(GFD-2025-27186) Cek Fakta: Program Pemutihan Pinjol dari OJK
Sumber:Tanggal publish: 30/05/2025
Berita
Murianews, Kudus – Beredar sebuah narasi yang menyebutkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan program pemutihan pinjaman online (pinjol). Yuk cek faktanya dulu.
Narasi tersebut salah satunya disebarkan akun TikTok bernama @pemutihan.pinjol0 pada 19 Mei 2025 lalu. Dalam unggahannya, program tersebut diklaim dimulai sejak 1 Mei 2025.
”OJK resmikan pemutihan data bagi nasabah Pinjol terutama bagi nasabah gagal bayar mulai 1 Mei 2025, dengan ini OJK telah resmikan cara pemutihannya. Konsultasikan Pinjol kalian sekarang!,” demikian bunyi narasi tersebut.
Dalam foto yang diunggah akun tersebut tampak suasana kantor OJK. Foto tersebut, dibubuhkan narasi sebagai berikut:
”RESMI OJK PEMUTIHAN PINJOL SECARA ONLINE BERLAKU SELURUH INDONESIA MULAI 1 MEI 2025 Ayo segera Daftar Diri Anda Agar Terbebas Dari Hutang,” tulis akun tersebut.
Berikut tangkap layar unggahan tersebut.
Tangkap layar foto dengan narasi OJK gelar program pemutihan pinjol. (Istimewa/TikTok)
Benarkah OJK memberlakukan pemutihan pinjaman online 2025? Simak penelusuran Tim Cek Fakta Murianews.com selengkapnya di halaman selanjutnya.
Penelusuran…
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Murianews.com mencoba menelusuri kebenaran narasi tersebut dengan mengeceknya di mesin pencarian Google dengan kata kunci ”Pemutihan Pinjol”.
Hasilnya terdapat artikel yang ditayangkan Detik.com dengan judul ”Ramai Kabar Pemutihan Pinjol Resmi, OJK Bilang Begini” pada 19 Mei 2025.
Dalam artikel tersebut, OJK menegaskan tak pernah melakukan pemutihan atau penghapusan utang pribadi. Apalagi meminta identitas seperti KTP dan kode OTP.
”OJK tidak pernah menghapus utang pribadi. Apalagi meminta KTP atau OTP. (Pinjol) ilegal aja dibasmi, masa terafiliasi,” sebut OJK seperti dikutip Murianews.com, Jumat (30/5/2025).
OJK mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan mengecek selalu kebenaran informasi yang beredar. Selain itu, OJK juga meminta masyarakat agar tetap menjaga data pribadi
”Dihimbau agar selalu hati-hati dan jaga data pribadi. Jangan sampai oknum semakin banyak makan korban,” imbuh OJK.
Dalam Instagram resmi OJK, @ojkindonesia pada 4 Mei 2025, OJK menjelaskan tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang pemutihan data pinjaman online.
”Hati-hati terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan OJK,” tulis OJK memperingatkan.
Masyarakat diminta selalu mengecek kebenaran informasi ke kontak OJK 157, WhatsApp 081157157157 dan email [email protected].
Kesimpulan…
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Murianews.com kabar mengenai OJK membuka program pemutihan pinjol merupakan narasi disinformasi jenis fabricated content atau konten palsu.
OJK memastikan dan menegaskan tak pernah membuat program pemutihan pinjol atau utang pribadi. Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk waspada.
(GFD-2025-27188) [SALAH] Vaksin Itu Produk Rekayasa yang Membahayakan Generasi Mendatang
Sumber: https://www.threads.com/@mochammadbathik/post/DJYPgNCvSvf https://archive.ph/wip/9xsBoTanggal publish: 30/05/2025
Berita
Pada Kamis (8/5/2025) akun Threads “mochammadbathik” membagikan video [arsip] berisi pernyataan dokter Agung Sapta Adi. Ia mengatakan vaksin itu disiapkan sebelum ada penyakitnya sehingga berbahaya bagi kesehatan generasi mendatang karena dapat menjadikan seseorang bodoh atau mandul.
Berikut transkrip dari pernyataan dokter Agung dalam video tersebut:
“Bisa jadi anak cucu kita jadi orang yang bego karena diracuni tanpa kita tahu, atau mungkin generasi mendatang tidak akan terlahir karena kita dibuat mandul. Akan disiapkan vaksinnya sebelum penyakitnya ada. Itu kenyataan, itu bukan membual, karena kita menghadapi kenyataan”
Hingga Jumat (30/5/25), unggahan telah mendapatkan lebih dari 1.000 tanda suka, 98 komentar dan telah dibagikan 1.400 kali.
Berikut transkrip dari pernyataan dokter Agung dalam video tersebut:
“Bisa jadi anak cucu kita jadi orang yang bego karena diracuni tanpa kita tahu, atau mungkin generasi mendatang tidak akan terlahir karena kita dibuat mandul. Akan disiapkan vaksinnya sebelum penyakitnya ada. Itu kenyataan, itu bukan membual, karena kita menghadapi kenyataan”
Hingga Jumat (30/5/25), unggahan telah mendapatkan lebih dari 1.000 tanda suka, 98 komentar dan telah dibagikan 1.400 kali.
Hasil Cek Fakta
Disadur dari artikel Cek Fakta tempo.co.
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim tersebut dengan bantuan Google Lens dan wawancara ahli. Diketahui, sumber video yang beredar tersebut berasal dari unggahan akun YouTube Refly Harun pada Oktober 2024 berjudul Live Dokter Agung Sapta Adi: Kesehatan yang Sakit! Intervensi Global di Balik Menteri Kesehatan RI!. Video tersebut direkam jauh sebelum kedatangan Bill Gates ke Indonesia bulan Mei 2025.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menilai bahwa klaim yang menyebut bahwa vaksin adalah rekayasa karena dibuat sebelum sakitnya muncul adalah bentuk kesalahpahaman. Dalam prinsip public health intervention, upaya pencegahan menjadi strategi utama.
Salah satu kebutuhan mendesak akan vaksin yakni terkait dengan penyakit tuberkulosis atau TBC. Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, Laporan Global Tuberculosis pada 2024, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam hal beban kasus TBC setelah India. Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TBC dan 125.000 kematian setiap tahun. Ini berarti ada sekitar 14 kematian setiap jamnya.
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim tersebut dengan bantuan Google Lens dan wawancara ahli. Diketahui, sumber video yang beredar tersebut berasal dari unggahan akun YouTube Refly Harun pada Oktober 2024 berjudul Live Dokter Agung Sapta Adi: Kesehatan yang Sakit! Intervensi Global di Balik Menteri Kesehatan RI!. Video tersebut direkam jauh sebelum kedatangan Bill Gates ke Indonesia bulan Mei 2025.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menilai bahwa klaim yang menyebut bahwa vaksin adalah rekayasa karena dibuat sebelum sakitnya muncul adalah bentuk kesalahpahaman. Dalam prinsip public health intervention, upaya pencegahan menjadi strategi utama.
Salah satu kebutuhan mendesak akan vaksin yakni terkait dengan penyakit tuberkulosis atau TBC. Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, Laporan Global Tuberculosis pada 2024, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam hal beban kasus TBC setelah India. Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TBC dan 125.000 kematian setiap tahun. Ini berarti ada sekitar 14 kematian setiap jamnya.
Kesimpulan
Unggahan berisi klaim “vaksin itu produk rekayasa yang dapat membahayakan generasi mendatang” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
Rujukan
- http[tempo.co] Menyesatkan: Vaksin Hanya Produk Rekayasa yang Membahayakan Generasi Mendatang
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/3589/menyesatkan-vaksin-hanya-produk-rekayasa-yang-membahayakan-generasi-mendatang
- https://www.threads.com/@mochammadbathik/post/DJYPgNCvSvf (unggahan akun Threads “mochammadbathik” )
- https://archive.ph/wip/9xsBo (arsip unggahan akun Threads “mochammadbathik”)
(GFD-2025-27189) [SALAH] Virus Baru Disebarkan ke Anak Sekolah Melalui Pembagian Obat Cacing
Sumber: https://www.facebook.com/ashira.hisyam.2025/posts/723825390220132 https://archive.ph/wip/kTanggal publish: 30/05/2025
Berita
Pada Selasa (13/5/2025) akun Facebook “Ashira Hisyam” membagikan foto [arsip] berisi narasi:
“GAWAT DARURAT
WASPADA TERHADAP MENTERI KESEHATAN SAAT INI*
Marketplace
TOLAK Program Membagi² OBAT CACING/IMUNISASI PLUS VACSIN dari Kementerian Kesehatan Sebab ini Bagian dari Misi Global Dalam Rangka Penyebaran Virus Baru. Target Utama Mereka Sekolah² dan Keluarga yang Awam Terhadap Kesehatan.
your shortcuts
Wormszonele – Slither Suske
Share Sebanyak2nya agar Kita Bisa Selamatkan Seluruh Rakyat dan Negara dari Rongrongan Penghianat Bangsa.”
Unggahan telah dibagikan ulang 68 kali per Jumat (30/5/25).
“GAWAT DARURAT
WASPADA TERHADAP MENTERI KESEHATAN SAAT INI*
Marketplace
TOLAK Program Membagi² OBAT CACING/IMUNISASI PLUS VACSIN dari Kementerian Kesehatan Sebab ini Bagian dari Misi Global Dalam Rangka Penyebaran Virus Baru. Target Utama Mereka Sekolah² dan Keluarga yang Awam Terhadap Kesehatan.
your shortcuts
Wormszonele – Slither Suske
Share Sebanyak2nya agar Kita Bisa Selamatkan Seluruh Rakyat dan Negara dari Rongrongan Penghianat Bangsa.”
Unggahan telah dibagikan ulang 68 kali per Jumat (30/5/25).
Hasil Cek Fakta
Disadur dari artikel Cek Fakta kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com menghubungi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengonfirmasi kebenaran narasi penyebaran virus baru lewat obat cacing yang dibagikan ke anak sekolah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muharmawan mengatakan, narasi tersebut adalah hoaks lama yang kembali disebarkan.
“Pemberian obat atau vaksin untuk semua sasaran masyarakat itu sudah dipastikan keamanan, kualitas, dan khasiatnya,” kata Aji kepada Kompas.com, Rabu (14/5/2025).
Dikutip dari laman Kemenkes, pencegahan dan penanggulangan cacingan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 15 tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Salah satu caranya dengan strategi deworming yang dikenal dengan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM).
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, disebutkan bahwa POPM Cacingan dilakukan pada anak balita, anak usia pra-sekolah, dan anak usia sekolah di daerah kabupaten/kota dengan prevalensi cacingan tinggi dan sedang.
Tim Cek Fakta Kompas.com menghubungi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengonfirmasi kebenaran narasi penyebaran virus baru lewat obat cacing yang dibagikan ke anak sekolah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muharmawan mengatakan, narasi tersebut adalah hoaks lama yang kembali disebarkan.
“Pemberian obat atau vaksin untuk semua sasaran masyarakat itu sudah dipastikan keamanan, kualitas, dan khasiatnya,” kata Aji kepada Kompas.com, Rabu (14/5/2025).
Dikutip dari laman Kemenkes, pencegahan dan penanggulangan cacingan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 15 tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Salah satu caranya dengan strategi deworming yang dikenal dengan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM).
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, disebutkan bahwa POPM Cacingan dilakukan pada anak balita, anak usia pra-sekolah, dan anak usia sekolah di daerah kabupaten/kota dengan prevalensi cacingan tinggi dan sedang.
Kesimpulan
Unggahan berisi klaim “virus baru disebarkan ke anak sekolah melalui pembagian obat cacing” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
Rujukan
- http[kompas.com] [HOAKS] Virus Baru Disebarkan ke Anak Sekolah Lewat Pembagian Obat Cacing
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2025/05/15/111100482/-hoaks-virus-baru-disebarkan-ke-anak-sekolah-lewat-pembagian-obat
- https://www.threads.com/@mochammadbathik/post/DJYPgNCvSvf (unggahan akun Threads “mochammadbathik” )
- https://archive.ph/wip/9xsBo (arsip unggahan akun Threads “mochammadbathik”)
(GFD-2025-27190) [SALAH] Anak di India Lumpuh Akibat Vaksin Polio Bill Gates
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 30/05/2025
Berita
Pada Rabu (14/5/2025) akun Facebook “Al Khansa” membagikan sejumlah foto [arsip] disertai narasi:
“India menuntut Yayasan Gates ke Pengadilan Ada 47.000 ANAK-ANAK DI INDIA MENDERITA CACAT DAN LUMPUH PERMANEN, AKIBAT LANGSUNG DARI VAKSIN POLIO BILL GATES.
https://envirowatchnz.com/…/47000-children-crippled…/;
BELAJARLAH DARI KASUS INDIA INI !”
Hingga Jumat (30/5/25), unggahan telah mendapatkan 22 tanda suka, 1 komentar dan dibagikan ulang 166 kali.
“India menuntut Yayasan Gates ke Pengadilan Ada 47.000 ANAK-ANAK DI INDIA MENDERITA CACAT DAN LUMPUH PERMANEN, AKIBAT LANGSUNG DARI VAKSIN POLIO BILL GATES.
https://envirowatchnz.com/…/47000-children-crippled…/;
BELAJARLAH DARI KASUS INDIA INI !”
Hingga Jumat (30/5/25), unggahan telah mendapatkan 22 tanda suka, 1 komentar dan dibagikan ulang 166 kali.
Hasil Cek Fakta
Disadur dari artikel Cek Fakta kompas.com.
Narasi mengenai vaksin polio yang disponsori Bill Gates di India tampaknya berasal dari sebuah laporan yang diterbitkan Indian Journal of Medical Ethics pada 2012. Laporan tersebut memuat peningkatan kasus lumpuh layu akut non-polio (NPAFP) yang berbanding lurus dengan dosis polio oral yang diterima.
Yayasan Gates Foundation mendanai program pemberantasan polio. Kasus NPAFP memang meningkat pada pertengahan 2000-an di India, kendati demikian bukan berarti vaksin polio menjadi penyebab utamanya. BBC News melaporkan, polio hanyalah salah satu dari banyak penyebab lumpuh layu akut di India. Virus dan bakteri lain juga ikut memicu peningkatan jumlah kasus.
Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) telah menyatakan vaksin polio aman dan efektif menurunkan risiko terjangkit virus.
Narasi mengenai vaksin polio yang disponsori Bill Gates di India tampaknya berasal dari sebuah laporan yang diterbitkan Indian Journal of Medical Ethics pada 2012. Laporan tersebut memuat peningkatan kasus lumpuh layu akut non-polio (NPAFP) yang berbanding lurus dengan dosis polio oral yang diterima.
Yayasan Gates Foundation mendanai program pemberantasan polio. Kasus NPAFP memang meningkat pada pertengahan 2000-an di India, kendati demikian bukan berarti vaksin polio menjadi penyebab utamanya. BBC News melaporkan, polio hanyalah salah satu dari banyak penyebab lumpuh layu akut di India. Virus dan bakteri lain juga ikut memicu peningkatan jumlah kasus.
Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) telah menyatakan vaksin polio aman dan efektif menurunkan risiko terjangkit virus.
Kesimpulan
Unggahan berisi klaim “anak di India lumpuh akibat vaksin polio Bill Gates” merupakan konten menyesatkan (misleading content).
Rujukan
Halaman: 1766/7940



