• (GFD-2021-8534) Sesat, Klaim yang Kaitkan Kasus Vaksin Covid-19 Palsu Ini dengan Vaksinasi di Indonesia

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/03/2021

    Berita


    Klaim yang mengaitkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia dengan sejumlah berita tentang terbongkarnya kasus vaksin Covid-19 palsu beredar di Facebook. Dalam berita-berita tersebut, diketahui bahwa modus pelaku pemalsuan vaksin itu adalah memasukkan larutan garam atau air mineral ke dalam jarum suntik dan menjajakannya sebagai vaksin Covid-19.
    Berita-berita ini dibagikan dalam bentuk gambar tangkapan layar. Berita pertama berasal dari BBC Indonesia yang berjudul "Polisi bongkar 'jaringan pemalsu vaksin', seberapa besar masalah vaksin palsu?". Sementara berita kedua berasal dari CNN Indonesia yang berjudul "Sindikat Pembuat Vaksin Covid-19 Palsu Ditangkap".
    Dalam gambar tangkapan layar video berita dari CNN Indonesia itu, terlihat sejumlah pria yang sedang memasukkan sejumlah kotak kardus ke dalam mobil box. Terdapat pula seorang pria yang mengenakan pakaian polisi berwarna coklat dan seorang pria yang memakai pakaian hitam dengan tulisan "Gegana" di bagian belakangnya. Gegana merupakan satuan dalam Korps Brimob Polri.
    Akun ini membagikan klaim beserta gambar tangkapan layar berita tersebut pada 7 Maret 2021. Akun itu menulis, "Bagus banget! Sementara dipaksa vaksin dengan ancaman karir sampai pidana. Terus ga taunya dapat yang palsu. Kan tambah amsyong ini namanya jadi rakyat +62." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 391 reaksi dan dibagikan 121 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim sesat terkait kasus vaksin Covid-19 palsu.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, BBC Indonesia dan CNN Indonesia memang pernah memuat berita dengan judul seperti yang terlihat dalam tangkapan layar di atas. Namun, kasus vaksin Covid-19 palsu yang terbongkar yang dimuat dalam kedua berita tersebut bukan terjadi di Indonesia.
    Gambar tangkapan layar pertama, yang berasal dari BBC Indonesia, berasal dari unggahan kantor berita tersebut di akun Facebook resminya pada 5 Maret 2021. Sementara gambar tangkapan layar kedua, yang berasal dari CNN Indonesia, merupakan gambar tangkapan layar dari video beritanya yang diunggah ke kanal YouTube resminya pada 4 Maret 2021.
    Dalam artikelnya, BBC Indonesia menulis bahwa jaringan pemalsu vaksin Covid-19 itu ditangkap di Cina dan Afrika Selatan, menurut laporan Interpol. Di Cina, polisi menangkap 80 orang di sebuah pabrik yang diduga membuat vaksin palsu. Dalam penangkapan ini, polisi juga menyita sedikitnya 3 ribu dosis vaksin.
    Sementara di Afrika Selatan, sebanyak tiga warga negara Cina dan seorang warga Zambia ditahan di sebuah gudang di Kota Gauteng, tempat di mana ampul-ampul berisi 2.400 dosis vaksin palsu ditemukan. Namun, belum diketahui secara pasti kapan penangkapan itu terjadi. Penemuan di Afrika Selatan ini dilaporkan oleh surat kabar Sunday Times pada Desember 2020.
    Saat mengumumkan pembekukkan jaringan vaksin yang diduga palsu tersebut, Interpol menekankan bahwa tidak ada vaksin yang disetujui yang "saat ini tersedia untuk dijual secaraonline". "Setiap vaksin yang diiklankan di internet atau situs web gelap, bukan merupakan vaksin yang sah, tidak teruji, dan mungkin berbahaya," kata Interpol.
    Dalam video beritanya, CNN Indonesia juga memaparkan informasi yang sama. Menurut CNN Indonesia, Interpol baru-baru ini membongkar sindikat pembuat vaksin Covid-19 palsu. Vaksin palsu tersebut tidak memiliki izin edar dan dijual secara daring. Tiga warga negara Cina dan satu warga Zambia ditangkap terkait kasus ini.
    Mengenai sejumlah pria yang tampak sedang memasukkan sejumlah kotak kardus ke dalam mobil box dan dikawal oleh polisi dalam gambar tangkapan layar di atas, berasal dari detik ke-37 dalam video berita CNN Indonesia tersebut. Ketika itu, narator tengah menjelaskan bagaimana langkah pemerintah Indonesia untuk mencegah beredarnya vaksin Covid-19 palsu.
    Salah satu langkah pencegahan yang diambil, menurut juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, adalah dengan pengadaan vaksin satu pintu. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah memiliki mekanisme pengawasan peredaran daring untuk mencegah penyebaran vaksin Covid-19 palsu.
    Dilansir dari arsip berita Tempo, Satgas Penanganan Covid-19 juga telah menyatakan bahwa tidak ada vaksin Covid-19 palsu yang beredar di Indonesia, termasuk sindikatnya. "Pemalsuan vaksin Covid-19 adalah sebuah kejahatan yang membahayakan kehidupan masyarakat. Dan sekarang tidak ada sindikat vaksin yang ditemukan di Indonesia," ujar juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pada 8 Maret 2021.
    Wiku menyampaikan pembelian vaksin Covid-19 dilakukan dengan cara G2G (government to government). Dengan demikian, keaslian vaksin terjamin. "Meskipun begitu, pemerintah tetap mengawasi peredaran vaksin di Indonesia. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan perusahaan vaksin untuk memastikan keaslian vaksin," katanya. Ia menambahkan vaksin juga harus mendapatkan izin darurat atau memiliki nomor distribusi dari BPOM.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim yang mengaitkan kasus vaksin Covid-19 palsu dalam berita-berita di atas dengan vaksinasi Covid-19 yang sedang berlangsung di Indonesia, menyesatkan. Kedua berita tersebut memang berisi informasi tentang terbongkarnya jaringan vaksin Covid-19 palsu. Namun, peristiwa itu terjadi di Cina dan Afrika Selatan, bukan di Indonesia.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8535) Keliru, Klaim Ini Video Vaksinasi Covid-19 di Taman Anggrek yang Ciptakan Kerumunan

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/03/2021

    Berita


    Video yang diklaim sebagai video vaksinasi Covid-19 di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, beredar di Facebook. Menurut klaim itu, vaksinasi tersebut justru menciptakan kerumunan. Dalam video ini, memang terlihat ratusan orang yang berkumpul dan mengantre di sebuah pusat perbelanjaan di mana di beberapa titik terdapat spanduk bertuliskan "Lokasi Vaksin".
    Akun ini membagikan video beserta klaim tersebut pada 4 Maret 2021. Akun itu pun menulis, "Vaksinasi di.mall T.Anggrek. Kalau spt ini ada kerumunan yg salah siapa? Kalau i lbh baik ga jd vaksin jk antri spt ini. Yg ada plg bawa penyakit." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 11 reaksi dan 11 komentar.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, video tersebut bukanlah video vaksinasi Covid-19 yang digelar di Mall Taman Anggrek. Video ini merupakan video penyuntikan vaksin Covid-19 yang dilaksanakan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 17-23 Februari 2021. Karena pendaftar vaksinasi pada hari terakhir (23 Februari) membludak, kegiatan itu dihentikan.
    Tempo mendapatkan petunjuk dari spanduk yang terlihat dalam video tersebut yang bertuliskan "Vaksinasi Covid-19 Pedagang Pasar Tanah". Lewat petunjuk ini, Tempo menelusuri pemberitaan terkait di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan sejumlah media yang memuat informasi soal vaksinasi Covid-19 untuk pedagang Pasar Tanah Abang yang baru digelar pada pertengahan Februari lalu.
    Dalam artikel-artikel itu, terdapat pula foto yang diambil dari lokasi yang sama dengan yang terlihat dalam video itu. Beberapa di antaranya adalah artikel RRI pada 23 Februari yang berjudul "Kebanyakan Pendaftar, Vaksinasi Tanah Abang Dihentikan Sementara" dan artikel foto CNBC Indonesia yang berjudul "Ada Kerumunan, Vaksinasi Pedagang Tanah Abang Dihentikan".
    Kesamaan antara foto yang dimuat oleh RRI (kiri) dan video yang beredar (tengah dan kanan).
    Kesamaan antara foto yang dimuat oleh CNBC Indonesia (kiri) dan video yang beredar (kanan).
    Dilansir dari Bisnis.com, pada 23 Februari, polisi menghentikan kegiatan penyuntikan vaksin Covid-19 bagi pedagang di Pasar Tanah Abang. Langkah itu diambil setelah terjadinya penumpukan pedagang yang mencapai sekitar 500 orang di lokasi vaksinasi. "Saya hentikan karena pedagang yang mengantre sudah berjubel banget, sudah diimbau mereka tidak mau, akhirnya kita hentikan,” kata Kapolsek Metro Tanah Abang Komisaris Singgih Hermawan.
    Lokasi vaksinasi itu berada di Pasar Tanah Abang Blok A lantai 8. Menurut Singgih, lokasi vaksinasi ini terbilang sempit. Padahal, pedagang yang mengantre mencapai 500 orang. “Karena pedagang ini merasa vaksinnya sudah mau berakhir, makanya mereka berbondong-bondong datang,” tuturnya. Tanggal 23 Februari memang merupakan hari terakhir pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi pedagang Pasar Tanah Abang.
    Setelah kejadian itu, PD Pasar Jaya dan Kementerian Kesehatan memutuskan untuk mengoperasikan kembali layanan vaksinasi Covid-19 bagi pedagang Pasar Tanah Abang pada 24 Februari. Hal itu dilakukan agar mereka dapat mengatur ulang tata ruang di lokasi vaksinasi sehingga dapat mencegah kerumunan akibat antrean seperti yang terjadi pada 23 Februari.
    Kepala Satpol PP Jakarta Barat Tamo Sijabat, seperti dilansir dari Kompas.com, juga telah membantah adanya kerumunan di Mall Taman Anggrek akibat pelaksanaan vaksinasi Covid-19. "Saya langsung cek ke tempat hari ini. Tidak ada itu kerumunan. Itu hoaks," kata Tamo pada 3 Maret 2021.
    Tamo juga menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak pengelola Mall Taman Anggrek. "Saya sudah ketemu juga sama manajemen mal. Katanya dari malam sudah ada info itu, tapi tidak benar," ujar Tamo. Menurut dia, video yang tersebar tersebut merupakan rekaman suasana penyuntikan vaksin Covid-19 yang digelar di Pasar Tanah Abang beberapa waktu lalu.
    Kegiatan tersebut sempat dibubarkan oleh polisi karena melanggar protokol kesehatan, dengan terciptanya kerumunan di lokasi kegiatan. "Itu di Tanah Abang, tapi hari ini videonya viral seolah-olah di Mall Taman Anggrek. Saya banyak terima video itu," ujar Tamo.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video tersebut adalah video vaksinasi Covid-19 di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, yang menciptakan kerumunan, keliru. Video itu menunjukkan suasana vaksinasi Covid-19 bagi pedagang di Pasar Tanah Abang pada pertengahan Februari lalu. Karena pendaftar vaksinasi pada 23 Februari membludak, kegiatan itu dihentikan. Namun, layanan vaksinasi Covid-19 bagi pedagang Pasar Tanah Abang kembali dioperasikan pada 24 Februari setelah lokasi ditata ulang sehingga dapat mencegah kerumunan akibat antrean.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6495) [SALAH] Menghirup Uap Panas Teh Herbal Dapat Mencegah dan Menyembuhkan COVID-19

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 10/03/2021

    Berita

    “Tanzania: Afrika response to Covid -19 ..innovation .. build your sauna/steam challenge! Put gumtree and guava leaves in the boiling pots…mhlonyane tea and all ..smoke/steam the virus: Your health is in your hands!”

    Terjemahan:
    “Tanzania: Afrika merespom Covid -19 ..inovasi .. tantangan membangun sauna! Taruh gumtree dan daun jambu biji dalam panci rebus… teh mhlonyane dan semuanya .. asapi/uapi virusnya: Kesehatan ada di tangan Anda!”
    Minysk kayu putih obat covid
    Minyak kayu putih dan covid
    Minum Minyak Kayu Putih Dapat Menyembuhkan COVID-19
    Uap air panas obat covid kah
    Covid mati dengan uap panas
    Hoax covid menghirup uap panas
    Minum air panas bisa menyembuhkan covid
    Hirup air panas
    Uap panas utk membunuh virus covid?
    ketua satgas air panas

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan di Facebook oleh akun bernama Maponga Joshua III “Farmers of Thought”. Postingan tersebut berupa video dengan disertai penjelasan bahwa menghirup uap panas dari teh herbal dapat menyembuhkan COVID-19 dalam tubuh. Dalam video tersebut memperlihatkan pria yang baru keluar dari sauna disertai kepulan uap yang panas.

    Narator dalam video menanyakan kepada pria tersebut dalam Bahasa Swahili, kemudian ia menjawab “sema mvuke” yang artinya “sangat beruap”.

    Setelah dilakukan pencarian fakta, cara mencegah atau mengobat COVID-19 dengan menghirup uap panas, tidak dibenarkan. Selama pandemi COVID-19 banyak beredar hoaks serupa yang merekomendasikan masyarakat untuk menghirup uap panas dari rebusan tanaman herbal untuk mengobati COVID-19.

    Seperti di antaranya, memasukkan bahan bawang putih, jahe, cabai rawit, pohon teh, kayu putih, jeruk, lemon, minyak atau peppermint, dst. Artikel mengenai hoaks tersebut pernah diunggah di website turnbackhoax.id, dengan judul diantaranya “[SALAH] Terapi Uap Panas dan Minyak Kayu Putih Dapat Membunuh Virus Corona” dan “[SALAH] Uap Panas Hasil Rebusan Daun Jambu dapat Mengobati Covid-19”.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Spanish Pediatrics Association, menyatakan menghirup uap air panas justru berpotensi menimbulkan luka bakar.

    Dalam website kesehatan Cochrane, telah mereview pengobatan dengan menghirup uap panas untuk penyakit pilek yang disebabkan virus rhinovirus, ditemukan bahwa pengobatan dengan cara tersebut tidak efektif. Uap panas memang bisa menghancurkan partikel virus yang menempel pada permukaan benda, namun virus tidak bisa dihancurkan jika telah masuk ke dalam tubuh manusia.

    Menurut Sandy van Vuuren, seorang Profesor di Wits University di Afrika Selatan, daun umhlonyane atau artemisia yang telah digunakan oleh tabib di Afrika untuk mengobati penyakit pernapasan memang berhasil untuk penyakit yang disebabkan bakteri, tetapi tidak bisa mengobati penyakit pernapasan yang disebabkan virus, termasuk COVID-19.

    Sebagai referensi pengobatan COVID-19 baiknya mengunjungi website resmi WHO (https://www.who.int/indonesia).

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, klaim menghirup uap panas teh herbal dapat mencegah dan menyembuhkan COVID-19 adalah HOAX kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    Informasi salah. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan menghirup uap panas teh herbal atau uap panas selainnya, dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Lebih lanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan masyarakat melakukan pengobatan COVID-19 dengan menghirup uap panas.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6496) [SALAH] Istri Pasha Ungu Meninggal Dunia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 10/03/2021

    Berita

    “Innalillahi, selamat jalan untuk selamanya, Adelia Istri Pasha Ungu Semoga khusnul khotimah mohon bantuan Doanya”

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah akun Facebook bernama Ferianto mengabarkan sebuah informasi mengejutkan tentang kematian istri dari Pasha Ungu. Berita ini kemudian viral karena mengunggah foto Pasha bersama istrinya, Adelia Wilhemina, dan sebuah tautan artikel dengan judul berita duka. Kabar ini sontak saja mendapat beragam respon dari masyarakat.

    Namun setelah dilakukan penelusuran, ternyata kabar tersebut adalah hoaks.

    Tautan yang disertakan dalam unggahan secara jelas menuliskan bahwa Adelia mengucapkan belasungkawa terhadap meninggalnya presenter Rina Gunawan.

    Adelia Wilhemina pun membantah isu dirinya telah meninggal, melalui akun Instagram pribadinya.

    “Ya Allah, serem banget ini beritanya kenapa bikin berita hoax gini si kadang2 judulnya ga sesuai sama isinya, jadi yang baca setengah2 ya..”

    Istri dari Pasha Ungu ini pun mengaku bahwa dirinya sedang berada dalam keadaan yang sehat dan baik-baik saja.

    “…alhamdulillah masih sehat walafiat.. mudah2an panjang umur aminnn doain ya.”

    Jadi dapat disimpulkan bahwa kabar meninggalnya Adelia Wilhemina adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Faktanya, klaim tersebut adalah hoaks dan tidak berdasar. Hal ini pun langsung dibantah sendiri oleh Adelia di akun Instagram pribadinya.

    Rujukan