat jelas lagi.

    Rujukan

  • (GFD-2024-19349) [SALAH] Gempa di Majene, Sulawesi Barat pada April 2024

    Sumber: SnackVideo.com
    Tanggal publish: 26/04/2024

    Berita

    “hari ini gempa terjadi Majene Sulawesi Barat”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar informasi di Snack Video yang mengklaim telah terjadi gempa di Majene, Sulawesi Barat pada 10 April 2024. Postingan tersebut juga menunjukkan bukti video saat terjadinya gempa yang memperlihatkan sebagian warga panik.

    Namun setelah ditelusuri klaim tersebut menyesatkan. Faktanya pada 8 April 2024 melalui laman resmi Pemprov Sulawesi Barat, Kepala Dinas Kominfo Sulawesi Barat mengonfirmasi bahwa kabar gempa tersebut adalah hoaks. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pemkab Majene melalui Kadis Kominfo SP. Majene dan kabar gempa itu tidak benar,” ungkap Mustari Mula, Kepala Dinas Kominfo Sulawesi Barat.

    Hasil penelusuran video yang dijadikan bukti dalam postingan tersebut menunjukkan bahwa video tersebut merupakan kejadian saat gempa Palu, Sulawesi Tengah pada Oktober 2018 yang sudah lama terpublikasi di YouTube sejak 5 tahun yang lalu.

    Dengan demikian, gempa di Majene, Sulawesi Barat pada April 2024 adalah tidak benar dengan kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Moch. Marcellodiansyah

    Faktanya Kepala Dinas Kominfo Sulawesi Barat telah mengonfirmasi bahwa kabar Gempa di Majene adalah hoaks, video yang dijadikan bukti adalah kejadian saat gempa di Palu, Sulawesi Tengah pada 2018.

    Rujukan