• (GFD-2020-8255) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Wali Kota Surabaya Risma Dibaptis di Gereja Demi Melenggang ke DKI?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/09/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tengah berada di dalam sebuah ruangan dan didoakan oleh sejumlah orang beredar di media sosial. Video itu diklaim sebagai video ketika Risma dibaptis di sebuah gereja agar bisa memimpin di DKI Jakarta.
    Di YouTube, video tersebut diunggah salah satunya oleh kanal Aktual News pada 30 Agustus 2020. Video itu diberi judul "Berita Terkini ~ Ritual Walkot Risma Untuk Melenggang Ke DKI ? | Berita Terbaru Hari Ini". Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 1.000 kali.
    Dalam video berdurasi 9 menit 50 detik itu, terdapat potongan video Risma saat dikelilingi oleh puluhan orang di sebuah ruangan. Risma duduk di sebuah kursi dengan sarung berwarna putih. Risma hanya menunduk saat orang-orang dalam ruangan itu mendoakannya.
    Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Aktual News.
    Apa benar Risma dibaptis demi melenggang ke DKI?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula mendengarkan secara utuh potongan video yang memperlihatkan Risma sedang didoakan tersebut. Doa itu berisi permintaan agar Risma dan Kota Surabaya selalu diberkati serta ucapan syukur karena telah diberi pemimpin seperti Risma. Berikut narasi lengkap doa tersebut:
    “Dalam nama Tuhan, hari-hari ke depan kita berdoa buat Ibu Risma tetap ditempatkan oleh Tuhan nantinya bukan hanya untuk Surabaya, tetapi kita berdoa agar Indonesia. (Video terpotong) ...Tuhan kerjakan lewat pribadi beliau. Kita tundukan kepala, kita arahkan tangan kita ke arah Ibu Risma bersama. Di hadapan hadiratmu kami bawa Ibu Wali Kota kami Surabaya. Tuhanlah yang mengangkat dan menetapkan dia menjadi Wali Kota Surabaya. Dan kepada-Mu pula kami serahkan ya Tuhan, kalau pada suatu saat di mana tanggung jawab yang dia pegang untuk Surabaya berakhir, tetapi Surabaya akan tetap diberkati oleh Tuhan sehingga lewat Ibu Risma Tuhan akan berkhidmat untuk menunjuk siapa yang menjadi pelanjutnya, untuk membina kota ini, masyarakat Surabaya, sehingga kami terus dalam satu kesatuan, tidak membedakan satu dengan yang lain, karena kami percaya dalam satu kesatuan ada sebuah kekuatan yang dahsyat yang akan terjadi atas kota ini, sehingga kota ini sungguh menjadi teladan kepada kota-kota yang lain. Bapa, terimakasih karena Engkau telah berikan Ibu Risma untuk membuka dan meneladani kami semua sehingga kami tinggal melanjutkannya. Karena itu Tuhan, wali kota selanjutnya kami juga serahkan kepada Tuhan, sesuai petunjuk beliau kami akan taat sehingga kami percaya Surabaya akan tetap terpelihara dengan baik. Terpujilah Engkau, Bapa, kekal selama-lamanya. Maka, sekarang kami bersatu memberkati Ibu Risma, saat ini di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. berkat Allah turun atas-Nya.”
    Dalam acara tersebut, tidak ada prosesi pembaptisan dengan air seperti yang biasa dilakukan gereja. Dilansir dari situs TuhanYesus.org, pembaptisan tidak bisa dilakukan ke semua orang. Calon baptisan harus terlebih dahulu meneguhkan imannya dan mengenal Yesus. Beberapa gereja mewajibkan calon baptisan mengikuti kelas untuk pengenalan. Beberapa gereja juga mengadakan semacam wawancara untuk memastikan calon baptisan tidak main-main. Hal ini penting terutama bagi mereka yang pindah dari agama lain.
    Setelah yakin dengan iman calon baptisan, gereja akan melaksanakan pembaptisan. Biasanya, gereja memiliki waktu-waktu tertentu untuk menggelar pembaptisan. Secara garis besar, terdapat dua cara pembaptisan. Pertama, baptis selam, di mana pendeta atau pastor bersama calon baptisan masuk ke air bersama-sama, bisa di kolam atau danau. Kedua, baptis percik, di mana pendeta atau pastor memercikkan atau menumpahkan air ke atas kepala calon baptisan sembari mengucapkan berkat.
    Dikutip dari situs RubrikKristen.com, sesuai Alkitab, calon baptisan harus dibaptis dengan sarana air. Istilah baptis berasal dari katabaptizodalam bahasa Yunani yang artinya dicelupkan atau ditenggelamkan. Dengan demikian, baptisan harus menggunakan air.
    Dilansir dari situs media Jawapos.com, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Surabaya Febri Adhitya Prajatara pun menjelaskan, video itu merupakan video saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menghadiri undangan silaturahmi dengan para rohaniwan se-Kota Surabaya. Risma berkesempatan menyampaikan sikap dan komitmen. Kemudian, Risma didoakan agar selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan. "Enggak ada acara lain. Apalagi itu (dibaptis), enggak benar itu,” katanya.
    Febri juga meluruskan bahwa lokasi pertemuan antara Risma dan para rohaniwan tersebut bukan di gereja, melainkan sebuah gedung di Surabaya Barat, tepatnya di kawasan Club House Graha Family. Soal waktu pelaksanaan pertemuan itu, Febri menyatakan tidak tahu secara detail, yang pasti Agustus tahun ini.
    Selain itu, Febri menunjukkan keterangan tertulis yang memuat penjelasan Ketua Panitia Silaturahmi Wali Kota Surabaya dengan Para Rohaniwan Se-Kota Surabaya Yohanita Bega. Dalam keterangannya, Yohanita mengatakan bahwa acara itu hanyalah silaturahmi dan untuk mendoakan Risma, baik saat menjabat sebagai wali kota maupun setelah tidak menjabat nanti. "Itulah inti doa kami. Dan itulah inti acara itu. Kami ingin mendoakan Ibu Wali Kota yang telah memajukan Surabaya,” ujarnya.
    Penjelasan juga diberikan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya Muhammad Fikser. Dikutip dari CNN Indonesia, Fikser menjelaskan bahwa, dalam video itu, Wali Kota Surabaya  Tri Rismaharini  hanya sekedar didoakan oleh rohaniwan, tidak dibaptis. "Jadi, bukan suatu pembaptisan, itu hoaks. Ibu [Risma] sebagai wali kota diundang oleh warganya. Kebetulan yang mengundang adalah perkumpulan rohaniwan," kata Fikser.
    Menurut Fikser, kegiatan dalam video itu digelar pada 25 Agustus 2020. Kegiatan juga tidak dihelat di gereja. "Tanggal 25 Agustus kalau enggak salah. Jadi, diundang bukan di gereja, tapi seperti di tempat pertemuan, gedung gitu. Kehadiran beliau juga karena panitia menjaminphysical distancing," ujarnya.
    Dalam pertemuan itu, kata Fikser, Risma berpesan agar para tokoh agama menjaga keutuhan dan kerukunan antar umat di Surabaya. Pesan itu sama dengan yang pernah disampaikan kepada umat agama lainnya. Mengenai sikap Risma yang menduduk saat didoakan oleh rohaniwan, Fikser membantah bahwa itu adalah proses pembaptisan.
    Menurut Fikser, para rohaniwan sekadar mendoakan Risma agar diberi kesehatan. "Secara spontanitas, mereka berdiri lalu mendoakan Ibu, dengan cara agama mereka, dengan ritual mereka, untuk kesehatan Ibu supaya Ibu juga memimpin Surabaya kuat sampai akhir masa jabatan beliau. Dan ini dilakukan secara spontan, kalau Ibu langsung menghindar kan enggak mungkin," ujarnya.
    Fikser pun meminta publik tidak mengaitkan video itu dengan tuduhan yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Ia menyebut Risma mengayomi seluruh warganya. "Yang jelas, bahwa kehadiran beliau itu sebagai seorang wali kota ke warganya, dan kebetulan warganya itu bermacam-macam suku dan agama. Janganlah ambil kesimpulan sendiri," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dibaptis di gereja demi melenggang ke DKI, keliru. Dalam video yang digunakan untuk menyebarkan klaim itu, Risma hanya didoakan oleh para rohaniwan dalam sebuah acara silaturahmi dan doa bersama, bukan dibaptis. Acara itu pun digelar di sebuah gedung pertemuan, bukan di gereja.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8256) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Mata Bocah Ini Harus Dioperasi Akibat Kecanduan Gadget?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/09/2020

    Berita


    Kisah tentang seorang bocah Thailand berusia 4 tahun yang menderita mata malas sehingga harus dioperasi akibat kecanduan gadget beredar di internet dalam beberapa hari terakhir. Kisah ini dilengkapi dengan sebuah foto bocah perempuan yang matanya tengah mendapatkan perawatan.
    Bocah itu disebut sebagai putri dari warga Bangkok pemilik akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang. Dalam unggahannya di Facebook, Dachar bercerita bahwa ia telah mengenalkan gadget, terutama ponsel dan iPad, kepada putrinya sejak usianya masih 2 tahun.
    Menurut Dachar, pola asuh ini membuat putrinya kecanduan gadget. Jika tidak diizinkan bermain gadget, sang putri akan kesal, marah, hingga menjerit-jerit. Karena tidak tahan dan agar tidak mengganggu aktivitasnya, Dachar pun akhirnya memberikan gadget kepada putrinya.
    Namun kini, kondisi putrinya membuat Dachar menyesal. Sang putri divonis dokter menderita mata malas dengan satu mata miring atau juling, salah satu komplikasi paling serius dari miopi dan astigmatisme. Akibatnya, di usia yang masih begitu muda, mata putri Dachar harus dioperasi.
    Bagaimana kebenaran kisah yang menimpa bocah Thailand tersebut?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi kisah di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto yang menyertai kisah tersebut denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut memang diunggah pertama kali oleh akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang, tepatnya pada 2 November 2018. Dachar bercerita bahwa putrinya mengalami gangguan penglihatan hingga harus dioperasi akibat kecanduan gadget.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang.
    Kisah ini pun dikutip oleh banyak media, baik media lokal Thailand maupun media luar. Situs media Thailand Chiang Mai News misalnya, pernah memuat kisah itu dalam artikelnya pada 4 November 2018. Terdapat pula foto-foto yang diunggah oleh Dachar dalam artikel yang berjudul "Seorang ayah mengunggah pengingat, biarkan anak berusia 4 tahun memainkan ponsel dalam waktu yang lama hingga membutuhkan operasi mata" tersebut.
    Situsparenting The Asian Parent juga pernah memuat kisah tersebut dalam artikelnya yang berjudul "Gadis Kecil Menderita Masalah Penglihatan Setelah Penggunaan Ponsel dalam Waktu Lama". The Asian Parent pun mewawancarai profesor pediatri Rawat Sichangsirikarn untuk mendapatkan penjelasan terkait gangguan penglihatan yang dialami putri Dachar.
    Menurut Sichangsirikarn, merupakan hal yang sangat serius ketika orang tua mengizinkan anak mereka yang masih kecil menggunakan teknologi seperti ponsel pintar dan tablet dalam jangka waktu yang lama. Paparan layar gadget yang berlebihan dapat berdampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental anak. Menggunakan aplikasi yang tidak dikenal dan memiliki kebebasan tanpa batas ke internet juga bisa membahayakan anak.
    Dilansir dari World of Buzz, dokter mengatakan bahwa putri Dachar mengalami kehilangan penglihatan atau mata malas, di mana mata tidak bisa bekerja secara bersamaan karena satu mata bekerja lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Akibatnya, dia tidak hanya memiliki gangguan penglihatan tapi juga mata yang juling.
    Setelah operasi yang berlangsung pada 31 Oktober 2018, putri Dachar akhirnya bisa menggunakan kedua matanya secara bersamaan. Namun, bocah itu tidak diperbolehkan menggunakan ponsel, iPad, dan komputer, bahkan menonton televisi. Cahaya yang dipancarkan dari alat-alat tersebut merupakan penyebab utama putri Dachar kehilangan penglihatannya.
    Dilansir dari Kompas.com, salah satu dampak buruk dari kecanduan gadget pada anak adalah mata menjadi juling. Menurut hasil penelitian di Korea Selatan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet berisiko besar mengalami mata juling sementara.
    Dalam penelitian itu, dilibatkan 12 anak berusia 7-16 tahun yang menggunakan gawainya sekitar 4-8 jam setiap hari. Anak-anak itu juga memegang gawainya dengan jarak 20-30 cm dari wajahnya. Selain durasi pemakaian yang terlalu sering, jarak yang terlalu dekat dengan mata kemungkinan menjadi penyebab juling atau mata yang tidak searah.
    Terapi medis memang bisa memperbaiki gangguan mata pada sembilan anak, namun setelah mereka tidak lagi menggunakan ponsel pintar selama dua bulan. Mereka juga disarankan membatasi memakai gadget setiap 30 menit sekali dan mengatur jarak penglihatan.
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 15 Agustus 2018, penelitian dari Universitas Toledo Amerika Serikat mengungkapkan cahaya biru dari ponsel dapat menyebabkan kebutaan. Studi tersebut menemukan bahwa cahaya biru menimbulkan reaksi racun dalam molekul retina yang merasakan cahaya dan sinyal otak.
    Akibatnya, reaksi kimia beracun itu membunuh fotoreseptor mata dan tidak dapat dipulihkan sampai mati. Untuk menghindari masalah yang serius, sebaiknya segera selamatkan mata dari cahaya ponsel dengan beberapa cara mudah berikut:

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa mata bocah 4 tahun di Thailand tersebut harus dioperasi akibat kecanduan gadget, benar. Dokter mengatakan bahwa bocah itu mengalami mata malas, di mana mata tidak bisa bekerja secara bersamaan karena satu mata bekerja lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Akibatnya, dia tidak hanya memiliki gangguan penglihatan tapi juga mata yang juling. Setelah operasi pada 31 Oktober 2018, bocah itu akhirnya bisa menggunakan kedua matanya secara bersamaan. Selain itu, menurut hasil penelitian di Korea Selatan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet berisiko besar mengalami mata juling sementara.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4890) [SALAH] Program PT Pertamina Berhadiah Cek Tunai Senilai Rp150 Juta

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 01/09/2020

    Berita

    Selamat..!Anda T-pilih

    Dlam Program PT.Pertamina Persero

    Mndptkan Cek.Tunai Rp 150 jt

    KODE ID 385ua27

    U/info cek di

    https://bit.ly/info-pertamina69

    Hasil Cek Fakta

    Melalui pesan berantai Whatsapp, beredar informasi seputar pembagian hadiah dari PT Pertamina berupa cek tunai senilai Rp150 juta. Menurut narasi yang beredar, bagi masyarakat penerima pesan diimbau untuk mengklik link yang tercantum di dalamnya. Menanggapi informasi yang tidak sesuai fakta, PT Pertamina akhirnya angkat bicara.

    Melansir dari merdeka.com, Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usma menegaskan bahwa informasi terkait PT Pertamina membagikan cek tunai senilai Rp150 juta adalah palsu alias hoaks. Fajriyah sendiri menduga adanya indikasi modus penipuan terkait pesan tersebut. Oleh sebab itu masyarakat diimbau lebih waspada, dan mengecek segala informasi terkait PT Pertamina di kanal-kanal resmi.

    “Ini sudah pas hoaks. Mohon bisa berhati-hati untuk masyarakat yang mendapatkann info tersebut,” jelas Fajriyah.

    Fajriyah mengaku jika pihaknya telah melaporkan konten tersebut kea duan konten Kementeriann Komunikasi dan Informatika (Kominnfo).

    “Reminder dan laporan kami telah sampaikan melalui kominfo dan juga disebarkan melalui media dan media sosial,” tegas Fajriyah.

    Kesimpulan

    Informasi palsu. PT Pertamina menyatakan informasi terkait pembagian cek tunai senilai Rp150 juta adalah palsu alias hoaks. Link yang terdapat pada narasi pesan terindikasi adalah modus penipuan, sehingga masyarakat diimbau untuk waspada dalam menerima informasi yang mencatut nama PT Pertamina.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4891) [SALAH] “Jokowi Berharap, Kita Semuua Dapat Menerima Kehadiran TKA Cina sebagai Saudara Yang Mencari Nafkah Disini”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/09/2020

    Berita

    “Jokowi Berharap, Kita Semuua Dapat Menerima Kehadiran TKA Cina sebagai Saudara Yang Mencari Nafkah Disini”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook @Isma membagikan narasi beserta tangkapan layar media swarakyat.com dengan judul pemberitaan ““Jokowi Berharap, Kita Semuua Dapat Menerima Kehadiran TKA Cina sebagai Saudara Yang Mencari Nafkah Disini”. Hingga saat ini, unggahan @Ismi telah mendapat 487 tanggapan dan dibagikan sebanyak 166 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

    Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa tangkapan layar yang dibagikan adalah tidak sesuai fakta dan sudah melalui proses penyuntingan. Melalui laman swarakyat.com, tidak ditemukan judul berita seperti halnya unggahan milik @Ismi. Judul asli pada pemberitaan adalah “Jokowi Berharap Masyarakat Takut Kepada Allah dan Api Neraka”.

    Unggahan @Ismi masuk ke dalam kategori manipulated content atau konten yang dimanipulasi. Konten jenis ini biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan sebuah media. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

    Kesimpulan

    Judul pada tangkapan layar telah disunting. Akun Facebook @Isma membagikan tangkapan layar pemberitaan milik swarakyat.com, namun dengan judul pemberitaan yang tidak sesuai alias sudah disunting.

    Rujukan