• (GFD-2021-6082) [SALAH] “Aceh Kembali Meminta Kemerdekaan Setelah Sholat Jumat di Masjid Raya Banda Aceh”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 13/01/2021

    Berita

    “Tentu negara ini ke depan akan berpisah semua dari NKRI👏👏”

    (link video menuju YouTube dengan thumbnail “ACEH KEMBALI MEMINTA KEMERDEKAAN SETELAH SHOLAT JUMAAT DI MASJID RAYA BANDA ACEH JUM 4 DESEMBER”)

    judul video: ACEH KEMBALI MEMINTA KEMERDEKAAN SETELAH SHOLAT JUMAAT DI MASJID RAYA BANDA ACEH

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan oleh akun Facebook bernama “Imbalo Helgha” dalam grup “BERITA PAPUA MERDEKA”. Postingan yang mendapat likes sebanyak 35 kali tersebut mentautkan sebuah link video menuju YouTube yang diklaim bahwa Aceh kembali meminta kemerdekaan. Terlihat suasana di dalam video memperlihatkan bendera GAM yang dikibarkan di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Terdengar dengan samar orasi dari beberapa orang yang hadir serta teriakan “merdeka”.

    Setelah dilakukan penelusuran fakta, diketahui bahwa peristiwa dalam video tersebut adalah peringatan HUT GAM ke-44 yang diselenggarakan pada 4 Desember 2020, di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

    Dilansir dari inews.id, bendera bulan bintang sempat dikibarkan selama lebih dari 15 menit di depan Masjid Raya, hal ini sama seperti peletakkan bendera GAM pada video yang diposting oleh Imbalo Helgha (lihat pada durasi ke- 00:01:54 dan 00:03:10). Selain itu salah satu peserta juga melakukan orasi dan massa mantan kombatan sesekali meneriakkan “merdeka, merdeka” (lihat pada durasi ke- 00:06:08).

    Dicatut dalam kompas.tv massa mantan kombatan GAM tampak mengibarkan bendera bulan bintang dan berikrar, mereka juga sempat berfoto bersama. Pasukan TNI dan Polri yang berjaga berdialog meminta kepada massa agar tidak mengibarkan bendera GAM dan sempat terlibat cekcok, bagian ini dapat dilihat di video pada durasi ke- 00:11:33 hingga 00:18:00.

    Meski begitu, peserta yang mengikuti milad GAM pada 4 Desember 2020, di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, tidak mewacanakan atau meminta memisahkan diri dari NKRI.

    Dikutip dari inews.id, Dandim 0101/BS Letkol Inf Abdul Razak Rangkuti menyatakan, bahwa massa mengikuti acara milad ke-44 hanya ingin menyampaikan aspirasinya. Massa juga berikrar bahwa bendera bulan bintang bukanlah bendera separtis, Dandim langsung mengatakan bahwa tidak ada bendera lain yang dikibarkan selain bendera merah putih. Kemudian massa menuruti permintaan Letkol dan bersedia menurunkan bendera tersebut setelah beberapa menit.

    “Mereka menyepakati untuk menurunkan bendera bulan bintang. Kita melihat mereka menurunkan benderanya. Mereka hanya menyampaikan aspirasi saja dan mengakui masih dalam naungan NKRI,” ungkap Letkol Inf Abdul Razak.

    Diketahui bahwa para peserta ingin menyampaikan aspirasi terkait perjanjian MoU (Memorandum of Understanding) Helsinki serta meminta agar pemerintah pusat, dan pemerintah Aceh untuk memperjuangkan Aceh agar lebih maju.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, postingan akun Imbalo Helgha yang mengklaim rakyat Aceh ingin membubarkan diri dari NKRI adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    Klaim yang salah. Peristiwa dalam video tersebut adalah peringatan milad GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ke-44 di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 4 Desember 2020. Tidak ada wacana sama sekali bahwa Aceh meminta kemerdekaan, para peserta milad hanya menyampaikan aspirasinya terkait perjanjian MoU (Memorandum of Understanding) Helsinki.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6083) [SALAH] Obat Covid-19 dari Asap Batok Kelapa

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 13/01/2021

    Berita

    Beredar unggahan di sosial media Facebook yang menyatakan bahwa telah terdapat obat Covid-19 yang dihasilkan melalui kondensasi asap batok kelapa. Unggahan milik akun Facebook Eko Susianto ini juga disertai dengan video berita yang menayangkan proses pembuatan batok kelapa menjadi obat Covid-19.

    ASAP BATOK KELAPA MERUPAKAN OBAT COVID-19

    Hasil Cek Fakta

    Namun, klaim bahwa hasil kondensasi asap batok kelapa yang dapat digunakan sebagai obat Covid-19 adalah keliru. Melansir dari laman covid-19.go.id, dijelaskan bahwa sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Obat-obat herbal yang beredar di masyarakat hanya obat-obatan yang digunakan untuk meredakan, bukan sebagai obat yang secara langsung dapat menyembuhkan. Mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.

    Hal ini pun didukung oleh pendapat ahli, yaitu dr. Samuel P. K. Sembiring. Melalui wawancara dengan media liputan6.com, dr. Samuel menjelaskan bahwa sampai saat ini obat dari Covid-19 belum ditemukan. Dia menjelaskan jika terdapat klaim yang menyatakan bahwa ada pasien yang sembuh karena meminum atau mengonsumsi sesuatu, hal itu terjadi semata-mata karena daya tahan tubuh pasien.

    “Covid-19 ini kan self limiting disease, atau bisa sembuh sendiri. Jadi covid-19 bisa sembuh sendiri berkat daya tahan tubuh kita bukan karena obat-obatan herbal yang dikonsumsi,” katanya menambahkan.

    Dr. Samuel juga meminta masyarakat untuk waspada dan dapat membedakan apa yang diberi izin sebagai obat dengan apa yang diberi izin sebagai bahan makanan/minuman. Dirinya menegaskan bahwa untuk pengobatan bagi pasien Covid-19 saat ini hanyalah terapi suportif sesuai dengan gejala pasien saja, yang jelas, menjalankan protokol kesehatan merupakan cara terbaik untuk mencegah Covid-19.

    Jadi dapat disimpulkan, klaim yang menyatakan bahwa hasil kondensasi asap batok kelapa sebagai obat Covid-19 adalah hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6084) [SALAH] Pesan Whatsapp Tentang Informasi Saham oleh Ustadz Yusuf Mansur

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 13/01/2021

    Berita

    Melalui pesan Whatsapp beredar seseorang yang mengatasnamakan Ustaz Yusuf Mansur yang memberikan informasi mengenai saham yang dibeli melalui dirinya. Dana UPH yang seharusnya dibagikan kepada orang-orang dalam grup tersebut ditahan oleh pihak OJK hal tersebut mengakibatkan PHU yang akan diberikan terhambat jalannya.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, melalui akun resmi Instagram yusufmansurnew menegaskan bahwa hal tersebut adalah penipuan dan Yusuf Mansur tidak pernah membeli saham BRIS dan mengimbau korban untuk melaporkan hal tersebut.

    Dengan demikian, pesan Whatsapp yang mengatasnamakan Ustaz Yusuf Mansur adalah penipuan yang sudah ditegaskan di Instagram resminya, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten palsu.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8448) Sesat, Klaim Ini Video Ratusan Santri yang Pingsan usai Disuntik Vaksin di Tengah Pandemi Covid-19

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 12/01/2021

    Berita


    Sebuah video yang berjudul “Ratusan Santri Disuntik Vaksin Langsung Pingsan Dan Mual" beredar di media sosial. Video itu dunggah oleh kanal YouTube Saudi Kocak Bergetar 569 pada 9 Januari 2021. Video tersebut beredar di tengah berjalannya program vaksinasi Covid-19. Hingga artikel ini dimuat, video yang diberi keterangan “LIVE” di sisi kanan atas tersebut telah disaksikan lebih dari 22 ribu kali.
    Berikut narasi lengkap yang dibacakan oleh narator dalam video tersebut:
    “Puluhan santri Pesantren Madinatul Ulum Jenggawah, Jember, terpaksa harus mendapatkan perawatan seadanya di salah satu ruang pondok pesantren. Para santri ini mengalami panas tinggi, pusing, mual, dan sering buang air besar. Peristiwa ini terjadi saat seluruh santri yang berjumlah ratusan menjalani suntik vaksin difteri massal oleh petugas kesehatan dinas terkait. Namun, usai diberi vaksin tersebut, satu persatu santri jatuh sakit bahkan pingsan. Mayoritas santri yang sakit adalah santri SMP dan MA. Menyaksikan ratusan santri kesakitan, pihak pondok kemudian menghubungi orang tua santri. Mereka pun langsung membawa anaknya ke puskesmas terdekat.”
    Gambar tangkapan layar video milik kanal YouTube Saudi Kocak Bergetar 569 yang memperlihatkan peristiwa pada 2018. Kanal ini tidak memberikan keterangan bahwa video itu adalah video lama sehingga berpotensi menyesatkan penonton.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan bahwa peristiwa dalam video tersebut terjadi jauh sebelum munculnya Covid-19, tepatnya pada 27 Februari 2018 saat Pondok Pesantren Madinatul Ulum di Jember, Jawa Timur, menggelar imunisasi difteri.
    Video yang sama pernah diunggah oleh kanal YouTube Jember 1TV pada 28 Februari 2018 dengan judul “Puluhan Santri Pingsan Usai Imunisasi Difteri”. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa puluhan santri di pondok pesantren yang berada di Kecamatan Jenggawah itu pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri.
    Tempo pun menelusuri pemberitaan terkait peristiwa itu di media kredibel. Dilansir dari Liputan6.com, puluhan santri Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, dirawat di Puskesmas Jenggawah. Sebagian besar santri juga dirawat secara intensif di pesantren karena mengalami mual, pusing, dan lemas pada 27 Februari 2018 malam.
    "Sebanyak 73 santri mengalami mual, pusing, dan lemas, dengan tubuh gementar," tutur pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum Kiai Haji Lutfi Ahmad pada 28 Februari 2018. Menurut Lutfi, ada ratusan santri yang mengikuti program imunisasi difteri yang digelar oleh Puskesmas Jenggawah itu. Mereka juga merupakan siswa SMP dan MA Yayasan Ponpes Madinatul Ulum.
    Usai imunisasi, tidak terjadi hal-hal yang mencurigakan. Siswa dan santri belajar seperti biasanya. Namun, setelah memasuki pukul 18.00 WIB, bersamaan dengan saat salat Magrib, banyak santri yang mengeluh lemas, pusing, dan mual. "Namun, tidak sampai muntah," katanya. Pada 28 Februari 2018 siang, hanya 21 santri yang masih dirawat secara intensif.
    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Siti Nurul Komariyah, menjelaskan seluruh santri sudah mendapatkan penanganan dari pihak puskesmas. Menurut dia, peristiwa itu terjadi karena efek samping atau reaksi dari obat yang diberikan setelah imunisasi. Biasanya, efek samping dari imunisasi adalah demam dan suhu tubuh meningkat, sehingga mereka diberi obat penurun panas.
    "Mual-mual dan pusing bukan efek samping dari imunisasi difteri," katanya. Efek mual dan pusing itu muncul karena mereka belum sarapan atau makan saat diimunisasi. Selain itu, obat yang diberikan dokter tidak mereka minum. Nurul menegaskan, secara keseluruhan, tidak ada masalah serius dengan kondisi kesehatan siswa atau santri tersebut.
    Dikutip dari Okezone.com, menurut pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum, sebagian santri belum sarapan sebelum disuntik vaksin difteri. Ada pula santri yang kondisinya kurang sehat. Para santri pun bermain sepak bola setelah disuntik vaksin difteri. Hal tersebut menyebabkan puluhan santri mengalami dehidrasi, mual, pusing, demam, dan lemas.
    "Berdasarkan informasi dari petugas medis, seseorang yang akan diimunisasi difteri harus dalam kondisi sehat dan disarankan makan dulu, sehingga ketidaktahuan santri akan dampak vaksin difteri yang menyebabkan kejadian dehidrasi massal terjadi di pesantren," ujarnya.
    Kepala Puskesmas Jenggawah, Nuri Usmawati mengatakan efek samping pada seseorang yang diimunisasi difteri berbeda-beda dan tergantung pada kondisi fisiknya. "Tidak semua santri mengalami dehidrasi karena imunisasi difteri, tapi ada juga yang badannya panas sebelum diimunisasi," tuturnya. Menurut dia, para santri yang mendapatkan penanganan medis mengeluh demam, dan ada yang disertai mual serta pusing.
    Dilansir dari NU Online, pada 10 Januari 2021, pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum Kiai Haji Lutfi Ahmad pun telah meluruskan isu yang mengaitkan video tersebut dengan vaksin Covid-19. Menurut Lutfi, video itu memperlihatkan vaksinasi difteri oleh petugas Puskesmas Jenggawah di Pondok Pesantren Madinatul Ulum pada 28 Februari 2018. "Sama sekali tidak ada hubungannya dengan vaksin Covid-19," ujarnya.
    Efek samping vaksin Covid-19
    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atauEmergency Use Authorization(EUA) vaksin Covid-19 Sinovac pada 11 Januari 2021. Dilansir dari Liputan6.com, vaksin ini menjadi vaksin pertama yang mendapatkan EUA di Indonesia.
    Menurut Kepala BPOM Penny Lukito, hasil analisis vaksin bernama CoronaVac yang diuji klinis di Bandung itu menunjukkan efikasi sebesar 65,3 persen. Sementara hasil uji klinis di Turki menunjukkan efikasi 91,25 persen dan di Brasil sebesar 78 persen.
    Berdasarkan data dukung keamanan dari uji klinis fase III vaksin Sinovac di Indonesia, Turki, dan Brasil, yang dipantau hingga tiga bulan usai penyuntikan dosis kedua, "Efek samping lokal berupa nyeri, iritasi, dan pembengkakan serta efek samping sistemik berupa nyeri otot,fatigue, dan demam," kata Penny.
    Sementara itu, frekuensi efek samping vaksin dengan derajat berat seperti sakit kepala, gangguan di kulit, atau diare, hanya dilaporkan 0,1 sampai 1 persen. Penny mengatakan efek samping tersebut tidak berbahaya dan dapat pulih kembali.
    Adapun efek samping vaksin Covid-19 lainnya adalah sebagai berikut:
    - Vaksin Pfizer-BioNTech
    Dalam uji klinis, efek samping yang ditemukan kebanyakan bersifat ringan hingga sedang, seperti demam, menggigil, kelelahan, dan sakit kepala. Dalam laporannya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut adanya temuan reaksi alergi parah dari vaksin ini. Namun, angkanya sangat jarang, yaitu 11 kasus per satu juta dosis. CDC menyatakan vaksin Pfizer aman. Namun, mereka merekomendasikan agar orang yang memiliki riwayat alergi terhadap kandungan vaksin untuk tidak mendapatkan dosis kedua apabila mengalami reaksi serius usai suntikan pertama.
    - Vaksin AstraZeneca-Oxford
    Pemerintah Inggris menyebut, dalam uji klinis, efek samping yang muncul kebanyakan bersifat ringan hingga sedang, dan dapat sembuh beberapa hari hingga sepekan setelah vaksinasi. Beberapa efek samping yang umum adalah nyeri, gatal, bengkak, rasa hangat di lokasi suntikan, kelelahan, menggigil, sakit kepala, mual, dan nyeri otot. Sementara efek samping uang langka adalah pusing, nafsu makan menurun, sakit perut, kelenjar getah bening membesar, gatal-gatal, dan keringat berlebih.
    - Vaksin Moderna
    Di laman resminya, CDC melaporkan beberapa efek samping vaksin ini yang kebanyakan ringan hingga sedang, seperti rasa nyeri, bengkak, atau kemerahan di lokasi suntikan, kelelahan, menggigil, dan sakit kepala. Gejala ini mungkin terasa seperti gejala flu, dan bisa mempengaruhi kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, tapi gejala tersebut akan hilang dalam beberapa hari. CDC sempat melaporkan adanya sejumlah kecil penerima vaksin ini di AS yang mengalami reaksi alergi serius. Namun, belum ada hasil investigasi yang rinci soal hal itu. CDC pun merekomendasikan agar orang yang memiliki riwayat alergi terhadap kandungan vaksin tidak mendapatkan dosis kedua jika mengalami reaksi serius usai suntikan pertama.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video ratusan santri yang pingsan usai disuntik vaksin di tengah pandemi Covid-19, menyesatkan. Peristiwa dalam video tersebut terjadi pada Februari 2018, saat Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, Jawa Timur, menggelar imunisasi difteri bagi para santrinya. Peristiwa ini terjadi jauh sebelum munculnya Covid-19.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan