• (GFD-2022-10834) [SALAH] Majalah Italia pada 1962 Memprediksi Bagaimana Dunia Akan Terlihat pada 2022

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 27/10/2022

    Berita

    Akun Twitter @historyinmemes (Historic Vids) menulis cuitan dan mengunggah gambar yang memperlihatkan orang-orang berkendara dan berjalan di dalam tabung. Gambar tersebut diklaim sebagai prediksi bagaimana dunia akan terlihat pada 2022, dan hal tersebut disangkut-pautkan dengan keadaan pandemi yang terjadi saat ini.

    Cuitan dan gambar yang diunggah pada 19 Oktober tersebut telah disukai sebanyak 214,000 kali, serta telah dibagikan dan dikutip ulang hampir 25,000 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut menyesatkan. Gambar tersebut dibuat oleh pelukis Italia, Walter Milano pada 1962, dan diterbitkan oleh salah satu majalah di Italia di tahun yang sama. Blog bernama Plurale mengunggah kembali artikel yang dimaksud.

    Pada artikel asli, foto tersebut menjelaskan prediksi Walter Milano mengenai kendaraan di masa depan. Artikel tersebut menjelaskan bahwa “la singoletta” bisa menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan.

    Selain itu, situs turnbackhoax.id juga telah membahas informasi serupa dengan judul “[SALAH] “majalah Italia tahun 1962 menggambarkan yang akan terjadi pada 2022” dan dikategorikan sebagai konteks yang salah.

    Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan @historyinmemes merupakan konten parodi.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Evarizma Zahra.

    Informasi yang salah. Gambar tersebut memang dibuat oleh pelukis Italia, Walter Molino, pada 1962, namun bukan merupakan prediksi bagaimana dunia akan terlihat pada 2022. Judul asli dari artikel tersebut adalah “la singoletta”, atau prediksi Molino tentang kendaraan yang dikendarai oleh satu orang di masa depan.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10835) [SALAH] Video “masyarakat Bali bersuka cita menyambut kedatangan Anis di Bali”

    Sumber: TikTok.com
    Tanggal publish: 27/10/2022

    Berita

    Akun TikTok dengan nama pengguna “azissyaifudin111” mengunggah sebuah video yang menunjukkan banyak orang tengah melakukan suatu upacara. Unggahan tersebut juga disertai narasi yang menyatakan bahwa upacara tersebut merupakan upacara penyambutan Anies Baswedan yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video penyambutan Anies Baswedan. Video tersebut merupakan video upacara Ngaben atau pembakaran jenazah yang dilakukan oleh umat Hindu.

    Upacara yang dilakukan dalam potongan video tersebut serupa dengan beberapa video upacara Ngaben, salah satunya adalah video berjudul “NGABEN TERBESAR DI LAMPUNG” yang diunggah oleh kanal YouTube “Krisna Aditya” pada 3 Agustus 2018.

    Lebih lanjut, dalam potongan video di TikTok, terdapat beberapa pria yang mengenakan baju hitam bertuliskan “Pitra Yadnya” di bagian punggung. Pitra Yadnya sendiri merupakan rangkaian upacara memuliakan leluhur yang dilakukan oleh umat Hindu. Adapun salah satu proses dalam upacara Pitra Yadnya adalah Ngaben.

    Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun TikTok dengan nama pengguna “azissyaifudin111” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa A.

    Bukan video penyambutan Anies Baswedan. Faktanya, video tersebut merupakan video upacara Ngaben atau pembakaran jenazah yang dilakukan oleh umat Hindu.
    Selengkapnya di bagian Penjelasan.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10809) [SALAH] Uskup Katolik Jabodetabek Deklarasi Dukung Anies Baswedan Jadi Presiden

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 26/10/2022

    Berita

    Beredar di media sosial postingan berjudul Uskup Katolik Jabodetabek deklarasi dukung Anies Baswedan menjadi Presiden. Postingan itu beredar sejak beberapa hari lalu.

    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 21 Oktober 2022.

    Dalam postingannya terdapat gambar dengan narasi berikut ini:

    "Buzzer kejang-kejang para Uskup Katolik Sejabodetabek deklarasi Anies hari ini"

    Akun itu menambahkan narasi "Ya Tuhan para uskup sejabodetabek sudah memberikan dukungan semoga Paus Indonesia bisa memberikan dukungan juga"

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan mengunjungi website resmi Keuskupan Agung Jakarta, kaj.or.id. Di sana terdapat klarifikasi dari Keuskupan Agung Jakarta yang dirilis pada 21 Oktober 2022.

    "Terkait beredarnya potongan video yang berjudul "Uskup Katolik Se Jabodetabek Deklarasi Dukung Anies Presiden" kami tegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Gereja Katolik Indonesia tetap menjaga netralitas dan mendorong proses politik dapat dijalankan dengan menjunjung prinsip dan etika yang diabdikan bagi bonum commune (kebaikan bersama).

    "Gereja Katolik tidak berpolitik praktis maka dalam pertemuan dan kegiatan tersebut tidak pernah membahas persoalan politik praktis, termasuk dalam pertemuan dengan Bapak Anies Baswedan. Sebagai pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Kardinal Ignatius Suharyo sering menerima tamu dan beraudiensi dengan banyak tokoh dari berbagai latar belakang."

    "Demikian disampaikan sebagai klarifikasi untuk menghindari kesimpangsiuran akibat beredarnya video tersebut. Semoga dapat dimaklumi dan kami mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga kondusivitas kehidupan publik."

    Kesimpulan

    Postingan berjudul Uskup Katolik Jabodetabek deklarasi dukung Anies Baswedan menjadi Presiden adalah tidak benar.

    Rujukan

  • (GFD-2022-10810) Bentengi Generasi Muda dari Hoaks, Edukasi Cek Fakta Sasar Siswa dan Mahasiswa

    Sumber: liputan6.com
    Tanggal publish: 26/10/2022

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta- Sekolah dan kampus menjadi sasaran sosialisasi materi cek fakta dan literasi media, hal ini merupakan upaya untuk memerangi hoaks yang beredar di tengah masyarakat.
    Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan oleh Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta, Senin-Selasa (24-25/10/2022).
    “Tujuannya untuk mengembangkan nalar kritis siswa dan mahasiswa. Apa yang harus mereka lakukan saat menerima informasi, sehingga mereka memiliki skill memilah mana hoaks, mana fakta. Tidak mudah terlena oleh informasi yang mereka terima dari medsos maupun media perpesanan,” ujar Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo, dalam keterangan tertulis.
    Materi cek fakta itu diyakini sebagai imunisasi bagi siswa dan mahasiswa agar mampu membedakan fakta dan hoaks yang bertebaran melalui gawai dan piranti digital lainnya.
    Untuk melebarkan jangkauan edukasi soal cek fakta ini, perlu memasukkan materi cek fakta ke sekolah dan kampus.
    AJI, AMSI, dan Mafindo didukung Google News Initiative memiliki platform cekfakta.com yang berfungsi untuk cek fakta terhadap informasi yang beredar. Sehingga dapat memudahkan masyarakat membedakan informasi yang benar dan hoaks.
     
    Advokasi kebijakan
    Materi cek fakta ini perlu diintegrasikan dalam pelajaran di sekolah dan kampus. Maka, perlu ada advokasi kebijakan agar pemerintah dalam hal ini Kemendikbud Ristek menerima gagasan ini.
    FGD ini diikuti oleh kalangan dosen, jurnalis, pemeriksa fakta, guru, asosiasi guru, hingga wakil dari Dinas Pendidikan dari berbagai daerah.
    Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, dalam FGD mengatakan, strategi yang tepat memasukkan materi cek fakta dan literasi media adalah dengan cara intervensi dan terintegrasi dalam sejumlah mata pelajaran.
    Diperlukan nalar kritis saat menghadapi informasi dan itu bisa dimasukkan dalam sejumlah mata pelajaran.
    Semua peserta menganggap materi cek fakta penting diajarkan kepada siswa dan mahasiswa apalagi menjelang Pemilu 2024. Anak muda baik siswa dan mahasiswa menjadi sasaran dengan pertimbangan penetrasi tinggi internet di kalangan anak muda usia 13-18 tahun 99,16 persen dan 18-34 tahun 98,64 persen.
    Beberapa studi tentang literasi digital di kalangan generasi Z dan milenial menunjukkan adanya kecakapan yang cukup dalam penggunaan media digital. Potensi yang dimiliki oleh anak muda ini tentu harus diiringi dengan literasi media agar dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
    Karena itu, Mafindo, AMSI, dan AJI menggandeng berbagai pihak untuk menyiapkan advokasi kebijakan agar materi cek fakta dan literasi media bisa diakomodasi dalam kurikulum pendidikan di sekolah menengah dan perguruan tinggi.
    Bentuk dan caranya beragam, bisa mengintegrasikan dalam mata pelajaran maupun ekstra kurikuler.
    Edukasi
    Sambil melakukan advokasi kebijakan, para pihak terkait juga terus melakukan kampanye dan edukasi pentingnya cek fakta di berbagai kalangan. Berbagai pihak melatih komunitas agar memiliki keterampilan cek fakta dan nalar kritis menghadapi informasi terutama di dunia digital.
    Sebagai contoh, Mafindo Pontianak, Kalimantan Barat, melatih 30 siswa SMAN 3 Sungai Raya yang terletak di daerah pinggiran soal cek fakta dan literasi media.
    Dengan akses listrik dan internet minim, para siswa mendapat materi keterampilan cek fakta agar tidak mudah terjebak oleh hoaks. Kalimantan Barat tergolong daerah rawan konflik yang disebabkan salah satunya hoaks dan fitnah.
    Mafindo Pontianak juga melatih 7 ribu mahasiswa baru Universitas Tanjungpura. Sebagian mahasiswa akan menjadi relawan untuk mengajarkan cek fakta kepada sekolah dan masyarakat.
    Selain di Pontianak, kolaborasi cekfakta.com juga menyelenggarakan diskusi dengan 30 siswa SMAN 15 Surabaya serta acara sejenis di Semarang.
    Direktur Eksekutif AMSI, Adi Prasetya menyatakan dalam cek fakta, Mafindo, AMSI, dan AJI, tidak hanya membuat debunking, bantahan, atau memeriksa fakta. Tetapi juga mengembangkan pre-bunking, pencegahan agar hoaks tidak makin menyebar.
    “Gampangnya, masyarakat harus dikasih ‘vaksin,’ supaya kalau ada hoaks, kita sudah siap. Orang tidak akan mudah kena hoaks dan menjadi kebal,” ujar Adi Prasetya.
    Direktur Eksekutif AJI Indonesia, Febrina Galuh, menyatakan pihaknya siap berkolaborasi dengan berbagai pihak. Selama ini, AJI berkolaborasi dengan kampus melatih mahasiswa.
     

    Hasil Cek Fakta