• (GFD-2025-26966) [KLARIFIKASI] Tidak Benar Satpol PP Akan Paksa Warga Uji Coba Vaksin TBC

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar narasi yang mengeklaim Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP bakal dikerahkan untuk memaksa masyarakat menerima suntikan vaksin TBC.

    Narasi itu beredar setelah pemerintah mengumumkan kerja sama dengan Bill Gates untuk menjadikan Indonesia lokasi uji klinis vaksin TBC yang dikembangkan Gates Foundation.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut keliru dan informasinya perlu diluruskan.

    Narasi yang mengeklaim Satpol PP akan dikerahkan untuk memaksa masyarakat menerima vaksin TBC dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Senin (12/5/2025).

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Hati hati....*INILAH AGENDA MANDATORI VAKSIN 2025 BUATAN BILL GATES YANG DITOLAK OLEH NEGARA2 TAPI DISAMBUT BAIK OLEH PRABOWO... MANTAAAP PAK, JADIKAN RAKYATMU MENJADI KELINCI PERCOBAAN*

    Prabowo akan melakukan pemaksaan dengan cara" licikAgar rakyat tdk bisa melakukan aktivitas jika belum di Vaksin TBCatau mempersulit kebutuhan rakyat nya jika suntik vaksin TBC blm di lakukanBajingan bukan ...?!!

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, narasi itu mencatut artikel Kumparan, 9 Mei 2025. Artikel itu memberitakan rencana Kemenkes melibatkan Satpol PP untuk screening warga TBC.

    Tindakan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kasus TBC, bukan untuk memaksa warga disuntik vaksin TBC.

    Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, setiap tahunnya yang mengalami penyakit TBC atau tuberkulosis di Indonesia berjumlah satu juta.

    Sementara pasien yang meninggal dunia karena TBC sebanyak 125.000. Sehingga, setiap menitnya ada 4 orang yang meninggal dunia.

    Guna mengantisipasi peningkatan kasus TBC, screening atau pemeriksaan diperlukan secara menyeluruh, baik pasien TBC yang menunjukkan gejala ataupun tidak bergejala.

    Budi berencana untuk melibatkan Satpol PP dalam melakukan screening kepada warga untuk mencegah penularan TBC.

    Terkait pengembangan vaksin TBC oleh Gates Foundation, Kemenkes dalam pemberitaan Kompas.com menyebutkan uji klinis di Indonesia sudah dilaksanakan sejak 3 September 2024.

    Sejauh ini 2.095 warga Indonesia tercatat sebagai partisipan dari total 20.081 orang dari lima negara lokasi uji klinis. Adapun perekrutan peserta berakhir pada 16 April 2025.

    Merujuk pernyataan Kemenkes tersebut, uji coba vaksin TBC ini dilakukan dengan partisipan terbatas. Uji coba bukan dilakukan terhadap seluruh masyarakat Indonesia.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi yang mengeklaim Satpol PP akan dikerahkan untuk memaksa masyarakat menerima vaksin TBC adalah informasi keliru.

    Menkes Budi Gunadi Sadikin melibatkan Satpol PP dalam melakukan screening kepada warga untuk mencegah penularan TBC, bukan untuk memaksa warga disuntik vaksin TBC.

    Selain itu, uji coba vaksin TBC yang dikembangkan Gates Foundation di Indonesia dilakukan dengan partisipan terbatas. Uji coba bukan dilakukan terhadap seluruh masyarakat Indonesia.

    Rujukan

  • (GFD-2025-26971) [HOAKS] Yaqut Sebut Uang Haji yang Dia Pakai Dibagi Dua dengan Jokowi

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan berupa tangkap layar judul artikel yang mengeklaim mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebut uang kuota haji yang ia pakai dibagi dua dengan Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

    Namun, setelah ditelusuri artikel itu merupakan hasil manipulasi sehingga narasi itu hoaks.

    Sebagai konteks, Yaqut sempat dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji pada 2024. DPR juga membentuk Panitia Khusus Angket Haji 2024 untuk menyelidiki dugaan penyalahgunaan kuota jemaah haji.

    Tangkap layar dari artikel yang mengeklaim Yaqut Cholil Qoumas menyebut uang kuota haji yang ia pakai dibagi dua dengan Jokowi muncul di media sosial, salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini, dan ini.

    Akun tersebut membagikan tangkapan layar artikel berjudul "Gus Yaqut Kuota Uang Haji Yang Saya Pakai Bagi Dua Sama Pak Jokowi Gibran Saksinya". 

    Hasil Cek Fakta

    Saat dicermati terdapat watermark "Republika.co.id" di bagian foto yang menunjukkan artikel tersebut diterbitkan oleh media Republika.

    Namun setelah ditelusuri, di laman Republika tidak ditemukan pemberitaan soal Yaqut menyebut uang kuota haji yang ia dipakai dibagi dua dengan Jokowi. 

    Penelusuran lebih lanjut menemukan, konten itu memanipulasi artikel di laman Republika yang tayang 4 Oktober 2023. Artikel asli berjudul "Gus Yaqut: Saya Punya Kewajiban Sebagai Menag Jaga Agama tak Diperalat Urusan Politik". 

    Artikel itu membahas pernyataan Yaqut soal ajakan untuk tidak memilih pemimpin yang pandai berbicara manis dan menggunakan agama sebagai alat politik.

    Pernyataan itu dikeluarkan Yaqut saat ia masih menjabat Menteri Agama dan menjelang Pemilihan Presiden 2024. 

    Sebelumnya di media sosial juga muncul hoaks terkait dana haji yang mencatut beberapa figur publik. Penelusuran Kompas.com bisa dilihat di sini, di sini dan di sini

    Kesimpulan

    Judul artikel yang mengeklaim Yaqut Cholil Qoumas menyebut uang kuota haji yang dia pakai dibagi dua dengan Jokowi merupakan hasil manipulasi.

    Konten tersebut memanipulasi artikel di laman Republika sehingga berjudul: "Gus Yaqut Kuota Uang Haji Yang Saya Pakai Bagi Dua Sama Pak Jokowi Gibran Saksinya".

    Padahal artikel asli berjudul berjudul: "Gus Yaqut: Saya Punya Kewajiban sebagai Menag Jaga Agama Tak Diperalat Urusan Politik".

    Rujukan

  • (GFD-2025-26972) [HOAKS] TKW Asal Jember Ditemukan Hidup dalam Peti Es di Vietnam

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar narasi mengenai tenaga kerja wanita (TKW) asal Jember, Jawa Timur yang ditemukan hidup dalam peti es oleh petugas di Pelabuhan Hifong, Vietnam.

    Narasi itu menyebutkan, sebelumnya TKW bernama Sri Wahyuni tersebut bekerja di Phnom Penh, Kamboja dan dilaporkan hilang sejak Januari 2025.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar atau merupakan hoaks.

    Informasi mengenai TKW asal Jember yang ditemukan di dalam peti es di Vietnam disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.

    Berikut penggalan narasi yang ditulis salah satu akun pada Selasa (13/5/2025):

    Seorang tenaga kerja wanita (TKW) ditemukan dalam peti es dan masih hidup.

    TKW tersebut bernama Sri Wahyuni (27) asal Jember. Disebutkan pula Sri diketahui merupakan TKW di Phnom Penh, Kamboja sejak Agustus 2024.

    Sri ditemukan dalam kontainer berisi peti es di Pelabuhan Hifong, Vietnam. Petugas yang curiga kemudian membuka kontainer dan peti es yang dicurigai milik jaringan penyelundupan organ atau jasad manusia.

    saat ditemukan Sri ditemukan dalam keadaan terbaring dan memejamkan mata. Petugas yang mengetahui semakin kaget karena Sri membukakan mata dan tersenyum tipis.

     

    Hasil Cek Fakta

    Seperti diwartakan Kompas.com, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur, Sigit Priyanto informasi tersebut diduga hoaks.

    “Secara logika, sampai dengan saat ini pihak Kemlu maupun KBRI Phnom Penh pun belum ada bersurat ke Pemda setempat" kata Sigit pada Selasa (13/5/2025).

    Setelah ditelusuri lebih lanjut, narasi yang beredar bersumber dari video di kanal YouTube Berkisah yang diunggah pada 24 April 2025.

    Video tersebut berisi kumpulan klip dan pembacaan cerita oleh narator.

    Pengunggah memberi label "Altered or synthetic content" pada video tersebut. Artinya, video merupakan konten buatan yang tidak berdasarkan kisah nyata.

    Cerita TKW Jember masuk dalam peti es pernah beredar pada 2010, berdasarkan kisah dari Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jatim, Mohammad Cholily.

    Dilansir Tribunnews.com, TKW berinisial merupakan korban perdagangan manusia yang akan dikirim ke Malaysia.

    Untuk menghindari pemeriksaan polisi Malaysia, DN sempat dimasukkan dalam peti es di kapal. Kasus DN telah diselidiki Polres Jember.

    Kesimpulan

    Narasi mengenai TKW asal Jember yang ditemukan di dalam peti es di Vietnam merupakan hoaks.

    Narasi itu bersumber dari video YouTube yang memuat klip dan cerita buatan. Kisah TKW asal Jember masuk peti es pernah beredar pada 2010, tetapi berlokasi di Malaysia.

    Rujukan

  • (GFD-2025-26973) [HOAKS] Tautan Pendaftaran JKN Gratis dengan Akun Telegram

    Sumber:
    Tanggal publish: 14/05/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan disertai tautan yang diklaim sebagai akses untuk pendaftaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa pungutan biaya atau gratis.

    Tautan itu mengatasnamakan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan meminta akun Telegram aktif sebagai syarat pendaftaran.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan tersebut hoaks.

    Tautan yang diklaim untuk pendaftaran JKN gratis menggunakan akun Telegram dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada April dan Mei 2025.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Pendaftaran BPJS Gratis secara online dan tidak di pungut biaya!!Segera daftar diri anda, melalui pendaftaran BPJS gratis atau klik daftar!!

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com menghubungi BPJS Kesehatan untuk mengonfirmasi kebenaran tautan pendaftaran JKN yang beredar di Facebook itu.

    Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan, tautan tersebut hoaks.

    "Tidak ada bantuan dan program seperti hal tersebut. Masyarakat agar berhati-hati terhadap penipuan mengatasnamakan BPJS Kesehatan," kata Rizzky kepada Kompas.com, Rabu (14/5/2025).

    Tautan tersebut kemungkinan adalah modus phishing atau pencurian data yang bertujuan membajak akun Telegram masyarakat.

    Awas, jangan sampai menyerahkan nomor Telegram dan informasi login akun.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan yang diklaim untuk pendaftaran JKN gratis menggunakan akun Telegram adalah hoaks.

    Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan bahwa tautan tersebut hoaks dan meminta masyarakat berhati-hati terhadap modus penipuan semacam itu.

    Rujukan