• (GFD-2024-24447) Cek Fakta: Klarifikasi BMKG soal Video Awan Jatuh di Kalimantan Tengah

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/12/2024

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Sebuah video yang diklaim terjadi fenomena awan jatuh di Kalimantan Tengah beredar di media sosial. Video tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 22 November 2024.
    Video berdurasi 30 detik itu memperlihatkan sebuah gumpalan putih menyerupai awan yang jatuh dan tergeletak di tanah. Sejumlah orang yang penasaran kemudian mengerumuni benda putih tersebut. Video itu kemudian dikaitkan dengan kabar bahwa terjadi fenomena awan jatuh di Kalimantan Tengah.
    "OMG 😱,,,!!!! Awan jatuh d Kalimantan tengah ,,☁️," tulis salah satu akun Facebook.
    Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 180 kali ditonton dan mendapat 4 respons dari warganet.
    Benarkah dalam video tersebut terjadi awan jatuh di Kalimantan Tengah? Berikut penelusurannya.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim terjadi fenomena awan jatuh di Kalimantan Tengah. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "awan jatuh kalimantan" di kolom pencarian Google Search.
    Hasilnya terdapat beberapa artikel yang menjelaskan mengenai hal tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul "BMKG: Bukan awan, tapi diduga gumpalan uap yang jatuh di Murung Raya" yang dimuat situs antaranews.com pada Sabtu 16 November 2024.
    Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa benda putih yang ditemukan mengambang dari langit hingga perlahan turun ke permukaan tanah di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah bukan awan jatuh tapi diduga hanya gumpalan uap.
    Benda putih serupa awan tersebut ditemukan oleh sejumlah pekerja pertambangan di Muara Tuhup, Murung Raya, Kalimantan Tengah dan terekam dalam video amatir berdurasi lebih dari satu menit menarasikan awan jatuh itu beredar luas diberbagai kanal media sosial, Jumat (15/11) petang.
    "Fenomena tersebut kemungkinan besar bukan awan alami, melainkan kondensasi uap air atau gas akibat aktivitas manusia yang terjadi di wilayah pertambangan," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani di Jakarta, Sabtu.
    Andri menjelaskan bahwa awan tidak dapat jatuh ke permukaan sebagai gumpalan padat, karena partikelnya sangat ringan dan tersebar dengan kerapatan rendah.
    Hal ini dikarenakan awan adalah kumpulan tetesan air atau kristal es yang sangat kecil dan ringan, sehingga tetap melayang di atmosfer dengan bantuan arus udara.
    Partikel awan biasanya menguap sebelum mencapai tanah terutama ketika terjadi perubahan lingkungan. Oleh karena itu, kata dia, fenomena dalam video tersebut kemungkinan besar bukan awan alami, melainkan kondensasi uap air atau gas akibat aktivitas teknis atau operasional.
    Menurutnya, kondisi ini bisa terjadi karena adanya pelepasan gas bertekanan tinggi dari aktivitas tambang, yang didukung oleh suhu rendah dan kelembapan tinggi sehingga lingkungan tersebut mendukung pembentukan uap kondensasi.
    Fenomena ini tampak seperti awan turun atau jatuh karena gumpalan uap atau gas yang dilepaskan bergerak ke area yang lebih rendah akibat gravitasi atau densitasnya yang lebih berat daripada udara di sekitarnya.
    "Uap atau gas ini sering kali lebih padat daripada awan alami, sehingga tampak seperti bisa disentuh atau dipegang. Namun, ini hanyalah efek visual, karena sebenarnya yang terlihat hanyalah gumpalan uap yang bersifat sementara," jelasnya.
    BMKG menegaskan bahwa fenomena ini tidak berbahaya dan bersifat sementara sehingga masyarakat, khususnya yang ada di lokasi sekitar penemuan tidak perlu khawatir, karena ini bukan tanda adanya gangguan alam.
     

    Kesimpulan


    Video yang diklaim terjadi fenomena awan jatuh di Kalimantan Tengah telah diklarifikasi oleh BMKG. Menurut BMKG, benda putih tersebut bukan awan alami, melainkan kondensasi uap air atau gas akibat aktivitas manusia yang terjadi di wilayah pertambangan.
     

    Rujukan

  • (GFD-2024-24451) Hoaks Video Burung Bertopi dari Kalimantan

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/12/2024

    Berita

    tirto.id - Sebuah unggahan video, yang memperlihatkan burung yang memiliki bulu di bagian kepala menyerupai topi mahkota, memantik perbincangan di media sosial. Sejumlah akun di Facebook bahkan berspekulasi bahwa hewan tersebut merupakan burung langka yang hanya terdapat di pedalaman Pulau Kalimantan.

    Narasi tersebut diunggah oleh sejumlah akun di Facebook yaitu akun “Siti Hamidah” (arsip) pada Sabtu (31/8/2024), “Jeng Sri Nganjuk”(arsip) pada Selasa (3/9/2024) dan “Junijar Hasibuan”(arsip) pada Minggu (17/11/2024) dan “Pereslin Abraham” (arsip) pada Senin (18/11/2024).

    “Viral sampai keluar negri ini burung. Burung bertopi mahkota dari Kalimantan. Ga nemu keterangan Kalimantan bagian mana, temen-temen dari Kalimantan ada yang taukah? Ini beneran ada apa engga. Sebelum mulai kerja malah bahas burung,” bunyi keterangan takarir salah satu unggahan tersebut.

    Sepanjang Minggu (17/11/2024) hingga Kamis (5/12/2024) atau selama 18 hari tersebar di Facebook, unggahan ini telah memperoleh 37 tanda suka dan 34 komentar. Lantas, bagaimana kebenaran video tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    Pertama-tama, Tim Riset Tirto menonton secara utuh salah satu video yang disertakan dari awal hingga akhir.

    Video tersebut memang memperlihatkan dua ekor burung yang nampak memiliki bulu di bagian kepala yang menyerupai topi. Namun, kami melihat kejanggalan dalam video tersebut khususnya pada detik ke 22-26.

    Bagian menyerupai topi pada kepala burung tiba-tiba hilang secara tidak natural dalam video dan nampak seperti hasil suntingan. Anehnya lagi, bagian menyerupai topi itu kembali muncul pada detik ke-26. Kejanggalan tersebut mengindikasikan adanya ciri-ciri penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan video.

    Tirto kemudian mengunduh video tersebut lalu menelusurinya dengan menggunakan perangkat pemindai AI, Hive Moderation. Sebagai informasi, Hive Moderation merupakan sebuah perangkat yang dapat membantu mendeteksi kemungkinan konten berbasis AI dalam bentuk gambar, video dan teks.

    Hasil penelusuran menggunakan Hive Moderation menunjukkan, video burung bertopi yang disertakan dalam unggahan memiliki skor nilai 99,8 persen kemungkinan dibuat menggunakan teknologi AI.

    Sebagai informasi, unggahan tersebut juga menyertakan foto burung bertopi yang sama. Dengan menggunakan perangkat Hive Moderation, kami juga menelusuri keaslian foto tersebut.

    Senada, hasil analisis Hive Moderation menunjukkan, foto burung bertopi yang disertakan dalam unggahan juga memiliki skor nilai 99,8 persen kemungkinan dibuat menggunakan teknologi AI.

    Tirto lalu menelusuri kebenaran klaim yang menyatakan bahwa burung bertopi itu merupakan hewan langka yang berasal dari pedalaman Pulau Kalimantan. Hasilnya, kami tidak menemukan satupun adanya bukti keberadaan hewan tersebut sebagai hewan langka yang diklaim berasal dari Pulau Kalimantan.

    Pencarian menggunakan kata kunci “Burung Bertopi Langka dari Pedalaman Kalimantan” justru mengarahkan kami ke artikel pemeriksaan fakta yang diunggah di situs resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    Komdigi menyatakan bahwa video burung bertopi yang diklaim berasal dari pedalaman Pulau Kalimantan adalah hoaks. Serupa dengan penelusuran Tirto, video tersebut kemungkinan besar diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan AI.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, tidak ditemukan bukti adanya burung bertopi yang diklaim berasal dari pedalaman Pulau Kalimantan.

    Hasil penelusuran menggunakan perangkat pemindai AI Hive Moderation menunjukan, bahwa video burung bertopi yang disertakan dalam unggahan memiliki skor sebesar 99,8 persen dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pun foto yang disertakan juga kemungkinan besar merupakan hasil buatan AI.

    Jadi, informasi dalam video yang menunjukan adanya burung bertopi yang diklaim berasal dari pedalaman Pulau Kalimantan bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Rujukan

  • (GFD-2024-24452) Klaim Kerusakan Mobil oleh BBM Pertamax, Bagaimana Faktanya?

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/12/2024

    Berita

    tirto.id - Beredar di media sosial, unggahan yang melaporkan adanya sejumlah kendaraan yang mengalami kerusakan mesin usai menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) berjenis Pertamax dari Pertamina. Narasi tersebut di antaranya diunggah oleh akun Instagram bernama “sorotinfo” (arsip) pada Selasa (26/11/2024).

    Video tersebut menampilkan keluhan seseorang warga di sebuah bengkel di daerah Cibinong, Bogor, Jawa Barat yang memperlihatkan filter bensin rusak yang diklaim disebabkan oleh BBM Pertamax. Seorang dalam video tersebut juga memperlihatkan adanya sejumlah mobil di bengkel tersebut yang diklaim mengalami kerusakan filter bensin dan tangki bensin yang disebabkan oleh Pertamax.

    “Ini filter pompa bensin sampai hancur sampe berlumut rusak, ini BBM yang baru diisi harus dibuang semua jadinya nih Pertamax. Nih, kasus-kasus yang lain tuh sama nih di bengkel ini,“ ujar seseorang di video tersebut.

    Tirto juga menemukan video dengan narasi serupa diunggah di akun Threads bernama “lawan_politik_1995” pada Kamis (28/11/2024). Unggahan tersebut memperlihatkan sejumlah orang yang mengecek pompa bensin. Keterangan dalam unggahan tersebut bertuliskan:

    “WARNIIING....!!!! Buat teman² di manapun kalian berada untuk sementara ini jangan dulu memakai pertamax 92 deh, sedang banyak kasus soalnya, dari pada berabe,” tulis keterangan takarir unggahan tersebut.

    Sepanjang Selasa (26/11/2024) hingga Kamis (5/12/2024) atau selama sembilan hari tersebar di instagram, unggahan tersebut telah memperoleh 8.334 tanda suka, 1.029 komentar dan telah dibagikan sebanyak 9.390 kali.

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Hasil Cek Fakta

    PT Pertamina Patra Niaga, anak usaha PT Pertamina (Persero), merespons laporan yang mengatakan adanya sejumlah kendaraan yang mengalami kerusakan mesin usai menggunakan Pertamax dari SPBU di Cibinong, Jawa Barat.

    Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi terhadap kejadian tersebut, mulai dari mengecek kualitas Pertamax di terminal BBM hingga ke SPBU-SPBU. Bahkan, Pertamina Patra Niaga juga melakukan pengecekan ke bengkel-bengkel di area Cibinong. Selain berkoordinasi dengan bengkel, Pertamina Patra Niaga juga menggandeng Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB).

    Happy menjelaskan, berdasarkan hasil uji lab Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas, sampel-sampel BBM jenis Pertamax SPBU Cibinong, Bogor dan beberapa wilayah lainnya telah memenuhi spesifikasi teknis yang dipersyaratkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

    Adapun uji lab ini dilakukan untuk mengetahui kandungan dari Pertamax yang sebelumnya sempat dikabarkan membuat mesin kendaraan rusak.

    "Hasil uji lab dari Lemigas menyatakan bahwa produk Pertamax on spec, sesuai ketentuan Dirjen Migas. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas Pertamax," tegas Heppy, dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (29/11/2024).

    Meski begitu, Sub Holding Pertamina Commercial & Trading itu tetap akan terus memonitor kondisi kendaraan-kendaraan yang mengalami kerusakan usai mengisi bahan bakar menggunakan Pertamax. Selain itu, pengawasan dan kajian lebih lanjut juga dilakukan Pertamina bersama LAPI ITB.

    "Kami masih melakukan kajian mengingat kendala mesin hanya terjadi di merek dan jenis kendaraan tertentu serta di lokasi-lokasi tertentu, jadi kami perlu mempelajari detail penyebab gangguan pada mesin-mesin kendaraan di lokasi-lokasi tersebut," ujar Heppy.

    Tidak hanya itu, Pertamina juga berkomitmen untuk bertanggungjawab terhadap produk yang mereka salurkan. Meski begitu, Heppy juga meminta kepada para konsumen untuk senantiasa melakukan perawatan kendaraan rutin di bengkel resmi dan menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan, sehingga performa tetap optimal.

    Hasil monitoring sementara di lapangan menunjukkan bahwa kendala mesin hanya terjadi pada kendaraan dari jenama dan tipe tertentu. Heppy menyebut bahwa tidak di semua kendaraan yang melakukan pengisian Pertamax mengalami kerusakan mesin.

    “Meskipun penyebab belum diketahui—apakah dari produk Pertamax atau dari sparepart kendaraan, kami mohon maaf atas kejadian ini,” ujarnya.

    Lebih lanjut, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso juga telah mengonfirmasi isu ini dalam keterangannya, Minggu (1/12/2024), seperti dilansir Detik.

    "Sampel endapan dari kendaraan yang bermasalah sudah dicek oleh Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB dan dinyatakan bahwa penyebab rusaknya kendaraan bukan dari BBM Pertamax," katanya.

    Namun, penjelasan lebih lanjut juga diberikan oleh Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen dan ahli konversi energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, yang juga bagian dari tim LAPI ITB. Yuswidjajanto mengatakan, kemungkinan ada kandungan dari lapisan anti-karat pada bagian dinding tangki BBM mobil yang larut setelah diisi Pertamax dan membentuk endapan.

    "Endapan inilah penyebab mobil kehilangan tenaga karena menyumbat filter sebelum bahan bakar masuk ke dalam pompa, sehingga suplai bahan bakar ke mesin tidak mencukupi," ujar Yuswidjajanto, dalam keterangan resminya, dilansir dari Kompas.com.

    Yuswidjajanto juga mengatakan pada Kompas.com, pelapis anti-karat tangki BBM yang digunakan oleh mobil-mobil sebelum tahun 2012 adalah terne metal. Terne metal merupakan kombinasi paduan antara timbal dan timah.

    "Harusnya setelah tahun 2012 sudah diganti, timbalnya dihilangkan, dan diganti dengan Seng (Zn), timahnya tetap. Tapi, setelah itu, diganti lagi juga dengan electroplating. Jadi, hanya timah saja lapisan anti-karatnya," kata Yuswidjajanto.

    "Nah, yang bermasalah ini adalah yang masih pakai terne metal, masih pakai paduan timbal (Pb) dan timah (Sn), yang lengket-lengket warna abu-abu itu adalah timbal," ujarnya.

    Menurutnya, industri otomotif harusnya berubah mengikuti perkembangan bahan bakar juga. Kandungan dalam bahan bakar juga kerap berganti seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi.

    Yuswidjajanto mengatakan, dirinya mempertanyakan mengapa industri otomotif sekarang ini masih mempertahankan penggunaan lapisan anti-karat tersebut. Sebab, seharusnya mobil-mobil sekarang sudah menggunakan metode electroplating galvanized atau timah. "Kemudian, dari sisi bahan bakarnya, kenapa kok di dalamnya ada sesuatu yang melarutkan Pb (timbal). Sampai sekarang belum ditemukan apa itu. Kita masih mencari nih, apa yang ada di bahan bakar, yang bisa melarutkan Pb," ujar Yuswidjajanto.

    Yuswidjajanto menambahkan, pabrikan lain atau merek lain yang tidak terdampak mungkin saja lapisan anti-karat di dalam tangki sudah tidak lagi menggunakan pelapis yang memiliki kandungan timbal. "Industri otomotif yang mengikuti update teknologi mungkin sudah diganti. Makanya, tidak ada masalah yang pelapisnya tidak mengandung timbal," kata Yuswidjajanto.

    Sehingga, bisa disimpulkan bahwa penelitian soal penyebab kerusakan filter pompa bensin tersebut masih berjalan. Bahan pelapis anti-karat tangki BBM yang digunakan oleh mobil-mobil sebelum tahun 2012 adalah terne metal dan ini juga diduga menjadi faktor kerusakan filter bensin di mobil. Di sisi lain, peneliti masih mencari tahu apa yang membuat pelapis ini luntur, meski Pertamina sendiri telah menegaskan bahwa penyebabnya bukan Pertamax.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta yang dilakukan, belum ditemukan bukti yang membenarkan klaim adanya kerusakan mesin kendaraan usai mengisi bahan bakar menggunakan Pertamax di SPBU Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

    Belum ada bukti yang membenarkan klaim bahwa kerusakan mesin kendaraan tersebut disebabkan oleh BBM berjenis Pertamax. Hasil uji lab dari Lemigas menyatakan bahwa produk Pertamax masih memenuhi spesifikasi sesuai ketentuan Dirjen Migas, namun penelitian masih berlangsung. Bahan pelapis anti-karat tangki BBM yang digunakan oleh mobil-mobil sebelum tahun 2012 adalah terne metal dan ini juga diduga menjadi faktor kerusakan filter bensin di mobil.

    Lalu, belum ditemukan bukti yang valid dan konkrit terkait Pertamax yang menjadi penyebab kerusakan mobil berdasarkan penelitian yang dilakukan, dan peneliti masih mencari tahu apa yang membuat pelapis ini luntur.

    Jadi, narasi soal adanya kerusakan mesin kendaraan usai mengisi bahan bakar menggunakan Pertamax bersifat missing context (menyesatkan tanpa tamba

    Rujukan

  • (GFD-2024-24453) [SALAH] Video Rudal Supersonik Orshanik Rusia Berkecepatan 10x Lipat Suara

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 05/12/2024

    Berita

    Akun X “SoftWarNews” pada Rabu (22/11/2024) mengunggah video [arsip] disertai narasi:

    Rekaman mengerikan atau menakjubkan dari ICMB supersonik Orshanik Rusia setelah diluncurkan, seolah-olah sebuah meteorit raksasa menembus langit setelah jatuh dari salah satu planet. Konon kecepatan roket ini 10 kali lipat kecepatan suara.

    Per Rabu (4/12/2024) video itu sudah ditonton lebih dari 660 ribu kali dan dibagikan ulang hampir 1.000 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) memasukan sejumlah tangkapan layar dari unggahan itu ke Google Lens. Hasilnya, ditemukan ada video serupa yang diunggah akun TikTok “Jurnalpos”.

    Faktanya, konteks asli video tidak ada hubungannya dengan rudal balistik jarak menengah Oreshnik. Video yang beredar merupakan potongan dokumentasi roket peluncur Soyuz yang membawa 2.487 kg kargo ke international space station (ISS), termasuk perbekalan, peralatan ilmiah, pakaian, makanan, obat-obatan, bahan bakar, air minum, dan nitrogen.

    Unggahan berisi narasi klaim “rudal supersonik Orshanik milik Rusia dengan 10 kali lipat kecepatan suara” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Kesimpulan

    Faktanya, video yang beredar merupakan potongan dokumentasi roket peluncur Soyuz yang membawa 2.487 kg kargo ke international space station (ISS).
    Unggahan berisi narasi klaim “rudal supersonik Orshanik milik Rusia dengan 10 kali lipat kecepatan suara” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan