• (GFD-2021-6355) [SALAH] “Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di Dalam Pemerintahan”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/02/2021

    Berita

    “Apa maksud UCAPANNYA yach? Apa ingin anaknya dipanggil untuk dijadikan MENbaperan?”

    Sudah cukup 10 tahun SBY memimpin di pemerintahan, meninggalkan banyak proyek mangkrak dan berbagai peninggalan kasus mega korupsi JIWASRAYA (6 terdakwa masuk bui) dan ASABRI (sedang dalam proses perampasan hasil korupsi para pelaku)

    (Judul berita)

    Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di dalam Pemerintahan

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan di Facebook oleh akun bernama “Aprizal Khoiro” yang dibagikan di grup “Denny Siregar Fans”. Tampak dalam postingannya membagikan hasil screenshot artikel berita yang berjudul “Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di dalam Pemerintahan”, serta ditambahkan komentar SBY di masa pemerintahannya yang dinilai meninggalkan proyek mangkrak dan berbagai peninggalan kasus mega korupsi.

    Setelah ditelusuri menggunakan mesin pencarian Google, ditemukan bahwa judul artikel “Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di dalam Pemerintahan”, adalah HASIL EDITAN. Artikel tersebut tayang di bizlaw.id (12/8/2020).

    Keseluruhan isi artikel mirip dengan artikel berita yang tayang di kompas.com (11/8/2020) dengan judul “Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Jangan Salahkan Presiden Jokowi”. Judul artikel serupa juga tayang di kontan.co.id (12/8/2020).

    Isi kedua berita tersebut menyebutkan bahwa masyarakat jangan menyalahkan Presiden Jokowi atas krisis ekonomi yang terjadi di tengah pandemi COVID-19, karena krisis ekonomi juga menjadi persoalan terbesar di semua negara di dunia. SBY menyampaikan hal tersebut saat peluncuran buku Monograf di Cikeas, Bogor, Selasa (11/8/2020).

    “Jadi jangan salahkan Presiden Jokowi, jangan salahkan pemerintah, kenapa Indonesia mengalami krisis ekonomi? Ya, karena secara global, secara dunia sertaan dari pandemi Covid-19 ini adalah gejolak, bahkan krisis ekonomi”.

    Kemudian, SBY juga meminta pemerintah untuk membantu masyarakat kelas bawah dengan pemberian bantuan sosial serta Bantuan Langsung Tunai (BLT).

    “Yang terpukul mereka-mereka yang golongan bawah maka bansos apa pun berikan. Amerika keluarkan BLT, banyak yang keluarkan BLT, dulu saya juga keluarkan BLT,” ujarnya.

    Ungkapan SBY “jangan salahkan Presiden Jokowi” juga dapat ditemukan di channel YouTube KOMPASTV. Video yang merekam SBY saat launching buku Monograf di Cikeas berjudul “Krisis Ekonomi di Depan Mata, SBY Minta Warga Tak Salahkan Presiden”. Ungkapan tersebut dapat ditemukan di menit ke- 00:00:06 hingga 00:00:33.

    Dalam artikel berita maupun video yang diliput kompas.com serta kontan.co.id, menyebutkan bahwa SBY justru ingin membantu namun tidak secara langsung karena partainya tidak ada di pemerintah.

    “Saya pribadi ingin membantu meskipun tidak secara tidak langsung karena partai yang dulu saya pimpin tidak di pemerintahan”, ujarnya. Ungkapan ini dapat dilihat di video pada menit ke- 00:06:06 hingga 00:06:14.

    Bahkan arikel berita dari bizlaw.id yang memakai judul editan, dalam isinya tidak ada sama sekali menyebutkan SBY berkata “Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di Dalam Pemerintahan”. Namun justru sama seperti artikel di kompas.com bahwa SBY ingin membantu pemerintah tapi secara tidak langsung.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa hasil screenshot judul berita oleh Aprizal Khoiro adalah HASIL EDITAN dan termasuk kategori hoax Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    JUDUL EDITAN. Judul aslinya yakni “Ancaman Krisis Ekonomi, SBY: Jangan Salahkan Presiden Jokowi”. Isi artikel bahkan tidak menyebutkan sama sekali bahwa SBY mengatakan “Saya Ingin Membantu, Tapi Partai Saya Tidak Ada di Dalam Pemerintahan”.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6356) [SALAH] “Replika Wajah Tutankhamun Mirip Jokowi”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 16/02/2021

    Berita

    “Subhanallah, Peneliti dari jerman Ini sangat Terkejut, bahwa replika wajah tutankhamun mirip Jokowi, Ternyata raja jaman dulu mempunyai hobi kesamaan yang sama seperti Pakde yang menyengsarakan Rakyat”

    #FaktaMenarik

    Sekumpulan peneliti yang berasal dari Jerman

    dan Mesir berkolaborasi dalam kajian genetik DNA guna merekonstruksi ulang wajah Tutankhamun yang sebenarnya. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association pada tanggal 18 Februari 2010.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan oleh akun bernama “Eric Paul” di grup “Denny Siregar Fans”. Dalam postingannya ia menampilkan sebuah gambar wajah Raja Firaun, Tutankhamun dari hasil rekonstruksi para peneliti.

    Terlihat gambar wajah tersebut mirip dengan wajah Presiden Jokowi. Lebih lanjut, Eric juga memberikan keterangan bahwa para peneliti dari Jerman terkejut karena ternyata replika wajah Tutankhamun mirip Jokowi.

    Setelah dilakukan pencarian fakta ditemukan bahwa, gambar tersebut HASIL EDITAN. Gambar wajah Presiden Jokowi dipotong dan lekatkan ke postingan asli, dan diedit sedemikian rupa sehingga tampak seperti foto asli.

    Postingan asli yang menunjukkan wajah Tutankhamun dapat dilihat disini (https://archive.vn/pklUV).

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa gambar wajah Firaun Tutankhamun yang mirip dengan Jokowi adalah EDITAN sehingga termasuk HOAX kategori Konten yang Dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    GAMBAR EDITAN. Wajah Jokowi yang diklaim mirip wajah Raja Firaun Tutankhamun adalah hasil editan dari gambar asli yang diupload oleh akun Instagram @thinklopedia.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8496) Keliru, Chip KTP Elektronik Berfungsi untuk Lacak Lokasi Penduduk

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 15/02/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan seseorang sedang mengeluarkan sebuah perangkat elektronik dari Kartu Tanda Penduduk atau KTP elektronik  viral di media sosial. Menurut klaim yang menyertai video ini, perangkat tersebut adalah chip yang berfungsi untuk melacak lokasi pemilik KTP-el itu.
    Di Facebook, video berdurasi 15 detik tersebut dibagikan salah satunya oleh akun ini pada 13 Februari 2021. Akun itu pun menulis narasi, “Chip KTP-el ini tujuannya untuk Melacak Lokasi anda.” Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 15 reaksi.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang memuat klaim keliru terkait fungsi chip pada KTP elektronik.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci "fungsi chip KTP elektronik" di mesin perambah Google. Hasilnya, ditemukan penjelesan bahwa chip yang ditanamkan pada KTP elektronik bukanlah alat untuk melacak lokasi penduduk. Chip itu hanya berfungsi untuk menyimpan data kependudukan si pemilik KTP.
    Dilansir dari Kompas.com, menurut Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh, chip tersebut berfungsi untuk menyimpan data pribadi penduduk seperti yang tercantum dalam e-KTP. "Termasuk menyimpan sidik jari dan foto," kata Zudan pada 13 Februari 2021.
    Zudan mengatakan chip tersebut juga bisa mencegah penyalahgunaan dan pemalsuan KTP elektronik. Karena itu, Zudan mengingatkan agar masyarakat tidak mencopot chip yang ada di e-KTP. "Dengan adanya chip, mencegah penyalahgunaan dan pemalsuan. Misalnya, Anda ke kantor pajak, cocokkan datanya, ke bank, cocokkan datanya," ujarnya.
    Meski berhasil mencopot chip itu, menurut Zudan, masyarakat tidak akan bisa membaca data yang ada di dalamnya dengan mudah. Sebab, chip tersebut hanya bisa dibaca melalui card reader, di mana untuk memakainya mesti melalui perjanjian kerja sama dengan Dukcapil. "Ada perjanjian kerjasama dengan Dukcapil untuk bisa operasionalkan alat tersebut," katanya.
    Zudan pun memastikan bahwa chip pada e-KTP tidak bisa digunakan untuk menyadap maupun melacak keberadaan pemiliknya. Pasalnya, fungsi chip itu murni hanya untuk menyimpan data pribadi pemilik KTP elektronik. Jika KTP sudah tak terpakai, Zudan mengingatkan agar masyarakat tidak membuang atau membongkar chipnya, tapi mengembalikannya ke Dukcapil.
    Penggunaan chip pada KTP elektronik dimulai sejak 2011, dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2011 yang merevisi Perpres Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) secara Nasional. Dalam Pasal 10 A Perpres ini, disebutkan bahwa KTP-el adalah KTP yang dilengkapi dengan chip berisi rekaman elektronik.
    Menurut Perpres Nomor 26 Tahun 2009, rekaman elektronik tersebut berisi biodata, pas photo, dan sidik jari seluruh jari tangan pemilik KTP elektronik. KTP-el merupakan identitas resmi bukti domisili penduduk, yang digunakan untuk pengurusan kepentingan yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan.
    Dikutip dari CNN Indonesia, KTP elektronik digulirkan di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, sekitar 2010-2011. KTP-el adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan atau pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada data base kependudukan nasional.
    KTP ini disebut elektronik karena dilengkapi fitur utama biometrik dan chip. Chip berfungsi sebagai alat penyimpanan data elektronik penduduk yang diperlukan, termasuk data biometrik. Data yang termuat dalam chip dapat dibaca secara elektronik dengan alat tertentu seperti card reader. Namun, data ini juga telah dienkripsi dengan algoritma kroptografi tertentu.
    KTP elektronik terdiri dari sembilan layer. Chip ditanam di antara plastik putih dan transparan pada dua layer teratas. Chip ini memiliki antena di dalamnya yang akan mengeluarkan gelombang jika digesek. Gelombang inilah yang akan dikenali oleh alat pendeteksi sehingga dapat diketahui apakah KTP berada di tangan pemilik.
    Dilansir dari situs resmi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT ), chip KTP elektronik merupakan kartu pintar berbasis mikroprosesor dengan besaran memori 8 kilobyte. Kartu ini memiliki antar muka contactless dan metode pengamanan data berupa autentikasi antara chip dan reader/writer (anti cloning), kerahasiaan data (enkripsi), serta tanda tangan digital.
    Chip e-KTP menyimpan biodata, tanda tangan, pas photo, dan dua data sidik jari dengan kualitas terbaik saat dilakukan perekaman. Default-nya adalah sidik telunjuk tangan kanan dan sidik jari telunjuk tangan kiri. Chip dapat dibaca oleh card reader dengan standar antar muka ISO 14443 A dan ISO 14443 B.
    Menurut pakar telematika Roy Suryo dalam cuitannya di Twitter  pada 14 Februari 2021, selama kapasitas chip di e-KTP hanya 8 kilobyte seperti sekarang, fungsi tracker atau pelacakan seperti yang dikhawatirkan dalam video tersebut belum akan terjadi. "Jadi, enggak usah lebay, kecuali kalau sudah jadi 32 kilobyte besok-besoknya. Sayang saja e-KTP-nya kalau digunting-gunting," ujarnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa chip yang ditanamkan pada KTP elektronik berfungsi untuk melacak lokasi penduduk, keliru. Chip pada KTP-el bukanlah alat untuk melacak lokasi pemiliknya. Chip ini hanya berfungsi untuk menyimpan data pribadi si pemilik e-KTP, mulai dari biodata, pas photo, hingga sidik jari.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Catatan Redaksi: Artikel ini diubah pada 16 Februari 2021 pukul 15.15 WIB untuk menambahkan penjelasan dari pakar telematika Roy Suryo di bagian "Pemeriksaan Fakta".
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8497) Sesat, Klaim WHO Sebut Virus Corona Berasal dari Kepala Babi dan Bukan Kelelawar

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 15/02/2021

    Berita


    Narasi yang menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengklaim virus Corona Covid-19 bukan berasal dari kelelawar tapi dari kepala babi beredar di Facebook pada 14 Februari 2021. Narasi itu terdapat dalam sebuah gambar yang memuat teks "Bukan Kelelawar, WHO Klaim Virus Corona Berasal dari Kepala Babi”.
    Gambar tersebut dilengkapi dengan sebuah berita. Salah satu akun menulis narasi tambahan, “Waduh, jik min hampir tiap hari makan babi guling, tp msh sehat ampe skrg.” Klaim ini beredar setelah WHO mengunjungi Wuhan, Cina, selama satu bulan untuk menyelidiki asal-usul virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim yang tidak terbukti terkait asal-usul virus Corona Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, hingga artikel ini dimuat, WHO belum memberikan kesimpulan akhir dalam penyelidikannya tentang asal-usul munculnya virus Corona Covid-19, termasuk dari kepala babi beku.
    Pada 14 Januari-Februari 2021, tim WHO yang melibatkan peneliti dari 10 negara mengunjungi Wuhan, Cina, tempat ditemukannya kasus pertama Covid-19 pada akhir Desember 2019.
    Setelah menyelesaikan misinya, tim WHO yang dipimpin oleh Peter Ben Embarek itu menggelar konferensi pers pada 9 Februari 2021. Video konferensi pers tersebut disiarkan di kanal YouTube WHO dengan judul "LIVE from Wuhan: Media briefing on COVID-19 origin mission".
    Dalam konferensi pers ini, WHO menyampaikan beberapa pernyataan, yakni:
    Tempo kemudian membandingkan pernyataan itu dengan informasi yang dimuat dalam pemberitaan media. Dikutip dari Time, ketua tim penyelidikan WHO Peter Ben Embarek mengatakan bahwa temuan awal menunjukkan jalur yang paling mungkin dilewati oleh virus itu adalah dari kelelawar ke hewan lain dan kemudian ke manusia.
    Namun, hal tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. “Temuan ini menunjukkan hipotesis insiden laboratorium sangat tidak mungkin untuk menjelaskan masuknya virus ke populasi manusia,” katanya.
    Misi WHO itu dimaksudkan sebagai langkah awal dalam proses memahami asal-usul virus Corona Covid-19, yang menurut para ilmuwan mungkin telah ditularkan ke manusia melalui hewan liar, seperti trenggiling atau tikus bambu. Menurut Embarek, penularan langsung dari kelelawar ke manusia atau melalui perdagangan produk makanan beku juga dimungkinkan.
    Kunjungan tim WHO ke Wuhan tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan dalam hal negosiasi. Pemerintah Cina baru menyetujui kunjungan itu di tengah tekanan dunia internasional dalam pertemuan Majelis Kesehatan Dunia WHO pada Mei 2020 lalu, di mana Beijing terus menolak desakan untuk penyelidikan yang sangat independen.
    Dikutip dari situs sains Nature, tim WHO tersebut mengajukan dua hipotesis, yang dipromosikan oleh pemerintah dan media Cina, bahwa asal-usul virus Corona Covid-19 mungkin berasal dari hewan di luar Tiongkok dan bahwa, begitu menjangkiti manusia, virus ini dapat menyebar melalui satwa liar beku dan barang kemasan dingin lainnya.
    Klaim soal kepala babi
    Klaim bahwa virus Corona Covid-19 berasal dari kepala babi muncul setelah otoritas kesehatan Cina menyatakan menemukan SARS-CoV-2 di makanan beku impor. Mereka pun mengaitkan munculnya Covid-19 di negara itu dengan kepala babi serta makanan laut.
    Dikutip dari South China Morning Post  (SCMP), beberapa ilmuwan top Cina juga menduga Sars-CoV-2 mungkin tiba di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, lokasi wabah pertama yang diketahui di dunia, melalui impor makanan beku atau yang disebut sebagai transmisi rantai dingin.
    “SARS-CoV-2 dapat bertahan dalam kondisi yang ditemukan dalam makanan beku, kemasan dan produk rantai dingin,” kata Liang Wannian, pejabat Komisi Kesehatan Nasional Cina yang menjadi wakil Tiongkok dalam misi WHO di Wuhan. Ia juga menyebut virus itu mungkin telah menyebabkan infeksi di luar negeri sebelum terjadinya wabah di Wuhan, tapi tidak teridentifikasi.
    Sebelumnya, pada November 2020, seperti dikutip dari Reuters, Cina mencatat 22 kasus baru Covid-19, di mana dua di antaranya terjangkit virus tersebut dari kepala babi beku yang diimpor dari Amerika Utara. Ini terlacak ke sebuah kontainer dari Amerika Utara, yang dibersihkan oleh kedua pria yang terinfeksi itu.
    Akan tetapi, teori transmisi rantai dingin ini masih diragukan oleh sejumlah ahli, salah satunya Daniel Lucey, spesialis penyakit menular di Georgetown University Medical Center. Dia mengatakan rute makanan beku tidak tampak seperti "penjelasan yang sah" dan masih memerlukan studi perbandingan.
    “Kenapa Wuhan dulu? Dari semua pasar makanan laut di Cina, Asia, dan seluruh dunia, bagaimana kemasan rantai dingin akhirnya menyebabkan wabah pertama kali di Wuhan?" kata Lucey seperti dikutip dari SCMP.
    Dale Fisher, dokter penyakit menular di National University of Singapore, mengatakan "masuk akal" bagi tim WHO untuk mempertimbangkan teori tersebut. “Namun, teori rantai dingin benar-benar muncul pada gagasan bahwa ada wabah yang terjadi di pabrik pengolahan daging di negara lain. Tapi sangat tidak mungkin ada penyebaran penyakit yang meluas terjadi sebelum Wuhan," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa WHO mengklaim virus Corona Covid-19 bukan berasal dari kelelawar tapi dari kepala babi, menyesatkan. Hingga artikel ini dimuat, WHO belum memaparkan kesimpulan akhirnya tentang asal-usul virus Corona Covid-19. Dalam konferensi persnya pada 9 Februari 2021, WHO menawarkan dua hipotesis, bahwa virus Corona Covid-19 bisa saja berasal dari hewan di luar Wuhan dan bahwa, begitu menjangkiti manusia, ia dapat menyebar lewat satwa liar beku atau barang kemasan dingin lainnya, yang dikenal dengan transmisi rantai dingin. Namun, WHO tidak secara spesifik menyebut kepala babi terkait dengan transmisi tersebut. Narasi bahwa virus Corona Covid-19 berasal dari kepala babi muncul setelah ditemukannya virus tersebut pada kepala babi beku dari Amerika Utara pada November 2020. Namun, dugaan itu masih diselidiki hingga kini.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, krit

    Rujukan