• (GFD-2024-21220) Hoaks Metode Tomat Hijau Stabilkan Gula Darah Secara Instan

    Sumber:
    Tanggal publish: 20/07/2024

    Berita

    tirto.id - Unggahan terkait iklan metode pengobatan alternatif banyak tersebar di dunia maya. Sayangnya, Tirto menemukan bahwa beberapa metode yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit adalah hoaks.

    Baru-baru ini, kami menemukan sebuah unggahan di Facebook yang membahas soal metode tomat hijau sebagai solusi permasalahan diabetes (arsip).

    "100% solusi untuk hidup Anda tanpa diabetes," begitu bunyi pesan unggahan akun "GulaTerkendali" pada 6 Juli 2024 lalu.

    Bersama pesan tersebut tercantum sebuah video pendek dengan narasi dalam video bertuliskan, "Metode tomat hijau mengembalikan kadar gula ke angka ideal 90 mg/dl dalam 5 menit".

    Dalam video juga ditampilkan dr. GM. Silvia. M., Msc memberikan penjelasan mengenai metode tersebut. Namun, terlihat tidak adanya ketidaksinkronan antara gerak mulut dan audio dari konten tersebut.

    Di bagian akhir video, terdapat imbauan untuk menekan tombol di bagian bawah video. Sampai dengan Jumat (19/7/2024), video tersebut telah mengumpulkan lebih dari 69 ribu penonton. Unggahan juga mengumpulkan 639 tanda suka (likes) dan 72 komentar, serta dibagikan ulang setidaknya 33 kali.

    Lalu, bagaimana faktanya? Apakah benar metode tomat hijau dapat menstabilkan gula darah dalam waktu instan?

    Hasil Cek Fakta

    Perlu diketahui, diabetes adalah penyakit gula darah tinggi. Mengutip Halodoc, tanda utama dari penyakit ini adalah meningkatnya kadar gula darah (glukosa) melebihi nilai normal. Adapun kadar gula darah dinyatakan normal ketika kurang dari 100 miligram per desiliter (mg/dL). Kadar gula mencapai 100-125 mg/dL berarti sudah memasuki prediabetes, sedangkan 126 mg/dL ke atas sudah tergolong diabetes.

    Kembali ke video yang tersebar di Facebook. Klaim dari video menyebut kalau metode tomat hijau mengembalikan kadar gula ke angka ideal 90 mg/dl dalam 5 menit. Terkait klaim ini kami mencoba menanyakan ke Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB. Dia dengan tegas menyebut kalau klaim ini hoaks.

    "Hoaks dan tampaknya juga (menggunakan manipulasi) AI," ujarnya ketika dihubungi Tirto, Kamis (18/7/2024).

    Terkait dengan penggunaan manipulasi kecerdasan buatan, kami juga melakukan pemindaian terhadap konten audio dalam unggahan. Mengingat, video juga terlihat mencurigakan karena ketidaksinkronan antara gerak bibir dan audio. Selain itu, terdapat beberapa kata yang juga terdengar tidak jelas pelafalannya seperti, "mg/dL".

    Hasil pemindaian menggunakan perangkat Hive Moderation menyebut konten audio dalam video tersebut kemungkinan besar adalah produksi dari AI. Hive Moderation memberi nilai 100 persen kemungkinan konten tersebut adalah produksi AI.

    Penjelasan dalam video tersebut juga bisa dibilang tidak terarah. Sampai akhir video, kami tidak menemukan penjelasan mengenai metode tomat hijau yang disebut dalam video. Hal ini dapat menimbulkan beragam spekulasi dari pemanfaatan tomat hijau. Hal tersebut juga tergambar dari sejumlah komentar yang mempertanyakan pemanfaatan tomat hijau tersebut.

    Kami juga mencoba mencari video asli dari tayangan yang menunjukkan Dokter Silvia yang dicatut dalam unggahan Facebook tersebut. Menggunakan metode reverse search image dari salah satu fragmen gambar, hasil pencarian Yandex mengarahkan ke foto serupa. Terlihat kalau Dokter Silvia kerap mengisi di kanal Dokter24.

    Pencarian di kanal YouTube Dokter24 mengarahkan ke video berikut, yang menunjukkan Dokter Silvia dengan pakaian dan latar yang sama dengan video yang tersebar di Facebook. Video tersebut berasal dari unggahan 2 Agustus 2019 dan membahas soal penggunaan tisu magic bagi alat kelamin pria. Dalam video tersebut tidak ada bahasan sama sekali soal penyakit diabetes.

    Tirto kemudian mencoba mencari kaitan antara buah tomat secara umum dengan penyakit diabetes. Sebuah artikel yang dimuat di International Journal of Food Properties pada April 2018, yang ditulis oleh Saleem A. Banihani menyebut, sejumlah penelitian pada manusia menunjukkan kalau konsumsi tomat tidak memperbaiki resistensi insulin.

    Resistensi insulin adalah kondisi sel otot, lemak dan hati yang tidak mampu menggunakan insulin secara optimal. Mengutip situs resmi RS Siloam, jika seseorang mengalami resistensi insulin dan tidak mengalami penanganan ada kemungkinan berkembang menjadi diabetes melitus.

    Namun, berdasarkan tulisan tersebut, tomat (segar ataupun dimasak) baik untuk kondisi diabetes karena mengurangi stres oksidatif akibat diabetes, peradangan, percepatan aterosklerosis, dan kerusakan jaringan. Meski begitu, menurut dia, perlu ada penelitian lebih lanjut pada manusia untuk mengetahui dampak buah tomat terhadap kondisi diabetes.

    Beberapa informasi, misalnya dari situs resmi RS Siloam berikut, juga menyebut tomat sebagai salah satu buah penurun gula darah. Tomat disebut mengandung likopen dan anthocyanin yang tergolong sebagai antioksidan.

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan bahwa klaim adanya metode tomat hijau yang dapat menurunkan gula darah dalam waktu lima menit bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Video dan narasi yang tersebar di Facebook tidak memuat informasi apapun soal metode tomat hijau yang disebut dalam video.

    Video yang juga menggunakan audio yang telah dimanipulasi. Dalam versi aslinya, Dokter Silvia tidak membahas apapun soal metode tomat hijau.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21237) Hoaks, KLB Polio Disebabkan Vaksin Polio Tipe-2

    Sumber:
    Tanggal publish: 20/07/2024

    Berita

    tirto.id - Beredar sebuah video di media sosial berisi pernyataan seseorang yang menyebut bahwa pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak justru dapat memicu adanya wabah penyakit polio di Indonesia.

    Lebih lanjut, ia menyebut bahwa di Indonesia sudah lama sekali tidak ada wabah polio. Atas dasar hal tersebut, ia meminta pemerintah untuk secepatnya menghentikan pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak.

    Berikut transkrip pernyataan seseorang tersebut dalam video:

    “Di Indonesia itu sudah lama sekali tidak ada wabah polio. Vaksin hanya diberikan untuk mencegah jika ada wabah, jika tidak ada wabah tidak ada yang perlu dicegah. KLB polio di Indonesia sudah dijelaskan secara detail oleh WHO akibat vaksin polio tipe-2.

    Solusinya adalah menghentikan vaksinasi polio tipe-2 secepatnya dan juga meningkatkan imunitas kita bukan dengan berkali-kali vaksin polio tipe-2 yang justru menyebabkan wabah kembali jika diberikan kepada anak yang tidak sehat.

    Vaksinasi tipe-2 itu yang mana? yang sedang diberikan kembali untuk anak-anak di sekolah-sekolah dan itu adalah vaksin hidup bukan vaksin mati dan itu berpotensi untuk menimbulkan KLB lagi jika diberikan kepada anak yang tidak sehat."

    Video tersebut ditemukan tersebar di sejumlah platfom media sosial seperti Whatsapp dan Instagram. Di Instagram, video tersebut diunggah oleh akun “bougenville_yy503” dan “kOnsp1r4s1.gl0b4l” pada Kamis (18/7/2024) dan Jumat (19/7/2024).

    Sepanjang Kamis (18/7/2024) hingga Sabtu (19/7/2024) atau selama dua hari tersebar di Instagram, salah satu unggahan tersebut telah memperoleh 305 tanda suka, 27 komentar dan telah dibagikan sebanyak 267 kali.

    Lantas, benarkah klaim dalam video tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Pertama-tama, perlu diketahui, menurut laman Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO), polio merupakan penyakit yang sangat menular dan sebagian besar menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen (sekitar 1 dari 200 infeksi) atau kematian (2-10 persen dari yang lumpuh).

    Virus polio ditularkan dari orang ke orang, terutama melalui jalur tinja-oral atau, lebih jarang, melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Virus ini berkembang biak di usus, dari mana ia dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan. Masa inkubasi biasanya 7-10 hari tetapi bisa berkisar antara 4-35 hari. Hingga 90 persen dari mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala atau mengalami gejala ringan dan penyakit ini biasanya tidak terdiagnosis.

    Kembali ke klaim yang tersebar di media sosial. Tirto menelusuri sejumlah klaim yang disebut dalam video tersebut, di antaranya bahwa di Indonesia sudah tidak ada kasus polio dan klaim pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak justru dapat memicu adanya wabah penyakit polio di Indonesia.

    Berdasarkan hasil penelusuran, kami menemukan keterangan resmi dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) yang menyebut bahwa saat ini Indonesia masih dikategorikan sebagai wilayah risiko tinggi penularan polio.

    Pada awal tahun 2024 ini, misalnya, Kemenkes melaporkan adanya temuan tiga kasus lumpuh layuh akut (acute flaccid paralysis) yang disebabkan oleh virus polio tipe-2 yang ditemukan terjadi di Pamekasan dan Sampang, Jawa Timur serta Klaten, Jawa Tengah.

    “Sejak akhir 2022 sampai saat ini telah terjadi beberapa KLB polio di Indonesia. Total ada 12 kasus kelumpuhan, 11 kasus disebabkan oleh virus polio tipe-2 dan satu kasus disebabkan oleh virus polio tipe-1," kata Plt Dirjen P2P Kemenkes, dr. Yudhi Pramono, MARS, dalam acara Temu Media Pekan Imunisasi Polio Nasional 2024, Jumat (19/7/2024).

    Sementara itu, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, M.K.M, menyebut bahwa virus polio dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan permanen terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa virus polio ini sangat menular. Lingkungan yang kotor serta perilaku hidup yang tidak bersih dan sehat merupakan faktor penularan polio.

    “Imunisasi polio lengkap itu diberikan melalui kombinasi dua jenis imunisasi polio, yaitu imunisasi polio tetes dan imunisasi polio suntik. Ini harus dua-duanya diberikan untuk terbentuknya kekebalan yang optimal terhadap virus polio,” ujarnya pada acara yang sama, Jumat (19/7/2024).

    Ia menambahkan, dalam rangka penanggulangan KLB dan pencegahan meluasnya transmisi virus polio di Indonesia, sejumlah pihak, termasuk Komite Imunisasi Nasional (KIN), Komite Ahli Surveilans PD31, WHO, dan UNICEF, justru merekomendasikan adanya pemberian imunisasi tambahan polio secara masal dan serentak di seluruh wilayah.

    Menanggapi rekomendasi tersebut, Prima mewakili Kemenkes mengatakan sebanyak 16,4 juta anak berusia 0-7 tahun, yang tersebar di 27 provinsi, ditargetkan menerima vaksin dalam Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahap 2 yang akan dimulai pada Selasa (23/7/2024).

    “Vaksin yang akan digunakan adalah vaksin polio tetes novel Oral Polio vaccine Type 2 (nOPV2). Vaksin ini memang hanya akan digunakan untuk menanggulangi KLB polio tipe-2,” tambahnya

    Lalu, menanggapi video yang beredar, bahwa pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak justru dapat memicu adanya wabah penyakit polio di Indonesia, Prima menyebut bahwa narasi dalam video tersebut adalah hoaks.

    “Hoaks, imunisasi kan wajib, dan dasar hukumnya UU No.17 tahun 2023 tentang Kesehatan," tambahnya.

    Berdasarkan hasil penelusuran, kami juga tidak menemukan satupun klaim dari WHO yang menyebut bahwa vaksin polio tetes novel Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2) dapat menyebabkan wabah polio. Dikutip dari laman resminya, WHO sendiri pernah menyetujui pemberian vaksin jenis ini kegiatan imunisasi tambahan di Indonesia pada tanggal 15 Januari 2024 dan 19 Februari 2024.

    Lebih lanjut terkait vaksin, WHO menyebut bahwa cakupan vaksinasi yang kurang optimal meningkatkan risiko penularan lebih lanjut dan berdampak pada kesehatan manusia. Menurut catatan WHO, di Kabupaten Klaten, tempat kasus pada tahun 2024 dilaporkan, cakupan untuk empat dosis vaksin polio oral bivalen (bOPV) dan vaksin polio tidak aktif 1 (IPV1) masing-masing adalah 89,8 persen dan 88,6 persen pada tahun 2022. Di Kabupaten Pamekasan, tempat kasus kedua dilaporkan, cakupan untuk bOPV dan IPV1 masing-masing adalah 88,1 persen dan 74,1 persen pada tahun 2022.

    Sebagai tanggapan atas kasus polio baru yang terdeteksi, menurut WHO, beberapa respons kesehatan masyarakat sedang dilakukan.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran fakta yang dilakukan, tidak ditemukan keterangan resmi yang membenarkan klaim bahwa pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak justru dapat memicu adanya wabah penyakit polio di Indonesia.

    Pemberian imunisasi polio melalui vaksin polio tetes novel Oral Polio vaccine Type 2 (nOPV2) sendiri justru direkomendasikan dalam rangka penanggulangan KLB dan dan pencegahan meluasnya transmisi virus polio di Indonesia.

    Lebih lanjut, WHO menyebut bahwa cakupan vaksinasi yang kurang optimal meningkatkan risiko penularan lebih lanjut dan berdampak pada kesehatan manusia.

    Jadi, informasi yang menyebut bahwa pemberian vaksin polio tipe-2 kepada anak-anak justru dapat memicu adanya wabah penyakit polio di Indonesia bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Rujukan

  • (GFD-2024-21334) [SALAH] Anjing Laut Berkepala Sapi

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 19/07/2024

    Berita

    Beredar sebuah postingan dalam bentuk video oleh akun Facebook Lenny Binty Bumin yang menunjukan seekor anjing laut terdampar dan dikerumuni oleh manusia. Namun keanehan dalam video tersebut, anjing lau yang terdampar itu berkepala sapi. Video serupa ditemukan di berbagai media sosial lainnya, dan diklaim ditemukan di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video anjing berkepala sapi tersebut hanya editan semata.

    Dilansir dari Kompas.com, tim cek fakta memeriksa video itu menggunakan Hive Moderation. Hasilnya menunjukkan, video anjing laut berkepala sapi memiliki probabilitas 82,9 persen dibuat dengan AI atau deepfake.

    Ia juga mengutip unggahan artikel Britannica, terdapat 33 spesies pinniped atau mamalia laut berkaki sirip. Kendati demikian, dari 33 spesies tersebut tidak ada yang berkepala sapi.

    Dengan demikian, video anjing laut berkepala sapi tersebut masuk dalam kategori konten palsu.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Arief Putra Ramadhan.

    Video anjing laut berkepala sapi memiliki probabilitas 82,9 persen dibuat dengan AI atau deepfake.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21201) [PENIPUAN] Video dr Zaidul Akbar Promosi Obat Mata

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 19/07/2024

    Berita

    “KEMBALIKAN PENGLIHATAN DALAM 7 HARI
    100% obat alami yang akan menyembuhkan masalah penglihatan!
    Tidak ada efek samping
    SUMBER: https://archive.md/PJW1L (Arsip)

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah iklan di Facebook yang menampilkan dr. Zaidul Akbar sedang mengiklankan sebuah produk obat mata. Video tersebut diunggah oleh akun dengan nama dr. Zaidul Akbar: Energi dan Kesehatan.

    Kami melakukan penelusuran fakta konten tersebut dengan beberapa metode, di antaranya.
    Pertama, kami mengunduh video terlebih dahulu lalu kami pangkas video di 20 detik awal, kemudian mengunggahnya melalui platform “AI-Generated Content Detection” dari hivemoderation.com. Dari pemindaian tersebut, didapatkan hasil bahwa audio tersebut memiliki probabilitas sebesar 99,9%, yang artinya konten tersebut merupakan deepfake buatan AI.

    Metode kedua yang kami lakukan untuk menelusuri fakta dari video tersebut adalah dengan mencari sumber video melalui fitur Google Lens. Kami memulainya dengan mengambil tangkapan layar video, kemudian mengunggahnya di fitur pencarian Google Lens. Hasilnya, didapati sebuah artikel dari laman Tribunnews Banjarmasin yang terbit pada 20 April 2024 berjudul “Tips Sembuh dari Berbagai Penyakit Dibeberkan dr Zaidul Akbar, Ubah Pola Makan Hindari Pangan Ini”.

    Selain itu, kami menelusuri secara manual melalui akun YouTube dr Zaidul Akbar (dr. Zaidul Akbar Official), terdapat beberapa potong video dengan latar yang sama (dr. Zaidul Akbar mengenakan kemeja kotak-kotak dan duduk di kursi warna merah), salah satunya videonya diunggah pada 17 Juli 2023 dengan judul “Kebanyakan Penyebab Penyakit Adalah Makanan”.

    Melalui video di akun resminya dengan judul “Video Mengatasnamakan Saya Diedit Dengan AI”, dr Zaidul Akbar menegaskan bahwa berbagai video iklan produk di medsos yang beredar merupakan hoaks yang mengatasnamakan dirinya yang diedit menggunakan AI.

    “Video ini bukan video saya, dia menggunakan teknologi AI itu untuk memanipulasi suara saya bahkan gerak bibir saya, sehingga ini video yang palsu bukan dari saya, dan tidak ada sangkut pautnya dengan saya” jelas dr Zaidul Akbar.

    Kesimpulan

    Faktanya di akun YouTube resminya, Dr. Zaidul Akbar menegaskan bahwa berbagai video yang menampilkan dirinya sedang mengiklankan produk-produk kesehatan di media sosial merupakan konten buatan AI.

    Rujukan