“Pertolongan Pertama Pada STROKE
orang yg kena STROKE mendadak (jatuh di KM dsb), pembuluh darah ke otak akan pecah sedikit demi sedikit. Ingat,untuk mengatasi hal ini janganlah gugup/panik. Jika korban berada di tempat kejadian seperti dikamar mandi/ruang tidur/ruang tamu dll. JANGAN dipindah2kan ke tempat lain, karena akan percepat pecahnya pembuluh darah, dan janganlah sampai dy terjatuh lg. Caranya adl dengan mengeluarkan darah korban dgn menggunakan jarum yg telah dibakar/disteril yg kemudian ditusukkan ke ujung setiap jari masing2 sampai darahnya keluar± 1-2 tetes. Kalau darahnya tidak keluar dapat diurut sampai keluar, sesudah itu korban akan sadar setelah beberapa menit kemudian. Jika korban mulutnya miring, tariklah kedua daun telinganya sampai merah dan langsung tusuk bagian bawah daun telinga dg jarum steril sampai darah keluar ± 1-2 tetes. Setelah korban sadar dan mulutnya sudah pulih kembali, barulah dibawa ke dokter/RS.
Biasanya orang yg terkena STROKE pembuluh darahnya akan lebih cepat pecah karena goncangan dalam perjalanan ke RS/dokter. Orang tsb dapat tidak sadar kembali/pingsan dan biasanya akan cacat/lumpuh. (Kita harus ingat MENGELUARKAN DARAH dari jari orang yg terkena STROKE, maka kita sudah bisa menolong orang tsb dari penyakit STROKE).Share ini boleh diteruskan. Maka Tak terhinggalah jasa pahala anda, indah berbagi teman, saudara , jgn berhenti ∂ï anda ok….Silahkan share & bagikan ke tmn2 dst.. biar semakin banyak yang tahu dan tulisan ini menjadi lebih banyak bermanfaat”
(GFD-2020-5426) [SALAH] Pertolongan Pertama Pada Stroke Dengan Tusuk Jari
Sumber: facebook.comTanggal publish: 01/11/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar kembali sebuah informasi yang menyatakan menusuk jari dengan menggunakan jarum dapat menjadi pertolongan pertama dalam penanganan penyakit stroke. Dalam informasi ini, dijelaskan tata cara bagaimana penanganan pertama untuk orang yang terkena stroke.
Informasi ini diunggah oleh akun Imron Ali Asyid di Facebook. Postingannya mendapatkan atensi sebanyak 27 orang dengan komentar sebanyak 4 orang dan 7 kali dibagikan.
Berdasarkan penelusuran, informasi ini merupakan hoaks yang didaur ulang. Melansir dari Detikhealth, dijelaskan oleh spesialis neurologi dari RS Ciptomangunkusumo, Dr dr H Al Rasyid, SpS(K), menusuk jari dengan jarum bukan cara yang bijak untuk menangani stroke. Bahkan cara ini bisa menyebabkan stroke makin parah.
“Kenapa masyarakat melakukannya karena mereka pengin instan. seperti stroke, mereka ingin cepat sembuh tapi sebenarnya itu anggapan yang sangat salah,” katanya saat ditemui di daerah Jakarta Selatan, Senin (28/10/2019).
Melansir juga dari Kompas.com, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, dr. Sigit Dewanto, Sp.S,FINS,FINA membantah cara pengobatan tersebut. Menurutnya, tidak benar mengobati orang yang terserang stroke dengan cara menusukkan jarum ke ujung jari hingga keluar darah.
“Cara itu salah. Tidak akan ada efeknya, malah membuang-buang waktu saja,” katanya kepada Kompas.com, Jumat (30/10/2020).
Informasi dengan topik serupa pernah dibahas Turn Back Hoax dengan judul “[SALAH] Pertolongan pertama pada stroke dengan tusukan jarum ke ujung setiap jari masing-masing atau bagian bawah daun telinga” pada 23 September 2019.
Dengan demikian informasi yang berisi tentang penanganan pertolongan pertama pada stroke dengan menusukkan jari dengan jarum adalah tidak benar dan masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Informasi ini diunggah oleh akun Imron Ali Asyid di Facebook. Postingannya mendapatkan atensi sebanyak 27 orang dengan komentar sebanyak 4 orang dan 7 kali dibagikan.
Berdasarkan penelusuran, informasi ini merupakan hoaks yang didaur ulang. Melansir dari Detikhealth, dijelaskan oleh spesialis neurologi dari RS Ciptomangunkusumo, Dr dr H Al Rasyid, SpS(K), menusuk jari dengan jarum bukan cara yang bijak untuk menangani stroke. Bahkan cara ini bisa menyebabkan stroke makin parah.
“Kenapa masyarakat melakukannya karena mereka pengin instan. seperti stroke, mereka ingin cepat sembuh tapi sebenarnya itu anggapan yang sangat salah,” katanya saat ditemui di daerah Jakarta Selatan, Senin (28/10/2019).
Melansir juga dari Kompas.com, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, dr. Sigit Dewanto, Sp.S,FINS,FINA membantah cara pengobatan tersebut. Menurutnya, tidak benar mengobati orang yang terserang stroke dengan cara menusukkan jarum ke ujung jari hingga keluar darah.
“Cara itu salah. Tidak akan ada efeknya, malah membuang-buang waktu saja,” katanya kepada Kompas.com, Jumat (30/10/2020).
Informasi dengan topik serupa pernah dibahas Turn Back Hoax dengan judul “[SALAH] Pertolongan pertama pada stroke dengan tusukan jarum ke ujung setiap jari masing-masing atau bagian bawah daun telinga” pada 23 September 2019.
Dengan demikian informasi yang berisi tentang penanganan pertolongan pertama pada stroke dengan menusukkan jari dengan jarum adalah tidak benar dan masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Muhammad Padhliansyah (Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin)
Faktanya, dokter spesialis saraf menegaskan hal itu tidak benar dan cara tersebut tidak berdampak kepada stroke.
Faktanya, dokter spesialis saraf menegaskan hal itu tidak benar dan cara tersebut tidak berdampak kepada stroke.
Rujukan
(GFD-2020-5485) [SALAH] Para Mahasiswi di India Memakai Lungi Setelah Universitas Kerala Melarang Pemakaian Celana Jeans
Sumber: twitter.comTanggal publish: 01/11/2020
Berita
“College in Kerala banned jeans, girls came in lungis, college still thinking what to do next.”
Terjemahan:
“Universitas di Kerala melarang pemakaian celana jeans, para mahasiswa datang dengan lungi, pihak universitas masih berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya”
Terjemahan:
“Universitas di Kerala melarang pemakaian celana jeans, para mahasiswa datang dengan lungi, pihak universitas masih berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya”
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter @shahid_siddiqui (shahid siddiqui), menulis cuitan yang diunggah pada 28 Oktober 2020. Cuitan tersebut menyebarluaskan informasi bahwa tautan foto yang dilampirkan dalam cuitan tersebut merupakan aksi protes para mahasiswi di Universitas Kerala, India, karena dilarang mengenakan celana jeans. Cuitan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 735 kali. Selain itu, terdapat 5.652 orang yang telah menyukai cuitan tersebut, diikuti dengan 432 orang memberikan komentar.
Berdasarkan hasil penelurusan, seperti yang dilansir di portal berita Chitramala, foto tersebut merupakan aksi yang dilakukan oleh wanita-wanita Indian di Amerika Serikat sebagai cara untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap aktor India bernama Mahesh Babu. Filmnya yang berjudul “Srimanthudu” sempat masuk dalam box office Amerika Serikat. Selain itu, foto tersebut juga diambil pada 11 Agustus 2015. Klaim serupa juga dimuat dalam situs iQlik Movies.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat di situs The Times of India dengan judul artikel “Fact check: did female students wear lungis after Kerala college banned jeans?” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @ shahid_siddiqui tersebut dapat dikategorikan sebagai konteks yang salah, sebab akun tersebut telah memberikan narasi yang salah terhadap foto wanita mengenakan lungi di Amerika Serikat pada tahun 2015.
Berdasarkan hasil penelurusan, seperti yang dilansir di portal berita Chitramala, foto tersebut merupakan aksi yang dilakukan oleh wanita-wanita Indian di Amerika Serikat sebagai cara untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap aktor India bernama Mahesh Babu. Filmnya yang berjudul “Srimanthudu” sempat masuk dalam box office Amerika Serikat. Selain itu, foto tersebut juga diambil pada 11 Agustus 2015. Klaim serupa juga dimuat dalam situs iQlik Movies.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat di situs The Times of India dengan judul artikel “Fact check: did female students wear lungis after Kerala college banned jeans?” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @ shahid_siddiqui tersebut dapat dikategorikan sebagai konteks yang salah, sebab akun tersebut telah memberikan narasi yang salah terhadap foto wanita mengenakan lungi di Amerika Serikat pada tahun 2015.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Evarizma Zahra (Universitas Diponegoro)
Informasi tersebut salah. Faktanya, foto mahasiswi di India yang memakai lungi (sejenis sarung) tersebut diambil pada tahun 2015, bukan 2020. Serta dilakukan di Amerika Serikat untuk mendukung aktor India, Mahesh Babu, bukan sebagai aksi menentang Universitas Kerala.
Informasi tersebut salah. Faktanya, foto mahasiswi di India yang memakai lungi (sejenis sarung) tersebut diambil pada tahun 2015, bukan 2020. Serta dilakukan di Amerika Serikat untuk mendukung aktor India, Mahesh Babu, bukan sebagai aksi menentang Universitas Kerala.
Rujukan
- https://www.chitramala.in/maheshs-lungi-effect-on-usa-ladies-196731.html
- https://www.iqlikmovies.com/news/article/2015/08/11/Superstar–s-Lungi-Effect-on-Girls-/10465
- https://timesofindia.indiatimes.com/times-fact-check/news/fact-check-did-female-students-wear-lungis-after-kerala-college-banned-jeans/articleshow/78929809.cms
(GFD-2020-5403) [SALAH] Video Penutupan Masjid di Prancis Atas Perintah Presiden Macron
Sumber: facebook.comTanggal publish: 31/10/2020
Berita
Pengguna Facebook Pengobatan Saragih mengunggah sebuah video (27/10) yang menunjukkan beberapa anggota kepolisian Prancis tengah berusaha memindahkan sekelompok jamaah masjid yang berbaring di lantai sebagai bentuk penolakan. Unggahan tersebut juga disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa aksi penutupan masjid tersebut merupakan perintah dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Penutupan tempat ibadah
Penutupan tempat ibadah
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut sebenarnya merupakan video evakuasi jamaah masjid di kota Clichy-la-Garenne karena telah habis kontrak sewa pada 22 Maret 2017 waktu setempat. Video asli diunggah oleh kanal YouTube RifOnline TV pada 23 Maret 2017 yang lalu. Melansir dari Le Parisien, Masjid Clichy merupakan bangunan milik pemerintah kota yang dijadikan masjid oleh asosiasi muslim melalui sewa tidak tetap yang hanya bisa diperbarui sekali pada bulan Juni 2015 lalu. Pemerintah kota Clichy-la-Garenne kemudian memerintahkan evakuasi ke masjid lain di Rue des Trois-Pavillions.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Facebook Pengobatan Saragih tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Facebook Pengobatan Saragih tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1080/fakta-atau-hoaks-benarkah-ini-video-saat-polisi-prancis-tutup-masjid-atas-perintah-macron
- https://www.youtube.com/watch?v=WiSloLtw0SQ&feature=youtu.be
- https://www.leparisien.fr/hauts-de-seine-92/clichy-92110/clichy-la-mosquee-de-la-rue-d-estienne-d-orves-evacuee-par-la-police-22-03-2017-6784638.php
(GFD-2020-5404) [SALAH] “Macron Memohon-mohon Jangan Boikot Produk-produk Asal Prancis”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 31/10/2020
Berita
Akun Mutiara Alfath (fb.com/priatna.1933) mengunggah gambar Presiden Prancis Emmanuel Macron. Di gambar itu juga terdapat narasi “Macron Memohon-mohon Jangan Boikot Produk-produk Asal Prancis”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron memohon-mohon jangan boikot produk-produk asal Prancis adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, desakan untuk menghentikan seruan boikot produk Prancis dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis, bukan Presiden Emmanuel Macron. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis berkata, “Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kita, yang didorong oleh minoritas radikal.”
Dilansir dari Tempo.co, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait di situs media kredibel dengan memasukkan kata kunci “Macron mohon Timur Tengah akhiri boikot” di mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan sejumlah berita, baik dari media dalam negeri maupun media asing, bahwa Prancis memang meminta seruan boikot terhadap produk-produknya dihentikan. Namun, pernyataan itu dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis, bukan Presiden Emmanuel Macron.
Dilansir dari Kompas.com, yang mengutip BBC pada 26 Oktober 2020, Kementerian Luar Negeri Prancis mendesak negara-negara Timur Tengah mengakhiri seruan boikot terhadap produk Prancis. Menurut kementerian, saat ini, terdapat seruan “tidak berdasar” untuk memboikot barang-barang Prancis yang “didorong oleh minoritas radikal”.
Produk Prancis telah dihapus dari beberapa toko di Kuwait, Yordania, dan Qatar. Reaksi dari beberapa negara di Timur Tengah ini muncul setelah Macron mengomentari pemenggalan seorang guru Prancis, Samuel Paty, yang mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Macron mengatakan Paty “dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kami”, tapi Prancis “tidak akan melepaskan kartun kami”.
Penggambaran Nabi Muhammad dapat dianggap pelanggaran yang serius bagi umat Islam, karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah (Tuhan). Namun, sekulerisme negara dianggap sebagai pusat identitas nasional bagi Prancis, sehingga membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, kata negara, merusak persatuan.
Dikutip dari berita di CNN Indonesia pada 26 Oktober 2020, Kementerian Luar Negeri Prancis meminta agar seruan boikot terhadap produk mereka yang dilakukan di berbagai negara Timur Tengah segera dihentikan. Dalam sebuah pernyataan pada 25 Oktober malam, Kementerian Luar Negeri Prancis berkata diplomatnya sedang bergerak untuk menanyakan negara-negara di mana boikot dilakukan atau seruan kebencian diliontarkan.
“Di banyak negara di Timur Tengah, seruan untuk boikot produk Prancis dan secara lebih umum, seruan untuk berdemonstrasi melawan Prancis, dalam istilah yang terkadang penuh kebencian, telah disebarkan di media sosial,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis seperti dilansir dari Associated Press.
Dilansir dari Reuters, pada 25 Oktober 2020, Prancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk menghentikan perusahaan ritel yang memboikot produk Prancis. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, terdapat seruan untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negara Timur Tengah.
Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, terdapat pula seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satir Nabi Muhammad. “Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kita, yang didorong oleh minoritas radikal,” demikian bunyi pernyataan itu.
Faktanya, desakan untuk menghentikan seruan boikot produk Prancis dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis, bukan Presiden Emmanuel Macron. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis berkata, “Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kita, yang didorong oleh minoritas radikal.”
Dilansir dari Tempo.co, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait di situs media kredibel dengan memasukkan kata kunci “Macron mohon Timur Tengah akhiri boikot” di mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan sejumlah berita, baik dari media dalam negeri maupun media asing, bahwa Prancis memang meminta seruan boikot terhadap produk-produknya dihentikan. Namun, pernyataan itu dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis, bukan Presiden Emmanuel Macron.
Dilansir dari Kompas.com, yang mengutip BBC pada 26 Oktober 2020, Kementerian Luar Negeri Prancis mendesak negara-negara Timur Tengah mengakhiri seruan boikot terhadap produk Prancis. Menurut kementerian, saat ini, terdapat seruan “tidak berdasar” untuk memboikot barang-barang Prancis yang “didorong oleh minoritas radikal”.
Produk Prancis telah dihapus dari beberapa toko di Kuwait, Yordania, dan Qatar. Reaksi dari beberapa negara di Timur Tengah ini muncul setelah Macron mengomentari pemenggalan seorang guru Prancis, Samuel Paty, yang mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Macron mengatakan Paty “dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kami”, tapi Prancis “tidak akan melepaskan kartun kami”.
Penggambaran Nabi Muhammad dapat dianggap pelanggaran yang serius bagi umat Islam, karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah (Tuhan). Namun, sekulerisme negara dianggap sebagai pusat identitas nasional bagi Prancis, sehingga membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, kata negara, merusak persatuan.
Dikutip dari berita di CNN Indonesia pada 26 Oktober 2020, Kementerian Luar Negeri Prancis meminta agar seruan boikot terhadap produk mereka yang dilakukan di berbagai negara Timur Tengah segera dihentikan. Dalam sebuah pernyataan pada 25 Oktober malam, Kementerian Luar Negeri Prancis berkata diplomatnya sedang bergerak untuk menanyakan negara-negara di mana boikot dilakukan atau seruan kebencian diliontarkan.
“Di banyak negara di Timur Tengah, seruan untuk boikot produk Prancis dan secara lebih umum, seruan untuk berdemonstrasi melawan Prancis, dalam istilah yang terkadang penuh kebencian, telah disebarkan di media sosial,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis seperti dilansir dari Associated Press.
Dilansir dari Reuters, pada 25 Oktober 2020, Prancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk menghentikan perusahaan ritel yang memboikot produk Prancis. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, terdapat seruan untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negara Timur Tengah.
Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, terdapat pula seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satir Nabi Muhammad. “Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kita, yang didorong oleh minoritas radikal,” demikian bunyi pernyataan itu.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1081/fakta-atau-hoaks-benarkah-macron-memohon-mohon-timur-tengah-akhiri-seruan-boikot-produk-prancis
- https://www.kompas.com/global/read/2020/10/26/141646570/perancis-desak-timur-tengah-hentikan-boikot-produknya-di-tengah-kisruh?page=all
- https://www.bbc.com/news/world-europe-54683738
- https://www.cnnindonesia.com/internasional/20201026103722-134-562700/prancis-desak-seruan-boikot-dari-timteng-segera-dihentikan
- https://www.reuters.com/article/us-kuwait-france-boycott-ministry-idUSKBN27A0R3
Halaman: 7024/7923



