KOMPAS.com - Di media sosial beredar narasi yang mengeklaim tragedi pesawat jatuh di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 31 Januari 2025, bukan kecelakaan.
Narasi tersebut mengeklaim, insiden tersebut disebabkan adalah ledakan misil atau roket.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut hoaks.
Narasi yang mengeklaim insiden di Philadelphia adalah ledakan misil dibagikan oleh akun X (Twitter) ini pada Sabtu (1/2/2025).
Berikut narasi yang dibagikan:
Ini tidak terlihat seperti pesawat yang jatuh.
Ini terlihat seperti rudal atau komet, sesuatu yang diluncurkan langsung ke bawah.
INI BUKAN PESAWAT. LIHAT INI. BARU SAJA TERJADI.
Screenshot Hoaks, kecelakaan pesawat di Philadelphia disebut ledakan misil
(GFD-2025-25477) [HOAKS] Kecelakaan Pesawat Medis di Philadelphia akibat Ledakan Misil
Sumber:Tanggal publish: 05/02/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri video yang dibagikan menggunakan Google Lens.
Hasilnya, ditemukan video yang sama diunggah kanal YouTube WTKR News 3 pada Sabtu (1/2/2025).
Berdasarkan deskripsi yang dicantumkan, video itu adalah rekaman kamera pengawas yang menangkap momen ketika sebuah pesawat kecil jatuh di timur laut Philadelphia.
Tidak ada bukti bahwa insiden tersebut merupakan ledakan misil atau roket.
Video itu juga tidak menunjukkan adanya misil yang ditembakkan ke arah pesawat atau komet jatuh.
Dilansir Reuters, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menyatakan, sebuah pesawat Learjet 55 jatuh pada 31 Januari 2025 sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
Media lokal melaporkan bahwa pesawat tersebut jatuh di dekat Roosevelt Mall di timur laut Philadelphia dan terdapat beberapa korban luka-luka di darat.
Video yang ditayangkan di stasiun TV lokal menunjukkan pesawat menukik tajam sebelum menghantam tanah dan meledak.
Pesawat yang jatuh itu merupakan ambulans udara milik Jet Rescue Air Ambulance, perusahaan yang berbasis di Meksiko dan memiliki lisensi untuk beroperasi di AS.
Hasilnya, ditemukan video yang sama diunggah kanal YouTube WTKR News 3 pada Sabtu (1/2/2025).
Berdasarkan deskripsi yang dicantumkan, video itu adalah rekaman kamera pengawas yang menangkap momen ketika sebuah pesawat kecil jatuh di timur laut Philadelphia.
Tidak ada bukti bahwa insiden tersebut merupakan ledakan misil atau roket.
Video itu juga tidak menunjukkan adanya misil yang ditembakkan ke arah pesawat atau komet jatuh.
Dilansir Reuters, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menyatakan, sebuah pesawat Learjet 55 jatuh pada 31 Januari 2025 sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
Media lokal melaporkan bahwa pesawat tersebut jatuh di dekat Roosevelt Mall di timur laut Philadelphia dan terdapat beberapa korban luka-luka di darat.
Video yang ditayangkan di stasiun TV lokal menunjukkan pesawat menukik tajam sebelum menghantam tanah dan meledak.
Pesawat yang jatuh itu merupakan ambulans udara milik Jet Rescue Air Ambulance, perusahaan yang berbasis di Meksiko dan memiliki lisensi untuk beroperasi di AS.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi yang mengeklaim insiden di Philadelphia adalah ledakan misil merupakan hoaks.
Tidak ada bukti insiden tersebut merupakan ledakan misil atau roket.
FAA telah mengonfirmasi bahwa sebuah pesawat Learjet 55 yang merupakan ambulans udara jatuh di Philadelphia pada 31 Januari 2025 sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
Tidak ada bukti insiden tersebut merupakan ledakan misil atau roket.
FAA telah mengonfirmasi bahwa sebuah pesawat Learjet 55 yang merupakan ambulans udara jatuh di Philadelphia pada 31 Januari 2025 sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
Rujukan
(GFD-2025-25733) Menyesatkan: Video Cokelat Cadbury Mengandung Lemak Babi
Sumber:Tanggal publish: 05/02/2025
Berita
Sebuah video pemberitaan media asing tentang kandungan DNA babi yang ditemukan pada dua produk cokelat Cadbury di Malaysia diunggah akun media sosial Facebook [arsip].
Dalam video tersebut, beberapa warga Malaysia diwawancarai untuk diminta pendapatnya. Mereka mengaku kecewa atas kandungan babi di coklat yang biasa mereka beli itu.
Tempo menerima permintaan pembaca untuk memeriksa video tersebut. Benarkah cokelat Cadbury mengandung lemak babi?
Dalam video tersebut, beberapa warga Malaysia diwawancarai untuk diminta pendapatnya. Mereka mengaku kecewa atas kandungan babi di coklat yang biasa mereka beli itu.
Tempo menerima permintaan pembaca untuk memeriksa video tersebut. Benarkah cokelat Cadbury mengandung lemak babi?
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim di atas dengan menelusuri pemberitaan dari media kredibel. Faktanya, video itu berasal dari tahun 2014 dan Pemerintah Malaysia telah mengumumkan bahwa produk cokelat Cadbury tidak mengandung bahan-bahan dari babi.
Protes mengenai produk cokelat Cadbury yang diduga mengandung DNA babi sesuai video yang beredar, pernah terjadi pada 2014. Dikutip dari Reuters.com edisi 29 Mei 2014, kelompok ritel dan konsumen Muslim di Malaysia saat itu menyerukan boikot pada produk asal Inggris tersebut dan induknya Mondelez International Inc, setelah dua jenis cokelat ditemukan oleh Kementerian Kesehatan mengandung DNA babi.
Cadbury Malaysia pada pekan berikutnya telah menarik cokelat Dairy Milk setelah ditemukan oleh otoritas Malaysia dalam uji acak. Mereka juga mengatakan bekerja sama erat dengan Departemen Urusan Islam untuk memastikan produk-produknya memenuhi pedoman halal.
Beberapa minggu kemudian setelah uji produk lebih banyak dilakukan, Pemerintah Malaysia mengeluarkan pengumuman bahwa Cadbury tidak mengandung babi.
Pada 2 Juni 2014, media Jerman, DW.com melansir bahwa pengumuman tersebut sekaligus memutihkan temuan bulan lalu dari Kementerian Kesehatan yang memicu kemarahan dari sejumlah kelompok Islamis Malaysia.
Departemen Pembangunan Islam Malaysia mengatakan, tes terbaru yang dilakukan atas 11 sampel potongan cokelat Dairy Milk Hazelnut dan Dairy Milk Roast Almond yang diambil dari pabrik Cadbury menunjukkan tidak ada jejak babi.
Departemen, yang telah menangguhkan pemberian sertifikasi halal bagi dua produk Cadbury, menyatakan bakal meninjau ulang keputusan mereka setelah melakukan kunjungan ke pabrik untuk melakukan tes lebih lanjut atas proses produksi untuk memastikan bahwa perusahaan itu sepenuhnya sesuai dengan persyaratan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2014 telah memberikan penjelasan mengenai dua produk Cadbury (Dairy Milk Roast Almond) dengan nomor batch 221013N0RI1 dan Cadbury (Milk Hazelnut) dengan nomor batch 200813M01H asal Malaysia.
Menurut BPOM, pada 2014, hanya Dairy Milk Roast Almond yang terdaftar di Badan POM dengan nomor izin edar BPOM RI ML 841601105136, dengan komposisi gula, susu bubuk, lemak cokelat, kacang almond, coklat massa, lemak nabati, pengemulsi nabati dan perisa cokelat. Saat itu, produk tersebut tidak memiliki sertifikat halal dari MUI.
Dikutip dari Antara 5 Juni 2014, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul Hakim mengatakan produk cokelat Cadbury yang beredar di Tanah Air halal karena tidak mengandung unsur babi.
"Kami sudah cek, produk Cadbury di Tanah Air tidak ada yang mengandung babi," ujar Lukmanul saat itu.
Protes mengenai produk cokelat Cadbury yang diduga mengandung DNA babi sesuai video yang beredar, pernah terjadi pada 2014. Dikutip dari Reuters.com edisi 29 Mei 2014, kelompok ritel dan konsumen Muslim di Malaysia saat itu menyerukan boikot pada produk asal Inggris tersebut dan induknya Mondelez International Inc, setelah dua jenis cokelat ditemukan oleh Kementerian Kesehatan mengandung DNA babi.
Cadbury Malaysia pada pekan berikutnya telah menarik cokelat Dairy Milk setelah ditemukan oleh otoritas Malaysia dalam uji acak. Mereka juga mengatakan bekerja sama erat dengan Departemen Urusan Islam untuk memastikan produk-produknya memenuhi pedoman halal.
Beberapa minggu kemudian setelah uji produk lebih banyak dilakukan, Pemerintah Malaysia mengeluarkan pengumuman bahwa Cadbury tidak mengandung babi.
Pada 2 Juni 2014, media Jerman, DW.com melansir bahwa pengumuman tersebut sekaligus memutihkan temuan bulan lalu dari Kementerian Kesehatan yang memicu kemarahan dari sejumlah kelompok Islamis Malaysia.
Departemen Pembangunan Islam Malaysia mengatakan, tes terbaru yang dilakukan atas 11 sampel potongan cokelat Dairy Milk Hazelnut dan Dairy Milk Roast Almond yang diambil dari pabrik Cadbury menunjukkan tidak ada jejak babi.
Departemen, yang telah menangguhkan pemberian sertifikasi halal bagi dua produk Cadbury, menyatakan bakal meninjau ulang keputusan mereka setelah melakukan kunjungan ke pabrik untuk melakukan tes lebih lanjut atas proses produksi untuk memastikan bahwa perusahaan itu sepenuhnya sesuai dengan persyaratan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2014 telah memberikan penjelasan mengenai dua produk Cadbury (Dairy Milk Roast Almond) dengan nomor batch 221013N0RI1 dan Cadbury (Milk Hazelnut) dengan nomor batch 200813M01H asal Malaysia.
Menurut BPOM, pada 2014, hanya Dairy Milk Roast Almond yang terdaftar di Badan POM dengan nomor izin edar BPOM RI ML 841601105136, dengan komposisi gula, susu bubuk, lemak cokelat, kacang almond, coklat massa, lemak nabati, pengemulsi nabati dan perisa cokelat. Saat itu, produk tersebut tidak memiliki sertifikat halal dari MUI.
Dikutip dari Antara 5 Juni 2014, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul Hakim mengatakan produk cokelat Cadbury yang beredar di Tanah Air halal karena tidak mengandung unsur babi.
"Kami sudah cek, produk Cadbury di Tanah Air tidak ada yang mengandung babi," ujar Lukmanul saat itu.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan bahwa cokelat Cadbury mengandung lemak babi adalah menyesatkan.
Video itu berasal dari tahun 2014 dan Pemerintah Malaysia telah mengumumkan bahwa produk cokelat Cadbury tidak mengandung bahan-bahan dari babi.
Video itu berasal dari tahun 2014 dan Pemerintah Malaysia telah mengumumkan bahwa produk cokelat Cadbury tidak mengandung bahan-bahan dari babi.
Rujukan
- https://www.facebook.com/watch/?v=498259737025975&_rdc=1&_rdr
- https://mvau.lt/media/59805877-0b44-4cff-a74d-2e7e88fd9c77
- https://www.reuters.com/article/lifestyle/malaysia-muslim-groups-call-for-boycott-of-cadbury-mondelez-foods-after-pork-tr-idUSKBN0E90RN/
- https://www.dw.com/id/coklat-cadbury-malaysia-tidak-mengandung-babi/a-17676265
- https://www.pom.go.id/siaran-pers/kandungan-babi-pada-produk-pangan-bourbon-dan-cadbury
- https://kalbar.antaranews.com/berita/323364/lppom-mui-cokelat-cadbury-di-indonesia-halal /cdn-cgi/l/email-protection#5437313f32353f203514203139243b7a373b7a3d30
(GFD-2025-25734) Sebagian Benar: Industri Sosis Babi Berpotensi Sebarkan Virus Babi pada Manusia
Sumber:Tanggal publish: 05/02/2025
Berita
Sebuah video yang beredar di WhatsApp arsip, Instagram, Tiktok, dan Facebook berisi klaim bahwa sosis babi dapat menyebarnya virus babi ke manusia.
Dalam video tersebut, terlihat pabrik pengolahan daging babi dari proses pemotongan hingga pemanfaatan semua organ dari tubuh babi yang dimanfaatkan menjadi makanan olahan sosis.
Pembaca Tempo meminta untuk memeriksa klaim tersebut. Benarkah virus babi disebabkan karena sosis yang dibuat dari babi?
Dalam video tersebut, terlihat pabrik pengolahan daging babi dari proses pemotongan hingga pemanfaatan semua organ dari tubuh babi yang dimanfaatkan menjadi makanan olahan sosis.
Pembaca Tempo meminta untuk memeriksa klaim tersebut. Benarkah virus babi disebabkan karena sosis yang dibuat dari babi?
Hasil Cek Fakta
Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan ada beberapa jenis virus dan bakteri yang bisa ditemukan pada babi dan memiliki potensi menular ke manusia. Antara lain, virus Hepatitis E yang bisa ditularkan melalui konsumsi daging babi yang kurang matang.
Ada juga virus Nipah yang lebih sering ditularkan lewat kontak dengan sekresi babi yang terinfeksi. Kemudian, jenis streptococcus swis, jenis bakteri yang bisa menyebabkan meningitis, sepsis, infeksi virus lainnya yang menular jika berkontak langsung dengan babi atau konsumsi daging babi yang tidak matang.
Berikutnya adalah flu babi, penyakit pernapasan yang disebabkan virus influenza tipe A yang umum ditemukan pada babi. Strain yang paling dikenal adalah H1N1 yang bisa ditularkan dari babi ke manusia melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi oleh sekresi pernapasan si babi atau beberapa kasus terjadi penularan dari manusia ke manusia.
“Namun virus ini tidak menular melalui konsumsi daging babi atau produk olahannya, jika dimasak dengan suhu di atas 70 derajat Celcius,” kata Dicky, Selasa, 4 Februari 2025.
Menurut Dicky, tidak semua produk dari babi beresiko menularkan penyakit. Hal itu sangat bergantung pada proses pengolahan mulai dari tingkat suhu dan bagian tubuh yang dikonsumsi. “Jika yang dikonsumsi adalah organ dalam seperti hati atau usus, akan jauh lebih beresiko bagi kesehatan,” kata Dicky.
Pengolahan Sosis dari Hewan Ternak Hidup Tidak Lazim
Mengolah daging seperti sapi dan babi dari keadaan hidup, adalah proses teknologi pangan yang tidak lazim. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Fakultas Teknobiologi program kekhususan Bionutrisi dan Inovasi Pangan Universitas Surabaya, Christina Mumpuni Erawati, STP, M.Si.
“Video itu kayaknya dipotong dan (bagian prosesnya) dipercepat, ya,” ujarnya saat dihubungi Tempo.
Pada umumnya, kata Christina, pengolahan daging hewan menjadi sosis harus lolos dari aspek higienitas, sanitasi, hingga Good Manufacturing Process (GMP) sejak masih berupa bahan baku asalnya. Termasuk keadaan hewan yang akan dipotong tidak boleh dalam keadaan stres. “Kalau stres, banyak glikogen yang hilang, warna menghitam, kualitas daging jadi turun. Dagingnya nanti alot atau keras.”
Agar tidak stres, hewan yang akan dipotong biasanya didatangkan pada malam hari. Kemudian diletakkan di ruangan terlebih dahulu dengan pencahayaan biru. Setelah dipotong, hewan yang mati harus didiamkan karena perlu melewati fase rigor mortis, yakni kondisi otot-otot yang menegang akibat kekurangan energi. Dikutip dari BeefResearch.org, rigor mortis pada karkas sapi terjadi antara 6 dan 12 jam setelah penyembelihan dan selesai selama karkas berada di kotak panas.
“Karena fase rigor mortis pada sapi atau babi itu lama, perusahaan pengolah sosis biasanya pakai bahan baku berupa frozen meat atau daging beku,” kata Christina.
Sedangkan ayam memiliki fase rigor mortis yang lebih cepat, sehingga proses pengolahan menjadi produk sosis dari tahap pemotongan bisa dilakukan sejak ternak masih dalam keadaan hidup. Setelah dipotong, diambil jeroan, dibilas, lalu diambil kepala dan kaki yang disebut karkas ayam. Usai pemotongan per bagian, karkas ayam didistribusikan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ke pabrik pengolahan sosis.
“Di pabrik nanti di-fillet atau dihilangkan kulit dan tulangnya. Sama seperti di video, dagingnya dihancurkan atau digiling sampai halus,” imbuh Christina.
Tentang Sosis Babi Cina
Sebelumnya, kekhawatiran terhadap virus yang terkandung dalam sosis babi asal Cina mengemuka sejak negara tersebut terjadi demam babi Afrika pada 2018. Demam Babi Afrika (ASF) adalah penyakit virus yang menyerang babi domestik dan liar. Penyakit ini sangat menular dan mematikan bagi babi, namun tidak menular ke manusia.
Saat itu, Straits Times edisi 24 Oktober 2018 memberitakan bahwa otoritas Jepang menemukan 1,5 kg sosis yang terinfeksi virus di dalam koper seorang turis Tiongkok di sebuah bandara di Hokkaido.
Demam babi Afrika menyebar di Tiongkok sejak Juli 2018 yang saat itu diprediksi dapat menghancurkan industri daging babi Cina yang bernilai US$128 miliar (S$176 miliar).
Demam babi menjadi masalah karena virus dapat bertahan hidup selama lebih dari setahun dalam produk seperti ham kering. Jika sisa daging babi yang terinfeksi masuk ke pakan babi, akan mengancam babi-babi lain yang bersentuhan.
Hal itu membuat negara-negara di seluruh kawasan berupaya untuk melindungi peternakan babi mereka sendiri, seperti di Jepang. Kementerian Pertanian Jepang melarang mereka yang terlibat di industri tersebut agar tidak bepergian ke luar negeri, serta memberlakukan tindakan karantina yang lebih ketat di seluruh negeri.
Selain karena virus, Otoritas kesehatan Hongkong juga pernah memperingatkan mengenai risiko konsumsi sosis berlebihan asal Cina pada kesehatan. Dari 30 sampel produk sosis asal Cina yang diuji oleh Dewan Konsumen Hongkong menemukan semuanya mengandung kadar sodium dan 80 persen kadar gula yang tinggi.
Semua sampel mengandung kandungan natrium berkisar antara 1.258,5 hingga 1.971 miligram per 100 g, atau satu hingga 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan standar dari Pusat Keamanan Pangan yaitu 600 mg. Lebih dari 80 persen sampel memiliki kadar gula lebih tinggi dari 15 gram gula per 100 gram.
Ada juga virus Nipah yang lebih sering ditularkan lewat kontak dengan sekresi babi yang terinfeksi. Kemudian, jenis streptococcus swis, jenis bakteri yang bisa menyebabkan meningitis, sepsis, infeksi virus lainnya yang menular jika berkontak langsung dengan babi atau konsumsi daging babi yang tidak matang.
Berikutnya adalah flu babi, penyakit pernapasan yang disebabkan virus influenza tipe A yang umum ditemukan pada babi. Strain yang paling dikenal adalah H1N1 yang bisa ditularkan dari babi ke manusia melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi oleh sekresi pernapasan si babi atau beberapa kasus terjadi penularan dari manusia ke manusia.
“Namun virus ini tidak menular melalui konsumsi daging babi atau produk olahannya, jika dimasak dengan suhu di atas 70 derajat Celcius,” kata Dicky, Selasa, 4 Februari 2025.
Menurut Dicky, tidak semua produk dari babi beresiko menularkan penyakit. Hal itu sangat bergantung pada proses pengolahan mulai dari tingkat suhu dan bagian tubuh yang dikonsumsi. “Jika yang dikonsumsi adalah organ dalam seperti hati atau usus, akan jauh lebih beresiko bagi kesehatan,” kata Dicky.
Pengolahan Sosis dari Hewan Ternak Hidup Tidak Lazim
Mengolah daging seperti sapi dan babi dari keadaan hidup, adalah proses teknologi pangan yang tidak lazim. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Fakultas Teknobiologi program kekhususan Bionutrisi dan Inovasi Pangan Universitas Surabaya, Christina Mumpuni Erawati, STP, M.Si.
“Video itu kayaknya dipotong dan (bagian prosesnya) dipercepat, ya,” ujarnya saat dihubungi Tempo.
Pada umumnya, kata Christina, pengolahan daging hewan menjadi sosis harus lolos dari aspek higienitas, sanitasi, hingga Good Manufacturing Process (GMP) sejak masih berupa bahan baku asalnya. Termasuk keadaan hewan yang akan dipotong tidak boleh dalam keadaan stres. “Kalau stres, banyak glikogen yang hilang, warna menghitam, kualitas daging jadi turun. Dagingnya nanti alot atau keras.”
Agar tidak stres, hewan yang akan dipotong biasanya didatangkan pada malam hari. Kemudian diletakkan di ruangan terlebih dahulu dengan pencahayaan biru. Setelah dipotong, hewan yang mati harus didiamkan karena perlu melewati fase rigor mortis, yakni kondisi otot-otot yang menegang akibat kekurangan energi. Dikutip dari BeefResearch.org, rigor mortis pada karkas sapi terjadi antara 6 dan 12 jam setelah penyembelihan dan selesai selama karkas berada di kotak panas.
“Karena fase rigor mortis pada sapi atau babi itu lama, perusahaan pengolah sosis biasanya pakai bahan baku berupa frozen meat atau daging beku,” kata Christina.
Sedangkan ayam memiliki fase rigor mortis yang lebih cepat, sehingga proses pengolahan menjadi produk sosis dari tahap pemotongan bisa dilakukan sejak ternak masih dalam keadaan hidup. Setelah dipotong, diambil jeroan, dibilas, lalu diambil kepala dan kaki yang disebut karkas ayam. Usai pemotongan per bagian, karkas ayam didistribusikan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ke pabrik pengolahan sosis.
“Di pabrik nanti di-fillet atau dihilangkan kulit dan tulangnya. Sama seperti di video, dagingnya dihancurkan atau digiling sampai halus,” imbuh Christina.
Tentang Sosis Babi Cina
Sebelumnya, kekhawatiran terhadap virus yang terkandung dalam sosis babi asal Cina mengemuka sejak negara tersebut terjadi demam babi Afrika pada 2018. Demam Babi Afrika (ASF) adalah penyakit virus yang menyerang babi domestik dan liar. Penyakit ini sangat menular dan mematikan bagi babi, namun tidak menular ke manusia.
Saat itu, Straits Times edisi 24 Oktober 2018 memberitakan bahwa otoritas Jepang menemukan 1,5 kg sosis yang terinfeksi virus di dalam koper seorang turis Tiongkok di sebuah bandara di Hokkaido.
Demam babi Afrika menyebar di Tiongkok sejak Juli 2018 yang saat itu diprediksi dapat menghancurkan industri daging babi Cina yang bernilai US$128 miliar (S$176 miliar).
Demam babi menjadi masalah karena virus dapat bertahan hidup selama lebih dari setahun dalam produk seperti ham kering. Jika sisa daging babi yang terinfeksi masuk ke pakan babi, akan mengancam babi-babi lain yang bersentuhan.
Hal itu membuat negara-negara di seluruh kawasan berupaya untuk melindungi peternakan babi mereka sendiri, seperti di Jepang. Kementerian Pertanian Jepang melarang mereka yang terlibat di industri tersebut agar tidak bepergian ke luar negeri, serta memberlakukan tindakan karantina yang lebih ketat di seluruh negeri.
Selain karena virus, Otoritas kesehatan Hongkong juga pernah memperingatkan mengenai risiko konsumsi sosis berlebihan asal Cina pada kesehatan. Dari 30 sampel produk sosis asal Cina yang diuji oleh Dewan Konsumen Hongkong menemukan semuanya mengandung kadar sodium dan 80 persen kadar gula yang tinggi.
Semua sampel mengandung kandungan natrium berkisar antara 1.258,5 hingga 1.971 miligram per 100 g, atau satu hingga 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan standar dari Pusat Keamanan Pangan yaitu 600 mg. Lebih dari 80 persen sampel memiliki kadar gula lebih tinggi dari 15 gram gula per 100 gram.
Kesimpulan
Hasil verifikasi Tempo tentang klaim virus babi disebabkan karena sosis yang dibuat dari babi di Cina adalah sebagian benar.
Beberapa virus pada bisa berbahaya bagi manusia apabila tidak diproses dengan standar keamanan yang baik.
Beberapa virus pada bisa berbahaya bagi manusia apabila tidak diproses dengan standar keamanan yang baik.
Rujukan
- https://s3.eu-west-1.amazonaws.com/check-api-live/capi/2093389544420469
- https://www.instagram.com/sujionobasir/reel/DBvNwyLuknT/?locale=ru&hl=am-et
- https://www.tiktok.com/@mhr_akhoen/video/7401734966930902278
- https://web.facebook.com/reel/662639846088876
- https://www.beefresearch.org/grading/LMDisplay.html?chp=2&sc=5
- https://www.thestandard.com.hk/section-news/section/4/258806/Health-fears-over-Chinese-sausages
(GFD-2025-25483) [HOAKS] Tautan untuk Ikuti Undian Gebyar BRI Festival 2025
Sumber:Tanggal publish: 05/02/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan disertai tautan yang diklim sebagai akses untuk mengikuti undian berhadiah mengatasnamakan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Undian berhadiah itu diklaim sebagai program Gebyar BRI Festival 2025, dan menawarkan sejumlah hadiah menarik.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan itu palsu dan bukan berasal dari BRI.
Tautan soal undian berhadiah program "Gebyar BRI Festival 2025" muncul di media sosial, salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini dan ini.
Akun tersebut membagikan poster dan tautan dengan keterangan demikian:
"GEBYAR BRI FESTIVAL 2025" Bagi Semua Nasabah Bank BRI Yang Sudah MenggunakanMobile Banking(BRImo)
Gebyar BRI Festival Hadir Kembali, Ayo Buruan Daftar Agar Memenangkan Hadiah(Grand Prize)Silakan Klik Menu (Daftar) Yang Sudah Kami Sediakan...
Undian berhadiah itu diklaim sebagai program Gebyar BRI Festival 2025, dan menawarkan sejumlah hadiah menarik.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan itu palsu dan bukan berasal dari BRI.
Tautan soal undian berhadiah program "Gebyar BRI Festival 2025" muncul di media sosial, salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini dan ini.
Akun tersebut membagikan poster dan tautan dengan keterangan demikian:
"GEBYAR BRI FESTIVAL 2025" Bagi Semua Nasabah Bank BRI Yang Sudah MenggunakanMobile Banking(BRImo)
Gebyar BRI Festival Hadir Kembali, Ayo Buruan Daftar Agar Memenangkan Hadiah(Grand Prize)Silakan Klik Menu (Daftar) Yang Sudah Kami Sediakan...
Hasil Cek Fakta
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi menyatakan, tautan soal program Gebyar BRI Festival 2025 itu palsu.
BRI tidak mengadakan program undian berhadiah seperti yang disampaikan dalam unggahan yang beredar.
"Ini fake. Harap waspada dengan segala bentuk modus penipuan dan kejahatan perbankan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab," ujar Hendy kepada Kompas.com, Selasa (4/2/2025).
Hendy mengimbau masyarakat agar tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi dan perbankan kepada pihak yang mengatasnamakan BRI.
Sebab, unggahan itu mengarah pada phishing atau pencurian data pribadi secara daring.
Menurut Hendy, BRI hanya menggunakan situs dan media sosial resmi sebagai sarana komunikasi yang bisa diakses masyarakat.
Situs resmi BRI adalah www.bri.co.id, sementara media sosial resmi BRI ditandai dengan centang biru.
BRI tidak mengadakan program undian berhadiah seperti yang disampaikan dalam unggahan yang beredar.
"Ini fake. Harap waspada dengan segala bentuk modus penipuan dan kejahatan perbankan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab," ujar Hendy kepada Kompas.com, Selasa (4/2/2025).
Hendy mengimbau masyarakat agar tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi dan perbankan kepada pihak yang mengatasnamakan BRI.
Sebab, unggahan itu mengarah pada phishing atau pencurian data pribadi secara daring.
Menurut Hendy, BRI hanya menggunakan situs dan media sosial resmi sebagai sarana komunikasi yang bisa diakses masyarakat.
Situs resmi BRI adalah www.bri.co.id, sementara media sosial resmi BRI ditandai dengan centang biru.
Kesimpulan
Tautan soal undian berhadiah program "Gebyar BRI Festival 2025" tidak benar atau hoaks.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi memastikan tautan itu palsu dan mengarah pada penipuan. Waspada, jangan sampai terjerat dan menjadi korban penipuan.
Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi memastikan tautan itu palsu dan mengarah pada penipuan. Waspada, jangan sampai terjerat dan menjadi korban penipuan.
Rujukan
Halaman: 2140/7906

