• (GFD-2025-25017) "Landmark" ikonik Hollywood dilalap api, benarkah?

    Sumber:
    Tanggal publish: 12/01/2025

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) - Muncul sebuah narasi tentang kebakaran papan ikonik Hollywood pada saat masifnya pemberitaan terkait kebakaran hutan yang terjadi di Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

    Dalam beberapa unggahan gambar di media sosial, terlihat api melahap logo ikonik yang jadi salah satu simbol perfilman AS ini.

    Apalagi, tulisan putih di puncak Gunung Lee itu juga terdapat di wilayah yang sama dengan tempat kebakaran hutan hebat yang sudah menjalar hingga sekira 25.000 hektar, yakni Kota Los Angeles.

    Lalu, benarkah logo Hollywood terbakar?



    Hasil Cek Fakta

    Dengan menggunakan Hive Moderation, ANTARA menemukan fakta bahwa gambar api pada tulisan Hollywood itu merupakan buatan AI. Bahkan, unsur AI yang termuat dalam foto di media sosial tersebut berkisar lebih dari 50 persen.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Sejumlah situs pengecek fakta terverifikasi juga telah membantah kabar kebakaran dari papan tanda Hollywood.

    Ketua Hollywood Sign Trust Jeff Zarrinnam mengungkapkan kepada majalah Forbes bahwa landmark tersebut sejauh ini aman. Hollywood Sign Trust merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bertanggungjawab atas pemeliharaan rambu tersebut.

    Departemen Kehutanan dan Perlindungan Kebakaran California menjelaskan meskipun kebakaran di wilayah Los Angeles belum sepenuhnya dapat dipadamkan pada 10 Januari, namun kebakaran Sunset, wilayah yang berada di dekat tanda Hollywood, telah 100 persen padam dan masuk pada wilayah aman, menurut laman pengecek fakta Politifact.

    Sejumlah penelusuran tersebut menandakan bahwa unggahan di media sosial soal kebakaran Hollywood sign adalah palsu atau hoaks.

    Klaim: Logo Hollywood terbakar

    Rating: Hoaks

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2025

    Rujukan

  • (GFD-2025-25018) [SALAH] Big Data Cyber Security Jadi Alat Memata-Matai Percakapan Rakyat

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 12/01/2025

    Berita

    Pada Senin (30/12/2024) akun Facebook “Pian” membagikan narasi [arsip] berisi klaim yang menyebut Big Data Cyber Security (BDCS) Indonesia sudah terpasang untuk memata-matai percakapan masyarakat di internet.

    Berikut narasi selengkapnya :

    “th.Rekan Rekan semua. Menginformasikan,mengingat.Kepada semua agar tidak lupa bahwa sistim Big Data cyber security (BDCS) indonesia sudah Terpasang,menyusul Rencana ,Wantanas Ri (dewan pertahanan nasional ) yang akan mengambil semua informasi melalui internet di Indonesia.

    Artinya segala percakapan kita di cyber social (sara) dan gamabar-gambar pemimpin Negara,lambang Negara serta simbol Negara untuk bahan kartun,guyonan ataupun lelucon lainya.

    Polisi internet melalui tehnik,, internet system Akan menelusuri sumber pengiriman ke group tersebut diharapkan kepada rekan rekan Agar dapat saling mengingatkan dan menghindari hal hal tersebut,jangan sampai kita berurusan dengan polisi internet (cyber crime police) hanya karena ingin bercanda di media sosial

    Semoga kita bisa menggunakan media sosial untuk menyampaikan informasi dalam Bentuk tulisan,Artikel ataupun gambar dengan santun dan beretika semoga bermanfaat.

    Info dari Intel. Silakan cek hp anda masing_masing tekan. *#06# apabila keluar no IMEI saja berarti handphone anda Aman… Jika keluar tulisan IMEI- 01 IMEI/O1..atau IME-02/ IMEI/02… Berarti handphone anda di pantau oleh Intel kepolisian Negara..

    Hati hati bila memposting gambar- gambar atau Broadcasting tentang pejabat atau pemerintah karena setiap no hp baru dan lama secara otomatis di pantau oleh Intel kepolisian Negara.

    Bagi teman- teman yg merasa ada tanda IMEI/01 atau IME/ 02 harap berhati hati,dan memilah postingan anda.Artinya kalau ada kode kode/01 atau / 02 sudah kena sadap ciber crime polri.

    Mari berbagi informasi yg positif.”

    Hingga Minggu (12/1/2025), unggahan mendapat lebih dari 15 tanda suka, 3 komentar dan dibagikan ulang 1 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Disadur dari artikel Cek Fakta Tempo.

    Narasi tersebut telah beredar sejak 2015. Meskipun telah dinyatakan sebagai informasi yang tak berbasis fakta, terdapat sejumlah laporan di mana teknologi spyware dapat digunakan untuk memata-matai warga lewat ponsel.

    Dalam keterangannya pada 2016, Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (sebelumnya bernama Kementerian Komunikasi dan Informatika) menyatakan bahwa teknologi yang dapat mengawasi seluruh percakapan warga di aplikasi tersebut tidak diterapkan oleh pemerintah di Indonesia.

    Sistem yang telah dibangun Indonesia bukan Big Data Cyber Security (BDCS) melainkan Pusat Data Nasional (PDNS) yang merupakan milik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Ini adalah fasilitas yang digunakan untuk penempatan sistem elektronik dan komponen terkait lainnya untuk keperluan penempatan, penyimpanan dan pengolahan data dan pemulihan data.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “Big Data Cyber Security (BDCS) Indonesia sudah terpasang untuk memata-matai percakapan masyarakat di internet” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-25019) Cek Fakta: Virus Zombie Mulai Menyebar di China

    Sumber:
    Tanggal publish: 12/01/2025

    Berita

    Suara.com - Beredar di media sosial sebuah video dengan narasi persebaran virus Zombie dalam sebuah kereta di China.

    Akun Facebook “Aayank Fer” pada Minggu (5/1/2025) mengunggah video dengan narasi sebagai berikut:

    “VIRUS ZOMBIES SEBENAR DI CHINA 2025 MULA MENYEBAR

    THE REAL ZOMBIES VIRUS IN CHINA 2025 START SPREADING”

    Terpantau pada Jumat (10/1/2025), unggahan tersebut telah dilihat lebih dari 149 ribu pengguna Facebook lain dan dibagikan ulang 471 kali.

    Lantas benarkah narasi tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Melansir tim cek fakta Tirto, untuk mengecek konteks asli video yang berseliweran, Tim Tirto awalnya menonton cuplikan secara utuh dan mencoba mengamati detail-detail dalam video.

    Ketika diamati dengan cermat, dalam kereta terlihat beberapa tulisan berbahasa Indonesia, salah satunya “instruksi”, sehingga ini mengindikasikan video ini sepertinya diambil di Indonesia.

    Tirto juga melakukan penelusuran Google dengan kata kunci “video zombie di kereta Indonesia”. Hasilnya, kami menemukan footage identik disiarkan kanal YouTube Tribun Travel pada Agustus 2022.

    Dokumentasi tersebut ternyata tak berkaitan dengan virus zombi di Cina, melainkan wahana bernama “Train to Apocalypse”, yang mengambil lokasi di kereta, di Indonesia.

    Seperti dilaporkan Kompas, Train to Apocalypse diselenggarakan oleh PT Lintas Raya Terpadu (LRT) berkolaborasi dengan event organizer Pandora Box.

    Wahana ini digelar setiap hari, mulai 5 Agustus hingga 11 September 2022. Rute kereta zombie ini bermula dari Stasiun LRT Boulevard Utara, Kelapa Gading, hingga berakhir di Stasiun LRT Velodrome, Rawamangun.

    Ketika menelusuri kata kunci “zombie virus in China” di mesin perambah Google, Tirto menemukan klaim ini juga sudah dinyatakan tidak benar oleh sejumlah lembaga pemeriksa fakta, seperti Factly, PolitiFact, dan AFP.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa unggahan berisi narasi “persebaran virus zombie di China” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
  • (GFD-2025-25007) Sisa kWh akan hangus saat diskon 50 persen PLN berakhir, benarkah?

    Sumber:
    Tanggal publish: 11/01/2025

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di Facebook menarasikan sisa kWh yang terdapat di meteran listrik akan hangus saat program diskon 50 persen PLN akan berakhir pada Februari 2025.

    Sebelumnya, PT PLN (Persero) memastikan paket stimulus ekonomi berupa potongan tarif listrik 50 persen bagi pelanggan daya 2.200 Volt Ampere (VA) ke bawah dapat dinikmati sejak 1 Januari 2025. Sesuai ketetapan pemerintah, program itu akan diberlakukan hingga Februari 2025. Untuk itu pelanggan PLN, khususnya prabayar yang ingin melakukan pembelian token listrik tidak perlu terburu buru karena diskon masih akan berlaku sepanjang bulan.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Yg belom ngisi token listrik jngn banyak*, jngn serakah ya we

    Karna cuma berlaku di February aja, jika masih ada sisa KWH nya bakal hangus..

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Jadi isi seperti biasa aja, kan sayang duit nya nnty udh ngisi Sampek ratusan ribu malah hangus..”

    Namun, benarkah sisa kWh di meteran hangus saat diskon 50 persen PLN berakhir?



    Hasil Cek Fakta

    PLN dalam akun X resminya mengklarifikasi untuk sisa token tidak akan hangus dan masih bisa digunakan, selama tidak terdapat perubahan-perubahan seperti, daya, nama, tarif, data dan sebagainya.

    Diskon diberikan maksimum untuk pemakaian listrik selama 720 jam nyala yaitu untuk konsumen prabayar pembelian maksimal bulanan setara 720 jam nyala, jika melakukan pembelian melebihi 720 jam nyala maka pembelian token (kWh) akan tertolak oleh sistem.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta masyarakat untuk tidak panic buying atau melakukan pembelian secara berlebihan terhadap token listrik di tengah diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah hingga Februari mendatang.

    Ia pun mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menyikapi program diskon tarif listrik yang diberikan untuk pelanggan rumah tangga dengan daya 2.200 Volt Ampere (VA) ke bawah sebagai insentif kenaikan PPN menjadi 12 persen.

    “Belilah token (listrik) sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying walaupun ada diskon listrik. Penghematan yang diperoleh masyarakat dari program diskon tersebut baiknya digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif,” ujar Tulus Abadi, dilansir dari ANTARA.

    Klaim: Sisa kWh di meteran hangus saat diskon 50 persen PLN berakhir

    Rating: Disinformasi

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2025

    Rujukan