Akun Arumi Falen Putri (fb.com/rmieajj) mengunggah sebuah foto dengan narasi:
“Astaghfirullah haladzhim.
Salah satu tanda kiamat adalah bila sudah tidak ada lagi yg Thawaf mengelilingi Ka’bah. Dulu kita mungkin pernah berpikir, “masa sih, Ka’bah sepi dari yang Thawaf.” Tapi kini, seiring waktu, kejadian demi kejadian, akhirnya kita bisa mengerti dan memahami, bahwa hanya dengan satu kasus saja yaitu: virus corona yang berasal dari Wuhan-China, pemerintah Arab Saudi menutup pintu masuk bandaranya untuk seluruh negara yang terinfeksi dengan virus corona, termasuk pada jamaah yang akan malaksanakan ibadah umroh.Pertanyaannya bagaimana jika kasus tersebut terjadi di sana? Apa yang akan terjadi, tentu tidak ada orang yang berani keluar rumah? Dan ahirnya mungkin tak ada yang Thawaf lagi, hal ini mebuktikan bahwa kiamat memang sudah dekat saudara2 ku, dan fenomena Allah akan mengangkat Al quran sehingga huruf huruf nya sudah tidak ada lagi yg bisa kita baca ..
karena itu mari kita bertaubat dan perbanyak
1. Istighfar dengan تبوا توبة نصوحا
2.Sholawat
3.Dzikrullah…
#copas
umi dinar tazkia.semoga masih di beri waktu untuk memperbaiki diri & bertobat.semoga Orang orang Islam selalu Allah jaga dari segala musibah”
(GFD-2020-4806) [SALAH] Foto “Ka’bah sepi dari yang Thawaf karena Virus Corona”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/03/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, faktanya foto itu tidak terkait dengan isu kebijakan Arab Saudi soal virus Corona. Foto telah beredar di internet sejak September 2018 jauh sebelum wabah Virus Corona Covid-19 pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 lalu.
Lewat penelusuran dengan reverse image tool TinEye, Tim CekFakta Tempo menempukan jejak digital dari foto yang diunggah oleh akun Arumi Falen Putri. Foto tersebut diunggah dalam tiga rentang waktu yang berbeda. Pertama, diunggah situs Olx.uz pada 30 September 2018. Kedua, diunggah situs yang sama pada 1 Oktober 2018. Dan ketiga, diunggah situs Instahats.com pada 5 April 2019.
Jejak digital foto tersebut juga ditemukan lewat penelusuran dengan reverse image tool Yandex maupun Google. Foto tersebut merupakan jepretan seorang fotografer yang bernama Emad Alhusayni. Foto itu dimuat di situs pribadinya, Emadphoto.com. Namun, di situs tersebut, tidak dicantumkan keterangan terkait foto itu.
Dengan demikian, foto tersebut bukan foto yang diambil setelah wabah virus Corona karena telah beredar di internet sejak September 2018. Virus Corona Covid-19 pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 lalu. Saat itu, pemerintah Arab Saudi belum memberlakukan kebijakan penghentian sementara penerimaan jamaah umrah.
Lewat penelusuran dengan reverse image tool TinEye, Tim CekFakta Tempo menempukan jejak digital dari foto yang diunggah oleh akun Arumi Falen Putri. Foto tersebut diunggah dalam tiga rentang waktu yang berbeda. Pertama, diunggah situs Olx.uz pada 30 September 2018. Kedua, diunggah situs yang sama pada 1 Oktober 2018. Dan ketiga, diunggah situs Instahats.com pada 5 April 2019.
Jejak digital foto tersebut juga ditemukan lewat penelusuran dengan reverse image tool Yandex maupun Google. Foto tersebut merupakan jepretan seorang fotografer yang bernama Emad Alhusayni. Foto itu dimuat di situs pribadinya, Emadphoto.com. Namun, di situs tersebut, tidak dicantumkan keterangan terkait foto itu.
Dengan demikian, foto tersebut bukan foto yang diambil setelah wabah virus Corona karena telah beredar di internet sejak September 2018. Virus Corona Covid-19 pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 lalu. Saat itu, pemerintah Arab Saudi belum memberlakukan kebijakan penghentian sementara penerimaan jamaah umrah.
Kesimpulan
Foto itu tidak terkait dengan isu kebijakan Arab Saudi soal virus Corona. Foto telah beredar di internet sejak September 2018 jauh sebelum wabah Virus Corona Covid-19 pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 lalu.
Rujukan
(GFD-2020-3630) [SALAH] Tisu Basah Bisa Jadi Alternatif Menyiasati Kelangkaan Masker
Sumber: instagram.comTanggal publish: 04/03/2020
Berita
Beredar postingan video yang memperlihatkan penggunaan tisu basah sebagai bahan pengganti masker. Dalam narasi disebutkan, video tersebut bisa menjadi alternatif menyiasati kelangkaan masker terkait virus Corona.
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa penggunaan tisu basah menjadi peranti pengganti masker merupakan hal yang keliru dan tidak dianjurkan. Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat Biro Komunikasi Kemenkes RI Busroni, menjelaskan bahwa penggunaan tisu basah justru akan mempermudah partikel-partikel di udara menempel pada bagian kulit yang dengan tidak sengaja bisa terhirup.
“Tisu basah didesain bukan untuk masker, tapi didesain untuk membasahi bagian tubuh yang rentan terkontaminasi. Itu kan ada alkoholnya, lengket terhadap partikel-partikel yang berterbangan di udara, malah bisa terhirup sama kita. Dianjurkan menggunakan masker bedah biasa,” jelas Busroni.
Senada dengan Busroni, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto, pun angkat bicara. Ia mengatakan, Tisu basah dianggap kurang efektif untuk dijadikan masker karena malah akan membuat debu nempel semua di lapisan tisunya. "Tisu basah kena debu malah nempel semua debunya di tisu, kan itu basah luar dalam," terangnya.
Yuri menegaskan, kalau memang masyarakat sekadar membutuhkan benda yang bisa menutupi debu, tisu basah memang bisa, tapi bukan digunakan untuk jadi masker. "Kalau sekadar bisa, ya, memang bisa. Kertas juga bisa," tandas Yuri.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Chrisrianto Edy Nugroho juga memberikan pandangannya. Ia menyatakan bahwa tisu basah tidak direkomendasikan untuk menjadi barang subtitusi dari masker.
“Untuk tisu basah (dijadikan masker) belum ada penelitiannya, jadi tidak direkomendasikan,” ujarnya.
Chrisrianto menyebut yang direkomendasikan adalah masker yang sesuai dengan standar kesehatan.
"Yang direkomendasikan hanya masker bedah dan masker N95," ujarnya.
Chrisrianto juga mengungkapkan penggunaan masker harus diperhatikan dengan benar. Hal ini untuk memaksimalkan fungsi masker sebagai penyaring udara. "Masker bedah pemakaiannya yang benar, yang berwarna hijau atau biru posisinya di luar, yang putih di dalam," ujarnya.
Lipatan masker juga harus diperhatikan. "Lipatan luar mengarah ke bawah," ungkapnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh dr Erni Juwita SpPD, Ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia secara tegas menjawab bahwa masker dari tisu basah tersebut adalah cara yang tidak benar untuk dilakukan. “Tisu basah? Kotor dong, logikanya ya konteksnya kan itu basah maka akan mudah menyerap apapun. Termasuk debu dan kotoran," katanya.
Gunakan tisu basah sesuai fungsinya, sebagai tisu untuk bersihkan tangan atau benda-benda lain. "Enggak bener itu (kalau bisa jadi masker),” seru dr.Erni,
Dokter Erni lebih lanjut menjelaskan, tisu basah yang sudah dalam keadaan basa, malah akan tambah meningkatkan risiko iritasi saat diberi hand sanitizer, yang mengandung kandungan alkohol.
“Lebih basah ya lebih nempel, hati-hati loh ini basah. Alkohol itu kan menguap, digunakan tidak tepat bikin kuman nempel. Menghirup alkohol kan berbahaya, bisa iritasi di hidung nanti,” tambahnya.
“Tisu basah didesain bukan untuk masker, tapi didesain untuk membasahi bagian tubuh yang rentan terkontaminasi. Itu kan ada alkoholnya, lengket terhadap partikel-partikel yang berterbangan di udara, malah bisa terhirup sama kita. Dianjurkan menggunakan masker bedah biasa,” jelas Busroni.
Senada dengan Busroni, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto, pun angkat bicara. Ia mengatakan, Tisu basah dianggap kurang efektif untuk dijadikan masker karena malah akan membuat debu nempel semua di lapisan tisunya. "Tisu basah kena debu malah nempel semua debunya di tisu, kan itu basah luar dalam," terangnya.
Yuri menegaskan, kalau memang masyarakat sekadar membutuhkan benda yang bisa menutupi debu, tisu basah memang bisa, tapi bukan digunakan untuk jadi masker. "Kalau sekadar bisa, ya, memang bisa. Kertas juga bisa," tandas Yuri.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Chrisrianto Edy Nugroho juga memberikan pandangannya. Ia menyatakan bahwa tisu basah tidak direkomendasikan untuk menjadi barang subtitusi dari masker.
“Untuk tisu basah (dijadikan masker) belum ada penelitiannya, jadi tidak direkomendasikan,” ujarnya.
Chrisrianto menyebut yang direkomendasikan adalah masker yang sesuai dengan standar kesehatan.
"Yang direkomendasikan hanya masker bedah dan masker N95," ujarnya.
Chrisrianto juga mengungkapkan penggunaan masker harus diperhatikan dengan benar. Hal ini untuk memaksimalkan fungsi masker sebagai penyaring udara. "Masker bedah pemakaiannya yang benar, yang berwarna hijau atau biru posisinya di luar, yang putih di dalam," ujarnya.
Lipatan masker juga harus diperhatikan. "Lipatan luar mengarah ke bawah," ungkapnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh dr Erni Juwita SpPD, Ahli Penyakit Tropik dan Infeksi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia secara tegas menjawab bahwa masker dari tisu basah tersebut adalah cara yang tidak benar untuk dilakukan. “Tisu basah? Kotor dong, logikanya ya konteksnya kan itu basah maka akan mudah menyerap apapun. Termasuk debu dan kotoran," katanya.
Gunakan tisu basah sesuai fungsinya, sebagai tisu untuk bersihkan tangan atau benda-benda lain. "Enggak bener itu (kalau bisa jadi masker),” seru dr.Erni,
Dokter Erni lebih lanjut menjelaskan, tisu basah yang sudah dalam keadaan basa, malah akan tambah meningkatkan risiko iritasi saat diberi hand sanitizer, yang mengandung kandungan alkohol.
“Lebih basah ya lebih nempel, hati-hati loh ini basah. Alkohol itu kan menguap, digunakan tidak tepat bikin kuman nempel. Menghirup alkohol kan berbahaya, bisa iritasi di hidung nanti,” tambahnya.
Kesimpulan
Berdasarkan hal tersebut, maka konten tersebut dapat dikatakan menyesatkan. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1126830347649499/
- https://turnbackhoax.id/2020/03/04/salah-tisu-basah-bisa-jadi-alternatif-menyiasati-kelangkaan-masker/
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/0kp07ALk-cek-fakta-benarkah-tisu-basah-dapat-mengganti-fungsi-masker-ini-faktanya
- https://lifestyle.okezone.com/read/2020/03/03/481/2177551/ramai-tisu-basah-jadi-masker-begini-kata-kemenkes
- https://fame.grid.id/read/462047204/berita-virus-corona-terbaru-viral-tisu-basah-gantikan-masker-untuk-cegah-virus-corona-ternyata-ini-dampaknya-menurut-dokter-spesialis-paru?page=all
- https://lifestyle.okezone.com/read/2020/03/02/481/2177126/viral-masker-diy-dari-tisu-basah-dokter-ungkap-bahaya-di-baliknya?page=3
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4923671/viral-turorial-bikin-masker-dari-tisu-basah-kemenkes-angkat-bicara
(GFD-2020-3631) [SALAH] Virus Corona Mati dalam Suhu 26-27 Derajat dan Saat Terkena Sinar Matahari
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 04/03/2020
Berita
Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyebutkan bahwa virus Corona dapat terbunuh dalam suhu 26-27 derajat. Selain itu, pada narasi disebutkan bahwa virus tersebut akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari. Berikut kutipan narasinya:
“Teman sekelas keponakan laki-laki , lulus dengan gelar master, dan bekerja di Rumah Sakit Shenzen. Dia dipindahkan ke Wuhan untuk mempelajari virus pneumonia baru. Dia baru saja menelepon dan meminta saya untuk memberi tahu semua kerabat dan teman saya bahwa jika pilek dan dahak selama pilek, tidak dapat disimpulkan bahwa itu adalah pneumonia coronavirus tipe baru. Karena coronavirus pneumonia adalah batuk kering tanpa pilek, ini adalah cara paling sederhana untuk mengidentifikasinya. Dia juga menginformasikan bahwa tipe baru virus pneumonia koroner tidak tahan panas dan akan terbunuh dalam suhu 26-27 derajat. Karena itu, minumlah air panas untuk mencegah virus. Olahraga, Anda tidak akan terinfeksi virus. Jika Anda demam tinggi, tutupi selimut dan minumlah sup jahe untuk menambah energi panas tubuh tanpa perlu vaksin. Makan lebih banyak jahe, merica bawang putih, dan merica bisa menyelesaikannya,kurangi makan yg manis, asam, dan asin, dan jangan pergi ke daerah cuaca dingin. Virus akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari.”
Ada juga yang diklaim berasal dari UNICEF sebagai berikut;
Unicef
* Buletin dari UNICEF *
Virus corona berukuran besar, karena diameter sel 400 hingga 500, jadi setiap masker yang mencegah pemasukannya tidak harus digunakan oleh apoteker untuk moncong.
Virus tidak mengendap di udara tetapi di tanah, sehingga tidak menular melalui udara.
ور Coronavirus ketika jatuh di permukaan logam, itu akan hidup 12 jam, jadi mencuci tangan dengan sabun dan air cukup baik.
Saat coronavirus jatuh pada kain, tetap sembilan jam, jadi mencuci pakaian atau memaparkannya di bawah sinar matahari selama dua jam sudah cukup untuk tujuan membunuh mereka.
Virus ini hidup di tangan hanya selama 10 menit, sehingga menempatkan alat sterilisasi alkohol di saku akan memenuhi tujuan pencegahan.
Jika virus terpapar pada suhu 26 atau 27, virus itu akan dibunuh, sehingga tidak hidup di daerah yang panas, seperti halnya meminum air panas dan paparan sinar matahari memenuhi tujuannya.
Dan jauhi es krim dan makan cepat
Berkumurlah dengan air hangat dan garam atau
Betadine sakit tenggorokan
Ini membunuh spora amandel dan mencegahnya bocor ke paru-paru
Selain banyak minum air putih.
Ketaatan terhadap instruksi ini memenuhi tujuan mencegah virus dan cukup untuk mendramatisasi media sosial dan rumor yang mengelilinginya
UNICEF IQ HOME
"Benarkah cuaca panas bisa mematikan virus corona?"
"Virus corona bertahan di udara, melayang-layang sampai 8 jam sesudah keluar dari tubuh penderita saat bersin atau batuk, tidak lagi butuh medium cairan utk bertahan. Di ruangan tertutup dan ber-AC lebih lama lagi"
Sinar ultraviolet dapat membunuh cofid 19
“Teman sekelas keponakan laki-laki , lulus dengan gelar master, dan bekerja di Rumah Sakit Shenzen. Dia dipindahkan ke Wuhan untuk mempelajari virus pneumonia baru. Dia baru saja menelepon dan meminta saya untuk memberi tahu semua kerabat dan teman saya bahwa jika pilek dan dahak selama pilek, tidak dapat disimpulkan bahwa itu adalah pneumonia coronavirus tipe baru. Karena coronavirus pneumonia adalah batuk kering tanpa pilek, ini adalah cara paling sederhana untuk mengidentifikasinya. Dia juga menginformasikan bahwa tipe baru virus pneumonia koroner tidak tahan panas dan akan terbunuh dalam suhu 26-27 derajat. Karena itu, minumlah air panas untuk mencegah virus. Olahraga, Anda tidak akan terinfeksi virus. Jika Anda demam tinggi, tutupi selimut dan minumlah sup jahe untuk menambah energi panas tubuh tanpa perlu vaksin. Makan lebih banyak jahe, merica bawang putih, dan merica bisa menyelesaikannya,kurangi makan yg manis, asam, dan asin, dan jangan pergi ke daerah cuaca dingin. Virus akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari.”
Ada juga yang diklaim berasal dari UNICEF sebagai berikut;
Unicef
* Buletin dari UNICEF *
Virus corona berukuran besar, karena diameter sel 400 hingga 500, jadi setiap masker yang mencegah pemasukannya tidak harus digunakan oleh apoteker untuk moncong.
Virus tidak mengendap di udara tetapi di tanah, sehingga tidak menular melalui udara.
ور Coronavirus ketika jatuh di permukaan logam, itu akan hidup 12 jam, jadi mencuci tangan dengan sabun dan air cukup baik.
Saat coronavirus jatuh pada kain, tetap sembilan jam, jadi mencuci pakaian atau memaparkannya di bawah sinar matahari selama dua jam sudah cukup untuk tujuan membunuh mereka.
Virus ini hidup di tangan hanya selama 10 menit, sehingga menempatkan alat sterilisasi alkohol di saku akan memenuhi tujuan pencegahan.
Jika virus terpapar pada suhu 26 atau 27, virus itu akan dibunuh, sehingga tidak hidup di daerah yang panas, seperti halnya meminum air panas dan paparan sinar matahari memenuhi tujuannya.
Dan jauhi es krim dan makan cepat
Berkumurlah dengan air hangat dan garam atau
Betadine sakit tenggorokan
Ini membunuh spora amandel dan mencegahnya bocor ke paru-paru
Selain banyak minum air putih.
Ketaatan terhadap instruksi ini memenuhi tujuan mencegah virus dan cukup untuk mendramatisasi media sosial dan rumor yang mengelilinginya
UNICEF IQ HOME
"Benarkah cuaca panas bisa mematikan virus corona?"
"Virus corona bertahan di udara, melayang-layang sampai 8 jam sesudah keluar dari tubuh penderita saat bersin atau batuk, tidak lagi butuh medium cairan utk bertahan. Di ruangan tertutup dan ber-AC lebih lama lagi"
Sinar ultraviolet dapat membunuh cofid 19
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut belum teruji secara ilmiah. Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Herawati Sudoyo, pada 1 Maret 2020 mengatakan bahwa belum ada penelitian ihwal kaitan hidup matinya virus Corona dengan suhu udara.
"Sampai sekarang belum ada penelitian mengenai peran dari suhu terhadap mati atau hidupnya Coronavirus," kata Herawati.
Herawati menjelaskan bahwa virus Corona memang akan mati jika dipanasi dengan suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit. Namun, dia mengingatkan, suhu di Indonesia tak mencapai 56 derajat.
Merujuk laporan cuaca dari Google Weather, suhu di Jakarta hari ini 29 derajat Celcius. Kategori panas ekstrem pernah terjadi pada Oktober 2019 yakni 37-39 derajat Celcius.
"Jadi itu sangat spekulatif kalau dibilang temperatur akan mengurangi (potensi terjangkit Corona)," ujar Herawati.
Selain itu, pada 8 Februari 2020, China Daily membantah isu bahwa sinar matahari bisa membunuh virus Corona Covid-19. Suhu iradiasi matahari tidak bisa mencapai 56 derajat Celcius. Sinar ultraviolet pun tidak dapat menyamai intensitas dari lampu ultraviolet. Karena itu, virus tersebut tidak dapat dibunuh oleh sinar matahari.
"Sampai sekarang belum ada penelitian mengenai peran dari suhu terhadap mati atau hidupnya Coronavirus," kata Herawati.
Herawati menjelaskan bahwa virus Corona memang akan mati jika dipanasi dengan suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit. Namun, dia mengingatkan, suhu di Indonesia tak mencapai 56 derajat.
Merujuk laporan cuaca dari Google Weather, suhu di Jakarta hari ini 29 derajat Celcius. Kategori panas ekstrem pernah terjadi pada Oktober 2019 yakni 37-39 derajat Celcius.
"Jadi itu sangat spekulatif kalau dibilang temperatur akan mengurangi (potensi terjangkit Corona)," ujar Herawati.
Selain itu, pada 8 Februari 2020, China Daily membantah isu bahwa sinar matahari bisa membunuh virus Corona Covid-19. Suhu iradiasi matahari tidak bisa mencapai 56 derajat Celcius. Sinar ultraviolet pun tidak dapat menyamai intensitas dari lampu ultraviolet. Karena itu, virus tersebut tidak dapat dibunuh oleh sinar matahari.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim virus Corona akan mati pada suhu 26-27 derajat Celcius dan saat terkena sinar matahari belum ada hasil penelitian ilmiahnya. Dengan demikian, konten pesan berantai itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1126837814315419/
- https://turnbackhoax.id/2020/03/04/salah-virus-corona-mati-dalam-suhu-26-27-derajat-dan-saat-terkena-sinar-matahari/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/650/fakta-atau-hoaks-benarkah-virus-corona-mati-dalam-suhu-26-27-derajat-dan-saat-terkena-sinar-matahari
- https://www.suara.com/news/2020/03/03/202532/cek-fakta-benarkah-virus-corona-bisa-mati-terkena-sinar-matahari
- https://nasional.tempo.co/read/1314134/peneliti-eijkman-jawab-debat-soal-virus-corona-vs-panas/full&view=ok
- https://www.chinadaily.com.cn/a/202002/08/WS5e3eb7aea31012821727601d.html
(GFD-2020-4802) [SALAH] “Untuk antisipasi menularnya wabah corona, Tutorial cara pemakaian masker yg benar”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 04/03/2020
Berita
Akun Ferry Thehunter (fb.com/ferry.thehunter) mengunggah sebuah gambar ke grup Penyeimbang Media Hoax (fb.com/groups/142467989797691) dengan narasi sebagai berikut:
“Untuk antisipasi menularnya wabah corona…”
Dalam gambar, tampak Presiden Joko Widodo dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di gambar tersebut juga terdapat narasi “Tutorial cara pemakaian masker yg benar”
Masker jokowi
“Untuk antisipasi menularnya wabah corona…”
Dalam gambar, tampak Presiden Joko Widodo dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di gambar tersebut juga terdapat narasi “Tutorial cara pemakaian masker yg benar”
Masker jokowi
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, potongan gambar yang menampilkan Presiden Joko Widodo dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu tidak ada hubungannya dengan wabah penyakit coronavirus 2019–2020 atau dikenal sebagai wabah COVID-19 yang disebabkan oleh coronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.
Cuplikan gambar itu diambil dari video liputan Tribun Timur yang berjudul “Presiden Jokowi dan Iriana Jenguk Ani Yudhoyono di Singapura” yang diunggah pada 21 Februari 2019. Dan tidak ada tulisan “Tutorial cara pemakaian masker yg benar” di video aslinya yang diunggah oleh akun Tribun Timur tersebut.
Video Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjenguk istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono, yang tengah dirawat di Singapura dirilis oleh akun Youtube Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden hari ini Kamis (21/2/2019).
Video berdurasi dua menit lebih dua detik tersebut berjudul “Menjenguk Ibu Ani Yudhoyono, Singapura 21 Februari 2019”.
Memperlihatkan momen saat Presiden Jokowi dan Iriana Jokowi juga sang bungsu, Kaesang Pangarep, menyempatkan diri menjenguk Ani Yudhoyono yang kabarnya menderita sakit kanker darah.
Awalnya video memperlihatkan gedung National University Hospital Cancer Institute, Singapura. Kemudian menyorot kedatangan Jokowi, Iriana, dan Kaesang yang disambut oleh Hatta Rajasa dan anak pertama SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di depan rumah sakit.
Hatta Rajasa lalu berjalan berdampingan dengan Jokowi. Sementara Iriana ditemani AHY diikuti rombongan di belakang keduanya. Lalu mereka berjalan di lorong masuk ke lift.
Sampai di ruang kamar Ani Yudhoyono, Jokowi dan iriana disambut oleh menantu SBY yang juga istri AHY, Annisa Pohan. Tampak dalam video Jokowi dan Iriana memberikan salam kepada Ani yang tidak diperlihatkan sosoknya.
Cuplikan gambar itu diambil dari video liputan Tribun Timur yang berjudul “Presiden Jokowi dan Iriana Jenguk Ani Yudhoyono di Singapura” yang diunggah pada 21 Februari 2019. Dan tidak ada tulisan “Tutorial cara pemakaian masker yg benar” di video aslinya yang diunggah oleh akun Tribun Timur tersebut.
Video Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjenguk istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono, yang tengah dirawat di Singapura dirilis oleh akun Youtube Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden hari ini Kamis (21/2/2019).
Video berdurasi dua menit lebih dua detik tersebut berjudul “Menjenguk Ibu Ani Yudhoyono, Singapura 21 Februari 2019”.
Memperlihatkan momen saat Presiden Jokowi dan Iriana Jokowi juga sang bungsu, Kaesang Pangarep, menyempatkan diri menjenguk Ani Yudhoyono yang kabarnya menderita sakit kanker darah.
Awalnya video memperlihatkan gedung National University Hospital Cancer Institute, Singapura. Kemudian menyorot kedatangan Jokowi, Iriana, dan Kaesang yang disambut oleh Hatta Rajasa dan anak pertama SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di depan rumah sakit.
Hatta Rajasa lalu berjalan berdampingan dengan Jokowi. Sementara Iriana ditemani AHY diikuti rombongan di belakang keduanya. Lalu mereka berjalan di lorong masuk ke lift.
Sampai di ruang kamar Ani Yudhoyono, Jokowi dan iriana disambut oleh menantu SBY yang juga istri AHY, Annisa Pohan. Tampak dalam video Jokowi dan Iriana memberikan salam kepada Ani yang tidak diperlihatkan sosoknya.
Kesimpulan
Tidak terkait dengan wabah virus corona atau yang dikenal sebagai wabah COVID-19. Gambar Presiden Joko Widodo itu diambil dari video liputan Tribun Timur yang berjudul “Presiden Jokowi dan Iriana Jenguk Ani Yudhoyono di Singapura” yang diunggah pada 21 Februari 2019. Tidak ada tulisan “Tutorial cara pemakaian masker yg benar” di video aslinya yang diunggah oleh akun Tribun Timur tersebut.
Rujukan
Halaman: 7396/7813



