“#Saya_dapat_kiriman_dari_teman_barangkali_ada_manfaatnya
Om, monggo dicoba
Kalo ada yg butuh cari donor plasma bisa hubungi
pak edy +62 813-3163-6515
Beliau kordinator survivor Covid di Sby. Beliau ada di semua group WA para survivor
Teman-teman
jika ada keluarga, teman atau komunitas yg
membutuhkan donor darah, terutama dalam keadaan emergency,
silakan hubungi :
HOTLINE BFL
[Blood for Life]
0811-9125-663
Mereka akan segera membantu melalui jejaring BFL yg terdiri
dari banyak pendonor sukarela yg tersebar di seluruh Indonesia.
Semoga bermanfaat dan dapat membantu.
👆🏻 Silahkan di save,
kami siap bantu kapanpun ada keluarga yg butuh darah,
ini gak ada biaya apapun,
ada 112 ribu standby donor di database kami yg siap bantu kapanpun ada keluarga atau kenalan yg butuh darah 😊
Salam
Blood For Life Indonesia”
(GFD-2021-7171) [SALAH] Pesan Berantai BFL (Blood For Life) Indonesia untuk Kebutuhan Donor Darah
Sumber: facebook.comTanggal publish: 30/06/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar informasi dari akun Facebook Denn Bei berisikan sebuah broadcast atau pesan berantai yang diklaim berasal dari BFL Indonesia untuk kebutuhan donor darah. Postingan tersebut disukai sebanyak 5 kali.
Berdasarkan dari akun resmi Twitter @Blood4LifeID, dijelaskan bahwa pesan berantai yang mengatasnamakan BFL Indonesia dengan narahubung Pak Edy adalah hoax dan BFL Indonesia tidak pernah membuat maupun membagikan pesan berantai tersebut. BFL Indonesia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membagikan informasi tersebut dan jika ingin dibantu untuk pendonor atau menjadi standby donor dapat dilihat pada link linktr.ee/donordarah.
Melihat dari penjelasan tersebut, pesan berantai tentang donor darah dari BFL Indonesia adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten Palsu/Fabricated Content.
Berdasarkan dari akun resmi Twitter @Blood4LifeID, dijelaskan bahwa pesan berantai yang mengatasnamakan BFL Indonesia dengan narahubung Pak Edy adalah hoax dan BFL Indonesia tidak pernah membuat maupun membagikan pesan berantai tersebut. BFL Indonesia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membagikan informasi tersebut dan jika ingin dibantu untuk pendonor atau menjadi standby donor dapat dilihat pada link linktr.ee/donordarah.
Melihat dari penjelasan tersebut, pesan berantai tentang donor darah dari BFL Indonesia adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten Palsu/Fabricated Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Informasi tersebut adalah palsu dan muncul berulang kali. Pesan berantai tersebut sudah diklarifikasi oleh akun Twitter resmi BFL Indonesia.
Informasi tersebut adalah palsu dan muncul berulang kali. Pesan berantai tersebut sudah diklarifikasi oleh akun Twitter resmi BFL Indonesia.
Rujukan
- https://twitter.com/Blood4LifeID/status/1350354091864711168
- https://blood4life.id/info
- https://turnbackhoax.id/2020/11/28/salah-pesan-berantai-donor-darah-gratis-oleh-blood-for-life-bfl-indonesia/
- https://turnbackhoax.id/2021/01/17/salah-pesan-berantai-info-donor-plasma-mengatasnamakan-blood-for-life-indonesia/
(GFD-2021-8688) Keliru, Klaim Obat Bius pada Penerima Vaksin Covid-19 Bisa Sebabkan Kematian
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 30/06/2021
Berita
Pesan berantai yang berisi klaim bahwa seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 dilarang menerima obat bius beredar di Facebook pada 18 Juni 2021. Apabila menerima obat bius setelah vaksin, menurut pesan berantai itu, seseorang dapat meninggal.
“Siapapun yang telah divaksinasi virus Corona, dilarang menggunakan segala jenis anestesi (bius), baik anestesi lokal maupun anestesi dokter gigi, karena hal ini dapat membahayakan nyawa orang yang divaksinasi sangat berbahaya,” demikian yang tertulis dalam pesan berantai ini.
Dalam pesan berantai tersebut, tertulis pula bahwa mereka yang akan menerima obat bius harus menunggu selama 4 minggu setelah sembuh dari infeksi Covid-19. Selain itu, dalam pesan berantai ini, disebutkan contoh seseorang yang meninggal karena mendapatkan obat bius setelah vaksin.
Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di Facebook yang berisi klaim keliru terkait obat bius dan vaksin Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim dalam pesan berantai tersebut tidak berdasarkan fakta-fakta yang ada. Seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap aman menerima obat bius. Tidak ada bukti bahwa menerima obat bius setelah menjalani vaksinasi Covid-19 bakal menyebabkan kematian.
Saat dihubungi pada 30 Juni 2021, Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tonang Dwi Ardyanto, mengatakan klaim tersebut tidak benar. “Secara teori juga tidak ada hubungannya antara pemberian vaksinasi dengan penggunaan obat anestesi, sepanjang itu memang atas indikasi, misalnya memang harus menjalani tindakan operatif,” katanya.
Berdasarkan penelusuran Tempo, pesan berantai yang sama juga beredar di luar negeri dalam bahasa Inggris, salah satunya di India. Pesan berantai itu pun telah diverifikasi oleh organisasi pemeriksa fakta kesehatan, Health Analytic Asia. Menurut Naveen Malhotra, profesor anestesiologi, semua klaim itu palsu. “Tidak ada bukti ilmiah untuk membuktikan ini. Semua jenis anestesi dapat diberikan dengan aman oleh ahli anestesi yang berkualifikasi setelah vaksinasi Covid-19,” ujarnya.
Indian Society of Anesthesiologists (ISA) juga telah membantah klaim tersebut dalam sebuah pernyataan pers, dan mengimbau masyarakat untuk mengabaikannya. “ISA mengimbau masyarakat umum untuk mengabaikan pernyataan palsu seperti itu dan menerima vaksinasi tanpa rasa takut," demikian penjelasan ISA.
Health Desk, situs pemeriksa fakta milik Meedan, organisasi nonprofit yang mendukung jurnalisme, pun menyatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa anestesi mengancam jiwa atau berbahaya untuk digunakan setelah mendapatkan vaksin Covid-19. Hingga kini, produsen vaksin tidak mengeluarkan label peringatan tentang bahaya penggunaan obat bius setelah vaksinasi Covid-19.
Menurut Health Desk, anestesi dapat membuat vaksin Covid-19 kurang efektif. Ini karena vaksin berinteraksi dengan sistem kekebalan, begitu juga anestesi, yang dapat mengganggu cara vaksin mengajarkan tubuh untuk melawan infeksi. American Society of Anesthesiologists pun merekomendasikan untuk menunggu setidaknya 2 minggu setelah penyuntikan dosis terakhir sebelum menjalani operasi dengan anestesi.
Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter, karena setiap kasus berbeda. "Yang terbaik adalah berbicara dengan dokter sebelum membuat keputusan tentang operasi dengan anestesi, atau minum obat penekan kekebalan atau terapi tambahan (bahkan obat penghilang rasa sakit dasar seperti ibuprofen). Menunda operasi atau perawatan yang tidak perlu dapat menimbulkan risiko tersendiri."
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pemberian obat bius pada penerima vaksin Covid-19 bisa menyebabkan kematian, keliru. Seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap aman menerima obat bius. Tidak ada bukti bahwa menerima obat bius setelah menerima vaksin Covid-19 bakal menyebabkan kematian.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/obat-bius
- https://archive.is/1sSef
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.tempo.co/tag/vaksinasi-covid-19
- https://www.ha-asia.com/false-post-about-the-use-of-anaesthesia-circulates-in-india-no-link-between-anesthesia-and-covid-19-jab/
- https://health-desk.org/articles/is-it-dangerous-to-take-anesthetics-after-getting-a-covid-19-vaccination
- https://www.tempo.co/tag/anestesi
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
(GFD-2021-7165) [SALAH] Foto Penemuan Kerangka Raksasa di dalam Gua tahun 2017
Sumber: twitter.comTanggal publish: 30/06/2021
Berita
“The skeleton of this giant was discovered in November 2017 in a cave in Krabi, Thailand. This was just made public a few months ago. The skeleton appeared to have been battling a large horned serpent upon death.
“Tengkorak raksasa ini ditemukan pada November 2017 di sebuah gua di Krabi, Thailand. Ini baru diumumkan beberapa bulan lalu. Tengkorak itu tampaknya telah melawan seekor ular bertanduk besar saat mati.”
“Tengkorak raksasa ini ditemukan pada November 2017 di sebuah gua di Krabi, Thailand. Ini baru diumumkan beberapa bulan lalu. Tengkorak itu tampaknya telah melawan seekor ular bertanduk besar saat mati.”
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter Curiosity (@SciencePorn1) mengunggah foto kerangka raksasa disertai dengan narasi yang menjelaskan bahwa tengkorak tersebut ditemukan pada November 2017 di sebuah gua di Krabi, Thailand. Unggahan tersebut telah mendapat atensi sebanyak 40 retweet, 159 suka, dan 14 balasan.
Berdasarkan hasil penelusuran, kerangka raksasa adalah hasil karya seniman Taiwan bernama Tu Wei-cheng yang terbuat dari plastik. Mengutip dari Taiwan Today, menurut Kementerian Kebudayaan Taiwan, karya dengan judul “Giant Ruins” itu menampilkan kerangka raksasa, ular, dan perahu berekor panjang. Selain itu, mengutip dari NSPP, karya milik Tu Wei-cheng itu ditampilkan dalam eksibisi Thailand Biennale di Goa Khao Khanab Nam, Krabi, Thailand sejak 2 November 2018 sampai dengan 28 Februari 2019.
Dari berbagai fakta di atas, unggahan akun Twitter Curiosity (@SciencePorn1) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah.
Berdasarkan hasil penelusuran, kerangka raksasa adalah hasil karya seniman Taiwan bernama Tu Wei-cheng yang terbuat dari plastik. Mengutip dari Taiwan Today, menurut Kementerian Kebudayaan Taiwan, karya dengan judul “Giant Ruins” itu menampilkan kerangka raksasa, ular, dan perahu berekor panjang. Selain itu, mengutip dari NSPP, karya milik Tu Wei-cheng itu ditampilkan dalam eksibisi Thailand Biennale di Goa Khao Khanab Nam, Krabi, Thailand sejak 2 November 2018 sampai dengan 28 Februari 2019.
Dari berbagai fakta di atas, unggahan akun Twitter Curiosity (@SciencePorn1) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)
Faktanya, kerangka tersebut hanyalah replika terbuat dari plastik yang merupakan hasil karya seniman Taiwan bernama Tu Wei-cheng dan ditampilkan dalam eksibisi Thailand Biennale di Krabi, Thailand tahun 2018.
Faktanya, kerangka tersebut hanyalah replika terbuat dari plastik yang merupakan hasil karya seniman Taiwan bernama Tu Wei-cheng dan ditampilkan dalam eksibisi Thailand Biennale di Krabi, Thailand tahun 2018.
Rujukan
(GFD-2021-7166) [SALAH] Video Perpisahan Tentara Irak dengan Keluarganya saat Melawan Daesh
Sumber: twitter.comTanggal publish: 30/06/2021
Berita
“An Iraqi soldier’s emotional farewell to his mother & family while fighting daesh ..”
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter KUNAL BISWAS (@Kunal_Biswas707) mengunggah video disertai dengan narasi yang menyebutkan video tersebut adalah perpisahan tentara Irak dengan ibu dan keluarganya saat perang melawan Daesh. Unggahan tersebut mendapatkan atensi sebanyak 55 retweet, 11 balasan, dan 186 suka.
Berdasarkan hasil penelusuran, video unggahan itu adalah potongan video dari film yang berdurasi 15 menit dan diunggah oleh aktor Menhel Abbas yang bermain dalam film tersebut melalui akun Instagram pribadinya (@menhelabbas) pada 7 Juni 2019. Diketahui film berjudul “Dialing” itu berkisah tentang seorang ibu yang tidak menerima kematian putranya. Film tersebut dirilis tahun 2015 dan ditayangkan dalam Dubai International Film Festival 2015.
Dari berbagai fakta di atas, unggahan akun Twitter KUNAL BISWAS (@Kunal_Biswas707) dikategorikan sebagai Konten yang Salah.
Berdasarkan hasil penelusuran, video unggahan itu adalah potongan video dari film yang berdurasi 15 menit dan diunggah oleh aktor Menhel Abbas yang bermain dalam film tersebut melalui akun Instagram pribadinya (@menhelabbas) pada 7 Juni 2019. Diketahui film berjudul “Dialing” itu berkisah tentang seorang ibu yang tidak menerima kematian putranya. Film tersebut dirilis tahun 2015 dan ditayangkan dalam Dubai International Film Festival 2015.
Dari berbagai fakta di atas, unggahan akun Twitter KUNAL BISWAS (@Kunal_Biswas707) dikategorikan sebagai Konten yang Salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)
Faktanya, video tersebut merupakan bagian dari film yang diunggah melalui akun Instagram aktor yang membintangi film tersebut, Menhel Abbas.
Faktanya, video tersebut merupakan bagian dari film yang diunggah melalui akun Instagram aktor yang membintangi film tersebut, Menhel Abbas.
Rujukan
Halaman: 6562/7963



