• (GFD-2025-25742) Keliru: Klaim soal Dampak Pemanasan Global dan Potensi Jakarta Tenggelam Hanya Isu

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/02/2025

    Berita

    Sebuah narasi beredar di Instagram [arsip] dan TikTok yang menyatakan bahwa pemanasan global atau perubahan iklim yang berkontribusi pada potensi Jakarta tenggelam hanyalah isu. 

    Isu tersebut diklaim disebarkan agar para pengusaha properti bisa memagari laut dan membangun perumahan mewah di kawasan pantai. 



    Namun, benarkah pemanasan global berdampak pada Jakarta tenggelam hanya isu yang disebarkan untuk kepentingan pengusaha properti?

    Hasil Cek Fakta

    Potensi Jakarta tenggelam bukanlah isu, melainkan telah diteliti oleh banyak pakar. Dua faktor mengapa potensi tersebut terjadi antara lain karena penurunan air tanah dan naiknya permukaan laut. Sehingga keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim, meski terkait langsung dengan potensi tenggelamnya Jakarta, dapat berdampak pada percepatan penanganan pemanasan global.

    Faktor penurunan tanah diteliti oleh oleh Tim dari geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas, di Jakarta Utara setiap tahunnya telah terjadi penurunan permukaan tanah dengan kedalaman mencapai 25 cm.

    Hal itu berarti dalam sepuluh tahun, terjadi penurunan tanah sedalam 2,5 meter di sana. Bila tidak dilakukan upaya pencegahan yang tepat, pada tahun 2050, diperkirakan 95 persen wilayah Jakarta Utara akan terendam air.

    Penurunan tanah tidak hanya terjadi di Jakarta Utara, tetapi di seluruh DKI Jakarta. Jakarta Barat turun sampai 15 cm per tahun. Jakarta Timur, 10 cm setiap tahunnya. Penurunan tanah sedalam 2 cm terjadi di Jakarta Pusat. Sementara, di Jakarta Selatan penurunannya sekitar 1cm per tahun.

    Menurut Heri, penurunan tanah itu akibat penggunaan air tanah dalam secara berlebihan dan terus-menerus. Air tanah dalam adalah air tanah yang terletak di kedalaman sekitar 80 sampai 300 meter di bawah permukaan tanah.

    BBC telah menginvestigasi potensi tenggelamnya Jakarta, salah satunya berdasarkan riset tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB). 

    Faktor kedua karena naiknya permukaan air laut. Dalam riset Hamlington dkk (2024) berjudul The rate of global sea level rise doubled during the past three decades, berdasarkan pengukuran permukaan laut global oleh satelit, ketinggian permukaan laut pada tahun 1993 hingga akhir tahun 2023, telah meningkat sebesar 111 mm. 

    Selain itu, laju kenaikan permukaan laut rata-rata global selama tiga dekade tersebut telah meningkat dari ~2,1 mm/tahun pada tahun 1993 menjadi ~4,5 mm/tahun pada tahun 2023. Jika lintasan kenaikan permukaan laut ini terus berlanjut selama tiga dekade ke depan, permukaan laut akan meningkat sebesar 169 mm secara global, sebanding dengan proyeksi permukaan laut jangka menengah dari IPCC AR6. Kenaikan permukaan laut adalah salah satu indikator perubahan iklim.

    Riset Greenpeace (2021) berjudul “The Projected Economic Impact of Extreme Sea-Level Rise in Seven Asian Cities in 2030”, memetakan potensi dampak kenaikan permukaan air laut tersebut pada 2030 terhadap tujuh kota padat dengan ekonomi besar di Asia, termasuk Jakarta. Berdasarkan skenario yang dibuat oleh riset  tersebut menunjukkan, hampir 17% dari total luas daratan Jakarta berada di bawah level kenaikan air laut jika banjir 10 tahunan terjadi pada tahun 2030. Bagian utara Jakarta paling berisiko terkena banjir akibat kenaikan muka air laut karena memiliki elevasi yang rendah.

    Analisis riset tersebut memproyeksikan bahwa di Jakarta, kenaikan permukaan laut yang ekstrem dan banjir berikutnya pada tahun 2030 dapat membahayakan pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar US$68,20 miliar dan 1,80 juta orang terdampak. 

    Postgraduate student Earth and Environment, University of Leeds, Anistia Malinda Hidayat menjelaskan kenaikan air laut yang salah satu penyebabnya pemanasan global, berpengaruh sangat sedikit pada tenggelamnya Jakarta di masa mendatang.

    “Ada (dampaknya ke Jakarta), tapi sangat kecil jika dibandingkan dengan land subsidence (penurunan tanah). Proyeksi menggunakan pemodelan hidrodinamik yang dilakukan Takagi et al. (2016) menyebutkan jika 88% penyebab perluasan area coastal flood (banjir rob) di Jakarta adalah akibat penurunan tanah, sisanya diakibatkan oleh kenaikan muka laut yang dapat terasosiasi dengan perubahan iklim atau adanya anomali tinggi gelombang pasang,” kata Anistia, Minggu, 9 Februari 2025.

    Dia juga mengatakan, berdasarkan data riil observasi survei dan satelit INSAR, laju penurunan tanah di Jakarta dalam kurun waktu 1974-2010 bervariasi mulai dari 3-10 cm/tahun (Abidin et al, 2015).

    Penyebab penurunan tanah sendiri di wilayah Jakarta bisa dikaitkan dengan 4 hal; Ekstraksi air tanah; beban konstruksi seperti pemadatan tanah dengan tingkat kompresibilitas tinggi akibat padatnya dan 'beratnya' bangunan di atasnya; karakteristik tanahnya, biasanya terkait dengan konsolidasi alami tanah alluvial; dan tektonik.

    “Berdasarkan riset Mas Abidin (tersebut), faktor pertama sampai ketiga yang paling berpengaruh jika menyangkut dengan penurunan tanah di Jakarta. Jadi, memang aktivitas pembangunan di Jakarta yang sejauh ini memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan efek dari pemanasan global itu sendiri,” kata Anistia lagi.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan dampak pemanasan global atau meningkatnya permukaan air laut pada proses Jakarta tenggelam hanya isu adalah klaim yang keliru.

    Rujukan

  • (GFD-2025-25743) Benar: Video yang Memperlihatkan Presiden RI ke-7 Jokowi di Uni Emirat Arab

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/02/2025

    Berita

    Sebuah video beredar di Twitter atau X, Facebook dan Instagram, yang diklaim bahwa Joko Widodo atau Jokowi saat berkunjung ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

    Video itu memperlihatkan Jokowi dan mantan Menteri Pariwisata Wishnutama Kusubandio, serta sejumlah orang berjalan di dalam ruangan mirip pusat perbelanjaan pada 5 Februari 2025.

    Di Twitter, konten itu memantik perdebatan. Sejumlah warganet meyakini bahwa konten itu benar. Sedangkan beberapa akun, menilai video itu hoaks. Kunjungan Jokowi tersebut dipercaya terjadi saat dia masih menjabat sebagai presiden Indonesia. “Ini video ketika Jokowi berkunjung ke Dubai masih jabat Presiden. Lu ga lihat jas yg dipake masih pake peneng bahwa dia Presiden RI. Lu mau buat hoax..,” tulis salah satu akun.



    Namun, benar atau keliru video yang diklaim kunjungan Jokowi ke Abu Dhabi itu terjadi pada 5 Februari 2025?

    Hasil Cek Fakta

    Hasil verifikasi Tempo menunjukkan bahwa video kunjungan Joko Widodo tersebut memang benar terjadi pada 5 Februari 2025, atau setelah Jokowi tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI.

    Dokumentasi kunjungan Jokowi ke Abu Dhabi itu diunggah oleh Kedutaan Besar Indonesia di Abu Dhabi di Instagram @indonesiainabudhabi. Aktivitas itu dikatakan terlaksana pada 5 Februari 2025.



    Publikasi Dubes Indonesia di Abu Dhabi itu memperlihatkan foto yang sama, dari segi ruangan dan orang-orang yang terekam. Kunjungan tersebut berada di hypermarket LULU di Mushrif Mall, Abu Dhabi. Jokowi juga datang ke kantor pusat LULU Group.

    Selain Jokowi, ada CEO LULU Group Mr. Saifee Rupawala yang berdasi merah, dan Duta Besar RI untuk UAE, H.E. Husin Bagis yang berpeci hitam. Mereka melihat rambutan dan produk permen asal Indonesia di sana.

    “Mantan Presiden Joko Widodo memberikan dorongan strategis agar lebih banyak komoditas Indonesia menembus pasar Timur Tengah melalui LULU Group. Beliau juga meninjau hypermarket LULU di Mushrif Mall, melihat langsung produk Indonesia yang telah hadir di rak-rak ritel global,” potongan keterangan dalam unggahan Dubes Indonesia di Abu Dhabi.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan narasi yang mengatakan Jokowi berkunjung ke Abu Dhabi, UEA, pada 5 Februari 2025, adalah klaim yang benar. Hal itu dikonfirmasi akun Instagram Dubes Indonesia untuk Abu Dhabi.

    Rujukan

  • (GFD-2025-25495) Cek Fakta: Video Menara Burj Khalifa Terbakar Ini Merupakan Manipulasi AI

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/02/2025

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial video gedung Burj Khalifa di Dubai sedang terbakar. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 30 Januari 2025.
    Dalam video yang diposting terdapat gedung Burj Khalifa yang sedang terbakar. Orang-orang di sekitar juga tampak sedang mengabadikan peristiwa tersebut kemudian berlari menghindari reruntuhan.
    Akun itu menambahkan narasi:
    "Gak bisa dibayangkan betapa sedihnya mereka. Tidak bisa dibayangkan"
    Lalu benarkah video gedung Burj Khalifa di Dubai sedang terbakar?
    Ikuti Kuis Cek Fakta Liputan6.com di Aplikasi Youniverse dan menangkan saldo e-money jutaan rupiah.
    Caranya mudah:
    * Gabung ke Room Cek Fakta di aplikasi Youniverse
    * Scroll tab ke samping, klik tab “Campaign”
    * Klik Campaign “Kuis Cek Fakta”
    * Klik “Check It Out” untuk mengikuti kuisnya
     
    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan menggunakan website pendeteksi AI, Truemedia.org. Hasilnya video tersebut diduga merupakan manipulasi AI.
    Selain itu kami juga memeriksa melalui Hivemoderation. Hasilnya video tersebut memiliki 96,8 persen dibuat menggunakan AI.
    Di sisi lain, kebakaran memang pernah terjadi di Menara Emaar yang masih satu lingkungan dengan Burj Khalifa pada 7 November 2022 lalu.
    Video selengkapnya bisa dilihat di link berikut ini...

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan


    Video gedung Burj Khalifa di Dubai sedang terbakar adalah hoaks. Video tersebut merupakan hasil manipulasi AI.

    Rujukan

  • (GFD-2025-25499) Cek Fakta: Donald Trump Terjun Langsung Padamkan Kebakaran LA

    Sumber:
    Tanggal publish: 07/02/2025

    Berita

    Suara.com - Beredar di media sosial sebuah unggahan dengan narasi yang memperlihatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang memegang selang pemadam kebakaran.

    Video tersebut diunggah oleh Akun TikTok “rudhin_wokee.1819” pada (18/01/2025), dilengkapi narasi sebagai berikut:

    ”Kelakuan Presiden Trump konyol saat memadamkan api dianggap masalah sepele !!!

    Donald trump: Kebakaran ini bukan apa-apa saya akan membangun Los Angeles lagi”

    Terpantau pada Kamis (06/02/2025), konten tersebut sudah ditonton lebih dari 1.248 kali dan disukai 24 pengguna.

    Lantas benarkah narasi yang disampaikan dalam unggahan tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Dari hasil penelusran fakta ANTARA yang dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) detector, video tersebut merupakan hasil deepfake atau informasi seperti nyata padahal palsu.

    ANTARA menggunakan Hive Moderation AI detector untuk mendeteksi, hasilnya video tersebut 91,3 persen merupakan hasil AI.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa unggahan berisi narasi “Donald Trump bantu padamkan kebakaran di Los Angeles” merupakan konten palsu (fabricated content).