• (GFD-2021-8614) Keliru, Klaim Ini Bukan Video Kremasi Jenazah Covid-19 di India Tapi Korban Kebocoran Gas

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/05/2021

    Berita


    Narasi yang meragukan parahnya gelombang kedua Covid-19 di India beredar di media sosial. Salah satu akun di Facebook mengklaim bahwa video yang beredar di internet, yang diambil dari udara dan disebut memperlihatkan situasi di area kremasi jenazah Covid-19 di India, sebenarnya menunjukkan proses kremasi para korban kebocoran gas.
    Video itu berjudul "Asap Kremasi Tutupi Langit India, Kematian Covid-19 Membludak!". Video tersebut juga memuat logo stasiun televisi Metro TV. Akun ini membagikan klaim beserta video tersebut pada 27 April 2021. Selain mengunggah video itu, akun ini menyertakan empat video lain yang diklaim sebagai bukti bahwa kondisi India normal, karena menggelar acara musik.
    Akun itu pun menulis, "Slide 1 Pembodohan kopid! Korban yang di kremasi adalah korban kebocoran gas, Slide 2 korban yang berjatuhan akibat pipa kebocoran gas, Slide 3 adalah komentar orang cerdas, Slide 4 sampai terakhir adalah kondisi india saat ini, dangdutan saweran, Selamat jadi manusia yang berakal." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 100 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya. Video itu memang menunjukkan situasi di area kremasi jenazah pasien Covid-19 di India.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, video yang memuat logo Metro TV dan berjudul “Asap Kremasi Tutupi Langit India, Kematian Covid-19 Membludak!” itu memang memperlihatkan situasi di area kremasi massal jenazah Covid-19 di India, di tengah meningkatnya jumlah kematian akibat infeksi virus Corona di negara tersebut.
    Mula-mula, Tempo memfragmentasi video itu menjadi beberapa gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar tersebut ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image tool Google. Selain itu, Tempo juga menelusuri pemberitaan terkait dengan kata kunci “mass cremation in India” di mesin perambah Google.
    Hasilnya, ditemukan bahwa beberapa cuplikan dalam video tersebut sama dengan video yang dipublikasikan oleh media Korea Selatan, SBS, pada 26 April 2021. Video itu berjudul “Jenazah pasien Covid-19 berserakan di trotoar, 'Kekurangan oksigen'". Kesamaan terdapat pada cuplikan dari udara yang menunjukkan area kremasi serta cuplikan beberapa petugas berpakaian hazmat yang sedang menggotong jenazah.
    Dua cuplikan yang sama-sama terlihat dalam video yang beredar di Facebook maupun yang diunggah oleh media Korea Selatan SBS pada 26 April 2021.
    Tempo pun membandingkan video itu dengan video yang dipublikasikan oleh media kredibel lainnya. Salah satunya adalah media Inggris, The Guardian, yang mengunggah video kremasi yang identik yang diambil dari udara. Video yang dipublikasikan di YouTube pada 26 April 2021 tersebut diberi judul "India: drone footage shows makeshift mass crematorium in Delhi".
    Dalam penjelasannya, The Guardian menulis bahwa kremasi massal telah dilakukan di ibukota India, New Delhi, di fasilitas darurat yang disiapkan untuk mengatasi peningkatan kematian akibat virus Corona yang besar. Per 26 April, India mencatat 352.991 kasus Covid-19 baru, hari kelima dari rekor tertinggi, dan 2.812 kematian baru, angka kematian harian tertinggi sejauh ini.
    Menurut arsip berita Tempo pada 19 April, India mengalami kekurangan tempat tidur dan oksigen untuk pasien Covid-19 ketika kasus infeksi virus Corona di sana semakin melonjak. Ibukota India, New Delhi, mencatat 25.500 kasus Covid-19 baru dalam periode 24 jam. Namun, kurang dari 100 tempat tidur untuk perawatan kritis tersedia di kota itu. Sementara jumlah kasus di seluruh India pada hari itu mencapai sekitar 233 ribu.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas bukan video kremasi jenazah Covid-19 di India, tapi kremasi korban kebocoran gas, keliru. Video tersebut memang memperlihatkan situasi kremasi massal jenazah pasien Covid-19 di India. Sejak pertengahan April 2021, India mencatatkan kenaikan drastis terkait jumlah kasus Covid-19, dan juga peningkatan angka kematian.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6869) [SALAH] Foto “Allahuakbar Sajadah Di Temukan Utuh Dan Tidak Hancur Di Serpihan Kapal Selam KRI Nanggala 402. Subhanallah”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/05/2021

    Berita

    Akun Facebook Muslim Haeruddin (fb.com/muslim.haeruddin.9) pada 25 April 2021 mengunggah sebuah foto dengan narasi sebagai berikut:

    “ALLAHUAKBAR SAJADAH DI TEMUKAN UTUH DAN TIDAK HANCUR DI SERPIHAN KAPAL SELAM KRI NANGGALA 402. SUBHANALLAH…”

    Di foto itu tampak salah seorang anggota TNI mengangkat sajadah berwarna coklat utuh dari puing-puing benda yang diklaim milik KRI Nanggala 402.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya foto sajadah utuh yang diklaim bagian dari kapal selam KRI Nanggala 402 merupakan konten yang salah.

    Faktanya, bukan dari kapal selam KRI Nanggala 402. Sajadah di foto itu bagian dari puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021).

    Foto yang indentik, dimuat di artikel berjudul “PENEMUAN KOTAK PENYIMPANAN MEMORI CVR” yang terbit pada 15 Februari 2021 di situs antarafoto.com.

    Keterangan foto itu menyebutkan, Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI AL Abdul Rasyid (ketujuh kiri) memeriksa serpihan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 hasil operasi pencarian di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (15/1/2021). Di bagian kiri tampak personel TNI mengangkat sajadah berwarna cokelat dari puing-puing pesawat.

    Selain itu, di situs Antara Foto juga menampilkan foto temuan hasil pencarian dari barang-barang serta puing-puing dari KRI Nanggala 402. Salah satu temuan adalah potongan alas salat, bukan sajadah utuh seperti yang diunggah oleh sumber klaim.
    Temuan ini disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono pada Sabtu (24/4/2021).

    Barang-barang yang ditemukan ialah berupa pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin dan satu buah botol berisikan pelumas periskop kapal selam. Selain itu, tim pencarian juga menemukan adanya satu potongan alas yang biasa digunakan para ABK untuk salat.

    Kesimpulan

    BUKAN dari kapal selam KRI Nanggala 402. Sajadah di foto itu bagian dari puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021).

    Rujukan

  • (GFD-2021-6870) [SALAH] “Gubernur Sumut instruksikan seluruh masjid buka pintu selapang-lapangNya untuk orang ibadah”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/05/2021

    Berita

    Akun Facebook Daing Okdi (fb.com/okdiansyah.okdiansyah) pada 30 April 2021 mengunggah sebuah gambar yang berisi foto Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan narasi “Gubernur Sumut instruksikan seluruh masjid buka pintu selapang-lapangNya untuk orang ibadah.. Klo perlu ajak Dzikir bersama-sama.. * hidup dan mati itu kehendak ALLAH,, mati sedang ibadah lebih baik ketimbang mati mengurung diri nggak beribadah.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi COVID-19 adalah klaim yang salah.

    Faktanya, klaim itu merupakan hoaks lama yang beredar kembali. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi tidak pernah mengeluarkan instruksi tersebut. Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid pada pertengahan bulan Maret 2020.

    Dilansir dari artikel berjudul [SALAH] “Gubernur SUMUT instruksikan Seluruh MASJID buka pintu selapang lapangnya untuk orang ibadah” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 24 April 2020, tidak ditemukan pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang memerintahkan agar masjid dibuka seluas-luasnya untuk beribadah di saat pandemi Covid-19.

    Tidak ditemukan pula kutipan yang berasal dari Edy seperti yang terdapat dalam gambar yang diunggah sumber klaim.Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid. “Khusus beragama Islam, jangan meninggalkan masjid karena takut Corona. Siapkan alas untuk tempat kita bersujud. Dengan sajadah yang kecil juga boleh, yang besar juga boleh, bawa sapu tangan,” ujar Edy di Deli Serdang, Sumut, pada 15 Maret 2020, seperti dilansir dari Kumparan.com.

    Edy juga pernah memerintahkan agar karpet masjid dibuka. Warga yang beragama Islam diminta membawa alas sendiri saat salat berjemaah di masjid. Hal itu disampaikan Edy dalam rapat yang membahas masalah kesehatan di Kantor Gubernur Sumut pada pertengahan Maret 2020.

    Pernyataan tersebut diberitakan salah satunya oleh Detik.com pada 17 Maret 2020 dengan judul “Gubsu Edy Perintahkan Sekolah Libur-Karpet Masjid Dibuka demi Cegah Corona”.Saat itu, Edy berkata, “Karpet-karpet sementara dibuka. Biarkan saja di semen. Nanti dipel. Masing-masing pakai sajadah masing-masing.”

    Setelah ditelusuri, klaim di gambar tangkapan layar yang diunggah oleh sumber klaim tersebut sudah beredar sejak pertengahan Maret 2020. Pemerintah Provinsi Sumut pun membantah bahwa Edy pernah mengintruksikan agar masjid dibuka seluas-luasnya di tengah pandemi Covid-19.

    “Nggak ada, nggak ada. Itu dari mana?” ujar Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Hendra Dermawan Siregar, seperti dikutip dari Medan Bisnis Daily pada 22 Maret 2020. Hendra pun menambahkan bahwa gambar tangkapan layar tersebut sudah distempel hoaks.

    “Kan yang ada kemarin, dari WA (WhatsApp) orang masuk, dia (Edy) pakai pakaian tentara, terus membilangkan semua orang masuk ke masjid, itu udah kita stempel hoax,” kata Hendra.

    Kesimpulan

    Hoaks Lama Beredar Kembali. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi tidak pernah mengeluarkan instruksi tersebut. Edy hanya pernah menyatakan agar umat Islam tidak meninggalkan masjid pada pertengahan bulan Maret 2020.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6871) [SALAH] Tawaran Kuota Gratis 50GB di Perayaan Ulang Tahun WhatsApp

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 05/05/2021

    Berita

    “Anda sekarang bisa mendapatkan paket internet gratis 50GB (Semua Jaringan) berlaku selama 90 hari di Perayaan Ulang Tahun WhatsApp.

    Saya Telah Menerima Punyaku. Cepat Sebelum Habis

    https://asvip1.top/j/50GB/?s=1″

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah pesan berantai di WhatsApp yang mengklaim bahwa pihak WhatsApp membagikan paket internet gratis sebesar 50GB di Perayaan Ulang Tahun WhatsApp yang ke-10. Untuk mengaktifkan layanan paket internet tersebut penerima pesan diarahkan untuk mengakses sebuah link.

    Setelah ditelusuri, link tersebut merupakan link palsu. Diketahui bahwa informasi resmi dari pihak WhatsApp hanya bisa diakses dari tautan www.whatsapp.com “Kalau resmi dari kami, linknya pasti link kita juga, semisalnya facebook.com atau whatsapp.com,” jelas pihak WhatsApp kepada tim Tempo saat mengonfirmasi isu serupa pada 2019 silam.

    Pesan tersebut merupakan Hoaks Lama yang Bersemi Kembali dan pernah muncul beberapa tahun kebelakang yaitu pada tahun 2018, 2019, dan 2020. Meskipun serupa, narasi dan tautan yang dicantumkan berbeda dari tahun sebelumnya. Klarifikasi terkait bagi-bagi kuota gratis dari WhatsApp juga pernah dibahas dalam artikel Turnbackhoax.id yang berjudul “[SALAH] Pesan Berantai Ulang Tahun WhatsApp ke-11 Gratis Kuota 35GB” pada tanggal 1 Agustus 2020.

    Melansir dari Kompas.com, motif bagi-bagi kuota gratis dengan mengakses link dari pesan berantai adalah penipuan untuk mencuri data pengguna. Modus ini adalah trik lama yang digunakan peretas untuk mengelabui pengguna. Agar menarik minat masyarakat modus ini biasanya mengatasnamakan perusahaan besar.

    Dengan demikian, klaim bahwa pihak WhatsApp bagi-bagi kuota gratis di perayaan ulang tahun adalah hoaks dalam kategori konten palsu.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul Syahida (Universitas Pendidikan Indonesia)

    Pesan berantai yang mengklaim bahwa WhatsApp bagi-bagi kuota adalah Hoaks Lama yang Bersemi Kembali (HLBK). Pesan tersebut pernah beredar pada tahun-tahun sebelumnya. Domain resmi dari WhatsApp hanya www.whatsapp.com.

    Rujukan