KOMPAS.com - Di media sosial beredar kabar artis Tukul Arwana meninggal dunia. Kabar itu dibagikan sejumlah akun Facebook pada Selasa (25/2/2025).
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar.
Narasi Tukul Arwana meninggal dunia dibagikan oleh akun Facebook ini dan ini pada Selasa (25/2/2025), dan dibagikan akun Facebook ini pada 20 Februari 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
Innalillahi Komedian Tukul Arwana Meninggal Dunia Hari Ini Selepas Sholat,, Khabar Duka Menyelimuti Dunia.. Semoga Khusnul khatimah..
Screenshot Hoaks, Tukul Arwana meninggal dunia pada Selasa (25/2/2025)
(GFD-2025-25883) [HOAKS] Tukul Arwana Meninggal Dunia pada 19 Februari 2025
Sumber:Tanggal publish: 26/02/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri, tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel tentang meninggalnya Tukul Arwana pada Selasa (25/2/2025).
Sebagaimana diberitakan Kompas.com, 3 Januari 2025, kondisi Tukul Arwana terus membaik setelah mengalami pendarahan otak pada 2021.
Putra Tukul Arwana, Ega Prayudi mengatakan, kondisi ayahnya telah membaik meski belum bisa berkomunikasi dengan baik.
"Alhamdulillah untuk kondisi ayah sudah cukup baik," kata Ega.
Ega menuturkan, Tukul Arwana masih dalam proses pemulihan dengan rutin menjalani berbagai macam terapi, seperti terapi bicara dan jalan.
"Hanya saat ini masih menjalankan terapi-terapi saja," tuturnya.
Isu Tukul Arwana meninggal bukan kali ini saja beredar. Kabar meninggalnya Tukul Arwana santer setelah sang komedian mengalami pendarahan otak pada September 2021.
Saat itu, Tukul Arwana tak sadarkan diri lalu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur untuk mendapatkan perawatan.
Pada Mei 2023, Ega Prayudi selaku anak Tukul Arwana mengatakan bahwa keluarga tidak ambil pusing dengan hoaks yang menyebutkan ayahnya meninggal.
“Enggak apa-apa, biar saja yang penting orang tua kami sehat,” kata Ega Prayudi, seperti diberitakan Kompas.com, pada 16 Mei 2023.
Sebagaimana diberitakan Kompas.com, 3 Januari 2025, kondisi Tukul Arwana terus membaik setelah mengalami pendarahan otak pada 2021.
Putra Tukul Arwana, Ega Prayudi mengatakan, kondisi ayahnya telah membaik meski belum bisa berkomunikasi dengan baik.
"Alhamdulillah untuk kondisi ayah sudah cukup baik," kata Ega.
Ega menuturkan, Tukul Arwana masih dalam proses pemulihan dengan rutin menjalani berbagai macam terapi, seperti terapi bicara dan jalan.
"Hanya saat ini masih menjalankan terapi-terapi saja," tuturnya.
Isu Tukul Arwana meninggal bukan kali ini saja beredar. Kabar meninggalnya Tukul Arwana santer setelah sang komedian mengalami pendarahan otak pada September 2021.
Saat itu, Tukul Arwana tak sadarkan diri lalu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur untuk mendapatkan perawatan.
Pada Mei 2023, Ega Prayudi selaku anak Tukul Arwana mengatakan bahwa keluarga tidak ambil pusing dengan hoaks yang menyebutkan ayahnya meninggal.
“Enggak apa-apa, biar saja yang penting orang tua kami sehat,” kata Ega Prayudi, seperti diberitakan Kompas.com, pada 16 Mei 2023.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, Narasi Tukul Arwana meninggal dunia pada Selasa (25/2/2025) adalah hoaks.
Setelah ditelusuri, tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel tentang meninggalnya Tukul Arwana pada Selasa (25/2/2025).
Sebagaimana diberitakan Kompas.com, 3 Januari 2025, kondisi Tukul Arwana terus membaik setelah mengalami pendarahan otak pada 2021.
Setelah ditelusuri, tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel tentang meninggalnya Tukul Arwana pada Selasa (25/2/2025).
Sebagaimana diberitakan Kompas.com, 3 Januari 2025, kondisi Tukul Arwana terus membaik setelah mengalami pendarahan otak pada 2021.
Rujukan
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0UZ9rpp23AfbZJWLaijL3vkbWXgkRbfUEgKTGoptXcNXWsVsZbpfjbBjH7hntrnwwl&id=61573557963048
- https://www.facebook.com/groups/188982737556116/posts/517110731409980
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02V4RLWfkNhT8o9eidWny7T5iD5DhgNu6ZdSfn7rHpertRjXJkuZYV7VZh16bAEqYbl&id=100090569007956
- https://www.kompas.com/hype/read/2025/01/03/132338666/kondisi-terkini-tukul-arwana-masih-jalani-terapi-bicara-dan-jalan
- https://www.kompas.com/hype/read/2023/05/16/141150766/kerap-muncul-hoaks-tukul-arwana-meninggal-keluarga-angkat-bicara
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2025-25849) Cek Fakta: Tautan Pembuatan SIM hingga STNK Gratis
Sumber:Tanggal publish: 26/02/2025
Berita
Suara.com - Beredar di media sosial sebuah unggahan berisi link atau tautan untuk pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) serta STNK gratis.
Tautan itu dibagikan oleh Akun Facebook “Samsat Online Nasional” pada Selasa (4/2/2025) disertai informasi berikut:
“GRATIS Pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi(SIM) dan perpanjangan STNK gratis khusus untuk permohonan yang diajukan pada FEBRUARI 2025. KLIK https://daftarkan[dot]info/simstnkgratis/”
Terpantau pada hari Senin (24/2/2025) unggahan tersebut telah disukai oleh 1.000 pengguna dan menuai hampir 100 komentar.
Lantas benarkah narasi yang disampaikan?
Tautan itu dibagikan oleh Akun Facebook “Samsat Online Nasional” pada Selasa (4/2/2025) disertai informasi berikut:
“GRATIS Pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi(SIM) dan perpanjangan STNK gratis khusus untuk permohonan yang diajukan pada FEBRUARI 2025. KLIK https://daftarkan[dot]info/simstnkgratis/”
Terpantau pada hari Senin (24/2/2025) unggahan tersebut telah disukai oleh 1.000 pengguna dan menuai hampir 100 komentar.
Lantas benarkah narasi yang disampaikan?
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Suara.com menelusuri narasi yang disampaikan dengan memasukkan kata kunci “Cara pembuatan STNK dan BPKB” pada kolom pencarian Google.
Dari penelusuran itu, muncul artikel berjudul “Biaya Pembuatan BPKB dan STNK Baru untuk Mobil dan Motor” dari laman astraotoshop.com.
Berdasarkan informasi yang didapat dari artikel itu, diketahui bahwa pembuatan STNK dan BPKB baru perlu mengunjungi langsung ke Samsat serta membawa kendaraan yang akan didaftarkan untuk dilakukan cek fisik kendaraan.
Sementara itu, melansir dari kompas.com, proses perpanjangan STNK tahunan secara online hanya dilakukan melalui SIGNAL. Sedangkan untuk perpanjangan STNK 5 tahunan pemilik kendaraan perlu datang ke kantor samsat agar kendaraan dapat dilakukan pengecekan fisik.
Terkait biaya, kedua artikel tersebut juga memberikan keterangan bahwa proses pembuatan STNK dan BPKB tetap dikenakan biaya alias tidak gratis seperti yang dinarasikan pada unggahan tersebut.
Ketika dilakukan penelusuran mengenai cara membuat SIM di Google, ditemukan jawaban yang menyebut proses pembuatan SIM secara online hanya dilakukan melalui aplikasi Digital Korlantas.
Penelusuran dilanjutkan dengan mengeklik tautan yang disebarkan akun Facebook “Samsat Online Nasional”. Faktanya, tautan tersebut tidak mengarah ke laman resmi Samsat, Korlantas, atau laman resmi milik pemerintah lainnya. Tautan tersebut mengarah pada kolom pengisian data untuk masuk akun Telegram.
Dari penelusuran itu, muncul artikel berjudul “Biaya Pembuatan BPKB dan STNK Baru untuk Mobil dan Motor” dari laman astraotoshop.com.
Berdasarkan informasi yang didapat dari artikel itu, diketahui bahwa pembuatan STNK dan BPKB baru perlu mengunjungi langsung ke Samsat serta membawa kendaraan yang akan didaftarkan untuk dilakukan cek fisik kendaraan.
Sementara itu, melansir dari kompas.com, proses perpanjangan STNK tahunan secara online hanya dilakukan melalui SIGNAL. Sedangkan untuk perpanjangan STNK 5 tahunan pemilik kendaraan perlu datang ke kantor samsat agar kendaraan dapat dilakukan pengecekan fisik.
Terkait biaya, kedua artikel tersebut juga memberikan keterangan bahwa proses pembuatan STNK dan BPKB tetap dikenakan biaya alias tidak gratis seperti yang dinarasikan pada unggahan tersebut.
Ketika dilakukan penelusuran mengenai cara membuat SIM di Google, ditemukan jawaban yang menyebut proses pembuatan SIM secara online hanya dilakukan melalui aplikasi Digital Korlantas.
Penelusuran dilanjutkan dengan mengeklik tautan yang disebarkan akun Facebook “Samsat Online Nasional”. Faktanya, tautan tersebut tidak mengarah ke laman resmi Samsat, Korlantas, atau laman resmi milik pemerintah lainnya. Tautan tersebut mengarah pada kolom pengisian data untuk masuk akun Telegram.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa unggahan berisi tautan “layanan gratis pembuatan atau perpanjangan SIM hingga STNK” merupakan konten tiruan (impostor content).
(GFD-2025-25852) Tidak Benar Siswa SD di Papua Selatan Meninggal Keracunan MBG
Sumber:Tanggal publish: 26/02/2025
Berita
tirto.id - Beredar di media sosial, sebuah unggahan yang mengeklaim ada siswa sekolah dasar (SD) dari Korowai, Kampung Kabuwage, Papua, yang meninggal dunia akibat keracunan makanan program makan bergizi gratis (MBG) dari pemerintah.
Dalam unggahan yang beredar, disertakan juga foto yang memperlihatkan seorang anak yang mengenakan seragam SD sedang terbaring kaku. Ada juga foto yang memperlihatkan sejumlah siswa berseragam SD yang nampak sedang berbaring di dalam kelas.
Dalam keterangannya disebutkan bahwa anak tersebut meninggal akibat keracunan makanan setelah mengonsumsi makanan pada program MBG.
Narasi tersebut diunggah oleh sejumlah akun di Facebook, di antaranya “Nabi”(arsip), “Ini Roy Pak”(arsip) pada Rabu (19/2/2025), serta “Timo” pada Jumat (21/2/2025). Unggahan serupa juga ditemukan di akun instagram “hunduickelmont”(arsip) pada Selasa (17/2/2025).
“Ternyata ini akibat makanan siang bergizi gratis mematikan secara sistematis dan berlangsung,” bunyi keterangan takarir salah satu akun tersebut.
Sepanjang Rabu (19/2/2025) hingga Selasa (25/2/2025) atau selama enam hari tersebar di Facebook, salah satu unggahan tersebut telah merah 16 reaksi dari warganet. Meski begitu, klaim ini pantas diperiksa karena menyebut program yang sedang berlangsung dan melibatkan banyak anak di Indonesia.
Lantas, benarkah klaim yang menyebut ada siswa SD di Papua yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG?
Dalam unggahan yang beredar, disertakan juga foto yang memperlihatkan seorang anak yang mengenakan seragam SD sedang terbaring kaku. Ada juga foto yang memperlihatkan sejumlah siswa berseragam SD yang nampak sedang berbaring di dalam kelas.
Dalam keterangannya disebutkan bahwa anak tersebut meninggal akibat keracunan makanan setelah mengonsumsi makanan pada program MBG.
Narasi tersebut diunggah oleh sejumlah akun di Facebook, di antaranya “Nabi”(arsip), “Ini Roy Pak”(arsip) pada Rabu (19/2/2025), serta “Timo” pada Jumat (21/2/2025). Unggahan serupa juga ditemukan di akun instagram “hunduickelmont”(arsip) pada Selasa (17/2/2025).
“Ternyata ini akibat makanan siang bergizi gratis mematikan secara sistematis dan berlangsung,” bunyi keterangan takarir salah satu akun tersebut.
Sepanjang Rabu (19/2/2025) hingga Selasa (25/2/2025) atau selama enam hari tersebar di Facebook, salah satu unggahan tersebut telah merah 16 reaksi dari warganet. Meski begitu, klaim ini pantas diperiksa karena menyebut program yang sedang berlangsung dan melibatkan banyak anak di Indonesia.
Lantas, benarkah klaim yang menyebut ada siswa SD di Papua yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG?
Hasil Cek Fakta
Pertama-tama, Tim Riset Tirto menelusuri lokasi Kampung Kabuwage, lokasi yang diklaim terdapat siswa SD yang meninggal akibat keracunan makanan dari program MBG. Hasilnya, kami menemukan bahwa wilayah tersebut masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.
Tirto lalu melakukan verifikasi terhadap klaim ini dengan memasukan kata kunci “Siswa SD di Kampung Kabuwage, Boven Digoel, Meninggal Akibat Keracunan Makanan Program MBG” ke mesin pencarian Google.
Hasilnya, kami menemukan pernyataan dari Sekretaris Daerah Kabupaten Boven Digoel, Pilemon Tabuni, yang membantah informasi adanya siswa SD meninggal di wilayahnya akibat keracunan makanan dari program MBG. Hal ini disebabkan, Boven Digoel saat ini belum menjalankan program MBG.
“Informasi yang beredar tentang meninggalnya siswa karena mengonsumsi makanan bergizi gratis adalah hoaks,” jelas Pilemon Tabuni, Kamis (20/2/2025) dikutip dari RRI.
Ia menjelaskan, bahwa saat ini program MBG di Boven Digoel masih dalam tahap persiapan infrakstruktur. Pemda Boven Digoel juga masih juga masih melakukan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk melakukan pendataan sekolah yang ada di wilayah Boven Digoel.
Sementara itu, melalui keterangan dalam akun Instagram resminya, Kodam XVII/Cenderawasih menyebut klaim bahwa ada siswa SD di Papua yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG adalah tidak benar.
Berdasarkan penelusuran Kodam Cenderawasih, siswa SD yang nampak sedang terbaring kaku seperti dalam foto yang beredar adalah ERM (13 tahun) yang meninggal dunia pada 17 Februari 2025. Namun, penyebab meninggal dunianya anak tersebut bukan karena program MBG, karena di wilayah tersebut belum berjalan program MBG.
"Saat ini penyebab meninggalnya karena hal lain yang masih dalam proses penyelidikan Polres Boven Digoel," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Candra Kurniawan, S.E.,M.M. Kamis (20/2/2025).
Pun, Candra mengungkap, di Kabupaten Boven Digoel tidak ada kampung Kubuwage seperti yang disebut di unggahan media sosial, yang ada adalah kampung Kabuwage di Distrik Firiwage.
Sementara itu, terkait foto lain dalam unggahan klaim yang memperlihatkan sejumlah siswa berseragam SD yang nampak sedang berbaring di dalam kelas, Tirto menemukan bahwa foto itu identik dengan foto yang diunggah media Suara Merdeka Pantura pada Selasa (9/8/2022).
Konteks asli foto tersebut adalah potret sejumlah siswa SD Slawi Wetan 01, yang diduga mengalami keracunan jajanan sekolah dalam bentuk makarno telor (maklor), pada Senin (8/8/2022). Para siswa ini kemudian mendapat penanganan dari Puskesmas Slawi dan PSC 119 Dinkes Kabupaten Tegal.
Selebihnya, hingga Selasa (25/2/2025) atau saat artikel periksa fakta ini ditulis, kami tidak menemukan adanya informasi atau keterangan resmi yang membenarkan klaim bahwa ada siswa SD di Boven Digoel, Papua Selatan yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG.
Tirto lalu melakukan verifikasi terhadap klaim ini dengan memasukan kata kunci “Siswa SD di Kampung Kabuwage, Boven Digoel, Meninggal Akibat Keracunan Makanan Program MBG” ke mesin pencarian Google.
Hasilnya, kami menemukan pernyataan dari Sekretaris Daerah Kabupaten Boven Digoel, Pilemon Tabuni, yang membantah informasi adanya siswa SD meninggal di wilayahnya akibat keracunan makanan dari program MBG. Hal ini disebabkan, Boven Digoel saat ini belum menjalankan program MBG.
“Informasi yang beredar tentang meninggalnya siswa karena mengonsumsi makanan bergizi gratis adalah hoaks,” jelas Pilemon Tabuni, Kamis (20/2/2025) dikutip dari RRI.
Ia menjelaskan, bahwa saat ini program MBG di Boven Digoel masih dalam tahap persiapan infrakstruktur. Pemda Boven Digoel juga masih juga masih melakukan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk melakukan pendataan sekolah yang ada di wilayah Boven Digoel.
Sementara itu, melalui keterangan dalam akun Instagram resminya, Kodam XVII/Cenderawasih menyebut klaim bahwa ada siswa SD di Papua yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG adalah tidak benar.
Berdasarkan penelusuran Kodam Cenderawasih, siswa SD yang nampak sedang terbaring kaku seperti dalam foto yang beredar adalah ERM (13 tahun) yang meninggal dunia pada 17 Februari 2025. Namun, penyebab meninggal dunianya anak tersebut bukan karena program MBG, karena di wilayah tersebut belum berjalan program MBG.
"Saat ini penyebab meninggalnya karena hal lain yang masih dalam proses penyelidikan Polres Boven Digoel," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Candra Kurniawan, S.E.,M.M. Kamis (20/2/2025).
Pun, Candra mengungkap, di Kabupaten Boven Digoel tidak ada kampung Kubuwage seperti yang disebut di unggahan media sosial, yang ada adalah kampung Kabuwage di Distrik Firiwage.
Sementara itu, terkait foto lain dalam unggahan klaim yang memperlihatkan sejumlah siswa berseragam SD yang nampak sedang berbaring di dalam kelas, Tirto menemukan bahwa foto itu identik dengan foto yang diunggah media Suara Merdeka Pantura pada Selasa (9/8/2022).
Konteks asli foto tersebut adalah potret sejumlah siswa SD Slawi Wetan 01, yang diduga mengalami keracunan jajanan sekolah dalam bentuk makarno telor (maklor), pada Senin (8/8/2022). Para siswa ini kemudian mendapat penanganan dari Puskesmas Slawi dan PSC 119 Dinkes Kabupaten Tegal.
Selebihnya, hingga Selasa (25/2/2025) atau saat artikel periksa fakta ini ditulis, kami tidak menemukan adanya informasi atau keterangan resmi yang membenarkan klaim bahwa ada siswa SD di Boven Digoel, Papua Selatan yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta yang dilakukan, tidak ditemukan keterangan resmi yang membenarkan klaim bahwa ada siswa SD di Boven Digoel, Papua Selatan yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG.
Program MBG sendiri belum dijalankan di Kabupaten Boven Digoel. Jadi, informasi yang menyebut bahwa ada siswa SD di Boven Digoel, Papua Selatan yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Program MBG sendiri belum dijalankan di Kabupaten Boven Digoel. Jadi, informasi yang menyebut bahwa ada siswa SD di Boven Digoel, Papua Selatan yang meninggal dunia akibat keracunan makanan dari program MBG bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Rujukan
- https://web.facebook.com/cepa.alfin/posts/pfbid023Fuots8xNcUbtStWbf41nLMpz1YagVb9dsps3AFMu5ncQiGCP1Dv93EgC23ayE4zl?_rdc=1&_rdr#
- https://archive.ph/QXI9T
- https://web.facebook.com/hery.sakan/posts/pfbid0CjMHRtJmdWonKL5e2GFkKN158MMAKvtcr4g5KfGMj661rYBJVBtVa7FyWjaDrxqNl?rdid=Q82l5bGJbAC3702A#
- https://archive.ph/weYJE
- https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0NiAUJ2QHzUNE3E8Q2d1sP31e1fVkovoMnq7a59gtp5kH1RzvAViZKQQ1xo7sR392l&id=61566406073746&rdid=T0sUIGkZ3xofT04x#
- https://www.instagram.com/hunduickelmont/p/DGN8GnyvDWB/?img_index=1
- https://archive.ph/eOsCd
- https://rri.co.id/daerah-3t/1338493/kabar-siswa-meninggal-akibat-konsumsi-mbg-dipastikan-hoaks
- https://www.instagram.com/kodam17/p/DGRP-vszINY/?img_index=1
- https://pantura.suaramerdeka.com/pantura-raya/pr-064092403/33-siswa-sd-slawi-wetan-010203-keracunan-maklor
(GFD-2025-25853) Keliru: Video Guru SMP di Grobogan yang Berciuman dengan Siswanya
Sumber:Tanggal publish: 26/02/2025
Berita
Sebuah video yang diklaim sebagai wajah guru SMP perempuan di Grobogan, Jawa Tengah, yang diduga melakukan kekerasan seksual pada muridnya, beredar di Facebook [arsip].
Pada bagian awal video, guru dan siswa itu berjoget di depan kamera. Kemudian, keduanya berciuman. Berikut bunyi narasinya: “Guru agama dan murid selama dua tahun melakukan hubungan yang tak pantas. Bu Siti guru agama dan muridnya di Grobogan sungguh tidak pantas. Seperti ini dilakukan guru agama dan muridnya.”
Namun, benarkah video itu menampilkan guru SMP Grobogan yang diduga sebagai pelaku kekerasan seksual pada siswanya?
Pada bagian awal video, guru dan siswa itu berjoget di depan kamera. Kemudian, keduanya berciuman. Berikut bunyi narasinya: “Guru agama dan murid selama dua tahun melakukan hubungan yang tak pantas. Bu Siti guru agama dan muridnya di Grobogan sungguh tidak pantas. Seperti ini dilakukan guru agama dan muridnya.”
Namun, benarkah video itu menampilkan guru SMP Grobogan yang diduga sebagai pelaku kekerasan seksual pada siswanya?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, video tersebut bukan ST (35), guru SMP di Grobogan yang diduga melakukan kekerasan seksual pada siswanya. Video tersebut mencomot dari video lain, yang di bagian akhirnya diubah dengan kecerdasan buatan sehingga guru dan murid terlihat berciuman.
Guru perempuan yang berjoget dalam video itu adalah Ita Rohayati, yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP N 1 Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah. Ita telah membuat video klarifikasi tentang videonya banyak dibagikan di media sosial dengan narasi yang keliru.
Video klarifikasi tersebut diunggah Ita lewat akun TikToknya, itha.er29. Namun video tersebut sudah dihapus. Tempo menemukan sejumlah warganet lain telah membagikan ulang video klarifikasi tersebut. Salah satunya dibagikan oleh akun ini dan ini di Facebook. Di video klarifikasi itu, Ita mengatakan: “Saya bukan guru yang viral itu. Saya bernama ita Rohayati, saya mengajar di SMPN 1 Bantarkawung, Brebes.”
Dengan mencocokkan dua gambar, terlihat kesamaan wajah, bentuk kacamata, dan label nama yang disematkan di bagian jilbab.
Pada video kedua di bagian akhir, saat guru dan murid terlihat berciuman adalah rekayasa dengan kecerdasan buatan. Hal itu bisa diketahui dengan adanya kejanggalan secara visual, yakni perbedaan di bagian baju seragam siswa dalam video saat sedang berjoget dan berciuman.
Saat berjoget, seragam di dada siswa memperlihatkan label nama. Namun saat berciuman berubah menjadi badge atau logo sekolah. Bentuk yang tidak inkonsisten seperti ini menjadi salah satu ciri bahwa sebuah konten dibuat dengan kecerdasan buatan atau deepfake.
Selain itu, dilakukan pengujian dengan cara memindai tangkapan layar video saat keduanya berciuman, menggunakan aplikasi Wasitai.com, didapati kesimpulan konten tersebut mengandung elemen AI atau dibuat menggunakan AI.
Guru perempuan yang berjoget dalam video itu adalah Ita Rohayati, yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP N 1 Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah. Ita telah membuat video klarifikasi tentang videonya banyak dibagikan di media sosial dengan narasi yang keliru.
Video klarifikasi tersebut diunggah Ita lewat akun TikToknya, itha.er29. Namun video tersebut sudah dihapus. Tempo menemukan sejumlah warganet lain telah membagikan ulang video klarifikasi tersebut. Salah satunya dibagikan oleh akun ini dan ini di Facebook. Di video klarifikasi itu, Ita mengatakan: “Saya bukan guru yang viral itu. Saya bernama ita Rohayati, saya mengajar di SMPN 1 Bantarkawung, Brebes.”
Dengan mencocokkan dua gambar, terlihat kesamaan wajah, bentuk kacamata, dan label nama yang disematkan di bagian jilbab.
Pada video kedua di bagian akhir, saat guru dan murid terlihat berciuman adalah rekayasa dengan kecerdasan buatan. Hal itu bisa diketahui dengan adanya kejanggalan secara visual, yakni perbedaan di bagian baju seragam siswa dalam video saat sedang berjoget dan berciuman.
Saat berjoget, seragam di dada siswa memperlihatkan label nama. Namun saat berciuman berubah menjadi badge atau logo sekolah. Bentuk yang tidak inkonsisten seperti ini menjadi salah satu ciri bahwa sebuah konten dibuat dengan kecerdasan buatan atau deepfake.
Selain itu, dilakukan pengujian dengan cara memindai tangkapan layar video saat keduanya berciuman, menggunakan aplikasi Wasitai.com, didapati kesimpulan konten tersebut mengandung elemen AI atau dibuat menggunakan AI.
Kesimpulan
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa video guru dan murid berjoget yang disebut sebagai ST, guru agama yang diduga melakukan kekerasan seksual pada murid laki-laki di salah satu SMP di Grobogan, Jawa Tengah, adalah keliru.
Rujukan
- https://www.facebook.com/watch/?ref=search&v=1815034882581652&external_log_id=aaf28f5d-7c8c-4bbc-b3de-f3cb5d83dd1f&q=guru%20grobogan
- https://mvau.lt/media/fa0cbdd9-dbf6-4c58-8295-23303e729bf3
- https://www.facebook.com/100024020262891/videos/pcb.1833477077462950/604794908813442
- https://www.facebook.com/reel/1061107982680831
- https://wasitai.com/ /cdn-cgi/l/email-protection#83e0e6e8e5e2e8f7e2c3f7e6eef3ecade0ecadeae7
Halaman: 2050/7907




