KOMPAS.com - Pendakwah Ustaz Abdul Somad diklaim memberikan bantuan uang Rp 70 juta dan fasilitas pulang ke Tanah Air untuk para pekerja migran Indonesia (PMI).
Klaim itu disertai video yang menampilkan sejumlah orang berpelukan di bandara, juga suara Ustaz Abdul Somad berkata akan memberikan bantuan dana untuk PMI.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut adalah hoaks. Suara Ustaz Abdul Somad dalam video merupakan hasil manipulasi berbasis artificial intelligence (AI).
Narasi yang mengeklaim Ustaz Somad memberikan bantuan dana Rp 70 juta untuk pekerja migran dibagikan oleh akun Facebook ini pada 17 Mei 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
ustadz Abdul somadMemberikan bantuan langsung kepada TKI dan TKW yang berada di luar negeri
Screenshot Suara Abdul Somad dalam video ini dihasilkan dengan perangkat AI.
Penelusuran Kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com memverifikasi narasi pembagian bantuan dana untuk PMI itu dengan mengecek akun Instagram Ustaz Abdul Somad @ustadzabdulsomad_official (terverifikasi).
Namun, tidak ditemukan informasi pembagian bantuan dana serta fasilitas pulang ke Tanah Air untuk PMI di akun Instagram Ustaz Somad.
Kemudian, Kompas.com mengecek keaslian suara Abdul Somad dalam video yang beredar di Facebook menggunakan AI Voice Detector.
Hasilnya, suara itu terdeteksi memiliki probabilitas mencapai 81,74 persen dihasilkan dengan perangkat AI. Artinya, suara itu bukan suara asli Ustaz Abdul Somad.
Suara dalam video itu dihasilkan oleh model AI yang memiliki kemampuan untuk menirukan suara manusia. Dalam hal ini, suara yang ditirukan adalah milik Abdul Somad.
(GFD-2025-27203) [HOAKS] Ustaz Abdul Somad Bagikan Bantuan Dana untuk Pekerja Migran
Sumber:Tanggal publish: 30/05/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi yang mengeklaim Ustaz Abdul Somad memberikan bantuan dana Rp 70 juta untuk pekerja migran adalah hoaks.
Suara Abdul Somad dalam video yang dicantumkan terdeteksi memiliki probabilitas mencapai 81,74 persen dihasilkan perangkat AI. Artinya, suara itu bukan suara asli Ustaz Somad.
Suara Abdul Somad dalam video yang dicantumkan terdeteksi memiliki probabilitas mencapai 81,74 persen dihasilkan perangkat AI. Artinya, suara itu bukan suara asli Ustaz Somad.
Rujukan
(GFD-2025-27204) [KLARIFIKASI] Video Tentara Pakistan dan China Menari Bersama Terjadi 2018, Bukan 2025
Sumber:Tanggal publish: 30/05/2025
Berita
KOMPAS.com - Sebuah video diklaim menampilkan tentara Pakistan dan China tengah menari bersama untuk merayakan kemenangan terkait konflik bersenjata melawan India.
Video itu muncul setelah pengumuman gencatan senjata antara Pakistan dan India pada 10 Mei 2025.
Namun, setelah ditelusuri, narasi dalam video itu perlu diluruskan karena informasinya keliru.
Video yang diklaim menampilkan tentara Pakistan dan China tengah merayakan kemenangan salah satunya dibagikan akun Facebook ini pada 14 Mei 2025.
Keterangan dalam video yakni sebagai berikut:
Rekaman dilaporkan Prajurit Pakistan dan Cina menari bersama merayakan kemenangan di Perbatasan kedua negara.
Video itu muncul setelah pengumuman gencatan senjata antara Pakistan dan India pada 10 Mei 2025.
Namun, setelah ditelusuri, narasi dalam video itu perlu diluruskan karena informasinya keliru.
Video yang diklaim menampilkan tentara Pakistan dan China tengah merayakan kemenangan salah satunya dibagikan akun Facebook ini pada 14 Mei 2025.
Keterangan dalam video yakni sebagai berikut:
Rekaman dilaporkan Prajurit Pakistan dan Cina menari bersama merayakan kemenangan di Perbatasan kedua negara.
Hasil Cek Fakta
Penelusuran menggunakan teknik reverse image search menemukan video itu identik dengan unggahan di kanal YouTube ini. Klip tersebut bisa dilihat pada menit 8:45.
Judul video adalah "Pakistani And Chinese Soldiers Dancing Together"(Tentara Pakistan dan China menari bersama).
Video itu telah diunggah pada 26 Oktober 2018, jauh sebelum Pakistan dan India saling serang pada 2025.
Dikutip dari BBC, konflik bersenjata antara India dan Pakistan yang terjadi pada 2025 dimulai pada tanggal 7 Mei setelah India melancarkan serangan rudal ke wilayah Pakistan.
Serangan itu disebut merupakan respons atas penembakan terhadap 25 warga India dan 1 warga Nepal pada 22 April 2025 di wilayah Kashmir yang dikelola India.
Setelah saling serang, kedua negara kemudian menyepakati gencatan senjata pada 10 Mei 2025.
Judul video adalah "Pakistani And Chinese Soldiers Dancing Together"(Tentara Pakistan dan China menari bersama).
Video itu telah diunggah pada 26 Oktober 2018, jauh sebelum Pakistan dan India saling serang pada 2025.
Dikutip dari BBC, konflik bersenjata antara India dan Pakistan yang terjadi pada 2025 dimulai pada tanggal 7 Mei setelah India melancarkan serangan rudal ke wilayah Pakistan.
Serangan itu disebut merupakan respons atas penembakan terhadap 25 warga India dan 1 warga Nepal pada 22 April 2025 di wilayah Kashmir yang dikelola India.
Setelah saling serang, kedua negara kemudian menyepakati gencatan senjata pada 10 Mei 2025.
Kesimpulan
Video yang diklaim menampilkan tentara Pakistan dan China tengah merayakan kemenangan dibagikan dengan narasi keliru. Informasinya salah dan perlu diluruskan.
Faktanya, video itu telah diunggah pada 2018, sebelum konflik India dan Pakistan memanas pada Mei 2025.
Faktanya, video itu telah diunggah pada 2018, sebelum konflik India dan Pakistan memanas pada Mei 2025.
Rujukan
(GFD-2025-27205) [HOAKS] Bantuan Dana Rp 150 Juta dari Kerajaan Brunei
Sumber:Tanggal publish: 30/05/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar informasi adanya bantuan dana Rp 150 juta yang mengatasnamakan Kerajaan Brunei.
Narasi ini muncul dalam sejumlah unggahan yang tayang pada April dan Mei 2025.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi itu hoaks. Waspada, unggahan ini merupakan modus penipuan.
Informasi bantuan dana Rp 150 juta yang mengatasnamakan Kerajaan Brunei dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada April dan Mei 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
Bantuan dana Kerajaan Brunei silahkan daftar sekarang WhatsApp +62882021671xxx
Narasi itu disertai foto Sultan Brunei Hassanal Bolkiah melambaikan tangan yang dibubuhi teks sebagai berikut:
JIKA FOTO INI MASUK KE BERANDA KALIAN, SELAMAT ANDA DAPAT TRANSFERAN 150JT DARI SULTAN TANPA SYARAT APAPUN
Screenshot Hoaks, bantuan dana Rp 150 juta dari Kerajaan Brunei
Narasi ini muncul dalam sejumlah unggahan yang tayang pada April dan Mei 2025.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi itu hoaks. Waspada, unggahan ini merupakan modus penipuan.
Informasi bantuan dana Rp 150 juta yang mengatasnamakan Kerajaan Brunei dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada April dan Mei 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
Bantuan dana Kerajaan Brunei silahkan daftar sekarang WhatsApp +62882021671xxx
Narasi itu disertai foto Sultan Brunei Hassanal Bolkiah melambaikan tangan yang dibubuhi teks sebagai berikut:
JIKA FOTO INI MASUK KE BERANDA KALIAN, SELAMAT ANDA DAPAT TRANSFERAN 150JT DARI SULTAN TANPA SYARAT APAPUN
Screenshot Hoaks, bantuan dana Rp 150 juta dari Kerajaan Brunei
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek nomor WhatsApp yang dicantumkan pada unggahan Facebook tersebut menggunakan aplikasi Getcontact.
Setelah diperiksa, nomor itu tidak ditemukan dalam database Getcontact dan tidak terkait dengan pemerintah atau kerajaan Brunei.
Namun, nomor itu dapat dipastikan bukan nomor telepon Brunei Darussalam.
Sebab, kode telepon Brunei Darussalam adalah +673. Sementara nomor yang dicantumkan pada unggahan tersebut menggunakan kode Indonesia, +62.
Kemudian, Kompas.com mengecek situs Kedutaan Besar Brunei Darussalam di Indonesia. Namun, tidak ditemukan informasi bantuan dana Rp 150 juta untuk warga Indonesia.
Setelah diperiksa, nomor itu tidak ditemukan dalam database Getcontact dan tidak terkait dengan pemerintah atau kerajaan Brunei.
Namun, nomor itu dapat dipastikan bukan nomor telepon Brunei Darussalam.
Sebab, kode telepon Brunei Darussalam adalah +673. Sementara nomor yang dicantumkan pada unggahan tersebut menggunakan kode Indonesia, +62.
Kemudian, Kompas.com mengecek situs Kedutaan Besar Brunei Darussalam di Indonesia. Namun, tidak ditemukan informasi bantuan dana Rp 150 juta untuk warga Indonesia.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, informasi adanya bantuan dana Rp 150 juta mengatasnamakan Kerajaan Brunei yang beredar di Facebook adalah hoaks.
Nomor WA yang dicantumkan tidak terkait dengan pemerintah atau kerajaan Brunei. Informasi bantuan itu juga tidak ditemukan di situs Kedubes Brunei di Indonesia.
Nomor WA yang dicantumkan tidak terkait dengan pemerintah atau kerajaan Brunei. Informasi bantuan itu juga tidak ditemukan di situs Kedubes Brunei di Indonesia.
Rujukan
- https://www.facebook.com/61576564889184/videos/719568823964542/
- https://www.facebook.com/61576217711438/videos/1650040582310390/
- https://www.facebook.com/61574973207823/videos/3572034436434204/
- https://www.mfa.gov.bn/pm-indonesia-jakarta/Theme/Home.aspx
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2025-27210) [KLARIFIKASI] Tidak Benar Video Ini Momen Kejagung Geledah Apartemen Nadiem Makarim
Sumber:Tanggal publish: 30/05/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan video dengan narasi Kejaksaan Agung (Kejagung) menggeledah apartemen mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Nadiem Makarim.
Narasi dalam video juga menyebut Nadiem kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait kasus korupsi senilai Rp 9,9 triliun.
Namun, setelah ditelusuri narasi dalam video tersebut keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menampilkan Kejagung menggeledah apartemen Nadiem Makarim salah satunya dibagikan akun Instagram ini, dan Facebook ini, ini.
Dalam video tampak sejumlah orang sedang menggeledah sebuah ruangan, keterangan di video yakni sebagai berikut:
Heboh..!!
NADIEM MAKARIM EKS KEMENDIKBUD JADI DPO KEJAGUNG KASUS KORUPSI RP 9,9 TRILIUN
Kejagung di kawal ketat TNI menggeledah apartemen milik nadiem dan menemukan sejumlah barang bukti
Akun Instagram Tangkapan layar Instagram video yang mengeklaim Kejagung menggeledah apartemen Nadiem Makarim
Narasi dalam video juga menyebut Nadiem kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait kasus korupsi senilai Rp 9,9 triliun.
Namun, setelah ditelusuri narasi dalam video tersebut keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menampilkan Kejagung menggeledah apartemen Nadiem Makarim salah satunya dibagikan akun Instagram ini, dan Facebook ini, ini.
Dalam video tampak sejumlah orang sedang menggeledah sebuah ruangan, keterangan di video yakni sebagai berikut:
Heboh..!!
NADIEM MAKARIM EKS KEMENDIKBUD JADI DPO KEJAGUNG KASUS KORUPSI RP 9,9 TRILIUN
Kejagung di kawal ketat TNI menggeledah apartemen milik nadiem dan menemukan sejumlah barang bukti
Akun Instagram Tangkapan layar Instagram video yang mengeklaim Kejagung menggeledah apartemen Nadiem Makarim
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video itu identik dengan unggahan di kanal YouTube tvOneNews ini.
Video berjudul "Apartemen Eks Stafsus 'Nadiem Makarim' Digeledah Terkait Kasus Pengadaan Laptop".
Adapun video itu adalah momen ketika Kejagung menggeledah apartemen mantan staf khusus Nadiem Makarim berinisial FH dan JT pada 21 Mei 2025.
Penggeledahan itu dilakukan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop untuk digitalisasi senilai Rp9,9 triliun pada 2019 hingga 2022. Dua apartemen itu berada Kuningan Place dan Ciputra World 2.
Dilansir Kompas.id, di apartemen milik FH, penyidik menyita barang bukti elektronik berupa 1 laptop dan 4 telepon genggam.
Sementara, di apartemen milik JT, penyidik menyita 2 hardisk eksternal, 1 unit diska lepas, dan 1 laptop. Penyidik juga menyita 15 buku agenda.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar menjelaskan, ke depan tidak menampik kemungkinan pihaknya akan memeriksa Nadiem Makarim setelah penggeledahan itu.
Namun, hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penyidik.
Menurut Harli, jika nanti Nadiem dipanggil, penyidik kemungkinan akan menanyakan perihal jalannya Program Digitalisasi Pendidikan tahun 2019-2022.
Penyidik juga akan menanyakan terkait tugas Nadiem sebagai Mendikbud Ristek, yang terdiri dari tugas sendiri dan tugas atas perintah pihak lain atau perintah jabatan.
Harli mengatakan, penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop tersebut dilakukan setelah adanya pengaduan dari masyarakat.
Video berjudul "Apartemen Eks Stafsus 'Nadiem Makarim' Digeledah Terkait Kasus Pengadaan Laptop".
Adapun video itu adalah momen ketika Kejagung menggeledah apartemen mantan staf khusus Nadiem Makarim berinisial FH dan JT pada 21 Mei 2025.
Penggeledahan itu dilakukan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop untuk digitalisasi senilai Rp9,9 triliun pada 2019 hingga 2022. Dua apartemen itu berada Kuningan Place dan Ciputra World 2.
Dilansir Kompas.id, di apartemen milik FH, penyidik menyita barang bukti elektronik berupa 1 laptop dan 4 telepon genggam.
Sementara, di apartemen milik JT, penyidik menyita 2 hardisk eksternal, 1 unit diska lepas, dan 1 laptop. Penyidik juga menyita 15 buku agenda.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar menjelaskan, ke depan tidak menampik kemungkinan pihaknya akan memeriksa Nadiem Makarim setelah penggeledahan itu.
Namun, hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penyidik.
Menurut Harli, jika nanti Nadiem dipanggil, penyidik kemungkinan akan menanyakan perihal jalannya Program Digitalisasi Pendidikan tahun 2019-2022.
Penyidik juga akan menanyakan terkait tugas Nadiem sebagai Mendikbud Ristek, yang terdiri dari tugas sendiri dan tugas atas perintah pihak lain atau perintah jabatan.
Harli mengatakan, penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop tersebut dilakukan setelah adanya pengaduan dari masyarakat.
Kesimpulan
Video yang diklaim menampilkan Kejagung menggeledah apartemen Nadiem Makarim tidak benar.
Apartemen yang digeledah bukan milik Nadiem, melainkan mantan stafnya ketika menjabat Mendikbudristek berinisial FH dan JT.
Penggeledahan itu dilakukan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop untuk digitalisasi senilai Rp9,9 triliun pada 2019 hingga 2022. Adapun sampai saat ini tidak ada informasi valid Kejagung menggeledah apartemen Nadiem.
Apartemen yang digeledah bukan milik Nadiem, melainkan mantan stafnya ketika menjabat Mendikbudristek berinisial FH dan JT.
Penggeledahan itu dilakukan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop untuk digitalisasi senilai Rp9,9 triliun pada 2019 hingga 2022. Adapun sampai saat ini tidak ada informasi valid Kejagung menggeledah apartemen Nadiem.
Rujukan
- https://www.instagram.com/reel/DKLmpt6yT-L/?igsh=MTZzZTl1aXRnZ2JmMQ%3D%3D
- https://www.facebook.com/share/r/15LsmvLeAz/
- https://www.facebook.com/share/v/16LYerN4vw/
- https://www.youtube.com/watch?v=900WwXlD8fU&ab_channel=tvOneNews
- https://www.kompas.id/artikel/setelah-geledah-rumah-stafsus-kejagung-buka-peluang-periksa-eks-menteri-nadiem-makarim
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
Halaman: 1963/8135