• (GFD-2020-8163) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pria di Foto Ini Meninggal Akibat Bersepeda Pakai Masker?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/07/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan seorang pria berbaju oranye yang terbaring di tandu beredar di media sosial. Di samping pria itu, terdapat pria lain yang mengenakan helm sepeda. Menurut narasi yang tertulis di bawah foto tersebut, pria itu merupakan seorang pesepeda yang meninggal akibat memakai masker saat gowes.
    Berikut narasi yang tercantum di bawah foto tersebut:
    "Innalillahi wainnaillaihi rojiun..
    Korban gowes pake masker td pagi dibelakang citragrand ..
    A.n kol.laut (T) DIDIK HARI PRASETYO..
    Semoga amal ibadahnx diterima Allah swt.
    NOTE:Mengingatjan rekan2 klo bersepeda jgn pake masker sebab jantung perlu oksigen yg banyak.
    Dengan pake masker terhalang oksigen masuk ke jantung dan paru2.."
    Di Facebook, salah satu akun yang membagikan foto tersebut adalah akun Ghazali, yakni pada 29 Juni 2020. Akun ini menuliskan narasi, “Bujuran kah ini beritanya, jangan menggunakan masker saat bersepada..” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah direspons lebih dari 300 kali, dikomentari sebanyak 96 kali, dan dibagikan sebanyak 19 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ghazali.
    Apa benar pria dalam foto di atas meninggal akibat memakai masker saat bersepeda?

    Hasil Cek Fakta


    Dilansir dari Kompas.com, Kapolsek Pondok Gede Komisaris Hersiantory mengatakan pria dalam foto tersebut yang bernama Didik Hari Prasetyo itu meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya. Ia menegaskan Didik meninggal bukan karena menggunakan masker saat bersepeda.
    "Bapak ini mempunyai riwayat jantung dari keluarganya. Bukan gara-gara masker, sama saja nanti ajak orang tidak menggunakan masker,” ujar Hersiantory pada 22 Juni 2020.
    Hersiantory menuturkan, awalnya, Didik bersepeda dengan teman-temannya dari Perumahan Kranggan Permai dengan rute Jalan Raya Kranggan-Alternatif Cibubur-Kampung Cimatis. Setelah sampai Kampung Cimatis, Jalan Katelia, Kranggan Permai, Didik mengalami sesak napas.
    Kemudian, ia memilih untuk beristirahat di pinggir jalan hingga akhirnya ketinggalan rombongan. "Kemudian, saat ditemukan, dia sudah tidak sadarkan diri. Pada saat berolahraga, korban tidak membawa identitas diri," ujar Hersiantory.
    Warga yang menemukan Didik pun membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur. Namun, saat perjalanan ke rumah sakit, Didik dinyatakan meninggal dunia. Hersiantory mengimbau pesepeda untuk tidak memaksakan diri jika mula tidak nyaman atau sesak napas saat bersepeda.
    Dikutip dari Kompas.com, terapis fisik sekaligus ahli kebugaran bersertifikasi dari Movement Vault Amerika Serikat, Grayson Wickham, menyebut bahwa olahraga dengan masker pada umumnya aman. "Kebanyakan orang bisa melakukan berbagai gerakan olahraga dengan memakai masker," kata Wickham pada 27 Mei 2020.
    Namun, Wickham berpesan, perhatikan kondisi fisik saat berolahraga dengan memakai masker, terutama bagi mereka yang baru mulai berolahraga atau setelah rehat cukup lama dari rutinitas berolahraga. "Perhatikan ketika merasakan sakit kepala ringan, pusing, kesemutan, atau sesak napas saat berolahraga dengan memakai masker," katanya.
    Selain itu, menurut Wickham, pemilik penyakit jantung, stroke, asma, gangguan paru-paru, serta bronkitis perlu ekstra hati-hati saat berolahraga dengan memakai masker. Penderita penyakit kardiovaskular dan pernapasan perlu berkonsultasi ke dokter saat ingin berolahraga di luar rumah di tengah pandemi, terlebih sambil memakai masker, mengingat keduanya termasuk golongan yang rentan saat terinfeksi Covid-19. "Penting bagi penderita kardiovaskular dan masalah pernapasan untuk memastikan aspek keamanan," ujar Wickham.
    Berdasarkan artikel cek fakta Tempo, dokter spesialis olahraga Michael Triangto menuturkan, dengan memakai masker saat berolahraga, seseorang akan merasa napasnya kurang lega, sesak, dan tidak nyaman. Hal ini wajar karena tujuan utama dari penggunaan masker adalah untuk melindungi dari kemungkinan terinfeksi virus.
    "Juga melindungi orang lain dari kemungkinan kita menginfeksi mereka, terutama bila kita sedang tidak sehat," ujarnya pada 2 Juni 2020. Apalagi jika memakai masker saat berolahraga dengan intensitas yang berat, hal itu wajar. Hal yang tidak wajar adalah mengapa mereka harus berolahraga berat?
    Dalam Panduan Hidup Aktif Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), terdapat penjelasan mengenai kurva huruf "J", yaitu hubungan antara intensitas olahraga dan risiko mengalami infeksi penyakit. Bila berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang, risiko yang dihadapi rendah. Sedangkan jika berolahraga dengan intensitas berat, risiko terinfeksi, termasuk Covid-19, dan cedera tinggi.
    Dari penjelasan tersebut, Michael menyarankan, sebelum berolahraga, seseorang harus mengetahui dengan jelas tujuannya. Jika tujuannya untuk sehat, ia hanya boleh berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang sehingga tidak akan terganggu dengan penggunaan masker. Bagi yang ingin berolahraga berat, menurut Michael, tentunya tidak bisa dilarang.
    Namun, ia menyarankan untuk melakukannya di rumah. "Sehingga tidak diwajibkan menggunakan masker dan kemungkinan untuk terinfeksi maupun menginfeksi dari dan ke orang lain sedikit," tuturnya. Yang perlu dipahami, berolahraga dengan intensitas berat hanya diperuntukkan bagi atlet yang akan bertanding. Tujuan kesehatan bukanlah menjadi prioritas utamanya.
    Terkait masker, menurut Michael, penggunaan masker jenis N95 akan sangat mempengaruhi fungsi pernapasan karena hanya diperuntukkan bagi petugas medis. Sementara masker bedah lebih rendah kemampuan menyaring udaranya, sehingga pemakaiannya tidak terlalu menyesakkan. "Dan masker kain lebih nyaman saat dipakai. Untuk berolahraga di luar ruangan, lebih dianjurkan menggunakan masker bedah atau masker kain," ujarnya.
    Michael juga menjelaskan manfaat lain dari penggunaan masker, selain mencegah penularan infeksi. Secara teoritis, kurangnya oksigen yang masuk ke paru-paru dapat melatih pemakai masker untuk terbiasa dengan oksigen yang tipis. Tapi hal ini membutuhkan waktu adaptasi yang panjang. "Untuk itu, masih dibutuhkan banyak penelitian tentang penggunaan masker saat berolahraga, termasuk pula lama penggunaannya," katanya.
    Michael pun menyimpulkan bahwa berolahraga yang sehat cukup dilakukan dengan intensitas yang ringan sampai sedang. Dengan demikian, penggunaan masker saat berolahraga tidak akan mempersulit sistem pernapasan. "Ini tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan, atau menyebabkan kematian. Kecuali bagi yang memiliki gangguan kesehatan, misalnya TBC paru," tuturnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pria dalam foto di atas, Didik Hari Prasetyo, meninggal akibat memakai masker saat bersepeda keliru. Didik meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-5957) [SALAH] “Survei Masyarakat untuk Publikasi Data BNPT”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 30/06/2020

    Berita

    Dalam beberapa waktu terkahir, beredar sebuah survey yang mengatasnamakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Survey tersebut diklaim dengan tujuan untuk menjaring aspirasi masyarakat perihal data-data yang dibutuhkan publik.

    Hasil Cek Fakta

    Namun belakangan diketahui bahwa survey tersebut adalah palsu alias hoaks. BNPT melalui akun Instagram resminya menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan survey seperti halnya yang beredar di masyarakat.

    Berikut klarifikasi lengkap yang dikeluarkan oleh BNPT:

    Beredarnya sebuah pesan di media sosial yang berisi survey masyarakat untuk publikasi data BNPT adalah tidak benar.
    .
    Bagian hukum dan humas BNPT tidak pernah melakukan Survey Masyarakat untuk Publikasi Data BNPT.
    .
    Salam Saring Sebelum Sharing

    Rujukan

  • (GFD-2020-4225) [SALAH] “MAHASISWA bisa minta BANTUAN ke KODAM jika ingin di dampingi saat gelar UNJUK RASA”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 30/06/2020

    Berita

    “MAKLUMAT TNI Untuk Rakyat Indonesia
    *KAPUSPEN MABES TNI MAYJEN SISRIADI*

    SALAM KOMANDO !!!!

    MAHASISWA bisa minta BANTUAN ke KODAM jika ingin di dampingi saat gelar UNJUK RASA.
    Dia menyebut KEWENANGAN itu sudah bukan
    lagi milik PANGLIMA TNI Marsekal Hadi tjahjanto.
    Kami dilatih untuk BERPERANG
    Kami dilatih untuk melumpuhkan LAWAN
    Bahkan kami dilatih untuk membunuh LAWAN
    TAPI KAMI PUNYA HATI NURANI
    Tapi kami tak dilatih untuk membunuh RAKYAT
    Kami tak dilatih untuk membunuh MAHASISWA
    KAMI ada karena KAMI MENJAGA RAKYAT DAN NEGARA INDONESIA
    TNI ADALAH ANAK KANDUNG RAKYAT
    RAKYAT ADALAH IBU KANDUNG TNI
    BRAVO TNI
    Jazaakumulloohu khoiron khatsiiron…”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi menyatakan mahasiswa bisa minta bantuan ke Kodam jika ingin di dampingi saat gelar unjuk rasa karena kewenangan itu sudah bukan lagi milik Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto adalah klaim yang menyesatkan.

    Klaim ini merupakan pelintiran yang didaur ulang. Pernyataan Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi terkait pengawalan demonstrasi oleh TNI memang pernah dimuat di situs CNN Indonesia pada 26 September 2019 dalam artikelnya yang berjudul “Mahasiswa Minta Dikawal Demo ke Mabes, TNI Arahkan ke Kodam”.

    Namun, cara penyampaian atau kesimpulan dalam gambar di atas keliru sehingga mengarah ke tafsir yang salah. Sisriadi menyatakan berdasarkan UU No. 9/89, pengawalan demonstrasi adalah kewenangan Polri. TNI membantu polisi jika memang tenaga polisi tidak cukup.

    “Kewenangan Panglima dalam pengendalian operasi sudah dibagi habis ke satuan bawah. Mereka seharusnya minta ke tingkat pangdam. Panglima kan sudah dibagi habis kewenangannya” kata Sisriadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (25/9/2019).

    Dia lalu menjelaskan bahwa TNI bisa ikut membantu mengamankan aksi demonstrasi jika memang dibutuhkan. Nantinya, itu akan diserahkan di level kodam di daerah yang bersangkutan. Sisriadi juga menyatakan bukan berarti TNI ingin ikut dalam kegiatan yang bersifat politik.

    “TNI membantu polisi jika memang tenaga polisi tidak cukup. Prosedurnya begitu. Dan itu sudah pada level di lapangan, dan bukan pada Panglima TNI lagi. Urusannya diserahkan komandan di bawah dan mereka punya prosedur masing-masing dan itu kan tugas perbantuan,” kata Sisriadi.

    Pernyataan Sisriadi itu diucapkan dalam konteks adanya permintaan pendampingan dari demonstran yang mengaku sebagai mahasiswa dari sejumlah universitas di Bandung dan Jakarta yang berkumpul di dekat Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Rabu, 25 September 2019.

    Sisriadi merespons permintaan itu dengan mengatakan bahwa pendampingan mahasiswa dalam berdemonstrasi dilakukan di level Kodam dan hanya jika dalam kondisi dibutuhkan oleh Polri.

    Sebelumnya, massa yang mengaku sebagai mahasiswa dari sejumlah universitas di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat, menggelar aksi di dekat Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Mereka berharap bisa beraudiensi dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Sisradi pun angkat bicara. TNI tak akan ikut-ikutan dalam aksi demonstrasi tersebut.

    Sementara terkait foto Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi yang dimuat di gambar tersebut, foto yang sama pernah dimuat di artikel berjudul “Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Mayor Jenderal Sisriadi: Masalah Kelebihan Perwira Dulu Dianggap Tabu” yang dimuat di situs koran.tempo.co pada 7 Februari 2019.

    Kesimpulan

    Pelintiran yang didaur ulang. Kapuspen TNI Mayor Jenderal TNI Sisriadi menyatakan berdasarkan UU No. 9/89, pengawalan demonstrasi adalah kewenangan Polri. TNI membantu polisi jika memang tenaga polisi tidak cukup.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4227) [SALAH] Ular Makan Senapan Laras Panjang Jenis AK 47

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 30/06/2020

    Berita

    Beredar postingan Facebook gambar berupa seekor ular dengan tubuh berbentuk senapan jenis AK-47. Dalam narasi diklaim bahwa gambar tersebut meurpakan foto ular kelaparan lalu memakan senapan jenis AK-47.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Saking lapar nya...
    Ular ini makan senapan laras panjang jenis AK 47.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Dilansir dari hoaxes.id, gambar tersebut merupakan gambar AK-Python, karya seni rupa dari seniman asal Rusia, Vasily Slonov.

    Karya seni rupa tersebut berupa ular dengan bagian tubuhnya berbentuk senapan AK-47. Bahan yang digunakan untuk membuat karya tersebut ialah karet. AK-Python dibuat tahun 2019 dan pemiliknya ialah 11.12 Gallery.

    Kesimpulan

    Dengan demikian, konten tersebut bukanlah gambar atau foto ular setelah memakan senapan AK-47, melainkan karya seni rupa dengan tajuk AK-Pyhton dari Vasily Slonov. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.

    Rujukan