• (GFD-2020-3609) [SALAH] “Korban penculikan, ternyata sudah dijahit semua perutnya”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 21/02/2020

    Berita

    Bukan korban penculikan. Anak itu meninggal karena tenggelam setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air. Jahitan di tubuh bocah tersebut merupakan jahitan post-mortem dari rumah sakit. Peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Kampung Titian, Tawau, Sabah, Malaysia.

    Akun Fatma Herawati Mungkur (fb.com/100010046945560) mengunggah beberapa video dan foto dengan narasi “Korban penculikan,, dikira tenggelam di sungai, jadi goyang badannya,, setelah dibuka bajunya, ternyata sudah dijahit semua perutnya..”

    Satu foto yang memperlihatkan mayat seorang anak dengan bekas jahitan di dada dan perut. Video pertama yang berdurasi 53 detik berisi rekaman mayat seorang bocah laki-laki yang terapung di air. Video kedua sepanjang 21 detik memperlihatkan sejumlah warga yang mengguncangkan tubuh bocah tersebut dengan posisi terbalik.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, faktanya klaim bahwa anak itu adalah korban penculikan adalah klaim yang salah.

    Anak itu meninggal karena tenggelam setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air. Jahitan di tubuh bocah tersebut merupakan jahitan post-mortem dari rumah sakit. Peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Kampung Titian, Tawau, Sabah, Malaysia.

    Peristiwa yang menimpa bocah laki-laki tersebut belum pernah dilaporkan di media massa. Karena itu, Tim CekFakta Tempo melakukan penelusuran di media sosial agar konteks peristiwa yang sebenarnya bisa terungkap.

    Dengan reverse image tools milik Google, Tempo menelusuri foto mayat bocah laki-laki yang viral di atas. Lewat penelusuran ini, Tempo terhubung dengan akun Twitter Mer_Maid, yang mengunggah foto tersebut pada 24 Januari 2020. Pemilik akun ini menulis di profilnya bahwa ia berasal dari Penampang, Sabah, Malaysia.

    Tempo pun mendapatkan petunjuk dari beberapa komentar di unggahan akun Mer_Maid tersebut. Peristiwa itu disebut terjadi di belakang masjid Esbok, Tawau, Sabah, Malaysia. Kota ini berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Kalimantan Utara. Beberapa akun menjelaskan bahwa bocah itu bukan korban penculikan, melainkan meninggal karena tenggelam. Jahitan di tubuhnya adalah hasil bedah post-mortem dari rumah sakit.

    Tempo mencocokkan penjelasan dari beberapa akun itu dengan percakapan warga yang terdengar dari video pertama. Dialog dalam video itu memakai bahasa Melayu, Malaysia. Salah satu dialog yang terdengar dengan jelas adalah “tunggu polis”. Polis merupakan sebutan bagi polisi di Malaysia. Lembaga kepolisian Malaysia misalnya, bernama Polis Diraja Malaysia.

    Menurut Zam Yuza, analis konsultasi keamanan regional di Sabah, Tawau menjadi salah satu pusat komunitas campuran Indonesia dan Sabahan. “Two Malay dialects, Indonesian and Sabah, are spoken in the videos (Dua dialek Melayu, Indonesia dan Sabah, digunakan dalam video itu),” kata Yuza saat dihubungi Tempo.

    Berbekal petunjuk lokasi tersebut, Tempo mengirimkan e-mail wawancara kepada Pejabat Polis Daerah Tawau pada 18 Februari 2020. Namun, hingga keesokan harinya, e-mail itu tak kunjung dijawab.

    Tempo pun mengalihkan pencarian dengan membuat daftar media-media lokal di Sabah dan mengirimkan pesan, baik melalui e-mail maupun media sosial, ke dua redaksi media lokal di sana. Dengan cara ini, Tempo berhasil terhubung ke salah satu jurnalis setempat dan mendapatkan nomor kontak Kepala Polisi Tawau, Asisten Komisaris Polisi Peter Umbuas.

    Menurut Peter, narasi bahwa bocah laki-laki yang meninggal itu adalah korban penculikan keliru. Bocah tersebut meninggal karena tenggelam, setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air.

    Adapun jahitan pada tubuh anak itu adalah jahitan post-mortem dari rumah sakit. Post-mortem merupakan tindakan pemeriksaan keseluruhan untuk memperoleh dan mencatat data lengkap mengenai korban dan penyebab kematiannya.

    “Ini disahkan tidak betul. Gambar yang diviralkan adalah gambar selepas post-mortem,” kata Peter dalam bahasa Melayu lewat pesan WhatsApp kepada Tempo, Kamis, 20 Februari 2020.

    Menurut Peter, peristiwa itu terjadi pada 19 Januari 2020 di Tawau Ice Box, atau yang kini disebut dengan Kampung Titingan. Nama Ice Box (dibaca “Esbok”) tersebut sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.

    Di Google Maps, sejumlah rumah di Kampung Titingan memang terlihat dibangun di atas air, identik dengan yang terdapat dalam video yang viral di atas. Lokasi kampung air ini pun berada di belakang sebuah masjid, sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3610) [SALAH] Foto “Bayi platipus”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 21/02/2020

    Berita

    Penampakan bayi platipus dalam foto itu merupakan pahatan batu karya Vladimir Matic Kuriljov, seniman asal Serbia. Patung yang diberi judul Stone Platypus Baby itu diwarnai dengan menggunakan cat akrilik.

    Akun Moe Pakmoe (fb.com/zonder.nama) mengunggah sebuah gambar tangkapan layar dari akun instagram Animals Chasers dengan narasi sebagai berikut:

    “Bayi platipus, mamalia semi-akuatik yang banyak ditemui di bagian timur benua Australia.
    Walaupun berkembangbiak dengan cara bertelur, platipus tetap tergolong kelas mammalia karena ia menyusui anaknya.
    Platipus juga sering dikenal dengan nama duck-billed Platypus atau Platypus berparuh bebek disebabkan bentuk paruhnya yang menyerupai bebek.
    https://id.m.wikipedia.org/wiki/Platipus“

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran, gambar yang diunggah oleh sumber klaim memang adalah postingan foto yang diunggah oleh akun Animals Chasers pada 13 Februari 2020.

    Namun, di unggahan itu, akun Animals Chasers sudah menuliskan narasi “This is an art piece created by vmkuriljov” atau yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi : “Ini adalah karya seni yang dibuat oleh vmkuriljov”

    Faktanya penampakan bayi platipus dalam foto itu memang merupakan pahatan batu karya Vladimir Matic Kuriljov, seniman asal Serbia. Patung yang diberi judul Stone Platypus Baby itu diwarnai dengan menggunakan cat akrilik.

    Platypus (Ornithorhynchus anatinus) adalah spesies hewan yang unik dari Australia. Platipus dikelompokkan ke dalam mamalia monotremata. Kelompok ini dibedakan dari semua mamalia (hewan yang memiliki kelenjar susu) lain karena mereka bertelur.

    Ketika pertama kali ditemukan, tampilan yang tidak biasa dari platypus menyebabkan kebingungan dan keraguan di antara para ilmuwan Eropa. Bahkan banyak dari mereka percaya bahwa binatang itu palsu.

    Bentuk fisik platypus mirip dengan bebek, sehingga sering juga disebut Duck-billed Platypus atau Bebek Platypus. Namun, ia memiliki keunikan sendiri karena memiliki bentuk badan ramping (streamlined) dan pendek dengan paruh lebar pipih (bill) di bagian depan. Platypus juga memiliki ekor yang ditutupi dengan bulu-bulu kedap air untuk menjaga suhu tubuhnya, kaki berselaput, berwarna coklat gelap hingga coklat kemerahan.

    Namun, meskipun platipus jelas-jelas lucu, mereka sebenarnya adalah salah satu dari segelintir mamalia berbisa. Bisa ini digunakan dalam pertarungan perebutan wilayah atau pertempuran antar teman.

    Platypus jantan menghasilkan racun melalui taji pergelangan kaki (betina tidak berbisa). Racun ini terdiri dari protein seperti defensin, atau DLP, tiga di antaranya hanya ditemukan di platipus, yang meningkatkan faktor keanehan hewan. Racun bisa sangat melukai, tetapi tidak membunuh manusia tetapi bisa mematikan bagi hewan yang lebih kecil. Para ilmuwan berpikir bahwa racun, yang meningkat dalam produksi selama periode kawin, dimaksudkan untuk melumpuhkan jantan saingan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3602) [SALAH] Video “Apa salah muslimah Apakah kerana mereka Islam!”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 20/02/2020

    Berita

    Versi meme dari video yang sudah beredar sebelumnya. Berkaitan dengan “Ragging” (Perpeloncoan), BUKAN dengan agama Islam.

    NARASI

    * “????????????????????
    Apa slh mereka” (di post).



    * “Apa salah muslimah

    Apakah kerana mereka Islam!” (di dalam video).

    ======

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN


    (1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: “Konten yang Salah

    Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”.

    * SUMBER membagikan video peristiwa “Ragging” (Perpeloncoan), ritual inisiasi yang dipraktikkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi di negara-negara Asia Selatan, termasuk India, Bangladesh dan Sri Lanka.

    * SUMBER menambahkan narasi yang tidak sesuai dengan fakta sehingga membangun kesimpulan pelintiran.


    (2) Wikipedia: “Ragging adalah istilah yang digunakan untuk apa yang disebut “ritual inisiasi” yang dipraktikkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi di negara-negara Asia Selatan, termasuk India , Bangladesh dan Sri Lanka . Praktik ini mirip dengan perpeloncoan di Amerika Utara, bizutage di Perancis, praxe di Portugal dan praktik serupa lainnya di lembaga pendidikan di seluruh dunia. Ragging melibatkan pelecehan, penghinaan atau pelecehan terhadap pendatang baru atau siswa junior oleh siswa senior. Seringkali bentuk ganas di mana pendatang baru dapat mengalami penyiksaan psikologis atau fisik . [1] [2] Pada tahun 2009 Komisi Hibah Universitas India memberlakukan peraturan terhadap universitas-universitas India untuk membantu mengekang ragging, dan meluncurkan ‘saluran bantuan anti-ragging’ bebas pulsa . [3]

    Ragging pada dasarnya adalah bagian dari intimidasi . Tidak seperti berbagai bentuk intimidasi yang rumit, ragging mudah dikenali. …”

    Google Translate, selengkapnya di “Ragging ” http://bit.ly/2r5Gx8o / http://archive.md/dDmUt (arsip cadangan).

    ======

    Rujukan

  • (GFD-2020-3603) [SALAH] “Ashraf Sinclair meninggal kemungkinan karena GERD yang menekan jantung hingga tidak berfungsi”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 20/02/2020

    Berita

    Bukan karena GERD yang mungkin menekan jantung hingga tidak berfungsi. Pesan berantai itu merupakan hasil reproduksi dari pesan berantai serupa yang pernah beredar pada 2018 dan 2019. GERD tidak bisa menjadi penyebab langsung terjadinya kematian.
    Akun Filsafat dan Refleksi (fb.com/Filsafat-dan-Refleksi-1093327534149450/) mengunggah foto keluarga Almarhum Ashraf Sinclair yang disertai narasi yang mengklaim bahwa;

    “Suami BCL katanya meninggal karena serangan jantung, dalam usia 40 tahun. Ada teman dokter yang bilang kemungkinan karene GERD yang menekan jantung hingga tidak berfungsi.”

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Hingga kini, diagnosa rumah sakit menyatakan bahwa Ashraf Sinclar meninggal memang karena mengalami serangan jantung. Namun berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo yang memasukkan kata kunci “dr. Imam Susilo” ke mesin pencarian Google dan menemukan bahwa pesan berantai yang sama pernah dibagikan sebelum Ashraf Sinclair meninggal pada 18 Februari 2020 kemarin.

    Pesan berantai itu dibagikan oleh akun Facebook Chorina Fabio pada 21 Mei 2019. Setelah pesan berantai itu dibaca secara menyeluruh, isinya memang sama persis dengan isi pesan berantai yang beredar saat ini. Bedanya, dalam pesan berantai yang dibagikan saat ini, terdapat tambahan kalimat di bagian depan yang berbunyi “Suami BCL katanya meninggal karena serangan jantung, dalam usia 40 tahun”.

    Selain pernah beredar pada 2019, isi pesan berantai tersebut pernah dimuat dalam bentuk artikel yang dimuat oleh situs Netralnews pada 26 Januari 2018. Artikel itu terkait dengan meninggalnya Ryan Thamrin, dokter yang memandu acara televisi Dr OZ Indonesia.

    Artikel itu pun mengutip penjelasan dari seorang dokter yang bernama Imam Susilo. Namun, dalam artikel itu, tidak terdapat keterangan mengenai latar belakang dan keahlian Imam Susilo. Tidak dicantumkan pula tempat di mana Imam Susilo bekerja.

    Dengan demikian, pesan berantai yang menyebut Ashraf Sinclair kemungkinan meninggal karena GERD atau asam lambung adalah hasil reproduksi dari pesan berantai yang pernah beredar sebelumnya yang tidak jelas sumber dan kredibilitasnya.

    Soal nama dokter yang tercantum dalam pesan tersebut, detikcom pernah melakukan penelusuran lewat situs KKI atau Konsil Kedokteran Indonesia. Ditemukan, ada 2 dokter dengan nama tersebut.

    Namun salah satu di antaranya memastikan bahwa dirinya bukan penulis pesan berantai itu, terlebih karena bidang yang ia dalami adalah patologi anatomi. “Sepertinya kok bukan saya ya,” ujar dr Imam Susilo SpPA(K) beberapa waktu lalu.

    Sedangkan untuk kaitan antara GERD dan serangan jantung, spesialis jantung dari RS Siloam Karawaci, dr Vito A Damay, menyebut keduanya tidak memiliki hubungan sama sekali.

    “Jadi, GERD tidak menyebabkan serangan jantung apalagi menekan jantung hingga tidak berfungsi,” katanya kepada detikcom, Rabu (19/2/2020).

    Disebutkan pula bahwa asam lambung tidak menyebabkan penyakit jantung. Namun yang kerap terjadi adalah serangan jantung yang mengenai bagian bawah jantung seringkali dirasakan nyeri uluhati yang mirip dengan GERD.

    “Sehingga sering disalah artikan sakit maag lalu berujung meninggal. Padahal mungkin itu serangan jantung,” pungkas dr Vito.

    Okezone mengonfirmasi langsung kepada Spesialis Penyakit Dalam Prof Dr dr H Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP. Dengan tegas, Prof Ari menyatakan itu adalah hoax.

    “Itu kabar hoax,” tegasnya melalui pesan singkat, Rabu (19/2/2020).

    Prof Ari menyesalkan adanya informasi tersebut. Dia menegaskan, GERD tidak bisa menyebabkan langsung terjadinya kematian. Sekali pun GERD bisa menyebabkan komplikasi pada paru-paru.

    “Rasa panas di dada seperti terbakar itu memang terjadi pada pasien GERD. Tapi ini tidak ada kaitannya dengan masalah jantung,” tambahnya.

    GERD bisa digolongkan ke dalam penyakit kronis. Jika tidak ditangani dengan tepat, GERD bisa mengakibatkan gangguan paru-paru.

    “Tapi GERD sendiri tidak bisa jadi penyebab langsung terjadinya kematian,” kata Ari seperti dikutip dari situs media CNN Indonesia.

    Ari juga menjelaskan bahwa pasien GERD bisa mengalami serangan cemas atau stres sehingga dapat menjadi pemicu serangan jantung. Meski tak berbahaya, Ari menyebut bahwa GERD membuat kualitas hidup para penderitanya menurun. GERD yang kerap muncul tiba-tiba dapat terjadi saat sedang tidur atau di tengah-tengah pekerjaan.

    Kepada DW Indonesia, Dokter Spesialis Jantung Pembuluh Darah dari Rumah Sakit Budhi Asih Jakarta Timur, dr. Rizky Aulia Sp.JP menjelaskan dua kemungkinan gangguan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada manusia.

    Menurut Rizky, serangan jantung adalah terjadinya penyumbatan di pembuluh darah koroner secara akut atau mendadak, yang biasanya diawali dengan pembentukan kerak di dalam pembuluh darah. Inilah yang disebut sebagai coronary artery disease atau penyakit jantung koroner. Pembentukan kerak di dalam pembuluh darah biasanya dimulai sejak usia muda, yaitu di usia sekitar dua puluh tahun atau bahkan belasan.

    Selain disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah koroner secara tiba-tiba, kematian mendadak akibat gangguan jantung juga dapat disebabkan oleh Sindrom Brugada pada pasien yang terlihat sehat. Sindrom Brugada adalah gangguan irama jantung akibat kelainan genetik. Ibarat mesin yang memiliki sistem listrik di dalamnya, pasien yang mengidap Sindrom Brugada juga mengalami gangguan aliran listrik pada jantungnya.

    Rujukan