• (GFD-2020-8190) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Megawati Minta Mundur Sebagai Ketua PDIP di Tengah Polemik RUU HIP?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 20/07/2020

    Berita


    Gambar-gambar tangkapan layar dari video berita tvOne yang berjudul "Megawati Minta Mundur" beredar di media sosial. Gambar-gambar tersebut dibagikan dengan narasi bahwa Megawati Soekarnoputri meminta mundur sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di tengah polemik Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila atau RUU HIP.
    Di Facebook, gambar tangkapan layar serta narasi itu dibagikan salah satunya oleh akun Evi Margaretha Ompusunggu, yakni pada 7 Juli 2020. Akun ini menulis, "Mak Banteng Minta Mundur.. Alih-alih Bertanggung Jawab Atas RUU HIP Yang Digagasnya.. siMbok Malah Mundur.. Mau Kemana..? Kabur..?#TangkapInisiatorRUUHIP #TangkapMegawatiBubarkanPDIP#TolakRUUHIP #BatalkanRUUHIP."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Evi Margaretha Ompusunggu.
    Apa benar Megawati minta mundur sebagai Ketua PDIP di tengah polemik RUU HIP?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri video berita tvOne yang berjudul "Megawati minta mundur" di YouTube. Hasilnya, kanal YouTube milik tvOne, tvOneNews, memang pernah mengunggah video dengan judul tersebut, di mana Megawati memakai baju batik berwarna hijau yang sama dengan yang terlihat dalam foto unggahan akun Evi Margaretha Ompusunggu.
    Namun, video itu merupakan video pada 16 November 2018, jauh sebelum munculnya polemik RUU HIP. Dalam video berdurasi sekitar 3 menit itu, disebutkan bahwa Megawati menyatakan keinginannya untuk mundur sebagai Ketua PDIP saat pembekalan calon anggota legislatif (caleg) PDIP pada 15 November 2018. Alasannya, usia Megawati sudah tidak muda lagi dan saat ini ia bertugas sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
    "Kalau dilihat-lihat, perjalanan politik saya sudah cukup lama. Saya menjadi ketua umum partai yang sekarang paling senior sudah sekian lama, belum diganti-ganti, padahal saya sudah berharap untuk diganti karena akibat umur saya yang plus 17, tapi hari ini pun akan ditambahi tugas untuk pembinaan ideologi Pancasila," kata Megawati dalam video itu.
    Keinginan Megawati untuk tidak lagi menjabat sebagai Ketua PDIP ini juga pernah diberitakan oleh Republika.co.id pada 17 November 2018. Menurut Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, soal diganti atau tidaknya Megawati akan ditentukan lewat keputusan kongres. "Ya tergantung arus bawah, menurut saya, ketika keputusan kongres menghendaki Ibu Mega menjadi ketum," ujar Hasto pada 16 November 2018.
    Megawati menjabat sebagai Ketua PDIP sejak partai tersebut masih bernama PDI pada 1993. Kursinya sempat digoyang oleh Soerjadi lewat Kongres Luar Biasa PDI pada 1996. Namun, Megawati tidak menerima hasil kongres tersebut dan akhirnya PDI di bawah kepemimpinannya berubah nama menjadi PDIP. Sejak saat itu, kursi Megawati tidak pernah goyah. Dalam Kongres PDIP pada 2015 di Bali pun, Megawati masih terpilih secara aklamasi.
    Hasto menyebut panjangnya masa jabatan yang disandang Megawati sebagai sebuah dedikasi. Dia mengatakan terpilihnya kembali Megawati juga melalui kongres, bukan karena orang per orang, apalagi karena ambisi. Menurut Hasto, sulit bagi putri presiden Indonesia pertama ini untuk turun tahta. Dia mengatakan Megawati masih mendapat dukungan dan akan mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari bawah.
    Isu bahwa Megawati mundur sebagai Ketua PDIP di tengah polemik RUU HIP juga telah diverifikasi oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Menurut laporan Mafindo di situsnya, Turnbackhoax.id, video yang digunakan untuk menyebarkan isu tersebut merupakan video berita tvOne pada 2018. Dalam video itu, Megawati mengungkapkan keinginannya untuk mundur sebagai Ketua PDIP karena persoalan usia.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Megawati minta mundur sebagai Ketua PDIP di tengah polemik RUU HIP menyesatkan. Video yang digunakan untuk menyebarkan klaim tersebut merupakan video pada 2018, ketika Megawati memberikan pembekalan bagi calon anggota legislatif (caleg) PDIP.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8191) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Palestina Dihapus dari Google Maps?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 20/07/2020

    Berita


    Akun Facebook Mo'zank Santuy membagikan klaim bahwa Palestina telah dihapus dari peta pada 18 Juli 2020. Klaim ini disertai dengan gambar tangkapan layar peta dari Google Maps. Dalam peta itu, hanya tertera nama "Israel" serta wilayah "Jalur Gaza" dan wilayah "Tepi Barat".
    “Kalian terlalu sibuk, sampai kalian tidak tau bahwa palestina di hapus dari maps. jatuh nya palestina di tngan israel itu adlh pertanda bhwa hari akhir sudah dkt. wahai pemuda indonesia jgn kau sibukan game mu, sampai kau tidak tau tentang masalah seperti ini,” demikian narasi yang ditulis oleh akun Mo’zank Santuy.
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Mo’zank Santuy tersebut telah dibagikan lebih dari 9 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Mo'zank Santuy.
    Apa benar Palestina dihapus dari Google Maps?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa Google menghapus nama "Palestina" dari petanya beredar di kalangan pengguna media sosial Arab sejak 16 Juli 2020. Klaim itu disertai dengan dua peta yang diklaim sebagai peta sebelum label "Palestina" dihapus dan sesudah dihapus.
    Dalam peta yang baru, hanya terdapat label "Jalur Gaza" dan "Tepi Barat" serta "Israel". Klaim bahwa Google menghapus nama "Palestina" dari petanya ini muncul tak lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk mencaplok Tepi Barat.
    Klaim tersebut juga pernah memicu protes pada 2016. Namun, Google memberikan pernyataan bahwa tidak pernah ada label “Palestina” dalam petanya. Terkait label "Tepi Barat" dan "Jalur Gaza" yang menghilang, Google mengatakan bahwa terdapatbugyang menghapus kedua label tersebut.
    "Tidak pernah ada label 'Palestina' di Google Maps, namun kami menemukanbugyang menghapus label untuk 'Tepi Barat' dan 'Jalur Gaza'," kata juru bicara Google. "Kami sedang bekerja dengan cepat untuk membawa label ini kembali ke area tersebut."
    Dilansir dari The New York Times, Elizabeth Davidoff, salah satu juru bicara Google, dalam sebuah e-mail menyatakan bahwa perusahaannya tidak pernah menggunakan label "wilayah Palestina" dalam petanya. "Tidak ada upaya dari Google untuk menghapus Palestina atau semacamnya," kata Davidoff.
    Dia juga mengatakan GIF yang beredar di internet yang menunjukkan peta sebelum label "Palestina" dihapus dan sesudah dihapus adalah palsu. Setelah Google memperbaiki bug label "Jalur Gaza" dan "Tepi Barat", kedua label itu kembali muncul dan dipisahkan dari Israel dengan garis putus-putus untuk menandakan perbatasan sengketa yang belum diakui secara internasional.
    Ketika Tempo memasukkan label “Palestina”, Google Maps memang mengarahkan ke sebuah wilayah di Timur Tengah yang berada di tepi Laut Tengah. Namun, tidak ada label “Palestina” dalam peta, hanya ada label "Jalur Gaza" dan "Tepi Barat" yang batas wilayahnya dengan "Israel" ditandai dengan garis putus-putus. Hingga 14 September 2015, tercatat baru 136 negara dari 193 anggota PBB yang telah mengakui Palestina sebagai negara.
    Gambar tangkapan layar Google Maps yang menunjukkan label "Jalur Gaza" dan "Tepi Barat" serta "Israel".
    Berbeda dengan Google, Bing, mesin pencari milik Microsoft, memasukkan label "Negara Palestina" di petanya. Meskipun begitu, batas wilayahnya juga ditandai dengan garis putus-putus.
    Gambar tangkapan layar Bing Maps.
    Caitlin Dewey, penulis teknologi digital The Washington Post, memberikan catatan atas polemik itu yang memantik pertanyaan menarik tentang kekuatan teknologi pemetaan seperti Google. Dalam upaya mereka mendokumentasikan, tanpa disadari, perusahaan-perusahaan teknologi sering kali membentuk pemahaman kita tentang hal tersebut. “Ini bukan sesuatu yang sering kita pikirkan, tapi menjadi sangat jelas ketika peta berubah atau dikatakan telah berubah, atau ketika kita membandingkan peta yang berbeda satu sama lain,” ujar Dewey dalam artikelnya, "Google Maps did not ‘delete’ Palestine—but it does impact how you see it", pada 10 Agustus 2016.
    Sejak itu, beberapa orang Palestina beralih ke Bing Maps karena mereka memberi label "Negara Palestina" sebagai wilayah tersendiri. Apple Maps saat itu juga tidak memberi label wilayah atau membedakannya dari negara Israel.
    Adapun Naomi Dann, juru bicara Jewish Voice for Peace, menjelaskan kepada The New York Times bahwa GIF yang diunggah oleh organisasinya ke Twitter dibuat oleh salah satu rekannya. Dann pun mengatakan bahwa klaim tentang Google memiliki bobot ekstra emosional karena melibatkan representasi visual antara Israel dan Palestina. “Peta selalu bersifat politis, dan cara perbatasan-perbatasan dalam peta tersebut dipisahkan selalu berlandaskan alasan politik,” katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Palestina dihapus dari Google Maps menyesatkan. Google tidak pernah menghapus label "Palestina" dari petanya, melainkan memang tidak pernah mencantumkan label "Palestina" di Google Maps. Saat pengguna memasukkan kata “Palestina”, Google Maps akan tetap membawa pengguna ke wilayah administratif Palestina saat ini, yakni "Jalur Gaza" dan "Tepi Barat", dengan batas wilayah berupa garis putus-putus. Garis putus-putus menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah sengketa. Hingga kini, memang belum semua negara anggota PBB mengakui Palestina sebagai negara. Meskipun begitu, label "Palestina" tertera dalam peta online Microsoft, Bing Maps.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4380) [SALAH] Pesan Berantai Adidas Berikan Masker

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 19/07/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyebutkan Adidas memberikan masker. Dalam pesan berantai tersebut terdapat tautan.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Saya suka dengan masker yang diberikan Adidas ini. 👀
    http://smaII[dot]ru/adidas/”

    Apakah adidas membagikan masker secara gratis?
    Mohon maaf 🙏🏻 apakah adidas membagikan masker gratis?

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa pesan berantai tersebut tidak berasal dari pihak Adidas. Brand Communications & Sports Marketing Manager Adidas Indonesia Cinita Mayakatri membantah klaim Adidas membagikan masker. Dia menyebut kabar tersebut hoaks.

    "Ini hoaks ya," kata Cinita yang dilansir dari liputan6.com

    Cinita mengungkapkan, Adidas Indonesia tidak membuat dan memiliki program membagikan masker seperti yang dicantumkan pada klaim.

    "Tidak ada official statement dari kami," tegasnya.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka isi informasi tersebut masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4381) [SALAH] Foto “Ini penampakan beberapa ORANG CHINA berseragam BRIMOB/POLISI”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 19/07/2020

    Berita

    “Ini penampakan beberapa ORANG CHINA berseragam BRIMOB/POLISI”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui media sosial Facebook akun @LorengMba mengunggah sebuah foto disertai keterangan “Ini penampakan beberapa ORANG CHINA berseragam BRIMOB/POLISI”. Namun pasca ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa foto-foto serupa pernah beredar pada tahun 2016 dengan narasi yang tidak jauh berbeda.

    Coba melakukan penelusuran menggunakan mesin pencari gambar milik google, foto yang memperlihatkan sembilan orang tengah mengenakan seragam Polri pernah digunakan oleh riauaktual.com dalam pemberitaan berjudul “Heboh Warga Cina Berseragam Brimob, Ini Penjelasan Polisi”. Melansir dari pemberitaan tersebut dinyatakan bahwa kesembilan pria yang menggunakan seragam merupakan warga sipil.

    Kasat Brimob Polda Sumatera Utara, Kombes Zulfikar menjelaskan bahwa warga sipil tersebut tergabung dalam anggota Korps Musik (Korsik) Satbrimob Polda Sumut. Mereka menggunakan seragam hanya pada saat tampil di acara Polri sebagai bentuk penyesuaian.

    “Mereka pemain musik yang sudah menjadi mitra Polri untuk Korsik dan ditampilkan saat upacara dengan menggunakan baju polisi sejak tahun 80-an. Mereka yang jadi korps musiknya hanya pakai seragam pada saat itu saja,” jelasanya.

    Sementara foto yang memperlihatkan dua pria menggunakan kaos biru berkerah bukanlah seragam Polri. Foto tersebut pernah diklarifikasi oleh Mafindo pada Desember 2016, diketahui bahwa seragam yang digunakan bukanlah seragam Polri melainkan organisasi Forum Bhayangkara Indonesia (FBI). FBI sendiri adalah sebuah organisasi yang sah dan beranggotakan WNA yang secara administrasi sudah legal.

    ===

    Kesimpulan

    Foto tersebut pernah beredar dan diklarifikasi pada tahun 2016. Pria-pria berseragam dalam foto merupakan warga sipil yang tergabung dalam anggota Korps Musik (Korsik) Satbrimob Polda Sumatera Utara. Sementara foto dua pria dengan kaos berkerah biru bukanlah menggunakkan seragam kepolisian melainkan seragam organisasi Forum Bhayangkara Indonesia (FBI).

    Rujukan