BUKAN jadi relawan tenaga medis. Foto itu adalah ketika Nazril Irham atau Ariel Noah sedang berkunjung ke PT Cedefindo (Martha Tilaar Group) pada Desember 2019.
Beredar foto vokalis dari grup musik Noah, Nazril Irham atau lebih populer dikenal dengan nama Ariel Noah yang disertai narasi bahwa selebriti papan atas Indonesia itu memilih menjadi relawan petugas medis di sebuah rumah sakit di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Salah satunya dimuat di situs komentar[dot]id dalam artikel berjudul: “Perawat Pasien Corona Histeris Ariel NOAH Jadi Relawan Tenaga Medis”. Artikel ini dimuat pada Rabu, 15 April 2020.
(GFD-2020-3841) [SALAH] Foto “Ariel NOAH Jadi Relawan Tenaga Medis di tengah pandemi virus corona atau Covid-19”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa foto Ariel NOAH yang dimuat di sumber klaim adalah foto ketika Ariel menjadi relawan tenaga medis di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 adalah klaim yang salah.
Foto itu adalah ketika Nazril Irham atau Ariel Noah sedang berkunjung ke PT Cedefindo (Martha Tilaar Group) pada Desember 2019.
Penelusuran menggunakan Google Images menemukan bahwa foto yang diunggah oleh sumber klaim sama dengan foto dan video yang diunggah ke kanal Youtube dan Instagram pada Desember 2019.
Salah satunya, adalah akun instagram snurjanah131187, yang mengunggah foto dirinya dengan Ariel pada tanggal 17 Desember 2017 dengan narasi:
“With @arielnoah hari ini visit ke pabrik.. Udah ngefans dr jaman sekolah kann.. Akhirnya bs foto tks babang ariel #instagram #instalike #ariel #arielnoah #arielnoahfans”
Kumpulan foto dan video saat Ariel NOAH berkunjung ke pabrik tersebut juga diunggah oleh kanal Youtube PUCUK ILMU pada tanggal 17 Desember 2019 dengan judul “ARIEL NOAH BERKUNJUNG KE PABRIK PT CEDEFINDO MARTHA TILAAR GROUP”
PT CeDeF Indo adalah perusahaan yang didirikan sebagai distributor kosmetik Perancis, seperti, Lancome, Drakkar, dll pada tahun 1981. PT CeDeF Indo adalah awal dari PT Cedefindo sebelum berganti nama pada tahun 1989. Pada tahun 1999, PT Cedefindo secara resmi menjadi bagian dari Martha Tilaar Group.
Foto itu adalah ketika Nazril Irham atau Ariel Noah sedang berkunjung ke PT Cedefindo (Martha Tilaar Group) pada Desember 2019.
Penelusuran menggunakan Google Images menemukan bahwa foto yang diunggah oleh sumber klaim sama dengan foto dan video yang diunggah ke kanal Youtube dan Instagram pada Desember 2019.
Salah satunya, adalah akun instagram snurjanah131187, yang mengunggah foto dirinya dengan Ariel pada tanggal 17 Desember 2017 dengan narasi:
“With @arielnoah hari ini visit ke pabrik.. Udah ngefans dr jaman sekolah kann.. Akhirnya bs foto tks babang ariel #instagram #instalike #ariel #arielnoah #arielnoahfans”
Kumpulan foto dan video saat Ariel NOAH berkunjung ke pabrik tersebut juga diunggah oleh kanal Youtube PUCUK ILMU pada tanggal 17 Desember 2019 dengan judul “ARIEL NOAH BERKUNJUNG KE PABRIK PT CEDEFINDO MARTHA TILAAR GROUP”
PT CeDeF Indo adalah perusahaan yang didirikan sebagai distributor kosmetik Perancis, seperti, Lancome, Drakkar, dll pada tahun 1981. PT CeDeF Indo adalah awal dari PT Cedefindo sebelum berganti nama pada tahun 1989. Pada tahun 1999, PT Cedefindo secara resmi menjadi bagian dari Martha Tilaar Group.
Rujukan
(GFD-2020-3842) [SALAH] “Belajar dari Rumah TVRI, Murid Dicekoki Mimbar Katolik?”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Selain karena program regular yang sudah disiarkan sejak dulu, video yang dibagikan TIDAK tayang di TVRI.
NARASI
“Belajar dari Rumah Melalui TVRI, Murid Dicekoki Mimbar Katolik?
Jeda dari jam 09 pagi sampai jam 10 ternyata yang nongol mimbar katolik.
Bagaimana ini Kemendikbud dan TVRI?
Materi Pembelajaran Minggu 1: 13-17 April 2020
Program Minggu 1 (13-19 April 2020)
Jadwal kelas 1-3 SD jam 8.30-9.00. Untuk kelas 4-6 SD baru mulai jam 10.03. Nah jeda dari jam 9.00 sampai jam 10 itu ternyata yang nongol adalah mimbar katolik di Hari pertama pembelajaran lewat TVRI, Senin 13 April 2020.
Pertanyaannya, apakah murid SD se-Indonesia Bersama para orang tuanya se-Indonesia itu disengaja untuk dicekoki mimbar katolik?
Di samping itu, Umat Islam pun perlu waspada, kini iklan-iklan pakai menyebut nama Allah, namun ternyata isinya agama bukan Islam. Dan itu sering terlihat di media online, bahkan mungkin masuk di situs2 Islam segala. Ini perlu dipecahkan pula penjerumusan yang membahayakan aqidah Umat Islam itu.”
NARASI
“Belajar dari Rumah Melalui TVRI, Murid Dicekoki Mimbar Katolik?
Jeda dari jam 09 pagi sampai jam 10 ternyata yang nongol mimbar katolik.
Bagaimana ini Kemendikbud dan TVRI?
Materi Pembelajaran Minggu 1: 13-17 April 2020
Program Minggu 1 (13-19 April 2020)
Jadwal kelas 1-3 SD jam 8.30-9.00. Untuk kelas 4-6 SD baru mulai jam 10.03. Nah jeda dari jam 9.00 sampai jam 10 itu ternyata yang nongol adalah mimbar katolik di Hari pertama pembelajaran lewat TVRI, Senin 13 April 2020.
Pertanyaannya, apakah murid SD se-Indonesia Bersama para orang tuanya se-Indonesia itu disengaja untuk dicekoki mimbar katolik?
Di samping itu, Umat Islam pun perlu waspada, kini iklan-iklan pakai menyebut nama Allah, namun ternyata isinya agama bukan Islam. Dan itu sering terlihat di media online, bahkan mungkin masuk di situs2 Islam segala. Ini perlu dipecahkan pula penjerumusan yang membahayakan aqidah Umat Islam itu.”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
(1) First Draft News: “Konten yang Salah
Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”
Selengkapnya di http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S.
* SUMBER (versi Facebook) membagikan video pembacaan “Puisi Paskah” karya Cendekiawan NU Ulil Abshar Abdalla.
* SUMBER (versi Facebook dan pesan beranti WhatsApp) menambahkan narasi yang TIDAK sesuai dengan fakta.
(2) Beberapa artikel yang berkaitan,
* kumparanMOM: “program mimbar agama Katolik atau mimbar agama lain merupakan program yang terpisah.
Mimbar Agama sendiri adalah program regular TVRI yang sudah ditayangkan sejak dahulu. Waktu penayangannya pun disusun berdasarkan sejumlah pertimbangan dan sudah diketahui oleh penganut agama masing-masing. Program ini hadir sebagai bentuk dukungan, serta menghargai keragaman beragama di Indonesia.
Namun demikian, sebagai respons atas berbagai masukan, perhatian dan dukungan yang begitu besar dalam tayangan program BDR, maka TVRI memindahkan jam tayang program mimbar agama agar program BDR dapat ditayangkan secara berurutan tanpa jeda program lain dan agar jam belajar menjadi lebih efektif.
Plt. Direktur Utama LPP TVRI dalam keterangan tertulisnya juga membantah pemberitaan di media sosial terkait tayangan video dua anak berbusana muslim yang disebut disiarkan dalam program mimbar agama Katolik di TVRI. Tim Pemeriksa TVRI sudah melakukan pengecekan ulang dan tidak menemukan video yang dimaksud dalam tayangan mimbar agama Katolik di TVRI tanggal 13 April 2020.
Hal ini juga sudah dikonfirmasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tim pemantau KPI, tegas dinyatakan bahwa video tersebut tidak tayang di TVRI.”
Selengkapnya di “Klarifikasi TVRI soal Mimbar Agama Katolik pada Program Belajar dari Rumah” https://bit.ly/3ciizJl / http://archive.md/ut8Vw (arsip cadangan).
–
* REPUBLIKA.CO.ID: “”PBNU tidak pernah memproduksi konten video itu. Bahkan, kami tidak tahu siapa yang memproduksi. Kami sudah minta konfirmasi ke Kemendikbud, apakah video itu bagian dari materi pembelajaran? Mereka mengonfirmasi bahwa video itu bukan substansi yang disiapkan Kemendikbud selama program belajar di rumah,” ujar Robikin.
“Ada beberapa teman, terutama di lingkungan NU, yang bertanya kepada saya, apakah betul yang dibacakan oleh santri dari Bogor di bawah ini benar puisi saya. Ya benar. Puisi Paskah ini saya tulis sekitar tujuh tahunan lalu dan selalu beredar setiap perayaan Paskah,” kata Gus Ulil pada akun Twitter pribadinya.”
Selengkapnya di “Video Santri Berpeci NU Baca Puisi Paskah, Ini Jawaban PBNU” https://bit.ly/2XzNBIB / http://archive.md/lvDea (arsip cadangan).
http://archive.md/cUNsB, arsip cadangan cuitan yang dikutip.
======
(1) First Draft News: “Konten yang Salah
Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”
Selengkapnya di http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S.
* SUMBER (versi Facebook) membagikan video pembacaan “Puisi Paskah” karya Cendekiawan NU Ulil Abshar Abdalla.
* SUMBER (versi Facebook dan pesan beranti WhatsApp) menambahkan narasi yang TIDAK sesuai dengan fakta.
(2) Beberapa artikel yang berkaitan,
* kumparanMOM: “program mimbar agama Katolik atau mimbar agama lain merupakan program yang terpisah.
Mimbar Agama sendiri adalah program regular TVRI yang sudah ditayangkan sejak dahulu. Waktu penayangannya pun disusun berdasarkan sejumlah pertimbangan dan sudah diketahui oleh penganut agama masing-masing. Program ini hadir sebagai bentuk dukungan, serta menghargai keragaman beragama di Indonesia.
Namun demikian, sebagai respons atas berbagai masukan, perhatian dan dukungan yang begitu besar dalam tayangan program BDR, maka TVRI memindahkan jam tayang program mimbar agama agar program BDR dapat ditayangkan secara berurutan tanpa jeda program lain dan agar jam belajar menjadi lebih efektif.
Plt. Direktur Utama LPP TVRI dalam keterangan tertulisnya juga membantah pemberitaan di media sosial terkait tayangan video dua anak berbusana muslim yang disebut disiarkan dalam program mimbar agama Katolik di TVRI. Tim Pemeriksa TVRI sudah melakukan pengecekan ulang dan tidak menemukan video yang dimaksud dalam tayangan mimbar agama Katolik di TVRI tanggal 13 April 2020.
Hal ini juga sudah dikonfirmasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tim pemantau KPI, tegas dinyatakan bahwa video tersebut tidak tayang di TVRI.”
Selengkapnya di “Klarifikasi TVRI soal Mimbar Agama Katolik pada Program Belajar dari Rumah” https://bit.ly/3ciizJl / http://archive.md/ut8Vw (arsip cadangan).
–
* REPUBLIKA.CO.ID: “”PBNU tidak pernah memproduksi konten video itu. Bahkan, kami tidak tahu siapa yang memproduksi. Kami sudah minta konfirmasi ke Kemendikbud, apakah video itu bagian dari materi pembelajaran? Mereka mengonfirmasi bahwa video itu bukan substansi yang disiapkan Kemendikbud selama program belajar di rumah,” ujar Robikin.
“Ada beberapa teman, terutama di lingkungan NU, yang bertanya kepada saya, apakah betul yang dibacakan oleh santri dari Bogor di bawah ini benar puisi saya. Ya benar. Puisi Paskah ini saya tulis sekitar tujuh tahunan lalu dan selalu beredar setiap perayaan Paskah,” kata Gus Ulil pada akun Twitter pribadinya.”
Selengkapnya di “Video Santri Berpeci NU Baca Puisi Paskah, Ini Jawaban PBNU” https://bit.ly/2XzNBIB / http://archive.md/lvDea (arsip cadangan).
http://archive.md/cUNsB, arsip cadangan cuitan yang dikutip.
======
Rujukan
(GFD-2020-8046) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Uji Coba tentang Virus Corona yang Takut Suara Azan?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Video yang diklaim sebagai video uji coba oleh ilmuwan tentang virus Corona Covid-19 yang takut dengan suara azan beredar di media sosial. Video yang berasal dari YouTube itu berjudul "Ooh ternyata Corona takut sama suara adzan..ini hasil uji coba kedokteran AS".
Di Facebook, tautan video tersebut diunggah oleh akun S Riyanthi Gemini pada 13 April 2020. Akun ini menulis narasi, "Subhannallah. Allahu Akbar. Simak video nya." Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah dibagikan lebih dari 3.300 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook S Riyanthi Gemini.
Adapun di YouTube, video tersebut dibagikan oleh kanal Bima MLD pada 12 April 2020. Namun, judulnya berbeda dengan judul yang terdapat dalam unggahan akun S Riyanthi Gemini. Video itu diberi judul "AS membandingkan antara suara musik dengan suara adzan".
Video yang telah ditonton lebih dari 250 ribu kali ini terdiri dari tiga segmen. Dalam segmen pertama, terlihat software di komputer yang menunjukkan frekuensi audio saat azan dan sebuah lagu diperdengarkan. Terdengar pula suara seorang pria yang sedang memberikan penjelasan.
Segmen kedua memperlihatkan seorang pria yang tengah memasuki sebuah kafe. Dalam video tanpa suara ini, pria tersebut sempat berbicara dengan karyawan kafe. Adapun segmen ketiga merupakan video animasi mengenai bentuk dan struktur virus Corona covid-19.
Apa benar video di atas merupakan video uji coba ilmuwan tentang virus Corona yang takut dengan suara azan?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video unggahan kanal Bima MLD tersebut merupakan gabungan dari tiga video yang konteksnya berbeda-beda. Berikut ini fakta mengenai tiga video itu:
Video Segmen I
Video ini pernah diunggah oleh kanal YouTube Mehbooba pada 11 Oktober 2016 dengan judul "The Spiritual Healing Effects Of Adhaan (call to prayer)". Mehbooba memberikan keterangan bahwa video itu menunjukkan perbandingan efek mendengarkan musik dengan mendengarkan azan terhadap tubuh.
Menurut Mehbooba, getaran memiliki pengaruh yang besar terhadap tubuh. Saat mendengarkan musik atau percakapan biasa, intensitas getaran suara berefek pada apa yang tubuh rasakan. Musik yang agresif bisa mengganggu, sementara suara yang lembut bisa menenangkan.
Intensitas getaran suara itu pun dapat diukur dan divisualisasikan. Video yang diunggah Mehbooba ini menunjukkan sebuah instrumen yang bernama CymaScope yang bisa memproyeksikan pola geometris fisik dari getaran suara tertentu.
Namun, di bagian akhir keterangannya, Mehbooba menegaskan bahwa klaim dan potensi manfaat dari instrumen ini tidak semuanya dapat dibuktikan secara ilmiah. "Pengalaman pribadi setiap orang menjadi faktor penentu," demikian keterangan yang ditulis oleh Mehbooba.
Video Segmen II
Video ini pernah diunggah oleh akun Twitter @Kenan_n pada 26 Maret 2020. Namun, video tersebut memiliki suara dan terdengar rekaman suara seseorang yang sedang mengaji.
Akun itu pun menuliskan keterangan: Seorang muslim Palestina berjalan melewati toko milik orang Yahudi dan bertanya kepada orang Yahudi itu, "Mengapa Anda mendengarkan Al Quran padahal Anda bukan seorang muslim?" Orang Yahudi itu pun berkata, "Kata-kata terberkati ini berasal dari Allah. Saya berharap bahwa kata-kata ini akan dihormati oleh Allah."
Video Segmen III
Di YouTube, video animasi mengenai bentuk dan struktur virus Corona Covid-19 tersebut pernah diunggah oleh kanal Elara Systems pada 18 Maret 2020 dengan judul "Coronavirus - COVID-19". Video berdurasi 1 menit 12 detik itu diberi keterangan:
"Elara berkolaborasi dengan Jason McLellan, Associate Professor of Molecular Biosciences di University of Texas di Austin, dan dengan National Institutes of Health (NIH) dalam membuat animasi tentang Coronavirus Spike Protein MoA ini.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video uji coba ilmuwan tentang virus Corona Covid-19 yang takut dengan suara azan, keliru. Video segmen pertama dan kedua tidak terkait dengan virus Corona. Video segmen pertama mengenai perbandingan suara azan dengan sebuah lagu pun telah beredar di YouTube pada 2016, jauh sebelum munculnya virus Corona Covid-19 di Wuhan, Cina, pada Desember 2019.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
(GFD-2020-8047) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Didatangkannya Alat Tes Corona Asal Cina Bagian dari Rencana Pembunuhan Massal Ulama Jawa Barat?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Gambar tangkapan layar sebuah unggahan yang berisi tautan artikel dari situs Uzonews.com yang berjudul "Menteri Australia: Alat Tes Corona Asal China Berbahaya" beredar di media sosial. Gambar itu diberi narasi bahwa didatangkannya 40 ribu alat tes virus Corona Covid-19 oleh pemerintah merupakan bagian dari rencana pembunuhan massal.
Gambar tangkapan layar tersebut dibagikan oleh akun Facebook Ali Imron Imron pada 13 April 2020. Akun ini menulis, "Hati2 org jawa barat n sekitarxa. Ada 5000 ulama d jawa bara mao d tes covid19.pki itu kejii." Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah dibagikan lebih dari 1.100 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ali Imron Imron.
Adapun artikel berjudul "Menteri Australia: Alat Tes Corona Asal China Berbahaya" di situs Uzonews.com tersebut dimuat pada 9 April 2020. Menteri Australia yang dimaksud dalam artikel itu adalah Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton.
Menurut Dutton dalam artikel itu, pasukan perbatasan Australia telah menyita sekitar 300 unit alat pengujian Corona asal Tiongkok dan Hong Kong. "Ini termasuk 200 unit yang datang lewat kargo udara ke Kota Perth, Australia Barat, pada Maret," kata Dutton.
Apa benar didatangkannya alat tes Corona dari Cina adalah bagian dari rencana pembunuhan massal ulama di Jawa Barat?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, sebanyak 40 ribu alat rapid test Corona memang akan didatangkan ke Indonesia. Namun, pihak yang mendatangkan alat tersebut adalah para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), bukan pemerintah. Menurut arsip berita Tempo pada 21 Maret 2020, alat-alat itu didatangkan dari Wuhan, Cina.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan pembelian alat rapid test itu menggunakan dana patungan dari para anggota DPR, bukan dana dari pemerintah ataupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Alat rapid test itu bakal digunakan untuk menguji anggota DPR dan keluarganya sebagai antisipasi karena banyak anggota DPR yang bepergian ke daerah.
Menurut Dasco, anggota DPR membeli alat rapid test dalam jumlah besar karena ada jumlah minimal pembelian. "Pembelian itu ada jumlah minimalnya dan jumlah minimal itu melebihi daripada kebutuhan anggota DPR beserta keluarganya." Karena itu, alat rapid test tersebut juga akan disumbangkan ke rumah sakit-rumah sakit dan pemerintah daerah yang membutuhkan.
Terkait klaim bahwa 5 ribu ulama di Jawa Barat akan dites Covid-19, terdapat alasan yang mendasar mengapa Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberlakukan kebijakan itu. Dilansir dari Kompas.com, pada 4 April 2020, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan bahwa saat ini virus Corona menular melalui klaster-klaster baru.
Beberapa di antaranya adalah klaster acara di Sukabumi di mana terdapat 300 calon perwira yang dinyatakan positif Covid-19 melalui rapid test serta klaster tempat ibadah di Bogor yang menyebabkan tokoh agama meninggal akibat Covid-19. Menurut Uu, pesantren juga berpotensi menjadi klaster baru penularan virus Corona.
Pasalnya, para kiai atau sesepuh pesantren sering menerima tamu atau bersalaman dengan santri. Karena itu, mereka perlu dites "Kiai itu masuk kategori B, orang yang sering didatangi dan dikunjungi orang. Pak Gubernur Jabar (Ridwan Kamil) meminta saya berkoordinasi dengan ulama, MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan pimpinan pesantren untuk tes massal ini," ujar Uu.
Menurut Uu, seperti halnya Jawa Timur, Jawa Barat merupakan gudangnya para kiai. Dia mengakui ada beberapa kiai yang enggan dites dengan alasan malu kepada jemaah dan masyarakat jika hasilnya positif. Namun, Uu menyatakan bahwa pihaknya terus memberikan pemahaman bahwa tes Covid-19 dilakukan demi kepentingan bersama, termasuk kiai, jemaah, dan masyarakat.
Terkait pernyataan Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton bahwa alat tes Corona dari Cina berbahaya, berdasarkan laporan The Canberra Times serta SBS, alat tes yang dimaksud adalah alat tes Corona rumahan atau buatan sendiri yang dijual secara daring atau online.
Dalam beberapa pekan terakhir, Pasukan Perbatasan Australia (ABF) menemukan sejumlah alat tes Corona rumahan yang cacat. Pada 16 Maret 2020, ABF mencegat 200 unit alat tes Corona rumahan dari Cina yang masuk ke Perth melalui Singapura. Alat serupa dari Hong Kong juga ditemukan di Perth (50 unit) pada 23 Maret dan Melbourne (39 unit) pada 27 Maret.
Menurut Dutton, alat tes Corona buatan sendiri atau DIY (do-it-yourself) itu bisa menimbulkan risiko yang serius bagi kesehatan masyarakat. "Hasil yang tidak akurat dapat mencegah seseorang mencari bantuan medis yang mereka butuhkan, atau mencegah seseorang yang seharusnya mengisolasi diri untuk melakukannya," ujar Dutton pada 5 April 2020.
Dutton pun menyatakan bahwa satu-satunya alat tes Corona yang disetujui untuk digunakan di Australia adalah alat tes berbasis laboratorium dan alat tes yang digunakan oleh para profesional kesehatan di fasilitas-fasilitas medis, seperti rumah sakit dan klinik.
Dilansir dari CNN Indonesia, alat-alat tes Covid-19 yang didatangkan oleh pemerintah hanya bisa diakses di fasilitas kesehatan. "Pelaksanaan tes akan didesentralisasi di semua fasilitas kesehatan di setiap wilayah, misalnya puskesmas, laboratorium kesehatan daerah, atau rumah sakit yang ada di wilayah tersebut," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, pada 24 Maret 2020.
Terkait alat-alat tes Corona yang marak dijual secara online, Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kominfo ) menyatakan tengah melakukan take down terhadap produk-produk tersebut di berbagai marketplace. "Masyarakat yang menjual alat ini bisa dikenakan UU Kesehatan," kata Direktur Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Pangerapan, pada 13 April 2020.
Sebelumnya, Achmad Yurianto mengatakan bahwa berbagai alat rapid test yang dijual secara online merupakan barang ilegal. Semuel menyatakan hal senada. "Alat ini tidak bisa dijual secara bebas, harus seijin Kementerian Kesehatan. Kami sudah meminta para marketplace untuk menertibkan pedagang mereka," tutur Semuel.
Achmad Yurianto pun sempat mengomentari kasus yang terjadi di Spanyol, di mana alat rapid test buatan perusahaan Cina, Shenzhen Bioeasy Biotechnology, yang didatangkan oleh negara tersebut bermasalah. Alat tersebut hanya memiliki akurasi kurang dari 30 persen.
Menurut Achmad Yurianto, pemerintah tidak akan sembarangan dalam mendatangkan alat rapid test Corona. Dilansir dari Republika, dia mengatakan bahwa pemerintah sudah menetapkan standar prosedur pengadaan alat rapid test. "Mekanisme di sini ketat agar kasus di Spanyol tak terulang di sini," ujarnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi dalam unggahan akun Ali Imron Imron, bahwa didatangkannya alat tes virus Corona Covid-19 dari Cina adalah bagian dari rencana pembunuhan massal ulama di Jawa Barat, menyesatkan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki alasan yang mendasar untuk menggelar tes Covid-19 terhadap 5 ribu ulama. Pesantren berpotensi menjadi klaster baru penularan karena para kiai atau pimpinan pesantren kerap menerima tamu dan bersalaman dengan santri.
Terkait alat tes virus Corona Covid-19 asal Cina yang disebut berbahaya oleh Menteri Dalam Negeri Australia, alat yang dimaksud pun adalah alat tes Corona rumahan atau buatan sendiri yang dijual secara online. Alat tes Corona yang didatangkan oleh pemerintah Indonesia hanya bisa diakses di fasilitas kesehatan. Adapun terkait alat-alat tes Corona yang dijual secara online, Kementerian Kominfo menyatakan tengah melakukan take down terhadap produk-produk tersebut di marketplace.
ZAINAL ISHAQ | ANGELINA ANJAR SAWITRI
Anda punya data/informas
Rujukan
- http://archive.ph/JpRSR
- https://www.uzonews.com/2020/04/menteri-australia-alat-tes-corona-asal-china-berbahaya.html
- https://nasional.tempo.co/read/1322245/anggota-dpr-patungan-beli-40-ribu-rapid-test-corona-dari-wuhan/full&view=ok
- https://regional.kompas.com/read/2020/04/04/07464371/wakil-gubernur-jabar-5000-kiai-akan-dites-corona-pesantren-berpotensi-jadi
- https://www.canberratimes.com.au/story/6711727/dutton-warns-of-dodgy-covid-19-test-kits/
- https://www.sbs.com.au/language/indonesian/pemerintah-peringatkan-adanya-alat-tes-virus-corona-cacat-yang-diimpor-ke-australia
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200324181712-20-486615/rapid-test-corona-akan-dilakukan-berbasis-wilayah
- https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200413152754-199-493086/produk-rapid-test-online-dihapus-penjual-bisa-kena-sanksi
- https://republika.co.id/berita/q7w8ar414/kasus-rapid-test-spanyol-dijamin-tak-terulang-di-indonesia
Halaman: 7502/7990




