• (GFD-2020-5472) [SALAH] Ulama KH Amir Hamzah Diserang Di Pancoran, Jakarta Selatan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/11/2020

    Berita

    Beredar video di sosial media, yang menunjukkan para santri membawa seseorang yang diklaim merupakan seorang ulama yaitu KH Amir Hamzah.

    Hasil Cek Fakta

    Dalam narasi postingannya, akun Facebook Balqis Adzkiya menyebutkan bahwa Ustadz KH Amir Hamzah telah diserang di Masjid Pondok Pesantren Daarul Ishlah Assalafi, Pancoran, Jakarta Selatan.

    Berdasar penelusuran, informasi tersebut tidak benar. Melansir dari medcom.id KH Amir Hamzah melalui sebuah video klarifikasi menyatakan kondisinya yang baik-baik saja. Lebih lanjut Amir menjelaskan jika dirinya tidak sedang berada di lokasi kejadian yakni Pancoran, Jakarta Selatan melainkan tengah berada di Banten, Jawa Barat.

    “Kebetulan kami ini tidak ada di lokasi, sedang berada di Banten, Jiput, Pondok Pesantren Daarul Ishlah untuk menghadiri maulid Nabi besar Muhammad SAW. Alhamdulillah kami sehat walafiat,” jelas Amir.

    Sementara keterangan juga disampaikan oleh pihak kepolisian. Melansir dari kompas.com, Kepolisian Sektor Pancoran, Polres Metro Jakarta Selatan menegaskan bahwa informasi penyerangan KH Amir Hamzah adalah tidak benar.

    “Itu hoaks (kabar bohong), ustadznya baik-baik saja,” jelas Kapolsek Pancoran Kompol Anies Supriyanto.

    Dari hasil penelusuran yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa narasi tentang penyerangan ulama KH Amir Hamzah adalah hoaks kategori misleading content.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5473) [SALAH] Video Perlakuan Biadab Polisi Perancis

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/11/2020

    Berita

    Melalui laman media sosial Facebook pemilik akun Muhamad Fattah membagikan sebuah kiriman video yang memvisualisasikan video seorang polisi yang menyerang seorang wanita. Postingan tersebut telah dibagikan sebanyak 31 kali, menuai 26 komentar dan like dari pengguna Facebook lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui peristiwa tersebut terjadi di Calgary, Alberta, Canada Barat, antara seorang polisi Alex Dunn dengan tahanan yang bernama Dalia Kafi.

    Berdasarkan seluruh referensi yang ada klaim video perlakuan biadab polisi Perancis terhadap Muslimah yang tidak mau membuka jilbab termasuk hoaks dengan kategori false context.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8363) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Klaim soal Museum di Prancis yang Simpan Tengkorak dari Kaum Muslim Ini?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/11/2020

    Berita


    Akun Facebook Pecinta Panji Rasulullah membagikan foto yang memperlihatkan etalase dengan tengkorak manusia yang berjajar. Tengkorak-tengkorak dalam foto itu diklaim sebagai koleksi sebuah museum di Paris, Prancis. Museum ini disebut berisi 18 ribu tengkorak manusia, yang sebagian besar adalah muslim.
    Di bawah foto tersebut, terdapat teks yang berbunyi: "Perancis marah karena kepala satu warganya dipenggal setelah menistakan Rasulullah, tapi mereka lupa telah membangun museum berisi 18.000 tengkorak manusia yang pernah mereka jajah."
    Akun ini pun menulis narasi bahwa mayoritas dari tengkorak itu adalah milik kaum muslim yang dipotong dan dikumpulkan oleh Prancis saat menjajah Aljazair dan negara lainnya. “Lalu dengan angkuh menolak untuk mengembalikan tengkorak-tengkorak tersebut kepada keluarganya.” Narasi ini diklaim berasal dari Asy Syaikh Dr. Iyad Qunaibi Hafizhahullah.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Pecinta Panji Rasulullah.
    Unggahan tersebut mirip dengan narasi yang dimuat oleh situs Portal-islam.id pada 25 Oktober 2020. Situs ini menambahkan bahwa informasi tentang tengkorak pejuang Aljazair itu diungkap oleh sejarawan Ali Farid Belkadi. Pada 2011, Belkadi membuat petisi agar Prancis memulangkan tengkorak pejuang Aljazair yang dibunuh tentara kolonial pada 1840-1850. Tengkorak-tengkorak itu ditemukan tersimpan di Musée de l'Homme, Paris.
    Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap sejumlah klaim, yakni:

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, narasi yang beredar di media sosial tersebut tidak sepenuhnya akurat. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa sebagian besar dari 18 ribu tengkorak manusia yang disimpan di sebuah museum di Paris, Prancis, adalah milik  muslim dari Aljazair dan sekitarnya. Hingga kini, belum semua tengkorak-tengkorak tersebut berhasil diidentifikasi.
    Selain itu, seorang sejarawan Aljazair menyebut jumlah tengkorak dan artefak lain dari negaranya yang berada di Prancis hanya berjumlah ratusan. Dari jumlah ini, sebanyak 24 tengkorak pejuang Aljazair yang disimpan di Prancis telah dikembalikan ke negaranya pada Juli 2020.
    Klaim soal pernyataan Iyad Qunaibi
    Iyad Qunaibi (atau Eyad Qunaibi ) yang disebut dalam unggahan akun Pecinta Panji Rasulullah adalah seorang profesor Farmakologi dari Yordania yang pernah dipenjara selama dua tahun karena mengkritik pemerintah negaranya di Facebook.
    Berdasarkan penelusuran Tempo, Qunaibi memang menyatakan “Prancis marah karena satu warganya dipenggal setelah menistakan Rasulullah, tapi mereka lupa telah membangun museum berisi 18 ribu tengkorak manusia yang pernah mereka jajah”. Pernyataan itu ditulis dalam bahasa Arab di akun Facebook miliknya pada 24 Oktober 2020, dan telah dibagikan lebih dari 20 ribu kali hingga 5 November 2020.
    Pernyataan itu dibuat di tengah protes negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron soal Islam dan seruan boikot produk Prancis. Protes dan seruan boikot ini muncul pasca pembunuhan seorang guru asal Prancis bernama Samuel Paty dengan cara dipenggal serta penyerangan dengan pisau di sebuah gereja di Nice, Prancis, yang menewaskan tiga orang, di mana salah satunya juga dipenggal.
    Klaim soal mayoritas tengkorak di sebuah museum di Prancis adalah milik muslim yang dipotong dan dikumpulkan saat Prancis menjajah Aljazair dan sekitarnya
    Sesuai dengan isi artikel di situs Portal-islam.id, museum yang dimaksud adalah Musée de l'Homme. Museum yang terletak di Paris ini adalah museum antropologi yang juga dikenal dengan sebutan Museum Manusia. Diresmikan pada Juni 1938, Musée de l'Homme berawal dari Museum Etnografi Trocadéro yang berdiri pada 1882-1928.
    Musée de l'Homme berfokus pada evolusi manusia dan masyarakat dengan menggabungkan pendekatan biologis, sosial, serta budaya. Musée de l’Homme adalah bagian dari Muséum National d'Histoire Naturelle (Museum Nasional Sejarah Alam) yang juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan konservasi. Musée de l'Homme mewarisi barang-barang koleksi bersejarah yang dibuat sejak abad ke-16. Koleksi ini diperkaya selama abad ke-19, dan masih terus ditambah isinya hingga hari ini.
    Dikutip dari The Guardian, beberapa koleksi Museum Nasional Sejarah Alam memang datang dari era kolonial yang dibawa oleh penjelajah, ilmuwan, dan tentara saat Prancis berkeliling dunia. Karya-karya yang sekarang berada di museum dan menjadi koleksi Prancis konon akan tetap menjadi bagian dari warisan nasional selamanya.
    Prinsip ini ditetapkan pada 1566, ketika Dekrit Moulins menyatakan wilayah kerajaan tidak dapat dicabut dan tidak dapat dipisahkan. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, perubahan dalam keseimbangan kekuatan politik dan ekonomi internasional telah menggeser prinsip tersebut. Tuntutan restitusi atau pengembalian telah menargetkan apa pun, mulai dari karya seni hingga sisa-sisa manusia dan penemuan arkeologi.
    Selain artefak, koleksi juga mencakup tengkorak manusia. Museum Nasional Sejarah Alam memang memiliki koleksi 18 ribu tengkorak manusia, yang beberapa di antaranya telah diidentifikasi. Di tengah tuntutan restitusi atau penyerahan kembali oleh negara-negara bekas koloni Prancis, mereka menetapkan kebijakan restitusi hanya untuk tengkorak yang telah berhasil diidentifikasi.
    Klaim soal Prancis menolak mengembalikan tengkorak pejuang Aljazair ke keluarganya
    Sejak 2011, sejarawan Aljazair menuntut pengembalian tengkorak para pejuang mereka yang disimpan selama beberapa dekade di museum Paris. Tuntutan ini akhirnya dipenuhi Prancis pada Juli 2020 dengan mengembalikan 24 tengkorak pejuang Aljazair yang dipenggal selama pendudukan kolonial Prancis di negara Afrika Utara.
    Dikutip dari Aljazeera, ke-24 pejuang tersebut bertempur melawan pasukan kolonial Prancis yang menduduki Aljazair pada 1830 dan terlibat dalam pemberontakan pada 1849. Setelah kepala mereka dipenggal, tengkorak mereka dibawa ke Prancis sebagai piala.
    Restitusi ini bermula pada 2011, ketika sejarawan dan peneliti Aljazair Ali Farid Belkadi menemukan tengkorak tersebut di Museum Manusia di Paris, di seberang Menara Eiffel, dan memberi tahu pihak berwenang Aljazair. Peneliti tersebut melobi selama bertahun-tahun agar tengkorak-tengkorak itu dikembalikan, dan Presiden Aljazair saat itu, Abdelaziz Bouteflika, akhirnya membuat permintaan repatriasi resmi.
    Pada 2018, Presiden Prancis Emmanuel Macron setuju dengan hal itu. Namun, kendala birokrasi menunda pemulangan tengkorak-tengkorak tersebut hingga sekarang. Pada Desember 2019, Macron mengatakan "kolonialisme adalah kesalahan besar" dan menyerukan untuk membalik halaman di masa lalu.
    Sejarawan Mohamed El Korso menyambut baik kembalinya sisa-sisa manusia tersebut, tapi mengatakan bahwa itu hanyalah bagian dari sejarah Aljazair yang masih berada di tangan Prancis. “Kami telah memulihkan sebagian dari ingatan kami. Tapi perjuangan harus terus berlanjut, sampai semua sisa-sisa pejuang perlawanan, yang jumlahnya ratusan, dan arsip revolusi kita kembali.”

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi dalam unggahan akun Pecinta Panji Rasulullah sebagian benar. Eyad Qunaibi memang menyatakan “Prancis marah karena satu warganya dipenggal setelah menistakan Rasulullah, tapi mereka lupa telah membangun museum berisi 18 ribu tengkorak manusia yang pernah mereka jajah”. Klaim soal keberadaan 18 ribu tengkorak di sebuah museum di Prancis yang beberapa di antaranya adalah milik pejuang Aljazair juga benar.
    Namun, terdapat klaim yang tidak akurat, yakni bahwa Prancis menolak mengembalikan tengkorak pejuang Aljazair. Faktanya, Prancis di bawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron telah mengembalikan 24 tengkorak pejuang Aljazair yang berada di sebuah museum di Paris pada Juli 2020. Menghubungkan kemarahan Prancis atas kasus pemenggalan kepala di negaranya dengan koleksi 18 ribu tengkorak manusia di museumnya juga tidak tepat. Tengkorak-tengkorak tersebut adalah warisan dari

    Rujukan

  • (GFD-2020-8364) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Perlakuan Polisi Prancis ke Muslim yang Tak Mau Lepas Jilbab?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/11/2020

    Berita


    Video yang diklaim memperlihatkan perlakuan polisi Prancis terhadap perempuan muslim yang tidak mau melepas jilbabnya beredar di media sosial. Video ini menyebar di tengah pro-kontra soal pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait Islam sebagai respons atas pemenggalan terhadap seorang guru Prancis bernama Samuel Paty.
    Video yang berasal dari rekaman kamera CCTV ini memperlihatkan seorang polisi yang berusaha membuka penutup kepala seorang wanita. Wanita tersebut menolak. Polisi itu pun membanting wanita tersebut ke lantai dan menahan lengannya.
    Di Facebook, video beserta klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Herlina II, yakni pada 2 November 2020. Akun ini pun menulis, “Beginilah perlakuan biadab polisi Perancis terhadap Muslimah yg tidak mau dibuka jilbabnya, biadab sekali !! Dimana ajaran "kasih" yang kalian banggakan itu??? #TetapBoikotPerancis.”
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Herlina II.
    Apa benar video itu adalah video perlakuan polisi Prancis terhadap muslim yang menolak untuk melepas jilbabnya?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa peristiwa yang terekam kamera CCTV tersebut terjadi di Kanada pada 2017. Penutup kepala yang digunakan wanita itu pun adalah syal, bukan jilbab.
    Video yang sama pernah diunggah oleh kanal YouTube terverifikasi milik surat kabar lokal Kanada, Calgary Herald, pada 26 Oktober 2020. Video tersebut diberi judul “Shocking arrest video shown during police officer's trial”.
    Video tersebut juga pernah diunggah oleh kanal ThisIsButter pada 29 Oktober 2020. Video itu berjudul “Worst use of force': Trial begins for officer who threw handcuffed woman to ground face-first". Dalam video ini, tertera dengan jelas waktu video itu diambil, yakni 13 Desember 2017.
    Berbekal petunjuk ini, Tempo menelusuri pemberitaan terkait di mesin pencari Google. Dilansir dari Euro Weekly, rekaman kamera CCTV tersebut memperlihatkan seorang polisi di Calgary, Kanada, yang membanting seorang wanita yang sedang diborgol dalam tahanan.
    Tersangka yang dibanting itu, Dalia Kafi, sedang menunggu untuk diambil fotonya di kantor polisi ketika petugas yang bernama Alex Dunn mencoba melepaskan syal dari kepalanya. Hal ini membuat Kafi secara naluriah menjauh dari Dunn. Tapi Dunn kemudian membanting Kafi ke lantai, yang membuat hidung Kafi patah.
    Dunn pun akhirnya didakwa telah melakukan penyerangan sebagai akibat dari peristiwa tersebut. Dakwaan itu dijatuhkan pada 2019. Kini, Dunn telah kembali bekerja, tapi hanya mengerjakan tugas-tugas administratif bagi departemennya.
    Dikutip dari CBC, Dalia Kafi merupakan wanita berkulit hitam berusia 26 tahun yang ketika itu ditangkap atas tuduhan melanggar jam malam yang diperintahkan oleh pengadilan. Dia berada di unit pemrosesan penangkapan Calgary Police Service (CPS).
    Di hadapan jaksa Ryan Pollard, Kafi menuturkan bahwa dia melanggar jam malam karena lupa waktu ketika berada di rumah seorang teman untuk mengepang rambutnya pada 12 Desember 2017. Meski tidak disebutkan di pengadilan, Kafi dikenakan jam malam yang diperintahkan oleh pengadilan mulai jam 10 malam hingga jam 6 pagi.
    Temannya pun menawarkan untuk mengantarnya pulang. Tapi, dalam perjalanan, mereka dihentikan karena mobilnya menyalakan lampu kuning. Kepada polisi, Kafi memberikan nama saudara perempuannya, karena dia tahu bakal mendapatkan masalah akibat melanggar jam malam.
    Tapi akhirnya dia memberi tahu nama aslinya kepada polisi yang bernama Alex Dunn. Kafi pun ditangkap, diborgol, dan dibawa ke unit pemrosesan penangkapan. Di sana, Kafi diminta berdiri di dinding untuk difoto. Saat itu, Dunn beberapa kali mencoba melepas syal Kafi yang dikenakan di kepala.
    Lewat rekaman kamera CCTV, Kafi terlihat "menjauh" dari Dunn, seperti yang dijelaskan Pollard dalam pernyataan pembukanya di persiangan. Tapi kemudian, dengan gerakan cepat, Dunn membanting Kafi dan menghadapkannya ke tanah.
    Kepala Kafi terlihat memantul dari lantai beton. Komandan unit pemrosesan penangkapan, Gordon Macdonald, bersaksi bahwa dia tidak hanya menyaksikan kejadian itu, tapi juga mendengar suara kepala Kafi yang membentur lantai. "Hanya ada satu jenis suara ketika tulang seseorang menyentuh lantai, dan itulah yang saya dengar," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video perlakuan polisi Prancis terhadap muslim yang menolak untuk melepas jilbabnya, keliru. Peristiwa dalam video tersebut terjadi di Calgary, Canada, pada 13 Desember 2017. Korban yang bernama Dalia Kafi dalam video itu pun tidak mengenakan jilbab, melainkan syal.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan