• (GFD-2020-4875) [SALAH] Video “Obat COVID-19 Telah Ditemukan dan Siap Disebarkan ke Seluruh Indonesia”

    Sumber: youtube.com
    Tanggal publish: 17/04/2020

    Berita

    Youtube:

    “Obat Virus Corona (COVID-19) Telah ditemukan Dan Siap Di Sebar Ke Seluruh Indonesia

    Instanti Kesehatan berhasil membuat obat yang di butuhkan Pasien Covid 19 saat ini dan pada pidatonya beliau berterimakasih kepada Pemerintah atas bantuannya karena bahan baku dari obat inu sangat sulit karena rebutan dengan negara negara lain. Kami berharap dengan adanya Obat Ini Covid-19 dapat musnah dan dunia kembaki normal kembali Amin”

    Facebook:

    “Share Semoga Ini adalah solusi penghujung dari wabah Covid 19 Amin.

    Hasil Cek Fakta

    Akun Youtube Fz Time mengunggah video pada 15 April 2020, video tersebut merupakan konferensi pers Commercial Director PT Dexa Medica, Hery Sutanto yang diklaim mengumumkan telah ditemukannya obat COVID-19, kemudian unggahan itu dibagikan pada laman Facebook miliknya.

    Dari hasil penelusuran, selama konferensi pers Commercial Director PT Dexa Medica, Hery Sutanto tidak menyebutkan pernyataan bahwa obat COVID-19 sudah ditemukan. Namun PT Dexa Medica akan mendonasikan obat-obatan untuk pasien COVID-19 juga perlengkapan APD.

    Dikutip dari suara.com, PT Dexa Medica akan mendonasikan, 100.000 tablet obat Hydroxychloroquine 200 mg setara untuk 5.000 pasien, 240.000 tablet Chloroquine 250 mg atau setara untuk kebutuhan 12.000 pasien dan Azithromycin untuk 5.000 pasien sejumlah 50.000 tablet ke Rumah Sakit rujukan COVID-19 dan Rumah Sakit Pemerintah yang menangani pasien COVID-19 di Indonesia.

    Hary juga mengatakan, dirinya berterima kasih kepada Pemerintah, BPOM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perindustrian juga instansi lain yang telah membantu untuk mendatangkan bahan baku obat tersebut yang menjadi rebutan di seluruh dunia ke Indonesia.

    Dilasir dari kumparan.com, Klorokuin bukan merupakan obat utama virus Corona. Hal tersebut pernah dinyatakan oleh Presiden Joko Widodo bahwa Klorokuin merupakan obat lapis kedua atau second line, obat ini digunakan atas dasar implementasi yang sudah berjalan di sejumlah negara dalam menagani virus Corona.

    Melansir dari cnnindonesia.com, kalangan profesional termasuk dokter Eugene Du, yang juga merupakan CEO Cool Quit, perusahaan yang terdiri dari tim dokter lulusan Stanford yang memerangi pandemi virus Corona ikut buka suara terkait kombinasi Hydroxychloroquine dan Azithromycin sebagai obat COVID-19, dirinya mengatakan bahwa kombinasi obat tersebut belum terbukti secara klinis aman dan efektif.

    Dokter dan Direktur Institute of Molecular Biology dan Biotechnology National Institutes of Health University of the Philippines, Manila Edsel Salvana ikut memberikan pernyataan bahwa mengonsumsi Hydroxycloroquine dan Azithromycin hanya diperbolehkan dengan resep dokter, karena keduanya termasuk obat keras. Di beberapa kesempatan memang dokter menggunakan satu atau kedua obat tersebut untuk pasien COVID-19, namun dosis yang diberikan dengan perhitungan dan monitor ketat. Sebab, kombinasi kedua obat tersebut dapat menyebabkan aritmia atau gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan kematian. Terutama jika pasien mengonsumsi obat lainnya dan memiliki riwayat penyakit jantung.

    Atas penjelasan tersebut informasi yang menyebutkan bahwa obat COVID-19 telah ditemukan adalah tidak benar dan masuk ke dalam kategori Konten yang Salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Riski Maulana (Anggota Komisariat MAFINDO BSI)

    Video tersebut merupakan konferensi pers Hery Sutanto selaku Commercial Director PT Dexa Medica mengenai pemberian donasi obat-obatan dan APD, bukan pengumuman mengenai penemuan obat COVID-19.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4876) [SALAH] “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Himbau Mudik Lewat Tol Langit Saja”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 17/04/2020

    Berita

    “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Himbau Mudik Lewat Tol Langit Saja”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui media sosial Facebook, sebuah tangkapan layar yang memperlihatkan pemberitaan milik cnnindonesia.com beredar. Menurut tangkapan layar yang diunggah oleh group Facebook @generasimillenial, pemberitaan milik cnnindonesia.com yang terbit pada 19 Maret 2020 pukul 10:31 tersebut berjudul “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Himbau Mudik Lewat Tol Langit Saja”.

    Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, melalui indeks pemberitaan milik cnnindonesia.com yang diterbitkan pada Kamis, 19 Maret 2020 pukul 10.31 WIB. Diketahui bahwa cnnindonesia.com tidak menerbitkan artikel seperti tangkapan layar yang berjudul “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Himbau Mudik Lewat Tol Langit Saja”.

    Artikel tersebut diketahui merupakan hasil suntingan dari artikel asli yang berjudul “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Imbau Warga Tak Mudik”. Artikel tersebut menjelaskan bahwa Wakil Presiden Ma’ruf Amin menghimbau masyarakat agar tidak mudik saat libur lebaran Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, 24-25 Mei 2020. Hal itu diharapkan mampu memutus mata rantai persebaran virus corona atau Covid-19. Wapres Ma’ruf Amin menganjurkan untuk masyarakat yang tidak mudik agar melakukan silaturahmi jarak jauh melalui sambungan telepon, video call maupun menggunakan media sosial.

    Kesimpulannya adalah unggahan berupa tangkapan layar seperti di atas yakni dengan merubah judul sebuah artikel, masuk ke dalam kategori maniputaled content atau konten yang dimanipulasi. Manipulated content sendiri adalah proses penyuntingan sebuah konten baik dari segi judul, waktu, gambar dan juga logo dengan tujuan tertentu.

    Kesimpulan

    Melalui media sosial Facebook, sebuah tangkapan layar yang memperlihatkan pemberitaan milik cnnindonesia.com beredar. Menurut tangkapan layar, cnnindonesia.com pada Kamis 19 Maret 2020 pukul 13.10 menerbitkan artikel berjudul “Darurat Corona, Ma’ruf Amin Himbau Mudik LewatTol Langit Saja”. Yang apabila ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa judul pada tangkapan layar tidak sesuai dengan judul pada artikel asli yang diterbitkan oleh cnnindonesia.com.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4877) [SALAH] Korban Virus Corona

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 17/04/2020

    Berita

    “Korban virus corona..”

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah akun facebook bernama Bintang Ramadhan mengunggah foto katak-katak mati yang disertai narasi “Korban virus corona”. postingan tersebut ia unggah di grup facebook (PSPS) Pendukung Setia PRABOWO – SANDI.

    Setelah ditelusuri, klaim bahwa katak-katak tersebut mati karena virus corona adalah salah. Dilansir dari Nationalgeographic.uk, ditemukan artikel dengan foto identik dengan yang diposting akun facebook Bintang Ramadhan. Artikel tersebut berjudul “
    ‘Kiamat’ amfibi yang disebabkan oleh patogen paling merusak yang pernah ada’. pada 31 maret 2019.

    Artikel tersebut berisi tentang kematian hewan katak secara masiv akibat infeksi jamur chytrid, yang menyebabkan penyakit menular chytridiomycosis, dimana katak-katak tersebut memakan kulit mereka sendiri dan terkena serangan jantung.

    Diketahui, foto tersebut adalah hasil jeperetan fotografer National Geographic bernama Joel Sartore yang sudah beredar sejak tahun 2004. foto tersebut berlokasi di Taman Nasional King’s Canyon, California, Amerika Serikat.

    Klaim yang menyebutkan bahwa foto katak-katak mati akibat virus corona adalah salah. katak-katak tersebut mati karena infeksi jamur chytrid dan foto itu diambil pada tahun 2004, jauh sebelum virus corona melanda dunia.

    Kesimpulan

    Bukan karena virus corona. Foto Katak-katak yang mati itu sudah beredar sejak 2004 jauh sebelum virus corona muncul pada akhir 2019. diketahui foto tersebut diabadikan oleh seorang fotografer National Geographic bernama Joel Sartore. lokasi foto tersebut berada di Taman Nasional King’s Canyon, . Katak-katak tersebut mati dikarenakan infeksi jamur chytrid, yang menyebabkan penyakit menular chytridiomycosis.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8049) [Fakta atau Hoaks] Benarkah FBI Gerebek Sinagoge Yahudi di New York yang Timbun Masker N95?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 17/04/2020

    Berita


    Video yang diklaim sebagai video penggerebekan sebuah sinagoge atau rumah ibadah kaum Yahudi di New York, Amerika Serikat, beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertai video itu, sinagoge tersebut digerebek oleh Biro Investigasi AS atau FBI karena dipakai untuk menimbun ribuan masker N95.
    Video itu diunggah oleh akun Facebook Ayesha Rahman pada 7 April 2020. Akun ini menulis narasi, "FBI menggrebek sinagoge (tempat ibadah) Yahudi di New York, tempat orang Yahudi menyembunyikan ribuan Masker yang diperlukan sangat di rumah sakit, semuanya masker jenis N95. Ini adalah moral mereka yang dikenal sejak zaman kuno."
    Hingga artikel ini dimuat, video berdurasi 2 menit 42 detik yang diunggah oleh akun Ayesha Rahman tersebut telah ditonton lebih dari 4 ribu kali dan dibagikan lebih dari 300 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ayesha Rahman.
    Apa benar video di atas adalah video penggerebekan FBI terhadap sebuah sinagoge Yahudi di New York yang dipakai untuk menimbun ribuan masker N95?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim yang diunggah oleh akun Facebook Ayesha Rahman, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Kemudian, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolYandex.
    Hasilnya, video yang sama pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Euro News Amateur pada 1 April 2020. Video tersebut diberi keterangan "FBI agents return thousands of N95 masks stolen from the hospital(Agen FBI mengembalikan ribuan masker N95 yang dicuri dari rumah sakit)".
    Video serupa dari lokasi yang sama juga pernah diunggah oleh kanal YouTube milik media asing ABC News pada 2 April 2020 dengan judul "Authorities remove almost a million N95 masks and other supplies from alleged hoarder(Pihak berwenang menyita hampir satu juta masker N95 dan persediaan lainnya dari seseorang yang diduga penimbun)".
    Gambar tangkapan layar video unggahan kanal YouTube ABC News.
    Menurut ABC News, pihak berwenang menyita sekitar 192 ribu masker respirator N95, sekitar 600 ribu sarung tangan medis, 130 ribu masker bedah, masker prosedur, masker N100, pakaian bedah, handuk disinfektan, filter partikel, hand sanitizer, dan semprotan disinfektan setelah seorang pria asal Brooklyn, sebuah wilayah di New York, ditangkap atas dugaan penimbunan peralatan medis.
    Sebuah foto yang diambil di lokasi penggerebekan di Brooklyn itu juga pernah dimuat oleh situs media NY Daily News pada 30 Maret 2020. Foto itu diberi keterangan "FBI menggerebek rumah Baruch Feldheim". Menurut berita yang memuat foto itu, Feldheim, 43 tahun, adalah pria asal Brooklyn yang mengaku menderita infeksi virus Corona Covid-19 dan batuk di depan agen FBI yang menggerebek rumahnya.
    Feldheim juga berbohong kepada FBI tentang alat perlindungan diri (APD) yang dia timbun untuk menghasilkan uang. Karena itu, Feldheim didakwa telah menyerang pejabat federal dan membuat pernyataan palsu kepada penegak hukum. Menurut jaksa penuntut, Feldheim telah menimbun respirator N95, masker bedah, pakaian medis, dan alat disinfektan, lalu menjualnya ke para profesional perawatan kesehatan dengan harga yang tinggi.
    Penangkapan Feldheim bermula ketika seorang dokter di New Jersey menghubunginya melalui grup WhatsApp yang bernama "Virus2020!". Feldheim pun setuju untuk menjual sekitar 1.000 masker N95 dan berbagai peralatan lainnya kepada dokter itu dengan harga US$ 12 ribu, jauh lebih tinggi sekitar 700 persen dari harga normal.
    Kemudian, Feldheim menyuruh dokter itu mengambil pesanannya ke sebuah bengkel mobil di Irvington, New Jersey. Menurut dokter tersebut, bengkel tersebut dipenuhi dengan berbagai produk, seperti hand sanitizer, tisu basah, bahan kimia pembersih, dan perlengkapan bedah. Setelah itu, Feldheim memberi tahu dokter tersebut bahwa dia terpaksa memindahkan berbagai produk itu ke lokasi lain.
    Beberapa hari kemudian, Feldheim diduga menawarkan sejumlah pakaian bedah kepada seorang perawat, dan mengarahkan perawat itu ke kediamannya di Brooklyn. Pada 25 Maret 2020, Feldheim juga menerima kiriman dari Kanada yang berisi delapan palet masker bedah. Dua hari kemudian, FBI mendapati sebuah kardus kemasan masker N95 yang sudah kosong di luar rumah Feldheim. FBI juga melihat beberapa orang yang, ketika pergi dari rumah Feldheim, membawa kotas atau tas yang diduga berisi peralatan medis.
    Ketika FBI mendatangi rumahnya dan bertanya tentang peralatan medis itu, Feldheim mengaku bahwa ia menderita infeksi virus Corona Covid-19 dan batuk di depan para agen. Jaksa penuntut juga mengatakan bahwa Feldheim telah berbohong dan mengaku kepada FBI bahwa ia bekerja untuk perusahaan yang menjual APD.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video penggerebekan FBI terhadap sebuah sinagoge Yahudi di New York yang dipakai untuk menimbun ribuan masker N95, menyesatkan. Video itu memang memperlihatkan penggerebekan FBI terkait kasus penimbunan ribuan masker N95 serta perlengkapan medis lainnya. Namun, penggerebekan itu terjadi di rumah seorang pria asal Brooklyn, Baruch Feldheim, bukan di sinagoge atau tempat ibadah orang Yahudi.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan