Pekan lalu, Kepolisian mulai mengenalkan adanya SIM yang juga berfungsi sebagai e-money yang digadang-gadang akan rilis di seluruh Indonesia secara bertahap pada 22 September 2019 mendatang. Sebelum peluncuran ini, beredar kabar bahwa untuk mendapatkan SIM dengan e-money dilakukan pemutihan SIM terlebih dahulu.
(GFD-2019-3157) Viral, Pemutihan SIM untuk Smart SIM Berlaku Mulai 25 Agustus 2019
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 10/09/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
KOMPAS.com - Pekan lalu, Kepolisian mulai mengenalkan adanya SIM yang juga berfungsi sebagai e-money yang digadang-gadang akan rilis di seluruh Indonesia secara bertahap pada 22 September 2019 mendatang. Sebelum peluncuran ini, beredar kabar bahwa untuk mendapatkan SIM dengan e-money dilakukan pemutihan SIM terlebih dahulu. Salah satu pengguna Facebook OLC, mengunggah foto yang menampilkan wujud Smart SIM pada bagian depan dan belakang. Pengunggah juga membubuhkan keterangan foto yang berisi informasi bahwa pemutihan SIM ini berlaku mulai 25 Agustus 2019. " Pemutihan SIM yang sudah mati dan buat SIM baru, berlaku mulai tanggal 25 Agustus 2019. Tolong dibantu share ya, agar yang memiliki SIM mati bisa diperbarui tanpa mengulang tes lagi. Berlaku seluruh Indonesia," tulis OLC dalam unggahannya, Jumat (30/8/2019). Adapun informasi yang belum jelas kebenarannya pun banyak tersebar di media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram, bahkan aplikasi pesan WhatsApp.
Penjelasan Kakorlantas Menanggapi hal itu, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Refdi Andri mengatakan bahwa informasi yang beredar adalah hoaks. "Itu hoaks. Enggak ada pemutihan SIM, enggak bener itu nanti kita klarifikasi kalau begitu," ujar Refdi saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (5/9/2019). Menurutnya, pihak kepolisian hanya memberlakukan pembuatan SIM dan perpanjangan SIM. "Kalau pembuatan SIM baru kan sudah jelas itu mekanismenya sesuai Peraturan Kapolri (Perkap) No.9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi, jadi enggak ada pemutihan-pemutihan," ujar Refdi. Kemudian, Refdi mengatakan bahwa pihaknya masih tetap menjalankan pembuatan SIM dan perpanjangan SIM dengan proses yang sama seperti sebelumnya. Launching Smart SIM Tidak ada perbedaan dari sisi persyaratan, mekanisme, dan besaran-besaran PBB. Faktanya, Kepolisian baru akan meluncurkan Smart SIM di seluruh Indonesia pada 22 September 2019 mendatang. "Ya rencananya itu kita launching Smart SIM pada saat Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-64 pada 22 September 2019," ujar Refdi. Selain itu, Kepolisian melalui akun Twitternya Divisi Humas Polri, @DivHumas_Polri mengonfirmasi kabar pemutihan SIM untuk pembuatan SIM baru adalah kabar tidak benar. Berikut bunyi twitnya: "Beredarnya informasi pemutihan SIM yang sudah mati dan pembuatan SIM baru tidak perlu mengulang tes lagi dan belaku di seluruh Polda pada tanggal 25 Agustus 2019 adalah hoaks atau tidak benar."
Penjelasan Kakorlantas Menanggapi hal itu, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Refdi Andri mengatakan bahwa informasi yang beredar adalah hoaks. "Itu hoaks. Enggak ada pemutihan SIM, enggak bener itu nanti kita klarifikasi kalau begitu," ujar Refdi saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (5/9/2019). Menurutnya, pihak kepolisian hanya memberlakukan pembuatan SIM dan perpanjangan SIM. "Kalau pembuatan SIM baru kan sudah jelas itu mekanismenya sesuai Peraturan Kapolri (Perkap) No.9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi, jadi enggak ada pemutihan-pemutihan," ujar Refdi. Kemudian, Refdi mengatakan bahwa pihaknya masih tetap menjalankan pembuatan SIM dan perpanjangan SIM dengan proses yang sama seperti sebelumnya. Launching Smart SIM Tidak ada perbedaan dari sisi persyaratan, mekanisme, dan besaran-besaran PBB. Faktanya, Kepolisian baru akan meluncurkan Smart SIM di seluruh Indonesia pada 22 September 2019 mendatang. "Ya rencananya itu kita launching Smart SIM pada saat Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-64 pada 22 September 2019," ujar Refdi. Selain itu, Kepolisian melalui akun Twitternya Divisi Humas Polri, @DivHumas_Polri mengonfirmasi kabar pemutihan SIM untuk pembuatan SIM baru adalah kabar tidak benar. Berikut bunyi twitnya: "Beredarnya informasi pemutihan SIM yang sudah mati dan pembuatan SIM baru tidak perlu mengulang tes lagi dan belaku di seluruh Polda pada tanggal 25 Agustus 2019 adalah hoaks atau tidak benar."
Rujukan
(GFD-2019-6862) [SALAH] Inilah ASTEROID yg akan menghantam bumi 9 september mendatang
Sumber: facebook.comTanggal publish: 10/09/2019
Berita
Beredar sebuah gambar yang diunggah oleh akun Caption campuran (fb.com/Caption-campuran-750043842057667) yang diberi narasi sebagai berikut :
“Kita berdoa sja sma yg maha kuasa, Agar Di lindungi dari balaBencana yg akan menimpa kita”
Narasi dalam gambar :
“himbauan NASA dan ulama kepada seluruh warga internet.
7 hari menuju kiamat kecil
inilah ASTEROID yg akan menghantam bumi 9 september mendatang”
Asteroid menabrak bumi
“Kita berdoa sja sma yg maha kuasa, Agar Di lindungi dari balaBencana yg akan menimpa kita”
Narasi dalam gambar :
“himbauan NASA dan ulama kepada seluruh warga internet.
7 hari menuju kiamat kecil
inilah ASTEROID yg akan menghantam bumi 9 september mendatang”
Asteroid menabrak bumi
Hasil Cek Fakta
Sejumlah media memang memberitakan prediksi bahwa bumi akan dilewati oleh Asteroid 2006 QV89 pada 9 September 2019. Bukan tidak mungkin asteroid tersebut akan bertabrakan dengan bumi.
Asteroid itu sendiri memiliki ukuran sebesar Arc de Triomphe Paris yang bisa berdiameter hingga 40 meter atau 130 kaki.
Benda langit itu punya ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan diameter sebuah meteor yang pernah membuat geger masyarakat Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Dengan diameter sebesar 20 meter atau 65 kaki, meteor itu mampu melukai lebih dari 1.500 orang dan merusak 7.200 bangunan. Efek ledakannya pun terasa hingga ratusan mil jauhnya.
Akan tetapi, walaupun mempunyai ukuran yang lebih besar dari yang terjadi pada 2013, Asteroid 2006 QV89 nyatanya tidak terlalu membahayakan karena, menurut peneliti, persentasenya untuk bertabrakan dengan bumi hanya satu berbanding 7.000. Ukurannya pun tidak cukup besar untuk menghancurkan peradaban.
Persentase yang sangat kecil itu mengacu pada hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa jarak antara Asteroid 2006 QV89 dengan pusat bumi pada 9 September adalah 6,8 juta kilometer, jarak yang sangat jauh jika dibandingkan dengan jarak bumi dengan bulan yang hanya 384.400 kilometer.
Hal itu juga disampaikan oleh Community Coordinator and Communication Strategy Officer European Southern Observatory (ESO), Oana Sandu. Menurut dia, Asteroid 2006 QV89 sebenarnya hanya memiliki kemungkinan 1 dibanding 7.000 untuk menabrak bumi pada 9 September 2019.
Asteroid 2006 QV89 adalah asteroid yang ditemukan pada 29 Agustus 2006 oleh Catalina Sky Survey. Asteroid itu, bersama dengan dua puluh ribu asteroid lainnya yang dikategorikan sebagai Apollo Type Asteroid, adalah asteroid yang lintasannya menyeberangi planet bumi.
Namun, asteroid itu dianggap tidak berbahaya karena berukuran sangat kecil dan pasti akan terbakar di atmosfer sebelum sampai ke permukaan bumi.
Pada 1 Agustus 2019, situs EarthSky melansir cerita asal mula gegernya warganet soal isu Asteroid 2006 QV89 akan menabrak bumi pada 9 September 2019.
Menurut artikel itu, informasi tersebut berasal dari fakta bahwa asteroid ini muncul dalam “daftar obyek risiko” dari ESA, seperti halnya banyak obyek lainnya. Namun, ESA mengklasifikasikannya sebagai risiko non-prioritas. Asteroid 2006 QV89 memiliki Skala Torino 0 yang menunjukkan tidak adanya status bahaya.
Asteroid itu sendiri memiliki ukuran sebesar Arc de Triomphe Paris yang bisa berdiameter hingga 40 meter atau 130 kaki.
Benda langit itu punya ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan diameter sebuah meteor yang pernah membuat geger masyarakat Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Dengan diameter sebesar 20 meter atau 65 kaki, meteor itu mampu melukai lebih dari 1.500 orang dan merusak 7.200 bangunan. Efek ledakannya pun terasa hingga ratusan mil jauhnya.
Akan tetapi, walaupun mempunyai ukuran yang lebih besar dari yang terjadi pada 2013, Asteroid 2006 QV89 nyatanya tidak terlalu membahayakan karena, menurut peneliti, persentasenya untuk bertabrakan dengan bumi hanya satu berbanding 7.000. Ukurannya pun tidak cukup besar untuk menghancurkan peradaban.
Persentase yang sangat kecil itu mengacu pada hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa jarak antara Asteroid 2006 QV89 dengan pusat bumi pada 9 September adalah 6,8 juta kilometer, jarak yang sangat jauh jika dibandingkan dengan jarak bumi dengan bulan yang hanya 384.400 kilometer.
Hal itu juga disampaikan oleh Community Coordinator and Communication Strategy Officer European Southern Observatory (ESO), Oana Sandu. Menurut dia, Asteroid 2006 QV89 sebenarnya hanya memiliki kemungkinan 1 dibanding 7.000 untuk menabrak bumi pada 9 September 2019.
Asteroid 2006 QV89 adalah asteroid yang ditemukan pada 29 Agustus 2006 oleh Catalina Sky Survey. Asteroid itu, bersama dengan dua puluh ribu asteroid lainnya yang dikategorikan sebagai Apollo Type Asteroid, adalah asteroid yang lintasannya menyeberangi planet bumi.
Namun, asteroid itu dianggap tidak berbahaya karena berukuran sangat kecil dan pasti akan terbakar di atmosfer sebelum sampai ke permukaan bumi.
Pada 1 Agustus 2019, situs EarthSky melansir cerita asal mula gegernya warganet soal isu Asteroid 2006 QV89 akan menabrak bumi pada 9 September 2019.
Menurut artikel itu, informasi tersebut berasal dari fakta bahwa asteroid ini muncul dalam “daftar obyek risiko” dari ESA, seperti halnya banyak obyek lainnya. Namun, ESA mengklasifikasikannya sebagai risiko non-prioritas. Asteroid 2006 QV89 memiliki Skala Torino 0 yang menunjukkan tidak adanya status bahaya.
Kesimpulan
Sejumlah media memang memberitakan prediksi bahwa bumi akan dilewati oleh asteroid pada 9 September 2019. Bukan tidak mungkin asteroid tersebut akan bertabrakan dengan bumi. Akan tetapi, menurut penelitian ESA dan ESO, asteroid bernama 2006 QV89 itu memang masuk dalam “daftar obyek risiko”. Namun, risikonya non-proritas karena tidak memiliki status bahaya.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/392/fakta-atau-hoaks-benarkah-asteroid-akan-tabrak-bumi-9-september-ini
- https://tekno.tempo.co/read/1217649/geger-asteroid-akan-menabrak-bumi-ini-penjelasannya
- https://www.eso.org/public/announcements/ann19039/
- https://earthsky.org/space/asteroid-2006-qv89-strike-earth-september-2019
(GFD-2019-3058) [SALAH] Foto Proses Produksi Mobil Esemka
Sumber: facebook.comTanggal publish: 10/09/2019
Berita
Postingan sumber berisikan empat foto kegiatan manufaktur pembuatan mobil. Narasi yang menyertai postingan itu menyebutkan bahwa foto-foto itu merupakan proses produksi mobil Esemka. Berikut kutipan narasinya:
BUKA MATAMU LEBAR LEBAR PRETT...
INI PROSES PRODUKSI MOBIL ESEMKA...
BUKA MATAMU LEBAR LEBAR PRETT...
INI PROSES PRODUKSI MOBIL ESEMKA...
Hasil Cek Fakta
Melalui penelusuran, diketahui bahwa foto-foto tersebut bukan berasal dari proses kegiatan produksi mobil Esemka. Foto pertama berasal dari proses perakitan komponen mobil di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Jakarta pada Senin 9 Mei 2016. Foto tersebut diambil oleh portal liputan6.com pada rubrik foto berjudul “Industri Otomotif Nasional Siap Saingi Thailand” yang dimuat pada tanggal 9 Mei 2016.
Foto kedua berasal dari kegiatan perakitan mobil Datsun Go+ yang dirakit di Pabrik Nissan, Purwakarta pada 8 Mei 2018. Peristiwa itu diketahui setelah mencocokkan foto tersebut dengan foto yang diambil oleh Bay Ismoyo. Orang dalam foto di sumber postingan sama dengan orang dalam foto Bay Ismoyo yang dapat dilihat di laman Getty Images. Selain kesesuaian orang dalam foto, terlihat juga beberapa ciri mesin yang sama antara kedua foto.
Lalu, foto ketiga berasal dari laman Toyota Global. Foto aslinya merupakan proses perakitan mobil Toyota Prius di Tsutsumi Plant, Jepang. Pada laman Toyota Global foto tersebut diposting pada tanggal 29 Agustus 2016.
Dan, foto keempat berasal dari laman Tempo.co pada tanggal 21 November 2012 dengan judul “Mercedes-Benz Rakit M-Class di Wanaherang.” Pada rubrik foto Tempo.co tersebut terdapat foto-foto kegiatan proses perakitan mobil Mercedez Benz.
Foto kedua berasal dari kegiatan perakitan mobil Datsun Go+ yang dirakit di Pabrik Nissan, Purwakarta pada 8 Mei 2018. Peristiwa itu diketahui setelah mencocokkan foto tersebut dengan foto yang diambil oleh Bay Ismoyo. Orang dalam foto di sumber postingan sama dengan orang dalam foto Bay Ismoyo yang dapat dilihat di laman Getty Images. Selain kesesuaian orang dalam foto, terlihat juga beberapa ciri mesin yang sama antara kedua foto.
Lalu, foto ketiga berasal dari laman Toyota Global. Foto aslinya merupakan proses perakitan mobil Toyota Prius di Tsutsumi Plant, Jepang. Pada laman Toyota Global foto tersebut diposting pada tanggal 29 Agustus 2016.
Dan, foto keempat berasal dari laman Tempo.co pada tanggal 21 November 2012 dengan judul “Mercedes-Benz Rakit M-Class di Wanaherang.” Pada rubrik foto Tempo.co tersebut terdapat foto-foto kegiatan proses perakitan mobil Mercedez Benz.
Kesimpulan
Berdasarkan hal tersebut, maka klaim bahwa foto-foto itu berasal dari produksi mobil Esemka tidak benar. Dengan demikian, postingan sumber masuk ke dalam kategori False Connection atau Koneksi yang Salah. Klaim antara narasi dengan foto-foto tidak terkait dan tidak benar.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/974002382932297/
- https://turnbackhoax.id/2019/09/10/salah-foto-proses-produksi-mobil-esemka/
- https://www.liputan6.com/photo/read/2502524/industri-otomotif-nasional-siap-saingi-thailand?page=3
- https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/laborers-work-at-the-new-nissan-plant-in-purwakarta-west-news-photo/488751745?adppopup=true
- https://global.toyota/en/download/14220419/
- https://foto.tempo.co/read/4193/mercedes-benz-rakit-m-class-di-wanaherang#foto-1
(GFD-2019-3056) [BERITA] Klarifikasi Terkait Isu Terlantarnya Mahasiswa NTB di Korea Selatan
Sumber:Tanggal publish: 09/09/2019
Berita
Sempat mencuat isu yang menyebutkan bahwa mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat (NTB) terlantar di Korea Selatan. Isu tersebut muncul dari pemberitaan media massa cetak lokal di NTB.
Hasil Cek Fakta
Menanggapi isu tersebut, pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memberikan klarifikasinnya. Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah membantah kabar mahasiswa penerima beasiswa ke Korea Selatan terlantar. Ia menyatakan kondisi mahasiswa di Korea saat ini masih dalam tahap kursus bahasa dan belum aktif berkuliah.
Gubernur Zulkieflimansyah menegaskan, sebelum masuk perkuliahan mahasiswa tersebut harus mampu berbahasa Korea. Gubernurpun menyayangkan pemberitaan yang dianggapnya terlalu berlebihan.
“Kondisi baik baik saja dan sedang kursus bahasa, nggak ada yang terlantar, kelewatan saja teman-teman bikin HL (Head Line) . Memang belum masuk kuliah karena harus kursus bahasa dulu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh pihak Dinas Kesehatan NTB selaku dinas terkait untuk pengiriman mahasiswa ke Korea Selatan. Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi menegaskan, Pemerintah Provinsi NTB tidak pernah menelantarkan para penerima beasiswa di Korea Selatan.
“Tidak ada yang ditelantarkan. Kalau ada yang menyebut bahwa kami menelantarkan, bisa dipastikan itu tidak benar,” ungkapnya.
Menurutnya yang menentukan keberhasilan dan kegagalan setiap peserta program belajar adalah ketekunan dan kemauan untuk menghadapi persoalan yang muncul. Untuk itu, Nurhandini mengatakan, ketika penerima program beasiswa mengalami kendala, Pemprov NTB akan berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan. Salah satu wujud perhatian Pemprov NTB terhadap penerima beasiswa adalah telah dianggarkannya bantuan beasiswa di tahun anggaran 2020.
“Kami di Pemprov NTB tetap berkeyakinan bahwa program beasiswa NTB adalah salah satu program mulia yang akan memberikan manfaat besar bagi daerah kita. Kalaupun ada kendala dalam pelaksanaannya, kita akan cari jalan keluarnya bersama,” katanya.
Kepala Biro Humas Protokol Sedta NTB, Najamudin Amy, pun angkat bicara. Ia menegaskan bahwa isu mahasiswa NTB terlantar tidak benar.
“Tidak benar mereka telantar. Pengiriman 18 mahasiswa ke Korea ini merupakan tenaga kesehatan perawat peraih beasiswa S1, untuk mendapatkan tambahan pendidikan selama enam bulan. Selama enam bulan, mereka manfaatkan untuk belajar Bahasa Korea. Namun, setelah tes belum ada yang mampu mencapai level tiga yang disyaratkan. Para mahasiswa hanya berbekal bahasa Inggris, sehingga kesulitan beradaptasi dengan bahasa Korea di sana,” katanya.
Dikatakan, para mahasiswa ini belum bisa masuk kelas karena terkendala bahasa. Untuk bisa masuk kuliah di Chodang University, mahasiswa Indonesia harus mampu mencapai level tiga tes bahasa Korea. Namun sebagian besar mahasiswa baru mencapai level satu.
“Belum masuk kuliah, bukan enggak kuliah, tetapi persiapan bahasa. Karena menurut orang Korea nanti salah obat, kalau nggak ngerti bahasa,” kata Najamudin.
Menurutnya, skema awal yang ditawarkan, mereka bisa kuliah sambil bekerja paruh waktu menjadi perawat. Dengan begitu, mahasiswa bisa menambah biaya kuliahnya.
Ia mengatakan, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah sudah mengutus Kepala Dinas Kesehatan NTB dan Direktur RSUD NTB untuk memastikan kondisi kampus yang akan jadi tempat studi mahasiswa. Setelah semua dicek, barulah dilakukan seleksi dan pengiriman mahasiswa.
“Tapi pas sampai di sana, harapan yang dijanjikan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Namun enggak sampai ditelantarkan. Mereka tetap di asrama,” tuturnya.
Najamudin mengatakan, pemerintah provinsi bertanggung jawab. Masalah ini masih bisa diatasi. “Jika Universitas Chodang Korea tidak bisa menyediakan yang dijanjikan, ya kita pindah kampus yang sesuai dengan bidang teman-teman,” kata Najamudin menirukan pernyataan Gubernur Zul.
Menurut Najamudin, Gubernur Zul menilai kasus ini menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengirim mahasiswa. Pengiriman mahasiswa yang akan belajar ke luar negeri harus melalui lembaga yang profesional seperti Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB.
“Gubernur tidak menutup mata, mungkin akan dicarikan kesempatan lain kalau passion-nya masih sekolah untuk beasiswa. Mereka akan jadi prioritas utama, apakah ke Malaysia ataupun negara-negara lain,” ucap Najamudin.
Selama ini pemerintah provinsi NTB telah mengirimkan mahasiswa untuk belajar di luar negeri seperti Polandia, Malaysia, China, Taiwan, dan Korea. Semuanya melalui LPP dan cukup berhasil.
Adapun, pihak Kedutaan Besar Indonesia di Korea Selatan pun sudah memastikan mahasiswa asal NTB tidak terlantar. Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, memastikan bahwa tidak ada mahasiswa NTB yang terlantar. “Pak Gub, saya hari ini sudah bertemu dengan Euis Baiduri yang mewakili teman-temannya, sementara staf saya hari ini bertemu 17 mahasiswa lainnya di kampus Chodang. Saya bisa pastikan bahwa tidak ada yang terlantar,” ujar Umar Hadi dalam pesan singkatnya kepada Gubernur NTB, Jumat (30/8/2019).
Mengenai kelanjutan studi mahasiswa NTB di Korsel, Umar Hadi juga telah mendiskusikannya dengan Kadis Kesehatan NTB yang saat ini tengah berada di Korsel. “InsyaAllah saya kawal terus supaya dapat solusi yang terbaik,” ujarnya.
Gubernur Zulkieflimansyah menegaskan, sebelum masuk perkuliahan mahasiswa tersebut harus mampu berbahasa Korea. Gubernurpun menyayangkan pemberitaan yang dianggapnya terlalu berlebihan.
“Kondisi baik baik saja dan sedang kursus bahasa, nggak ada yang terlantar, kelewatan saja teman-teman bikin HL (Head Line) . Memang belum masuk kuliah karena harus kursus bahasa dulu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh pihak Dinas Kesehatan NTB selaku dinas terkait untuk pengiriman mahasiswa ke Korea Selatan. Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi menegaskan, Pemerintah Provinsi NTB tidak pernah menelantarkan para penerima beasiswa di Korea Selatan.
“Tidak ada yang ditelantarkan. Kalau ada yang menyebut bahwa kami menelantarkan, bisa dipastikan itu tidak benar,” ungkapnya.
Menurutnya yang menentukan keberhasilan dan kegagalan setiap peserta program belajar adalah ketekunan dan kemauan untuk menghadapi persoalan yang muncul. Untuk itu, Nurhandini mengatakan, ketika penerima program beasiswa mengalami kendala, Pemprov NTB akan berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan. Salah satu wujud perhatian Pemprov NTB terhadap penerima beasiswa adalah telah dianggarkannya bantuan beasiswa di tahun anggaran 2020.
“Kami di Pemprov NTB tetap berkeyakinan bahwa program beasiswa NTB adalah salah satu program mulia yang akan memberikan manfaat besar bagi daerah kita. Kalaupun ada kendala dalam pelaksanaannya, kita akan cari jalan keluarnya bersama,” katanya.
Kepala Biro Humas Protokol Sedta NTB, Najamudin Amy, pun angkat bicara. Ia menegaskan bahwa isu mahasiswa NTB terlantar tidak benar.
“Tidak benar mereka telantar. Pengiriman 18 mahasiswa ke Korea ini merupakan tenaga kesehatan perawat peraih beasiswa S1, untuk mendapatkan tambahan pendidikan selama enam bulan. Selama enam bulan, mereka manfaatkan untuk belajar Bahasa Korea. Namun, setelah tes belum ada yang mampu mencapai level tiga yang disyaratkan. Para mahasiswa hanya berbekal bahasa Inggris, sehingga kesulitan beradaptasi dengan bahasa Korea di sana,” katanya.
Dikatakan, para mahasiswa ini belum bisa masuk kelas karena terkendala bahasa. Untuk bisa masuk kuliah di Chodang University, mahasiswa Indonesia harus mampu mencapai level tiga tes bahasa Korea. Namun sebagian besar mahasiswa baru mencapai level satu.
“Belum masuk kuliah, bukan enggak kuliah, tetapi persiapan bahasa. Karena menurut orang Korea nanti salah obat, kalau nggak ngerti bahasa,” kata Najamudin.
Menurutnya, skema awal yang ditawarkan, mereka bisa kuliah sambil bekerja paruh waktu menjadi perawat. Dengan begitu, mahasiswa bisa menambah biaya kuliahnya.
Ia mengatakan, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah sudah mengutus Kepala Dinas Kesehatan NTB dan Direktur RSUD NTB untuk memastikan kondisi kampus yang akan jadi tempat studi mahasiswa. Setelah semua dicek, barulah dilakukan seleksi dan pengiriman mahasiswa.
“Tapi pas sampai di sana, harapan yang dijanjikan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Namun enggak sampai ditelantarkan. Mereka tetap di asrama,” tuturnya.
Najamudin mengatakan, pemerintah provinsi bertanggung jawab. Masalah ini masih bisa diatasi. “Jika Universitas Chodang Korea tidak bisa menyediakan yang dijanjikan, ya kita pindah kampus yang sesuai dengan bidang teman-teman,” kata Najamudin menirukan pernyataan Gubernur Zul.
Menurut Najamudin, Gubernur Zul menilai kasus ini menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengirim mahasiswa. Pengiriman mahasiswa yang akan belajar ke luar negeri harus melalui lembaga yang profesional seperti Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB.
“Gubernur tidak menutup mata, mungkin akan dicarikan kesempatan lain kalau passion-nya masih sekolah untuk beasiswa. Mereka akan jadi prioritas utama, apakah ke Malaysia ataupun negara-negara lain,” ucap Najamudin.
Selama ini pemerintah provinsi NTB telah mengirimkan mahasiswa untuk belajar di luar negeri seperti Polandia, Malaysia, China, Taiwan, dan Korea. Semuanya melalui LPP dan cukup berhasil.
Adapun, pihak Kedutaan Besar Indonesia di Korea Selatan pun sudah memastikan mahasiswa asal NTB tidak terlantar. Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, memastikan bahwa tidak ada mahasiswa NTB yang terlantar. “Pak Gub, saya hari ini sudah bertemu dengan Euis Baiduri yang mewakili teman-temannya, sementara staf saya hari ini bertemu 17 mahasiswa lainnya di kampus Chodang. Saya bisa pastikan bahwa tidak ada yang terlantar,” ujar Umar Hadi dalam pesan singkatnya kepada Gubernur NTB, Jumat (30/8/2019).
Mengenai kelanjutan studi mahasiswa NTB di Korsel, Umar Hadi juga telah mendiskusikannya dengan Kadis Kesehatan NTB yang saat ini tengah berada di Korsel. “InsyaAllah saya kawal terus supaya dapat solusi yang terbaik,” ujarnya.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/973180013014534/
- https://turnbackhoax.id/2019/09/09/berita-klarifikasi-terkait-isu-terlantarnya-mahasiswa-ntb-di-korea-selatan/
- http://tajuklombok.com/berita/detail/gubernur-bantah-mahasiswa-ntb-terlantar-di-korea
- https://www.antaranews.com/berita/1034504/penerima-beasiswa-ntb-di-korea-selatan-terlantar-dibantah-pemerintah
- https://www.gatra.com/detail/news/443160/politik/pemprov-bantah-mahasiswa-ntb-di-korea-terlantar-
- https://mataramnews.co.id/17565/dubes-indonesia-di-korsel-tak-ada-mahasiswa-ntb-yang-terlantar/
Halaman: 7498/7809





