• (GFD-2020-5118) [SALAH] “Penemuan Tikus Raksasa di Mexico City. Sayangnya Sudah Dalam Keadaan Mati”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/09/2020

    Berita

    Akun Facebook bernama Gandhi Kurniawan mengunggah status pada 24/9/2020 berupa sebuah foto dengan narasi “Ditemukan tikus raksasa di Mexico City. Sayangnya sudah dalam keadaan mati”.
    NARASI:

    “Ditemukan tikus raksasa di Mexico City. Sayangnya sudah dalam keadaan mati.”

    Hasil Cek Fakta

    Dari hasil penelusuran diketahui foto tersebut diambil ketika petugas kebersihan kota akan membersihkan 22 ton sampah dari terowongan limbah di Kota Meksiko, Meksiko. Dilansir dari ndtv.com, para petugas yang sedang membersihkan saluran limbah pada Jumat, (18/9/2020) dikejutkan ketika melihat sosok yang terlihat hidup dengan bulu yang sangat realistis dan sosok itu terlihat dalam posisi duduk membungkuk. Setelah diselidiki nampaknya sosok tersebut adalah properti Halloween yang tersangkut di terowongan limbah.

    Petugas bergegas mengeluarkan benda tersebut dan menyemprotnya dengan air. Menurut pemberitaan nypost.com seorang wanita bernama Evelin López mengklaim telah membuat ‘tikus’ tersebut sebagai properti untuk acara Halloween. Lopez mengatakan benda itu telah hilang selama beberapa tahun diakibatkan oleh badai besar. Tikus itu disimpan di gudang, namun hanyut dan menghilang. Setelahnya Lopez mengaku tidak ada yang dapat menemukan properti miliknya selama bertahun-tahun. Foto dan video penemuan tikus tersebut kemudian menjadi viral di Internet.

    Sebuah video berjudul “Encuentran Una Rata Gigante en La Ciudad De Mexico Tras Fuertes Lluvias/Giant Rat Appears In Mexico.” yang tayang pada tanggal 21/9/2020 di kanal Youtube ‘UltramixTV’ memperlihatkan petugas yang sedang membersihkan tikus tersebut dengan air sesuai dengan foto pada status. Dibeberapa bagian video diperlihatkan bagian belakang tikus yang berongga sehingga dapat dipastikan sebagai sebuah patung/properti. Dari penelusuran di atas, status tersebut masuk kategori Konten yang Salah.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5119) [SALAH] Foto Ustad Tengkul Zul Menaiki Sebuah Roket

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/09/2020

    Berita

    Beredar postingan dari akun Facebook Dewa Jirah memposting foto Ustad Tengkul Zul sedang menaiki sebuah roket. Postingan ini diposting pada 25 September 2020 dan disukai 1 kali.
    NARASI:

    “ALLAH SWT sudah mati kalian mau nyembah apa drun kadrun terus yg kalian sembah apa arab apa Batu? Apa ke langit pakai onta / kuda”

    Hasil Cek Fakta

    Setelah melakukan penelusuran foto tersebut mengarah kesebuah tweet dari akun Twitter @ustadtengkuzul pada tanggal 29 Juni 2018, terlampir pada tweet tersebut Ustad Tengkul Zul sedang menaiki seekor kuda. Foto roket yang digunakan ternyata bernama Avangard, roket hipersonik buatan Rusia ini telah beroperasi pada bulan Desember 2017. Roket nuklir hipersonik ini diklaim dapat terbang dengan kecepatan 27 kali lipat dari suara.

    Melihat dari penjelasan tersebut, foto Ustad Tengkul Zul menaiki sebuah roket adalah tidak benar dan termasuk dalam Parodi/Satire.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5101) [SALAH] “kalau pemerintah gak berani putar film G 30 /S PKI secara nasional berarti ini sudah negara komunis”

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 26/09/2020

    Berita

    Akun Instagram @alif_lam_mim_212 (instagram.com/alif_lam_mim_212/) mengunggah sebuah gambar yang berisi narasi:

    “UNTUK MENGETAHUI BAHWA “INDONESIA” ITU… NEGARASA *KOMUNIS. ATAU NEGARA *NKRI. ITU SANGATLAH MUDAH ! CARA CUKUP PUTAR FILM G 30 /S PKI. SECARA NASIONAL… KALAU PEMERINTAH GA BERANI !!!! BERARTI INI SUDAH NEGARA KOMUNIS. SIMPLE KAN CARANYA… #Q AGENG.”

    G 30SPKI

    Hasil Cek Fakta

    Faktanya, Pada 1998, film “Pengkhianatan G30S/PKI” berhenti diputar atas permintaan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI), karena dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi. Pada tahun 2017, Presiden RI Joko Widodo tidak menolak gagasan diputarnya kembali film “Pengkhianatan G30S/PKI” bahkan nonton bareng (nobar) film ini bersama Panglima TNI waktu itu, Gatot Nurmantyo.

    Awalnya, pemutaran film G30S/PKI telah berakhir pada 30 September 1998, ketika rezim Orde Baru berganti menjadi era reformasi. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan berhentinya penyiaran film tersebut atas permintaan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI).

    Tokoh dari TNI AU saat itu, Marsekal Saleh Basarah, menelepon Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah. “Pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi,” kata Asvi. Alasannya, lanjut Asvi, sejumlah anggota TNI AU menilai film ini mendiskreditkan pangkalan AURI di Bandara Halim Perdanakusuma. “Halim PK dianggap sebagai sarang PKI,” katanya.

    Juwono Sudarsono membenarkan adanya hubungan per telepon dengan Saleh Basarah. “Beliau menghubungi saya sekitar Juni-Juli 1998,” katanya. Permintaan tersebut, lanjut dia, disampaikan secara lisan saja.

    Sementara itu, Yunus Yosfiah mengatakan pemutaran film yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi. “Karena itu, pada 30 September mendatang, TVRI dan televisi swasta tidak akan menayangkan film Pengkhianatan G30S/PKI lagi,” ujar Yunus seperti dikutip dari Kompas edisi 24 September 1998.

    Situasi berbalik drastis pada 2017, manakala TNI—tepatnya Angkatan Darat—kembali menginstruksikan pemutaran film G30S/PKI untuk umum. Panglima TNI saat itu, Gatot Nurmantyo, memerintahkan seluruh jajaran TNI, dari tingkat Babinsa, Koramil, sampai Kodim, untuk menonton film tersebut sekaligus menyosialisasikannya kepada masyarakat luas.

    “Perintah saya, mau apa memangnya?” ungkap Gatot ketika berada di Blitar (18/9/2017). Ia menambahkan bahwa dirinya tak peduli terhadap polemik yang muncul berkaitan pemutaran film G30S/PKI. “Biarin saja [ada polemik],” tegasnya. Menurut Gatot, pemutaran film G30S/PKI adalah upaya TNI untuk meluruskan sejarah. Gatot ingin generasi muda dan para prajurit memahami “sejarahnya sendiri”—tentu versi Angkatan Darat.

    “Kalau selama ini meluruskan sejarah, menceritakan sejarah tidak boleh, mau jadi apa bangsa ini?” ucap Gatot. “Soal polemik, biarin sajalah. Tujuan kita tidak berpolemik, kok. Tujuan saya hanya untuk mengingatkan pada generasi muda, prajurit-prajurit saya juga tidak tahu itu.”

    Presiden Jokowi memberikan tanggapan yang sedikit berbeda. Ia menyatakan tak melarang pemutaran G30S/PKI. Namun, menurutnya G30S/PKI perlu dibuat kembali dengan semangat milenial agar pesan sejarahnya “lebih mudah disampaikan.”

    “Ya akan lebih baik kalau ada versi yang paling baru, agar lebih kekinian,” ungkap Jokowi usai meninjau Jembatan Gantung Mangunsuko di Kecamatan Dusun, Magelang, Jawa Tengah, Senin (18/9/2017) seperti diberitakan Antara.

    “Untuk anak-anak milenial yang sekarang tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang memang bisa masuk ke mereka,” tambahnya. “Biar mereka mengerti tentang bahaya komunisme, biar mereka tahu juga mengenai PKI.”

    Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo hadir dalam acara nonton bareng (nobar) film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI di di Makorem 061/Suryakancana, Kota Bogor, Jumat (29/9/2017) malam.

    Mengutip Antara, keduanya, menonton film bersama ribuan orang yang memadati lapangan tenis Makorem 061/Suryakancana Bogor, Jawa Barat.
    Pemutaran film berdurasi 271 menit itu dimulai dari pukul 20.00 WIB.

    Kesimpulan

    Pada 1998, film “Pengkhianatan G30S/PKI” berhenti diputar atas permintaan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI), karena dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi. Pada tahun 2017, Presiden RI Joko Widodo tidak menolak gagasan diputarnya kembali film “Pengkhianatan G30S/PKI” bahkan nonton bareng (nobar) film ini bersama Panglima TNI waktu itu, Gatot Nurmantyo.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5103) [SALAH] Foto Penangkapan Direktur National Institute for Allergy and Infectious Diseases (NIAID)

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 26/09/2020

    Berita

    Pengguna Twitter HSRetoucher mengunggah sebuah foto (21/9) yang menunjukkan halaman depan koran USA Today dengan berita utama penangkapan direktur National Institute for Allergy and Infectious Diseases (NIAID), dr. Anthony Fauci, atas tuduhan konspirasi.

    NARASI DALAM GAMBAR:

    “DR FAUCI ARRESTED FOR SEDITIOUS CONSPIRACY”

    “COVID-19 HOAX!”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, foto halaman depan koran USA Today yang digunakan sebenarnya merupakan salah satu potongan adegan dari film ‘Back to the Future II’, di mana adegan tersebut memberitakan tentang penangkapan salah satu karakter dalam film. Selain itu, foto penangkapan dr. Fauci yang digunakan pada kenyataannya merupakan foto penangkapan mantan kepala polisi di Suffolk, Amerika Serikat, yang ditangkap atas tuduhan pemukulan pada tahun 2015 yang lalu. Foto wajah dr. Fauci yang diedit ke dalam foto tersebut berasal dari foto dr. Fauci pada sidang kongres tanggal 20 Juli 2020 lalu. Selain itu, dr. Fauci terlihat dalam acara ‘The Daily Show with Trevor Noah’ pada tanggal 21 September 2020, sebagai narasumber dalam usaha penanganan COVID-19 oleh pemerintah Amerika Serikat, serta turut berpartisipasi dalam sidang kongres dan wawancara bersama NBC News pada tanggal 23 September 2020.

    Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul “Fact check: Dr Anthony Fauci Has Not Been Arrested, Posts Feature Doctored Image” dan mengkategorikannya sebagai false.

    Dengan demikian, foto yang disebarluaskan oleh pengguna Twitter HSRetoucher tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi/Manipulated Content, sebab foto yang disebarluaskan merupakan hasil manipulasi dari foto lain.

    Kesimpulan

    Informasi yang salah. Foto halaman depan koran yang asli berasal dari salah satu adegan film ‘Back to the Future II’, sedangkan foto asli orang yang ditangkap merupakan foto penangkapan mantan kepala polisi di Suffolk, Amerika Serikat, pada tahun 2015 lalu.

    Rujukan