“Setelah mereka tahu orang-orang Uyghur dan suku-suku di Sinchiang yang mayoritas muslim tidak tertular corona. Kini orang-orang di china berebut-rebut untuk mendapatkan Alquran dan mulai belajar membacanya dan belajar mengerti artinya.
Subhanallah”.
(GFD-2020-4816) [SALAH] “Setelah tahu orang-orang Uyghur tidak tertular corona orang-orang di china berebut mendapatkan Alquran”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 11/03/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan video lama, sebelumnya pernah diunggah pada tahun 2013. SUMBER menambahkan narasi yang tidak sesuai dengan fakta sehingga membangun kesimpulan pelintiran.
Salah satu situs yang sebelumnya memuat video, gospelprime.com.br: “Penyelundupan Alkitab di Tiongkok direkam dalam video.
7 tahun yang lalu masuk 19 Maret 2013 Oleh Jarbas Aragon”
Alt News: “Media sosial penuh dengan informasi yang salah seputar virus corona baru. Alt News telah membantah beberapa klaim semacam itu dalam beberapa minggu terakhir. Sebuah video sekarang viral di media sosial dengan klaim bahwa dalam terang epidemi, Cina memungkinkan umat Islam untuk membaca Quran yang sebelumnya dilarang.”
Salah satu situs yang sebelumnya memuat video, gospelprime.com.br: “Penyelundupan Alkitab di Tiongkok direkam dalam video.
7 tahun yang lalu masuk 19 Maret 2013 Oleh Jarbas Aragon”
Alt News: “Media sosial penuh dengan informasi yang salah seputar virus corona baru. Alt News telah membantah beberapa klaim semacam itu dalam beberapa minggu terakhir. Sebuah video sekarang viral di media sosial dengan klaim bahwa dalam terang epidemi, Cina memungkinkan umat Islam untuk membaca Quran yang sebelumnya dilarang.”
Kesimpulan
Video lama, TIDAK berkaitan dengan COVID-19. Yang diperebutkan adalah Alkitab, BUKAN Al-Qur’an.
Rujukan
(GFD-2020-3636) [SALAH] Video “Perilaku Polisi India Terhadap Wanita yang Membawa Anak”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 10/03/2020
Berita
Bukan polisi India, tetapi polisi Nepal, peristiwa tersebut di daerah Bhaisepati, Lalitpur,Nepal pada 27 Februari 2020
[NARASI] Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak
[NARASI] Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak
Hasil Cek Fakta
[PENJELASAN]
Fanspage Status Lucu 2019 pada tanggal 29 Februari 2020 pukul 22:24 WIB mengunggah video polisi sedang memukul wanita sambil menggendong anak kecil dengan menggunakan tongkat dan mendorongnya sampai tersungkur yang oleh fanspage Status Lucu 2019 dikatakan kejadian itu dilakukan oleh polisi India, dengan narasi sebagai berikut “Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak”. Postingan inipun mendapatkan 544 tanggapan, 253 komentar dan 5.651 share saat periksa fakta ini dibuat.
Setelah ditelusuri, peristiwa tersebut bukan terjadi di India, tetapi di Bhaisepati, Lalitpur,Nepal pada 27 Februari 2020 yang dilakukan oleh Inspektur polisi di Sektor Kepolisian Metropolitan Bungmati.
Menurut polisi, insiden itu terjadi pada hari Kamis di kediaman Bhainsepati Hem Khatri, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Nepal, di mana sekelompok wanita telah berkumpul untuk memprotes, “menuntut keadilan” untuk seorang wanita, yang diidentifikasi sebagai Mala Shah, yang telah menuduh bahwa dia menjalin hubungan dengan Khatri. Shah mulai memprotes setelah Khatri diduga memutuskan kontak dengannya, menurut Inspektur Senior Tek Prasad Rai, kepala Polisi Lalitpur. Hema Shrestha, wanita yang terlihat dipukuli, ada di sana untuk mendukung Shah dalam protesnya.
Dilansir dari radiokantipur.com “Investigasi telah dimulai pada Inspektur Poudel setelah menikam Hema Shrestha, seorang peserta dalam tim yang mengepung rumah Rathi Hem Khatri, seorang pensiunan asisten Tentara Nepal di Bhansapati.
Inspektur Poudel kemarin diduga melobi Shrestha, yang menyebut dirinya ekspedisi, selama perselisihan antara Khatri dan seorang wanita bernama Mala Shah.
Video Inspektur Poudel yang memanas di Shrestha yang menggendong bayi itu beredar di media sosial.
Mengikuti arahan dari Markas Besar Kepolisian, Kampus Polisi Metropolitan, Lalitpur, telah membentuk komite investigasi beranggotakan tiga orang yang dipimpin oleh SP Durga Singh”.
Sedangkan laporan dari onlinekhabar.com polisi tersebut sudah dipindahkan dari Polisi Metropolitan Bhaisepati.
“Kepala Polisi Metropolitan Range, Lalitpur, SSP Tek Prasad Rai, menginformasikan bahwa Paudel telah dipindahkan ke Jawalakhel setelah insiden tersebut. Inspektur Sujit Ojha yang baru diangkat telah ditunjuk untuk Lingkaran Polisi Metropolitan, Bhaisepati”.
KESIMPULAN
Benar kejadian dalam video tersebut seorang polisi memukul seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil yang sedang melakukan protes.
Kejadian bukan di India tetapi di Nepal.
Fanspage Status Lucu 2019 pada tanggal 29 Februari 2020 pukul 22:24 WIB mengunggah video polisi sedang memukul wanita sambil menggendong anak kecil dengan menggunakan tongkat dan mendorongnya sampai tersungkur yang oleh fanspage Status Lucu 2019 dikatakan kejadian itu dilakukan oleh polisi India, dengan narasi sebagai berikut “Perilaku polisi india terhadap wanita yang membawa anak”. Postingan inipun mendapatkan 544 tanggapan, 253 komentar dan 5.651 share saat periksa fakta ini dibuat.
Setelah ditelusuri, peristiwa tersebut bukan terjadi di India, tetapi di Bhaisepati, Lalitpur,Nepal pada 27 Februari 2020 yang dilakukan oleh Inspektur polisi di Sektor Kepolisian Metropolitan Bungmati.
Menurut polisi, insiden itu terjadi pada hari Kamis di kediaman Bhainsepati Hem Khatri, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Nepal, di mana sekelompok wanita telah berkumpul untuk memprotes, “menuntut keadilan” untuk seorang wanita, yang diidentifikasi sebagai Mala Shah, yang telah menuduh bahwa dia menjalin hubungan dengan Khatri. Shah mulai memprotes setelah Khatri diduga memutuskan kontak dengannya, menurut Inspektur Senior Tek Prasad Rai, kepala Polisi Lalitpur. Hema Shrestha, wanita yang terlihat dipukuli, ada di sana untuk mendukung Shah dalam protesnya.
Dilansir dari radiokantipur.com “Investigasi telah dimulai pada Inspektur Poudel setelah menikam Hema Shrestha, seorang peserta dalam tim yang mengepung rumah Rathi Hem Khatri, seorang pensiunan asisten Tentara Nepal di Bhansapati.
Inspektur Poudel kemarin diduga melobi Shrestha, yang menyebut dirinya ekspedisi, selama perselisihan antara Khatri dan seorang wanita bernama Mala Shah.
Video Inspektur Poudel yang memanas di Shrestha yang menggendong bayi itu beredar di media sosial.
Mengikuti arahan dari Markas Besar Kepolisian, Kampus Polisi Metropolitan, Lalitpur, telah membentuk komite investigasi beranggotakan tiga orang yang dipimpin oleh SP Durga Singh”.
Sedangkan laporan dari onlinekhabar.com polisi tersebut sudah dipindahkan dari Polisi Metropolitan Bhaisepati.
“Kepala Polisi Metropolitan Range, Lalitpur, SSP Tek Prasad Rai, menginformasikan bahwa Paudel telah dipindahkan ke Jawalakhel setelah insiden tersebut. Inspektur Sujit Ojha yang baru diangkat telah ditunjuk untuk Lingkaran Polisi Metropolitan, Bhaisepati”.
KESIMPULAN
Benar kejadian dalam video tersebut seorang polisi memukul seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil yang sedang melakukan protes.
Kejadian bukan di India tetapi di Nepal.
Rujukan
(GFD-2020-3637) [BERITA] “Hoaks Imbauan Anak NU Dilarang Sekolah di Muhammadiyah”
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 10/03/2020
Berita
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto menyatakan gambar dan pernyataan yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan alias hoaks.
Beredar gambar yang diklaim sebagi pernyataan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Selain pernyataan, gambar itu juga menampilkan foto Haedar Nashir.
Isinya seolah-olah imbauan kepada warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak menyekolahkan anaknya di Sekolah Muhammadiyah. Berikut isi tulisan di gambar tersebut:
“Imbauan kepada warga NU, untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Muhammadiyah karena kami ingini menjaga kondusivitas dan aset milik kami. Tolong warga NU tepo seliro dan tahu diri — Prof Dr Haidar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.”
=============================================
Beredar gambar yang diklaim sebagi pernyataan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Selain pernyataan, gambar itu juga menampilkan foto Haedar Nashir.
Isinya seolah-olah imbauan kepada warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak menyekolahkan anaknya di Sekolah Muhammadiyah. Berikut isi tulisan di gambar tersebut:
“Imbauan kepada warga NU, untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Muhammadiyah karena kami ingini menjaga kondusivitas dan aset milik kami. Tolong warga NU tepo seliro dan tahu diri — Prof Dr Haidar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.”
=============================================
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Melalui akun jejaring sosial Twitter miliknya, @HaedarNs, Haedar Nashir membantah pernyataan dan foto itu. Menurut dia, foto dan pernyataan itu adalah hoaks alias bohong. Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu tidak tahu menahu dan tidak memproduksi gambar tersebut.
Haedar menegaskan selama ini lembaga milik Muhammadiyah di berbagai bidang diperuntukkan semua kelompok dan golomgan masyarakat.
“Gambar dan statement yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan (hoax). Selama ini hadirnya lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial Muhammadiyah untuk semua kelompok dan golongan, tidak terbatas pada suku, agama, dan kelompok tertentu.” tulis Haedar Nashir di tweetnya yang diunggah pada 6 Maret 2020.
Sebelumnya, himbauan itu juga diklaim seolah berasal dari Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan WhatsApp, mengirimkan gambar berisi klarifikasi mengenai imbauan tersebut. Ia juga menyebut bahwa gambar yang berisi imbauan tersebut adalah hoaks.
Berikut isi klarifikasinya:
Sehubungan dengan beredarnya foto atau quotes design yang mencatut nama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah tentang “Himbauan Bagi Warga NU”yang telah tersebar, maka dengan ini saya dan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah beserta keluarga Muhammadiyah memberikan KLARIFIKASI sebagai berikut:
1 .Bahwa terkait himbauan tersebut sebagaimana yang telah terlihat dan tersebar di media sosial, bukan merupakan perkataan ataupun kutipan statement dari Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.
2.Bahwa dalam menjalankan roda organisasi, kami sangat mendepankan dialog dan tabayyun serta toleransi terhadap setiap perbedaan pandangan ataupun pendapat antar kaIangan.
3.Bahwa sebagaimana anonim kutipan yang telah tersebar atas nama Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto memiliki latar belakang pendidikan disekolah NU sehingga foto atau quotes design yang beredarjelas sangat ngawur.
4.Bahwa Muhammadiyah, khususnya Pemuda Muhammadiyah menyadari, baik Muhammadiyah atau NU merupakan ormas yang selalu bergandengantangan memajukan bangsa, termasuk di sektor pendidikan sehingga sikap saling menghormati dan menjaga marwah masing-masing senantiasa di rawat dan dijaga.
5.Terkait permasalahan di Kota Yogyakarta antara NU dan Muhammadiyah, saya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah meminta pihak Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY untuk menjaga langkah toleransi dan menjaga hubungan silaturahmi dalam dakwah.
Melalui akun jejaring sosial Twitter miliknya, @HaedarNs, Haedar Nashir membantah pernyataan dan foto itu. Menurut dia, foto dan pernyataan itu adalah hoaks alias bohong. Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu tidak tahu menahu dan tidak memproduksi gambar tersebut.
Haedar menegaskan selama ini lembaga milik Muhammadiyah di berbagai bidang diperuntukkan semua kelompok dan golomgan masyarakat.
“Gambar dan statement yang beredar di media sosial tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan (hoax). Selama ini hadirnya lembaga pendidikan, kesehatan, dan sosial Muhammadiyah untuk semua kelompok dan golongan, tidak terbatas pada suku, agama, dan kelompok tertentu.” tulis Haedar Nashir di tweetnya yang diunggah pada 6 Maret 2020.
Sebelumnya, himbauan itu juga diklaim seolah berasal dari Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan WhatsApp, mengirimkan gambar berisi klarifikasi mengenai imbauan tersebut. Ia juga menyebut bahwa gambar yang berisi imbauan tersebut adalah hoaks.
Berikut isi klarifikasinya:
Sehubungan dengan beredarnya foto atau quotes design yang mencatut nama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah tentang “Himbauan Bagi Warga NU”yang telah tersebar, maka dengan ini saya dan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah beserta keluarga Muhammadiyah memberikan KLARIFIKASI sebagai berikut:
1 .Bahwa terkait himbauan tersebut sebagaimana yang telah terlihat dan tersebar di media sosial, bukan merupakan perkataan ataupun kutipan statement dari Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.
2.Bahwa dalam menjalankan roda organisasi, kami sangat mendepankan dialog dan tabayyun serta toleransi terhadap setiap perbedaan pandangan ataupun pendapat antar kaIangan.
3.Bahwa sebagaimana anonim kutipan yang telah tersebar atas nama Sunanto atau yang dikenal Cak Nanto memiliki latar belakang pendidikan disekolah NU sehingga foto atau quotes design yang beredarjelas sangat ngawur.
4.Bahwa Muhammadiyah, khususnya Pemuda Muhammadiyah menyadari, baik Muhammadiyah atau NU merupakan ormas yang selalu bergandengantangan memajukan bangsa, termasuk di sektor pendidikan sehingga sikap saling menghormati dan menjaga marwah masing-masing senantiasa di rawat dan dijaga.
5.Terkait permasalahan di Kota Yogyakarta antara NU dan Muhammadiyah, saya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah meminta pihak Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY untuk menjaga langkah toleransi dan menjaga hubungan silaturahmi dalam dakwah.
Rujukan
(GFD-2020-3638) [SALAH] “Menginformasikan di JICT bahwa Capt Kapal CMA CGM Virgina sebagai Corona”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 10/03/2020
Berita
Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub, Ahmad, membantah informasi yang tidak benar dan menyesatkan. Nakhoda kapal berkewarganegaraan Ukraina ini tidak terindikasi virus yang sakit flu biasa. "Namun demikian, nakhoda kapal ini masih diobservasi di Rumah Sakit PMC hingga saat ini," kata Ahmad.
Akun M Iqbal Maulana ( fb.com/miqbal.maulana.180 ) mengunggah sebuah video dengan narasi:
“Harap berhati hati untuk rekan rekan yang bekerja di area pelabuhan khusus TKBM
Menginformasikan di JICT bahwa Capt Kapal CMA CGM Semua Tim agar tetap berhati² Terima kasih
Informasi terupdate dr JICT barusan yang ditemukan kembali ABK nya di evakuasi kembali ke RS
Informasi terupade dr Terminal, yaitu nambah 1 lagi agen pelayaran CMA mencurigai tersangka virus corona dan diamankan ke RS Suroso, utk kapal CMA CGM Jakarta sementara ini masih aman informasi dr Karantina, tetap kami perlu waspada agar jgn ada kontak langsung juga dengan pengiriman kapal Atau agen pelayarannya ini imbauan dr pihak Terminal. Terima kasih"
Akun M Iqbal Maulana ( fb.com/miqbal.maulana.180 ) mengunggah sebuah video dengan narasi:
“Harap berhati hati untuk rekan rekan yang bekerja di area pelabuhan khusus TKBM
Menginformasikan di JICT bahwa Capt Kapal CMA CGM Semua Tim agar tetap berhati² Terima kasih
Informasi terupdate dr JICT barusan yang ditemukan kembali ABK nya di evakuasi kembali ke RS
Informasi terupade dr Terminal, yaitu nambah 1 lagi agen pelayaran CMA mencurigai tersangka virus corona dan diamankan ke RS Suroso, utk kapal CMA CGM Jakarta sementara ini masih aman informasi dr Karantina, tetap kami perlu waspada agar jgn ada kontak langsung juga dengan pengiriman kapal Atau agen pelayarannya ini imbauan dr pihak Terminal. Terima kasih"
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Kementerian Perhubungan memastikan informasi keberadaan nakhoda kapal CMA CGM Virginia di Pelabuhan Tanjung Priok yang terindikasi virus corona (Covid-19) adalah tidak benar.
“Informasi simpang siur yang dikeluarkan melalui aplikasi WhatApp, yang terkait dengan Nakhoda kapal berkewargaan Ukraina terindikasi virus Corona adalah informasi yang tidak benar dan menyesatkan,” tegas Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Ahmad, Jumat (6/3/2020) ).
Ahmad juga menanyakan informasi tentang kapal yang dimaksud di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak mengikuti standar dan prosedur pemeriksaan kapal terkait antisipasi virus Corona tidak benar. Dia juga menepis kabar anak buah kapal (ABK) dari kapal tersebut terindikasi virus Corona.
Ahmad menjelaskan kronologi peristiwa tersebut berawal dari adanya pergantian Nakhoda kapal sebelum kapal tersebut bertolak ke Tanjung Perak Surabaya.
Bermula saat Kapal CMA CGM Virginia dari Tiongkok sandar di JICT Tanjung Priok pada tanggal 5 Maret 2020 pukul 13.00 WIB setelah sebelumnya ditanggapi oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di zona karantina dan pada saat diumumkan bersandar setelah ada izin kesehatan dari KKP.
"Hasil pengamatan oleh KKP tidak ada ABK kapal yang terindikasi virus Corona," kata Ahmad.
Selanjutnya, Jumat ini, Surat Persetujuan Berlayar (SPB) diterbitkan oleh Syahbandar Tanjung Priok dan ada pergantian Nakhoda kapal sebelum kapal tersebut akan bertolak ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Sementara kapal Nakhoda tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan dinyatakan sedang sakit, kapal agen menelpon KKP yang langsung membawa Nakhoda kapal tersebut ke rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC) Tanjung Priok.
“Hasil pemeriksaan yang dikeluarkan Nakhoda kapal berkewargaan Ukraina ini tidak terindikasi virus Corona yang dinyatakan sakit flu biasa. Namun demikian, Nakhoda kapal ini masih diobservasi di Rumah Sakit JMC hingga saat ini, ”jelas Ahmad.
Ditjen Perhubungan Laut terus melakukan langkah guna guna menyebarkan virus corona. Salah satunya antisipasi dengan menerbitkan Surat Edaran Ditjen Perhubungan Laut Nomor SE 8 Tahun 2020 tentang Langkah Siaga Hadapi Penyebaran Virus Corona di Wilayah Pelabuhan Indonesia. Ditjen Perhubungan Laut juga bekerja sama dengan BUMN Pelabuhan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) memperketat pemeriksaan kesehatan penumpang.
Kementerian Perhubungan memastikan informasi keberadaan nakhoda kapal CMA CGM Virginia di Pelabuhan Tanjung Priok yang terindikasi virus corona (Covid-19) adalah tidak benar.
“Informasi simpang siur yang dikeluarkan melalui aplikasi WhatApp, yang terkait dengan Nakhoda kapal berkewargaan Ukraina terindikasi virus Corona adalah informasi yang tidak benar dan menyesatkan,” tegas Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Ahmad, Jumat (6/3/2020) ).
Ahmad juga menanyakan informasi tentang kapal yang dimaksud di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak mengikuti standar dan prosedur pemeriksaan kapal terkait antisipasi virus Corona tidak benar. Dia juga menepis kabar anak buah kapal (ABK) dari kapal tersebut terindikasi virus Corona.
Ahmad menjelaskan kronologi peristiwa tersebut berawal dari adanya pergantian Nakhoda kapal sebelum kapal tersebut bertolak ke Tanjung Perak Surabaya.
Bermula saat Kapal CMA CGM Virginia dari Tiongkok sandar di JICT Tanjung Priok pada tanggal 5 Maret 2020 pukul 13.00 WIB setelah sebelumnya ditanggapi oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di zona karantina dan pada saat diumumkan bersandar setelah ada izin kesehatan dari KKP.
"Hasil pengamatan oleh KKP tidak ada ABK kapal yang terindikasi virus Corona," kata Ahmad.
Selanjutnya, Jumat ini, Surat Persetujuan Berlayar (SPB) diterbitkan oleh Syahbandar Tanjung Priok dan ada pergantian Nakhoda kapal sebelum kapal tersebut akan bertolak ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Sementara kapal Nakhoda tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan dinyatakan sedang sakit, kapal agen menelpon KKP yang langsung membawa Nakhoda kapal tersebut ke rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC) Tanjung Priok.
“Hasil pemeriksaan yang dikeluarkan Nakhoda kapal berkewargaan Ukraina ini tidak terindikasi virus Corona yang dinyatakan sakit flu biasa. Namun demikian, Nakhoda kapal ini masih diobservasi di Rumah Sakit JMC hingga saat ini, ”jelas Ahmad.
Ditjen Perhubungan Laut terus melakukan langkah guna guna menyebarkan virus corona. Salah satunya antisipasi dengan menerbitkan Surat Edaran Ditjen Perhubungan Laut Nomor SE 8 Tahun 2020 tentang Langkah Siaga Hadapi Penyebaran Virus Corona di Wilayah Pelabuhan Indonesia. Ditjen Perhubungan Laut juga bekerja sama dengan BUMN Pelabuhan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) memperketat pemeriksaan kesehatan penumpang.
Rujukan
Halaman: 7714/8135






