(GFD-2021-6360) [SALAH] Modus Kejahatan Baru dengan Anak Menangis di Jalan
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/02/2021
Berita
Telah beredar sebuah broadcast di media sosial yang mencatut nama Humas Mabes & Polri, informasi tersebut berisi modus baru kejahatan baik berupa perampokan, pemerkosaan maupun penculikan.
Hasil Cek Fakta
Informasi yang sama
sebelumnya sempat beredar pada tahun 2019 dan telah dilakukan klarifikasi oleh pihak Mabes Polri bahwasaanya pihak mereka tidak pernah mengeluarkan imbauan terkait modus baru kejahatan seperti yang beredar di media sosial.
Bahkan kabar tersebut telah lama beredar. Setidaknya sejak tahun 2012 lalu melalui Blackberry messenger demikian dikabarkan Merdeka.com dalam artikel berjudul “Blackberry messenger anak minta tolong hoax”.
Dengan demikian informasi yang beredar di media sosial berkaitan dengan modus baru kejahatan tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten palsu.
sebelumnya sempat beredar pada tahun 2019 dan telah dilakukan klarifikasi oleh pihak Mabes Polri bahwasaanya pihak mereka tidak pernah mengeluarkan imbauan terkait modus baru kejahatan seperti yang beredar di media sosial.
Bahkan kabar tersebut telah lama beredar. Setidaknya sejak tahun 2012 lalu melalui Blackberry messenger demikian dikabarkan Merdeka.com dalam artikel berjudul “Blackberry messenger anak minta tolong hoax”.
Dengan demikian informasi yang beredar di media sosial berkaitan dengan modus baru kejahatan tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten palsu.
Kesimpulan
Informasi palsu. Merupakan hoaks lama yang kembali beredar. Pihak kepolisian telah membantah informasi terkait modus kejahatan baru tersebut pada tahun 2019 lalu.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2019/11/03/klarifikasi-hati-hati-jika-ketemu-anak-kecil-menangis-di-jalan-modus-baru-penjahat-untuk-merampok-memperkosa-menculik/
- https://m.liputan6.com/cek-fakta/read/4098217/cek-fakta-hoaks-modus-kejahatan-anak-kecil-menangis-di-jalan
- https://www.merdeka.com/jakarta/blackberry-messanger-anak-minta-tolong-hoax.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/768/hoaks-atau-fakta-benarkah-pesan-berantai-soal-modus-perampokan-dengan-anak-kecil-yang-menangis
(GFD-2021-6361) [SALAH] Jambu Kristal Putih Dapat Menangkal Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 17/02/2021
Berita
Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Mamax Arya Membiri memposting narasi bahwa jambu kristal putih dapat menangkal Covid-19. Postingan tersebut diposting pada 25 Januari 2021 dan disukai 2 kali.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan artikel periksa fakta liputan6.com, Irtya Qiyamulail selaku Ahli Gizi KONI DKI Jakarta sekaligus APKI Approved Educator tidak membenarkan klaim tersebut. Ia menjelaskan jambu kristal memiliki kandungan vitamin dan mineral yang bermanfaat seperti serat, karbohidrat, protein, kalsum, beta karoten, B1, B2, dan kandungan yang paling besar yaitu vitamin C sebesar 116 mg/100 gram sedangkan kebutuhan vitamin C untuk orang dewasa adalah 75-90 mg saja.
Manfaat dari vitamin C sendiri adalah mengoptimalisasi imunitas tubuh, berperan sebagai antioksiden yang dapat mencegah radikal bebas sehingga secara tidak langsung dapat membantu dalam mencegah tubuh tertular dari penyakit dari bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh. Namun, Irtya menegaskan belum ada makanan yang bisa menangkal ataupun sebagai antivirus Covid-19 termasuk jambu kristal.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim jambu kristal putih dapat menangkal Covid-19 adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Manfaat dari vitamin C sendiri adalah mengoptimalisasi imunitas tubuh, berperan sebagai antioksiden yang dapat mencegah radikal bebas sehingga secara tidak langsung dapat membantu dalam mencegah tubuh tertular dari penyakit dari bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh. Namun, Irtya menegaskan belum ada makanan yang bisa menangkal ataupun sebagai antivirus Covid-19 termasuk jambu kristal.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim jambu kristal putih dapat menangkal Covid-19 adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Rujukan
(GFD-2021-8498) Sesat, Klaim Video Tsunami Ini Terkait Gempa Jepang pada Februari 2021
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 16/02/2021
Berita
Video amatir yang merekam peristiwa tsunami yang terjadi di sebuah wilayah pesisir pantai beredar di media sosial pada 14 Februari 2021. Video tersebut berisi teks yang mengaitkan tsunami itu dengan gempa Jepang bermagnitudo 8,9. Sebelumnya, memang terjadi gempa di Jepang pada 13 Februari 2021.
"Magnitude 8.9 Earthquake in Japan," demikian teks yang tertulis dalam video yang dibagikan oleh sebuah akun TikTok tersebut. Di Facebook, video itu juga diunggah oleh akun ini dengan narasi, "Tsunami Jepang." Di kolom komentar, terdapat informasi bahwa peristiwa itu terjadi pada 14 Februari 2021.
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang menyesatkan terkait gempa Jepang pada Februari 2021.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar ini ditelusuri denganreverse image tool Google dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu adalah video lama, yang direkam pada Maret 2011, ketika tsunami melanda wilayah Tohoku, Jepang, setelah terjadi gempa dengan magnitudo 8,9.
Video tersebut pernah diunggah oleh kanal YouTube John9612 pada 30 April 2011 dengan judul "New Tsunami Video: Onagawa engulfed by high water - Japan Earthquake 2011". Dalam keterangannya, tertulis bahwa video itu diambil oleh warga bernama Yoshinori Hara pada 11 Maret 2011 dari atas gedung yang berada di pelabuhan Onagawa, Prefektur Miyagi. Prefektur Miyagi merupakan salah satu perfektur yang berada di wilayah Tohoku.
Tempo kemudian menelusuri perekam video itu, yakni Yoshinori Hara. Pria tersebut juga pernah mengunggah video di atas di kanal YouTube miliknya. Video itu baru diunggah pada 3 Oktober 2016. Kanal Yoshinori sendiri baru dibuat pada 2012. Video tersebut diberi judul "Onagawa Tsunami 311". Dalam keterangannya, Yoshinori menulis bahwa video itu diambil pada 11 Maret 2011 ketika tsunami menerjang Onagawa.
Di kanal YouTube-nya, Yoshinori juga membuatplaylist yang diberi nama "Favorites". Playlist ini berisi sejumlah video yang memperlihatkan peristiwa tsunami. Salah satu video dalamplaylistitu adalah video yang diunggah oleh kanal YouTube John9612, yang merupakan video milik Yoshinori.
Dilansir dari Britannica, gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011 itu kerap disebut sebagai "Great Sendai Earthquake" atau "Great Tohoku Earthquake". Peristiwa ini bermula ketika gempa terjadi di lepas pantai timur laut Pulau Honshu. Gempa tersebut memicu tsunami yang menghancurkan sejumlah wilayah Jepang, terutama Tohoku. Tsunami juga menyebabkan kecelakaan nuklir pada pembangkit listrik di sepanjang pantai.
Gempa dengan magnitudo 8,9 terjadi pada pukul 14.46 waktu setempat. Pusat gempa terletak sekitar 130 kilometer di timur Kota Sendai, Prefektur Miyagi, dan berada di kedalaman sekitar 30 kilometer di bawah Samudera Pasifik bagian barat. Gempa ini disebabkan oleh pecahnya hamparan zona subduksi yang terkait dengan Palung Jepang, yang memisahkan Lempeng Eurasia dari bagian subduksi Lempeng Pasifik.
Gempa pada 11 Maret 2011 itu juga dirasakan sampai ke Petropavlovsk-Kamchatsky, Rusia; Kao-hi, Taiwan; dan Beijing, Cina. Gempa tersebut pun menimbulkan serangkaian gelombang tsunami. Gelombang setinggi sekitar 33 kaki menerjang pantai dan membanjiri Kota Sendai. Menurut beberapa laporan, sebuah gelombang masuk ke daratan hingga sejauh 10 kilometer. Gempa ini juga menghasilkan gelombang setinggi 11-12 kaki di Kepulauan Hawaii.
Gempa Jepang 13 Februari 2021
Pada 13 Februari 2021, memang terjadi gempa Jepang dengan magnitudo 7,3. Gempa tersebut mengguncang pantai timur Jepang. Namun, berdasarkan arsip berita Tempo, yang mengutip Reuters, Badan Meteorologi Jepang tidak mengumumkan adanya potensi tsunami.
Peristiwa itu melukai puluhan orang dan memicu pemadaman listrik. Namun, tidak terjadi kerusakan besar akibat gempa tersebut. Badan Meteorologi Jepang mencatat pusat gempa berada di lepas pantai prefektur Fukushima dengan kedalaman 60 kilometer.
Dilansir dari Kompas.com, Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan gempa Jepang pada 13 Februari tersebut mendapat julukan "gempa ulang tahun ke-10". Julukan itu muncul karena gempa yang dahsyat pernah terjadi di lokasi yang tak jauh dari Fukushima pada 11 Maret 2011.
Menurut Daryono, meskipun berpusat di laut, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, karena kedalaman hiposenternya mendekatiintermediateatau menengah, yakni sekitar 54 kilometer. "Karena magnitudo gempa yang cukup besar dengan hiposenter yang relatif dalam menyebabkan spektrum guncangan kuat yang ditimbulkan melanda wilayah yang luas mencapai Kota Tokyo," katanya.
Daryono juga menyebut bahwa gempa Fukushima ini masih merupakan rangkaian gempa susulan atauaftershocksdari gempa utama yang terjadi pada 11 Maret 2011. "Gempa Jepang ini ibarat menuntaskan urusan yang belum selesai secara keseluruhan saat peristiwa gempa besar pada 2011," ujarnya.
Menurut Daryono, setelah terjadi deformasi yang hebat di zonamegathrustpada 2011, bagian slab lempeng yang menunjam lebih dalam kemungkinan masih menyimpan medan tegangan yang terakumulasi. "Medan tegangan itu belum rilis, sehingga baru dilepaskan dalam bentuk gempa besar tadi malam," tuturnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, unggahan pada 14 Februari 2021 tersebut, yang berisi video gempa Jepang dengan magnitudo 8,9 yang disertai tsunami, menyesatkan. Video itu adalah video lama, yang direkam pada 11 Maret 2011, ketika tsunami melanda wilayah Tohoku, Jepang, setelah terjadi gempa dengan magnitudo 8,9. Peristiwa ini kerap disebut "Great Sendai Earthquake" atau "Great Tohoku Earthquake".
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/gempa-jepang
- https://archive.vn/0657F
- https://archive.vn/6gM1t
- https://www.youtube.com/watch?v=0ey-4_iWEfU&list=PL9856713E91831155&index=1
- https://www.youtube.com/watch?v=Bj1uQ4M1gYs
- https://www.youtube.com/playlist?list=FLp-E3HwrAm-iJ4OqTU_Ul3A
- https://www.britannica.com/event/Japan-earthquake-and-tsunami-of-2011/Aftermath-of-the-disaster
- https://www.tempo.co/tag/tsunami
- https://dunia.tempo.co/read/1432614/gempa-magnitudo-73-guncang-jepang-tak-ada-peringatan-tsunami/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/fukushima
- https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/14/180200223/5-fakta-gempa-jepang-guncang-fukushima-di-dekat-lokasi-tsunami-2011?page=all
- https://www.tempo.co/tag/gempa
- https://www.tempo.co/tag/jepang
(GFD-2021-8499) Keliru, Kisah Bocah yang Meninggal Karena Semut Masuk ke Otaknya Lewat Telinga
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 16/02/2021
Berita
Narasi bahwa ada seorang bocah yang meninggal karena semut masuk ke otaknya lewat telinga beredar di Facebook. Narasi itu terdapat dalam sebuah unggahan pada 13 Juni 2019, yang hingga kini masih terus mendapatkan interaksi. Narasi tersebut dilengkapi dengan dua foto berjenis makro yang memperlihatkan lubang telinga yang dimasuki semut.
Dalam unggahan itu, tertulis bahwa semut bisa mencapai otak setelah masuk ke telinga. Semut-semut tersebut diklaim muncul setelah bocah itu tertidur dengan beberapa permen di mulutnya dan di samping tempat tidur. "Seorang anak kecil meninggal karena ahli bedah yang menembukan semut di otaknya! Ia menemukan sekelompok semut hidup di tengkoraknya."
Gambar tangkapan layar sebuah unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru bahwa semut bisa masuk ke otak melalui telinga.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital dua foto yang melengkapi narasi itu denganreverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan bahwa salah satu foto pernah dimuat oleh situs media Liputan6.com dalam artikelnya yang berjudul "Hiii... 'Ribuan' Semut Bersarang di Telinga Bocah Ini" pada 4 Februari 2016.
Berita tersebut menjelaskan tentang ribuan semut yang ditemukan di telinga seorang bocah perempuan berusia 12 tahun di India. Shreya Darji, nama bocah perempuan itu, pertama kali datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit di gendang telinga pada Agustus 2015. Walaupun telah berupaya keras, dokter belum berhasil mengeluarkan semua semut di telinga bocah tersebut.
Masalahnya, semut-semut itu berkembang biak di rongga telinga Shreya. Agar jumlah semut di dalam telinga Shreya tidak bertambah banyak, dokter pun memberikan obat tetes dan berharap perkembangbiakannya serangga itu bisa berhenti. "Kami telah melakukan scan pada anak ini. Hasilnya, semuanya normal," kata dokter bedah THT, Jawahar Talsania.
Liputan6.com mengutip berita ini dari situs media asing, yakni Daily Mail dan Metro.co.uk. Namun, hingga akhir berita, tidak ditemukan penjelasan bahwa semut-semut itu telah menggerogoti otak Shreya dan menyebabkan bocah tersebut meninggal.
Tempo pun membandingkan berita itu dengan berita dari media lain. Situs media Independent, yang mengutip Times of India, menjelaskan hal yang sama. Jawahar Talsania, dokter yang menangani kasus langka pada Shreya, mengatakan hasil tes seperti MRI dan CT scan tidak menunjukkan adanya kelainan. Telinga bocah itu tampak sehat.
Kondisi kehidupan Shreya di rumahnya yang berada di distrik Banaskantha tidak dinyatakan sebagai penyebab masuknya semut-semut ke telinga bocah tersebut. "Keluarga menjalani kehidupan normal dan mereka memiliki lingkungan yang sehat sehingga kami bahkan tidak bisa menyalahkan kondisi kehidupan mereka," kata Jawahar. "Kami tak percaya semut-semut bertelur di dalam telinganya, karena kami tidak melihat ratu semut di sana. Kami benar-benar bingung."
Narasi lama beredar kembali
Situs organisasi cek fakta Amerika Serikat, Snopes, pernah memverifikasi narasi serupa yang beredar pada 1998. Narasi tersebut berbunyi:
Insiden pertama: Seorang anak laki-laki meninggal setelah ahli bedah menemukan semut di otaknya! Rupanya bocah ini tertidur dengan beberapa permen di mulutnya atau dengan beberapa hal manis di sampingnya.
Semut segera mendatanginya merangkak ke telinganya yang entah bagaimana berhasil masuk ke otaknya. Ketika dia bangun, dia tidak menyadari bahwa semut telah pergi ke kepalanya.
Setelah itu, dia terus menerus mengeluhkan rasa gatal di sekitar wajahnya. Ibunya membawanya ke dokter, tetapi dokter tersebut tidak tahu apa yang salah dengan dirinya.
Dia mengambil foto X-ray anak itu dan, dengan ngeri, ia menemukan sekelompok semut hidup di tengkoraknya. Karena semut masih hidup, dokter tidak dapat mengoperasinya karena semut terus bergerak. Anak laki-laki itu akhirnya meninggal.
Insiden kedua: Insiden serupa lainnya terjadi di sebuah rumah sakit di Taiwan. Pria ini dirawat di rumah sakit dan terus-menerus diperingatkan oleh perawat untuk tidak meninggalkan bahan makanan di samping tempat tidurnya karena ada semut di sekitarnya.
Dia tidak mengindahkan nasihat mereka. Semut akhirnya berhasil memasuki tubuhnya. Anggota keluarganya mengatakan bahwa pria itu terus-menerus mengeluh sakit kepala. Dia meninggal dan postmortem atau otopsi dilakukan padanya. Dokter menemukan sekelompok semut hidup di kepalanya.
Snopes memberikan label keliru terhadap cerita tersebut. Menurut Snopes, terdapat sejumlah serangga yang mencari makan dengan menjadi parasit di jaringan hidup vertebrata. Meski tidak ada yang mencari manusia sebagai inang normal mereka, manusia kadang-kadang ditumpangi oleh parasit-parasit itu secara tidak sengaja.
Biasanya, mereka masuk melalui luka atau selaput lendir dari lubang tubuh. Namun, Snopes tidak menemukan referensi tentang serangga parasit di telinga manusia. Hal ini tidak berarti kejadian tersebut tidak akan terjadi, namun infestasi semacam itu akan terbatas pada jaringan lunak di sekitar telinga bagian luar.
Selain itu, serangga dan arthropoda lainnya memang berkeliaran di telinga manusia, tapi tidak untuk bertelur. Telinga manusia dapat menjadi perangkap yang efektif bagi makhluk kecil, yang akan mencoba mencari jalan keluar.
Penjelasan dokter
Dikutip dari situs kesehatan Alodokter, tidak benar bahwa serangga bisa masuk ke otak melalui telinga. Struktur telinga terdiri dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar meliputi daun telinga, liang telinga luar, dan bagian luar dari gendang telinga. Serangga umumnya hanya bisa mencapai liang telinga luar.
Hal ini tidak lepas dari peran kelenjar dan rambut-rambut kecil di liang telinga luar yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi benda asing, termasuk hewan-hewan kecil. Selain itu, antara telinga luar dan tengah dibatasi oleh gendang telinga serta antara telinga tengah dan dalam tertutup oleh koklea.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa ada seorang bocah yang meninggal karena semut masuk ke otaknya, keliru. Narasi itu telah beredar setidaknya sejak 1998. Tidak benar bahwa serangga bisa masuk ke otak melalui telinga. Narasi tersebut pun tidak berkaitan dengan dua foto di atas. Foto itu terkait dengan kasus yang dialami Shreya Darji, bocah perempuan berusia 12 tahun asal India. Pada Agustus 2015, ribuan semut ditemukan di telinga Shreya. Namun, tidak ditemukan penjelasan bahwa semut-semut itu telah menggerogoti otak Shreya dan menyebabkan bocah tersebut meninggal.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/semut
- https://archive.is/YVpjB
- https://www.liputan6.com/global/read/2428454/hiii-ribuan-semut-bersarang-di-telinga-bocah-ini
- https://www.tempo.co/tag/india
- https://www.independent.co.uk/news/science/ant-colony-living-inside-girl-head-india-insects-found-nesting-ear-a6869026.html
- https://www.snopes.com/fact-check/insects-on-the-brain/
- https://www.tempo.co/tag/serangga
- https://www.alodokter.com/komunitas/topic/semut
- https://www.tempo.co/tag/otak
Halaman: 6788/7945



