• (GFD-2022-10438) Sebagian Benar, Video Perubahan Daging Setelah Digigit Manusia dan Komodo

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 09/08/2022

    Berita


    Sebuah akun Facebook mengunggah video yang menunjukkan dua potong daging diletakkan di atas piring secara terpisah. Masing-masing daging diberi keterangan Matt (kiri) dan Komodo (kanan).
    Pemisahan itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana perbedaan daging selama tiga hari pasca digigit manusia dan komodo.
    Berikut narasi lengkap keterangan video tersebut:
    Yang kiri adalah daging yang digigit manusia, yang kanan adalah daging yang digigit komodo. Bisa kita lihat mengapa air liur komodo sangat berbahaya karena bakterinya sangat ganas!
    Tangkapan layar video yang beredar di Facebook dengan narasi perbedaan kondisi daging bekas digigit manusia dan digigit komodo
    Sejak diunggah pada Kamis, 28 Juli 2022 pukul 12.48 WIB sudah ditanggapi 62 ribu kali, 39 kali tayang dan dikomentari dua ribuan netizen.

    Hasil Cek Fakta


    Video yang menampilkan dua daging itu merupakan kegiatan Raw Nature dari Animal Planet yang ingin mendemonstrasikan efek racun yang ada pada air liur komodo terhadap daging mentah.
    Tim itu mengunjungi Pulau Rinca, sebuah pulau kecil dekat Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim Cek Fakta Tempo awalnya menemukan kata kunci Animal Planet/YouTube. Setelah akun tersebut ditelusuri, didapatkan video berjudul Powerful Komodo Dragons Observed Hunting In The Wild yang diterbitkan pada 12 Mei 2019.
    Cuplikan tayangan Animal Planet, 12 Mei 2019. Kru Raw Nature terlihat sedang menggigit daging
    Potongan gambar yang ada di akun ini diambil dari YouTube Animal Planet yang ditampilkan mulai menit ke-5 hingga menit ke-7. Pada rentang waktu itu, salah satu kru Raw Nature terlihat sedang menggigit daging. Kemudian dia meletakkannya pada piring sebelah kiri.
    Lalu, dia menyuntikkan dan mengoleskan cairan yang diambil dari komodo ke daging mentah. Daging itu diletakkan di atas piring sebelah kanan. Jadi, daging mentah itu bukan digigit komodo sebagaimana yang dituliskan dalam keterangan video.
    Cuplikan tayangan Animal Planet, 12 Mei 2019. Kru Raw Nature terlihat menyuntikkan cairan yang diambil dari komodo ke dalam daging.
    Selanjutnya, pria tersebut meninggalkan lokasi ruangan selama tiga malam, namun di dekat kedua piring itu telah dipasang lampu penerangan dan kamera perekam.
    Pasca tiga malam, dia kembali melihat kedua daging. Ternyata terjadi pergantian bentuk. Daging yang disuntik cairan dari komodo terlihat hancur, sementara daging yang digigit kru tadi tidak banyak berubah.
    Cuplikan tayangan Animal Planet, 12 Mei 2019.
    Air Liur Komodo
    Dikutip dari Tempo, air liur komodo memiliki berbagai bakteri mematikan, yaitu terdapat 28 bakteri gram-negatif (escherichia coli) dan 19 bakteri gram-positif (patogen). Penelitian yang sudah diterbitkan di Journal of Wildlife Diseases ini juga menyebutkan, bakteri yang terisolasi dalam liur komodo ini menyebabkan septikemia, yakni kondisi peradangan serius akibat infeksi.
    Sebagian besar yang terkena gigitan komodo, baik manusia ataupun hewan akan mengalami infeksi selama satu atau dua hari atau bahkan dapat menyebabkan kematian.
    Infeksi di bagian tubuh manusia karena gigitan komodo akan mengalami kesakitan yang hebat sampai bagian siku, bengkak secara cepat dalam beberapa menit, dan bahkan mengalami gangguan pembekuan darah selama beberapa jam atau hari. Liur komodo pun bisa mematikan hewan.
    Ketika memangsa rusa, komodo dengan cepat menggigitnya. Sesaat setelah digigit, rusa berhasil kabur. Namun, komodo masih mengikuti jejaknya dengan kepekaan mencium bau darah rusa. Saat rusa sudah lemas dan tidak berdaya sekitar 2-3 hari, barulah komodo menyantap rusa dengan lahap.
    Komodo tidak seperti harimau yang langsung menyerang dan melahap seketika, tetapi melukai mangsa dan sabar menantinya sampai lemah.
    Senjata mematikan komodo: gigi, ekor, dan kuku
    Senjata mematikan lainnya adalah gigi, ekor, dan kuku. Mengutip dari Komodo Dragon: On Location, komodo memiliki gigi layaknya ikan hiu dengan panjang 2,5 sentimeter. Gigi komodo berbentuk segitiga, lancip, dan berukuran kecil yang berjumlah 60 buah.
    Dengan gigi dan cengkraman rahang yang kuat, komodo dapat melepaskan seluruh bagian badan mangsanya dan melahap nya sampai lumat. Gigi ini tidak untuk mengunyah, melainkan untuk menelan mangsanya secara langsung, seperti ular. Jika mangsanya terlalu keras untuk dilahap dan dicengkram, gigi komodo akan tanggal. Namun, dalam waktu 3 hari gigi akan tumbuh kembali.
    Ekor komodo yang memiliki sabetan sangat kuat untuk melawan mangsanya hingga lemah. Komodo yang memiliki panjangnya 3 meter dengan rata-rata berat mencapai 70 kilogram, ditambah kecepatan berlari dan kemampuan berenangnya, membuat sabetan ekor komodo tidak terkalahkan. Namun, biasanya komodo menggunakan ekornya ketika bertarung dengan komodo lainnya di musim kawin.
    Senjata kuku yang yang panjang dan tajam berjumlah masing-masing lima di kakinya dapat melukai kulit hewan lainnya sampai terlepas dari badannya. Kuku komodo digunakan dalam keadaan badan tegak atau setengah berdiri. Sama seperti ekor, biasanya komodo menggunakan kukunya untuk bertarung dengan komodo lainnya ketika musim kawin.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta, perubahan daging setelah digigit manusia dan komodo, sebagian benar. 
    Video tersebut diambil dari YouTube Animal Planet, namun daging yang berubah warna tersebut tidak digigit komodo, melainkan disuntik salah satu kru Raw Nature menggunakan cairan yang diambil dari mulut komodo.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10196) [SALAH] Anak anak tidak beresiko terhadap Covid-19

    Sumber: Twitter.com
    Tanggal publish: 09/08/2022

    Berita

    “Dr. Ryan Cole : Vaksin Covid tidak sekadar membuat anak anda mandul, tetapi juga merusak organ tubuhnya (jantung, hati, otak, kelenjar adrenal, limpa, sumsum tulang.
    Data statistik menunjukkan bhw anak2 sama sekali tidak beresiko terhdp covid”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah cuitan oleh akun @RENIEKA2012 dengan klaim bahwa Vaksin Covid-19 menyebabkan kemandulan dan merusak organ dalam anak anak. Cuitan tersebut juga membahas tentang data stastistik anak anak yang tidak punya risiko terhadap Covid-19.

    Setelah ditelusuri, Turnbackhoax.id ternyata pernah membahas tentang klaim vaksin Covid-19 yang mengakibatkan mandul pada tahun 2020 dengan judul “[SALAH] Vaksin Covid Sebabkan Mandul” dan “[SALAH] Ketua Tim Peneliti Pfizer: Vaksin Covid-19 Dapat Menyebabkan Kemandulan bagi Perempuan”. Kedua artikel tersebut menyatakan bahwa belum ada identifikasi masalah kesehatan terkait hormon yang dilaporkan dari uji klinis vaksin COVID yang sedang berlangsung. Beberapa ahli juga menegaskan bahwa tidak ada bukti terkait vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan bagi perempuan.

    Dikutip dari Katadata.co.id Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan agar setiap orang di atas lima tahun mendapatkan vaksin Covid-19. CDC juga menekankan bahwa vaksinasi Covid-19 aman dan efektif, termasuk untuk anak-anak dan remaja. Klaim vaksin Covid-19 menyebabkan kerusakan pada organ tubuh anak-anak secara permanen adalah keliru. Para ahli mengatakan sama sekali tidak ada bukti yang membenarkan klaim tersebut.

    Mengutip cnbcindonesia.com Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan dokter spesialis anak, Prof. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, mengatakan bahwa menurut referensi Journal of the Royal Society Interface, risiko anak untuk terinfeksi dan sakit akibat Covid-19 sangat rendah. Namun Hasil studi yang dilakukan tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menyatakan bahwa 40% pasien anak yang terinfeksi Covid-19 berisiko tinggi mengalami kematian. Kalaupun tertular, tidak bergejala ataupun pada umumnya ringan. Meski begitu, Prof. Cissy mengatakan pula bahwa tidak menutup kemungkinan pasien anak memiliki bergejala berat, masuk ICU, hingga sampai meninggal dunia akibat Covid-19.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Riza Dwi (Anggota Tim Kalimasada)

    Hasil studi yang dilakukan tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menyatakan bahwa 40% pasien anak yang terinfeksi Covid-19 berisiko tinggi mengalami kematian.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10197) [SALAH] Judul Artikel The Journal tentang Cacar Monyet yang Dapat Hidup Selama 120 Tahun dan Menular kepada Orang dalam Jarak 5 Mil

    Sumber: Twitter.com
    Tanggal publish: 09/08/2022

    Berita

    (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)

    “Cacar Monyet dapat hidup di gagang pintu dan tempat duduk toilet selama 120 tahun dan dapat menular ke orang yang berada di jarak 5 mil.”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Twitter dengan nama pengguna “Immasayitlikeso” pada 25 Juli 2022 mengunggah sebuah foto hasil tangkapan layar yang menunjukkan artikel dari The Journal yang berjudul “Monkeypox can live on door handles and toilet seats for 120 years and can infect anyone from 5 miles away”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, judul artikel tersebut menyatakan bahwa Cacar Monyet yang dapat hidup selama 120 tahun dan menular kepada orang dalam jarak 5 mil atau 8 kilometer.

    Berdasarkan hasil penelusuran, judul artikel tersebut bukan merupakan judul artikel asli. Melansir dari AP News, Asisten Direktor Berita di The Journal, Stephen McDermott menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengunggah artikel dengan judul tersebut.

    Lebih lanjut, artikel dengan foto serupa diunggah pada 23 Juli 2022 dengan judul “Monkeypox declared global health emergency by World Health Organization”.

    Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter dengan nama pengguna “Immasayitlikeso” tersebut dapat dikategorikan sebagai Parodi/Satire.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa A.

    Bukan judul artikel asli. Faktanya, situs The Journal tidak pernah mengunggah artikel dengan judul tersebut. Artikel dengan foto serupa diunggah pada 23 Juli 2022 dengan judul “Monkeypox declared global health emergency by World Health Organization”.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10198) [SALAH] Video Burung Garuda di Gunung Penanggungan, Jawa Timur

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 09/08/2022

    Berita

    “Anda Beruntung Bisa Melihat Walau Cuma Video Dan Simpan Utk Dokomentasi Ya, Karena Burung Garuda Yg Lambang Negara Ini Sangat Langka Dan Semua Org Menganggap Mitos Tidak Ada Burung Yg Suka Melebarkan Sayapnya 24 Jam Sangat Gagah Ditakuti Semua Burung Di Dunia Ini Rajanya Burung.

    Ternyata Burung Garuda Bukan Hanya Mitos Atau Dongeng. Dalam Cerita Ramayana Dia Adalah Jatayu. Burung Yang Sangat Jarang Menampakan Dirinya. Tapi Baru² Ini Garuda Telah Menampakan Dirinya Di Daerah Hutan Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Burung Yg Sayapnya Luar Biasa Lebar Dan Indah Sekali. Mudah² an Dengan Kemunculan Burung Ini Pentanda Negara Republik Indonedia Tetap Kuat Jaya Khususnya Saudar² Ku Yg Terima Video Ini Sehat Panjang Umur Dan Penuh Berkah Bahagia Sekeluarga 🙏🙏🙏”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah video di WhatsApp yang menunjukkan seekor burung yang tengah bersiap untuk terbang dari pinggir tebing. Video tersebut disertai dengan narasi yang menyatakan bahwa burung dalam video tersebut adalah burung garuda yang terlihat di daerah hutan Gunung Penanggungan, Jawa Timur.

    Berdasarkan hasil penelusuran, burung dalam video tersebut bukan burung garuda. Video tersebut merupakan video seekor burung Andean condor yang baru dikembalikan ke alam liar dari penangkaran di Catamarca, Argentina.

    Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Silvana V Andrade” (https://www.facebook.com/silvana.v.andrade/). Silvana sendiri merupakan pendiri ANDA, sebuah organisasi pencinta hewan di Argentina.

    Dengan demikian, narasi yang beredar melalui WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa A.

    Bukan burung garuda. Faktanya, video tersebut merupakan video seekor burung Andean condor yang baru dikembalikan ke alam liar dari penangkaran di Catamarca, Argentina.

    Rujukan