(GFD-2021-8760) Benar, Eropa Tambahkan Gangguan Saraf Langka Dalam Daftar Efek Samping Vaksin AstraZeneca
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 14/09/2021
Berita
Sebuah unggahan berisi klaim bahwa vaksin AstraZeneca memiliki efek samping baru beredar di media sosial. Unggahan tersebut dibagikan dengan narasi bahwa Otoritas Obat Eropa telah menambahkan daftar baru efek samping vaksin Astrazeneca yaitu Guillain Barre Syndrome atau gangguan kerusakan saraf langka.
Di Instagram, unggahan tersebut dibagikan akun ini pada 11 September 2021. berikut narasi lengkapnya:
“Eropa telah menambahkan daftar efek samping penggunaan vaksin AstraZeneca. Efek sampingnya adalah gangguan kerusakan saraf langka yaitu guillain barre syndrome (GBS). Berikut ini selengkapnya! Otoritas obat Eropa (EMA) menyebut ada hubungan kausal antara GBS dan suntikan vaksin AstraZeneca. Disebutkan bahwa sudah ada 833 kasus sindrom langka guillain barre syndrome dari 592 juta dosis vaksin AstraZeneca yang diberikan di seluruh dunia berdasarkan data 31 Juli 2021. Walau begitu, EMA sendiri mengklaim bahwa kasus GBS ini sebagai efek yang sangat jarang. Ini artinya manfaat vaksin itu sendiri lebih besar ketimbang efek sampingnya yang memang sangat jarang terjadi. Tak hanya EMA, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga mengatakan hal yang sama bisa terjadi jika menggunakan vaksin Johnson & Johnson. Pasalnya kedua vaksin tersebut memiliki teknologi yang sama yaitu vektor virus yang belakangan dikaitkan dengan efek samping pembekuan darah langka. Walau begitu, EMA dan juga FDA tetap mengklaim bahwa penggunaan vaksin lebih baik dan lebih banyak manfaatnya ketimbang tidak vaksin sama sekali.”
Dalam unggahan tersebut juga terdapat teks yang menyebutkan bahwa efek samping baru vaksin Astrazeneca. Eropa telah menambahkan daftar efek samping penggunaan vaksin AstraZeneca. Efek sampingnya adalah gangguan kerusakan saraf langka yaitu Guillain Barre Syndrome (GBS).
Apa benar Eropa telah menambahkan Gangguan Saraf Langka dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca?
Tangkapan layar unggahan dengan klaim gangguan saraf langka masuk dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media kredibel dengan menggunakan kata kunci “Efek samping baru vaksin AstraZeneca,” pada mesin pencari Google. Hasilnya, regulator obat-obatan Eropa (EMA) telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barré, sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca.
Dilansir dari situs World Health Organisation ( WHO ), pada 13 dan 20 Juli 2021, subkomite COVID-19 dari Komite Penasihat Global WHO untuk Keamanan Vaksin (GACVS) bertemu secara virtual untuk membahas laporan langka Sindrom Guillain-Barré (GBS) setelah vaksinasi dengan vaksin Janssen dan AstraZeneca COVID-19. Kedua vaksin menggunakan platform adenovirus sebagai tulang punggungnya.
Untuk Vaxzevria (vaksin AstraZeneca COVID-19 yang diproduksi di Eropa, Pharmacovigilance Risk Assessment Committee (PRAC) dan Badan Obat Eropa (EMA) mengeluarkan pernyataan pada 9 Juli yang merekomendasikan penambahan peringatan untuk meningkatkan kesadaran akan GBS setelah vaksinasi, meskipun mereka tidak dapat mengkonfirmasi atau mengesampingkan hubungan dengan vaksin.
Dilansir dari situs Ema, informasi produk akan diperbarui dengan sindrom Guillain-Barré (GBS) sebagai efek samping dari Vaxzevria. Nyeri pada kaki dan lengan atau perut dan gejala seperti influenza juga telah dimasukkan dalam informasi produk sebagai efek samping.
“Peringatan untuk meningkatkan kesadaran akan kasus sindrom Guillain-Barré (GBS) yang dilaporkan setelah vaksinasi disertakan dalam informasi produk Vaxzevria setelah PRAC pada Juli 2021,” dilansir dari Ema 22 Juli 2021.
GBS adalah peradangan saraf yang serius, yang dapat menyebabkan hilangnya perasaan dan gerakan sementara (kelumpuhan) dan kesulitan bernapas.
PRAC terus memantau GBS dan pada September 2021 menilai data tambahan yang diminta dari pemegang izin edar dan hasil dari tinjauan literatur ilmiah. Sebanyak 833 kasus GBS telah dilaporkan dengan Vaxzevria di seluruh dunia pada 31 Juli 2021, sementara sekitar 592 juta dosis Vaxzevria telah diberikan kepada orang-orang di seluruh dunia pada 25 Juli 2021.
Dilansir dari Reuters, regulator obat-obatan Eropa (EMA) telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barré, sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca.
Badan Obat Eropa mengatakan hubungan kausal antara GBS dan suntikan AstraZeneca, yang dikenal sebagai Vaxzevria, disebut sebagai “kemungkinan yang masuk akal" setelah 833 kasus GBS dilaporkan dari 592 juta dosis vaksin yang diberikan di seluruh dunia pada 31 Juli.
EMA mengkategorikan efek samping sebagai "sangat jarang", frekuensi terendah dari kategori efek samping yang dimilikinya, dan telah menekankan bahwa manfaat dari suntikan lebih besar daripada risikonya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah menambahkan peringatan tentang sindrom Guillain-Barré sebagai kemungkinan efek samping dari suntikan Johnson & Johnson (JNJ.N). Kedua vaksin menggunakan teknologi vektor virus, dan juga telah dikaitkan dengan pembekuan darah yang langka.
EMA juga menandai beberapa efek samping lain yang tidak terlalu parah pada vaksin dari Johnson & Johnson (JNJ.N), Moderna serta suntikan AstraZeneca.
Sindrom Sindrom Guillain-Barre bukan hal baru di dunia medis. Sejak satu abad lalu, sindrom Guillain Barré kerap dikaitkan dengan infeksi virus atau bakteri. Namun ini adalah penyakit autoimun yang tergolong langka.
"Benar (ini penyakit langka)," ungkap dokter kepala divisi saraf tepi RS PON Aldy Novriansyah kepada CNNIndonesia.com.
Sindrom Guillain-Barre adalah kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf. Sistem imunitas tubuh berbalik menyerang saraf dan mengakibatkan kelumpuhan. Kelemahan dan kesemutan pada bagian ekstremitas biasanya merupakan gejala pertama.
"(GBS) Itu suatu peradangan terjadi di akar saraf tulang belakang, mulai dari leher sampai tangan dan kaki. Utamanya di situ, tapi bisa juga meluas sampai ke saraf kranial," ungkapnya.
"Ini merupakan bagian dari autoimun. Jadi awalnya itu biasanya kebanyakan sebagian besar dari suatu proses infeksi apapun, tapi yang paling banyak infeksi pencernaan, jadi dari infeksi itu memicu timbulnya suatu antibodi. Hanya saja akhirnya pada beberapa orang tertentu antibodi yang malah menyerang saraf,” jelas Aldy.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Eropa telah menambahkan Gangguan Saraf Langka dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca benar. Namun, regulator obat-obatan Eropa (EMA) mengkategorikan efek samping tersebut sebagai "sangat jarang”. Merupakan frekuensi terendah dari kategori efek samping yang dimilikinya. EMA juga menekankan bahwa manfaat dari suntikan vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.instagram.com/p/CTqujoirNli/?utm_source=ig_embed&ig_rid=651eeddf-0dc4-4999-a587-a6d32a7f534c
- https://www.tempo.co/tag/astrazeneca
- https://www.kemkes.go.id/article/print/1628/guillain-barre-sindrom.html
- https://www.tempo.co/tag/who
- https://www.who.int/news/item/26-07-2021-statement-of-the-who-gacvs-covid-19-subcommittee-on-gbs
- https://www.ema.europa.eu/en/documents/covid-19-vaccine-safety-update/covid-19-vaccine-safety-update-vaxzevria-previously-covid-19-vaccine-astrazeneca-8-september-2021_en.pdf
- https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/eu-lists-rare-nerve-disorder-possible-side-effect-astrazeneca-covid-19-vaccine-2021-09-08/
- https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210910084607-255-692317/gangguan-saraf-langka-masuk-daftar-efek-samping-astrazeneca
(GFD-2021-7542) [SALAH] Terdapat Serpihan Emas di Gua Tao 8 Putri, Deli Serdang, Sumatera Utara
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 14/09/2021
Berita
“Di dalam goa ini terdapat banyak emas, tetapi tidak untuk diambil ya guys, konon katanya tempat ini masih sangat sacral.
Goa Tao 8 putri, Deli Serdang, Sumatera Utara
Video dolan dari @jejezhuangofficial”.
Goa Tao 8 putri, Deli Serdang, Sumatera Utara
Video dolan dari @jejezhuangofficial”.
Hasil Cek Fakta
Beberapa waktu lalu sempat beredar sebuah video yang menampilkan suasana sebuah gua yang bernama Gua Tao 8 Putri yang berada di Deli Serdang, Sumatera Utara. Dalam Video tersebut dinyatakan bahwa Gua Tao menyimpan serpihan emas di setiap batu yang ada di dalam gua tersebut.
Namun melansir dari kompas.com, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara, Gustam Lubis, mengatakan bahwa serpihan berwarna keemasan yang terlihat di dalam gua tersebut bukanlah emas tetapi mineral pirit yang keluar dari celah batu gamping yang mengelilingi dinding gua dan kerap kali disebut sebagai emas palsu karena warnanya kuning menyerupai emas. Dengan letak gua yang berada dekat dengan sumber air panas yang banyak mengandung sulfur itulah yang menyebabkan munculnya mineral pirit. Hal itu disebabkan mineral pirit terbentuk karena adanya reaksi antara unsur besi (Fe) dengan Sulfur (S) atau belerang sehingga menghasilkan warga kekuningan seperti emas. Sementara, emas sendiri memiliki kode unsur (Au).
Selain itu, melansir dari suarasumut.id, Camat STM Hulu, Budiman membenarkan bahwa gua tersebut berada di kecamatannya, tepatnya di lokasi wisata Danau Linting. Tetapi ia menegaskan bahwa serpihan kuning dan berkilau di gua itu bukanlah emas. Bahkan Budiman juga berpendapat bahwa jika benar gua tersebut memiliki emas yang banyak maka orang-orang pasti akan ramai datang ke gua tersebut, tetapi faktanya selama 2 tahun terakhir, tidak banyak orang yang datang untuk mengunjungi gua tersebut.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait terdapat serpihan emas di Gua Tao 8 Putri, Deli Serdang, Sumatera Utara ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.
Namun melansir dari kompas.com, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara, Gustam Lubis, mengatakan bahwa serpihan berwarna keemasan yang terlihat di dalam gua tersebut bukanlah emas tetapi mineral pirit yang keluar dari celah batu gamping yang mengelilingi dinding gua dan kerap kali disebut sebagai emas palsu karena warnanya kuning menyerupai emas. Dengan letak gua yang berada dekat dengan sumber air panas yang banyak mengandung sulfur itulah yang menyebabkan munculnya mineral pirit. Hal itu disebabkan mineral pirit terbentuk karena adanya reaksi antara unsur besi (Fe) dengan Sulfur (S) atau belerang sehingga menghasilkan warga kekuningan seperti emas. Sementara, emas sendiri memiliki kode unsur (Au).
Selain itu, melansir dari suarasumut.id, Camat STM Hulu, Budiman membenarkan bahwa gua tersebut berada di kecamatannya, tepatnya di lokasi wisata Danau Linting. Tetapi ia menegaskan bahwa serpihan kuning dan berkilau di gua itu bukanlah emas. Bahkan Budiman juga berpendapat bahwa jika benar gua tersebut memiliki emas yang banyak maka orang-orang pasti akan ramai datang ke gua tersebut, tetapi faktanya selama 2 tahun terakhir, tidak banyak orang yang datang untuk mengunjungi gua tersebut.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait terdapat serpihan emas di Gua Tao 8 Putri, Deli Serdang, Sumatera Utara ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta). Informasi tersebut salah. Faktanya, Camat STM Hulu dan Ketua Pengurus Daerah IAGI menegaskan bahwa serpihan kuning dan berkilau di gua itu bukanlah emas.
Rujukan
(GFD-2021-7543) [SALAH] Pesan WhatsApp Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika Memberi Sumbangan
Sumber: Whatsapp.comTanggal publish: 14/09/2021
Berita
“Assalamualaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh. Maaf apa benar ini dengan Sekolah Inklusi Sentra Salsabila. Anne Ratna Mustika. Maaf bu ini saya dan rekan-rekan kebetulan sedang ada rezeki lebih yang hendak di sedekahkan… Apa bisa saya minta nomor rekeningnya. Aamiin. Iya bu nanti kalau sudah di transfer saya kebari”.
Hasil Cek Fakta
Beberapa waktu lalu sempat beredar sebuah pesan personal yang mengatasnamakan Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika terkait pemberian sumbangan atau donasi kepada sekolah, yayasan, panti asuhan atau pesantren di wilayah Purwakarta. Dalam pesan tersebut pihak yang mengatasnamakan Anne Ratna Mustika meminta agar pihak yang sedang dihubungi tersebut mengirimkan nomor rekeningnya untuk keperluan pengiriman sumbangan atau donasi.
Namun melansir dari purwakartanews.pikiran-rakyat.com, dimintanya nomor rekening tersebut ditujukan untuk mengelabui pihak yang sedang dihubungi untuk nantinya dapat dimintai sejumlah uang oleh oknum yang mengatasnamakan Bupati Purwakarta.
Melansir dari purwakartanews.pikiran-rakyat.com, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menegaskan bahwa akun WhatsApp yang mengatasnamakan dirinya itu bukanlah akun WhatsApp miliknya serta mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati, karena bentuk penipuan seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi.
Selain itu, melansir dari akun Instagram resmi Bupati Purwakarta, yaitu @anneratna82. Ia juga megimbau kembali kepada seluruh masyarakat Purwakarta agar berhati-hati terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Serta menyarankan untuk segera melaporkan kepada pihak yang berwajib jika diantara masyarakat Purwakarta mendapatkan pesan yang mengatasnamakan dirinya dengan modus pemberian donasi atau sumbangan. Tidak hanya itu, Anne Ratna Mustika pula menegaskan bahwa ia akan segera melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian agar tidak terjadi lagi hal serupa di kemudian hari.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait pesan WhatsApp Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika memberi Sumbangan ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori imposter content.
Namun melansir dari purwakartanews.pikiran-rakyat.com, dimintanya nomor rekening tersebut ditujukan untuk mengelabui pihak yang sedang dihubungi untuk nantinya dapat dimintai sejumlah uang oleh oknum yang mengatasnamakan Bupati Purwakarta.
Melansir dari purwakartanews.pikiran-rakyat.com, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menegaskan bahwa akun WhatsApp yang mengatasnamakan dirinya itu bukanlah akun WhatsApp miliknya serta mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati, karena bentuk penipuan seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi.
Selain itu, melansir dari akun Instagram resmi Bupati Purwakarta, yaitu @anneratna82. Ia juga megimbau kembali kepada seluruh masyarakat Purwakarta agar berhati-hati terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Serta menyarankan untuk segera melaporkan kepada pihak yang berwajib jika diantara masyarakat Purwakarta mendapatkan pesan yang mengatasnamakan dirinya dengan modus pemberian donasi atau sumbangan. Tidak hanya itu, Anne Ratna Mustika pula menegaskan bahwa ia akan segera melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian agar tidak terjadi lagi hal serupa di kemudian hari.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait pesan WhatsApp Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika memberi Sumbangan ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori imposter content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Informasi tersebut salah. Faktanya melansir dari Purwakarta News, Anne Ratna menegaskan bahwa akun WhatsApp tersebut bukanlah miliknya.
Rujukan
(GFD-2021-7544) [SALAH] Artikel CNN dengan Judul “Healthy 40-year Old COVID Victim’s Last Words: I blame unvaccinated for this”
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 14/09/2021
Berita
“Say No More..”
“Healthy 40-year Old [sic] COVID Victim’s Last Words: “I blame unvaccinated for this.”
Terjemahan
“Tidak dapat berkata lagi..”
“Kata-Kata Terakhir Korban COVID berusia 40 tahun yang sehat: “Saya menyalahkan yang tidak divaksinasi untuk ini.”
“Healthy 40-year Old [sic] COVID Victim’s Last Words: “I blame unvaccinated for this.”
Terjemahan
“Tidak dapat berkata lagi..”
“Kata-Kata Terakhir Korban COVID berusia 40 tahun yang sehat: “Saya menyalahkan yang tidak divaksinasi untuk ini.”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah tangkapan layar artikel yang diklaim berasal dari CNN. Artikel tersebut membahas tentang pasien Covid-19 berusia 40 tahun yang telah divaksinasi. Judul artikel tersebut adalah “Healthy 40-year Old [sic] COVID Victim’s Last Words: “I blame unvaccinated for this.”.
Logo CNN muncul di sudut atas dengan gambar seorang wanita berbaring di ranjang rumah sakit.
Berdasarkan hasil penelusuran, artikel tersebut palsu. Dilansir dari Reuters, artikel itu dibuat-buat dan tidak muncul di situs web CNN. Seorang juru bicara CNN mengonfirmasi kepada Reuters bahwa artikel tersebut tidak dipublikasikan di situs CNN.
Gambar yang terkait dengan artikel tersebut juga bukan pasien Covid-19. Foto tersebut adalah seorang individu yang tampil di musim 9, epsiode 4 dari “My 600-lb Life” di jaringan TLC dan dimuat dalam artikel yang berjudul “What Happened To Cindy Vela From My 600-Lb Life?”
Dengan demikian, artikel CNN dengan judul “Healthy 40-year Old COVID Victim’s Last Words: I blame unvaccinated for this” adalah hoaks dengan kategori konten yang dimanipulasi.
Logo CNN muncul di sudut atas dengan gambar seorang wanita berbaring di ranjang rumah sakit.
Berdasarkan hasil penelusuran, artikel tersebut palsu. Dilansir dari Reuters, artikel itu dibuat-buat dan tidak muncul di situs web CNN. Seorang juru bicara CNN mengonfirmasi kepada Reuters bahwa artikel tersebut tidak dipublikasikan di situs CNN.
Gambar yang terkait dengan artikel tersebut juga bukan pasien Covid-19. Foto tersebut adalah seorang individu yang tampil di musim 9, epsiode 4 dari “My 600-lb Life” di jaringan TLC dan dimuat dalam artikel yang berjudul “What Happened To Cindy Vela From My 600-Lb Life?”
Dengan demikian, artikel CNN dengan judul “Healthy 40-year Old COVID Victim’s Last Words: I blame unvaccinated for this” adalah hoaks dengan kategori konten yang dimanipulasi.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul Syahida (Universitas Pendidikan Indonesia)
Artikel Palsu. Juru bicara CNN mengonfirmasi kepada Reteurs bahwa artikel tersebut tidak dipublikasikan di situs CNN.
Artikel Palsu. Juru bicara CNN mengonfirmasi kepada Reteurs bahwa artikel tersebut tidak dipublikasikan di situs CNN.
Rujukan
Halaman: 6464/7976



