• (GFD-2021-8616) Keliru, Klaim Ini Foto Penumpang Lion Air dari Cina yang Diturunkan Tanpa Lewat Jalur Imigrasi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/05/2021

    Berita


    Klaim bahwa maskapai penerbangan Lion Air menurunkan penumpang dari Cina tanpa lewat jalur imigrasi beredar di Facebook. Klaim itu dilengkapi dengan foto yang memperlihatkan sekelompok orang berseragam krem, beberapa di antaranya membawa koper, di dalam gedung sebuah bandara.
    Akun ini membagikan klaim beserta foto tersebut pada 4 Mei 2021. Akun itu pun menulis, "Yg seperti ini kita mau percaya sama pemerintah!!! Tinggal nunggu hancur tanpa nama Republik Indonesia, di dukung Rusdi Kirana, Lion Wings Air, pesawat yg berani mnurunkn penumpang dari Cina, tanpa lewat jalur imigrasi, tp lewat penumpang dlm negeri."
    Narasi itu beredar di tengah kabar kemunculan maskapai baru Super Air Jet. Super Air Jet santer diisukan terafiliasi dengan Rusdi Kirana, bos maskapai Lion Air Group atau pendiri PT Lion Mentari Airlines. Saat ini, manajemen  sedang mengurus sertifikat operasi angkutan udara atauair operation certificate(AOC) di Kementerian Perhubungan.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait foto yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto tersebut pernah beredar sebelumnya, yakni pada Oktober 2020, dengan narasi yang berbeda. Dengan demikian, konteks foto tersebut tidak terkait dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini.
    Lewat pencarian denganreverse image tool Google, Tempo menemukan bahwa foto tersebut pernah viral di Twitter setelah diunggah oleh akun @BerisikEmak pada 1 Oktober 2020. Ketika itu, foto ini dilengkapi dengan narasi bahwa ada tentara berseragam yang datang ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
    Dikutip dari Detik.com, Manager Branch Communication Bandara Soekarno-Hatta, Haerul Anwar, mengatakan sekelompok pria berseragam krem itu adalah penumpang yang hendak terbang ke luar negeri, bukan baru tiba di Indonesia. Haerul mengkonfirmasi para penumpang itu adalah warga negara Cina. "Itu penumpang biasa yang mau berangkat ke luar," ujar Haerul.
    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandara Soetta Ajun Komisaris Alexander Yurikho juga menyatakan lokasi dalam foto itu bukan terminal kedatangan internasional, melainkan terminal keberangkatan internasional, tepatnya Terminal 3 Bandara Soetta. Dia juga memastikan bahwa seragam yang digunakan oleh para pria itu bukan seragam tentara, melainkan seragam pekerja tambang atau personel lapangan.
    Berita yang sama juga pernah dimuat oleh Liputan6.com pada 3 Oktober 2020. Alexander Yurikho mengatakan area yang terlihat dalam foto tersebut bukan area kedatangan melainkan keberangkatan internasional. Kemudian, seragam yang dikenakan para pria dalam foto itu bukan seragam tentara, melainkan seragam pekerja lapangan.
    Menurut arsip berita Tempo, Kepala Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta Romi Yudianto pun telah memastikan puluhan warga negara Cina dalam foto tersebut adalah para pekerja tambang. "Bukan tentara," ujar Romi saat dihubungi Tempo pada 3 Oktober 2020.
    Romi menjelaskan foto tersebut merupakan foto saat keberangkatan, bukan kedatangan. Meskipun begitu, dia tidak menjelaskan secara detail di mana puluhan warga negara Cina itu berasal. Dia juga tidak menyebut jadwal keberangkatan mereka di Bandara Soetta.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas menunjukkan penumpang Lion Air dari Cina yang diturunkan tanpa lewat jalur imigrasi, keliru. Foto ini pernah beredar pada Oktober 2020 dengan narasi yang berbeda. Ketika itu, pihak Imigrasi telah mengkonfirmasi bahwa foto itu adalah foto saat keberangkatan, bukan kedatangan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6880) [SALAH] Foto “Persiapan penutupan jalan tanggal 6 mei”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/05/2021

    Berita

    Beredar sebuah postingan pada akun facebook "Sampusevu Roa (ToKaili) Mpongei dengan Narasi yang dituliskan “Persipan penutupan jl tggl 6 mei”.

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan foto yang sudah beredar sebelumnya pada tahun lalu (2020) memanfaatkan momen berkaitan dengan pemberlakuan larangan mudik 2021, sehingga menimbulkan kesimpulan yang SALAH.

    Salah satu sumber foto yang identik, artikel periksa fakta turnbackhoax.id pada 2 Mei 2020.

    BRITO.ID pada 2 Mei 2020: “Masyarakat Kerinci dan Merangin, semalam dihebohkan dengan beredarnya foto di Media Sosial (Medsos) tentang pemblokiran jalan Merangin dan Kerinci. Foto yang diunggah oleh akun Afanin Fy tersebut menerangkan kalau Jalan Kerinci dan Merangin telah diblokir tepatnya di kawasan Bedeng 12. “Akses Kerinci Bangko sdh diblokir di bdg 12, semoga virus Covid-19 cepat berlalu,” tulis akun tersebut di Facebook. Namun hal ini dibantah langsung Kapolres Kerinci, AKBP Heru Ekwanto, yang memastikan postingan tersebut adalah Hoax.”

    KOMPAS.com pada 5 Mei 2021: “Larangan mudik Lebaran 2021 untuk menekan penyebaran virus corona mulai berlaku pada Kamis (6/5/2021). Pemerintah juga memberlakukan aturan tambahan berupa pengetatan perjalanan berlaku mulai 22 April-5 Mei dan 18-24 Mei 2021.

    Kesimpulan

    TIDAK berkaitan dengan larangan mudik 2021. FAKTANYA, foto yang dibagikan sudah beredar sebelumnya pada tahun lalu (2020). Hoaks yang sempat viral di daerah Kerinci dan Merangin yang setelah diperiksa langsung ke lapangan oleh aparat yang terkait terbukti SALAH.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6881) [SALAH] Akun Instagram Lowongan Kerja PT Pos Indonesia (Persero)

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 06/05/2021

    Berita

    Sebuah akun instagram bernama @posindonesia.career mengunggah info lowongan pekerjaan dengan 6 posisi yag dibutuhkan PT Pos Indonesia (Persero). akun tersebut juga membagikan link form registrasi yang harus diisi sebagai syarat untuk melamar.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, melalui akun instagram resminya (@posindonesia.ig) mengklarifikasi bahwa akun yang mengatasnamakan Pos Indonesia terkait rekrutmen tersebut adalah palsu.

    “Sahabat, mimin infokan dan ingatkan terus ya.. Pos Indonesia tidak membuka lowongan pekerjaan dan memungut biaya untuk menjadi karyawan. Dan akun resmi Pos Indonesia adalah @posindonesia.ig, Selalu confirmasi terlebih dahulu ke kantorpos terdekat di kota kamu ya, jangan sampai tertipu oleh akun akun palsu yang mengatasnamakan Pos Indonesia!Hati-hati, selalu waspada” tulis akun instagram @posindonesia.ig.

    Sementara itu, dilansir Detik, Senior Vice President Human Capital PT Pos Indonesia (Persero), Iwan Gunawan, memastikan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar. Ia menegaskan Pos Indonesia tidak membuat lowongan kerja seperti tertulis dalam surat palsu yang beredar di sosial media tersebut.

    “Informasi yang beredar di sejumlah akun sosial media bahwa PT Pos Indonesia (Persero) melakukan proses rekrutmen karyawan adalah tidak benar. Saat ini Pos Indonesia belum merilis informasi terkait proses rekrutmen,” jelas Iwan dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/5).

    Kesimpulan

    Lowongan kerja palsu. PT Pos Indonesia telah memberikan klarifikasi melalui akun instagram resminya dan menyatakan akun yang mengatasnamakan Pos Indonesia salah satunya @posindonesia.career adalah akun palsu.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8613) Sesat, Penyebab Krisis Oksigen di India Bukan Covid-19 Tapi Saluran Gas RS yang Bocor

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/05/2021

    Berita


    Klaim bahwa penyebab krisis oksigen di India adalah kebocoran saluran gas di rumah sakit, bukan lonjakan kasus Covid-19, beredar di Instagram. Klaim ini disertai dengan video berita dari situs media Kumparan yang berisi informasi bahwa terdapat sebuah rumah sakit di India yang mengalami kebocoran saluran oksigen di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di sana.
    Akun ini membagikan klaim beserta video tersebut pada 1 Mei 2021. Akun itu pun menuliskan narasi sebagai berikut: “Penyebab krisis oksigen di India bukan karena 'tsunami kopit', tapi adanya kebocoran saluran oksigen di rumah sakit India.” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 266 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim sesat terkait penyebab krisis oksigen di India.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, video dalam unggahan itu memang menunjukkan kebocoran tangki oksigen di sebuah rumah sakit di Nashik, Maharashtra, India, pada 21 April 2021. Namun, kebocoran tersebut muncul di tengah terjadinya krisis oksigen di India. Negara ini mengalami krisis oksigen karena dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19 sejak pertengahan April lalu.
    Terkait video kebocoran oksigen
    Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Selanjutnya, gambar-gambar tersebut ditelusuri denganreverse image toolGoole dan Yandex. Hasilnya, ditemukan video yang identik yang pernah dimuat oleh kanal YouTube milik media India, Hindustan Times, pada 21 April 2021. Video ini berjudul “Nashik: 22 patients die due to interrupted oxygen supply after tank leak at hospital”.
    Dalam keterangannya, Hindustan Times menulis bahwa sedikitnya 22 pasien meninggal akibat terputusnya pasokan oksigen di Rumah Sakit Zakir Hussain, rumah sakit umum untuk pasien Covid-19 di Kota Nashik, Negara Bagian Maharashtra, India. Menurut kolektor distrik, Suraj Mandhare, hal itu terjadi setelah adanya kebocoran dari pabrik penyimpanan oksigen.
    Peristiwa ini terjadi di tengah kekurangan oksigen yang akut di beberapa negara bagian di India. Petugas pun melakukan operasi penahanan kebocoran di lokasi. Kebocoran tersebut menyebabkan gas menyebar ke seluruh area di luar rumah sakit. Maharashtra merupakan salah satu negara bagian yang paling parah terkena Covid-19. Lebih dari 58.920 kasus baru dan 351 kematian dilaporkan per 21 April.
    Video yang sama juga pernah dimuat oleh kanal YouTube media Inggris, The Telegraph, pada 22 April 2021. Video itu berjudul “India: 'My mother died in agony' from Covid after an oxygen tank leak at hospital”. Video ini berkisah tentang seorang pasien Covid-19 yang meninggal akibat kebocoran oksigen di Rumah Sakit Zakir Hussain.
    Seorang administrator lokal di India barat mengatakan sebanyak 22 pasien meninggal di Rumah Sakit Zakir Hussain ketika pasokan oksigen mereka terganggu akibat kebocoran tangki. Putri dari salah satu pasien Covid-19 yang meninggal mengatakan bahwa ibunya telah berada di rumah sakit selama lima hari dan bahwa ia telah "pulih" dari Covid-19 ketika meninggal akibat kekurangan oksigen.
    "Tidak ada oksigen, dia meninggal kesakitan, dia kesulitan bernapas, dia meninggal. Semua orang di sana (di bangsal) meninggal," katanya. India menghadapi krisis kesehatan yang parah karena persediaan oksigen di rumah sakit menipis, seiring dengan lonjakan jumlah kasus Covid-19 baru yang kini memecahkan rekor dunia.
    Terkait krisis oksigen di India
    India mulai mengalami kekurangan tempat tidur dan oksigen untuk pasien Covid-19 pada pertengahan April 2021, ketika kasus infeksi virus Corona semakin melonjak. Menurut arsip berita Tempo pada 19 April, ibukota India, New Delhi, mencatat 25.500 kasus Covid-19 baru dalam periode 24 jam. Namun, kurang dari 100 tempat tidur untuk perawatan kritis tersedia di kota itu. Sementara jumlah kasus di seluruh India pada hari itu mencapai sekitar 233 ribu.
    Pada 1 Mei, India mencatatkan rekor tertinggi jumlah kasus Covid-19 dalam satu hari, yakni 401.993 kasus. Menurut arsip berita Tempo, krematorium di seluruh India dipenuhi dengan mayat. Pasien terengah-engah dan sekarat karena rumah sakit kehabisan oksigen. India telah melaporkan lebih dari 300 ribu kasus baru setiap harinya selama sembilan hari berturut-turut sejak 21 April sebelum mencapai angka 400 ribu.
    Per 4 Mei 2021, total kasus Covid-19 di India sejak awal pandemi menembus angka 20 juta. Jumlah ini membuat India menjadi negara kedua di dunia dengan kasus infeksi virus Corona terbanyak setelah Amerika Serikat. India mencatat 10 juta kasus tambahan dalam empat bulan terakhir. Namun, para pakar medis mengatakan angka sebenarnya di India bisa 5-10 kali lebih tinggi ketimbang yang dilaporkan.
    Dilansir dari media India, The Hindu, yang mengutip Reuters, Moloy Banerjee, direktur Linde Plc, produsen gas terbesar di India, mengatakan krisis pasokan oksigen medis yang parah di India diperkirakan akan mereda pada pertengahan Mei. Produksi diprediksi bakal meningkat sebesar 25 persen, dan infrastruktur transportasi siap untuk mengatasi lonjakan permintaan yang disebabkan oleh peningkatan dramatis kasus Covid-19.
    Menurut Banerjee, konsumsi oksigen medis di India telah melonjak lebih dari delapan kali lipat dari level biasanya menjadi sekitar 7.200 ton per hari pada April. "Inilah yang menyebabkan krisis, karena tidak ada yang siap untuk itu, terutama kurva yang tajam," kata Banerjee. "Harapan saya, pada pertengahan Mei, kami sudah pasti memiliki infrastruktur transportasi yang memungkinkan kami melayani permintaan ini di seluruh negeri," katanya.
    Perdana Menteri India Narendra Modi sendiri telah dikritik karena tidak bergerak lebih cepat dalam membatasi gelombang kedua Covid-19, dan karena membiarkan jutaan orang yang sebagian besar tidak bermasker menghadiri festival keagamaan atau kampanye politik selama Maret dan April. Permodelan pemerintah India menunjukkan kasus Covid-19 bisa mencapai puncaknya pada 5 Mei, beberapa hari lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa penyebab krisis oksigen di India adalah kebocoran saluran gas di rumah sakit, bukan lonjakan kasus Covid-19, menyesatkan. Kebocoran saluran oksigen memang terjadi di sebuah rumah sakit di Nashik, Maharashtra, India. Namun, kebocoran tersebut muncul di tengah terjadinya krisis oksigen di negara tersebut. India mengalami krisis oksigen karena dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19 sejak pertengahan April lalu. Pada 1 Mei, India mencatatkan rekor tertinggi jumlah kasus Covid-19 dalam satu hari, yakni 401.993 kasus.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan