• (GFD-2025-26406) Salah, Video Momen Jembatan Citra Raya Tangerang Ambruk

    Sumber:
    Tanggal publish: 04/04/2025

    Berita

    tirto.id - Sebuah video yang diklaim sebagai momen detik-detik ambruknya jembatan yang berlokasi di Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, karena diterjang banjir bandang, beredar di media sosial.

    Klip dalam video tersebut menampilkan sebuah suasana jempatan yang sedang terputus. Nampak ada beberapa orang yang berupaya menyelamatkan diri dari jembatan tersebut. Terlihat juga ada mobil yang terperosok dan tenggelam ke dasar sungai.

    Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Liung Khu” (arsip) pada Sabtu (8/3/2025) dan “Desi Indrayeni”(arsip) pada Kamis (13/3/2025). Akun Instagram bernama “novita_rahmawati_28”(arsip) juga mengunggah narasi yang sama pada Kamis (13/3/2025).

    “Jembatan citra raya Cikupa Tangerang ambruk di terjang banjir bandang,” tulis keterangan takarir unggahan tersebut pada Sabtu (8/3/2025).

    Sepanjang Sabtu (8/3/2025) hingga Kamis (27/3/2025) atau selama 21 hari tersebar di Facebook, salah satu unggahan itu telah memperoleh enam tanda suka dan telah satu kali dibagikan.

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim itu? Benarkah video tersebut menampilkan detik-detik ambruknya jembatan di Tangerang?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto melakukan penelusuran dengan mengamati video itu dari awal hingga akhir. Kami menemukan setidaknya ada beberapa potongan klip yang berbeda dari video itu.

    Dari mulai momen orang yang sedang berupaya menyelamatkan diri dengan cara memanjat jembatan, momen mobil berwarna putih yang terperosok ke sungai hingga momen mobil berwarna hitam yang nampak akan tenggelam ke dasar sungai.

    Kami menemukan sejumlah kejanggalan visual dalam video tersebut, di antaranya pergerakan orang-orang dalam video terkesan tidak natural. Orang-orang yang sedang berjalan menyelamatkan diri nampak berjalan dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Ada juga momen orang yang nampak sedang berjalan di bagian jembatan yang rusak.

    Sejumlah kejanggalan visual itu mengindikasikan bahwa video tersebut adalah video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Untuk membuktikan hal tersebut, kami melakukan penelusuran dengan teknik reverse image search yang bertujuan untuk mengetahui asal usul dan konteks video tersebut.

    Hasilnya, kami menemukan video itu bersumber dari unggahan di kanal youtube bernama “ai headline” dalam tiga video yang berbeda yaitu ini, ini dan ini yang semuanya diunggah pada Februari 2025.

    Menariknya, YouTube melabeli semua video yang berasal dari kanal tersebut sebagai konten hasil modifikasi atau tidak asli. Artinya suara atau visual yang ada dalam video tersebut secara signifikan merupakan hasil suntingan atau dibuat secara digital. Dalam profilnya, kanal YouTube "ai headline" memang menuliskan bahwa konten video yang diunggahnya merupakan hasil suntingan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    "Selamat datang di Chanel ai-headlinehub, konten berita yang disajikan langsung oleh teknologi kecerdasan buatan yang canggih!

    Kami menghadirkan beragam konten berita untuk membantu Anda menjadi lebih waspada, mawas diri, dan siap menghadapi tantangan. Mulai dari peristiwa terkini, perkembangan teknologi, politik global, hingga cerita inspiratif dan fakta-fakta menarik, semuanya disajikan dengan gaya yang segar dan mudah dipahami.

    Konten ini dirancang untuk tujuan edukatif dan hiburan semata. Harap diingat bahwa informasi yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai sumber informasi resmi," tulis channel YouTube ai headline.

    Untuk kembali memastikan bahwa video tersebut dibuat menggunakan AI, Tirto juga menelusuri video itu dengan menggunakan perangkat pemindai AI, Hive Moderation. Hasilnya, Hive Moderation memberikan agregat skor 90,9 persen kemungkinan video tersebut dibuat menggunakan teknologi AI.

    Penelusuran juga dilakukan dengan memasukan kata kunci “Jembatan Ambruk Citra Raya Cikupa Kabupaten Tangerang” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ada satupun informasi dan keterangan resmi yang membenarkan klaim bahwa ada jembatan ambruk di daerah Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

    Penelusuran justru mengarahkan kami ke situs resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menegaskan bahwa video jembatan ambruk di daerah Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang seperti yang beredar di media sosial adalah hoaks.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran fakta menunjukan, video yang diklaim sebagai momen detik-detik ambruknya jembatan yang berlokasi di Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang adalah hasil manipulasi menggunakan kecerdasan buatan.

    Video tersebut berasal dari unggahan YouTube yang telah diberi label sebagai konten hasil modifikasi atau tidak asli. Artinya suara atau visual yang ada dalam video tersebut secara signifikan merupakan hasil suntingan atau dibuat secara digital.

    Jadi, video yang diklaim sebagai momen detik-detik ambruknya jembatan yang berlokasi di Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Rujukan

  • (GFD-2025-26419) [SALAH] Prabowo Teken SK Pemecatan 55 Pejabat Kepala Daerah

    Sumber: tiktok.com
    Tanggal publish: 04/04/2025

    Berita

    Akun TikTok “sriyadicahklaten” mengunggah gambar [arsip] pada Senin (3/3/2025) dengan klaim Presiden Prabowo teken Surat Keputusan (SK) pemecatan 55 pejabat kepala daerah.

    Berikut narasi lengkapnya:

    “Agar Kedepanya Satu Komando, Tidak Ada Pembangkangan Ketika Ada Intruksi Dari Presiden”

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim “Prabowo teken SK pemecatan 55 pejabat kepala daerah” dengan menggunakan Yandex Image Search. Hasilnya, gambar yang diunggah dapat dipastikan merupakan gabungan dari berbagai foto yang berbeda-beda. Nampak dalam gambar sosok Prabowo sedang berpidato. Foto aslinya dapat dilihat pada artikel AntaraNTB. Selain itu nampak juga foto megawati Soekarnoputri yang berasal dari artikel Gelora dan Rano Karno yang berasal dari artikel unggahan Detik.

    TurnbackHoax juga melakukan penelusuran narasi menggunakan mesin pencarian Google dengan kata kunci “Prabowo teken SK pemecatan 55 pejabat kepala daerah”. Hasilnya ditemukan satu unggahan dengan judul yang sama dari kanal Youtube “Kajian Online”.

    Pada video tersebut, tidak ada keterangan yang menyebutkan Prabowo pecat 55 pejabat kepala daerah. Video ini hanya membahas pesan Prabowo kepada kepala daerah terpilih untuk mengikuti kegiatan retret yang dilaksanakan di Akademi Militer, Magelang pada 21-28 Februari 2025.

    Kesimpulan

    Gambar yang diunggah dengan klaim “Prabowo teken SK pemecatan 55 pejabat kepala daerah” adalah konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

  • (GFD-2025-26397) Keliru: Narasi soal Kerusuhan Mei 1998 Tidak Spesifik Menyerang Keturunan Tionghoa

    Sumber:
    Tanggal publish: 03/04/2025

    Berita

    Sebuah narasi beredar di Threads [arsip] yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 1998 di Indonesia tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa. Dikatakan korban kekerasan saat itu 99 persen pribumi.

    Konten tersebut menyebut tidak ada hasil pemeriksaan forensik yang mendukung klaim banyak dari etnis Tionghoa yang menjadi korban di masa itu. Berikut narasi selengkapnya: “Kerusuhan Mei 1998 korban utamanya adalah 99% pribumi. Tidak ada korban spesifik etnis Tionghoa yg dapat ditelusuri otentisitas forensiknya. Jika ada pihak terus menerus framing menghubungkan rusuh Mei 98 sbg kekuatan rekayasa yg dikatakan untuk menargetkan (anti) etnis tertentu…”



    Namun, benarkah narasi yang mengatakan penyerangan dalam kerusuhan Mei 1998 tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa?

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan informasi terkonfirmasi yang didapatkan dari sumber terbuka di internet, terbukti bahwa korban-korban kerusuhan Mei 1998 banyak yang dari etnis Tionghoa. Mereka mengalami pemerkosaan, kekerasan, pembunuhan, serta pencurian dan perusakan harta benda.

    Berikut sumber-sumber informasinya:

    Pada Juli 1998, pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden BJ Habibie, membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada Juli 1998 untuk menyelidiki kerusuhan Mei.

    Tim itu kemudian menghasilkan sekitar 100 lembar laporan berjudul “Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998,” yang dicetak dan diterbitkan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada November 1999. 

    Laporan TGPF menyatakan kerusuhan yang terjadi 13-15 Mei 1998 merupakan dampak dinamika sosial dan politik di periode sebelumnya. Pola kemunculan kerusuhan bervariasi mulai dari yang bersifat spontan, lokal, sporadis, hingga yang terencana dan terorganisir.

    Tim itu mendefinisikan korban kerusuhan Mei 1998 sebagai orang-orang yang telah menderita secara fisik dan psikis karena kerugian fisik/material seperti rumah atau tempat usaha dirusak atau dibakar dan hartanya dijarah. Sejumlah korban meninggal dunia saat terjadinya kerusuhan karena berbagai sebab terbakar, tertembak, teraniaya dan lain-lain. Ada pula yang kehilangan pekerjaan, penganiayaan, penculikan dan kekerasan seksual.

    Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Sedangkan Korban kehilangan pekerjaan dari masyarakat biasa. Korban meninggal versi tim relawan mencapai 1.190 orang, sementara versi Polda dan Kodam Jakarta sekitar 600 orang.

    Jumlah korban perkosaan di Jakarta dan sekitarnya, Medan, serta Surabaya adalah 52 orang. Namun jumlah itu belum mencakup semua korban yang belum terdata. Pola perkosaan yang mencolok dan beberapa kali terjadi adalah pelaku melakukan secara berkelompok dan bergantian pada satu korban (gang rape).

    “Meskipun korban kekerasan tidak semuanya berasal dari etnis Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu diderita oleh perempuan etnis Cina. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial,” tulis laporan itu.

    Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) mempublikasikan data bahwa pada tanggal 6 Mei 1998, kerusuhan di Medan, Sumatera Barat, meluas disertai sentimen rasial yang menyasar keturunan Tionghoa. Hal itu menyebabkan warga keturunan Tionghoa pergi menyelamatkan diri ke hotel-hotel di kawasan Danau Toba yang dijaga ketat oleh petugas keamanan.

    Awal Mula Kerusuhan 1998

    Dilansir Tempo, kerusuhan Mei 1998 didahului demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta Barat, yang menuntut diberlakukannya reformasi di tengah keresahan dan rasa frustasi masyarakat menghadapi krisis moneter 1997-1998. 

    Aksi demonstrasi yang awalnya damai itu berubah menjadi aksi kekerasan fisik di mana empat mahasiswa meninggal dunia karena tertembak atau ditembak. Hal itu meningkatkan kemarahan masyarakat pada Orde Baru yang kemudian menggelar aksi demonstrasi di berbagai daerah.

    Kerusuhan pada tanggal 14 Mei 1998 mulai menyasar warga etnis Tionghoa. Toko-toko mereka dijarah, dirusak, dibakar, bahkan penghuninya turut tewas terbakar. Perempuan-perempuan Tionghoa diserang secara fisik dan seksual. Saat itu juga, beredar narasi bohong yang menyatakan etnis Tionghoa-lah penyebab krisis moneter yang diderita rakyat.

    Satu dekade setelah kerusuhan 1998

    Setelah 10 tahun berlalu, pada tahun 2008 Komnas Perempuan membentuk Tim Pelapor Khusus untuk mendokumentasikan pernyataan dari para korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 yang bersedia menceritakan kembali pengalaman pahit mereka, keluarga, dan para pendamping korban.

    Para korban, keluarga, bahkan tenaga kesehatan yang merawat mereka, mendapat ancaman dan dipaksa untuk tidak membahas kekerasan yang mereka alami di depan publik. Hal itu menyebabkan mereka memutuskan terus bungkam. 

    Di sisi lain, pihak-pihak tertentu mempertanyakan kenapa mereka tidak lapor polisi, bahkan meragukan adanya kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998. Hal ini semakin menyudutkan para korban, karena seolah-olah kasus-kasus itu tak terungkap karena kesalahan mereka juga.

    Dalam program pendokumentasian itu, para korban, keluarga, saksi, pendamping dan petugas kesehatan yang menangani korban menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998, kebanyakan menyasar keturunan Tionghoa.

    Setelah 22 tahun, penelitian Eunike Mutiara Himawan yang saat itu berstatus PhD candidate, The University of Queensland, Australia, melalui survei juga mengungkapkan korban kekerasan Mei 1998 masih terluka batin dan kenangan buruk mereka kerap terpantik saat mendengar adanya kerusuhan lagi.

    Di sisi lain, anggapan sebagian masyarakat yang secara keliru mengatakan penyebab krisis moneter tahun 1997-1998 adalah etnis Tionghoa juga belum hilang. Hal ini juga menghalangi orang-orang keturunan Tionghoa untuk melepas trauma masa kelam tersebut.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan etnis Tionghoa tidak spesifik menjadi korban kerusuhan Mei 1998 adalah klaim yang keliru. 

    Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Demikian juga sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu, diderita oleh perempuan etnis Cina.

    Rujukan

  • (GFD-2025-26398) Tidak Benar Narasi Respon Imun dari Vaksin Sebabkan Keracunan

    Sumber:
    Tanggal publish: 03/04/2025

    Berita

    tirto.id - Media sosial menjadi tempat beropini masyarakat secara bebas, tidak terkecuali terkait isu kesehatan. Hal ini membuat beragam narasi narasi dan teori dari siapapun bisa beredar di internet.

    Tirto menemukan sebuah unggahan di platform X (dulu Twitter) seputar teori kesehatan yang mencurigakan. Unggahan dari akun @blue_berets7 (arsip) pada 12 Maret 2025 lalu, menjabarkan teori yang mengaitkan respon imun dengan reaksi tubuh yang menerima racun.

    “‘Respons imun’ sebenarnya berarti orang tersebut keracunan.

    Carilah asal usul kata "antibody" itu artinya antitoksin.

    ‘Respons imun’ adalah penutup untuk reaksi tubuh terhadap racun,” begitu bunyi cuitan akun tersebut, mengutip seorang lainnya.

    Narasi ini mengaitkan respon imun yang disebut menyebabkan tubuh keracunan tersebut dengan vaksin. Narasi tersebut terdapat dalam gambar dalam unggahan. "Sebuah vaksin 'menyebabkan respons imun yang kuat,' itu berarti peningkatan antibodi, yang berarti Anda diracuni,” begitu bunyi keterangan dalam unggahan gambar dalam unggahan.

    Narasi tersebut memang hanya mendapat sedikit atensi, namun tersebar di berbagai media sosial. Kami menemukan unggahan berikut dari akun Threads @auggy_auggy_ dan di unggahan Facebook "Richard Minick" berikut, yang tersebar beberapa waktu sebelumnya.

    Meski tak banyak mendapat respon dari netizen, narasi soal kesehatan seperti ini dapat menyebabkan dampak kesehatan yang berkepanjangan, sehingga perlu dicek kebenarannya.

    Lalu, benarkah narasi yang mengaitkan respon imun dari vaksin dengan keracunan?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto mencoba membedah narasi yang disampaikan di media sosial soal reaksi imun dari vaksin yang menyebabkan keracunan. Mengutip MedlinePlus, respon imun didefinisikan sebagai cara tubuh mengenali dan mempertahankan diri terhadap bakteri, virus, dan zat yang tampak asing dan berbahaya.

    MedlinePlus adalah situs bagian dari layanan National Library of Medicine (NLM), perpustakaan medis terbesar di dunia, yang merupakan bagian dari National Institutes of Health (NIH).

    Berdasar penjelasan lebih lanjut, sistem imun disebut akan melindungi tubuh dari zat yang berbahaya. Paparan dari berbagai zat berbahaya akan memacu sistem imun atau kekebalan tubuh untuk berkembang dan terbentuk. Vaksinasi menjadi salah satu cara memperoleh kekebalan atau imunisasi tanpa perlu mengalami infeksi dari zat berbahaya terlebih dahulu.

    “Vaksinasi (imunisasi) adalah cara untuk memicu respons imun. Dosis kecil antigen, seperti virus hidup yang sudah mati atau dilemahkan atau bagian dari virus, diberikan untuk mengaktifkan "memori" sistem imun (sel B yang diaktifkan dan sel T yang peka). Memori memungkinkan tubuh Anda bereaksi dengan cepat dan efisien terhadap paparan di masa mendatang,” tulis keterangan dari artikel yang telah di-review oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, David C. Dugdale, MD.

    Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni), Iris Rengganis juga membantah soal narasi yang beredar di media sosial tersebut. Dia menyebut kalau narasi "respons imun" adalah penutup untuk reaksi tubuh terhadap racun tidaklah tepat.

    “Tidak benar, vaksin tidak bikin keracunan,” jawabnya kepada Tirto, Rabu (26/3/2025) lewat pesan singkat. Proses pemberian vaksin adalah dengan memasukan penyebab penyakit yang telah dilemahkan, untuk merangsang sistem kekebalan tubuh.

    Sementara itu Dokter Romsyah Maryam, peneliti di Pusat Riset Veteriner Organisasi Riset Kesehatan, di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan terdapat sistem imun yang adaptif yang menghasilkan antibodi.

    "Antibodi sendiri adalah antinya dari antigen. Apabila ada antigen masuk, otomatis membentuk sistem kekebalan. Antibodi ini merupakan respon imun yang adaptif, contohnya saat pemberian vaksin. Antibodi merupakan immunoglobulin (Ig) sebagai protein berukuran besar yang dapat memberikan respon imun, akan bergerak menetralkan atau mencegah patogen, atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh,” terangnya.

    Antigen sendiri adalah zat yang ada permukaan sel, virus, jamur, atau bakteri. Sistem imun bekerja untuk mengenali dan menghancurkan zat yang mengandung antigen ini.

    Terkait narasi vaksin berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan juga mendapat bantahan dari Pan American Health Organization (PAHO).

    “Meskipun bahan-bahan dalam label vaksin mungkin tampak menakutkan (misalnya merkuri, aluminium, dan formaldehida), bahan-bahan tersebut biasanya ditemukan secara alami dalam tubuh, makanan yang kita makan, dan lingkungan sekitar kita - misalnya, dalam ikan tuna. Jumlahnya dalam vaksin sangat kecil dan tidak akan ‘meracuni’ atau membahayakan tubuh,” tulis informasi dari halaman 'Membongkar Mitos Imunisasi'.

    Organisasi ini juga menyebut, vaksin yang diedarkan telah melalui tahap uji coba ilmiah yang ketat dan panjang serta proses sertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan regulasi negara untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif.

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan narasi respon imun dari vaksin yang menyebabkan keracunan bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Sejumlah ahli kesehatan menjelaskan kalau respon imun dari vaksin bekerja dengan melawan zat berbahaya dalam tubuh. Vaksin memicu respon imun untuk membentuk sistem kekebalan tubuh. Cara kerja vaksin sendiri memasukkan dosis kecil virus yang sudah mati sehingga tidak dapat menyebabkan keracunan.

    Vaksin yang diedarkan juga telah melalui tahap uji coba ilmiah yang ketat dan panjang serta proses sertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan regulasi negara untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif.

    Rujukan