• (GFD-2024-25472) Iwan Fals Buat Lagu dan Nyanyi Tentang Korupsi Timah Rp271 Triliun? Cek Faktanya

    Sumber:
    Tanggal publish: 29/07/2024

    Berita

    Iwan Fals Buat Lagu dan Nyanyi Tentang Korupsi Timah Rp271 Triliun? Cek Faktanya

    Benarkah Iwan Fals nyanyi soal korupsi Rp271 triliun? Simak faktanya

    Penyanyi senior Iwan Fals diklaim membuat lagu baru tentang koruptor Rp271 triliun berjudul “Apa kabar koruptor 271 triliun yang kini terlupakan”.

    Video tersebut beredar luas di media sosial TikTok. Video berdurasi satu menit terdengar suara Iwan Fals seolah-olah sedang bernyanyi tentang koruptor.

    Video itu juga menampilkan tersangka korupsi timah yang menyeret suami artis Sandra Dewi, Hervey Moeis dan sosialita Helena Lim.

    Hasil Cek Fakta

    Melansir dari Antara, penelusuran dilakukan menggunakan situs Hive Moderation untuk mendeteksi apakah suara tersebut merupakan hasil Artificial Intelligence (AI) atau bukan.

    Hasilnya, cover lagu tersebut 99,8 persen merupakan hasil dari kecerdasan buatan.

    AI Generatif seperti "deepfake" telah menjadi senjata baru untuk membuat disinformasi dan hoax yang sangat dikhawatirkan banyak kalangan, termasuk oleh media massa dan pemerintah di banyak negara.

    "Deepfake" bisa mengkloning dengan cepat suara orang, membuat video palsu, atau narasi palsu untuk menjatuhkan atau merusak citra lawan politik. Di sini, "Big Data" atau "Mahadata" menjadi bagian penting.

    Kesimpulan

    Iwan Fals buat lalu soal koruptor Rp271 triliun adalah tidak benar. Faktanya, suara Iwan Fals merupakan hasil AI.

    Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21440) Keliru, Klaim Video Zubairi Djoerban dan Zaidul Akbar Mempromosikan Metode Penyembuhan Mata

    Sumber:
    Tanggal publish: 29/07/2024

    Berita



    Sebuah video yang menampilkan pakar kesehatan Prof. Zubairi Djoerban dan dr. Zaidul Akbar, disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini. Mereka tampak menyampaikan dan mempromosikan metode baru penyembuhan mata.

    Narasi yang disampaikan Zubairi Djoerban dan Zaidul Akbar dalam video relatif sama. Mereka telah melakukan penelitian besar yang sudah membantu puluhan ribu orang yang penglihatannya terganggu menjadi pulih kembali. Pengobatan yang tidak dijelaskan detailnya itu diklaim aman dan tubuh pasien bisa pulih setelah beberapa minggu.

     

    Video yang diunggah pada 5 April dan 7 Mei 2024 tersebut sudah disukai dan diputar ribuan kali. Benarkah Prof Zubairi Djoerban dan Zaidul Akbar mempromosikan metode penyembuhan mata tersebut?

    Hasil Cek Fakta



    Tim Cek Fakta Tempo memeriksa keaslian video dengan menggunakan Deepware.ai. Hasilnya, video Prof Zubairi Djoerban itu dinyatakan kemungkinan 96% hasil buatan kecerdasan buatan dengan mengimitasi suara asli (deepfake).



    Menurut Zubairi saat dikonfirmasi Tempo, suara di dalam video tersebut bukanlah suara miliknya. Ia tidak pernah menyampaikan narasi tersebut. “Hoax, bukan suara saya!” tegas Zubairi, Kamis, 25 Juli 2024. Untuk membantah video yang beredar, Zubairi membuat unggahan di akun resmi Instagram miliknya. Akun di Facebook yang mengatasnamakan Zubairi juga bukan milik atau dikelola olehnya.

    Video deepfake memanfaatkan kecanggihan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menghasilkan video atau audio yang benar-benar baru, dengan tujuan akhir untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi pada kenyataannya. Konten deepfake dapat dianalisis dengan menggunakan tools dan pemeriksaan mendalam terhadap video dan suara.

     

    Deepfake tersebut menggunakan video Zubairi yang diunggah di Instagramnya pada 7 April 2022. Dalam video aslinya, Zubairi menjelaskan tentang Varian Omicron XE yang saat itu berkembang saat dunia sedang mempersiapkan diri menuju status endemi.

    Zubairi Djoerban bukanlah dokter spesialis mata, melainkan dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi Hematologi Onkologi Medik, yakni studi tentang fisiologi darah dan studi tentang pengobatan kanker.

    Klaim tentang dr. Zaidul Akbar

    Sementara itu, sumber video Zaidul Akbar pernah diunggah di akun YouTube resmi miliknya. Dalam video tersebut, Zaidul berbicara soal pengobatan mata, melainkan membagikan tips berpuasa dengan kondisi khusus seperti menyusui dan stroke.

    Kesimpulan



    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan video Prof Zubairi Djoerban dan dr Zaidul Akbar mempromosikan metode penyembuhan mata adalah keliru. Kedua video yang mencatut sosok dua figur publik itu menggunakan teknologi AI sehingga memanipulasi suara dan gerakan bibir.

    Rujukan

  • (GFD-2024-21441) Cek Fakta: Tidak Benar Warna Tutup Botol Air dalam Kemasan Punya Arti Berbeda

    Sumber:
    Tanggal publish: 29/07/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Sebuah video yang diklaim warna tutup botol air dalam kemasan mendandakan perbedaan jenis airnya. Video tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada Selasa 23 Juli 2024.
    Dalam video tersebut terlihat seorang pria sedang menjelaskan berbagai jenis merek air mineral kemasan. Ia menyebut, tutup botol pada air mineral kemasan menandakan perbedaan air tersebut.
    Pertama, warna biru pada tutup botol menandakan air berasal dari sumber air bawah tanah melalui proses penyulingan.
    Selanjutnya warna hijau menandakan berasal dari sumber air tanah mengandung mineral yang tinggi, sedangkan tutup botol warna putih menandakan air diperoleh dari air pipa yang ditadah dan ditambahkan kimia tertentu.
    Untuk tutup botol berwarna ungu menandakan air tersebut berasal dari pegunungan atau branding tanpa tujuan spesifik. Sementara, warna merah atau oranye menandakan air memiliki rasa tertentu atau branding tanpa alasan spesifik.
    Video yang diunggah akun Facebook tersebut telah 20 ribu kali dibagikan dan mendapat 401 komentar dari warganet.
    Benarkah warna tutup botol air dalam kemasan menandakan perbedaan jenis airnya? Berikut penelusurannya.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri postingan yang diklaim warna tutup botol air dalam kemasan menandakan perbedaan jenis airnya.
    Penelusuran dilakukan dengan menghubungi Humas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Eka Rosmalasari. Ia mengatakan bahwa informasi tersebut tidak benar.
    "Ini tidak benar," kata Eka kepada Liputan6.com, Senin (29/7/2024).
    Eka menambahkan, warna tutup botol tidak ada kaitannya dengan jenis air mineral dalam kemasan.
    "Tidak ada kaitannya warna tutup botol dengan jenis air," ucap Eka.
     

    Kesimpulan


    Postingan yang diklaim warna tutup botol air dalam kemasan memiliki perbedaan jenis airnya ternyata tidak benar. Faktanya, BPOM memastikan, warna tutup botol tidak ada kaitannya dengan jenis air.
  • (GFD-2024-25283) Kecepatan Internet di Kantor NASA Diklaim Capai 91 Gbps? Cek Faktanya

    Sumber:
    Tanggal publish: 29/07/2024

    Berita

    Kecepatan Internet di Kantor NASA Diklaim Capai 91 Gbps? Cek Faktanya

    Benarkah kecepatan internet di kantor NASA mencapai 91 Gpbs? Simak penelusurannya

    Beredar di media sosial dengan narasi yang mengeklaim kecepatan internet di kantor NASA mencapai 91 Gbps.

    Kecepatan internet di kantor NASA diklaim bisa mendownload 90 film hanya dalam sedetik. Berikut narasi yang diunggah di Facebook;

    "Korea Selatan tercatat memiliki koneksi internet hingga 25,3 Mbps. Namun ternyata, internet di kantor NASA lebih cepat lagi yaitu dengan kecepatan 91 Gbps, kamu bisa mendownload 90 film hanya dalam sedetik."

    Hasil Cek Fakta

    Setelah dilakukan penelusuran, kecepatan transfer data sebesar 91 Gbps dicapai Kecepatan tersebut dicapai saat uji coba koneksi khusus antara SC13 di Denver dan fasilitas NASA Goddard di Maryland pada 2013.

    Dilansir dari Kompas.com uji coba ini dilakukan untuk mengembangkan layanan teknologi dan sains di bawah Program Komputasi Canggih GSFC.

    Kendati demikian, kecepatan internet mencapai 91 Gbps tersebut baru sebatas uji coba dan belum digunakan secara umum, termasuk di kantor NASA.

    Sementara itu, melansir dari World Papulation Review, Amerika Serikat menjadi negara dengan kecepatan internet seluler tercepat dengan 269,41 Mbps. Posisi kedua Qatar dengan 206,8 Mbps, sedangkan Korea Selatan di posisi ke-7 dengan 145,25 Mbps.

    Kesimpulan

    Kecepatan internet di kantor NASA mencapai 91 Gbps adalah keliru.

    Faktanya, kecepatan 91 Gbps dicapat saat uji coba koneksi antara SC13 di Denver dan fasilitas NASA Goddard di Maryland pada 2013.

    Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Rujukan