(GFD-2021-8618) Keliru, Rusia Tak Temukan Virus di Hasil Autopsi Jenazah Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 07/05/2021
Berita
Sebuah pesan berantai yang diklaim bersumber dari Kementerian Kesehatan Rusia beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Pesan berantai ini berisi klaim bahwa hasil autopsi di Rusia terhadap jenazah Covid-19 menunjukkan bahwa Covid-19 tidak berbentuk virus, melainkan bakteri yang telah terpapar radiasi dan menggumpal di darah sehingga menyebabkan kematian.
Selain klaim bahwa Covid-19 bukan virus, pesan berantai yang telah beredar sejak 5 Mei 2021 itu juga menyebut bahwa para dokter Rusia tidak menjalankan kesepakatan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dengan melakukan autopsi terhadap jenazah Covid-19. "Mereka menemukan bahwa pembuluh darah melebar dan berisi gumpalan darah."
Gambar tangkapan layar pesam berantaindi WhatsApp yang berisi klaim keliru terkait hasil autopsi jenazah Covid-19 di Rusia.
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menunjukkan klaim dalam pesan berantai tersebut bertolak belakang dengan hasil autopsi yang dilakukan di Rusia terhadap jenazah Covid-19. Otoritas Rusia pun telah menyatakan bahwa Covid-19 adalah penyakit yang sangat menular, dan kematian terjadi karena komplikasi penyakit kronis yang disebabkan oleh virus.
Dikutip dari The Moscow Times, jumlah kematian akibat Covid-19 di Rusia telah melampaui 60 ribu orang pada Januari 2021 lalu. Data satuan tugas nasional menunjukkan bahwa terdapat 506 kematian dan 23.541 kasus baru pada 7 Januari 2021. Namun, statistik berbasis autopsi menunjukkan angka kematian resmi itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.
Sejumlah peneliti dari beberapa universitas dan lembaga di Rusia dan Swedia melakukan riset dengan mengautopsi 60 jenazah pasien Covid-19. Studi ini menunjukkan bahwa mayoritas dari kematian yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam tes PCR, termasuk kematian di luar rumah sakit, selama pandemi terkait dengan kerusakan alveolar difus (diffuse alveolar damage/DAD) pada paru-paru yang disebabkan oleh Covid-19.
Dikutip dari Reuters, Rusia mengandalkan analisis post-mortem untuk memutuskan apakah kematian orang yang terinfeksi disebabkan oleh Covid-19. Pada Desember 2020, Tatyana Golikova, Wakil Perdana Menteri Rusia, mengatakan semua kematian Covid-19, kecuali dilarang oleh agama, tunduk pada analisis post-mortem ini.
“Kami melakukan autopsi terhadap 100 persen kasus yang terjadi di seluruh negeri, dengan beberapa pengecualian karena alasan agama. Dalam kasus penyakit menular, di mana infeksi virus Corona dipandang sebagai penyakit yang sangat menular, kami pun melakukan autopsi pada 100 persen kasus," katanya.
Klaim bahwa Rusia melanggar kesepakatan WHO karena mengautopsi jenazah Covid-19 juga tidak sesuai fakta. Pada 24 Maret 2020, WHO menerbitkan panduan yang berjudul "Infection prevention and control for the safe management of a dead body in the context of COVID-19: interim guidance".
Dalam panduan ini, WHO memuat panduan keamanan untuk melakukan autopsi terhadap jenazah pasien Covid-19. Salah satunya adalah perlindungan bagi mereka yang mengautopsi, ketersedian alat pelindung diri (APD), dan melibatkan sedikit staf untuk mengautopsi.
Sebelumnya, pesan berantai yang identik pernah beredar, tepatnya pada Mei 2020. Ketika itu, otoritas yang tertulis adalah pemerintah Italia, bukan pemerintah Rusia. Tim CekFakta Tempo telah memverifikasi pesan berantai tersebut dan menyatakannya keliru.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Rusia tidak menemukan virus dalam hasil autopsi jenazah Covid-19, keliru. Klaim ini bertolak belakang dengan hasil autopsi yang dilakukan di Rusia terhadap jenazah pasien Covid-19. WHO pun tidak pernah melarang sebuah negara untuk melakukan autopsi terhadap jenazah Covid-19.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/rusia
- https://www.tempo.co/tag/autopsi
- https://www.tempo.co/tag/jenazah-covid-19
- https://www.themoscowtimes.com/2021/01/07/russia-passes-60k-coronavirus-deaths-a72550
- https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/joim.13300
- https://www.reuters.com/article/factcheck-russia-covid-autopsy-idUSL1N2M82C9
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
- https://www.who.int/publications/i/item/infection-prevention-and-control-for-the-safe-management-of-a-dead-body-in-the-context-of-covid-19-interim-guidance
- https://www.tempo.co/tag/pasien-covid-19
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/798/fakta-atau-hoaks-benarkah-dokter-italia-temukan-sebab-kematian-covid-19-adalah-bakteri-bukan-virus
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
(GFD-2021-6882) [SALAH] Gambar Artikel CNN Indonesia “Seorang Anggota Polisi Jual Senjata Serbu AK-47 dan Pistol FN Made in Cina Beserta Amunisi ke Teroris KKB Papua”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 07/05/2021
Berita
Akun Facebook Devan Baskara (fb.com/devan.baskara.1) pada 29 April 2021 mengunggah sebuah gambar yang terdapat logo CNN Indonesia dan narasi sebagai berikut:
“12 April 2021 20 : 33”, “SEORANG ANGGOTA POLISI JUAL SENJATA SERBU AK-47 DAN PISTOL FN MADE IN CINA BESERTA AMUNISI KE TERORIS KKB PAPUA” dan “Seorang Anggota Polisi dari satuan Densus 88 bernama Bernard Silalahi, Asli Batak, Agama Kristen Protestan, berpangkat Aipda dari Kapolres Medan, tertangkap Operasi Gabungan antara Kepolisian & Tni. Oknum Polisi tersebut sudah 7 kali menjual senjata jenis AK-47 sebanyak 20 senjata serbu beserta 5.000 butir peluru. Dan juga pistol jenis FN buatan Cina beserta amunisinya kepada Gerombolan KKB Papua”
“12 April 2021 20 : 33”, “SEORANG ANGGOTA POLISI JUAL SENJATA SERBU AK-47 DAN PISTOL FN MADE IN CINA BESERTA AMUNISI KE TERORIS KKB PAPUA” dan “Seorang Anggota Polisi dari satuan Densus 88 bernama Bernard Silalahi, Asli Batak, Agama Kristen Protestan, berpangkat Aipda dari Kapolres Medan, tertangkap Operasi Gabungan antara Kepolisian & Tni. Oknum Polisi tersebut sudah 7 kali menjual senjata jenis AK-47 sebanyak 20 senjata serbu beserta 5.000 butir peluru. Dan juga pistol jenis FN buatan Cina beserta amunisinya kepada Gerombolan KKB Papua”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya gambar artikel dari CNN Indonesia yang berjudul “Seorang Anggota Polisi Jual Senjata Serbu AK-47 dan Pistol FN Made in Cina Beserta Amunisi ke Teroris KKB Papua” merupakan klaim palsu.
Faktanya, gambar tersebut adalah gambar editan. CNN Indonesia tidak pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut.
Berdasarkan hasil pencarian di situs CNN Indonesia dengan menggunakan kata kunci “polisi jual senjata kkb papua”, tidak ditemukan satupun artikel yang sesuai dengan klaim tersebut pada tanggal 12 April 2021.
Selain itu, klaim ini juga merupakan gaya pelintiran daur ulang. Di situs turnbackhoax.id, klaim seperti ini sudah berulang kali diperiksa sebelumnya.
Faktanya, gambar tersebut adalah gambar editan. CNN Indonesia tidak pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut.
Berdasarkan hasil pencarian di situs CNN Indonesia dengan menggunakan kata kunci “polisi jual senjata kkb papua”, tidak ditemukan satupun artikel yang sesuai dengan klaim tersebut pada tanggal 12 April 2021.
Selain itu, klaim ini juga merupakan gaya pelintiran daur ulang. Di situs turnbackhoax.id, klaim seperti ini sudah berulang kali diperiksa sebelumnya.
Kesimpulan
Gambar EDITAN. CNN Indonesia TIDAK pernah membuat artikel seperti tangkapan layar tersebut.
Rujukan
- https://www.cnnindonesia.com/search/?query=polisi jual senjata kkb papua&kanal=&date=2021/04/12
- https://turnbackhoax.id/2020/06/18/salah-cia-bongkar-jati-diri-presiden-indonesia-jokowi-melalui-passport/
- https://turnbackhoax.id/2020/06/07/salah-tangkapan-layar-dinas-imigrasi-tahan-300-orang-wna-china-ilegal/
(GFD-2021-6883) [SALAH] “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 07/05/2021
Berita
Akun Facebook John Pribumi (fb.com/100061096841879) pada 6 Mei 2021 mengunggah gambar yang terdapat foto Said Aqil Siradj dan narasi “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?”.
Sumber klaim mengunggah gambar tersebut dengan narasi “Apakah Orang2 yg fanatik terhadap NU masih belum sadar, jika junjungannya semakin Ambyarrr ???”
Sumber klaim mengunggah gambar tersebut dengan narasi “Apakah Orang2 yg fanatik terhadap NU masih belum sadar, jika junjungannya semakin Ambyarrr ???”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya pernyataan Said Aqil Siradj yang menyebutkan bahwa Cina bukan negara komunis, yang komunis itu justru Arab merupakan klaim palsu.
Faktanya, klaim tersebut merupakan hoaks lama beredar kembali. Klaim tersebut berasal dari situs berdomain Blogspot yang bukan merupakan media kredibel.
Dilansir dari artikel berjudul [SALAH] “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 25 Juli 2019, sumber klaim ini adalah situs Blog Embarxi (embarxi.blogspot[dot]com) yang terbit pada 23 Juli 2019.
Dilansir dari Tempo, Blog Embarxi memang pernah memuat artikel dengan judul “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?”. Namun, berdasarkan penelusuran Tempo di mesin pencarian Google, tidak ditemukan berita dari media kredibel yang memuat pernyataan Said Aqil mengenai klaim yang ada pada judul tersebut.
Blog Embarxi bukanlah situs media yang kredibel karena hanya mengambil konten dari situs media lain tanpa menyebutkan sumbernya. Selain itu, blog tersebut tidak mencantumkan penanggung jawab dan alamat perusahaan.
Berdasarkan penelusuran itu, Tempo juga menemukan berita asli yang dikutip oleh blog Embarxi. Berita itu dipublikasikan oleh situs Times Indonesia pada 17 Juli 2019. Isi artikel dalam blog Embarxi di atas sama dengan isi berita Times Indonesia tersebut. Namun, berita di Times Indonesia itu berjudul “KH Said Aqil Siradj: Negara China bukan Negara Komunis”.
Dalam berita ini, Said Aqil menyatakan bahwa tidak benar jika Cina adalah negara komunis. Wacana bahwa Cina adalah negara komunis, menurut Said Aqil, hanya bagian dari skenario politik beberapa kelompok yang ingin menjatuhkan pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Hal ini pun dianggap sebagai kasus yang wajar bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi di mana terdapat potensi adanya penggunaan agama dan keyakinan sebagai alat politik.
“Sudah tidak ada ateisme, komunisme, dan yang lainya, sudah tidak ada. Semua itu sudah menjadi kepentingan politik,” kata Said Aqil dalam acara bedah buku “Islam Indonesia dan China, Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok” di kantor PBNU, Jakarta Pusat. Setelah dibaca hingga selesai, tidak ada satu pun pernyataan Said Aqil bahwa “justru Arab Saudi yang komunis”, baik dalam berita di Times Indonesia maupun dalam artikel di blog Embarxi.
Faktanya, klaim tersebut merupakan hoaks lama beredar kembali. Klaim tersebut berasal dari situs berdomain Blogspot yang bukan merupakan media kredibel.
Dilansir dari artikel berjudul [SALAH] “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 25 Juli 2019, sumber klaim ini adalah situs Blog Embarxi (embarxi.blogspot[dot]com) yang terbit pada 23 Juli 2019.
Dilansir dari Tempo, Blog Embarxi memang pernah memuat artikel dengan judul “Said Aqil: Negara China Bukan Negara Komunis, Yang Komunis Itu Justru Arab?”. Namun, berdasarkan penelusuran Tempo di mesin pencarian Google, tidak ditemukan berita dari media kredibel yang memuat pernyataan Said Aqil mengenai klaim yang ada pada judul tersebut.
Blog Embarxi bukanlah situs media yang kredibel karena hanya mengambil konten dari situs media lain tanpa menyebutkan sumbernya. Selain itu, blog tersebut tidak mencantumkan penanggung jawab dan alamat perusahaan.
Berdasarkan penelusuran itu, Tempo juga menemukan berita asli yang dikutip oleh blog Embarxi. Berita itu dipublikasikan oleh situs Times Indonesia pada 17 Juli 2019. Isi artikel dalam blog Embarxi di atas sama dengan isi berita Times Indonesia tersebut. Namun, berita di Times Indonesia itu berjudul “KH Said Aqil Siradj: Negara China bukan Negara Komunis”.
Dalam berita ini, Said Aqil menyatakan bahwa tidak benar jika Cina adalah negara komunis. Wacana bahwa Cina adalah negara komunis, menurut Said Aqil, hanya bagian dari skenario politik beberapa kelompok yang ingin menjatuhkan pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Hal ini pun dianggap sebagai kasus yang wajar bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi di mana terdapat potensi adanya penggunaan agama dan keyakinan sebagai alat politik.
“Sudah tidak ada ateisme, komunisme, dan yang lainya, sudah tidak ada. Semua itu sudah menjadi kepentingan politik,” kata Said Aqil dalam acara bedah buku “Islam Indonesia dan China, Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok” di kantor PBNU, Jakarta Pusat. Setelah dibaca hingga selesai, tidak ada satu pun pernyataan Said Aqil bahwa “justru Arab Saudi yang komunis”, baik dalam berita di Times Indonesia maupun dalam artikel di blog Embarxi.
Kesimpulan
Hoaks lama beredar kembali. Klaim tersebut berasal dari situs berdomain Blogspot yang bukan merupakan media kredibel.
Rujukan
(GFD-2021-8615) Keliru, Klaim Ini Foto Puing-puing KRI Nanggala yang Berhasil Dievakuasi
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/05/2021
Berita
Foto yang memperlihatkan bangkai sebuah kapal selam yang baru diangkat ke permukaan beredar di internet. Pada bangkai kapal selam ini, terlihat di bagian atas kapal tulisan “402”, yang dilingkari merah. Foto tersebut dibagikan dengan narasi bahwa puing-puing KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan Bali pada 21 April 2021 lalu telah berhasil dievakuasi.
Selain memperlihatkan bangkai kapal selam, foto itu juga menunjukkan sejumlah wanita, yang salah satunya menangis. Ada pula dua wanita yang sedang berpelukan. Blog ini memuat foto itu dalam artikelnya pada 1 Mei 2021 yang berjudul “Tangisan Keluarga Korban Pecah, Tim Evakuasi Berhasil Angkat Puing Puing KRI Nanggala 402 Kepermukaan”.
Gambar tangkapan layar artikel terkait KRI Nanggala 402 di sebuah blog yang memuat foto hasil suntingan dari foto kapal selam milik Rusia, Kursk, yang hancur dalam sebuah ledakan besar pada 2000.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto itu dengan reverse image toolSource, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut adalah hasil suntingan dari foto bangkai kapal selam milik Rusia, K-141 Kursk, yang hancur dalam sebuah ledakan besar pada 12 Agustus 2000.
Foto yang dimuat oleh blog di atas merupakan thumbnail dari video yang pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Suara Hati Sang Istri pada 1 Mei 2021. Video ini berjudul “Tangisan Keluarga Korban Pecah, Tim Evakuasi Berhasil Angkat Puing Puing Nanggala 402 Kepermukaan”.
Dalam keterangan videonya, disebutkan bahwa tim evakuasi gabungan KRI Nanggala 402 telah berhasil menggangkat hidrofon milik kapal selam tersebut dengan Remotely Operated Vehicle (ROV) milik kapal penyelamat Singapura, MV Swift Rescue. Pemerintah pun memastikan akan terus melakukan evakuasi serpihan-serpihan dari KRI Nanggala.
Tempo kemudian menelusuri foto-foto dalam thumbnail video tersebut. Foto kapal selam yang terlihat dalam thumbnail video tersebut identik dengan foto yang pernah dimuat oleh situs berbahasa Rusia, Oir Mobi, dalam artikelnya pada 18 Februari 2020 yang berjudul "Kapal Selam Kursk". Namun, dalam foto ini, tidak terlihat tulisan “402” di bagian atas kapal.
Foto yang sama juga pernah dimuat oleh Tempo pada 24 April 2021 dalam artikelnya yang berjudul “6 Kecelakaan Kapal Selam Terburuk dalam Sejarah”. Berdasarkan arsip berita Tempo, kecelakaan Kursk dianggap sebagai salah satu bencana kapal selam terburuk yang dialami oleh Rusia. K-141 Kursk, kapal selam rudal bertenaga nuklir Project 949A Antey-class (Oscar II) dan berbobot 16 ribu ton, hancur dalam ledakan besar pada 12 Agustus 2000.
Ledakan itu menewaskan 118 awak kapal selam tersebut. Kapal selam Kursk tenggelam dalam gelaran latihan Angkatan Laut Armada Utara di Laut Barents. Dikutip dari Moscow Times, investigasi resmi menyimpulkan bahwa kegagalan salah satu torpedo berbahan bakar hidrogen peroksida Kursk yang memicu ledakan tersebut. Bencana kapal selam Kursk ini memicu berbagai kritik publik terhadap pemerintah Rusia dan Angkatan Laut.
Sementara foto yang memperlihatkan dua perempuan yang sedang berpelukan dalam thumbnail video tersebut merupakan foto saat Menteri Sosial Tri Rismaharini menemui keluarga awak KRI Nanggala 402 di Koarmada II Surabaya, Jawa Timur. Video yang menunjukkan momen tersebut pernah diunggah ke YouTube oleh kanal milik stasiun televisi Kompas TV pada 25 April 2021 dengan judul “Penuh Haru, Mensos Risma dan Menko PMK Temui Keluarga Awak KRI Nanggala 402”.
Barang yang ditemukan dari KRI Nanggala
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 24 April 2021, sejumlah barang telah ditemukan dari KRI Nanggala 402. Menyusul penemuan itu, kapal selam TNI Angkatan Laut tersebut dinyatakan berstatus subsunk atau tenggelam. “Barang-barang ini tidak dimiliki oleh umum dan dalam radius 10 mil tidak ada kapal lain yang melintas,” kata Kepala Staf TNI AL Laksamana Yudo Margono.
Menurut Yudo, sejumlah barang yang ditemukan di sekitar lokasi terakhir kapal selam itu terlihat adalah pelurus tabung torpedo, bagian pembungkus pipa pendingin, dan pelumas untuk periskop. Tim pencari gabungan juga menemukan alas yang biasa digunakan oleh awak kapal untuk melaksanakan salat atau sajadah dan spons untuk meredam panas di kapal selam.
Yudo mengatakan benda-benda tersebut bisa keluar dari dalam kapal selam, karena diduga terjadi keretakan pada kapal tersebut. "Ini tidak akan terangkat keluar kapal apabila tidak ada tekanan dari luar atau terjadi keretakan di peluncur torpedo,” ujar Yudo.
Dilansir dari Kompas TV, pada 27 April 2021, tim evakuasi KRI Nanggala 402 juga berhasil menggangkat hidrofon menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV) milik kapal penyelamat Singapura, MV Swift Rescue. Hidrofon atau alat perekam suara bawah air merupakan bagian penting dari sistem sonar. Hidrofon milik KRI Nanggala ini berfungsi untuk mendeteksi kapal selam atau kapal di permukaan.
Asisten Perencanaan dan Anggaran TNI AL Laksamana Muda Muhammad Ali menjelaskan, selain hidrofon, tim evakuasi juga telah menemukan lokasi torpedo KRI Nanggala. Menurut Ali, tim masih melakukan pengangkatan serpihan kecil dari KRI Nanggala menggunakan ROV. Sedangkan untuk bagian yang besar akan dikoordinasikan lebih lanjut, sebab daya angkut ROV hanya 150 kilogram.
Menurut arsip berita Tempo pada 4 Mei 2021, Ali menyatakan belum bisa memastikan sampai kapan proses evakuasi KRI Nanggala 402 akan berlangsung. Pasalnya, terdapat sejumlah kendala di lapangan, salah satunya terkait kondisi alam di sekitar karamnya kapal selam tersebut.
"Masalah batas waktu itu tidak bisa tentukan karena tergantung medan, situasi. Di mana di Laut Bali kita ketahui juga ada internal wave yang disampaikan beberapa waktu lalu kita sudah sampaikan," ujar Ali saat jumpa pers di RS TNI AL Dr. Mintohardjo, Jakarta, pada 4 Mei 2021.
Dia menambahkan, dalam melakukan evakuasi, tim juga sangat berhati-hati, apalagi diketahui masih ada torpedo aktif yang ikut tenggelam bersama kapal. "Jadi, kita harus benar-benar hati-hati dan harus sabar. Saya minta ke rekan-rekan media mohon sabar untuk bisa tunggu rekan-rekan kita. Kita juga siapkan KRI kita, ada KRI Rigel dan beberapa kapal lagi untuk pengamanan," tuturnya.
Saat ini, tim baru berhasil mengangkat bagian kecil dari KRI Nanggala-402. Menurut dia, untuk pengangkatan badan kapal memerlukan pengait untuk diikatkan ke KRI Nanggala yang tenggelam di dasar laut. "Untuk mengangkat memang agak susah mungkin, karena untuk menempelkan pengait dengan barang yang akan diangkat itu butuh tangan (untuk mengaitkan)," katanya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut adalah foto puing-puing KRI Nanggala 402 yang telah berhasil dievakuasi, keliru. Foto itu merupakan hasil suntingan dari foto bangkai kapal selam K-141 Kursk milik Rusia yang hancur dalam sebuah ledakan besar pada 12 Agustus 2000. Sejauh ini, tim evakuasi KRI Nanggala baru menemukan serpihan-serpihan dari kapal selam milik TNI AL tersebut, seperti pelurus tabung torpedo, bagian pembungkus pipa pendingin, pelumas untuk periskop, alas salat, spons peredam panas, serta hidrofon.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/kri-nanggala
- https://archive.ph/H1mBZ
- https://archive.ph/obC7Y
- https://oir.mobi/630229-podvodnaja-lodka-kursk.html
- https://dunia.tempo.co/read/1455795/6-kecelakaan-kapal-selam-terburuk-dalam-sejarah/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/kapal-selam
- https://www.youtube.com/watch?v=YWblOQol4-Q
- https://nasional.tempo.co/read/1456033/kri-nanggala-402-berstatus-subsunk-alas-salat-hingga-pelumas-periskop-ditemukan/full&view=ok
- https://www.kompas.tv/article/168739/hidrofon-kri-nanggala-402-sudah-diangkat-ke-permukaan-ini-fungsinya?page=2
- https://nasional.tempo.co/read/1459211/tni-al-sebut-evakuasi-kri-nanggala-402-hati-hati-karena-torpedo-masih-aktif/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/tni-al
Halaman: 6642/7954



