(GFD-2022-10663) [SALAH] “Akun Facebook Inul Daratista”
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 11/10/2022
Berita
Beredar video siaranb langsung dari akun Facebook ˡ̲ᶦ̲ᵛ̲ᵉ̲ ̲I̲n̲u̲l̲ ̲D̲a̲r̲a̲t̲i̲s̲t̲a̲ (fb.com/100086263587937) pada 10 Oktober 2022 dengan narasi “Y̲A̲N̲G̲ ̲B̲I̲S̲A̲ ̲M̲E̲N̲E̲B̲A̲K̲ ̲D̲E̲N̲G̲A̲N̲ ̲B̲E̲N̲A̲R̲ ̲LUKA ̲Y̲G̲ ̲A̲D̲A̲ ̲D̲I̲ ̲G̲A̲M̲B̲A̲R̲ ̲A̲K̲A̲N̲ ̲S̲A̲Y̲A̲ ̲T̲R̲A̲N̲S̲F̲E̲R̲ ̲UANG TUNAI.̲ 35 JUTA RUPIAH”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya akun Facebook yang mengatasnamakan Inul Daratista merupakan konten palsu.
Faktanya akun itu merupakan akun palsu. Inul Daratista tidak pernah membuat giveaway di Facebook dan tidak pernah mempunyai akun Facebook.
Inul Daratista tidak pernah membuat giveaway di Facebook dan tidak pernah mempunyai akun Facebook.
“Management Inul dan bu Inul tidak main Facebook dan tidak buat giveaway,” kata Inul saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (9/4/2020).
Faktanya akun itu merupakan akun palsu. Inul Daratista tidak pernah membuat giveaway di Facebook dan tidak pernah mempunyai akun Facebook.
Inul Daratista tidak pernah membuat giveaway di Facebook dan tidak pernah mempunyai akun Facebook.
“Management Inul dan bu Inul tidak main Facebook dan tidak buat giveaway,” kata Inul saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (9/4/2020).
Kesimpulan
Akun palsu. Inul Daratista tidak pernah membuat giveaway di Facebook dan tidak pernah mempunyai akun Facebook.
Rujukan
(GFD-2022-10713) Cek Fakta: Tidak Benar Pertalite yang Dijual Pertamina Berkadar RON 86
Sumber: liputan6.comTanggal publish: 11/10/2022
Berita
Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim BBM jenis Pertalite yang dijual Pertamina berkadar RON 86 bukan 90. Kabar tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 8 Oktober 2022.
Unggahan klaim Pertalite yang dijual Pertamina berkadar RON 86 tersebut berupa foto cairan dalam botol bening yang dimasukan sebuah alat bertuliskan "86".
Unggahan tersebut diberi keterangan sebagai berikut.
"Setelah Harganya naik menjadi Rp 10 ribu per liter, pertamina Pertalite di hujani komentar miring yang mengatakan cepat menguap dan lebih boros.
Bahkan ada yang mencoba dengan alat tes RON meter dan hasilnya adalah RON 86 yang seharusnya Pertalite RON 90..
Sumber: wkwklandupdate
#Pertalite
#Pertamina
#Viralnews"
Benarkah klaim Pertalite yang dijual Pertamina berkadar RON 86? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim Pertalite yang dijual Pertamina berkadar RON 86. Dalam artikel berjudul "RON Pertalite Disebut Tak Sesuai, Begini Temuan dan Hasil Uji Lemigas" yang dimuat situs Liputan6.com, pada 11 Oktober 2022, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting membantah mentah-mentah klaim kadar RON pada Pertalite hanya 86.
Dirinya memastikan bila Pertalite memiliki RON 90 sesuai dengan klaim ke konsumen dan meragukan indikator oktan tersebut sebagai alat yang valid dan sesuai spesifikasi.
"Pertamina tidak dapat memastikan alat yang digunakan dalam pengujian RON. Bila alat yang digunakan tersebut adalah Octane Analyzer Portable, maka alat tersebut juga harus terbukti sudah terkalibrasi menggunakan certified reference material secara berkala," jelas Irto dalam keterangan tertulisnya.
Lebih lanjut, menurutnya, alat pengujian RON yang benar-benar akurat harus mengacu pada metode standar seperti ASTM RON method. Lewat metode ini seluruh aktivitas pengujian bisa divalidasi dan perangkat yang digunakan selalu dikalibrasi.
Pemerintah lewat Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) melakukan pengujian secara teknis menyoal standar dan mutu dari BBM jenis Pertalite yang diduga menjadi boros dan tak sesuai RON yang diklaim.
Sampel BBM jenis Pertalite diambil langsung oleh tim Lemigas pada beberapa SPBU di Jakarta, yakni SPBU Lenteng Agung, Taman Mini (2 SPBU), Abdul Muis, Sunter, dan S. Parman.
Sampel tersebut kemudian diuji di Balai Besar Pengujian Migas Lemigas Direktorat Jenderal Migas dengan prosedur dan standar pengujian yang baku untuk 19 parameter uji.
Dari pengujian sampel BBM Pertalite di 6 SPBU tadi, hasilnya diklaim Lemigas telah memenuhi standar dan mutu (spesifikasi) BBM jenis bensin RON 90 yang dipasarkan di dalam negeri sebagaimana Keputusan Dirjen Migas No. 0486.K/10/DJM.S/2017.
"Dengan ini tidak terindikasi adanya batasan mutu off-spec. Semuanya on-spec," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji dikutip dari situs resmi Lemigas.esdm, Senin (10/10/2022).
Kesimpulan
Hasil penelusuran Cek Fakta Liuputan6.com, klaim Pertalite yang dijual Pertamina berkadar RON 86 tidak benar.
Dari pengujian sampel BBM Pertalite di 6 SPBU tadi, hasilnya diklaim Lemigas telah memenuhi standar dan mutu (spesifikasi) BBM jenis bensin RON 90 yang dipasarkan di dalam negeri sebagaimana Keputusan Dirjen Migas No. 0486.K/10/DJM.S/2017.
(GFD-2022-10714) Cek Fakta: Klarifikasi Siswa Rohkris SMAN 2 Depok Alami Diskriminasi
Sumber: liputan6.comTanggal publish: 11/10/2022
Berita
Liputan6.com, Jakarta Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim pihak siswa Rohani Kristen (Rohkris) SMAN 2 Depok alami diskriminasi. Kabar tersebut diunggah salah satu akun Twitter, pada 7 Oktober 2022.
Unggahan tersebut berupa tulisan sebagai berikut.
"Alami Diskriminasi, Siswa Rohkris SMAN 2 Depok Tak Boleh Pakai Ruang Kelas https://liranews.com/alami-diskriminasi-siswa-rohkris-sman-2-depok-tak-boleh-pakai-ruang-kelas/
Ini terjadi di SMA Negeri, sekolah dibawah naungan pemerintah NKRI"
Benarkah klaim siswa Rohkris SMAN 2 Depok alami diskriminasi? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com klaim siswa Rohkris SMAN 2 Depok alami diskriminasi, dalam artikel berjudul "Klarifikasi SMAN 2 Depok Terkait Viral Isu Diskriminasi Siswa Rohkris" yang dimuat situs liputan6.com, pada 8 Oktober 2022, Kepala SMA Negeri 2 Depok, Wawan Ridwan mengatakan, tidak ada perlakuan diskriminasi yang dilakukan SMAN 2 Depok kepada siswanya, khususnya siswa Rohkris untuk melakukan doa bersama.
Terkait foto yang beredar, Wawan menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan siswa Rohkris yang sedang menunggu ruangan multimedia dibuka oleh penjaga sekolah.
"Kejadian itu terjadi pada Jumat Minggu lalu, tidak ada diskriminasi. Foto yang tersebar itu tidak benar kalau ada perlakuan diskriminasi," ujar Wawan saat ditemui Liputan6.com, Jumat (7/10/2022).
Menurut Wawan, telah terjadi miss komunikasi antara guru pengajar Rohkris sehingga terjadi narasi dan pemberitaan tidak benar.
Dia menjelaskan, pada Kamis, 29 September lalu, sekolah mendapatkan kiriman seragam untuk siswa kelas X dan disimpan di ruang multimedia bawah.
"Dikarenakan masih ada seragam sekolah, akhirnya siswa Rohkris menggunakan ruangan multimedia yang berada di lantai 1," jelas Wawan.
Saat siswa Rohkris menuju ruangan multimedia yang berada di lantai 1, ternyata ruangan tersebut masih terkunci. Kemudian penjaga sekolah diminta membuka ruangan multimedia yang akan digunakan siswa Rohkris. Setelah dibuka siswa Rohkris baru dapat menggunakan ruangan tersebut.
"Kalau di kami kan setiap akan memulai pembelajar akan ada pembinaan karakter. Kalau muslim membaca Al-Qur'an sedangkan siswa Kristen doa bersama atau teduh pagi," ucap Wawan.
Wawan menuturkan, atas kejadian tersebut guru pengajar pada siswa Rohkris sudah dimintai klarifikasi dan keterangan. Bahkan sejumlah institusi mulai dari DPRD Kota Depok, KCD Provinsi Jawa Barat, Kementerian Agama, dan Itjen Kemendikbud Ristek melakukan klarifikasi.
"Sekolah sudah memberikan klarifikasi dan guru yang bersangkutan sudah memberikan klarifikasi. Bahkan guru tersebut sudah membuat surat pernyataan," tutur Wawan.
Wawan menambahkan, foto yang beredar diambil oleh guru rohkris, kemudian disebar ke group alumni SMA Negeri 2 Depok, bukan ke group guru atau tenaga pendidik SMAN 2 Depok.
Akibatnya, terjadi kesalahpahaman antara situasi yang terjadi di sekolah dengan foto yang tersebar sehingga menjadi viral.
"Guru itu juga yang menyebar. Yang sangat disayangkan kenapa narasi perlakukan diskriminasi, padahal ruangan itu akan dibuka oleh penjaga sekolah," pungkas Wawan.
Kesimpulan
Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, berdasarkan klarifikasi foto tersebut merupakan siswa Rohkris yang sedang menunggu ruangan multimedia dibuka oleh penjaga sekolah.
(GFD-2022-10646) [SALAH] Virus Covid-19 memiliki Motif Antibody Dependent Enhancement (ADE)
Sumber: Twitter.comTanggal publish: 10/10/2022
Berita
“Awal² vaksin datang dulu kan sudah di ingatkan Prof. dr Nidhom (Unair). Beliau juga seorang peneliti.”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah cuitan dari akun @GrangerKeren dengan menyertakan foto yang berisikan klaim bahwa vaksin Covid-19 memiliki motif Antibody Dependent Enhancement (ADE).
Turnbackhoax.id juga pernah membahas klaim yang sama dengan judul “[SALAH] Video “Potensi Bahaya Vaksin COVID-19” yang diunggah pada 17 Juli 2021. Artikel itu menjelaskan bahwa isu tersebut sudah pernah diklarifikasi dan disebarkan kembali, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, dengan tegas membantah isu virus Covid-19 memiliki Antibody Dependent Enhancement (ADE). Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung Antibody Dependent Enhancement (ADE). Sebelumnya, klaim yang sama juga pernah diperiksa faktanya di artikel berjudul “[SALAH] Tangkapan Layar Video CNN Memberitakan Rakyat akan dibunuh oleh Vaksin dari Tiongkok” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 21 Januari 2021 dan “[SALAH] Pesan Berantai Video “Potensi Bahaya Vaksin COVID-19” yang tebit di situs turnbackhoax.id pada 7 Maret 2021.
Dikutip dari artikel news.detik.com berjudul “Fenomena ADE Tak Ada di Vaksin COVID-19, Guru Besar Unpad Ingatkan Waspada” yang diunggah pada 06 Oktober 2020, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K), M.M. mengatakan bahwa “Dalam uji klinis saat ini, tidak ditemukan adanya efek samping serius yang disebabkan oleh vaksin maupun vaksinasi, termasuk pada uji klinis fase 1 dan 2 sebelumnya. Kusnadi menambahkan dalam penelitian vaksin COVID-19 yang dilakukan di dunia, saat ini lebih dari 140 calon vaksin sudah dibuat, sebagian di antaranya sudah dalam tahap uji klinis pada manusia.”
Berdasarkan penjelasan di atas, klaim virus Covid-19 memiliki Motif Antibody Dependent Enhancement (ADE) adalah keliru dan termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Turnbackhoax.id juga pernah membahas klaim yang sama dengan judul “[SALAH] Video “Potensi Bahaya Vaksin COVID-19” yang diunggah pada 17 Juli 2021. Artikel itu menjelaskan bahwa isu tersebut sudah pernah diklarifikasi dan disebarkan kembali, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, dengan tegas membantah isu virus Covid-19 memiliki Antibody Dependent Enhancement (ADE). Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung Antibody Dependent Enhancement (ADE). Sebelumnya, klaim yang sama juga pernah diperiksa faktanya di artikel berjudul “[SALAH] Tangkapan Layar Video CNN Memberitakan Rakyat akan dibunuh oleh Vaksin dari Tiongkok” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 21 Januari 2021 dan “[SALAH] Pesan Berantai Video “Potensi Bahaya Vaksin COVID-19” yang tebit di situs turnbackhoax.id pada 7 Maret 2021.
Dikutip dari artikel news.detik.com berjudul “Fenomena ADE Tak Ada di Vaksin COVID-19, Guru Besar Unpad Ingatkan Waspada” yang diunggah pada 06 Oktober 2020, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K), M.M. mengatakan bahwa “Dalam uji klinis saat ini, tidak ditemukan adanya efek samping serius yang disebabkan oleh vaksin maupun vaksinasi, termasuk pada uji klinis fase 1 dan 2 sebelumnya. Kusnadi menambahkan dalam penelitian vaksin COVID-19 yang dilakukan di dunia, saat ini lebih dari 140 calon vaksin sudah dibuat, sebagian di antaranya sudah dalam tahap uji klinis pada manusia.”
Berdasarkan penjelasan di atas, klaim virus Covid-19 memiliki Motif Antibody Dependent Enhancement (ADE) adalah keliru dan termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Riza Dwi (Anggota Tim Kalimasada)
Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, dengan tegas membantah isu tersebut. Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung Antibody Dependent Enhancement (ADE).
Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, dengan tegas membantah isu tersebut. Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung Antibody Dependent Enhancement (ADE).
Rujukan
Halaman: 6018/8123

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4187628/original/073436800_1665470933-pertalite_86.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4187993/original/042250300_1665485771-diskriminasi.jpg)
